[Dani Permana] Saya tidak bertanya definisi hadist sahih M WN, coba disimak baik-baik pertanyaan saya diatas. Jika jawabannya seperti diatas, maka saya akan bertanya kepada M WN nantinya, dan berikut adalah pertanyaan Pertama
(whe~en)
makanya dibaca lengkap dulu
lihat tulisan berikutnya
Kalau pertanyaannya kenapa tidak ada, bagaimana saya harus menjawabnya karena yang tahu pasti yang menyusun kitab, apalagi ternyata definisi hadits shahih tidak ada kalimat harus ada dalam Musnad Ahmad, Ibnu 'Abi Ashim dalam As Sunnan, Ibnu 'Ady dalam Al Kamil,Imam Bukhori, Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa'I, Al Muwatha Imam Malik, Al Um Imam Asy Syafi'I, Sunan Ad Darimi.
(dani)
Poin No#2, Harus bersammbung Sanadnya : Hadist "Iyadl bin ghanim" tentang cara menasahati pemimpin bukannya SANDANYA terputus? Mohon kiranya menjelaskan jika tidak terputus?
whe~en
Sudah ada di artikel yang 26 halaman yang saya kirim kalau dibaca
Disitu diterangkan tidak terputusnya kenapa
(Dani)
Jika hadist tentang "Iyadl bin ghanim" adalah hadist yang tidak dipermasalahkan dari segi sanadnya, sudah mungkin Imam Bukhori memasukan haidts tersebut dalam kitab sahihnya setelah melakukan Istikharah. Sedangkan Istikharah bermakna memohon petunjuk Allah atas keragu-raguan dan pilihan
(whe~en)
itu kan kata mas Dani
lihat ini
Al Imam Al Hafidz Abul Hasan `Ali bin `Umar Ad-Daruquthni rahiamhullahu ta'ala dan beberapa ulama lain telah memastikan bahwa Al Bukhari dan Muslim telah meninggalkan (tidak mencantumkan) beberapa hadits yang sebenarnya memenuhi syarat shahih dalam kitab Ash-Shahihain.Hadits-hadits yang tidak dicantumkan di dalam kitab Shahihain sebenarnya telah diriwayatkan oleh sekelompok sahabat radliallahu `anhum dan para perawi yang tidak memiliki cacat dan aib.
Ad-Daruquthni dan Al Harawi telah menyusun karya yang menghimpun hadits-hadits shahih yang tidak sempat disebutkan oleh Al Bukhari dan Muslim di dalam Ash-Shahihain.
[Dani Permana] Tidak ada kaitannya dengan ilmu hadist, yang sedang kita bicarakan adalah ilmu Hadist dan mengenai hadist Iyad Bin Ghanim
whe~en
tentusaja ada, namanya manusia tidak ada yang sempurna, umur bisa membatasi manusia atau karena hal lain yang mas Dani tidak tahu
jadi jangan mengira2 apalagi belia2 tidak menyatakan yang tidak tercantum dalam musnad tidak shahih
[Dani Permana] kata hukum yang saya Bold diatas adalah kesalahan FATAL M WN dalam menggunakan pernyatann, dan bertolak belakang dengan artikel yang M WN copy paste . (Syarat Pertama….dst… green highlight diatas)
(whe~en)
Syaratnya ga cuma satu kan?
menyalahi syarat lainnya ga?
menyalahi kan?
[Dani Permana] Saya pikir disinilah kekurangan M WN tentang permasalahan Ilmu Hadist…
whe~en
mengaku bukan ahli hadits tetapi bisa menilai orang lain yang sudah mengaku tidak punya ilmu itu dengan kekurangan.
Masih mendingan kan mas, saya sudah mengaku tidak punya kemampuan mentakhrij dibanding mas dani yang bilang tidak mampu tetapi bisa menyalahkan syeikh Albani yang ahli hadits secara tidak langsung.
Jawab saja pertanyaan saya.
thx
whe~en
From: milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com] On Behalf Of whe - en
Sent: Thursday, January 27, 2011 11:23 AM(Dani)
M WN, saya bertanya hal berikut ini, bukan lainnya
1. Knapa hadist "Iyadl bin ghanim " tentang Cara menasehati penguasa hanya ada dalam Musnad Ahmad, Ibnu 'Abi Ashim dalam As Sunnan, Ibnu 'Ady dalam Al Kamil?
2. Knapa Imam Bukhori, Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa'I, Al Muwatha Imam Malik, Al Um Imam Asy Syafi'I, Sunan Ad Darimi tidak ada?
3. Jika memang hadist tersebut tidak dipermasalahkan kesahihannya, mengapa seorang Imam Bukhori dan Imam Muslim tidak memasukan dalam kitab Sahihnya?
(Whe~en)
Definisi hadits shahih:
Menurut Ibnu Sholah, hadits shahih ialah hadits yang bersambung sanadnya. Ia diriwayatkan oleh orang yang adil lagi dhobit (kuat ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak mu'allal (tidak cacat). Jadi hadits Shahih itu memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
1. Kandungan isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur'an.
2. Harus bersambung sanadnya
3. Diriwayatkan oleh orang / perawi yang adil.
4. Diriwayatkan oleh orang yang dhobit (kuat ingatannya)
5. Tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)
6. Tidak cacat walaupun tersembunyi.
[Dani Permana] Saya tidak bertanya definisi hadist sahih M WN, coba disimak baik-baik pertanyaan saya diatas. Jika jawabannya seperti diatas, maka saya akan bertanya kepada M WN nantinya, dan berikut adalah pertanyaan Pertama
1. Poin No#2, Harus bersammbung Sanadnya : Hadist "Iyadl bin ghanim" tentang cara menasahati pemimpin bukannya SANDANYA terputus? Mohon kiranya menjelaskan jika tidak terputus?
(Whe~en)
Kalau pertanyaannya kenapa tidak ada, bagaimana saya harus menjawabnya karena yang tahu pasti yang menyusun kitab, apalagi ternyata definisi hadits shahih tidak ada kalimat harus ada dalam Musnad Ahmad, Ibnu 'Abi Ashim dalam As Sunnan, Ibnu 'Ady dalam Al Kamil,Imam Bukhori, Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa'I, Al Muwatha Imam Malik, Al Um Imam Asy Syafi'I, Sunan Ad Darimi.
[Dani Permana] Saya pikir disinilah kekurangan M WN tentang permasalahan Ilmu Hadist… Saya ambil contoh prasyarat hadist Sahih menurut Bukhori, beliau sebelum memasukan sebuah hadist dalam Kitab Sahihnya beliau slalu istikharah, sebagaimana kutipan berikut ""Saya susun kitab Al-Jami' as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih"." Jika hadist tentang "Iyadl bin ghanim" adalah hadist yang tidak dipermasalahkan dari segi sanadnya, sudah mungkin Imam Bukhori memasukan haidts tersebut dalam kitab sahihnya setelah melakukan Istikharah. Sedangkan Istikharah bermakna memohon petunjuk Allah atas keragu-raguan dan pilihan
(Whe~en)
Saya ingat ucapan keempat Imam bahwa jika ada hadits yang shahih pendapat mereka gugur, apakah menurut mas Dani beliau beliau yang menyusun Musnad pernah menyatakan bahwa yang tidak beliau beliau riwayatkan berarti tidak shahih? (mohon dijawab Tidak satupun ulama mengatakan bahwa kita harus bertaqlid kepada beliau beliau.
[Dani Permana] Tidak ada kaitannya dengan ilmu hadist, yang sedang kita bicarakan adalah ilmu Hadist dan mengenai hadist Iyad Bin Ghanim
[Wheen] Ada syarat2 menggunakan hadits dhoif sebagai hukum, saya tahu mas dani lebih tahu itu, pertanyaan inipun sampai kapan akan ditangguhkan. Jika mas dani menganut paham hadits ini dhoif, kenapa mas dani menggunakannya?
[Dani] agar lebih spesifik, hadist dho'if itu bisa digunakan pada hal apa dahulu? Mohon kiranya memberikan tanggapan.
[Wheen]
BERAMAL DENGAN HADITS DHOIF
(ketika mas dani sudah menyatakan tahu lama suatu hadits itu dhoif, apakah mas dani sudah melakukan persyaratan menggunakan hadits dhoif tersebut? sampai kapanpun ditangguhkan jawabannya, akan saya tunggu)
Syarat pertama
Hadist tersebut khusus untuk fadhailul amal atau targhib dan tarhib. Tidak boleh untuk aqidah atau ahkam (spt hukum halal, haram ,wajib, sunat , makruh) atau tafsir Qur'an. Jadi , seorang yang akan membawakan hadist-hadist dhå'if , terlebih dahulu HARUS MENGETAHUI mana hadist dhå'if yang MASUK bagian fadha ilul a'mal dan mana hadist dhå'if yang masuk bagian aqidah atau ahkam.
Dst sebagaimana tertulisa dibawah…
[Dani Permana] kata hukum yang saya Bold diatas adalah kesalahan FATAL M WN dalam menggunakan pernyatann, dan bertolak belakang dengan artikel yang M WN copy paste . (Syarat Pertama….dst… green highlight diatas)
Sedangkan Apa yang dibahas adalah masalah mua'amalah (hadist Iyadl bin ghanim dan juga bukan masalah "fadhailul amal atau targhib dan tarhib" )
2011/1/27 whe - en <whe.en9999@gmail.com>BERAMAL DENGAN HADITS DHOIF
(ketika mas dani sudah menyatakan tahu lama suatu hadits itu dhoif, apakah mas dani sudah melakukan persyaratan menggunakan hadits dhoif tersebut? sampai kapanpun ditangguhkan jawabannya, akan saya tunggu)Ketahuilah !! Sesungguhnya ulama-ulama kita yang TELAH MEMBOLEHKAN beramal dengan hadist-hadist dhå'if, (namun mereka) telah membuat BEBERAPA PERSYARATAN yang SANGAT BERAT dan KETAT. Persayaratan tersebut tidak akan dapat dipenuhi kecuali oleh mereka (ulama) yang membuatnya atau ulama-ulama yang memiliki kemampuan sangat tinggi dalam ilmu hadistnya (para muhadist).
Dibawah ini saya turunkan sejumlah persyaratan yang telah dibuat oleh para ulama kita Kemudian , saya iringi dengan beberapa keterangan yang sangat berfaedah. Insya Allahau ta'ala.
Syarat pertama
Hadist tersebut khusus untuk fadhailul amal atau targhib dan tarhib. Tidak boleh untuk aqidah atau ahkam (spt hukum halal, haram ,wajib, sunat , makruh) atau tafsir Qur'an. Jadi , seorang yang akan membawakan hadist-hadist dhå'if , terlebih dahulu HARUS MENGETAHUI mana hadist dhå'if yang MASUK bagian fadha ilul a'mal dan mana hadist dhå'if yang masuk bagian aqidah atau ahkam.
Tentu saja persyaratan pertama ini CUKUP BERAT dan tidak sembarang orang dapat mengetahui perbedaan hadist-hadist dhå'if diatas kecuali mereka YANG BENAR-BENAR AHLI HADIST.
Syarat kedua
Hadist tersebut TIDAK SANGAT DHOIF apalagi MAUDHU' , BATIL , MUNGKAR dan Hadist-hadist yang TIDAK ADA ASALNYA.
Yakni, yang boleh dibawakan hanyalah hadist-hadist yang ringan (kelemahannya). Persyaratan kedua ini LEBIH BERAT dan SULIT dibandingkan dengan syarat yang pertama. Karena, untuk mengetahui suatu hadist itu derajatnya SHAHIH , HASAN, dhå'if ringan , sangat dhå'if , dan seterusnya.
Bukanlah pekerjaan yang mudah sebagaimana telah dimaklumi oleh mereka yang faham betul dengan ilmu yang mulia ini.
Pekerjaan tersebut merupakan yang sangat berat sekali yang hanya dapat dikerjakan oleh para AHLI HADIST yang benar-benar ahli. Dan persyaratan kedua inipun DILANGGAR besar-besaran . Berapa banyak hadist yang batil dan mungkar , sangat dhå'if , (apalagi) maudhu' ,yang tidakada asalnya yang mereka sebarkan dengan lisan maupun tulisan.
Syarat ketiga
Hadist tersebut TIDAK BOLEH DI-I'TIQODKAN (diyakini) sebagai sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam sebab bisa terkena ancaman beliau : yakni berdusta atas nama beliau. (Dapat dibaca tulisan saya : Ancaman berdusta atas nama Nabi Shalallahu alaihi wa sallam). Persyaratan ketiga ini SAMA SEKALI tidak dapat dipenuhi, yang membawakan dan mendengarkan betul-betul MENYAKINI sebagai sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam
Syarat keempat
Hadist tersebut harus mempunyai dasar yang umum dari hadist yang shahih . Persyaratan yang ke-4 ini selain susah dan lagi-lagi mereka tidak dapat memenuhinya, juga apabila TELAH ADA hadist yang shahih untuk apalagi segala macam hadist-hadist yang dhå'if.
Syarat kelima
Hadist tersebut TIDAK BOLEH DIMASYHURKAN (DIPOPULERKAN). Menurut Imam ibnu Hajar rahimahulllah , apabila hadist-hadist dhå'if itu dipopulerkan, niscaya akan terkena ancaman berdusta atas nama nabi Shalallahu alaihi wa sallam.
Syarat keenam
Wajib memberikan bayan (PENJELASAN) bahwa hadist tersebut dhå'if saat menyampaikan atau membawakannya. Kalau tidak , niscaya mereka terkena kepada kepada ancaman menyembunyikan ilmu dan masuk ke dalam ancaman Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :" Ancaman berdusta atas nama Nabi Shalallahu alaihi wa sallam".
Demikian ketetapan para muhaqiq dari ahli hadist dan ulama ushul sebagaimana diterangkan oleh Abu Syaamah (baca Tamaamul minnah : Al Bani hal :32)
Inilah hukum orang yang "diam", tidak menjelaskan hadist-hadist dhå'if yang ia bawakan untuk fadhailul a'mal.
Syarat ketujuh
Dalam membawakannya TIDAK BOLEH menggunakan lafadz-lafadz jazm (yang menetapkan) seperti :"Nabi shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda atau mengerjakan sesuatu atau memerintahkan dan melarang dan lain-lain yang menunjukkan ketetapan atau kepastian bahwa Nabi Shalallahu alaihi wa sallam BENAR-BENAR bersabda dan seterusnya.
Tetapi wajib menggunakan lafadz TAMRIDH (yaitu lafadz yang TIDAK MENUNJUKKAN sebagai sesuatu ketetapan) ,
Seperti : Telah diriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam dan yang serupa dengannya dari lafadz tamridh sebagaimana telah dijelskan oleh imam Nawawi dalam muqoddimah kitabnya al majmu'syarah muhadzdzab (1/107) dan para ulama lainnya.
Persyaratannya yang terakhir ini , selain mereka tidak memiliki kemampuan , juga tidak bisa dipakai lagi pada jaman kita sekarang (dimana ilmu hadist sangat gharib / asing sekali).
Karena kebanyakan dari ahli ilmu sendiri (kecuali ahli hadist) teristimewa kaum khutobaa / para khatib dan orang awam tidak dapat membedakan antara lafadz jazm dan tamridh.
Lengkapnya lihat:
Berhati-Hati Dalam Meriwayatkan Hadist Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam Dan Beberapa Kesalahan Dalam Meriwayatkan Dan Hukum Meriwayatkan Dan Mengamalkan Hadist-Hadist dhå'if Untuk Fadhaa-Ilul A'mal , Tagrib Dan Tarhib Dan Lain-Lain, Penulis: Al-Ustadz Abdulhakim bin Amir Abdat hafizhåhullåh
regards
whe~en
---------- Forwarded message ----------
From: Dani Permana <adanipermana@gmail.com>Date: 2011/1/26
Subject: RE: [Milis_Iqra] Tentang Hadist "'Iyadl bin ghanim " - Tanggapan
To: milis_iqra@googlegroups.com
M WN, saya bertanya hal berikut ini, bukan lainnya
1. Knapa hadist "Iyadl bin ghanim " tentang Cara menasehati penguasa hanya ada dalam Musnad Ahmad, Ibnu 'Abi Ashim dalam As Sunnan, Ibnu 'Ady dalam Al Kamil?
2. Knapa Imam Bukhori, Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa'I, Al Muwatha Imam Malik, Al Um Imam Asy Syafi'I, Sunan Ad Darimi tidak ada?
3. Jika memang hadist tersebut tidak dipermasalahkan kesahihannya, mengapa seorang Imam Bukhori dan Imam Muslim tidak memasukan dalam kitab Sahihnya?
[Wheen] Ada syarat2 menggunakan hadits dhoif sebagai hukum, saya tahu mas dani lebih tahu itu, pertanyaan inipun sampai kapan akan ditangguhkan. Jika mas dani menganut paham hadits ini dhoif, kenapa mas dani menggunakannya?
[Dani] agar lebih spesifik, hadist dho'if itu bisa digunakan pada hal apa dahulu? Mohon kiranya memberikan tanggapan.
[Wheen] Orang sombong adalah orang yang menolak kebenaran.
Berlaku adillah karena adil lebih dekat kepada taqwa.
Katakan yang hak itu hak dan sebaliknya.[Dani]
1. Apakah saya sombong hingga menolak kebenaran?
2. Apakah saya tidak adil?
3. Apakah saya tidak mengatakan yang haq?
Mohon klarifikasinya?
Regards,
Dani Permana" Always desire to learn something useful."
2011/1/26 Dani Permana <adanipermana@gmail.com>
From: milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com] On Behalf Of whe.en9999@gmail.com
[Dani Permana] Saya bukanlah ahli hadist/muhadist jadi jangan mempertanyakan sesuatu yang bukan pada ahlinya.
(Whe-en)
Jangan bermain dengan kata kata terus mas Dani.
Fokuslah karena ini diskusi
[Dani Permana] loh kalau saya bukan ahli haidst masa di bilang bermain kata-kata….. hahahahah masa saya mengaku-ngaku Neh saya ahli hadist….
Bukankah kemarin mas dani sendiri yang minta saya yang memulai memposting dari jalur mana syaikh Albani menshohihkan, lalu kita bahas, mas Dani sudah memposting dhoifnya hadits ini dan mas dani sudah tahu lama, koq sekarang bilang tidak tahu.
[Dani Permana] Saya Quote pernytaan M WN "saya sendiri tidak mampu mentakhrij-nya, jadi silahkan jika memang mau menerangkan kepada saya, lebih kuat mana yang mentakhrij dhoif atau shahih,"
Melihat jenis pertanyaannya "lebih kuat mana yang mentakhrij dhoif atau shahih,"… itu yang saya tidak saya jawab dan saya bukan seorang muhadist….
Ada apa sebenarnya.
[Dani Permana] Tidak ada apa-apa…
[Dani Permana] Saya mengerti jika M WN berpikiran demikian karena 3 artikel yang telah saya kirim berbeda dengan apa yang selama ini M WN pahami.
(Whe-en)
Mengerti saja tidak cukup karena saya sedang tidak ingin dimengerti. Tapi saya ingin pertanyaan saya dijawab.
Tolong fokus, jika mas dani sepakat dhoif kenapa mas dani pakai padahal sudah tahu lama.
[Dani Permana] Kan sudah saya jawab semampunya, kalau memaksakan jawaban terhadap sesuatu yang saya tidak ketahui itu kan meyalahi aturan.
===================
[Dani Permana] Setiap manusia memiliki pengetahuan yang bertambah-tambah, semakin bertambahnya ilmu semakin teliti dalam menilai.
Whe-en
Ulama salaf sebelum syaikh albani lahir yang mendhoifkan hadits tersebutpun belum mas dani jawab, padahal mas dani sendiri yang membuat pernyataan.
Kalau mas dani bilang semakin teliti menilai, kenapa sekarang jawabannya bukan ahli hadits padahal sudah menilai yang dhoif?[Dani Permana] Disitulah kekurang telitian M WN dalam membaca sebuah artikel… silahkan refer kembali… alasan-alasan orang yang menlemahkan hadist tersebut
From: "Dani Permana" <adanipermana@gmail.com>
Sender: milis_iqra@googlegroups.com
Date: Wed, 26 Jan 2011 16:20:49 +0700
ReplyTo: milis_iqra@googlegroups.com
Subject: RE: [Milis_Iqra] Sahal Mahfudz: Kritik Boleh, Tapi Jangan Bikin Gaduh
From: milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com] On Behalf Of whe - en
1. Al Imam Muslim berkata di muqodimah shahihnya: telah menceritakan kepadaku Makhlad bin Husian dari Hisyam dari Muhammad bin Sirin berkata:
"Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama tersebut."
Dari quote diatas, semoga mas dani tahu kenapa saya mempermasalahkan darimana saya mengambil ilmu, tanpa bermaksud "susah" seperti kata mas Dani. Bagaimana kita bisa mengambil ilmu dari orang yang mengatakan "bodoh" kepada orang yang mengikuti sunnah Nabi-Nya
[Dani Permana] Saya mengerti dengan keinginan M WN, dan itu adalah cara yang terbaik, dan memang harus begitu caranya mencari ilmu.
==========
[dani permana] Yah memang segala sesuatu bisa dilihat dari sisi yang berbeda-beda, bahasa ilmiahnya comprehensive. Jika kita-kita sering membaca kitab-kitab klasik seperti Nailur Authar, Subulussalah, Tafsir Ath Thbari, Tarikh Athobary, Al Bidayah Wan Nihayah ibnu Katsir, dsb… di buku-buku mereka tidak pernah ada bahwa pendapat merekalah paling benar, di kitab-kitab mereka slalu menggiring pembacanya untuk menganalisa dari beberapa pendapat dan membuat kesimpulan, itulah ulama sesungguhnya yang mengajarkan ilmu seluruhnya tidak separo-separo.
Kita bisa lihat dengan kredibilitas ulama-ulama sekarang baik dalam artikel maupun buku2nya hanya berpegang kepada satu pendapat saja. Mungkin bahasa kasarnya "tidak seperti kuda dengan kacamatanya" ketika kusir tarik tali ke kiri si kuda belok ke kiri vice versa.
On Behalf Of whe - en
Dari ke 3 artikel dari mas Dani yang ternyata cenderung mengingkari hadits menasehati penguasa dengan sembunyi sembunyi, bukankah ini tidak sesuai dengan apa yang ditulis diatas, karena jelas jelas menggiring kepada opini yang sudah 3 kali dibahas?
Kalau sudah begini, kuda yang mana yang mau dicopot kacamanyanya? :-) kuda yang mana yang mau dikasih kacamata? :-P
[Dani Permana] Saya mengerti jika M WN berpikiran demikian karena 3 artikel yang telah saya kirim berbeda dengan apa yang selama ini M WN pahami.
On Behalf Of whe - en
Bahkan sebagai orang yang menyampaikan dalil hadits tersebutpun tidak bisa menjelaskan. Kalau pendapat mas Dani dhoif kenapa dipakai? Kalau mas dani berpendapat shahih seperi Al Albani, kenapa perbuatan mas Dani tidak menunjukkan itu.
Maaf ini bukan menyerang pribadi, namun saya mempertanyakan tindakan mas Dani sebagai pemosting hadits pertama kali.
[Dani Permana] Setiap manusia memiliki pengetahuan yang bertambah-tambah, semakin bertambahnya ilmu semakin teliti dalam menilai.
On Behalf Of whe - en
3. Mohon dapat disebutkan ulama yang mendhoifkan itu siapa saja?
(Dani) maaf saya tidak mengetahuinya mengapa Syaikh Albani mensahihkannya. Padahal ulama salaf sebelum syaikh Al Bani rahimahullah lahir telah mendho'ifkannya.
Sekali lagi, jika mas dani tidak tahu hadits ini kenapa shahih dan sudah tahu hadits ini dhoif, kenapa dipakai oleh mas Dani? Bukankah mas Dani sendiri yang mengemukakan hadits dhoif tidak bisa dijadikan landasan/ dalil?
[Dani Permana] Entah bagaimana saya harus menjelaskan ke M WN, dalam standard ilmu hadist, jika kita menemukan hadist yang saling bertentangan antara satu dan yang lainnya, maka boleh diambil salah satunya dan meninggalkan salah satunya atau diambil keduanya dan salah satunya dengan dengan syarat.
On Behalf Of whe - en
4. Mohon pertanyaan pertanyaan saya mulai dijawab mas dani jika sudah ada waktu. Tidak perlu saya quote lagi kan mas?
[Dani Permana] Tidak perlu karena sudah saya jawab,….
On Behalf Of whe - en
5. Postingan di bawah ini adalah permintaan mas dani, saya sendiri tidak mampu mentakhrij-nya, jadi silahkan jika memang mau menerangkan kepada saya, lebih kuat mana yang mentakhrij dhoif atau shahih, dsb, {terlampir di link http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/05/takhrij-ringkas-hadits-iyaadl-bin-ghanm.html. }
[Dani Permana] Saya bukanlah ahli hadist/muhadist jadi jangan mempertanyakan sesuatu yang bukan pada ahlinya.
============================
6. [Dani Permana] Nasehat itu bisa dilakukan dua kondisi, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Terang-terangan pun harus ada aturannya, sembunyi-sembunyipun harus ada aturan-aturannya. Namun yang saya pertanyakan golongan yang memilih nasehat dengan sembunyi-sembunyi "Apakah mereka melaksanakan apa yang mereka tulis dalam artikel-artikel mereka?
M WN sudah sering melampiran beberapa dalil yang menyatakan "kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat, kemudian usus terburai karena mereka menasehati tentang amar ma'ruf namun mereka sendiri tidak melakukannya". Jadi sebagian ulama yang HANYA bisa menulis artikel "begino loh cara menasehati Penguasa. Silahkan Tanya balik "APAKAH mereka sudah melaksanakan NASEHATnya sendiri?
On Behalf Of whe - en
Memang benar bahwa kedua cara menasehati mempunyai caranya sendiri sendiri. Yang jadi masalah adalah, cara terang terangan jelas menyelisihi hadits sembunyi sembunyi. Jadi orang cuma bisa memilih salah satunya apalagi jika hadits yang satu dianggap dhoif. Dibolehkan terang terangan atau tidak dibolehkan terang terangan. Mohon jangan bermain kata kata.
[Dani Permana] Menyelisihi hadist itu menurut M WN dan orang yang sepaham dengan M WN, bagi orang lain belum tentu. Contoh diluar masalah ini pun banyak, contoh masalah Penentuan Bulan Ramadhan….
Mas Dani, apa yang ulama lakukan, bukan berarti menggugurkan suatu hadits kan? Apa yang beliau beliau berikan masukan kepada penguasa tentunya tidak dishare ke umum, jatuhnya tidak diam diam kalau dishare begitu.
[Dani Permana] Darimana M WN mengetahui? Dan apa hasilnya
Kalaupun tidak dilaksanakan, bukankah bukan berarti haditsnya yang salah?
[Dani Permana] Setuju….
On Behalf Of whe - en
Sebagai tambahan informasi, beliau beliau ternyata memang memberi masukan kepada penguasa secara diam diam, dan penguasa sangat berterimakasih atas masukannya dan ditindaklanjuti, inilah mungkin hikmahnya melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.
[Dani Permana] Siapa tuh?
On Behalf Of whe – en
Telah berkata Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah :…….
حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيُّ وَغَيْرُهُ قَالَ ........................dst
Telah menceritakan kepada kami Abul-Mughiirah : Telah menceritakan kepada kami Shafwaan : Telah menceritakan kepadaku Syuraih bin 'Ubaid Al-Hadlramiy dan yang lainnya, ia berkata : 'Iyaadl bin Ghanm pernah mencambuk orang Dariya ketika ditaklukkan. Hisyaam bin Hakiim meninggikan suaranya kepadanya untuk menegur sehingga 'Iyaadl marah. Kemudian 'Iyaadl radliyallaahu 'anhu tinggal beberapa malam, lalu Hisyaam bin Hakiim mendatanginya untuk memberikan alasan (apa yang telah ia perbuat sebelumnya kepada 'Iyadl). Hisyaam berkata kepada 'Iyaadl : "Tidakkah engkau mendengar Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : 'Orang yang paling keras siksaannya adalah orang-orang yang paling keras menyiksa manusia di dunia?'. 'Iyaadl bin Ghanm berkata : "Wahai Hisyaam bin Hakiim, kami pernah mendengar apa yang kau dengar dan kami juga melihat apa yang kau lihat. Namun tidakkah engkau mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda : 'Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dalam suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan. Akan tetapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika diterima, memang itulah yang diharapkan; namun jika tidak, maka orang tersebut telah melaksakan kewajibannya'. Engkau wahai Hisyaam, kamu sungguh orang yang lancang karena engkau berani melawan penguasa Allah. Tidakkah engkau takut jika penguasa itu membunuhmu lalu jadilah engkau orang yang dibunuh penguasa Allah tabaaraka wa ta'ala?" [Musnad Al-Imam Ahmad, 3/403-404].
…..dst sebagaimana artikel
[Dani Permana] Mungkin M WN sekarang sadar atau tidak, setiap ulama akan memperkuat sanggahannya dan pendapatnya masing-masing, dan hal itu sudah terjadi sebelum M WN lahir kedunia ini, link akhi Abu Jauza saya pun sudah mengetahuinya sejak lama. SALING BANTAH dan saling memperkuat argument masing itu adalah kelebihan dan kemampuan mereka.
Kita-kita disini hanya bisa membaca, menganalisa dan memilih pendapat mana yang lebih rajah dibanding lainnya.
No virus found in this message.
Checked by AVG - www.avg.comVersion: 10.0.1191 / Virus Database: 1435/3402 - Release Date: 01/25/11
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=---
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=---
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--~~~~~
Whe~en
http://wheen.blogsome.com/
"Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
"Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"
--~~~~~
Whe~en
http://wheen.blogsome.com/
"Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
"Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Version: 10.0.1204 / Virus Database: 1435/3405 - Release Date: 01/26/11--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
http://wheen.blogsome.com/
"Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
"Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment