Thursday, January 13, 2011

[Milis_Iqra] Dari millis tetangga

 Terlalu asyik ber-gugur gunung bersama penduduk memperbaiki

jembatan, Kiai Muhammad, tampaknya, lupa untuk segera bersalat lohor. Ketika

sadar, bergegas ia pergi ke mesjid. Asar sudah menjelang. Ia sudah pergi ke

sumur. Ketika tengah memegang tali timba, tampak olehnya seeekor semut terkatung-katung

di permukaan air.

Kiai Muhammad menhahan tangannya. Amat perlahan ia mencoba menggeser

letak timba agar mendekati semut. Ia melakukannya dengan hati-hati, sebab ia

akan dihinggapi oleh rasa dosa kalau karena kegagalannya menolong, sang semut

akan lenyap di sumur.

Alhamdulillah ia berhasil. Semut itu telah berada di air dalam timba.

Tetapi begitu Kiai Muhammad hendak menggerakkan tangannya untuk menaikkan

timba, terdengar suara azan dari corong mesjid.

Kiai Muhammad menarik napas panjang. Lebih besar manakah dosa tak

salat lohor dibanding dengan "jasa" menyelamatkan seekor semut? Kiai

Muhammad menaikkan timba. Dan sesudah meletakkan kembali tubuh semut di tanah,

ia berwudu dan berangkat salat. "Allah, hukumlah kelalaianku sehingga

kehilangan waktu lohor yang Kau anugerahkan," ia berkata dalam doanya.

"Adapun mengenai semut itu, serta segala hal yang mungkin baik yang pernah

kukerjakan, rasanya belum pantas untuk kujadikan alasan memohon pahala

dari-Mu..."

Pada malam hari, Kiai Muhammad menceritakan peristiwa itu kepada para

santrinya. "Jangan menjadi cengeng atau sombong oleh cerita remeh

ini," katanya. "Jangan pernah menganggap bahwa aku telah sedemikian

berjasa terhadap kehidupan semut itu sehingga Tuhan itu digampangkan dengan

menganggap bahwa Ia pasti mengampuni kelalaian lohorku, meski jelas bahwa Tuhan

tidaklah cerewet."

Pada lain waktu, Kiai Muhammad mengemukakan, peristiwa saat ia

menolong semut itu adalah pertemuan rahasia antara nasib manusia dengan

keagungan Allah yang tak terduga. Itu adalah momentum eksistensial manusia di

hadapan Khaliknya. Itu adalah titik persilangan antara jalan syariat dan

lorong hakikat. Semacam perbenturan yang mengasyikkan antara tata krama

keagamaan dan inti konsep perniagaan dengan Allah dan di dalam Allah.

Mengapa pertemuanrahasia? Karena setiap saat Allah hadir menjenguk

kita dan aktif mengelola urusan-urusan tertentu dari nasib kita, sejauh tidak

melanggar batas kemerdekaan yang sudah Ia jatahkan bagi manusia. Kehadiran

Allah dalam ruang dan waktu hanya bisa dirasakan dan dimengerti oleh manusia

yangrajin mempelajari metode-Nya, pola komunikasi-Nya, idiom-idiom-Nya: Allah

memiliki dan menjalankan tradisi-Nya sendiri. Sunnatullah namanya.

Tetapi Allah tidak mempunyai kebutuhan, laba atau rugi atas bersedia

atau tidaknya manusia mengenali kemesraan cinta-Nya. Bahkan jika manusia

menyelewengkan waktu dan ruang kemerdekaan yang Ia berikan. Ia tetap pada

ada-Nya, tak menangis dan tak tertawa. Allah tidak berduka oleh fasisme

politik, tidak terluka hati-Nya oleh dehumanisasi, dan tidak stressed

oleh sikap abai peradaban manusia kepada-Nya.

Oleh karena itu, Allah bukanlah the oppressed yang perlu

dibela. Kalau Kiai Muhammad tidak sembahyang lohor, kita tidak berhak memarahi

atau membencinya--dengan landasan bahwa kita sedang membela hukum Allah. Kiai

Muhammad sudah cukup tua untuk sanggup mengkalkulasi timbangan perniagaan

pribadinya dengan Allah dan Allah sendiri sudah menyediakan lembaga peradilan

atas dosa pahala manusia, sehingga tidak perlu diambil alih oleh peradilan

budaya keagamaan manusia.

Terkadang ada baiknya mengurangi penggunaan tenaga menjadi satpam

fiqih dengan menggunakannya untuk meriset apakah seekor semut pada suatu

hari mewakili kehadiran Allah di hadapan kita. Kalau kesadaran rohani Kiai Muhammad

baru sampai pada taraf ana insan atau "aku manusia", maka

semut itu tidak akan tampak oleh mata perhatiannya karena terlalu disibukkan

oleh ego eksistensinya sebagai seseorang.

Kalau dia berada pada tahap ana 'abdullah atau "aku hamba

Allah", nasib semut itu akan dilewatinya saja karena ia membela jumlah

kepatuhannya kepada Allah. Tetapi karena Kiai Muhammad telah memakai alas kaki khalifatullah,

ia bersikap demokratis pada seluruh anggota alam, seluruh hamba Allah: sesama

manusia, tanah, hasil tambang, kayu Kalimantan, gunung-gunung, cengkih, minyak

bumi, dan seekor semut.

Seorang khalifatullah menerjemahkan komitmen sosial di dalam

perspektif kosmis, tak sekadar terbatas pada dunia kehidupan manusia, dengan

bagian-bagian alam yang lain hanyalah instrumen bagi kesejahteraannya. Sebuah

generasi yang mewariskan malapetaka sosial ekonomi dan bencana ekologi kepada

anak cucunya adalah generasi rohani kelas tiga yang mabuk di atas singgasana

"aku manisai" --suatu kesadaran sekular.

Jike generasi macam itu menggenggam agama, maka yang terjadi adalah

seperti yang dipuisikan oleh Sunan PAnggung sekian abad yang lalu: Orang

yang tak mengetuk pintu rahasia / Hanyalah terbelenggu oleh tata krama /

Sembahyang sunnah dan fardu tak pernah tertinggal / Untuk menutupi kelalaiannya

terhadap tetangganya yang lapar / ... Sepedati penuh kertasnya / Yang

dibicarakan hanya masalah halal haram ...

Orang-orang beriman kini makin diuji untuk menentukan apakah

mereka lebih memilih "menghimpun pahala pribadi" ataukah

"menyumbangkan diri bagi proses-proses sosial". Hal yang kedua itu

bisa merisikokan berkurangnya peluang yang pertama. Kalau sewaktu berangkat ke

mesjid untuk salat Jumat tiba-tiba Anda jumpai di jalan seseorang tertabrak

motor--padahal suara iqamah sudah terdengar dari corong mesjid--apa yang

akan Anda lakukan?

Momentum dan konteks seperti itu terjumpai di berbagai bidang

kehidupan. Dan di dalam skala yang besar, Rabiah al Adawiyah memilih

sikap ini: "Ya Tuhan, jadikan tubuhku membesar sehingga memenuhi neraka, sehingga

tidak tersedia lagi tempat di neraka itu bagi hamba-hamba-Mu..."

Metode duniawi untuk menghindarkan orang-orang dari api neraka ialah

dengan menggabungkan diri ke dalam usaha-usaha penyelenggaraan tata sosial

ekonomi, tata politik, hukum, dan kebudayaan, yang membuat orang tak

"terpaksa" mencuri, tidak "terkondisi" untuk korupsi,

menindas, berzina, membunuh, menuduh komunis, menyelenggarakan judi

kedermawanan, dan memelihara gundik.

Usaha kekhalifahan semacam itu sama sekali tidak menjadi sia-sia meski

sejarah tidak pernah mencatat bahwa hal itu berhasil terwujud.

Kalau seorang direktur perusahaan tahu bahwa lima juta rupiah gajinya

setiap bulan tidak seluruhnya merupakan hak miliknya, sehingga sebagian gaji

itu diserahkan kepada kaum miskin yang menghakinya, pasti itu bukan jaminan

bahwa kemiskinan akan lenyap dari muka bumi. Tetapi ia dengan demikian telah

menjalankan kerangka duniawi-ukhrawi perniagaan dengan dan di dalam

Allah.

Ia telah lebih dari tingkat insan dan abdullah: ia Khalifatullah.

(Yogya, 18 Februari 1989)

("Slilit Sang Kiai", Emha Ainun Nadjib. Pustaka

Utama Grafiti. 199


Sent from BlackBerry® on 3

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment