semua di milis ini... Kita di sini belajar. Belajar dari pengalaman
hidup kita sendiri. Mari kita sama-sama membuka diri... Bahwa kita
semua memang perlu kebenaran yang hakiki bukan kebenaran menurut
pendapat kita sendiri terus memaksakan diri supaya orang dapat
mengikuti pendapat pribadi.
Inilah perjuangan untuk mencari kebenaran sejati...
Inilah perjuangan sejati mencari identitas diri ini
Siapakah kita ini ?
Mau apa kita di sini?
Mau kemana kita akan pergi?
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang kita sama-sama alami.
Semua manusia pasti pernah mengalami...
Nabi Muhammad Shalallahu alahi wa'salam sediri pernah mengalami
hal-hal seperti ini.
Hingga setelah Menemukan dan mengerti apa sebenarnya yang terjadi
Mereka orang-orang yang tidak mau mengetahui kebenaran hakiki...
Selalu memperolok-olok dan mencaci-maki...
Mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al Qur'an kepadanya,
sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila.[Al Hijr]
Al Quran telah menunjukan kepada kita kebenaran sejati...
Mengajarkan kepada kita untuk bisa menjaga diri...
Untuk selalu bersabar...
Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena
kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang."
[Al Mukminuun 111]
On 6/24/10, Muhammad Amir Rosyidi <rosyid2007@gmail.com> wrote:
> On Thu, 2010-06-24 at 08:09 +0700, whe - en wrote:
>> Pak Amir mohon maaf baru bisa balas,
>> Biasa alasan klise "pekerjaan" :-)
> [Rosyid] :
> Dimaklumi kok mbak,hehe..
>> Mohon maaf saya tidak bisa memberikan informasi seperti yang Pak Amir
>> harapkan soal salafy.
>> Yang saya tahu ya sudah saya tulis kemaren, bahwa saya benar benar
>> salut dengan mereka.
>> Mereka benar2 memperhatikan dalil dalil ketika beribadah,
>> Mereka benar benar mencintai Rasulullah dengan mengikuti ajarannya,
>> bukan mengikuti kata orang dan pendapat sendiri.
>> Mereka memilih dalil yang shahih sebagai landasan ibadah
>> Mereka Taat kepada Allah dengan mematuhi perintah-Nya taat kepada
>> Rasul
>> Itulah kenapa saya senang sekali ketika suatu saat berkesempatan
>> ta'lim dengan mereka.
>> Jika di dekat rumah lagi tidak ada, saya pergi ke jakarta yang mudah
>> jalurnya dari rumah saya.
>> Ketika ta'lim kita ada literature yang sistematis seperti mengkaji
>> kitab tauhid, fiqh, tafsir dsb, jadi memudahkan saya untuk belajar.
> [Rosyid] :
> Ya, saya hampir sama dengan mbak wheen, untuk masalah konsistensi dalam
> beribadah saya salut sekali dengan salafi
>> Soal pak Amir merasa mereka exclusive, kalau boleh saya berpendapat.
>> Mungkin sebaiknya dikaji dahulu dan masing masing instropeksi diri,
>> karena saya yakin itu bukan masalah salafy-nya.
>> Kalaupun cara berdakwah yang menurut bapak kurang, kemungkinan kan
>> ilmu mereka belum sampai pada bagaimana berdakwah pak.
>> Karena setahu saya ustadz salafy yang mengisi kajian baik di Jakarta
>> yang saya ikuti maupun di dekat rumah mereka cukup bagus cara
>> berdakwahnya. baik cara penyampaian maupun ilmunya bagus,
>> Bukan ga punya ilmu tapi berdakwah, Ilmu agama maksud saya, ya
>> tafsir, ya fiqh ya hadits, jadi terhindar dari keliru penafsiran
>>
>> memang ada yang biasanya tanpa dalil ketika ibadah, ikut kajian
>> pertama kali, kaget lach melihat semua dibahas dengan dalil baik dari
>> Al Qur'an maupun sunnah, yang ada complain dari awal sampai akhir.
>> Itupun yang lain tidak menghujat, diam memaklumi, dan diserahkan
>> kepada ustadz untuk menanganinya.
> [Rosyid] :
> Soal terkesan exclusive itu bukan pendapat saya lho mbak, tapi pendapat
> banyak penduduk di tempat saya. Mereka merasa bahwa mereka itu hanya
> bergaul dengan kalangannya saja, kalau ada masalah yang menyangkut
> sosial kemasyarakatan kok tidak pernah ikut andil, sehingga para
> penduduk menganggap mereka terkesan exclusive. Kalau menurut saya
> sendiri ya hampir sama seperti itu, karena memang saya yang hanya
> tetangga samping rumahnya bisa dibilang nggak pernah ketemu, ngobrol
> kalau nggak pas papasan di masjid.
>> Jadi menurut saya, soal pergaulan sesama tetangga, akan banyak masalah
>> jika sebagian merasa benar, bukan karena golongannya, bukan karena
>> mahzabnya, bukan karena manhajnya.
>> Saya akan mencontohkan pengalaman beberapa teman yang curhat kesaya,
>> Di lingkungannya memang ada pengajian yang dilaksanakan di Musholla,
>> tapi akhirnya teman tersebut memutuskan tidak mengikutinya,
>> Orang yang tidak mau instropeksi diri sendiri, merasa selalu benar
>> pasti menganggap dia tidak mau bergaul, exclusive, maunya di ta'lim
>> alirannya dsb.
>> Tapi coba kita tengok alasannya ketika curhat ke saya,
>> 1. Waktunya malam, padahal keesokan harinya saya harus bekerja, latar
>> belakang yang berbeda kan dengan kebanyakan rekannya yang ibu rumah
>> tangga. Sebagai istri, walaupun bekerja, bukan berarti suaminya harus
>> mandiri, justru dia yang menyiapkan semua kebutuhan suaminya dahulu
>> sebelum berangkat kerja, bahkan minum-pun suaminya hampir tidak pernah
>> ambil sendiri, dia yang menyiapkan, ini bukan keluhan, tapi itulah
>> yang menjadi komitmennya bahwa walaupun dia bekerja, suaminya jangan
>> sampai menyentuh pekerjaan rumah tangga.
>> Apa alasan ini salah sehingga ketika dia lebih memilih ta'lim di hari
>> libur, sabtu atau minggu atau hari besar agar hari2 biasa tidak
>> terganggu pekerjaannya baik di rumah ataupun di kantor?
>> Apakah dia exclusive?
>> Sebaiknya rekan2nyalah, tetangganyalah menurut saya yang exclusive,
>> yang egois, yang harusnya instropeksi diri.
>>
>> 2. Bagaimana kalau kegiatan baik pengajian ataupun kegiatan RT itu
>> menyebabkan laki laki perempuan bercampur baur?
>> Mungkin dianggap biasa, bergaul dengan tetangga toch banyak orang ini
>> (maaf dalilnya sudah sering kita bahas jadi tidak saya tulis lagi ya
>> soal campur baur laki laki dan perempuan)
>> Siapa sekarang yang harus instropeksi diri? :-)
>> menurut saya ya warga yang menyalahi perintah Allah itulah yang
>> harusnya instropeksi heheheh
>> Bergaul memang boleh, antara tetangga, tetapi bukan berarti menyalahi
>> perintah Allah kan ya Pak?
>> Bagaimana menurut bapak?
>> Apakah mereka masih bisa dibilang exclusive?
>>
>> 3. Soal bergaul para istri,
>> Pernahkan bapak menanyakan apa saja yang dibicarakan para istri ketika
>> berkumpul?
>> Ada yang meng-ghibah, ada yang menggosip, ada yang menyombongkan
>> penghasilan suami, harta, anak anak dsb.
>> (kalau mau dibahas dalil soal ghibah tersendiri saya yach?)
>> Ketika kita tidak kuasa menasehati agar tidak menggunjing, apakah
>> salah membatasi pergaulan dengan yang lain?
>> Yang lain pasti akan membicarakan orang yang menarik diri exclusive
>> tanpa instropeksi bahwa merekalah yang hidup tidak sesuai sunnah
>> hehehehehe
>>
>> 4. Masih banyak lagi pak yang seharusnya masing masing harusnya
>> menurut saya instropeksi, bahwa mayoritas belum tentu benar, justru
>> yang kelihatan exclusive itu kadang kadang menjaga agar tidak jatuh
>> pada hal hal yang dilarang agama.
>>
>> Bagaimana menurut bapak?
>> saya tunggu konfirmasi baliknya ya :-)
> [Rosyid] :
> Ini saya akan bercerita berdasar pengalaman nyata dan apa yang biasa
> saya lakukan saja ya mbak.
> 1. Rapat RT di tempat saya itu dibagi 2 ada bapak-bapak dan ibu-ibu.
> Trus pertemuan antara bapak-bapak dan ibu-ibu itu sendiri-sendiri. Kerja
> baktipun atau acara sosial kampung itu juga sendiri-sendiri, misal
> jemput orang sakit, atau nengok bayi, dsbnya, antara bapak-bapak dan
> ibu-ibu sendiri.
> Sudah seperti itupun juga tidak pernah ikut mbak, apakah ada yang salah
> dengan kegiatannya?
> 2. Untuk masalah pergaulan antar tetangga yang kadang ada
> gunjing-menggunjing, terus terang kalau saya pribadi cuek, saya bukannya
> trus antipati antipati terhadap kegiatan kampung itu. Kalau saya
> biasanya ya ikut aja ada acara kumpul-kumpul yang melibatkan warga wong
> tujuan saya untuk silaturahmi, tapi kalau ada yang nggosip atau ada yang
> apa ya saya sih diem aja, nggak ikut-ikutan, tapi ya dengan cara lain
> untuk memberitahunya misal kalau ada pengajian topiknya dibuat beda-beda
> (ditempat saya pengajian kampung itu sebulan 2 kali), masalah membahas
> ghibah juga kadang dijadikan topik pengajian.
> Kalau lagi suasana enak kadang ada yang menasehati tapi dengan cara
> becanda, ya seperti itulah mbak, tidak perlu kaku atau antipati hanya
> karena ingin menghindari. Kalau bagi saya, kita hidup bermasyarakat, ya
> harus saling silaturahmi, bukan menutup diri. Kalau kita sakit siapa
> yang akan menolong kita pertama kali, ya tetangga kita...Tapi kalau
> dengan tetangga saja kita tidak bisa menjalin tali silaturahmi bagaimana
> bisa kita berharap tetangga kita untuk menolong kita kalau ada masalah
> dengan keluarga kita. Bukannya Rosullullah sendiri menyuruh kita untuk
> selalu menjaga tali silaturahmi? kalau memang benar tetangga saya itu
> melaksanakan perintah rosul tersebut pasti tidak akan seperti itu,
> kecuali kalau perintah itu dipahami hanya untuk saudara yang ada satu
> kelompok dengan dia, tapi saya yakin di ajaran kelompoknya tidak seperti
> itu, mungkin hanya individunya saja.
> 3.Kalau masalah pekerjaan, sebenarnya sama mbak kedudukannya, di kampung
> kami semuanya bekerja, ada yang jadi PNS, ada yang jadi karyawan seperti
> saya, ada yang buruh, ada yang wirswasta, dsbnya. Kedudukannya sama,
> tapi apakah itu menjadi penghalang untuk hanya sekedar berkumpul untuk
> ronda jaga kampung, berkumpul untuk pertemuan warga, dsbnya. Kalau misal
> 1 atau 2 kali nggak berangkat karena alasan pekerjaan menumpuk, lembur
> kek atau sedang pergi keluar kota itu semua masyarakat menegerti
> (soalnya saya sering pamit gara2 sedang keluar kota).
> Saya sendiri kalau setelah ronda biasanya paginya di kantor juga nggak
> bisa konsen bekerja karena ngantuk, dan itupun bagi saya nggak masalah
> wong 1 minggu sekali untuk ronda itu, nggak tiap hari.
> Tapi intinya adalah semua antar warga mempunyai kedudukan yang sama.
> Kalau yang saya tahu tetangga saya itu pekerjaannya guru di sekolah IT.
> Jadi menurut saya pekerjaan bukan menjadi alasan yang tepat untuk
> menghindar terus.
>
> Ya itu tadi sekelumit cerita saya dengan berbagai elemen masyarakat di
> kampung saya. Saya hanya belajar dari masa lalu saya, dulu saya orangnya
> cuek mbak, jarang pergi keluar rumah hanya sekedar ngobrol dengan
> tetangga, jarang sekali ikut kegiatan warga, dan itu akhirnya menjadi
> bumerang bagi saya, saya menjadi rugi sendiri. Dan akhirnya saya coba
> perbaiki sedikit demi sedikit dan akhirnya masyarakat bisa menerima saya
> lagi, sudah mulai baik lagi dengan kami sekeluarga, enak diajak ngobrol
> lagi. Kemudian apa yang terjadi pada saya ternyata saya lihat lagi di
> tetangga saya, saya sudah sering menasehati karena saya sudah
> mengalaminya, ternyata ya dia tidak menggubris, dan akhirnya pendapat
> orang kampungmun menjadi negatif terhadap dia, ya hasil akhirnya ketika
> dia memperpanjang kontrak nggak dibolehin sama yang punya rumah, karena
> sudah banyak komplain dari warga.
>
>
>
>
>
>
>>
>>
>> On 6/23/10, Muhammad Amir Rosyidi <rosyid2007@gmail.com> wrote:
>> On Wed, 2010-06-23 at 10:30 +0700, whe - en wrote:
>> > Saya pribadi selama bergaul dengan mereka (kaum salafi)
>> tidak ada
>> > masalah.
>> > Tetapi jelas semua tergantung kita, mau membuka diri apa
>> pura pura
>> > membuka diri tetapi memaksakan pandangan kita.
>> > Semua berawal dari pikiran kita, ketika menganggap sesuatu
>> negatif,
>> > segala hal akan menjadi negatif dan sebaliknya.
>> > Menganggap positif menjadikan kita bisa menilai objectif,
>> tergantung
>> > kita pilihan kemana
>> [Rosyid] :
>> Mungkin mbak wheen yang sudah lama berkenalan dengan orang
>> slafi bisa
>> menceritakan kepada saya atau kita semua di milist ini
>> bagaimana salafi?
>> khususnya yang ada di Indonesia supaya orang tidak
>> berprasangka yang
>> aneh-aneh lagi tentang salafi. Saya hanya takut ketika kita
>> hanya
>> mendengar cerita tentang suatu aliran, suatu golongan hanya
>> dari
>> kulitnya maka akan menimbulkan persepsi yang berbeda, dan
>> malah akan
>> menumbilkan perpecahan kalau orang tersebut tidak bisa arif
>> dalam
>> menyikapinya.
>> > Saya punya pengalaman,
>> > Ketika ta'lim dengan mereka (salafi), tanpa sadar karena
>> kebiasaan,
>> > saya menggunakan kaos kaki favorit saya, warna warni dengan
>> lima
>> > kantong jari. Yang menjadi masalah tentusaja bukan itu,
>> tetapi gambar
>> > di kaos kali saya seperti wajah orang.
>> > Seorang rekan dengan santun menanyakan apakah ada gambar
>> tersebut,
>> > saya langsung sadar dengan salah satu hadits soal
>> dilarangnya ada
>> > gambar makhluk hidup, dan saya tidak langsung marah karena
>> toch rekan
>> > tersebut menanyakan dengan santun dan saya menjawab pula
>> dengan santun
>> > bahwa saya selama ini tidak sadar dengan gambar gambar
>> tersebut. Dan
>> > ta'lim ta'lim berikutnya kaos kaki bergambar tersebut
>> tentusaja tidak
>> > saya gunakan karena sayapun menghormati saya ta'lim di
>> lingkungan
>> > mereka.
>> >
>> > Ketika saya tidak ta'lim beberapa saat karena suatu
>> keperluan, mereka
>> > menanyakan apakah terjadi sesuatu dengan saya? karena pada
>> intnya
>> > bersaudara
>> >
>> > Pointnya: mereka mengingatkan saya dengan santun dan penuh
>> perhatian.
>>
>> > Hal tersebut tidak saya temui ketika ibu2 mengadakan
>> yasinan, saya
>> > mengungkapkan bahwa saya kurang sreg dengan cara membaca
>> bersama sama,
>> > tidak ada yang menyimak, tidak ada yang mengkoreksi,
>> > jawabannya adalah memaksa ikut karena diundang.
>> > (Kalau diundang itu mbok ya datang khawatirnya kalau kita
>> ada acara ga
>> > didukung)
>> > Bagaimana mungkin ibadah koq ikut ikutan karena ga enak,
>> bukannya
>> > berdasarkan dalil syar'i
>> > Ketika ikut kajian pun tahu tahu diadakan yasinan dengan
>> alasan
>> > menunggu ustadzahnya, bersaut sautan, ga ada yang
>> mengoreksi.
>> [Rosyid] :
>> Di kampung sayapun pengalamannya berbeda juga dengan mbak
>> wheen. Dulu
>> saya punya tetangga salafi, saya kagum sekali karena ibadahnya
>> istiqomah
>> (ini yang saya salut dengan salafi), kalau ada adzan langsung
>> berangkat
>> ke masjid. Tapi memang ada beberapa sikap yang membuat
>> orang-orang di
>> tempat saya merasa mereka eksklusif seperti ketika diundang
>> rapat RT
>> nggak datang, ada kerja bakti ndak ikut, ketika ada moment
>> 17-an
>> langsung dengan frontal bilang ke tokoh masyarakat, ke
>> orang-orang
>> disitu bahwa itu nggak ada dalam ajaran Islam (bagi saya kalau
>> itupun
>> benar, cara dakwahnya yang kurang pas), kalau bertamu ke
>> rumahnya
>> kesannya seperti ada pilih-pilih tamu. Istrinya tidak pernah
>> sama sekali
>> keluar rumah kecuali kalau ada acara di rekan-rekan salafinya.
>> > Jadi intinya menurut saya, kenalilah orang berbeda pandangan
>> dengan
>> > kita dahulu, koreksi diri kita sendiri dahulu, jangan jangan
>> diri
>> > kitalah yang tidak bisa menerima pandangan orang lain beda,
>> tetapi
>> > menuduh mereka yang kaku.
>> [Rosyid]:
>> Dari saya pribadi tidak masalah dengan keyakinan mereka, saya
>> masih
>> bergaul dengan baik kepada mereka, saya sering menjelaskan ke
>> orang-orang kampung (kadang di ngobrol bebas, atau ronda)
>> bahwa mereka
>> tidak seperti yang orang bayangkan, tapi ya yang saya kadang
>> menyesalkan
>> sikap mereka kok sepertinya pilih-pilih dalam bergaul, bahkan
>> untuk
>> kegiatan sosial di masyarakat. Semoga mbak wheen bisa
>> memberikan
>> informasi yang tepat.
>> kalau saya sendiri secara pribadi untuk masalah sosial ataupun
>> keagamaan
>> saya akan ikut selagi saya mampu dan bisa, karena ya kita
>> hidup tidak
>> sendiri di masyarakat, kita hidup bersama-sama di masyarakat.
>> tetangga
>> kita adalah saudara dekat kita. Untuk masalah ibadah memang
>> saya suka
>> pilih-pilih, kalau ada tahlilan atau 40 harian ya nggak pernah
>> ikut, dan
>> mereka tahu kalau saya memang tidak sejalan dengan mereka
>> kalau masalah
>> yang begituan, tapi saya tetep menghormati mereka,
>> Bagi saya tetap jaga silaturahmi walaupun berbeda keyakinan,
>> tidak perlu
>> kaku sekali dalam berdakwah, mungkin bisa menggunakan
>> cara-cara yang
>> soft ketika berhadapan dengan masyarakat yang lebih majemuk.
>>
>> > Demikian dari saya
>> >
>> >
>> >
>> >
>> > On 6/23/10, Farhan Nabil Hawary <cangkedong@yahoo.co.id>
>> wrote:
>> >
>>
>>
>> --
>> Whe~en
>> http://wheen.blogsome.com/
>>
>> "Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku
>> urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka
>> mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
>> "Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan
>> penyabar"
>> --
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>
>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>
>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment