Wednesday, January 26, 2011

RE: [Milis_Iqra] Sahal Mahfudz: Kritik Boleh, Tapi Jangan Bikin Gaduh

 

From: milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com] On Behalf Of whe - en

Saya tambahin lagi mas:
semoga bermanfaat, karena kita kan tidak tahu kenapa hadits tersebut tidak tercantum dalam musnad beliau beliau:
Seterusnya saya tunggu jawaban untuk pertanyaan saya mas dani

Al Imam Al Hafidz Abul Hasan `Ali bin `Umar Ad-Daruquthni rahiamhullahu ta'ala dan beberapa ulama lain telah memastikan bahwa Al Bukhari dan Muslim telah meninggalkan (tidak mencantumkan) beberapa hadits yang sebenarnya memenuhi syarat shahih dalam kitab Ash-Shahihain.Hadits-hadits yang tidak dicantumkan di dalam kitab Shahihain sebenarnya telah diriwayatkan oleh sekelompok sahabat radliallahu `anhum dan para perawi yang tidak memiliki cacat dan aib.

 [Dani Permana] pertanyaan saya, mengapa Al Bukhori melakukan demikian?

Ad-Daruquthni dan Al Harawi telah menyusun karya yang menghimpun hadits-hadits shahih yang tidak sempat disebutkan oleh Al Bukhari dan Muslim di dalam Ash-Shahihain.

[Dani Permana] apakah Imam Daruqutni memasukan Hadist Iyad Bin Ghanim dalam Kitab Sahihnya?

Mohon tanggapannya?  

 

 

2011/1/27 whe - en <whe.en9999@gmail.com>

(Dani)

 

M WN, saya bertanya hal berikut ini, bukan lainnya

1.     Knapa hadist "Iyadl bin ghanim " tentang Cara menasehati penguasa hanya ada dalam Musnad Ahmad, Ibnu 'Abi Ashim dalam As Sunnan, Ibnu 'Ady dalam Al Kamil?

2.     Knapa Imam Bukhori, Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa'I, Al Muwatha Imam Malik, Al Um Imam Asy Syafi'I, Sunan Ad Darimi tidak ada?

3.     Jika memang hadist tersebut tidak dipermasalahkan kesahihannya, mengapa seorang Imam Bukhori dan Imam Muslim tidak memasukan dalam kitab Sahihnya?

(Whe~en)

Definisi hadits shahih:

Menurut Ibnu Sholah, hadits shahih ialah hadits yang bersambung sanadnya. Ia diriwayatkan oleh orang yang adil lagi dhobit (kuat ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak mu'allal (tidak cacat). Jadi hadits Shahih itu memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :

1.    Kandungan isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur'an.

2.    Harus bersambung sanadnya

3.    Diriwayatkan oleh orang / perawi yang adil.

4.    Diriwayatkan oleh orang yang dhobit (kuat ingatannya)

5.    Tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)

6.    Tidak cacat walaupun tersembunyi.

 

Kalau pertanyaannya kenapa tidak ada, bagaimana saya harus menjawabnya karena yang tahu pasti yang menyusun kitab, apalagi ternyata definisi hadits shahih tidak ada kalimat harus ada dalam Musnad Ahmad, Ibnu 'Abi Ashim dalam As Sunnan, Ibnu 'Ady dalam Al Kamil,Imam Bukhori, Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa'I, Al Muwatha Imam Malik, Al Um Imam Asy Syafi'I, Sunan Ad Darimi.

Saya ingat ucapan keempat Imam bahwa jika ada hadits yang shahih pendapat mereka gugur, apakah menurut mas Dani beliau beliau yang menyusun Musnad pernah menyatakan bahwa yang tidak beliau beliau riwayatkan berarti tidak shahih? (mohon dijawab)
Tidak satupun ulama mengatakan bahwa kita harus bertaqlid kepada beliau beliau.

Hukum Allah dan Rasul-Nya
Pesan-pesan Imam Madzhab kepada Ummat Islam :
Imam Abu Hanifah berkata :
1. Tinggalkanlah perkataan (pendapatku) yang berlawanan dengan firman Allah dan Sabda Rasul-Nya dan perkataan shahabat.

2.Tidak halal bagi seseorang yang berkata dengan perkataan kami hingga mengetahui dari mana kami mengatakannya.

3.  Haram atas orang yang belum mengetahui dalil (alasan) fatwaku untuk berfatwa dengan perkataanku.

4.  Bahwasanya Imam Abu Hanifah pernah ditanya : "Bagaimana apabila engkau mengatakan suatu pendapat, sedangkan Kitab Allah menyalahkannya ?" Beliau menjawab : "Tinggalkanlah pendapatku dan ikutilah Kitab Allah". Lalu beliau ditanya lagi : "Bagaimana kalau hadits Rasulullah SAW menyalahkannya ?" Beliau menjawab: 'Tinggalkanlah pendapatku dan ikutilah hadits Rasulullah SAW ?" Dan beliau ditanya lagi : "Bagaimana kalau perkataan shahabat menyalahkannya ?". Beliau menjawab : "Tinggalkanlah pendapatku dan ikutilah perkataan shahabat itu''.
Jika pendapatku menyalahi Kitab Allah dan Sunnah Rasul, maka tinggalkanlah pendapatku itu.

5.  Dan beliau (Imam Abu Hanifah) apabila memberi fatwa tentang suatu perkara, mengatakan :
Ini pendapat An-Nu'man bin Tsabit (Imam Abu Hanifah), dan ini sebaik-baik yang telah kami pertimbangkan. Barang siapa yang datang dengan membawa yang lebih baik dari padanya, maka itulah yang lebih pantas dengan kebenaran.

Perkataan-perkataan Imam Abu Hanifah di atas jelas memberikan pengertian kepada kita bahwa beliau tidak suka dan melarang ummat Islam bertaqlid kepada pendapat (madzhab) beliau.

Imam Malik berkata :
1.  Aku ini hanya seorang manusia yang boleh jadi salah, dan boleh jadi betul. Oleh karena itu, perhatikanlah pendapatku. Tiap-tiap yang cocok dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul, ambillah dia dan tiap-tiap yang tidak cocok dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul, maka tinggalkanlah.
2.  Setiap orang boleh diambil perkataannya dan boleh pula ditolak, kecuali perkataan penghuni qubur ini (beliau sambil menunjuk kearah makam yang mulia (makam Nabi SAW). Dan dalam riwayat lain : "Semua perkataan orang itu boleh diterima dan boleh ditolak, kecuali perkataan penghuni qubur ini".
3.  Sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa, yang boleh jadi benar dan boleh jadi salah, maka dari itu bandingkanlah pendapatku itu kepada kitab dan sunnah.
4.  Tidak setiap pendapat yang dikatakan oleh seseorang itu harus diikut, walaupun dia mempunyai kelebihan.

5.  Beliau pernah berpesan kepada Ibnu Wahab, katanya :
Wahai Abdullah, apa-apa yang telah kau ketahui, maka katakanlah dengannya dan tunjukkanlah dasarnya, dan apa-apa yang engkau belum mengetahuinya, maka hendaklah engkau diam darinya, dan jauhkanlah dirimu dari bertaqlid kepada orang dengan taqlid yang buruk.


Perkataan-perkataan Imam Malik di atas, jelas menunjukkan bahwa orang beragama itu jangan bertaqlid saja kepada pendapat orang, termasuk bertaqlid kepada pendapat beliau sendiri, karena beliau itupun manusia biasa yang fatwa atau pendapatnya bisa juga benar, dan bisa juga salah. Tetapi hendaknya mengikut kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.

Imam Syafi'i berkata :
1.  Tidak boleh diterima perkataan seseorang jika berlawanan dengan sunnah Rasulullah SAW.
2.  Apabila telah shah satu hadits, maka itulah madzhabku.
3.  Apabila sah khabar dari Nabi SAW yang menyalahi madzhabku, maka ikutlah khabar itu, dan ketahuilah bahwa itulah madzhabku.
4.  Tiap-tiap masalah yang pernah saya bicarakan, kemudian ada hadits yang riwayatnya sah dari Rasulullah SAW dalam masalah itu di sisi ahli hadits dan menyalahi fatwaku, maka aku ruju' (tarik kembali) dari fatwaku itu diwaktu aku masih hidup maupun sesudah mati.
5.  Apabila kalian dapati di dalam kitabku sesuatu yang menyalahi sunnah Rasulullah SAW, maka hendaklah kalian berkata dengan sunnah Rasulullah SAW (dan tinggalkanlah perkataanku).
6.  Apabila kalian mendapati pendapatku menyalahi perkataan Rasulullah SAW, maka lemparkanlah pendapatku ketepi dinding.
7.  Apasaja yang telah aku katakan, apabila Nabi SAW telah mengatakan dengan menyalahi perkataanku, maka apa yang telah shah dari hadits Nabi SAW itulah yang lebih pantas (untuk diambil), dan janganlah kalian bertaqlid kepadaku.
8.  Apabila telah sah suatu hadits dan menyalahi pendapatku, maka buanglah pendapatku ke arah dinding, dan amalkanlah olehmu dengan hadits yang kokoh kuat itu.
9.  Tiap-tiap sesuatu yang menyalahi perintah Rasulullah SAW jatuhlah ia, dan tidak bisa digunakan bersamanya pendapat dan tidak pula qiyas.
10.  Kata Imam Syafi'i kepada Abu Ishaq :
Hai Abu Ishaq, janganlah kamu bertaqlid kepadaku pada setiap apa yang aku katakan, dan perhatikanlah yang demikian itu untuk dirimu, karena ia itu agama.


Perkataan-perkataan Imam Syafi'i di atas adalah jelas melarang orang bertaqlid kepada madzhab beliau, dan memerintahkan supaya orang beragama itu mengikut kepada kitab Allah dan sunnah Nabi SAW.


Imam Ahmad bin Hanbal berkata :
1. Jangan engkau bertaqlid kepadaku, jangan kepada Malik, jangan kepada Syafi'i dan jangan kepada Al-Auza'i dan jangan kepada Ats-Tsauri, tetapi ambillah (agamamu) dari tempat mereka mengambilnya (yaitu Al-Qur'an dan Hadits).
2.  Diantara tanda sedikitnya pengertian seseorang itu ialah bertaqlid kepada orang lain tentang urusan agama.
3. Janganlah engkau bertaqlid terhadap seseorang tentang agamamu.
4. Janganlah kamu bertaqlid tentang agamamu kepada seseorang di antara mereka (para ulama), tetapi apa yang datang dari Nabi SAW dan shahabatnya, maka ambillah dia.
5.  Hendaklah kamu memperhatikan tentang urusan agamamu, karena sesungguhnya taqlid kepada orang yang tidak ma'shum itu tercela, dan padanya ada kebutaan bagi kecerdikan pandangan.
6. Janganlah kamu bertaqlid kepada orang-orang tentang agamamu, karena sesungguhnya mereka itu tidak terjamin dari kesalahan.


Perkataan-perkataan Imam Ahmad bin Hanbal di atas jelas melarang orang-orang untuk bertaqlid, baik bertaqlid kepada madzhab beliau sendiri maupun kepada imam-imam atau ulama-ulama yang lain.


Itulah antara lain ucapan-ucapan dari beliau-beliau para imam itu, dengan jujur melarang siapa saja untuk mengikuti pendapat/madzhab mereka.

Dengan teks arab silahkan lihat:

http://habibiy.multiply.com/reviews/item/12

 

Setelah ini silahkan menjawab pertanyaan pertanyaan saya agar tidak melebar kemana mana bahasannya


Thx & Regards
Whe~en

 

 

 

2011/1/27 whe - en <whe.en9999@gmail.com>

 

BERAMAL DENGAN HADITS DHOIF
(
ketika mas dani sudah menyatakan tahu lama suatu hadits itu dhoif, apakah mas dani sudah melakukan persyaratan menggunakan hadits dhoif tersebut? sampai kapanpun ditangguhkan jawabannya, akan saya tunggu)

Ketahuilah !! Sesungguhnya ulama-ulama kita yang TELAH MEMBOLEHKAN beramal dengan hadist-hadist dhå'if, (namun mereka) telah membuat BEBERAPA PERSYARATAN yang SANGAT BERAT dan KETAT. Persayaratan tersebut tidak akan dapat dipenuhi kecuali oleh mereka (ulama) yang membuatnya atau ulama-ulama yang memiliki kemampuan sangat tinggi dalam ilmu hadistnya (para muhadist).

 

Dibawah ini saya turunkan sejumlah persyaratan yang telah dibuat oleh para ulama kita Kemudian , saya iringi dengan beberapa keterangan yang sangat berfaedah. Insya Allahau ta'ala.

 

Syarat pertama

Hadist tersebut khusus untuk fadhailul amal atau targhib dan tarhib. Tidak boleh untuk aqidah atau ahkam (spt hukum halal, haram ,wajib, sunat , makruh) atau tafsir Qur'an. Jadi , seorang yang akan membawakan hadist-hadist dhå'if , terlebih dahulu HARUS MENGETAHUI mana hadist dhå'if yang MASUK bagian fadha ilul a'mal dan mana hadist dhå'if yang masuk bagian aqidah atau ahkam.

 

Tentu saja persyaratan pertama ini CUKUP BERAT dan tidak sembarang orang dapat mengetahui perbedaan hadist-hadist dhå'if diatas kecuali mereka YANG BENAR-BENAR AHLI HADIST.

 

Syarat kedua

Hadist tersebut TIDAK SANGAT DHOIF apalagi MAUDHU' , BATIL , MUNGKAR dan Hadist-hadist yang TIDAK ADA ASALNYA.

 

Yakni, yang boleh dibawakan hanyalah hadist-hadist yang ringan (kelemahannya). Persyaratan kedua ini LEBIH BERAT dan SULIT dibandingkan dengan syarat yang pertama. Karena, untuk mengetahui suatu hadist itu derajatnya SHAHIH , HASAN, dhå'if ringan , sangat dhå'if , dan seterusnya.

 

Bukanlah pekerjaan yang mudah sebagaimana telah dimaklumi oleh mereka yang faham betul dengan ilmu yang mulia ini.

 

Pekerjaan tersebut merupakan yang sangat berat sekali yang hanya dapat dikerjakan oleh para AHLI HADIST yang benar-benar ahli. Dan persyaratan kedua inipun DILANGGAR besar-besaran . Berapa banyak hadist yang batil dan mungkar , sangat dhå'if , (apalagi) maudhu' ,yang tidakada asalnya yang mereka sebarkan dengan lisan maupun tulisan.

 

Syarat ketiga

Hadist tersebut TIDAK BOLEH DI-I'TIQODKAN (diyakini) sebagai sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam sebab bisa terkena ancaman beliau : yakni berdusta atas nama beliau. (Dapat dibaca tulisan saya : Ancaman berdusta atas nama Nabi Shalallahu alaihi wa sallam). Persyaratan ketiga ini SAMA SEKALI tidak dapat dipenuhi, yang membawakan dan mendengarkan betul-betul MENYAKINI sebagai sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam

 

Syarat keempat

Hadist tersebut harus mempunyai dasar yang umum dari hadist yang shahih . Persyaratan yang ke-4 ini selain susah dan lagi-lagi mereka tidak dapat memenuhinya, juga apabila TELAH ADA hadist yang shahih untuk apalagi segala macam hadist-hadist yang dhå'if.

 

Syarat kelima

Hadist tersebut TIDAK BOLEH DIMASYHURKAN (DIPOPULERKAN). Menurut Imam ibnuHajar rahimahulllah , apabila hadist-hadist dhå'if itu dipopulerkan, niscaya akan terkena ancaman berdusta atas nama nabi Shalallahu alaihi wa sallam.

 

Syarat keenam

Wajib memberikan bayan (PENJELASAN) bahwa hadist tersebut dhå'if saat menyampaikan atau membawakannya. Kalau tidak , niscaya mereka terkena kepada kepada ancaman menyembunyikan ilmu dan masuk ke dalam ancaman Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :" Ancaman berdusta atas nama Nabi Shalallahu alaihi wa sallam".

 

Demikian ketetapan para muhaqiq dari ahli hadist dan ulama ushul sebagaimana diterangkan oleh Abu Syaamah (baca Tamaamul minnah : Al Bani hal :32)
Inilah hukum orang yang "diam", tidak menjelaskan hadist-hadist dhå'if yang ia bawakan untuk fadhailul a'mal.

 

Syarat ketujuh

Dalam membawakannya TIDAK BOLEH menggunakan lafadz-lafadz jazm (yang menetapkan) seperti :"Nabi shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda atau mengerjakan sesuatu atau memerintahkan dan melarang dan lain-lain yang menunjukkan ketetapan atau kepastian bahwa Nabi Shalallahu alaihi wa sallam BENAR-BENAR bersabda dan seterusnya.

 

Tetapi wajib menggunakan lafadz TAMRIDH (yaitu lafadz yang TIDAK MENUNJUKKAN sebagai sesuatu ketetapan) ,

 

Seperti : Telah diriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam dan yang serupa dengannya dari lafadz tamridh sebagaimana telah dijelskan oleh imam Nawawi dalam muqoddimah kitabnya al majmu'syarah muhadzdzab (1/107) dan para ulama lainnya.

 

Persyaratannya yang terakhir ini , selain mereka tidak memiliki kemampuan , juga tidak bisa dipakai lagi pada jaman kita sekarang (dimana ilmu hadist sangat gharib / asing sekali).

 

Karena kebanyakan dari ahli ilmu sendiri (kecuali ahli hadist) teristimewa kaum khutobaa / para khatib dan orang awam tidak dapat membedakan antara lafadz jazm dan tamridh.

 

Lengkapnya lihat:

Berhati-Hati Dalam Meriwayatkan Hadist Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam Dan Beberapa Kesalahan Dalam Meriwayatkan Dan Hukum Meriwayatkan Dan Mengamalkan Hadist-Hadist dhå'if Untuk Fadhaa-Ilul A'mal , Tagrib Dan Tarhib Dan Lain-Lain, Penulis: Al-Ustadz Abdulhakim bin Amir Abdat hafizhåhullåh

http://abuzuhriy.com/?p=530


regards
whe~en



---------- Forwarded message ----------
From: Dani Permana <adanipermana@gmail.com>

Date: 2011/1/26
Subject: RE: [Milis_Iqra] Tentang Hadist "'Iyadl bin ghanim " - Tanggapan
To: milis_iqra@googlegroups.com

M WN, saya bertanya hal berikut ini, bukan lainnya

1.     Knapa hadist "Iyadl bin ghanim " tentang Cara menasehati penguasa hanya ada dalam Musnad Ahmad, Ibnu 'Abi Ashim dalam As Sunnan, Ibnu 'Ady dalam Al Kamil?

2.     Knapa Imam Bukhori, Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa'I, Al Muwatha Imam Malik, Al Um Imam Asy Syafi'I, Sunan Ad Darimi tidak ada?

3.     Jika memang hadist tersebut tidak dipermasalahkan kesahihannya, mengapa seorang Imam Bukhori dan Imam Muslim tidak memasukan dalam kitab Sahihnya?

[Wheen] Ada syarat2 menggunakan hadits dhoif sebagai hukum, saya tahu mas dani lebih tahu itu, pertanyaan inipun sampai kapan akan ditangguhkan. Jika mas dani menganut paham hadits ini dhoif, kenapa mas dani menggunakannya?

[Dani] agar lebih spesifik, hadist dho'if itu bisa digunakan pada hal apa dahulu? Mohon kiranya memberikan tanggapan.

 

[Wheen] Orang sombong adalah orang yang menolak kebenaran.



Berlaku adillah karena adil lebih dekat kepada taqwa.

Katakan yang hak itu hak dan sebaliknya.

[Dani]

1.     Apakah saya sombong hingga menolak kebenaran?

2.     Apakah saya tidak adil?

3.     Apakah saya tidak mengatakan yang haq?

Mohon klarifikasinya?

 

 

Regards,
Dani Permana

" Always desire to learn something useful."

 

2011/1/26 Dani Permana <adanipermana@gmail.com>

 

 

[Dani Permana] Saya bukanlah ahli hadist/muhadist jadi jangan mempertanyakan sesuatu yang bukan pada ahlinya.

(Whe-en)
Jangan bermain dengan kata kata terus mas Dani.
Fokuslah karena ini diskusi

 

[Dani Permana] loh kalau saya bukan ahli haidst masa di bilang bermain kata-kata….. hahahahah masa saya mengaku-ngaku Neh saya ahli hadist….



Bukankah kemarin mas dani sendiri yang minta saya yang memulai memposting dari jalur mana syaikh Albani menshohihkan, lalu kita bahas, mas Dani sudah memposting dhoifnya hadits ini dan mas dani sudah tahu lama, koq sekarang bilang tidak tahu.

 

[Dani Permana] Saya Quote pernytaan M WN "saya sendiri tidak mampu mentakhrij-nya, jadi silahkan jika memang mau menerangkan kepada saya, lebih kuat mana yang mentakhrij dhoif atau shahih,"  

 

Melihat jenis pertanyaannya "lebih kuat mana yang mentakhrij dhoif atau shahih,"… itu yang saya tidak saya jawab dan saya bukan seorang muhadist….

Ada apa sebenarnya.

 

[Dani Permana] Tidak ada apa-apa…



[Dani Permana]  Saya mengerti jika M WN berpikiran demikian karena 3 artikel yang telah saya kirim berbeda dengan apa yang selama ini M WN pahami.

(Whe-en)
Mengerti saja tidak cukup karena saya sedang tidak ingin dimengerti. Tapi saya ingin pertanyaan saya dijawab.
Tolong fokus, jika mas dani sepakat dhoif kenapa mas dani pakai padahal sudah tahu lama.

 

[Dani Permana] Kan sudah saya jawab semampunya, kalau memaksakan jawaban terhadap sesuatu yang saya tidak ketahui itu kan meyalahi aturan.


 ===================


[Dani Permana]  Setiap manusia memiliki pengetahuan yang bertambah-tambah, semakin bertambahnya ilmu semakin teliti dalam menilai.

Whe-en
Ulama salaf sebelum syaikh albani lahir yang mendhoifkan hadits tersebutpun belum mas dani jawab, padahal mas dani sendiri yang membuat pernyataan.
Kalau mas dani bilang semakin teliti menilai, kenapa sekarang jawabannya bukan ahli hadits padahal sudah menilai yang dhoif?

[Dani Permana] Disitulah kekurang telitian M WN dalam membaca sebuah artikel… silahkan refer kembali… alasan-alasan orang yang menlemahkan hadist tersebut

 


From: "Dani Permana" <adanipermana@gmail.com>

Date: Wed, 26 Jan 2011 16:20:49 +0700

Subject: RE: [Milis_Iqra] Sahal Mahfudz: Kritik Boleh, Tapi Jangan Bikin Gaduh

 

From: milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com] On Behalf Of whe - en
 

1.    Al Imam Muslim berkata di muqodimah shahihnya: telah menceritakan kepadaku Makhlad bin Husian dari Hisyam dari Muhammad bin Sirin berkata:

"Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama tersebut."

Dari quote diatas, semoga mas dani tahu kenapa saya mempermasalahkan darimana saya mengambil ilmu, tanpa bermaksud "susah" seperti kata mas Dani.  Bagaimana kita bisa mengambil ilmu dari orang yang mengatakan "bodoh" kepada orang yang mengikuti sunnah Nabi-Nya

 

[Dani Permana]  Saya mengerti dengan keinginan M WN, dan itu adalah cara yang terbaik, dan memang harus begitu caranya mencari ilmu.

 

========== 

[dani permana] Yah memang segala sesuatu bisa dilihat dari sisi yang berbeda-beda, bahasa ilmiahnya comprehensive. Jika kita-kita sering membaca kitab-kitab klasik seperti Nailur Authar, Subulussalah, Tafsir Ath Thbari, Tarikh Athobary, Al Bidayah Wan Nihayah ibnu Katsir, dsb…  di buku-buku mereka tidak pernah ada bahwa pendapat merekalah paling benar, di kitab-kitab mereka slalu menggiring pembacanya untuk menganalisa dari beberapa pendapat dan membuat kesimpulan, itulah ulama sesungguhnya yang mengajarkan ilmu seluruhnya tidak separo-separo.

 Kita bisa lihat dengan kredibilitas ulama-ulama sekarang baik dalam artikel maupun buku2nya hanya berpegang kepada satu pendapat saja. Mungkin bahasa kasarnya "tidak seperti kuda dengan kacamatanya" ketika kusir tarik tali ke kiri si kuda belok ke kiri vice versa.

 On Behalf Of whe - en

Dari ke 3 artikel dari mas Dani yang ternyata cenderung mengingkari hadits menasehati penguasa dengan sembunyi sembunyi, bukankah ini tidak sesuai dengan apa yang ditulis diatas, karena jelas jelas menggiring kepada opini yang sudah 3 kali dibahas?

Kalau sudah begini, kuda yang mana yang mau dicopot kacamanyanya? :-) kuda yang mana yang mau dikasih kacamata? :-P  

 

[Dani Permana]  Saya mengerti jika M WN berpikiran demikian karena 3 artikel yang telah saya kirim berbeda dengan apa yang selama ini M WN pahami.

 

On Behalf Of whe - en

Bahkan sebagai orang yang menyampaikan dalil hadits tersebutpun tidak bisa menjelaskan.  Kalau pendapat mas Dani dhoif kenapa dipakai? Kalau mas dani berpendapat shahih seperi Al Albani, kenapa perbuatan mas Dani tidak menunjukkan itu.

Maaf ini bukan menyerang pribadi, namun saya mempertanyakan tindakan mas Dani sebagai pemosting hadits pertama kali.

 

[Dani Permana]  Setiap manusia memiliki pengetahuan yang bertambah-tambah, semakin bertambahnya ilmu semakin teliti dalam menilai.

 

On Behalf Of whe - en

3.    Mohon dapat disebutkan ulama yang mendhoifkan itu siapa saja?

(Dani) maaf saya tidak mengetahuinya mengapa Syaikh Albani mensahihkannya. Padahal ulama salaf sebelum syaikh Al Bani rahimahullah lahir telah mendho'ifkannya.

 

Sekali lagi, jika mas dani tidak tahu hadits ini kenapa shahih dan sudah tahu hadits ini dhoif, kenapa dipakai oleh mas Dani? Bukankah mas Dani sendiri yang mengemukakan hadits dhoif tidak bisa dijadikan landasan/ dalil?

 

[Dani Permana] Entah bagaimana saya harus menjelaskan ke M WN, dalam standard ilmu hadist, jika kita menemukan hadist yang saling bertentangan antara satu dan yang lainnya, maka boleh diambil salah satunya dan meninggalkan salah satunya atau diambil keduanya dan salah satunya dengan dengan syarat.

 

On Behalf Of whe - en

 

4.    Mohon pertanyaan pertanyaan saya mulai dijawab mas dani jika sudah ada waktu.  Tidak perlu saya quote lagi kan mas?

 

[Dani Permana] Tidak perlu karena sudah saya jawab,….

 

On Behalf Of whe - en

 

5.    Postingan di bawah ini adalah permintaan mas dani, saya sendiri tidak mampu mentakhrij-nya, jadi silahkan jika memang mau menerangkan kepada saya, lebih kuat mana yang mentakhrij dhoif atau shahih, dsb, {terlampir di link http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/05/takhrij-ringkas-hadits-iyaadl-bin-ghanm.html. }

 

[Dani Permana] Saya bukanlah ahli hadist/muhadist jadi jangan mempertanyakan sesuatu yang bukan pada ahlinya.

 

============================ 

6.    [Dani Permana] Nasehat itu bisa dilakukan dua kondisi, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Terang-terangan pun harus ada aturannya, sembunyi-sembunyipun harus ada aturan-aturannya. Namun yang saya pertanyakan golongan yang memilih nasehat dengan sembunyi-sembunyi "Apakah mereka melaksanakan apa yang mereka tulis dalam artikel-artikel mereka?

M WN sudah sering melampiran beberapa dalil yang menyatakan "kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat, kemudian  usus terburai karena mereka menasehati tentang amar ma'ruf namun mereka sendiri tidak melakukannya". Jadi sebagian ulama yang HANYA bisa menulis artikel "begino loh cara menasehati Penguasa. Silahkan Tanya balik "APAKAH mereka sudah melaksanakan NASEHATnya sendiri?  

On Behalf Of whe - en

Memang benar bahwa kedua cara menasehati mempunyai caranya sendiri sendiri.  Yang jadi masalah adalah, cara terang terangan jelas menyelisihi hadits sembunyi sembunyi.  Jadi orang cuma bisa memilih salah satunya apalagi jika hadits yang satu dianggap dhoif.  Dibolehkan terang terangan atau tidak dibolehkan terang terangan.  Mohon jangan bermain kata kata.

[Dani Permana] Menyelisihi hadist itu menurut M WN dan orang yang sepaham dengan M WN, bagi orang lain belum tentu. Contoh diluar masalah ini pun banyak, contoh masalah Penentuan Bulan Ramadhan….  

Mas Dani, apa yang ulama lakukan, bukan berarti menggugurkan suatu hadits kan?  Apa yang beliau beliau berikan masukan kepada penguasa tentunya tidak dishare ke umum, jatuhnya tidak diam diam kalau dishare begitu.

 [Dani Permana] Darimana M WN mengetahui? Dan apa hasilnya

Kalaupun tidak dilaksanakan, bukankah bukan berarti haditsnya yang salah?

 [Dani Permana]  Setuju….

On Behalf Of whe - en

Sebagai tambahan informasi, beliau beliau ternyata memang memberi masukan kepada penguasa secara diam diam, dan penguasa sangat berterimakasih atas masukannya dan ditindaklanjuti, inilah mungkin hikmahnya melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

 [Dani Permana] Siapa tuh?  

On Behalf Of whe – en

Telah berkata Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah :…….

 

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيُّ وَغَيْرُهُ قَالَ ........................dst

Telah menceritakan kepada kami Abul-Mughiirah : Telah menceritakan kepada kami Shafwaan : Telah menceritakan kepadaku Syuraih bin 'Ubaid Al-Hadlramiy dan yang lainnya, ia berkata : 'Iyaadl bin Ghanm pernah mencambuk orang Dariya ketika ditaklukkan. Hisyaam bin Hakiim meninggikan suaranya kepadanya untuk menegur sehingga 'Iyaadl marah. Kemudian 'Iyaadl radliyallaahu 'anhu tinggal beberapa malam, lalu Hisyaam bin Hakiim mendatanginya untuk memberikan alasan (apa yang telah ia perbuat sebelumnya kepada 'Iyadl). Hisyaam berkata kepada 'Iyaadl : "Tidakkah engkau mendengar Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : 'Orang yang paling keras siksaannya adalah orang-orang yang paling keras menyiksa manusia di dunia?'. 'Iyaadl bin Ghanm berkata : "Wahai Hisyaam bin Hakiim, kami pernah mendengar apa yang kau dengar dan kami juga melihat apa yang kau lihat. Namun tidakkah engkau mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda : 'Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dalam suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan. Akan tetapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika diterima, memang itulah yang diharapkan; namun jika tidak, maka orang tersebut telah melaksakan kewajibannya'. Engkau wahai Hisyaam, kamu sungguh orang yang lancang karena engkau berani melawan penguasa Allah. Tidakkah engkau takut jika penguasa itu membunuhmu lalu jadilah engkau orang yang dibunuh penguasa Allah tabaaraka wa ta'ala?" [Musnad Al-Imam Ahmad, 3/403-404].

…..dst sebagaimana artikel

[Dani Permana]  Mungkin M WN sekarang sadar atau tidak, setiap ulama akan memperkuat sanggahannya dan pendapatnya masing-masing, dan hal itu sudah terjadi sebelum M WN lahir kedunia ini, link akhi Abu Jauza saya pun sudah mengetahuinya sejak lama. SALING BANTAH dan saling memperkuat argument masing itu adalah kelebihan dan kemampuan mereka.

Kita-kita disini hanya bisa membaca, menganalisa dan memilih pendapat mana yang lebih rajah dibanding lainnya.


No virus found in this message.
Checked by AVG - www.avg.com

Version: 10.0.1191 / Virus Database: 1435/3402 - Release Date: 01/25/11

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-




--

~~~~~

Whe~en
http://wheen.blogsome.com/
 
"Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
"Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"

 




--

~~~~~

Whe~en
http://wheen.blogsome.com/
 
"Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
"Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"

 




--

~~~~~

Whe~en
http://wheen.blogsome.com/
 
"Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
"Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"

 

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-


No virus found in this message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 10.0.1204 / Virus Database: 1435/3405 - Release Date: 01/26/11

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment