Observasi awal bulan di Indonesia yang dikoordinir oleh Pemerintah dalam hal ini dilaksanakan oleh Departemen Agama, awalnya hanya untuk penetapan awal Ramadan dan Syawal. Semenjak pemerintahan Megawati Soekarno Putri ditambah dengan pengoservasian awal bulan Zulhijah. Jika pada sembilan bulan lainnya tidak dilakukan observasi secara "resmi", berbeda dengan ketiga bulan di atas karena pada ketiganya terdapat momen penting dalam rangkaian ibadah umat Islam. Yakni untuk mengawali pelaksanaan ibadah Ramadan, pelaksanaan hari raya Idul Fitri, dan pelaksanaan rangkaian ibadah haji serta hari raya Idul Adha.
2010/7/29 andri subandrio <subandrio.andri@gmail.com>
Mohon maaf mas Wawan, tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap pendapat mas Wawan.
Justru karena kajian ini penting maka seharusnya dalam mengkaji hal ini juga haarus secara integral tidak sepotong-sepotong artinya tiap menentukan awal bulan harus ada pengumuman mengenai hilal bahwa tanggal satu bulan bersangkutan sesuai hilal jatuh pada hari..... dan seterusnya, dan saya mengemukakan ini karena menjadi bingung kala menentukan tanggal satu ramadhan orang ribut apakah harus ditentukan dengan melihat hilal atau hisab, sedangkan tanggal satu Ramadhan kan tidak berdiri sendiri, artinya bila kita konsisten harus dengan melihat hilal, tanggal satu bulan sebelum ramadhan juga harus ditentukan dengan melihat hilal, sehingga bila saat penentuan hilal ramadhan terhalang oleh mendung atau sebab alam lainnya maka untuk menggenapkan bulan sebelum Ramadhan menjadi 30 hari juga jelas.
Terima kasih.2010/7/29 wawan wahyu <wawan.wahyu@gmail.com>
Pak Andri,Kajian ini penting untuk dijalankan kerana hilal adalah asas dalam penetapan awal bulan dalam Kalendar Islam. Tujuan kajian ini dijalankan bagi memastikan hisab yang diguna-pakai di negara kita bertepatan dengan rukyah
2010/7/29 andri subandrio <subandrio.andri@gmail.com>Mohon maaf mas Wawan, bagaimana mungkin dilakukan setiap bulan padahal kita tahu kalender yang kita gunakan sudah diterbitkan/dicetak sebelum pergantian tahun dan memuat 12 bulan, dan dalam hal ini tidak ada komplain dari MUI, NU, Muhamaddiyah ataupun Ormas lainnya mengenai tanggal 1 tiap-tiap bulannya?
Dan sepanjang hidup saya belum pernah mengalami adanya perbedaan pendapat mengenai tanggal 1 Muharam.2010/7/29 wawan wahyu <wawan.wahyu@gmail.com>
Pak Andri,Setahu saya hal itu dilakukan setiap bulan secara konsisten:
Kajian Kebolehnampakan Hilal
Salah satu daripada bidang penyelidikan Makmal Fizik Angkasa ialah Kajian Kebolehnampakan Hilal. Kajian penyelidikan ini dibuat di Baitul-Hilal Telok Kemang, Negeri Sembilan, dilakukan pada setiap akhir bulan Islam iaitu pada 29hb dengan menggunakan teleskop Meade LX200 12". Kajian ini telah dijalankan sejak tahun miladiah 2000 bermula bulan Muharram tahun hijriah 1421 hingga sekarang.
Kajian ini penting untuk dijalankan kerana hilal adalah asas dalam penetapan awal bulan dalam Kalendar Islam. Tujuan kajian ini dijalankan bagi memastikan hisab yang diguna-pakai di negara kita bertepatan dengan rukyah(kedudukan sebenar anak bulan). Selain tujuan tersebut di atas, kajian ini dijalankan adalah untuk mengumpul data-data kenampakan hilal bagi memperkemaskan lagi kriteria Imkanur-Rukyah.
Selain data bulan, kedudukan matahari terbenam, suhu, tekanan dan pembiasan dan kecerahan langit turut dicatat.
Bagaimana Penetapan Awal Bulan Islam Ditentukan?
Di Malaysia, penentuan awal bulan Islam (Qamariah) bagi tahun Hijriah berdasarkan kepada kaedah Rukyah dan Hisab. Kaedah ini digunakan terutamanya bagi menentukan 3 bulan utama Islam iaitu awal Ramadhan, awal Syawal dan awal Zulhijjah. Bagi setiap bulan yang lain dari 3 bulan utama diatas, kaedah yang sama juga digunakan terutamanya bagi tujuan pembinaan Kalendar Islam.
2010/7/29 andri subandrio <subandrio.andri@gmail.com>Pertanyaan sederhana untuk mas Wawan:
Kalau awal sya'ban tidak dengan hilal sedang akhir sya'ban dengan hilal bagaimana kita mengetahui untuk menggenapkan sya'ban menjadi 30 hari bila hilal terhalang oleh sesuatu?
2010/7/28 wawan wahyu <wawan.wahyu@gmail.com>Pertanyaan simple untuk mas Arman:Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً ، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ
"Apabila bulan telah masuk kedua puluh sembilan malam (dari bulan Sya'ban, pen). Maka janganlah kalian berpuasa hingga melihat hilal. Dan apabila mendung, sempurnakanlah bulan Sya'ban menjadi tiga puluh hari."[1]
Apabila dengan perhitungan yang akurat sudah memenuhi, sedangkan ternyata hilal tertutup awan/mendung. Apa yang kita ambil, sudah mulai puasa atau menyempurnakan 30 hari?
2010/7/28 Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>Secara umum mereka menetapkan batasan-batasan tertentu dari keduanya sehingga ditemukan jalan tengah atas polemik yang timbul dari perbedaan hisab maupun rukyat. Kelompok ini diwakili oleh banyak negara dengan penguasanya Muslim seperti halnya di Indonesia melalui Departemen Agama serta sejumlah organisasi Massa (ormas) Islam tertentu. Adapun kriteria yang ditetapkan adalah menyangkut ketinggian hilal atau bulan sabit saat pengamatan terjadi (Mathla' Hilal). Di Indonesia, ketinggian tersebut disepakati oleh Pemerintah pada ketinggian dua derajat diatas ufuk. Apabila kemudian ditemukan penampakan bulan sabit menjelang hari ketiga puluh namun posisinya masih dibawah ufuk atau belum masuk pada ketinggian dua derajat, kebiasaan yang berlaku dinegara Indonesia ini adalah hari besoknya ditetapkan sebagai hari ketiga puluh. Konsekwensinya jelas bila bulan tersebut adalah Ramadhan maka hari-hari Ramadhan digenapkan selama satu bulan penuh dan baru berhari raya sesudah usai hari ketiga puluh. Sikap pemerintah Republik Indonesia ini mendapat dukungan penuh oleh Nahdlatul Ulama yang cenderung menjadikan hisab hanya sebatas pendukung rukyat dalam pengambilan keputusan namun tidak menjadikannya acuan utama.
Adanya kombinasi hisab dan rukyat masih menurut pemikiran saya pribadi merupakan cara berpikir yang pincang serta cenderung tidak berpendirian. Hal ini tidak lain karena sikap tersebut jelas sekali menunjukkan keragu-raguan antara berpihak pada hisab yang mengandalkan kalkulasi serta teknologi canggih sesuai jaman yang berlaku ataukah mengikuti cara-cara tradisional menggunakan rukyat dengan dasar alasan perbuatan itu adalah sunnah Rasul pada jamannya meskipun tingkat akurasinya masih bisa dipermasalahkan. Penulis lebih cenderung untuk condong pada kelompok yang terakhir, yaitu menolak secara penuh pemakaian rukyat dan menggantinya dengan hisab. Dalam pandangan Islam yang saya pahami, iman adalah pembenaran yang pasti yang sesuai dengan kenyataannya disertai dengan dalil-dalil atau argumen yang pasti kebenarannya. Jadi suatu pembenaran yang tidak pasti, tidak bisa disebut iman. Pembenaran yang pasti tersebut tidak mungkin tercapai kalau masih dilandasi argumen yang masih meragukan. Baik alasannya disandarkan pada pemikiran (dalil aqli) maupun pemberitaan (dalil naqli). Apalagi al-Qur'an berkata bahwa yang kesimpulannya, kebenaran yang kita peroleh dari berita (dalil naqli) harus terlebih dahulu dibuktikan secara akal. Artinya, sumber yang memberitakannya harus kita yakini kebenarannya secara akal. Dalam perkara keimanan, Islam melarang seorang muslim bertaklid atau hanya ikut-ikutan. Pembenaran yang pasti dari seorang muslim tidak mungkin dicapai hanya dengan ikut-ikutan, tanpa memahami permasalahan yang sebenarnya. Kaum muslimin dilarang mengikuti keyakinan-keyakinan pendahulu mereka yang bertentangan dengan Islam, lebih-lebih al-Qur'an dan pemikiran.
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, `Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah', mereka menjawab: `(Tidak), tetapi kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'. Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka tidak mengikuti suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. Al-Baqarah (2) :170)
Iman adalah masalah pokok dan paling dasar dalam agama Islam. Bagi peradaban Islam, keimanan ibarat tiang-tiang pondasi bangunan. Karena itu, hal yang fundamen ini tidak boleh diputuskan tanpa proses berpikir yang jernih. Kita mesti mempertimbangkan mana yang layak diimani dan mana yang mesti ditolak. Dengan kata lain, apakah suatu hal itu secara akal bisa dibenarkan atau tidak, khususnya dalam perkara-perkara yang bisa dan mungkin dijangkau oleh akal. Sebab jika salah dalam menentukan keputusan tentang hal ini, berarti hal lain yang terlahir dari keyakinan tersebut juga salah. Oleh sebab itu, keimanan dalam Islam harus dicapai dengan pemikiran yang jernih (fikrul-mustanir), dengan memperhatikan segala aspek yang bisa kita saksikan (baik alam semesta, manusia maupun kehidupan) secara menyeluruh dan mendalam. Sehingga keputusannyapun merupakan keputusan yang jernih. Disamping itu, jika masalah keimanan, yang asasi ini, diraih tanpa pemikiran yang jernih, keyakinan yang diperoleh pun merupakan keyakinan yang goyah dan lemah, sehingga mudah terombang-ambing serta tidak akan berbekas dan memotivasi kita untuk berbuat dalam kehidupan.
Banyak orang menyebutkan hadis-hadis yang berbicara tentang keutamaan akal sebagai lemah atau juga palsu oleh sebab dan faktor tertentu yang berkaitan dengan jalur periwayatannya yang dianggap tidak sesuai atau masuk kedalam klasifikasi jalur terpercaya para perawi hadis (misalnya Syaikh Nasiruddin Al Al-Bani, Al-Imam As-Suyuthi, Ibnu Hajar Al-'Asqalani, Al-'Allamah Muhammad bin Thahir Al-Hindi serta Adz-Dzahabi). Akan tetapi satu hal yang tidak bisa dipungkiri dan dibatalkan oleh siapapun yang ingin benar-benar memegang asas kebenaran ilahiah adalah Islam ini berdiri kokoh diatas bangunan rasionalitas akal yang tinggi. Bahwa pernyataan-pernyataan tentang keutamaan akal diatas segalanya dalam hal beragama dengan tegas dinyatakan oleh Allah sendiri dibanyak bagian firman-Nya dalam al-Qur'anul karim.
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS AZ-Zumar (39) : 9)
Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (QS AR-Ra'd (13) :19)
Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS Yuunus (10) :100
Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS Ali Imran (3) :190)
Pengetahuan atau ilmu sebagai relasi berpikir merupakan realitas yang tidak dielakan dalam diri manusia artinya manusia yang berbeda dengan mahkluk yang lain dan memiliki pengetahuan yang kreatif dan ilmiah. Ketika wahyu pertama turun kepada Rasulullah, ayat pertama yang diserukan adalah IQRA. Dalam arti yang sangat sederhana, yaitu bangkitkan akalmu, bacalah lingkunganmu, bacalah duniamu, bacalah alam semesta ini, bangunlah dari semedi-tapa kegundahan hatimu, beraksilah. Ini makna hakiki dari IQRA !
Jadi sebelum kita diperintah untuk membaca yang tersurat atau berilmu tekstualitas, kita diseru dulu untuk membaca struktur dari ilmu tekstual itu yang terbangun kokoh diatas landasan kesadaran kontekstual. Dalam bahasa lebih sederhana, perintah IQRA merupakan suatu perintah membaca ayat-ayat kauniah-Nya demi membangunkan kesadaran intelektualitas yang diaktifkan melalui panca indera dalam membaca ayat kauliyah yang diturunkan Allah didalam al-Qur'an. Ini sebuah isyarat yang -sekali lagi- tidak bisa dipungkiri siapapun tentang utamanya nilai-nilai rasionalitas ilmu atau ilmu yang berakal dalam bangunan akidah Islamiah sejak pertama ia dilahirkan. Dengan demikian yang ditanamkan pada jiwa kita oleh al-Qur'an bukan ilmu fisika, bukan ilmu biologi, sejarah atau tata bahasa, tetapi ilmu untuk menjadikan manusia mau berpikir (afala tatafakkarun), berakal (afala ta'qilun) dan meneliti (afala tandzurun) terhadap apa-apa yang terjadi pada alam semesta sehingga menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan sehingga sebagai konseksuensinya secara defakto ilmu adalah hasil kerja dari akal.
Jika kita kembalikan kepada konteks al-Qur'an sebagai otoritas tertinggi dalam hukum Islam, apa yang menjadi perselisihan menyangkut ru'yat dan hisab dalam penentuan bulan barunya, kita akan menemukan banyak perintah buat kita agar mau belajar dan terus berpikir agar tercapai kemaslahatan ditengah manusia dan umat dalam kerangka ibadah kepada Allah. Artinya al-Qur'an tidak menganjurkan umatnya agar bersifat statis dan dogmatis tetapi dinamis dan kreatif, Allah ingin agar kita cerdas dalam segala hal sesuai batas-batas kemampuan yang bisa kita lakukan. Tidak dapat dipungkiri bila dalam proses penghisaban hilal, ada banyak metode yang digunakan. Diantaranya, Hisab Urfi, Hisab Taqribi, Hisab Haqiqi, Hisab Haqiqi Tahqiqi dan Hisab Kontemporer. Perbedaan diantara semua metode hisab ini terletak pada akurasi hasil akhirnya akibat perbedaan penggunaan rumus-rumus perhitungan dalam hal ketinggian hilal dari batas ufuk. Metode hisab kontemporer atau disebut juga hisab modern sudah menggunakan alat bantu komputer melalui bahasa-bahasa pemrograman terkini yang diintegrasikan dengan algoritma terperinci berdasar keadaan yang sebenarnya yang diperoleh melalui hasil pencitraan satelit.
Beberapa contoh aplikasi komputer yang sudah dibuat untuk hal ini dengan tingkat ketelitian hasil yang tinggi dan cenderung akurat (High Accuracy Algorithm) adalah Virtual Moon Atlas, Jean Meeus, VSOP87, ELP2000 Chapront-Touse, Almanac Nautica, Accurate Times, Mooncalc, Starrynight Pro, Winhisab, Mawaqit, Hallo Northern Sky, Lunar Calendar & Eclipse Finder, Lunar Atlas, LunarPhase, dan seterusnya.
Saya tidak menyarankan penggabungan rukyat bil fi'li dengan rukyat bil 'ilmi, karena sekali lagi kita sampaikan metode ini hanya akan menghasilkan kerancuan dan perpecahan. Kita sebaiknya beralih secara total pada rukyat bil'ilmi. Memang ada berbagai macam cara di berbagai negara dewasa ini untuk menentukan bulan baru melalui metode hisab atau rukyat bil 'ilmu. Mulai dari penghitungan umur, ketinggian, atau perbedaan matahari terbenam dan bulan terbenam, hasil kalkulasi, dan seterusnya . Akan tetapi semua perbedaan yang ada tersebut pada dasarnya bisa diselesaikan dengan mengembalikan konsep awal dari ijtimak atau konjungsi bulan itu sendiri dan bukan berdasar kriteria insaniah kita yang serba terbatas. Artinya perbedaan ini harusnya tunduk pada kaidah ilmu-ilmu Astronomi sebab anatara ia dan Islam harusnya memang tidak ada pemisahan. Islam sekali lagi bukan penghambat ilmu pengetahuan (termasuk Astronomi) dan Islam bukan pula bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Sehingga tidak lagi jadi persoalan apakah usia hilal baru beberapa menit, ketinggian bulan yang harus mencapai dua derajat kapan terjadinya konjungsi dan seterusnya. Bagaimanapun, ketika terjadi pergeseran antara kedudukan matahari dan bulan sehingga terbentuk hilal (sabit) tidak mungkin bisa mundur kembali yang membuat kita harus menunggu sekian jam demi memastikannya. Apabila bulan sudah masuk pada Ijtimak atau konjungsi pada nol derajat maka artinya setelah hal tersebut terjadi merupakan awal dari Bulan baru, itulah fakta kebenarannya. Pada fase sesudah konjungsi sudah pasti hilal atau sabit bulan terbentuk dan sabit bulan tersebut tidak harus dapat dilihat dengan mata telanjang, karena kemampuan mata pastilah sangat terbatas. Kita bisa melihat sabit bulan tersebut melalui ilmu pengetahuan, melalui proses hisab komputer, melalui proses pencitraan satelit dan sejenisnya. Ketinggian minimal untuk bisa melihat hilal dengan mata telanjang (tanpa alat bantu) adalah 4 derajat diatas ufuk (dengan catatan bila beda azimut bulan dan matahari saat itu sudah lebih dari 45 derajat tapi bila beda azimutnya 0 derajat maka perlu ketinggian minimal 10,5 derajat). Disinilah kita memulai memainkan rasionalitas terhadap paradigma berpikir kita yang selama ini cenderung kaku dan membatu.
Terjadinya siang dan malam telah menyebabkan adanya perbedaan waktu di permukaan Bumi kita ini. Dengan adanya pergerakan bumi dari utara keselatan dalam garis ekliptiknya maka terjadi juga pergantian siang dan malam sehingga matahari terlihat seolah terbit ditimur dan terbenam dibarat, padahal matahari tidak pernah terbit maupun terbenam. Manusia membuat persepsi yang demikian disesuaikan dengan cara pandang yang mereka hadapi dan bukan berdasar kenyataan yang sebenarnya. Oleh karena itu pula dibeberapa tempat dalam al-Qur'an, ayat-ayatnya juga ditulis atau diwahyukan oleh Allah dengan mengikuti persepsi dan pandangan mata manusia. Misalnya disebutkan bila bumi ini bagai hamparan (Surah An-Naazi'aat ayat 30, Al-Ghasyiyah ayat 20) atau kemudian dalam kisah Dzulkarnain pada Surah Al-Kahfi ayat 86 dinyatakan matahari terbenam diair yang hitam).
Harian Kompas Online pernah memuat satu berita yang semestinya menjadi pukulan telak bagi umat Islam sedunia (Baca: Posisi bulan di Yosemite, http://www.kompas.com/teknologi/news/0509/13/191718.htm dan http://www.kompas.com/teknologi/news/0508/23/142213.htm). Berita itu menyangkut penyelidikan para Astronom Southwest Texas State University dibawah pimpinan Donald Olson, seorang profesor fisika dan astronomi --yang dikenal karena reputasi mereka dalam menelisik waktu dan tempat suatu peristiwa dalam foto atau lukisan— yang telah berhasil menentukan waktu pasti kapan fotografer Ansel Adams mengambil foto terkenal yang berjudul "Autumn Moon". Hasil ini dicapai setelah mereka mempelajari fase peredaran Bulan, menyelidiki sejarah fotonya, memanfaatkan program komputer khusus, dan melakukan perhitungan terhadap sudut-sudut bayangan. Hasil penyelidikan ini dilaporkan dalam situs majalah Astronomi Amerika Serikat bernama "Sky et Telescope" (www.skyandtelescope.com).
Saat membaca artikel tersebut, saya hanya bisa tersenyum kecut. Kita sebagai umat Islam masih terus menerus sibuk bersilang pendapat mengenai baju mana yang mau dipakai untuk berjalan, hisab atau rukyat, nun jauh dibelahan bumi lain, orang-orang malah sudah tiba ditujuan dan sudah bersiap pula untuk meneruskan ketujuan berikutnya. Semoga Allah mengampuni sikap kita ini.
2010/7/28 wawan wahyu <wawan.wahyu@gmail.com>Pendapat pribadi, menggunakan metode hisab, apalagi dengan bantuan teknologi astronomi yang cukup bagus, hukumnya boleh. Silakan saja. Namun, perlu diingat bahwa hisab bukan alat utama untuk menentukan awal dan akhir dari umur bulan hijriah. Tapi tugasnya adalah untuk mendukung rukyat. Misalnya untuk menentukan kapan dimulai melihat hilal bulan baru. Ini penting agar jangan sampai baru tanggal 28 sudah melihat hilal. Karena sudah pasti tidak ketemu, karena yang dilakukannya itu adalah rukyatul qomar alias melihat bulan. Maka, pengerjaan hisab pun, akhirnya memang harus dilakukan oleh ahli rukyat yang handal dan mumpuni di bidangnya supaya antara hisab dan rukyat itu saling mendukung.MUI sudah menggunakan alat-alat yang canggih dan ahli dalam bidang Ru'yah dan Hisab. Jadi hasilnya lebih akurat, jadi mengapa kita tidak mengikutinya?2010/7/28 whe - en <whe.en9999@gmail.com>
Mas wawan,bukankah yang jadi masalah adalah : sudah ada MUI yang diberi wewenang oleh pemerintah menentukan awal dan akhir puasa, namun pada menentukan sendiri sendiri karena tidak puas dengan cara MUI (Majelis Islamic Center) memilih metodenya salah satunya, salah lainnya apa ya? :-)yang jelas ada saja reasonnyahehehehehjangan dianggap serius mas wawan,tapi pendapat mas wawan soal ini silahkan dishare jika tidak keberatan :-)
saya tunggu yach
On 7/28/10, wawan wahyu <wawan.wahyu@gmail.com> wrote:Terjadi Perselisihan Awal Ramadhan Hari Raya Iedul Fithri Dan 'Iedul Adha, Bagaiaman Menyatukannya ?Kesimpulannya.Permasalahan yang ditanyakan masuk ke dalam wilayah ijtihad. Oleh karenanya, para ulama -baik yang terdahulu maupun yang sekarang- telah berselisih. Dan tidak mengapa, bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal pada malam ketiga puluh untuk mengambil hilal yang bukan mathla mereka, jika kiranya mereka benar-benar telah melihatnya.
Jika sesama mereka berselisih juga, maka hendaklah mereka mengambil keputusan pemerintah negaranya –jika seandainya pemerintah mereka Muslim. Karena, keputusannya dengan mengambil salah satu dari dua pendapat, akan mengangkat perselisihan. Dalam hal ini umat wajib mengamalkannya. Dan jika pemerintahannya tidak muslim, maka mereka mengambil pendapat Majlis Islamic Center yanga ada di Negara mereka, untuk menjaga persatuan dalam berpuasa Ramadhan dan shalat 'Ied.
Semoga Allah memberi taufiq, dan semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi, keluarga dan para sahabatnya.
Tertanda
Wakil Ketua : Abdur Razzaq Afifi
Anngota ; Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Mani
[Fatawa Ramadhan 1/117]
2010/7/28 andri subandrio <subandrio.andri@gmail.com>==========
Itulah mas Armansyah, saya juga gak habis pikir seharusnya kalau mau konsisten kan harus di ru'yat adalah setiap pergantian bulan, tapi kenapa kita baru ribut kalau menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri sedangkan bulan-bulan lainnya diserahkan kepada Hisab? Perilaku yang aneh menurut saya!
2010/7/28 Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=---
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
Salamun 'ala manittaba al Huda
ARMANSYAH
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=---
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=---
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=---
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment