Jazzakumullohu khoiron kastiro atas artikelnya Insya Alloh sangat
bermanfaat bagi umat Islam, semoga pengalaman ini bisa menjadikan
pelajaran bagi kita untuk bangkit menegakkan dakwah Islam sehingga
tidak ada lagi Muslimah yang murtad karena berbagai hal : cinta,
ekonomi, beasiswa dan sebagainya.Mohon di ingat misionaris akan terus
bergerak mengajak sebagian umat Islam untuk masuk neraka selamanya.
Semoga Alloh SWT memberi kekuatan kepada kita. amien
Wassalamu 'alaikum wr wb
wadiyo
http://dakwah.blogdetik.com
Pada 13 Mei 2009 13:23, Whe~en (gmail) <whe.en9999@gmail.com> menulis:
> Dear all,
> Bagaimana jika kisah ini menimpa rekan2? adik, kakak, teman atau saudara
> kita?
>
> Ada hal yang saya heran, apakah karena suatu kesalahan, harus diikuti dengan
> kesalahan - kesalahan lain yang mengorbankan harga diri sampai korban
> aqidah?
>
> Demi menutupi harga diri, malah mengorbankan aqidah anaknya juga?
>
> Saya kira dia akan lebih terhormat jika pulang ke rumah orang tuanya dan
> membesarkan anaknya sendirian dengan alasan mempertahankan aqidah.
> Saya kira alasan mempertahankan aqidah justru akan membuat hidupnya lebih
> gampang, orang tua, saudara dan teman akan banyak yang akan mendukungnya.
>
> any comments?
>
> Whe~en
> http://wheen.blogsome.com/
>
> "Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan
> lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS
> 20 : 25-28)
> "Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"
> ----- Original Message -----
> From: nur afriyani
> Subject: Sebuah Kisah
>
> Karena Cinta Aku Murtad
>
> Kategori Kisahku by sutikno
>
>
> Aku seorang wanita berusia 27 tahun. Dua tahun yang lalu aku melahirkan
> seorang anak ke dunia. Hanya saja mungkin keadaanku sebagai seorang ibu
> berbeda dengan ibu-ibu yang lain. Mereka senantiasa memandang wajah putra
> dan putrinya dengan tatapan kasih sayang, bangga dan penuh cinta. Sedangkan
> aku? Yang kudapat saat menatap bola matanya adalah kepedihan yang teramat
> perih dari kisi-kisi hati yang tersayat sesal.
>
> Sebelum peristiwa pahit itu menyapa dalam hidupku, kehidupanku yang
> sederhana senantiasa diliputi oleh ketenangan. Aku bahagia dengan keadaanku,
> dengan rutinitasku. Setiap hari kujalani dengan hati yang riang sebagai
> seorang wanita. Kebanggaanku pada kehormatan yang senantiasa kujaga demi
> satu mimpi mendapatkan keluarga yang bahagia suatu saat nanti. Hingga sosok
> itu hadir menghancurkannya.
>
> Peristiwa itu bermula saat aku bekerja sebagai salah satu staf tata usaha di
> sebuah akademi kesehatan di kota Daeng. Aku berkenalan dengan dengan seorang
> pria yang mengaku bujang. Dia juga bekerja sebagai staf tata usaha di kampus
> tempatku bekerja, namun jabatannya lebih tinggi dariku.
>
> Seperti kata orang, "mulanya biasa saja," yah, memang semuanya biasa saja.
> Saling ber-say hello, bercerita, bercanda, bertegur sapa. Sesuatu yang lazim
> dilakukan oleh sesama pegawai staf. Apalagi dalam satu kantor. Hingga waktu
> terus berjalan seiring dengan hubungan kami yang begitu akrab. Semuanya
> mulai menjadi sesuatu yang tidak biasa lagi.
>
>
>
> Jujur saja, dalam hal agama, pengetahuanku memang tidak terlalu dalam. Orang
> mungkin biasa mengatakannya "awam". Di alam pikiranku, bergaul dengan lawan
> jenis itu adalah sesuatu yang biasa. Seperti yang terjadi ditengah
> masyarakat. Apalagi aku dilahirkan dari lingkungan keluarga yang pendidikan
> agamanya "biasa-biasa saja" tidak mengenal apa itu tarbiyah, ikhtilath,
> ghibah, dan istilah-istilah yang lain.
>
> Sebenarnya aku tidak pernah berkeinginan untuk dekat dengannya, karena
> pertimbangan beda agama. Dia seorang non muslim. Namun rayuan demi
> rayuannya, perjuangannya mendekatiku, janji manisnya, perhatiannya yang
> berlebihan dan tidak henti-henti meski selalu kutolak dengan cara yang
> halus, sedikit demi sedikit meluluhkan hatiku.
>
>
>
> Gayung pun bersambut, akhirnya kuterima uluran tangannya. Waktu itu aku
> tidak berpikir untuk serius. Hanya sekedar pengisi waktu saja. Apalagi dia
> sudah banyak berkorban untukku, dan aku merasa kasihan padanya. Waktu itu
> aku berpikir suatu saat nanti aku akan minta putus. Mudah kan?
>
> Hubungan kami pun berjalan secara rahasia, back street. Untuk menghindari
> ocehan dan desas desus penghuni kampus.
>
>
>
> Seiring dengan waktu yang mengantar kebersamaanku dengannya, entah mengapa
> tanpa sadar aku sudah mulai menyukainya, mencintainya. Aku tidak tahu, apa
> yang telah membuatku begitu tergila-gila kepadanya. Kehidupannya juga
> sederhana, wajahnya malah dibawah rata-rata. Apa karena rayuannya?
> Kelihaiannya mengumbar rayuan gombal menjadikanku merasa tersanjung dan
> berbunga-bunga. Seakan-akan akulah wanita yang paling menarik di dunia ini.
> Di sampingnya aku selalu merasa yang terbaik. Dia sungguh pandai menggombal.
>
>
>
> Tak pernah kusangka dan kuduga sebelumnya, hubunganku dengannya sudah
> melewati ambang batas moral dan norma agama.
>
> Tragedi yang tak mungkin pernah bisa kulupakan dalam lembaran sejarah
> hidupku. Aku hamil. Aku tidak tahu, iblis mana yang merasukiku waktu itu.
> Mengapa aku bisa menjadi sehina ini? Mengorbankan sesuatu kepada seseorang
> yang sebenarnya tidak berhak dan tidak boleh mengusiknya.
>
> Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak berani lagi pulang ke kampung
> dengan corengan hitam di wajahku. Tidak sampai di situ, entah darimana pihak
> birokrasi kampus mengetahui kehamilanku di luar nikah, yang berujung dengan
> memecatku.
>
> Pihak kampus tidak mengetahui siapa bapak dari bayi yang kukandung. Dia
> mengancamku dan menyuruhku untuk tutup mulut. Aku tersudut. Entah mengapa
> dia sudah begitu menguasai hidupku. Seakan membuatku tak mampu bergerak.
>
>
>
> Dan aku tidak mengerti, mengapa aku selalu menurut saja pada setiap kata dan
> perintahnya. Yang bisa kulakukan hanya memohon kepadanya untuk bertanggung
> jawab atas perbuatannya terhadapku.
>
> Ia bersedia menikahiku dengan satu syarat, aku harus keluar dari Islam dan
> masuk ke agamanya. Menjadi seorang non muslim sepertinya. Ternyata orang
> yang selama ini mencurahkan perhatiannya -yang kukira tulus untukku- adalah
> seorang misionaris.
>
> Istilah ini juga baru kukenal setelah semuanya sudah terlanjur terjadi.
> Selama ini istilah itu hanya lewat saja di kepalaku. Masuk telinga kiri,
> keluarpun juga lewat telinga yang sama. Aku tidak pernah membayangkan jika
> aku akan menjadi korbannya. Aku tidak pernah menduga kalau istilah dan
> kekhawatiran sebagian kaum muslim tentang misi itu ternyata menimpa
> kehidupanku.
>
>
>
> Mirisnya karena aku sudah terlanjur menjadi korbannya. Kakiku sudah sulit
> dan mungkin tidak bisa lagi aku tarik kembali. Yang ada di kepalaku saat itu
> bukan lagi tentang aqidahku, tetapi tentang makhluk kecil yang ada di
> rahimku. Tentang aib, tentang calon istri bayi yang aku juga mulai
> mencintainya. Aku tidak ingin menggugurkannya. Ia darahku dan aku ingin
> merasakan desahan nafasnya. Merasakan kaki-kaki kecilnya nanti akan meronta
> di dalam dekapanku.
>
>
>
> Otakku sudah buntu, bagiku sudah tak ada lagi pilihan lain. Aku tidak
> sanggup menghadapi aib ini sendiri, imanku begitu lemah. Aku tidak mau
> bayiku terlahir tanpa ayah dan akan dicemooh kelak di tengah masyarakat.
> Ditambah lagi siapa yang akan menanggung beban ekonomi kami nanti? Sedangkan
> aku sudah dipecat dan menjadi salah satu dari sekian banyak pengangguran
> yang ada di kota ini.
>
> Akhirnya, kuikuti keinginannya. Kujual akidahku dengan harga yang sangat
> murah dan tak bernilai. Kulepas jilbab yang selama ini menutup kepalaku,
> beralih ke agamanya, murtad dari agama Islam yang benar dan suci.
>
> Tapi lagi-lagi, keputusanku itu bukanlah hal yang tepat. Saat ini, meskipun
> ia sudah berhasil menjadikanku sebagai salah satu korban misinya, ia tengah
> berusaha mendekati dan mengejar seorang mahasiswi, tetap di kampus yang
> sama. Korban misi yang berikutnya.
>
> Aku sama sekali tidak berdaya, aku sangat lemah dan pengecut. Aku selalu
> ketakutan dengan ancaman-ancaman dan perlakuannya yang keras dan kasar. Aku
> ketakutan pada kekasaran tangannya yang selalu menyiksa tubuhku. Rasanya
> perih. Aku menjadi semakin lemah. Aku tak tahu mengapa harus menjadi seperti
> ini? Padahal bisa saja aku lari menjauh dari hidupnya. Tapi lagi-lagi tetap
> saja aku tidak bisa. Ada yang mengikatku dengannya, sesuatu yang tidak aku
> mengerti.
>
>
>
> Tapi hatiku sedikit lega saat kudengar bahwa mahasiswi itu memiliki sahabat
> seorang akhwat berjilbab besar yang selalu bersamanya. Akhwat itu pastilah
> lebih mengerti tentang kristenisasi dan akan memahamkan dirinya. Sehingga
> mau tidak mau, misionaris yang saat ini sudah menjadi suamiku sulit unutk
> bisa mendekatinya.
>
> Saat kisah ini dituturkan, aku masih dalam keadaan seperti ini, terkatung
> dalam penderitaan dan penyesalan. Penderitaanku ini mungkin adalah balasan
> atas dosa besar yag telah kuperbuat.
>
> Hanya ini yang bisa kulakukan untuk para calon ibu di manapun berada. Semoga
> kisahku ini yang hanya berwujud tinta di atas kertas, dapat dibaca dan
> dijadikan sebagai pelajaran bagi seluruh perempuan -khususnya para remaja
> muslimah- bahwa misionaris sedang berkeliaran di sekitar kita dengan
> metode-metodenya yang beragam.
>
>
>
> Selagi masih sempat, belajarlah tentang agama Allah. Jangan tunggu sampai
> menyesal seperti keadaanku sekarang. Jangan menunggu sampai kau merasa
> bingung dengan tindakan apa yang harus kau lakukan saat kehancuran kita
> sebagai wanita yang gagal mempertahankan kehormatannya menyapa.
>
> Selagi muda, belajar dan belajarlah untuk memperkuat aqidah keislaman yang
> mulia. Kenalilah mereka dari metode-metode apa saja yang mereka gunakan.
> Tingkatkan kewaspadaan dan tolong sebarkan pada saudarimu yang lain. Agar
> tidak lagi menjadi tangis penyesalan seperti yang aku alami terhadap mereka.
> Agar tidak ada lagi terjadi perusakan fitrah terhadap bayi-bayi yang tak
> berdosa. Jika ibu mereka adalah Islam, maka insya Allah anaknya juga akan
> Islam.
>
>
>
> Habiskan waktumu untuk ilmu, dan jangan kau habiskan untuk mencari-cari
> trend model terbaru, berjalan di mall tanpa manfaat atau menghabiskannya di
> kegelapan malam dengan lelaki yang kau pandang sebagai kekasih.
>
> Mereka bukan kekasih …, tetapi serigala yang ingin menelanmu bulat-bulat.
> Bacalah buku-buku atau majalah-majalah Islami. Jadilah wanita yang cerdas
> dan tangguh. Belajarlah dari kesalahan dan kelemahanku. Belajarlah dari
> penyesalan dan penderitaanku. Sungguh …, apa yang kualami sangat
> menyakitkan. Kau akan merasa antara hidup dan mati. Tak ada lagi senyum
> ceria. Air matapun mengering. Selagi kau bisa meniti dan merencanakan mada
> depanmu.
>
> Aku hanya bisa bercerita, setidaknya semoga engkau bisa merenung barang
> sedetik. Sekali lagi …, belajarlah dari hidupku!!! Dan tolong doakanlah aku
> semoga saja suatu saat nanti keberanian itu akan muncul dalam diriku,
> sehingga aku bisa kembali ke jalan-Nya yang benar.
>
> Mudah-mudahan Allah mendengar doamu meski hanya seorang diantaranya. Tolong
> doakanlah aku barang semenit saja. Karena saat ini aku benar-benar merasakan
> ketidakberdayaan sebagai seorang wanita dan sebagai seorang manusia.
>
>
>
> "Anakku, maafkan Ibu karena telah merusak fithrahmu, cepatlah besar untuk
> bisa menentukan sendiri jalan hidupmu." Rasulullah shallallahu alaihi wa
> sallam bersabda,
>
> "Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang
> menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi." (HR.Bukhari)
>
> Dari seorang sahabat, Cahaya Bintang
> Semoga Allah selalu menjagamu.
> 24 Juli 2005
>
> ________________________________
> diketik ulang dari buku:
> "KARENA CINTA AKU MURTAD; kisah-kisah bertabur hikmah dan insprirasi untuk
> melewati episode keremajaan kamu" Suherni Syamsul, Penerbit: Gen!mirqat, hal
> 1-11.
>
> >
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
No comments:
Post a Comment