Monday, January 24, 2011

Re: [Milis_Iqra] Sahal Mahfudz: Kritik Boleh, Tapi Jangan Bikin Gaduh

Oh maksud saya, ketika saya menulis ini, dengan penuh kesadaran bahwa
tetap akan ada yang berpendapat beda, jadi saya tidak mengklaim apa
yang saya tulis sebagai satu-satunya pendapat yang ada. Terutama dari
kalangan salafi yang memang berpendapat beda. Ini sekedar kalimat
informasi. Setahu saya memang salafi yang konsisten dengan pendapat
ini, sekedar informasi, ketika Gus Dur menjadi presiden, sebagian
kalangan NU merujuk pendapat ini, tapi ternyata setelah presidennya
bukan dari NU, tidak pernah terdengar lagi pendapat ini, kecuali
kecil-kecilan. Jadi salafi memang mewakili pendapat yang satu ini.

Saya tidak ada antipati sama sekali koq pada kalangan tertentu, kadang
bisa saja dalam lain kesempatan saya tulis, "saya sadar bahwa ada yg
tdk setuju dengan kesimpulan ini, khususnya biasanya kalangan NU",
sekali lagi ini sekedar informasi Mbak, tidak ada maksud negatif sama
sekali. Memang dalam tulisan, sangat mudah kesalahpahaman itu masuk,
jadi mudah-mudahan ini mengklarifikasi ya: justru saya menyebut salafi
dalam rangka menunjukkan bahwa disana ada pendapat yang berbeda.

Untuk penyebutan soal bid`ah, memang tidak ada di milis, dan saya
memang tdk bermaksud menuding siapa-siapa, hanya sebagai gambaran
dinamika yang terjadi di umat. Mungkin lain kali harus jelas ya, ini
kritik buat saya. :-). Kenapa ini agak ditekankan karena memang tidak
ada seorang ulama atau madzhab pun yang mengingkari salah satu uslub
inkarul munkar kepada penguasa dengan uslub tertutup tidak di depan
umum, ini tidak diingkari oleh semua madzhab. Perbedaan pendapatnya
hanya pada apakah inkarul munkar secara terbuka itu boleh atau tidak?
Yang mengatakan boleh, tetap mengakui syar`inya inkarul munkar secara
tertutup, sementara yang lain mengatakan dalam kondisi apapun tidak
boleh, dengan kata lain mereka beranggapan dalam kondisi apapun
mengingkari penguasa secara terbuka adalah bid`ah. Jadi dakwaan bid`ah
ini memang muncul dari kalangan yang berpendapat mutlak harus
tertutup. Mudah-mudahan jelas, bahwa saya menggunakan kalimat dengan
kata bid`ah ini untuk menggambarkan perbedaan pendapat yang ada di
dunia fiqh, khususnya fiqh siyasah.

Untuk yang kedua, bisakah dipahami bahwa dalam semua hal, kita tidak
dalam posisi memilih atau menerima suatu hadits yang shahih? Yang ada
adalah kita berusaha memahami maksud hakikat hikmah dan hukum yang
ditunjukkan oleh suatu teks yang pasti datangnya dari Allah dan
RasulNya. Jadi posisi kita menerima semua hadits, dimana ulama
menjelaskan bahwa menasehati penguasa secara terbuka atau tidak,
adalah pilihan yang disandarkan kepada fiqh maslahat, kedua-duanya
benar sesuai masing-masing hadits yang menunjukkannya selagi
aplikasinya diputuskan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi.
Bukan mutlak harus terang-terangan atau mutlak harus
sembunyi-sembunyi. Ini sesuai dengan kaidah para ulama dalam
istinbath, thariqatul jam`i, yaitu mengumpulkan semua petunjuk yang
dikeluarkan oleh dalil yang shahih dengan memastikan bahwa tidak ada
pertentangan di antara dalil yg shahih. Kalau sudah dicoba tidak bisa
tidak kecuali pasti kontradiktif baru dengan jalan thariqatut tarjih,
yaitu salah satu diterima salah satu ditolak atau ditakhsis
(dikecualikan) atau didiamkan, tidak mengambil kesimpulan sama sekali
(tawaquf).

Nyatanya kan bisa dikumpulkan, dengan jalan menyimpulkan bahwa
hukumnya ternyata terletak pada kemaslahatan (hukum taufiqi) bukan
terletak pada teks murni (hukum tauqifi).

Saya rasa sudah jelas, bahwa ini penjelasan untuk semua hadits bukan
hanya hadits yang membolehkan inkarul munkar secara terbuka.

Jadi tidak ada yang ditolak Mbak, masing-masing diletakkan pada
konteksnya sesuai dengan fiqh maslahat masing-masing ulama pengambil
keputusan.

Sekali lagi, kesimpulan saya ini mewakili sebagian kesimpulan ulama
saja, sangat boleh jadi ada yang berbeda pendapat, dan saya sendiri
enggan memperpanjang kalau tidak perlu sekali, jadi kalau ada yang
mencoba menjelaskan dari sisi pendapat satunya, silahkan saja.

On 1/24/11, whe - en <whe.en9999@gmail.com> wrote:
> (mas Priyo)
> Beda kalau belum-belum sudah membid`ahkan pengingkaran kemunkaran kepada
> penguasa secara terbuka, padahal toh setelah dilihat bukan inkarul munkar
> yang keras, hanya sekedar nasihat atau muhasabah belaka.
>
> (whe~en)
> Setahu saya tidak ada satupun dari kita di masalah ini yang membid'ahkan mas
> Priyo. baik yang banyak terlibat ataupun yang sedikit. Silahkan melihat
> semua thread, tak satupun bicara soal bid'ah.
>
> (mas Priyo)
> Saya paham sih kalau tetap ada kalangan yang tdk setuju terutama dari
> kelompok salafi, ya monggoh saja. Saya tidak akan memperpanjangnya lagi.
>
> (whe~en)
> Dan di thread ini tak satupun mewakili salafi, seperti yang saya ungkapkan
> ke mas Nandang, jadi kenapa salafi harus dibawa bawa lagi ya mas?
>
> Kelihatannya mas Priyo belum menjawab pertanyaan saya, kalau boleh saya
> ulang history-nya begini:
> 1. Mas nandang mengungkapkan hadits sebagai berikut
> Dari Iyadh bin Ghunaim radhiallohu 'anhu berkata, bersabda Rasul sholallohu
> 'alaihi wa sallam:
>
> "Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka janganlah melakukannya
> dengan terang-terangan di hadapan umum. Akan tetapi dengan cara mengambil
> tangan penguasa tersebut dan menyendiri. Jika ia menerimanya maka inilah
> yang diharapkan, jika tidak menerimanya maka ia telah melakukan
> kewajibannya." (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al-Hakim, dan Baihaqi.
> Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Adz-Dzilal)
>
> 2. Saya menambahi hadits yang saya tanyakan kepada mas Priyo
> 3. Mas Priyo menerangkan hadits dibawah, jadi kelihatannya belum
> disambungkan dengan hadits yang dibawakan mas nandang apakah ditolak atau
> diterima, apakah menasehati dengan diam diam itu melawan hadits dibawah atau
> bagaimana?
>
> Hadits Shahih Muslim : عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ:
> سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ
> مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ
> فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ.Dari Abu
> Sa'id Al-Khudri radliyallahu 'anhu ia mengatakan: Aku mendengar Rasulullah
> shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa di antara kalian melihat
> sebuah kemungkaran maka hendaklah dia merubahnya dgn tangannya. Jika ia
> belum sanggup maka hendaklah ia menggunakan lisannya. Jika ia masih belum
> sanggup maka hendaklah ia menggunakan hatinya.
>
> 4. Saya menanyakan kepada mas Priyo bagaimana kedudukan hadits yang lebih
> spesifik tersebut. Jika ditolak apa penyebabnya, dan jika diterima apakah
> ada pengecualiannya.
>
> Demikian terimakasih
> whe~en
>
>
> 2011/1/24 priyo djatmiko <priyodjatmiko@gmail.com>
>
>> Menyimpulkan kedudukan hadits (fiqhul hadits), sebagaimana kita ketahui,
>> ada 2 yaitu riwayah dan dirayah.
>>
>> Secara riwayah, hadits-hadits tadi sanadnya baik, setidaknya jika kita
>> mengikut penilaian ahli hadits yang dikutip.
>>
>> Secara dirayah, kita baru bisa menyimpulkan hukum dari suatu hadits kalau
>> kita mengumpulkan seluruh dalil yang ada baik dari al Quran dan kemudian
>> As
>> Sunnah yang membicarakan tema yang sama. Kalau kita meruju` penjelasan
>> para
>> ulama, inkarul munkar kepada penguasa sebetulnya tidak mutlak harus
>> terang-terangan atau diam-diam, tapi sesuai dengan pertimbangan maslahat
>> madharatnya.
>>
>> Kalau penguasanya muslim, yang shalih, diangkat oleh syura ummat islam,
>> dalam sistem yang bernaungkan petunjuk Islam, kebijakannya secara umum
>> masih
>> berlandaskan agama, kemunkarannya bukan kemunkaran yang berbahaya bagi
>> kemasalahatan luas, atau apabila kemarahan penguasa tidak mampu ditanggung
>> oleh umat Islam secara umum, atau berkumpulnya dua atau lebih
>> faktor-faktor
>> di atas mungkin kita akan memandangnya lebih baik diam-diam saja.
>>
>> Sebaliknya kalau penguasanya terkenal fasik, tidak dalam naungan syura dan
>> petunjuk Islam, kalau didiamkan maka banyak orang yang dikhawatirkan ikut
>> membenarkan kemunkaran, kalau kemunkaran dilakukan terang-terangan,
>> membahayakan kemaslahatan luas, atau sudah diingatkan secara privasi tapi
>> tidak mau kembali kepada kebenaran, atau umat islam mampu menanggung
>> akibat
>> kemarahan penguasa apabila diingatkan, atau berkumpulnya dua atau lebih
>> faktor-faktor di atas maka inkarul munkar secara terang-terangan mungkin
>> menjadi pilihan.
>>
>> Jadi hukum asalnya (fiqh istinbathnya) adalah terikat pada masalahat dan
>> madharat mana yang lebih besar,
>>
>> sedangkan aplikasinya (fiqh amaliyah) bisa bersifat ijtihadiyah (pilihan
>> ilmu) masing-masing orang ataupun kelompok umat.
>>
>> Beda kalau belum-belum sudah membid`ahkan pengingkaran kemunkaran kepada
>> penguasa secara terbuka, padahal toh setelah dilihat bukan inkarul munkar
>> yang keras, hanya sekedar nasihat atau muhasabah belaka.
>>
>> Ini semua disimpulkan dari
>> - mengumpulkan dalil-dalil yang membicarakan tema yang sama
>> - praktek para ulama dari masa shahabat dan setelahnya
>> - pandangan para ulama terpecaya dalam kitab-kitabnya baik yang membahas
>> fiqh, aqad, siyasah, imamah, hadits, dakwah, jihad dan lainnya.
>>
>> Saya paham sih kalau tetap ada kalangan yang tdk setuju terutama dari
>> kelompok salafi, ya monggoh saja. Saya tidak akan memperpanjangnya lagi.
>>
>> Wallahu a`lam.
>> 2011/1/24 <whe.en9999@gmail.com>
>>
>>> Terimakasih untuk penjelasannya mas Priyo.
>>>
>>> Lalu untuk hadits yang saya kemukakan kepada mas Nandang, yang lebih
>>> spesifik tentang tata cara memberimasukan kepada pemimpin itu bagaimana
>>> kedudukannya ya mas?
>>> Mohon memberikan masukan apabila mas priyo berkenan,
>>>
>>> 1. Dari Iyadh bin Ghunaim radhiallohu 'anhu berkata, bersabda Rasul
>>> sholallohu 'alaihi wa sallam:
>>>
>>>
>>> "Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka janganlah melakukannya
>>> dengan terang-terangan di hadapan umum. Akan tetapi dengan cara mengambil
>>> tangan penguasa tersebut dan menyendiri. Jika ia menerimanya maka inilah
>>> yang diharapkan, jika tidak menerimanya maka ia telah melakukan
>>> kewajibannya." (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al-Hakim, dan Baihaqi.
>>> Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Adz-Dzilal)
>>>
>>> 2. "Penguasa adalah naungan Alloh di muka bumi, maka barangsiapa yang
>>> menghinakan penguasa maka Alloh akan menghinakannya, barangsiapa yang
>>> memuliakan penguasa maka Alloh akan memuliakannya." (HR. Ibnu Abi Ashim,
>>> Ahmad, At-Thayalisi, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh
>>> Syaikh
>>> Al-Albani dalam Adz-Dzilal)
>>>
>>> 3. Dari Ubaidah bin Khiyar berkata: "Aku mendatangi Usamah bin Zaid
>>> radhiallohu 'anhu dan aku mengatakan: "Kenapa engkau tidak menasehati
>>> Ustman
>>> bin Affan untuk menegakkan hukum had atas Al-Walid?" Maka Usamah berkata:
>>> "Apakah kamu mengira aku tidak menasehatinya kecuali harus dihadapanmu?
>>> Demi
>>> Alloh, sungguh aku telah menasehatinya secara sembunyi-sembunyi antara
>>> aku
>>> dan ia saja. Dan aku tidak ingin membuka pintu kejeleken dan aku tidak
>>> ingin
>>> menjadi orang yang pertama kali membukanya." (Atsar yang shahih
>>> diriwayatkan
>>> oleh Bukhari dan Muslim)
>>>
>>> 4. Dari Wail bin Hujr radhiallohu 'anhu berkata: Kami bertanya: "Yaa
>>> Rasululloh, bagaimaan pendapatmu jika penguasa kami merampas hak-hak kami
>>> dan meminta hak-hak mereka?" Beliau bersabda: "Mendengar dan taatlah
>>> kalian
>>> kepada mereka maka sesungguhnya bagi merekalah balasan amalan mereka dan
>>> bagi kalianlah pahala atas kesabaran kalian." (HR. Muslim)
>>>
>>> 5. Dari Anas radhiallohu 'anhu berkata: "Bersabda Rasul sholallohu
>>> 'alaihi
>>> wa sallam: "Kalian akan menjumpai sesudahku atsarah (pemerintah yang
>>> tidak
>>> menunaikan hak-hak rakyatnya tapi selalu meminta hak-haknya) maka
>>> bersabarlah sampai kalian berjumpa denganku." (HR. Bukhari dan Muslim)
>>>
>>> 6. Dari Abu Hurairah radhiallohu 'anhu berkata, bersabda Rasululloh
>>> sholallohu 'alaihi wa sallam: "Kelak akan terjadi para penguasa dan
>>> mereka
>>> mengumpulkan harta-harta (korupsi)." Maka kami bertanya: "Maka apa yang
>>> engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab: "tunaikanlah baiat yang
>>> pertama, tunaikanlah hak-hak penguasa, sesungguhnya Alloh akan bertanya
>>> pada
>>> mereka atas apa-apa yang mereka lakukan terhadap kalian." (HR. Bukhari
>>> dan
>>> Muslim)
>>>
>>> 7. Dari Mu'awiyah radhiallohu 'anhu berkata, ketika Abu Dzar radhiallohu
>>> 'anhu keluar ke Ar-Rubdzah, beberapa orang Iraq menemuinya dan berkata:
>>> "Wahai Abu Dzar, angkatlah bendera bersama kami maka orang-orang akan
>>> mendatangi kamu dan tunduk kepadamu." Maka Abu Dzar berkata: "Tenang
>>> wahai
>>> Ahlul Islam, sesungguhnya aku mendengar Rasululloh bersabda: 'Kelak akan
>>> ada
>>> sesudahku penguasa maka muliakanlah ia, barangsiapa yang menghinakannya
>>> maka
>>> ia telah berbuat kehancuran dalam Islam dan tidak akan diterima taubatnya
>>> sampai ia mengembalikan kehancuran umat ini menjadi seperti semula.' (HR.
>>> Ahmad dan Ibnu Abi Ashim. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam
>>> Adz-Dzilal)
>>>
>>> Terimakasih
>>>
>>> Whe-en
>>>
>>> Sent from my BlackBerry®
>>> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>>> ------------------------------
>>> *From: *priyo djatmiko <priyodjatmiko@gmail.com>
>>> *Sender: *milis_iqra@googlegroups.com
>>> *Date: *Mon, 24 Jan 2011 05:50:57 +0700
>>> *To: *<milis_iqra@googlegroups.com>
>>> *ReplyTo: *milis_iqra@googlegroups.com
>>> *Subject: *Re: [Milis_Iqra] Sahal Mahfudz: Kritik Boleh, Tapi Jangan
>>> Bikin Gaduh
>>>
>>> Sebagai tambahan, ternyata masalah mengingkari kemunkaran kepada penguasa
>>> di depan umum itu bahkan asbabul wurud hadits amar ma`ruf nahi munkar
>>> yang
>>> sangat terkenal dari sahabat Abu Said al khudri rahimahullah,
>>>
>>> Hadits Shahih Muslim : عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه
>>> قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ رَأَى
>>> مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
>>> فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ
>>> اْلإِيْمَانِ.Dari Abu Sa'id Al-Khudri radliyallahu 'anhu ia mengatakan:
>>> Aku
>>> mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa
>>> di
>>> antara kalian melihat sebuah kemungkaran maka hendaklah dia merubahnya
>>> dgn
>>> tangannya. Jika ia belum sanggup maka hendaklah ia menggunakan lisannya.
>>> Jika ia masih belum sanggup maka hendaklah ia menggunakan hatinya.
>>>
>>> Asbabul wurudnya juga ada dalam hadits riwayat Al-Bukhari di kitab
>>> *Shahih
>>> *nya *Kitabul 'Iedain *, Bab *Al-Khuruj ilal Mushalla Bighairi Minbar *,
>>> hadits ke 956, sebagai berikut:
>>>
>>> "Dulu Rasulullah *shallallahu `alaihi wa sallam *pada hari Iedul Fitri
>>> atau Iedul Adlha keluar ke lapangan. Maka yang pertama beliau lakukan di
>>> lapangan itu adalah shalat Ied, kemudian beliau berpaling dari arah
>>> kiblat
>>> menghadapkan muka beliau kepada sekalian manusia dan orangpun duduk di
>>> shafnya masing-masing, sehingga beliau menasihati mereka dan memberi
>>> wasiat
>>> serta memberi perintah-perintah. Dan bila beliau akan mengiring kepergian
>>> pasukan perang yang akan berangkat menuju medan perang atau utusan beliau
>>> akan berangkat untuk menunaikan suatu urusan, beliau memutus khutbah itu
>>> untuk menunaikan keperluan-keperluan tersebut. Sehingga setelah beliau
>>> khutbah itu, beliaupun pulang kembali ke rumahnya."
>>>
>>> Abu Said Al-Khudri melanjutkan ceritanya: "Dan kaum Muslimin terus
>>> menerus
>>> dalam cara shalat Ied seperti itu, sehingga suatu hari aku keluar ke
>>> lapangan bersama Marwan, dan dia sebagai gubernur Madinah waktu itu,
>>> untuk
>>> menunaikan shalat Iedul Adlha atau Iedul Fitri. Maka ketika kami telah
>>> sampai di lapangan, ternyata mimbar telah dibikin oleh Katsir bin
>>> As-Shalt
>>> di lapangan itu, dan tiba-tiba Marwan ingin naik mimbar sebelum
>>> dilaksanakannya shalat Ied, maka akupun menyeretnya dengan menarik
>>> jubbahnya. Dan Marwan balik menyeret jubbahku, dan dia pun langsung naik
>>> mimbar itu serta mulai berkhutbah sebelum shalat. Maka akupun menyatakan
>>> kepadanya: "Demi Allah, engkau telah merubah (yakni merubah pengamalan
>>> cara
>>> shalat Ied yang diajarkan, pen)………….."
>>> Dengan demikian, dicontohkan langsung oleh shahabat perawi hadits amar
>>> ma`ruf nahi munkar, mengingkari kemunkaran secara langsung di depan umum
>>> kepada penguasa.
>>>
>>> Selahkan disimak di Al Bidayah wan Nihayah tulisan Ibnu Katsir, Shifatus
>>> Shafwah, Tarikhul Khulafa Imam As Suyuthi, disana banyak contoh para
>>> ulama,
>>> mulai dari generasi sahabat, tabiin, tabiut tabiin sampai
>>> generasi-generasi
>>> berikutnya yang menunjukkan contoh pengingkaran kepada penguasa di depan
>>> umum.
>>>
>>> Meskipun ada saatnya mengingkari secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi,
>>> itu bukan kaidah yang mutlak, selalu ada pertimbangan mashalih mursalah
>>> di
>>> dalam menimbang, apakah di depan umum atau di belakang umum dalam inkarul
>>> munkar. Dan inilah manhaj ahlussunnah yang sesungguhnya.
>>>
>>> 2011/1/24 <whe.en9999@gmail.com>
>>>
>>>> Kalau begitu, setelah mas Nandang tahu dalil2nya, bagaimana pendapat mas
>>>> Nandang sendiri soal cara menasehati pemimpin?
>>>>
>>>> :-)
>>>> Mas Nandang, jika ada orang yang tidak setuju mencela pemimpin secara
>>>> terang2an, melihat hadits2 tata cara menasehati pemimpin, bukankah orang
>>>> tersebut sedang berusaha mengikuti perintah Allah dan RasulNya?
>>>> Bukan malah dituduh membela pemerintah?
>>>> Seperti yang biasa mas Nandang tuduhkan ke saya itu loch?
>>>>
>>>> Ada pendapat lain mas Nandang? :-)
>>>>
>>>> Whe-en
>>>>
>>>> Sent from my BlackBerry®
>>>> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>>>>
>>>> -----Original Message-----
>>>> From: aendangzr@yahoo.co.id
>>>> Sender: milis_iqra@googlegroups.com
>>>> Date: Sun, 23 Jan 2011 16:01:00
>>>> To: <milis_iqra@googlegroups.com>
>>>> Reply-To: milis_iqra@googlegroups.com
>>>> Subject: Re: [Milis_Iqra] Sahal Mahfudz: Kritik Boleh, Tapi Jangan Bikin
>>>> Gaduh
>>>>
>>>> Mba wheen.....
>>>> Saya memang mengerti kok dengan kesibukanya,maka saya saya katakan
>>>> "mungkin mba wheen sibuk" masih ada katta2 mungkin loh disitu,yg bisa
>>>> diartikan bahwa saya tetap berpasangka baik.
>>>>
>>>> Karena mba wheen pernah mempostingnya saya anggap mba wheen sudah bisa
>>>> memahainya ,makanya saya sampaikan" mba wheen lebih tahu",dan untuk
>>>> mempermudah ya lebih baik di posting ulang agar bisa lebih cepat
>>>> diterima
>>>> infonya oleh si penanya.
>>>>
>>>> Ketika saya sampaikan sepengetahuan saya dalil menasehati pemimpin
>>>> secara
>>>> tidak terang terangan adalah dalil yg biasa di pakai di kalangan salafi
>>>> itu
>>>> artinya sepengetahuan saya secara realitas di lapangan memang kalangan
>>>> salafi selalu merujuk kepada dalil itu. Tentu secara realitas pula
>>>> dilapangan setahu saya akan berbeda dgn beberapa kelompok yg sering
>>>> turun ke
>>>> jalan seperti HTI dsb karena mereka punya pendapat yg berbeda.
>>>> Pernyataan saya diatas tentang salafi itupun tidak bisa diartika bhwa
>>>> saya beranggapan suatu dalil dipakai atau ditolak karena sering
>>>> dipakai
>>>> oleh salafi, wahabi, syiah, dsb.
>>>>
>>>> Perlu di perhatikan pula oleh mba wheen tulisan saya dgn seksama dan
>>>> dalam tempo sesingkat singkatnya ....ups jadi proklamasi tuh hehehe
>>>> selingan
>>>> aja biar relax.....saya tidak pernah mengatakan "menolak" hadits tentang
>>>> menasehati pemimpin secara tidak terang terangan ini, saya inti nya
>>>> menyampaikan 2 pendapat tentang cara menyampaikan nasehat kepada
>>>> pemimpin
>>>> 1. Adalah pendapat yg sering di pakai umumnya oleh kalangan salafi yaitu
>>>> tidak boleh terang terangan
>>>> 2 dipakai oleh sebagian kelompok yg lain yg saya tidak sebutkan
>>>> kelompoknya dalam tulisan saya. Kelompok ini salah satunya menyandarkan
>>>> pendapatnya kepada peristiwa saat umar bin khatab diatas mimbar.
>>>>
>>>> Kenapa saya sampaikan 2 pendapat ini, karena walaupun saya tahu dalil2
>>>> dari 2 kelompok ini tetap saja saya bukan ahlinya,jadi mana mungkin saya
>>>> berani mengatakan yg ini telah memakai dalil yg benar yg ini memakai
>>>> dalil
>>>> yg salah
>>>>
>>>> Untuk itu saya singgung pula pak din yg dimata saya dia adalah seorang
>>>> alim ulama yg tentu ilmunya jauh seperti bumi dan langit ke 8(kalau
>>>> ada?)
>>>> bila dibandingkan dgn saya. Karena dari topik2 sebelumnya yg mengkritik
>>>> pemimpin adalah salah satunya pak din itu. Tentu beliau ahli di bidang
>>>> agama
>>>> insya allah telah mengetahui tatacara menasehati pemimpin dalam islam
>>>> dan
>>>> apa yg beliau lakukan tentu punya landasan dan telah mempertimbangkanya.
>>>>
>>>> Disinilah letak perbedaan saya dgn mba wheen, mba wheen menyatakan
>>>> langsung persetujuanya kepada salah seorang ulama seperti komentar mba
>>>> wheen
>>>> di atas artikel yg mba wheen kirim itu.sedangkan saya dalam komentar
>>>> hanya
>>>> memberikan gambaran ini loh...sebenarnya ada pendapat lain.
>>>>
>>>> demikian trima kasih
>>>>
>>>>
>>>> Sent from BlackBerry® on 3
>>>>
>>>> -----Original Message-----
>>>> From: whe.en9999@gmail.com
>>>> Sender: milis_iqra@googlegroups.com
>>>> Date: Sun, 23 Jan 2011 07:41:07
>>>> To: <milis_iqra@googlegroups.com>
>>>> Reply-To: milis_iqra@googlegroups.com
>>>> Subject: Re: [Milis_Iqra] Sahal Mahfudz: Kritik Boleh, Tapi Jangan Bikin
>>>> Gaduh
>>>>
>>>> Kali ini saya memberikan tanggapan bersamaan kepada mas Nandang, mas
>>>> Dani
>>>> dan mas Doer
>>>>
>>>> (Dani)
>>>> Memangnya menasehati pemimpin cuman sembunyi-sembunyi saja
>>>> http://rizkilesus.wordpress.com/2010/11/04/menasihati-penguasa-ngapain-juga-sembunyi-sembuny/
>>>>
>>>> (Whe-en)
>>>> Mas Dani, saya belum bisa buka linknya yang diberikan, namun pernyataan
>>>> mas Dani tentang Memangnya menasehati pemimpin cuman sembunyi-sembunyi
>>>> saja,
>>>> membuat saya bertanya2 mengingat yang memposting hadits menasehati
>>>> penguasa
>>>> caranya dibalik layar adalah mas Dani, apakah mas dani sudah menemukan
>>>> bahwa
>>>> dalil yang mas dani posting dulu harusnya ditolak?
>>>> Mohon share jika begitu, agar saya tahu kebenarannya, karena bukankah
>>>> orang yang sombong menurut Rasulullah adalah orang yang menolak
>>>> kebenaran?
>>>>
>>>> (Nandang)
>>>> Kelihatanya mba wheen sangat sibuk,padahal saya sudah meminta beliau
>>>> untuk memposting jawaban untuk mas doer,karena setahu saya beliu lebih
>>>> tahu
>>>> dan pernah mempostingnya
>>>>
>>>> (Whe-en)
>>>> Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang
>>>> mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta'ala akan mempermudah
>>>> urusannya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)
>>>>
>>>> Mas Nandang, saya fikir, ketika mas Nandang bilang mengerti kesibukan
>>>> saya mas Nandang benar2 mengerti keadaan saya.
>>>>
>>>> Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang
>>>> tidak menaruh belas kasihan terhadap sesamanya, maka Allah ta'ala tidak
>>>> akan
>>>> mengasihinya." (HR. Muslim)
>>>>
>>>> Jika saya pernah mempostingnya apa perlu diposting lagi mas Nandang?
>>>> Hehheheh
>>>>
>>>> Kembali ke masalah pokok,
>>>> Mas Nandang berpendapat Setahu saya ini adalah dalil yg sering di pakai
>>>> oleh kalangan salafi
>>>>
>>>> Pendapat whe-en, suatu dalil dipakai atau ditolak bukan karena sering
>>>> dipakai oleh salafi, wahabi, syiah, dsb namun kedudukan hadits tersebut.
>>>>
>>>> Termasuk hadits dibawah, diterima dan tidaknya pasti bukan karena salafi
>>>> sering menggunakannya:
>>>>
>>>> Dari Iyadh bin Ghunaim radhiallohu 'anhu berkata, bersabda Rasul
>>>> sholallohu 'alaihi wa sallam:
>>>>
>>>> "Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka janganlah melakukannya
>>>> dengan terang-terangan di hadapan umum. Akan tetapi dengan cara
>>>> mengambil
>>>> tangan penguasa tersebut dan menyendiri. Jika ia menerimanya maka inilah
>>>> yang diharapkan, jika tidak menerimanya maka ia telah melakukan
>>>> kewajibannya." (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al-Hakim, dan Baihaqi.
>>>> Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Adz-Dzilal)
>>>>
>>>> Merujuk kepada firman Allah :
>>>> Dan tidaklah patut bagi laki-laki maupun perempuan mu'min, apabila ALLAH
>>>> dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan dalam urusan mereka, mereka
>>>> memilih
>>>> pilihan lain. Barangsiapa mendurhakai ALLAH dan Rasul-Nya, sungguh, dia
>>>> telah nyata-nyata sesat." (Q.S. Al Ahzab: 36)
>>>>
>>>> Apakah pendapat mas Nandang memperbolehkan menasehati penguasa dengan
>>>> terang2an tidak melanggar firman Allah tersebut mas?
>>>>
>>>> Soalnya dalil tadi dan berikut setahu saya dipakai untuk acuan bagaimana
>>>> menasehati pemimpin, kepada mas Doer maupun mas Nandang, apabila
>>>> menemukan
>>>> dalil tersebut ditolak mohon memberitahu saya:
>>>>
>>>> Mohon maaf baru sempat menjawab sekarang mas Doer, disamping saya pernah
>>>> mempostingnya, saya juga ada kesibukan di luar kantor yang tidak
>>>> memungkinkan saya browsing, dan Insya Allah minggu depan masih.
>>>>
>>>> "Penguasa adalah naungan Alloh di muka bumi, maka barangsiapa yang
>>>> menghinakan penguasa maka Alloh akan menghinakannya, barangsiapa yang
>>>> memuliakan penguasa maka Alloh akan memuliakannya." (HR. Ibnu Abi Ashim,
>>>> Ahmad, At-Thayalisi, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh
>>>> Syaikh
>>>> Al-Albani dalam Adz-Dzilal)
>>>>
>>>> Bagaimana dengan yang ini mas Nandang?
>>>> Bisa menerangkan kepada saya jika ditolak?
>>>>
>>>> Dari Ubaidah bin Khiyar berkata: "Aku mendatangi Usamah bin Zaid
>>>> radhiallohu 'anhu dan aku mengatakan: "Kenapa engkau tidak menasehati
>>>> Ustman
>>>> bin Affan untuk menegakkan hukum had atas Al-Walid?" Maka Usamah
>>>> berkata:
>>>> "Apakah kamu mengira aku tidak menasehatinya kecuali harus dihadapanmu?
>>>> Demi
>>>> Alloh, sungguh aku telah menasehatinya secara sembunyi-sembunyi antara
>>>> aku
>>>> dan ia saja. Dan aku tidak ingin membuka pintu kejeleken dan aku tidak
>>>> ingin
>>>> menjadi orang yang pertama kali membukanya." (Atsar yang shahih
>>>> diriwayatkan
>>>> oleh Bukhari dan Muslim)
>>>>
>>>> Bagaimana dengan yang berikut?
>>>> Jika ditolak, mohon menerangkan kepada saya alasan ditolaknya hadits
>>>> tersebut
>>>>
>>>> Dari Wail bin Hujr radhiallohu 'anhu berkata: Kami bertanya: "Yaa
>>>> Rasululloh, bagaimaan pendapatmu jika penguasa kami merampas hak-hak
>>>> kami
>>>> dan meminta hak-hak mereka?" Beliau bersabda: "Mendengar dan taatlah
>>>> kalian
>>>> kepada mereka maka sesungguhnya bagi merekalah balasan amalan mereka dan
>>>> bagi kalianlah pahala atas kesabaran kalian." (HR. Muslim)
>>>>
>>>> Dari Anas radhiallohu 'anhu berkata: "Bersabda Rasul sholallohu 'alaihi
>>>> wa sallam: "Kalian akan menjumpai sesudahku atsarah (pemerintah yang
>>>> tidak
>>>> menunaikan hak-hak rakyatnya tapi selalu meminta hak-haknya) maka
>>>> bersabarlah sampai kalian berjumpa denganku." (HR. Bukhari dan Muslim)
>>>>
>>>> Dari Abu Hurairah radhiallohu 'anhu berkata, bersabda Rasululloh
>>>> sholallohu 'alaihi wa sallam: "Kelak akan terjadi para penguasa dan
>>>> mereka
>>>> mengumpulkan harta-harta (korupsi)." Maka kami bertanya: "Maka apa yang
>>>> engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab: "tunaikanlah baiat yang
>>>> pertama, tunaikanlah hak-hak penguasa, sesungguhnya Alloh akan bertanya
>>>> pada
>>>> mereka atas apa-apa yang mereka lakukan terhadap kalian." (HR. Bukhari
>>>> dan
>>>> Muslim)
>>>>
>>>> Dari Mu'awiyah radhiallohu 'anhu berkata, ketika Abu Dzar radhiallohu
>>>> 'anhu keluar ke Ar-Rubdzah, beberapa orang Iraq menemuinya dan berkata:
>>>> "Wahai Abu Dzar, angkatlah bendera bersama kami maka orang-orang akan
>>>> mendatangi kamu dan tunduk kepadamu." Maka Abu Dzar berkata: "Tenang
>>>> wahai
>>>> Ahlul Islam, sesungguhnya aku mendengar Rasululloh bersabda: 'Kelak akan
>>>> ada
>>>> sesudahku penguasa maka muliakanlah ia, barangsiapa yang menghinakannya
>>>> maka
>>>> ia telah berbuat kehancuran dalam Islam dan tidak akan diterima
>>>> taubatnya
>>>> sampai ia mengembalikan kehancuran umat ini menjadi seperti semula.'
>>>> (HR.
>>>> Ahmad dan Ibnu Abi Ashim. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam
>>>> Adz-Dzilal)
>>>>
>>>> Itu dulu ya mas
>>>> Insya Allah bersambung jika kita ada waktu luang
>>>>
>>>> Wassalam
>>>> Whe-en
>>>>
>>>> Sent from my BlackBerry®
>>>> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>>>>
>>>> -----Original Message-----
>>>> From: Dani Permana <adanipermana@gmail.com>
>>>> Sender: milis_iqra@googlegroups.com
>>>> Date: Sat, 22 Jan 2011 18:06:16
>>>> To: <milis_iqra@googlegroups.com>
>>>> Reply-To: milis_iqra@googlegroups.com
>>>> Subject: RE: [Milis_Iqra] Sahal Mahfudz: Kritik Boleh, Tapi Jangan Bikin
>>>> Gaduh
>>>>
>>>> (Nandang)Kelihatanya mba wheen sangat sibuk,padahal saya sudah meminta
>>>> beliau untuk memposting jawaban untuk mas doer,karena setahu saya beliu
>>>> lebih tahu dan pernah mempostingnya
>>>>
>>>> (Dani) seharusnya memang begitu, orang yang mengutarakan sesuatu maka
>>>> dialah yang harus mempertanggungjawabkan bukan mengalihkan
>>>> pertanggungjawaban kepada orang lain dengan alasan sibuk.
>>>>
>>>> Ada sedikit artikel beda dr yang biasanya diposting....
>>>>
>>>> Memangnya menasehati pemimpin cuman sembunyi-sembunyi saja
>>>> http://rizkilesus.wordpress.com/2010/11/04/menasihati-penguasa-ngapain-juga-sembunyi-sembuny/
>>>>
>>>> Namun tetap saja saya tidak setuju Demonstrasi.
>>>>
>>>>
>>>> Dani Permana
>>>> Sent from my Windows Mobile® phone.
>>>>
>>>> -----Original Message-----
>>>> From: aendangzr@yahoo.co.id
>>>> Sent: Saturday, January 22, 2011 5:12 PM
>>>> To: milis_iqra@googlegroups.com
>>>> Subject: Re: [Milis_Iqra] Sahal Mahfudz: Kritik Boleh, Tapi Jangan Bikin
>>>> Gaduh
>>>>
>>>> Kelihatanya mba wheen sangat sibuk,padahal saya sudah meminta beliau
>>>> untuk memposting jawaban untuk mas doer,karena setahu saya beliu lebih
>>>> tahu
>>>> dan pernah mempostingnya
>>>>
>>>> Pertanyaan saya ,mungkinkah pak din syamsuddin tidak tahu tatacara
>>>> menasehati dalam islam? Adalah sebenarnya sebuah sindiran kepada tulisan
>>>> mba
>>>> wheen dalam komentar di artikel yg dia posting sendiri
>>>>
>>>> "Saya setuju dengan pendapat KH Sahal M , apalagi menasehati pemimpin
>>>> ada
>>>> tatacaranya sendiri dalam Islam, sudah dicontohkan oleh Rasulullah."
>>>>
>>>> Mungkin juga pertanyaan mas doer "bagamana mengkritik dalam
>>>> islam?"adalah
>>>> hanya sebuah sindiran juga......karena yg kita tahu pak din adalah orang
>>>> alim.....hehehehehe
>>>>
>>>> Setahu saya ini adalah dalil yg sering di pakai oleh kalangan salafi
>>>>
>>>> "barang siapa yang hendak menasehati penguasa pada suatu perkara maka
>>>> JANGAN DIA TAMPAKKAN KEPADANYA SECARA TERANG-TERANGAN, melainkan
>>>> hendaklah
>>>> dia pegang tangannya dan menyendiri dengannya, kalau dia (penguasa)
>>>> menerima
>>>> maka itu bagus, dan kalau tidak, maka dia telah menunaikan kewajibannya
>>>> memberikan nasihat".(diriwayatkan oleh al-imam Ahmad dalam Musnad-nya :
>>>> 3/403 dan Ibnu Abi Ashim dalam as-sunnah hlm.507 dan dishohihkan oleh
>>>> Syaikh
>>>> al-Albani dalam zhilalul-Jannah : 1096).
>>>>
>>>> Menurut mererka ,Jika terjadi kesalahan pada para penguasa maka yang
>>>> wajib adalah menasehati mereka dengan cara yang syar'I dan ittiba'
>>>> kepada
>>>> jalan salafush-sholih yaitu dengan menasehatinya secara
>>>> sembunyi-sembunyi,
>>>> bukan dengan cara demonstrasi, provokasi, dan agitasi,
>>>> .mungkin juga dalil ini yg digunakan salah satu ulama saudi yg pernah
>>>> suatu waktu mengharamkan demonstrasi
>>>>
>>>> Tapi sebenarnya mungkin hadits ini berlaku untuk pemimpin yg melakukan
>>>> kesalahan pribadi nya dgn Allah dan hanya berdampak untuk pribadinya
>>>> saja.setiap manusia punya aib pribadi dan seorang muslim wajib menutup
>>>> aib
>>>> saudaranya
>>>>
>>>> --
>>>>
>>>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>>>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>>>
>>>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>>>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>>>
>>>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>>>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>>>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>>>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>>>>
>>>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>>>
>>>> --
>>>>
>>>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>>>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>>>
>>>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>>>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>>>
>>>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>>>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>>>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>>>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>>>>
>>>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>>>
>>>> --
>>>>
>>>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>>>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>>>
>>>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>>>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>>>
>>>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>>>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>>>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>>>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>>>>
>>>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>>>
>>>> --
>>>>
>>>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>>>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>>>
>>>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>>>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>>>
>>>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>>>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>>>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>>>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>>>>
>>>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>>>
>>>
>>> --
>>>
>>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>>
>>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>>
>>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>>
>>>
>>> --
>>>
>>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>>
>>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>>
>>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>>>
>>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>>
>>
>> --
>>
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>
>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>
>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>>
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>
>
>
>
> --
> ~~~~~
> Whe~en
> http://wheen.blogsome.com/
>
> "Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan
> lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS
> 20 : 25-28)
> "Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment