Pada 29 Juli 2010 08:15, Armansyah <armansyah.skom@gmail.com> menulis:
Dari Jabir bin Abdullah meriwayatkan " Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw lalu berkata: "Marilah sholat". Lalu ia melakukan solat dzuhur di waktu matahari telah condong (tergelincir). Kemudian Jibril datang kepada Nabi di waktu Asar lalu berkata: "Marilah sholat". Lalu ia solat Asar di waktu bayangan tiap-tiap sesuatu jadi sama panjangnya dengan keadaan dirinya. Kemudian Jibril datang kepada Nabi Saw di waktu maghrib lalu berkata: " Marilah Sholat" lalu ia solat Maghrib di waktu matahari telah masuk (terbenam). Kemudian Jibril datang kepada Nabi Saw di waktu Isya lalu berkata: "Marilah Sholat". Lalu ia sholat Isya lalu berkata; " Marilah sholat". Lalu ia sholat Isya di waktu telah hilang tanda merah – di tempat matahari terbenam. Kemudian Jibril datang kepada Nabi Saw di waktu fajar lalu berkata: "Marilah sholat" Lalu ia sholat Fajar (subuh) di waktu fajar telah terbit. Kemudian Jibril datang kepada Nabi Saw pada esok harinya lagi di waktu dzuhur lalu berkata: "Marilah solat". Lalu ia solat dzuhur, di waktu bayangan tiap-tiap sesuatu itu jadi sama panjangnya dengan keadaan dirinya. Kemudian Jibril datang kepada Nabi Saw di waktu Asar lalu berkata: "Marilah sholat". Lalu ia sholat di waktu Asar, di waktu bayangan tiap-tiap sesuatu itu jadi dua kali panjang daripada dirinya. Kemudian Jibril datang kepada Nabi Saw di waktu maghrib yang sama waktunya dengan kemarin, lalu ia sholat maghrib. Kemudian jibril datang kepada Nabi Saw di waktu Isya, sehabis tengah malam, lalu berkata: "marilah sholat". Lalu ia sholat Isya. Kemudian Jibril datang kepada Nabi pada waktu telah terang cuaca (sebelum terbit matahari). Lalu berkata: "Marilah sholat". Lalu ia sholat fajar. Kemudian Jibril berkata: Antara dua waktu itulah waktu bagi tiap-tiap sholat." (HR. Ahmad, Tarmizi, Nasa'I, Ibnu Hibban dan Hakim)Saya justru melihat ini bukan kesalahan dari hisab, namun justru rukyah itulah yang salah.
Nah sekarang hadis Nabi mengenai letak posisi matahari dalam penentuan dan pengukuran panjang atau arah bayangan yang disesuaikan dengan masuknya waktu sholat, jelas diperoleh dari Ru'yah atau penglihatan fisik matahari dan bukan hasil perhisaban. Konteks Sdr. Addins yang ada di Sulawesi atau Maluku justru berkaitan erat dengan perhisaban, dimana jam sekian sudah masuk maghrib.
(Addin) mas Arman, kalau menurut saya pribadi malah kasus ini menunjukkan adanya ketidakakuratan sebuah perhitungan hisab, karena apa? Hadist yang saya copas dari mas Arman menunjukkan bahwa Allah melalui malaikat Jibril telah memberitahu Rasulullah sallallahu alaihi wassalam kapan dilakukannya sholat maghrib yaitu ketika matahari terbenam. sedangkan dengan menggunakan metode hisab, maghrib dijadualkan pada saat matahari belum benar2 tenggelam.. kok bisa yang salah Ru'yah? atau mas Arman mau bilang bahwa saya ga paham kondisi matahari tenggelam atau belum... hehehe
Wallahu 'alam bishowab
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment