Pertemuan Yang Kedua Malam Jum'at 24 Rajab 1345 Hijrah
Hafiz: Saya sungguh tertarik dengan keterangan yang amat jelas tentang keturunan saudara dan saya akui saudara adalah dari keturunan Rasulullah SAW tetapi yang mengherankan saya ialah kenapa orang yang berwibawa seperti saudara ini diburu dan dihina oleh pihak musuh. Ini sebenarnya adalah karena mereka meninggalkan cara kehidupan yang benar dari keturunan saudara, yang mana saudara sebenarnya telah mengambil cara politik Iran yang bukan Islam. Apa yang saya maksudkan dengan kebodohan aturan yang bukan Islam itu ialah tentang prinsip-prinsip keyakinan dan bid'ah, yang telah diserap ke dalam agama suci Islam melalui orang-orang Yahudi.
Shirazi: Tolong jelaskan lebih lanjut lagi supaya saya tahu apakah bid'ah yang saya ikuti.
Salah Faham Tentang Asal-Usul "Agama" Syi'ah
Hafiz: Orang-orang Yahudi yang sejarah kehidupan mereka telah dicemari dengan pendustaan dan penyelewengan tafsiran, seperti dilakukan oleh Abdullah bin Saba', San'aey, Ka'abul Ahbar, Wahab bin Munnabih dan banyak lagi yang lain, menyelusup masuk ke dalam Islam dan membina dasar-dasar agama dan menyuntik ke dalam fikiran kita kepercayaan yang menyalahi hadith-hadith Rasulullah SAW dan justru itu menimbulkan kekeliruan di antara Muslim.
Khalifah yang ketiga, yaitu Usman bin Affan telah mengusir mereka keluar dari Mesir, di mana mereka kemudian membentuk satu partai bernama Syi'ah, dan menyebarkan propaganda mereka agar mereka menentang khalifah Usman. Mereka memalsukan banyak hadith dengan mendakwa bahwa Rasulullah SAW telah melantik Ali AS sebagai Pemimpin dan Imam.
Lalu hasil dari pembentukan partai tersebut telah mengakibatkan pertumpahan darah yang banyak sehingga terjadinya pembunuhan khalifah Usman dan pelantikan Ali AS sebagai Khalifah. Suatu perkumpulan yang bermusuhan dengan Uthman berdiri tegak di belakang Ali AS. Dari situlah partai Syi'ah mulai berakar umbi, tetapi di waktu pemerintahan khalifah Umaiyyah, ketika kesemua ahli keluarga Ali AS dan pengikut setia mereka terbunuh, partai ini menjadi satu gerakan bawah tanah.
Masih terdapat orang seperti Salman al-Farsi, Abu Dzar al-Ghiffari dan Ammar bin Yasir, yang sibuk menyebarkan dakwah untuk Ali AS. Ini berlangsung sehingga ke masa pemerintahan al-Makmun ar-Rasyid, yang mengalahkan abangnya dengan pertolongan orang-orang Iran dan mereka mulai menyebarkan pandangan bahawa Ali AS adalah lebih utama sebagai Khalifah daripada khalifah-khalifah yang lain.
Orang-orang Iran yang memusuhi orang-orang Arab, karena daerah-daerah dan kebebasan mereka dirampas, kemudiannya agama. Apa yang berlaku seterusnya akibat daripada perbuatan yang tidak berperikemanusiaan ini ialah Syi'ah telah bangkit membuat kekacauan dan huru-hara di sana-sini, sehingga mereka menjadi agak kuat di masa pemerintahan dinasti Dalamit. Dan di masa pemeritahan Raja Safavid, mereka ini mendapat pengiktirafan dan dikenali sebagai golongan Syi'ah dan orang-orang Iran penganut agama Zorastrian masih menggelarkan diri mereka sebagai Syi'ah.
Singkatnya agama Syi'ah adalah agama politik yang dipelopori oleh seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba'. Jika tidak, sudah tentu tiada perkataan "Syi'ah" wujud di dalam Islam dan nenek moyang saudara, yakni Rasulullah SAW tidak mengetahui langsung perkataan "Syi'ah", karena itu adalah perbuatan yang bertentangan dengan kehendaknya, sebagai tindakan menyeleweng yang telah dibuat-buat, dan sebetulnya Syi'ah adalah sebagian daripada agama dan keyakinan Israel.
Karena alasan inilah saya heran kenapa saudara meninggalkan cara kehidupan sebenar yang diridhai seperti yang dicontohkan oleh orang-orang yang menitiskan zuriat keturunan saudara, lalu mengikut jejak-jejak Yahudi dan juga segala bid'ah mereka. Walhal saudara adalah orang yang paling berhak sekali untuk menuruti al-Qur'an dan menjadi contoh dari datuk saudara yaitu Rasulullah SAW.
JAWABAN SHIRAZI ATAS TUDUHAN ABSURD TERSEBUT
Shirazi: Saya tidak menyangka seorang yang terpelajar seperti saudara sanggup mengemukakan alasan yang hanya berdasarkan kepada hujjah yang palsu dan rapuh, yang hanya kaum Munafiqin, Khawarij (musuh Ali AS) dan musuh seperti Bani Umaiyyah sahja yang melakukannya.
Tidak masuk akal sama sekali apabila saudara mengaitkan Abdullah bin Saba' dengan Syi'ah. Abdullah bin Saba' (la'natullah) adalah seorang Yahudi dan menurut dari sumber Syi'ah, dia adalah seorang Munafiq dan patut dikutuk dengan sekeras-kerasnya. Jika dia pernah kelihatan untuk sesaat saja bersama Ali AS sebagai kawan, lalu apakah kaitan dia dengan Syi'ah?
Jika seekor serigala diletakkan di dalam sekumpulan kambing; atau seorang pencuri di tempatkan di kalangan orang yang warak atau alim dan berdiri di atas mimbar atau di atas tangga masjid, dan menyakitkan Islam dan Muslim, patutkah kita memandang kepada orang yang warak dan alim yang lain dengan menggelar mereka sebagai pencuri dan pembohong?
Heran sekali saudara telah merendahkan Syi'ah yang adil dan menggelar mereka sebagai partai politik yang menurut keterangan saudara telah di dirikan pada masa khalifah Usman dan pelopornya adalah Abdullah bin Saba' (la'natullah).
Sebenarnya Syi'ah bukanlah sebuah partai, tetapi adalah sebuah mazhab agama islam, yang bukan dipelopori sebagaimana saudara katakan tadi di masa khalifah Uthman tetapi ia telah wujud dan dilahirkan melalui kata-kata dan perintah Rasulullah SAW semasa hidupnya walapun saudara berhujah dengan keterangan-keterangan palsu pihak musuh, namun saya sebaliknya, akan mengemukakan kepada saudara ayat al-Qur'an dan catatan-catatan dari ulama saudara sendiri untuk menerangkan kedudukan yang sebenarnya
Hafiz: Saya sungguh tertarik dengan keterangan yang amat jelas tentang keturunan saudara dan saya akui saudara adalah dari keturunan Rasulullah SAW tetapi yang mengherankan saya ialah kenapa orang yang berwibawa seperti saudara ini diburu dan dihina oleh pihak musuh. Ini sebenarnya adalah karena mereka meninggalkan cara kehidupan yang benar dari keturunan saudara, yang mana saudara sebenarnya telah mengambil cara politik Iran yang bukan Islam. Apa yang saya maksudkan dengan kebodohan aturan yang bukan Islam itu ialah tentang prinsip-prinsip keyakinan dan bid'ah, yang telah diserap ke dalam agama suci Islam melalui orang-orang Yahudi.
Shirazi: Tolong jelaskan lebih lanjut lagi supaya saya tahu apakah bid'ah yang saya ikuti.
Salah Faham Tentang Asal-Usul "Agama" Syi'ah
Hafiz: Orang-orang Yahudi yang sejarah kehidupan mereka telah dicemari dengan pendustaan dan penyelewengan tafsiran, seperti dilakukan oleh Abdullah bin Saba', San'aey, Ka'abul Ahbar, Wahab bin Munnabih dan banyak lagi yang lain, menyelusup masuk ke dalam Islam dan membina dasar-dasar agama dan menyuntik ke dalam fikiran kita kepercayaan yang menyalahi hadith-hadith Rasulullah SAW dan justru itu menimbulkan kekeliruan di antara Muslim.
Khalifah yang ketiga, yaitu Usman bin Affan telah mengusir mereka keluar dari Mesir, di mana mereka kemudian membentuk satu partai bernama Syi'ah, dan menyebarkan propaganda mereka agar mereka menentang khalifah Usman. Mereka memalsukan banyak hadith dengan mendakwa bahwa Rasulullah SAW telah melantik Ali AS sebagai Pemimpin dan Imam.
Lalu hasil dari pembentukan partai tersebut telah mengakibatkan pertumpahan darah yang banyak sehingga terjadinya pembunuhan khalifah Usman dan pelantikan Ali AS sebagai Khalifah. Suatu perkumpulan yang bermusuhan dengan Uthman berdiri tegak di belakang Ali AS. Dari situlah partai Syi'ah mulai berakar umbi, tetapi di waktu pemerintahan khalifah Umaiyyah, ketika kesemua ahli keluarga Ali AS dan pengikut setia mereka terbunuh, partai ini menjadi satu gerakan bawah tanah.
Masih terdapat orang seperti Salman al-Farsi, Abu Dzar al-Ghiffari dan Ammar bin Yasir, yang sibuk menyebarkan dakwah untuk Ali AS. Ini berlangsung sehingga ke masa pemerintahan al-Makmun ar-Rasyid, yang mengalahkan abangnya dengan pertolongan orang-orang Iran dan mereka mulai menyebarkan pandangan bahawa Ali AS adalah lebih utama sebagai Khalifah daripada khalifah-khalifah yang lain.
Orang-orang Iran yang memusuhi orang-orang Arab, karena daerah-daerah dan kebebasan mereka dirampas, kemudiannya agama. Apa yang berlaku seterusnya akibat daripada perbuatan yang tidak berperikemanusiaan ini ialah Syi'ah telah bangkit membuat kekacauan dan huru-hara di sana-sini, sehingga mereka menjadi agak kuat di masa pemerintahan dinasti Dalamit. Dan di masa pemeritahan Raja Safavid, mereka ini mendapat pengiktirafan dan dikenali sebagai golongan Syi'ah dan orang-orang Iran penganut agama Zorastrian masih menggelarkan diri mereka sebagai Syi'ah.
Singkatnya agama Syi'ah adalah agama politik yang dipelopori oleh seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba'. Jika tidak, sudah tentu tiada perkataan "Syi'ah" wujud di dalam Islam dan nenek moyang saudara, yakni Rasulullah SAW tidak mengetahui langsung perkataan "Syi'ah", karena itu adalah perbuatan yang bertentangan dengan kehendaknya, sebagai tindakan menyeleweng yang telah dibuat-buat, dan sebetulnya Syi'ah adalah sebagian daripada agama dan keyakinan Israel.
Karena alasan inilah saya heran kenapa saudara meninggalkan cara kehidupan sebenar yang diridhai seperti yang dicontohkan oleh orang-orang yang menitiskan zuriat keturunan saudara, lalu mengikut jejak-jejak Yahudi dan juga segala bid'ah mereka. Walhal saudara adalah orang yang paling berhak sekali untuk menuruti al-Qur'an dan menjadi contoh dari datuk saudara yaitu Rasulullah SAW.
JAWABAN SHIRAZI ATAS TUDUHAN ABSURD TERSEBUT
Shirazi: Saya tidak menyangka seorang yang terpelajar seperti saudara sanggup mengemukakan alasan yang hanya berdasarkan kepada hujjah yang palsu dan rapuh, yang hanya kaum Munafiqin, Khawarij (musuh Ali AS) dan musuh seperti Bani Umaiyyah sahja yang melakukannya.
Tidak masuk akal sama sekali apabila saudara mengaitkan Abdullah bin Saba' dengan Syi'ah. Abdullah bin Saba' (la'natullah) adalah seorang Yahudi dan menurut dari sumber Syi'ah, dia adalah seorang Munafiq dan patut dikutuk dengan sekeras-kerasnya. Jika dia pernah kelihatan untuk sesaat saja bersama Ali AS sebagai kawan, lalu apakah kaitan dia dengan Syi'ah?
Jika seekor serigala diletakkan di dalam sekumpulan kambing; atau seorang pencuri di tempatkan di kalangan orang yang warak atau alim dan berdiri di atas mimbar atau di atas tangga masjid, dan menyakitkan Islam dan Muslim, patutkah kita memandang kepada orang yang warak dan alim yang lain dengan menggelar mereka sebagai pencuri dan pembohong?
Heran sekali saudara telah merendahkan Syi'ah yang adil dan menggelar mereka sebagai partai politik yang menurut keterangan saudara telah di dirikan pada masa khalifah Usman dan pelopornya adalah Abdullah bin Saba' (la'natullah).
Sebenarnya Syi'ah bukanlah sebuah partai, tetapi adalah sebuah mazhab agama islam, yang bukan dipelopori sebagaimana saudara katakan tadi di masa khalifah Uthman tetapi ia telah wujud dan dilahirkan melalui kata-kata dan perintah Rasulullah SAW semasa hidupnya walapun saudara berhujah dengan keterangan-keterangan palsu pihak musuh, namun saya sebaliknya, akan mengemukakan kepada saudara ayat al-Qur'an dan catatan-catatan dari ulama saudara sendiri untuk menerangkan kedudukan yang sebenarnya
Shirazi : Syi'ah, sebagaimana saudara semua tahu, berarti "Pengikut." Salah seorang ulama saudara yang paling terkemuka, Fairuzabadi di dalam"Qamusul Lughat", berkata, "Nama Syi'ah, biasanya berarti setiap orang yang bersahabat dengan Ali AS dan Ahlul Baitnya. Sekarang nama Syi'ah adalah khusus untuk mereka. Pengertian yang sama juga telah diberikan oleh Ibn Athir di dalam "Nehayatul Lughat."
Tetapi saudara telah menyalah tafsirkan perkataan Syi'ah, baik dengan sengaja atau tidak karena ingin menonjolkan kesempurnaan ilmu mengenai sejarah dan tafsir, lalu berkata secara mudah tanpa memberikan apa-apa bukti bahwa pengikut Ali AS dan Ahlul Bait Rasulullah SAW wujud di masa khalifah Uthman dan pelopor mereka adalah Abdullah bin Saba', seorang Yahudi.
Kenyataan yang sebenar adalah sebaliknya. Menurut buku-buku dan juga tafsir saudara sendiri perkataan Syi'ah bermakna "Pengikut Ali bin Abi Talib AS" dan telah digunakan ketika Rasulullah SAW masih hidup lagi. Rasulullah SAW sendiri yang telah mengemukakan perkataan Syi'ah yang bermakna "Pengikut Ali bin Abi Talib AS" dan Allah SWT menyatakan dalam firmanNya :
"Dan tiadalah yang diucapkan itu, menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diturunkan (kepada Muhammad SAW." (53: 3,4)
Baginda memanggil pengikut Ali AS yakni Syi'ah sebagai "penyampai" dan "penyelamat."
Hafiz: Di manakah terdapatnya perkara tersebut? Kami tidak pernah melihatnya.
Shirazi: Kami telah melihatnya dan kami menganggap tidak wajar menyembunyikan yang haq. Adapun Allah telah menyatakan, kutukan terhadap mereka yang menyembunyikan yang haq dan menggelar mereka sebagai sahabat api neraka. Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah Kami turunkan keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkan kepada manusia dalam al-Kitab itu dilaknati Allah dan dilaknati oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati." (2: 159)
Dan juga firmanNya:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka itu sebenarnya tidak memakan ke dalam perutnya melainkan api." (1: 174)
Hafiz: Sekiranya kami mengetahui yang benar dan kami menyembunyikannya, kami akan dikutuk sebagaimana yang disebut di dalam al-Qur'an.
Shirazi: Saya harap saudara semua memelihara dua ayat ini supaya tingkah laku dan sikap tidak bertolak-ansur tidak akan menghalangi kita, dan perkara yang haq tidak akan tersembunyi......Hafiz Abu Nuaim Isfahani, adalah salah seorang ulama saudara unggul, ahli hadith, dan sarjana pengkaji.
Ibn Khallakan telah memuji beliau di dalam bukunya "Affiyyatul A'yan." Beliau dianggap sebagai periwayat yang paling sahih yakni "huffaz," dan seorang ahli hadith yang amat terpelajar serta dicatatkan bahwa buku "Hilyatul Awliya" adalah di antara karyanya yang paling baik.
Salahuddin Khalil bin Albak Safdi menulis di dalam bukunya "Wafi bin Wafiyat" mengenai beliau. Kecemerlangan Hafiz Abu Nuaim sebagai ahli hadith amat dikenali, karena ilmunya yang tinggi, ketaqwaan dan keikhlasan. Beliau menduduki tempat yang paling utama di dalam meriwayatkan dan juga pemahaman hadith.
Bukunya yang paling baik adalah Hilyatul Awliya ditulis di dalam 10 seri yang mengandung pecahan-pecahan dari dua Sahih, dengan tambahan hadith lain yang seolah-olah dia sendiri mendengar dengan telinganya. Mohammad bin Abdullah al-Khatab memujinya di dalam bukunya Rijal Mishkat al-Masabih dengan mengatakan bahwa dia adalah salah seorang di antara para ahli hadith yang terkemuka, yang mana hadith-hadith riwayatnya amat dipercayai dan menjadi rujukan dan sangat dihormati. Usianya menjangkau sembilan puluh enam tahun.
Pendek kata, orang tua, ulama dan ahli hadith yang dihormati ini adalah ulama yang menjadi kebanggaan di kalangan saudara dan dianggap sebagai seorang yang terkemuka oleh ulama saudara sendiri. Beliau meriwayatkan hadith yang dipetik dari Abdullah bin Abbas menerusi sanad-sanad yang dipilihnya sendiri di dalam bukunya Hilyatul Awliya berhubung dengan wahyu berikut:
"Sesungguhnya mereka yang beriman dan membuat kebaikan, mereka adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka dari Tuhan mereka taman yang kekal, di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha akan mereka dan mereka ridha akan Allah, itulah (balasan) bagi orang yang takut pada Tuhannya." (al-Bainiyyah: 6-8)
Rasulullah SAW bersabda bahwa ayat ini ditujukan kepada Ali AS:
"Hai Ali engkau adalah sebaik-baik ciptaan (khairul bariyyah) yang dimaksudkan di dalam ayat suci ini ditujukan kepada engkau, dan pengikut-pengikut engkau (Syi'ah). Pada hari kebangkitan nanti, engkau dan pengikut-pengikut Syi'ah engkau akan menduduki tempat sedemikian tinggi, yang Allah redha kepada engkau dan engkaupun redha akan Allah."
Tetapi saudara telah menyalah tafsirkan perkataan Syi'ah, baik dengan sengaja atau tidak karena ingin menonjolkan kesempurnaan ilmu mengenai sejarah dan tafsir, lalu berkata secara mudah tanpa memberikan apa-apa bukti bahwa pengikut Ali AS dan Ahlul Bait Rasulullah SAW wujud di masa khalifah Uthman dan pelopor mereka adalah Abdullah bin Saba', seorang Yahudi.
Kenyataan yang sebenar adalah sebaliknya. Menurut buku-buku dan juga tafsir saudara sendiri perkataan Syi'ah bermakna "Pengikut Ali bin Abi Talib AS" dan telah digunakan ketika Rasulullah SAW masih hidup lagi. Rasulullah SAW sendiri yang telah mengemukakan perkataan Syi'ah yang bermakna "Pengikut Ali bin Abi Talib AS" dan Allah SWT menyatakan dalam firmanNya :
"Dan tiadalah yang diucapkan itu, menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diturunkan (kepada Muhammad SAW." (53: 3,4)
Baginda memanggil pengikut Ali AS yakni Syi'ah sebagai "penyampai" dan "penyelamat."
Hafiz: Di manakah terdapatnya perkara tersebut? Kami tidak pernah melihatnya.
Shirazi: Kami telah melihatnya dan kami menganggap tidak wajar menyembunyikan yang haq. Adapun Allah telah menyatakan, kutukan terhadap mereka yang menyembunyikan yang haq dan menggelar mereka sebagai sahabat api neraka. Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah Kami turunkan keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkan kepada manusia dalam al-Kitab itu dilaknati Allah dan dilaknati oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati." (2: 159)
Dan juga firmanNya:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka itu sebenarnya tidak memakan ke dalam perutnya melainkan api." (1: 174)
Hafiz: Sekiranya kami mengetahui yang benar dan kami menyembunyikannya, kami akan dikutuk sebagaimana yang disebut di dalam al-Qur'an.
Shirazi: Saya harap saudara semua memelihara dua ayat ini supaya tingkah laku dan sikap tidak bertolak-ansur tidak akan menghalangi kita, dan perkara yang haq tidak akan tersembunyi......Hafiz Abu Nuaim Isfahani, adalah salah seorang ulama saudara unggul, ahli hadith, dan sarjana pengkaji.
Ibn Khallakan telah memuji beliau di dalam bukunya "Affiyyatul A'yan." Beliau dianggap sebagai periwayat yang paling sahih yakni "huffaz," dan seorang ahli hadith yang amat terpelajar serta dicatatkan bahwa buku "Hilyatul Awliya" adalah di antara karyanya yang paling baik.
Salahuddin Khalil bin Albak Safdi menulis di dalam bukunya "Wafi bin Wafiyat" mengenai beliau. Kecemerlangan Hafiz Abu Nuaim sebagai ahli hadith amat dikenali, karena ilmunya yang tinggi, ketaqwaan dan keikhlasan. Beliau menduduki tempat yang paling utama di dalam meriwayatkan dan juga pemahaman hadith.
Bukunya yang paling baik adalah Hilyatul Awliya ditulis di dalam 10 seri yang mengandung pecahan-pecahan dari dua Sahih, dengan tambahan hadith lain yang seolah-olah dia sendiri mendengar dengan telinganya. Mohammad bin Abdullah al-Khatab memujinya di dalam bukunya Rijal Mishkat al-Masabih dengan mengatakan bahwa dia adalah salah seorang di antara para ahli hadith yang terkemuka, yang mana hadith-hadith riwayatnya amat dipercayai dan menjadi rujukan dan sangat dihormati. Usianya menjangkau sembilan puluh enam tahun.
Pendek kata, orang tua, ulama dan ahli hadith yang dihormati ini adalah ulama yang menjadi kebanggaan di kalangan saudara dan dianggap sebagai seorang yang terkemuka oleh ulama saudara sendiri. Beliau meriwayatkan hadith yang dipetik dari Abdullah bin Abbas menerusi sanad-sanad yang dipilihnya sendiri di dalam bukunya Hilyatul Awliya berhubung dengan wahyu berikut:
"Sesungguhnya mereka yang beriman dan membuat kebaikan, mereka adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka dari Tuhan mereka taman yang kekal, di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha akan mereka dan mereka ridha akan Allah, itulah (balasan) bagi orang yang takut pada Tuhannya." (al-Bainiyyah: 6-8)
Rasulullah SAW bersabda bahwa ayat ini ditujukan kepada Ali AS:
"Hai Ali engkau adalah sebaik-baik ciptaan (khairul bariyyah) yang dimaksudkan di dalam ayat suci ini ditujukan kepada engkau, dan pengikut-pengikut engkau (Syi'ah). Pada hari kebangkitan nanti, engkau dan pengikut-pengikut Syi'ah engkau akan menduduki tempat sedemikian tinggi, yang Allah redha kepada engkau dan engkaupun redha akan Allah."
Kelebihan Syi'ah Ali AS atas Yang Lain
Shirazi : Begitu juga dengan Abdul Muayid Muaffiq bin Ahmads Khawarizimi, Hakim Abul Qassim Ubaidullah bin Abdullah al-Haskani di dalam Manaqibnya "Shawahid al-Tanzil", Bab 17, Mohammad bin Yusuf Kanji Syafie di dalam "Kifayatul Talib", halaman 119; Sibt Ibn Jauzi di dalam "Takzirah," halaman 31; juga Munzir bin Mohammad bin Munzir. Dan terutama sekali Hakim, yang telah mengaitkan bahawa Hakim bin Abdullah Hafiz (salah seorang ulama besar saudara) memberitahu keterangan berhubung perjanjian periwayatan yang sampai kepada Yazid bin Sharabil Ansari, dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib AS iaitu Ali AS berkata bahwa di saat kewafatan Rasulullah SAW, punggung baginda disandarkan kepada dadanya (Ali AS).
Ketika itu Rasulullah SAW bersabda, "Tidakkah pernah engkau mendengar ayat suci: "Orang-orang beriman dan membuat kebaikan, mereka adalah yang sebaik-baik makhluk...."Mereka adalah pengikut (Syi'ah) engkau dan aku, dan tempat pertemuan untuk engkau nanti adalah di Kolam Kautsar di Syurga. Ketika semua makhluk akan dikumpulkan untuk di adili, wajah-wajah pengikut engkau akan bersinar-sinar, dan engkau akan dipanggil sebagai ketua orang-orang yang bersinar di wajah mereka."
Jalaluddin Suyuti di dalam "Durrul Manthur" mencatatkan dari Abul Qasim Ali bin Hasan yang biasa dikenali sebagai Ibn Asakir Damishqi, yang telah memetik dari Jabir bin Abdullah Ansari, salah seorang sahabat besar Rasulullah SAW yang berkata, bahwa dia dan lain-lain sahabat sedang duduk bersama-sama dengan Rasulullah SAW kemudian Ali bin Abi Talib AS masuk. Rasulullah SAW bersabda,"Aku bersumpah dengan nyawaku di tanganNya, sesungguhnya orang ini (Ali AS) dan pengikut-pengikut (Syi'ah)nya akan mendapat syafa'at di Hari Kebangkitan." Ketika itulah ayat tersebut diwahyukan.
Di dalam syarah (komentar) yang sama, Ibn Hadi mengambil daripada Ibn Abbas yang berkata, ketika ayat tersebut diwahyukan, Rasulullah SAW bersabda kepada Ali AS,"Engkau dan pengikut (Syi'ah) engkau akan datang pada Hari Kebangkitan nanti di dalam keadaan yang diridhai Allah dan Allah meridhai terhadap kalian."
Di dalam "Manaqib" Khawarizmi, Bab 9, memetik dari Jabir bin Abdullah Ansari yang berkata, Aku bersama-sama dengan para hadirin yang mendengar ucapan Rasulullah SAW bersabda, "Yang masuk itu adalah saudaraku." Kemudian, sambil memaling muka ke arah Kaabah, Rasulullah SAW seraya memegang tangan Ali, lalu bersabda, "Dia yang nyawaku ditanganNya, Ali dan pengikut-pengikutnya (Syi'ah) adalah yang bersyafa'at di Hari Pembalasan kelak."
Seterusnya baginda menyambung, "Ali adalah orang yang paling utama di dalam keimanan, paling memberi perhatian penuh terhadap kehendak Allah yang paling adil di antara kamu di dalam menjatuhkan segala hukum ke atas umat, yang paling seksama di dalam membagi-bagikan harta antara kalian, dan yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah dari kalangan kamu." Pada peristiwa itulah ayat suci tersebut diturunkan.
Legal Disclaimer: The information contained in this message may be privileged and confidential. It is intended to be read only by the individual or entity to whom it is addressed or by their designee. If the reader of this message is not the intended recipient, you are on notice that any distribution of this message, in any form, is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete or destroy any copy of this message
Shirazi : Begitu juga dengan Abdul Muayid Muaffiq bin Ahmads Khawarizimi, Hakim Abul Qassim Ubaidullah bin Abdullah al-Haskani di dalam Manaqibnya "Shawahid al-Tanzil", Bab 17, Mohammad bin Yusuf Kanji Syafie di dalam "Kifayatul Talib", halaman 119; Sibt Ibn Jauzi di dalam "Takzirah," halaman 31; juga Munzir bin Mohammad bin Munzir. Dan terutama sekali Hakim, yang telah mengaitkan bahawa Hakim bin Abdullah Hafiz (salah seorang ulama besar saudara) memberitahu keterangan berhubung perjanjian periwayatan yang sampai kepada Yazid bin Sharabil Ansari, dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib AS iaitu Ali AS berkata bahwa di saat kewafatan Rasulullah SAW, punggung baginda disandarkan kepada dadanya (Ali AS).
Ketika itu Rasulullah SAW bersabda, "Tidakkah pernah engkau mendengar ayat suci: "Orang-orang beriman dan membuat kebaikan, mereka adalah yang sebaik-baik makhluk...."Mereka adalah pengikut (Syi'ah) engkau dan aku, dan tempat pertemuan untuk engkau nanti adalah di Kolam Kautsar di Syurga. Ketika semua makhluk akan dikumpulkan untuk di adili, wajah-wajah pengikut engkau akan bersinar-sinar, dan engkau akan dipanggil sebagai ketua orang-orang yang bersinar di wajah mereka."
Jalaluddin Suyuti di dalam "Durrul Manthur" mencatatkan dari Abul Qasim Ali bin Hasan yang biasa dikenali sebagai Ibn Asakir Damishqi, yang telah memetik dari Jabir bin Abdullah Ansari, salah seorang sahabat besar Rasulullah SAW yang berkata, bahwa dia dan lain-lain sahabat sedang duduk bersama-sama dengan Rasulullah SAW kemudian Ali bin Abi Talib AS masuk. Rasulullah SAW bersabda,"Aku bersumpah dengan nyawaku di tanganNya, sesungguhnya orang ini (Ali AS) dan pengikut-pengikut (Syi'ah)nya akan mendapat syafa'at di Hari Kebangkitan." Ketika itulah ayat tersebut diwahyukan.
Di dalam syarah (komentar) yang sama, Ibn Hadi mengambil daripada Ibn Abbas yang berkata, ketika ayat tersebut diwahyukan, Rasulullah SAW bersabda kepada Ali AS,"Engkau dan pengikut (Syi'ah) engkau akan datang pada Hari Kebangkitan nanti di dalam keadaan yang diridhai Allah dan Allah meridhai terhadap kalian."
Di dalam "Manaqib" Khawarizmi, Bab 9, memetik dari Jabir bin Abdullah Ansari yang berkata, Aku bersama-sama dengan para hadirin yang mendengar ucapan Rasulullah SAW bersabda, "Yang masuk itu adalah saudaraku." Kemudian, sambil memaling muka ke arah Kaabah, Rasulullah SAW seraya memegang tangan Ali, lalu bersabda, "Dia yang nyawaku ditanganNya, Ali dan pengikut-pengikutnya (Syi'ah) adalah yang bersyafa'at di Hari Pembalasan kelak."
Seterusnya baginda menyambung, "Ali adalah orang yang paling utama di dalam keimanan, paling memberi perhatian penuh terhadap kehendak Allah yang paling adil di antara kamu di dalam menjatuhkan segala hukum ke atas umat, yang paling seksama di dalam membagi-bagikan harta antara kalian, dan yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah dari kalangan kamu." Pada peristiwa itulah ayat suci tersebut diturunkan.
No comments:
Post a Comment