Coba M WN baca, yang mendatail dari apa yang M WN sudah copy paste kembali… terutama dari yang saya high light hijau…
========
(Dani Permana)
Sebagaimana di artikel yang M WN forward "Sanad hadits ini (Iyad bin Ghaninm) adalah lemah, karena keterputusan antara Syuraih dengan 'Iyaadl dan Hisyaam. Jadi BUKAN saya yang mendho'ifkan dan bukan saya juga yang mengatakan sanadnya terputus.
Cobalah M N juga menjawab pertanyaan2 dari saya, biar adil gitu?
(whe~en)
Sanad hadits ini lemah karena inqithaa' (keterputusan) antara Syuraih dengan 'Iyaadl dan Hisyaam.
Akan tetapi inqithaa' ini disambung oleh Ibnu Abi 'Aashim (no. no. 1097) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Auf : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismaa'iil : Telah menceritakan ayahku, dari Dlamdlam bin Zur'ah, dari Syuraih bin 'Ubaid, ia berkata : Telah berkata Jubair bin Nufair, ia berkata : Telah berkata 'Iyaadl bin Ghanm kepada Hisyaam bin Hakiim : "Tidakkah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : '….(al-hadits)….".
Sanad riwayat ini juga lemah karena kelemahan Muhammad bin Ismaa'iil bin 'Ayyaasy. Selain itu, penyimakannya dari ayahnya dikritik oleh Abu Haatim [Tahdziibul-Kamaal, 24/483-484 no. 5067].
[Dani Permana] Bisa disambungkan hadistnya ….. "Tidakkah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : '….(al-hadits)…."."
Syuraih mempunyai mutaba'ah dari 'Abdurrahmaan bin 'Aaidz Al-Azdiy sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi 'Aashim (no. 1098) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Auf : Telah menceritakan kepada kami 'Abdul-Hamiid bin Ibraahiim, dari 'Abdullah bin Saalim, dari Az-Zubaidiy, dari Al-Fudlail bin Fadlaalah, ia mengembalikannya kepada Ibnu 'Aaidz, dan Ibnu 'Aaidz mengembalikannya kepada Jubair bin Nufair, dari 'Iyaadl bin Ghanm, ia berkata kepada Hisyaam bin Al-Hakiim : "…..(al-hadits)….".
Sanad riwayat ini lemah karena 'Abdul-Hamiid bin Ibraahiim. Hapalannya tercampur setelah kitab-kitabnya hilang [At-Taqriib, hal. 563 no. 3775].
'Abdul-Hamiid bin Ibraahiim mempunyai mutaba'ah dari 'Amru bin Al-Haarits Al-Himshiy. Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 17/367 no. 1007, Al-Haakim 3/290, dan Al-Bukhaariy dalam At-Taariikh Al-Kabiir 7/18-19 dari jalan Ishaaq bin Ibraahiim bin Zibriiq, dari 'Amru bin Al-Haarits Al-Himshiy, dari 'Abdullah bin Saalim, selanjutnya seperti sanad di atas.
Sanad hadits ini lemah karena Ishaaq bin Ibraahiim bin Zibriiq. Ia seorang yang shaduuq, namun periwayatannya dari 'Amru bin Al-Haarits adalah lemah dan ditinggalkan.
Dapat kita lihat bahwa dalam setiap thabaqah sanad saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Kelemahan masing-masing sanad bukanlah jenis kelemahan yang tidak menerima penguat berupa mutaba'aat. Oleh karena itu, hadits ini tidak jatuh lebih rendah dari derajat hasan. Bahkan, beberapa ulama telah men-jazm-kan dengan keshahihan seperti Al-Albaaniy, Al-Arna'uth, Ibnu Barjaas, Baasim Al-Jawaabirah, dan Hamzah Az-Zain.
[Dani Permana] Pertanyaan dari saya
· Jika hadist ini sahih, mengapa hanya "Al-Albaaniy, Al-Arna'uth, Ibnu Barjaas, Baasim Al-Jawaabirah, dan Hamzah Az-Zain." Yang men-jazm-kan Sahih, bagaimana yang lainnya?
· Apa maksud dari Thabaqah Sanad saling menguatkan satu dengan yang lainnya?
· Apa yang dimaksud dengan mutaba'at?
No comments:
Post a Comment