[Dani] A Hend, kalau ditanyakan hal demikian, saya tidak bisa menjawab, karena itu diluar kewenangan saya, dan itu menjadi urusan Allah. Saya tidak suka menjudge sesuatu dia akan masuk neraka atau surga, kan sudah saya sampaikan ayatnya?
Barang siapa yang ingkar maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) ke-ingkarannya itu; dan barang siapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan), agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar. [QS Ar-rum : 44-45]
Apakah dia mengingkari? ataukah dia dengan alasan tidak mampu ? selam kita sudah memberitahu dan membantu, itu sudah diluar jangkauan apakah dia mau ikut atau tidak, bila di banding dengan jaman Rasulullah banyak sahabat lebih miskin di banding apa yang sering kita lihat atau yang digambarkan A Hend tersebut di-atas.
=====================================
"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Allah akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (Q.S. Ath Thalaq: 2-3).
Saya tahu ayat itu, tapi apakah salah satu di antara kita belum pernah ada yg menyaksikan bagaimana meninggalnya orang yg sewaktu hidupnya serba kekurangan ? Bisa jadi karena Alloh mencintai umat itu, maka tidak dijadikan-Nya umat itu untuk hidup berkecukupan, bisa jadi ujian, atau kelak pahalanya/kebahagiaannya akan diberikan di akhirat kelak.
[Dani] A Hend, ucapan tersebut diatas lahir dari haqqul yaqin atau perandaian? karena diawali dengan "Bisa jadi Allah dst... Surga itu adalah haq dan neraka itu adalah haq, jika bicara masalah agama, seya selalu menghindar dari kata-kata "Bisa jadi, Seandainya, kemungkinan" karena kata-kata itu menurut saya adalah asumsi, padahal Surga dan neraka adalah sesuatu yang benar adanya. Coba kalau saya boleh bertanya, Darimana mana A Hendy tahu "kelak pahalanya/kebahagiaannya akan diberikan di akhirat kelak? " saya pikir hal ini hanya asumsi? asumsi itu tidak memiliki nilai kebenaran yang haqiqi, karena lahir bukan atas dasar dalil yang qoth'i/pasti, sedangakan yang sudah pasti saja masih sering di bantah....
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar. (QS. 2:23)
- 1. Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudlu". (HR: Bukhori dan Muslim, irwaul golil no 70)
- 2. "Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat". (HR: Bukhori dan Muslim, irwaul golil no 70)
[Dani] Sekali lagi ada kata "Kemungkinan" dan ini asumsi, saya menghindari kata-kata "Bisa jadi, Seandainya, kemungkinan" karena bukan lahir dari dalil yang qoth'i. Jika memang benar-benar bertaqwa secara kaffah maka dia kan berusaha semampunya unutk menunaikan kewajiban itu. Apakah nilai ketaqwaan seseorang dinilai dari seringnya sholat dan puasa A Hend?
No comments:
Post a Comment