> Silakan fikirkan contoh yang saya berikan ... Kakek saya tentu mendapatkan
> informasi itu dari ayahnya, atau kakeknya juga, begitu juga kakeknya, dan
> seterusnya meskipun yang ini saya tidak tahu ujungnya ke siapa.
>
> Sebagai bahan pemikiran, ada suatu game management ttg komunikasi. Game
> tersebut dimainkan oleh sejumlah orang yang mana orang pertama akan
> diberikan suatu informasi lisan yang harus diteruskan ke orang keduan
> kemudian orang kedua harus menyampaikannya ke orang ketiga. Orang ketiga ke
> orang keempat dan seterusnya sampai ke orang terakhir. Di akhir akan di cek
> lagi apakah informasi yang diterima sama dengan informasi yang disampaikan
> ke orang pertama?
>
Mas Awung, memang kalau ada kabar dari saya, saya mendapatnya dari
ayah saya, ayah saya mendapat dari kakek saya, kakek saya
menceritakan, "Buyut saya berkata... bla bla" kita tidak serta merta
harus mempercayainya.
Bagaimana anda mempercayai cerita saya itu? Pertama cek kredibilitas
para rawi (rantai informasi), yaitu: apakah saya orang yang jujur dan
terkenal tdk pernah berbohong? dan selanjutnya untuk orang-orang
lainnya. Kedua, hafalan, Apakah saya jujur tapi ingatannya lemah,
sering salah atau tidak meyakinkan ketika menyebutkan cerita? dan
selanjutnya untuk orang yang lain. Ketiga, ketersambungan, apakah
dalam sejarahnya saya pernah bertemu dengan ayah saya (jangan-jangan
ayah saya meninggal ketika saya masih kecil). Dan selanjutnya.
Dengan begitu dapat dinilai secara ilmiah, apakah suatu hadits
sanadnya baik atau tidak. Ini secara umumnya saja, persyaratan lainnya
masih banyak. Yang mempelajarinya adalah ulama hadits dan ilmunya pun
terbuka, bisa dicari, dipelajari dan didiskusikan.
Bisa dilihat kan bedanya dengan dongeng ala yunani, legenda para
leluhur atau bahkan kitab Bible?
Jika kita tidak mempercayai metode ini, maka kita tidak berhak
mempercayai mayoritas bahan-bahan sejarah, kesaksian manusia di
pengadilan, buku-buku dan lainnya.
Jika kita menggunakan logika semata, maka kita bisa mempercayai suatu
pernyataan sebagai logis atau tidak, namun hanya jatuh pada
kemungkinan benar terjadi. Pernyataan si A logis oleh karena itu
mungkin terjadi. Tapi anda kan tidak mungkin mengatakan, si A berkata
logis, dan itu pasti terjadi.
Kaidah ilmu mengatakan, "Al Khabar yahtamil al shidqa wal kadzib,
idzan al ra`yu yahtamil al shawab wal khata" Suatu kabar itu
mengandung kejujuran atau kedustaan (oleh karena itu yang dicek adalah
kejujuran atau kedustaannya) sedangkan buah pikiran itu mengandung
kebenaran dan kesalahan (oleh karena itu yang dicek adalah benar atau
kelirunya). Al Quran dan Hadits adalah khabar, sehingga mula-mula
dicek rantai transmisi pembawa berita tsb.
Jika kita konsisten dengan penolakan terhadap kaidah ini, maka kita
juga tidak akan mempercayai satupun ayat al Quran, karena al Quran
juga datang kepada generasi setelah Nabi dengan jalan periwayatan,
kemudian ke generasi berikutnya dan berikutnya sampai ke kita.
Darimana anda yakin kalau kitab AL Quran yang anda pegang benar-benar
wahyu dari Allah? Jawabnya dari riwayat yang shahih.
Hanya saja, Al Quran, selain sanadnya shahih, jumlah riwayatnya juga
sampai ke tingkat mutawatir sehingga sangat kuat tingkat keyakinannya,
dan mustahil kebohongannya. Sanadnya sudah pasti benar sehingga tidak
perlu dicari benar salahnya. Tinggal dicari bagaimana memahaminya.
Ujung-ujungnya al Quran datangnya dari lisan Nabi seorang, di masa itu
orang beriman bahwa Al Quran benar wahyu dari Allah swt karena mereka
melihat sosok Muhammad si penyampai berita adalah sosok yang sangat
bersih dan jujur. Bayangkan kalau kita tidak menggunakan metode
mengecek kredibilitas penyampai berita, kita tidak akan mengimani AL
Quran datangnya dari Allah. Paling banter kita akan mengatakan, "oo
yang dikatakan Muhammad adalah logis, oleh karena itu benar, tapi
beliau belum tentu Nabi, bisa saja beliau seorang ilmuan yang pintar."
Paling banter logika hanya sampai ke kesimpulan berita yang dibawa
Nabi logis, sehingga mungkin, bukan karena logis sehingga pasti.
Mudah-mudahan menjelaskan dari sisi perspektif ilmu hadis Mas.
On 1/24/11, awungb@gmail.com <awungb@gmail.com> wrote:
> Om Priyo,
>
> "Pasti akan ditanya balik, bertentangan dengan ketetapan Allah yang mana?
> Atau ketetapan logika anda sendiri? Siapa sih anda?"
>
> Kalau anda bertanya siapa saya, saya bukan siapa2, saya orang yang sedang
> belajar untuk memaknai Islam sebagai DIIN. Sebagai seorang yang sedang
> belajar saya berusaha untuk terbuka terhadap segala informasi, namun ada
> filter yang mesti digunakan yaitu 25/73, yang mana ayat ini menyuruh untuk
> kritis bahkan terhadap ayat2 Allah sekalipun kita harus kritis. Dan juga
> 2/185 alQuran berfungsi sebagai barometer kebenaran, jadi informasi apapun
> ya harus di cross check dengan alQuran, karena alQuran adalah petunjuk yang
> terperinci 6/114 dan 11/1.
>
> Tentang logika yang saya pakai tentu saya menggunakan logika saya sendiri,
> karena saya tidak bisa mengendalikan logika orang lain. Bukankah banyak ayat
> alQuran dengan redaksi "afala ya'qilun" yg menurut terjemahan berarti apakah
> kamu tidak menggunakan akalmu, tentu disini yg dimaksud akal/logika masing2,
> yang nanti kebenarannya dibandingkan dengan sang furqon.
>
> " ... terserahlan kalau memang sudah mengambil sikap "mengkritisi hadits"
> atau "mencukupkan diri dengan lafal-lafal Al Quran" atau mau disebut dengan
> bagaimana pun..."
> seperti saya jelaskan di atas saya tidak hanya mengkritisi hadis kan
> perintahNya semua hal harus dikritisi bahkan ayat alQuran sekalipun.
>
> "Tapi ijinkan untuk meluruskan pemahaman mas Awung tentang hadits sahih,..."
>
> Terimakasih atas penjelasannya, akan saya fikirkan.
>
> "Dalam kasus hadis sahih, bukan hanya Imam Bukharinya saja yang jujur tapi
> guru beliau, gurunya guru beliau dan seterusnya sampai ke sahabat perawi
> utama sampai ke Rasulullah, dan keteesambungannya bisa dibuktikan, jadi itu
> adalah ucapan Rasulullah..."
> Silakan fikirkan contoh yang saya berikan ... Kakek saya tentu mendapatkan
> informasi itu dari ayahnya, atau kakeknya juga, begitu juga kakeknya, dan
> seterusnya meskipun yang ini saya tidak tahu ujungnya ke siapa.
>
> Sebagai bahan pemikiran, ada suatu game management ttg komunikasi. Game
> tersebut dimainkan oleh sejumlah orang yang mana orang pertama akan
> diberikan suatu informasi lisan yang harus diteruskan ke orang keduan
> kemudian orang kedua harus menyampaikannya ke orang ketiga. Orang ketiga ke
> orang keempat dan seterusnya sampai ke orang terakhir. Di akhir akan di cek
> lagi apakah informasi yang diterima sama dengan informasi yang disampaikan
> ke orang pertama?
>
> Saya juga teringat suatu ujaran orang bijak atau hadits (saya lupa): "kalau
> anda mengirim barang/uang jangan berharap akan bertambah, kalau anda
> mengirim pesan jangan berharap akan berkurang"
>
> Om Priyo,
> Ini semua saya sampaikan sebagai bahan pemikiran, sama sekali tidak
> bermaksud untuk mendeskreditkan siapapun. Kalau anda menangkap maksud saya,
> saya sama sekali tidak anti hadits karena sebagai seorang yang sedang
> belajar sudah selayaknya membuka fikiran seluas2nya.
>
> Mmhon maaf, kepada siapapun, kalau tidak berkenan.
>
> Salam,
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: priyo djatmiko <priyodjatmiko@gmail.com>
> Sender: milis_iqra@googlegroups.com
> Date: Mon, 24 Jan 2011 06:18:26
> To: <milis_iqra@googlegroups.com>
> Reply-To: milis_iqra@googlegroups.com
> Subject: Re: [Milis_Iqra] Berani Bermain Air Harus Berani Basah
>
> Mas Awung dan yang sepaham dengan beliau,
>
> Saya pikir sudah jelas maksud anda, terserahlan kalau memang sudah mengambil
> sikap "mengkritisi hadits" atau "mencukupkan diri dengan lafal-lafal Al
> Quran" atau mau disebut dengan bagaimana pun. Itu akan menjadi
> pertanggungjawaban kita masing-masing.
>
> Tapi ijinkan untuk meluruskan pemahaman mas Awung tentang hadits sahih, yang
> kata mas Awung *"Anda boleh saja membela bahwa maksudnya tidak seperti itu
> karena hadits tersebut shoheh, sanadnya baik, dan sebagainya, tetapi saya
> juga punya hak untuk berpendapat. Sesuatu yang salah tidak akan berubah
> menjadi benar walaupun yang mengucapkannya orang yang jujur atau orang baik.
> Sebagai contoh .... (dst)"*
>
> Kalau anda tidak memahami hakikat sesuatu, bagaimana mau
> menilai/mengkritisinya? Pantaslah apa yang dikritisi tidak nyambung dengan
> argumennya, maunya mengkritisi hadis yang dianggap bertentangan dengan
> logika al Quran ternyata hanya bertentangan dengan logika manusia, itupun
> logika seorang fulan belaka.
>
> Kriteria hadis sahih sanadnya itu selain orangnya jujur, harus ada
> ketersambungan sanad sampai ke Rasulullah dan hafalannya baik.
>
> Quote Mas Awung *"Sesuatu yang salah tidak akan berubah menjadi benar
> walaupun yang mengucapkannya orang yang jujur atau orang baik"*
>
> Dalam kasus hadis sahih, bukan hanya Imam Bukharinya saja yang jujur tapi
> guru beliau, gurunya guru beliau dan seterusnya sampai ke sahabat perawi
> utama sampai ke Rasulullah, dan keteesambungannya bisa dibuktikan, jadi itu
> adalah ucapan Rasulullah. Tidak terbayang ada seorang yang beriman kepada
> Allah dan Hari Akhir, ketika Rasulullah bersabda, dipotong dengan ucapan
> "Maaf, *tidak logis karena tidak sesuai dengan ketetapan Allah sendiri yaitu
> hukum sebab akibat"*
>
> Pasti akan ditanya balik, bertentangan dengan ketetapan Allah yang mana?
> Atau ketetapan logika anda sendiri? Siapa sih anda?
>
>
>
>
> 2011/1/23 awung awungs@gmail.com
>
>>
>> Om Dani dan yang lainnya yang sefaham, ada perbedaan cara pandang kita
>> dalam menilai persoalan ini. Awalnya saya mengajak mbak WN untuk
>> mengkritisi
>> karena kelihatannya ada pertentangan antara hadits yang dikutip dengan
>> alQuran 66/8. Cara pandang saya langsung ke substansinya. Subtansi hadits
>> yang dikutip: kalau seseorang sakit/menderita maka Allah akan menghapus
>> sebagian kesalahannya. Ini kan secara logika tidak logis karena tidak
>> sesuai
>> dengan ketetapan Allah sendiri yaitu hukum sebab akibat. Anda boleh saja
>> membela bahwa maksudnya tidak seperti itu karena hadits tersebut shoheh,
>> sanadnya baik, dan sebagainya, tetapi saya juga punya hak untuk
>> berpendapat.
>> Sesuatu yang salah tidak akan berubah menjadi benar walaupun yang
>> mengucapkannya orang yang jujur atau orang baik. Sebagai contoh: dulu
>> waktu
>> saya kecil saat terjadi gerhana bulan saya diksih penjelasan oleh kakek
>> saya
>> itu karena dimakan oleh raksasa hijau. Ya saya percaya karena yang
>> mengucapkan kakek saya, tetapi dengan berkembangnya pengetahuan yang saya
>> miliki ya pendapat itu harus gugur.
>>
>>
>> Saya fikir kita cukupkan sampai disini saja diskusi tentang hal ini karena
>> sudah jelas pandangan kita masing2, kita kembalikan saja kepada Allah
>> sesuai
>> dengan 40/10: "*Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih maka putusannya
>> (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah
>> Allah
>> Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya lah aku kembali."*
>>
>> *
>> *
>>
>> Salam,
>>
>>
>>
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment