Wednesday, February 9, 2011

Re: [Milis_Iqra] Akal dan hati + logika was Pemuda Muhammadiyah: Usut Penyerang Ahmadiyah

sederhana dan tidak rumit...

On 2/10/11, awung <awungs@gmail.com> wrote:
> Para ahli memang sudah menyusun metoda, kaidah keilmuan yang luar biasa
> canggih untuk memahami berbagai informasi/ilmu dalam alQuran. Namun hingga
> saat ini belum berhasil membuka seluruh tabir ilmu yang tersimpan dalam
> alQuran. Dalam bidang sosial kemasyakatan barangkali Islam sudah jauh lebih
> maju karena bidang ini sudah dianalisakan oleh Muhammad sebagai rasul, namun
> dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi yang dikandung alQuran belum
> dianalisakan, bukan karena nabi tidak mengerti tetapi disesuaikan dengan
> daya tangkap masyarakatnya.
>
> *[Dani Permana] **kata yang saya highlight kuning diatas saya menafikannya,
> karena jika dikatakan "belum" berarti belum sama sekali dianalisakan.
> Padahal para ilmuwan baik yang Islam maupun non islam sudah sudah
> membuktikannya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi meskipun tidak
> begitu sempurna karena teknonolgi slalu berkembang.*
>
> *Kalau sudah dianalisakan mestinya keterangan tentang isra mi'raj menjadi
> ilmiah bukan hanya dongeng yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.
> *
>
> * **[Awung]*
>
> Dalam manajemen ada istilah berfikir out of the box untuk memecahkan
> kebuntuan2 atau lambatnya pemecahan masalah. Nah disini juga diperlukan
> pemikiran out of the box agar terjadi percepatan2 pembukaan ilmu
> pengetahuan.
>
> *[Dani Permana] ** berhubung saya lulusan dari management … istilah berfikir
> Out of the box adalah pendekatan berpikir kreatif dan merupakan salah satu
> cara atau alat untuk mencari pemikiran baru dengan meninggalkan cara-cara
> lama. Istilah tersebut ada dalam management dan kaitannya dengan bisnis. *
>
> *Jadi apakah istilah ini bisa di gunakan dalam prinsip-prinsip Dasar Islam?
> Maka saya ingin belajar kepada Mas Awung jika bisa digunakan dalam
> prinsip-prinsip dasar Islam. Berikut adalah check list keingin tahuan saya
> mengenai hal tersebut diatas*
>
> *1. **Konsep "Out of the box" dalam Islam*
>
> *2. **Kerangka berfikir "Out of the box" dalam Islam*
>
> *3. **Studi leteratur yang berkaitan berfikir "Out of the box" baik dari
> Al Qur'an dan lainnya*
>
> *4. **Hipotesa Mas Awung dengan mengunakan berfikir "Out of the box"
> dalam masalah Ahmadiyah saja dahulu*
>
> *5. **Percentage keberhasilan berfikir "Out of the box" dalam Islam
> dalam penyelesaian masalah Ahmadiyah, jika ada menggunakan data statistic *
>
> *6. **Kesimpulan *
>
> * *
> *Karena setahu saya istilah berfikir "Out of the box" memiliki konsep-konsep
> yang juga menggunakan prinsip-prinsip dasar dari management, yang intinya
> inside the box masih tetap digunakan sebagai panduan…*
>
> Saya tidak tahu, pemikiran saya sederhana saja, berfikir out of the box
> adalah berfikir diluar dari kerangka berfikir yang sudah baku, bisa saja
> nyeleneh...
> Dan bagi saya Isalam adalah diin, bukan hanya agama sehingga semua disiplin
> ilmu bisa saling interchangeable sepanjang memang bisa diaplikasikan.
>
> Salam,
>
> 2011/2/9 Dani Permana <adanipermana@gmail.com>
>
>>
>>
>> *From:* milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com]
>> *On
>> Behalf Of *awung
>> *Sent:* Wednesday, February 09, 2011 6:54 AM
>>
>> *To:* milis_iqra@googlegroups.com
>> *Subject:* Re: [Milis_Iqra] Akal dan hati + logika was Pemuda
>> Muhammadiyah: Usut Penyerang Ahmadiyah
>>
>>
>>
>> Para ahli memang sudah menyusun metoda, kaidah keilmuan yang luar biasa
>> canggih untuk memahami berbagai informasi/ilmu dalam alQuran. Namun hingga
>> saat ini belum berhasil membuka seluruh tabir ilmu yang tersimpan dalam
>> alQuran. Dalam bidang sosial kemasyakatan barangkali Islam sudah jauh
>> lebih
>> maju karena bidang ini sudah dianalisakan oleh Muhammad sebagai rasul,
>> namun
>> dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi yang dikandung alQuran belum
>> dianalisakan, bukan karena nabi tidak mengerti tetapi disesuaikan dengan
>> daya tangkap masyarakatnya.
>>
>> *[Dani Permana] **kata yang saya highlight kuning diatas saya
>> menafikannya, karena jika dikatakan "belum" berarti belum sama sekali
>> dianalisakan. Padahal para ilmuwan baik yang Islam maupun non islam sudah
>> sudah membuktikannya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi meskipun
>> tidak begitu sempurna karena teknonolgi slalu berkembang. *
>>
>> * **[Awung]*
>>
>> Dalam manajemen ada istilah berfikir out of the box untuk memecahkan
>> kebuntuan2 atau lambatnya pemecahan masalah. Nah disini juga diperlukan
>> pemikiran out of the box agar terjadi percepatan2 pembukaan ilmu
>> pengetahuan.
>>
>> *[Dani Permana] ** berhubung saya lulusan dari management … istilah
>> berfikir Out of the box adalah pendekatan berpikir kreatif dan merupakan
>> salah satu cara atau alat untuk mencari pemikiran baru dengan meninggalkan
>> cara-cara lama. Istilah tersebut ada dalam management dan kaitannya dengan
>> bisnis. *
>>
>> *Jadi apakah istilah ini bisa di gunakan dalam prinsip-prinsip Dasar
>> Islam? Maka saya ingin belajar kepada Mas Awung jika bisa digunakan dalam
>> prinsip-prinsip dasar Islam. Berikut adalah check list keingin tahuan saya
>> mengenai hal tersebut diatas*
>>
>> *1. **Konsep "Out of the box" dalam Islam*
>>
>> *2. **Kerangka berfikir "Out of the box" dalam Islam*
>>
>> *3. **Studi leteratur yang berkaitan berfikir "Out of the box" baik
>> dari Al Qur'an dan lainnya*
>>
>> *4. **Hipotesa Mas Awung dengan mengunakan berfikir "Out of the box"
>> dalam masalah Ahmadiyah saja dahulu*
>>
>> *5. **Percentage keberhasilan berfikir "Out of the box" dalam Islam
>> dalam penyelesaian masalah Ahmadiyah, jika ada menggunakan data statistic
>> *
>>
>> *6. **Kesimpulan *
>>
>> * *
>>
>> *Karena setahu saya istilah berfikir "Out of the box" memiliki
>> konsep-konsep yang juga menggunakan prinsip-prinsip dasar dari management,
>> yang intinya inside the box masih tetap digunakan sebagai panduan…*
>>
>> 2011/2/8 Dani Permana <adanipermana@gmail.com>
>>
>> [Wheen]
>>
>> Mas dani,
>> sebelum membenturkan logikanya mas awung, jangan lupa pertanyaan saya soal
>> wahyu qauliyah dan kauniyah ya.
>> kan ada hubungannya? biar tahu kapan menggunakan ilmu kapan menggunakan
>> akal, kapan menggunakan logika.
>>
>> *[Danii] *
>>
>> Sebenarnya kalau pertanyaannya "kapan menggunakan ilmu kapan menggunakan
>> akal, kapan menggunakan logika." saya pandang keliru, karena ilmu itu
>> diperoleh dari hasil berfikir dan berfikir menggunakan akal, dan akal itu
>> yang menuntun kepada pencarian sumber data awal, dan sumber data awal itu
>> adalah wahyu, dan wahyu ada yang bersifat qauliyah maupun kauniyah.
>> kemudian
>> dari sumber data awal di olah untuk di kembangkan menjadi ilmu-ilmu
>> lainnya.
>> Jadi semuanya berinteregasi satu sama lainnya.... dalam sahih bukhori ada
>> satu bab tentang berilmu sebelum berkata dan beramal, bagaimana kita akan
>> berilmu jika kita tidak mengetahui sumber data awal yang bisa dijadikan
>> panduan untuk memahami dan untuk memahami butuh akal.
>>
>> Kembali ke logika... terkadang saya hanya tersenyum saja jika ada orang
>> yang menggunakan logika namun tidak didasari dengan sumber data awal yang
>> di
>> kuasai, karena untuk memahami Al Qur'an dan juga hadist, dibutuhkan kaidah
>> ilmu mantik (Logika) dan ilmu munasabat (korelasi antar ayat) dan dua ilmu
>> ini ada dalam ulumul Qur'an. Jika dua hal tersebut kurang memahami maka
>> yang
>> akan terjadi - bisa benar namun sifatnya subjective atau zhan (sangkaan) -
>> namun yang di kawatirkan adalah malah menyesatkan. Sebenarnya logika atas
>> dua macam, namun keduanya tidak dapat dipisahkan, yaitu
>>
>> a. *Logika Kodratiah* : Akal budi (pikiran) bekerja menurut hukum-hukum
>> logika dengan cara spontan. Tetapi dalam hal-hal tertentu (biasanya dalam
>> masalah yang sulit), akal budi manusia maupun seluruh diri manusia bisa
>> dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang
>> subjektif. selain itu, perkembangan pengetahuan manusia sendiri sangat
>> terbatas. Hal-hal ini menyebabkan kesesatan tidak terhindarkan. Walaupun
>> sebenarnya dalam diri manusia sendiri juga ada kebutuhan untuk menghindari
>> kesesatan tersebut. Untuk menghindari kesesatan itulah, dibutuhkan ilmu
>> khusus yang merumuskan azaz-azaz yang harus ditepati dalam setiap
>> pemikiran,
>> yaitu logika ilmiah.
>>
>> b. *Logika Ilmiah* : Logika ini membantu logika kodratiah. Logika ilmiah
>> memperhalus dan mempertajam akal budi, juga menolong agar akal budi
>> bekerja
>> lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman. Dengan demikian
>> kesesatan dapat dihindarkan, atau minimal bisa dikurangi dengan kadar
>> tertentu. Logika inilah, yang dimaksud mempunyai hukum-hukum atau
>> azaz-azaz
>> yang harus ditepati. Dalam penyelidikan hukum-hukum logika, dapat
>> diuraikan
>> bahwa pemikiran manusia terjadi tiga unsur. Yaitu pengertian-pengertian
>> atau
>> kata, kemudian kata atau pengetian itu disusun itu sedemikian tupa
>> sehingga
>> menjadi keputusan-keputusan. Akhirnya keputusan-keputusan itu disusun
>> menjadi penyimpulan-penyimpulan.
>>
>> Nah kesimpulan yang saya tangkap kebanyakan dari kita adalah sebatas mampu
>> mengunakan *logika Kodratiah*... namun jika meloncat ke logika ilmiah
>> biasanya enggan....
>>
>> Berikut ada sedikit artikel yang mudah-mudahan membuat kita tidak harus
>> menomorsatukan salah satu dari keduanya, yakni apakah wahyu dahulu atau
>> akal
>> dahulu atau vice versa? karena secara lahiriyah Allah sudah memberikan
>> akal
>> kepada manusia sebagai pembeda dengan makhluq lainnya, sebagaimana
>> firman-Nya
>>
>> *Artinya:"Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut
>> mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang
>> baik-baik
>> dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan
>> makhluk yang Telah kami ciptakan".* *(QS. Al Israa' [17]: 70)*
>>
>>
>>
>> Karena itu, maka tempat akal terletak dalam hati yang merupakan pusat
>> penilaian bagi Allah *subhanahu wa'ta'ala* terhadap setiap gerak dan
>> aktifitas manusia, sebagaimana Firman-Nya :* Artinya:" mereka mempunyai
>> hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh)".*
>> *(QS.
>> Al A'raaf[7]: 179)*
>>
>>
>>
>>
>> Dari Firman Allah al A'raf : 179 sudah jelas bahwa untuk memahami sesuatu
>> juga dengan Hati, jadi yah kita kembalikan kepada artikel " *Integrasikan
>> Akal dan Hati!*"
>>
>> ========================
>>
>> *PENGHORMATAN ISLAM PADA AKAL*
>>
>> *A.** **Definisi Akal*
>>
>> Akal (العَقْلُ) berasal dari akar kata (عَقَلَ-يَعْقِلُ-عَقْلًا) yang
>> asalnya bermakna mencegah (المَنْعُ). Akal juga memiliki makna yang lain,
>> diantaranya:
>>
>> ü (الحَجْرُ) : mencegah.
>>
>> ü (النَّهْيُ) : melarang.
>>
>> ü (الدِّيَّةُ) : tebusan.
>>
>> Sedangkan menurut istilah, penggunaan akal mempunyai empat (4) makna:
>>
>> 1) (الغَرِيْزِةُ المُدْرِكَةُ : insting / naluri yang mampu merasa),
>> yaitu naluri yang memiliki manusia untuk mengetahui dan memikirkan
>> sesuatu,
>> sama seperti kekuatan melihat pada mata dan kekuatan merasa pada lidah. Ia
>> adalah obyek taklif (pembebanan ibadah) yang dapat membedakan manusia
>> dengan
>> hewan.
>>
>> 2) (العُلُوْمُ الضَّرُوْرِيَّةُ : ilmu pasti / ekstra), yaitu ilmu yang
>> di ketahui oleh seluruh orang berakal, seperti pengetahuan tentang hal
>> yang
>> mungkin, yang wajib dan lain-lain.
>>
>> 3) (العُلُوْمُ النَّظَرِيَّةُ : ilmu-ilmu teoritis) yang diperoleh
>> melalui penalaran dan pencarian data.
>>
>> 4) Kerja-kerja yang berdasarkan ilmu.
>>
>> Pengertian di atas dapat dirangkum dalam dua (2) makna:
>>
>> a) Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang
>> ada pada setiap manusia.
>>
>> b) Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang
>> matang.
>>
>> Akal adalah instink yang diciptakan Alloh *subhanahu wa'ta'ala* kemudian
>> diberimuatan kepemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah
>> dimuliakan Alloh *subhanahu wa'ta'ala*.
>>
>> Alloh *subhanahu wa'ta'ala* berfirman:
>>
>> *Artinya:"Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut
>> mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang
>> baik-baik
>> dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan
>> makhluk yang Telah kami ciptakan".* *(QS. Al Israa' [17]: 70)*
>>
>> Karena itu, maka tempat akal terletak dalam hati yang merupakan pusat
>> penilaian bagi Alloh *subhanahu wa'ta'ala* terhadap setiap gerak dan
>> aktifitas manusia.
>>
>> Alloh *subhanahu wa'ta'ala* berfirman:
>>
>> *Artinya:" mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk
>> memahami (ayat-ayat Alloh)".* *(QS. Al A'raaf[7]: 179)*
>>
>> *B.** **Kedudukan Akal Dalam Syari'at Islam.*
>>
>> Syari'at Islam memberikan nilai dan urgensi yang amat penting dan tinggi
>> terhadap akal manusia. Itu dapat dilihat dari point-point berikut:
>>
>> 1) Alloh *subhanahu wa'ta'ala* hanya menyampaikan kalam-Nya
>> (firman-Nya) kepada orang-orang yang berakal, karena hanya mereka yang
>> dapat
>> memahami agama dan syari'at-Nya.
>>
>> Alloh *subhanahu wa'ta'ala* berfirman:
>>
>> *Artinya:"Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya
>> dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rohmat
>> dari
>> kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran".* *(QS. Shaad
>> [38]: 43).*
>>
>> 2) Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk
>> mendapat taklif (beban kewajiban) dari Alloh *subhanahu wa'ta'ala*.
>> Hukum-hukum syari'at tidak berlaku bagi mereka yang tidak mempunyai akal.
>> Dan diantaranya yang tidak menerima taklif itu adalah orang gila karena
>> kehilangan akalnya.
>>
>> Rosululloh *sholallohu 'alaihi wa sallama* bersabda:
>>
>> "رُفِعَ القَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ وَمِنْهَا : الجُنُوْنُ حَتَّى يَفِيْقَ"
>>
>> *"Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan,
>> diantaranya: orang gila samapai dia kembali sadar (berakal)"*. *(HR. Abu
>> Daud: 472 dan Nasa'i: 6/156).*
>>
>> 3) Alloh *subhanahu wa'ta'ala* mencela orang yang tidak menggunakan
>> akalnya. Misalnya celaan Alloh *subhanahu wa'ta'ala* terhadap ahli neraka
>> yang tidak menggunakan akalnya:
>>
>> Alloh *subhanahu wa'ta'ala* berfirman:
>>
>> *Artinya:"Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan
>> (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka
>> yang menyala-nyala".* *(QS.* *067**. Al Mulk [67]: 10)*
>>
>> Dan Alloh *subhanahu wa'ta'ala* mencela orang-orang yang tidak mengikuti
>> syari'at dan petunjuk Nabi-Nya.
>>
>> Alloh *subhanahu wa'ta'ala* berfirman:
>>
>> *Artinya:"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang Telah
>> diturunkan Alloh," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti
>> apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah
>> mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak
>> mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".* *(QS.* *002**. Al
>> Baqarah [2]: 170).*
>>
>> 4) Penyebutan begitu banyak proses dan aktivitas kepemikiran dalam
>> Al-Qur'an, seperti *tadabbur, tafakkur, ta'aquul* dan lainnya. Seperti
>> kalimat *"La'allakum tafakkarun"* (mudah-mudahan kalian berfikir) atau
>> *"Afalaa
>> Ta'qiluun"* (apakah kalian tidak berakal), atau *"Afalaa Yatadabbarunal
>> Qur'an"* (apakah mereka tidak merenungi isi kandungan Al-Qur'an) dan
>> lainnya.
>>
>> 5) Al-Qur'an banyak menggunakan penalaran rasional. Misalnya
>> ayat-ayat berikut ini:
>>
>> *Artinya:"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya
>> Al Quran itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan
>> yang banyak di dalamnya".* *(QS. An Nisaa' [04]: 82)*
>>
>> *Artinya:"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Alloh,
>> tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Alloh yang
>> mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan".* *(QS. Al Anbiyaa'
>> [21]: 22 )*
>>
>> *Artinya:"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang
>> menciptakan (diri mereka sendiri)?".* *(QS. Ath Thuur [52]: 35 )*
>>
>> 6) Islam mencela taqlid yang membatasi dan melumpuhkan fingsi akal.
>>
>> Alloh *subhanahu wa'ta'ala* berfirman:
>>
>> *Artinya:"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang Telah
>> diturunkan Alloh," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti
>> apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah
>> mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak
>> mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".* *(QS. Al Baqarah
>> [2]: 170)*
>>
>> Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan
>> mengikuti kebenaran.
>>
>> Alloh *subhanahu wa'ta'ala* berfirman:
>>
>> *Artinya:"Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah-
>> nya dan kembali kepada Alloh, bagi mereka berita gembira; sebab itu
>> sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku. Yang mendengarkan
>> perkataan
>> lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah
>> orang-orang
>> yang Telah diberi Alloh petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang
>> mempunyai akal".* *(QS. Az Zumar [39]: 17-18)*
>>
>> 7) Alloh *subhanahu wa'ta'ala* menggunakan ayat kauniyah untuk
>> membuktikaan adanya pencipta ayat kauniyah tersebut. Dan itu merupakan
>> suatu
>> proses berfikir (menggunakan akal) yang dibutuhkan untuk mengetahui adanya
>> hubungan antara alam dan pencipta alam.
>>
>> Alloh *subhanahu wa'ta'ala* berfirman:
>>
>> *Artinya:"Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu
>> sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu
>> yang
>> tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu
>> yang
>> tidak seimbang?. Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu
>> akan
>> kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu
>> itupun dalam keadaan payah".* *(QS. Al Mulk [67]: 3-4)*
>>
>> *C.** **Pandangan Para Ulama' Salaf Terhadap Akal.*
>>
>> Jalan yang ditempuh ulama' salaf adalah jalan pertengahan yang dipelopori
>> oleh banyak ulama' besar, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan lainnya.
>> Muatan pemikiran aliran secara ringkas dapat disebut sebagai berikut:
>>
>> a. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami sesuatu yang
>> bersifat global, tidak bersifat detail.
>>
>> b. Syari'at di dahulukan atas akal, karena syari'at itu ma'shum
>> (terpelihara dari kesalahan) sedang akal tidak.
>>
>> c. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan
>> dengan syari'at Islam.
>>
>> d. Yang benar dari hasil pemikiran akal itu adalah yang sesuai dengan
>> syari'at Islam.
>>
>> e. Yang salah dari pemikiran akal itu adalah yang bertentangan
>> dengan syari'at Islam.
>>
>> f. Penentuan hukum-hukum *tafshiliyah* (terinci seperti wajib,
>> haram dan seterusnya) adalah hak mutlak syari'at Islam.
>>
>> g. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum
>> wahyu, walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan
>> yang buruk.
>>
>> h. Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh syari'at.
>>
>> Alloh *subhanahu wa'ta'ala* berfirman:
>>
>> *Artinya:"Dan kami tidak akan meng'azab sebelum kami mengutus seorang
>> Rosul".* *(QS. Al Israa' [17]: 15)*
>>
>> i. Hasil-hasil pemikiran akal yang bertentangan dengan syari'at
>> adalah bathil.
>>
>> j. Hasil pemikiran sehat manusia yang bertentangan dengan syari'at
>> bisa disebabkan oleh dua kemungkinan. Mungkin karena syubhat (kerancuan
>> pemikiran), mungkin juga karena kelemahan dalil syari'at yang
>> dibawakannya.
>>
>> k. Kadang-kadang terdapat muatan syari'at yang membungungkan akal,
>> tetapi itu tidak berarti bertolak belakang atau bertentangan dengan akal.
>>
>> l. Kebolehan (halal) adalah hukum dasar segala sesuatu sebelum
>> turunyya hukum syari'at.
>>
>> Alloh *subhanahu wa'ta'ala* berfirman:
>>
>> *Artinya:"Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Alloh
>> yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang
>> mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan)
>> bagi
>> orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja)
>> di hari kiamat." Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi
>> orang-orang
>> yang Mengetahui.**(QS. Al A'raaf [07]: 32)*
>>
>> m. Janji surga dan ancaman nereka sepenuhnya ditentukan syari'at Islam.
>>
>> n. Orang-orang yang hidup pada masa antara Nabi Isa *'alaihi
>> salaam*dan Nabi Muhammad
>> *sholallohu 'alaihi wa sallama* tidak boleh dihukumkan masuk surga atau
>> neraka. Demikian juga orang-orang yang yang risalah Islam belum sampai
>> kepada mereka. Tetapi sebagaimana yang dijelaskan rosululloh *sholallohu
>> 'alaihi wa sallama* dalam sebuah hadits shohih, di hari qiyamat nanti
>> mereka akan di uji dengan mengirimkan Rosul kepada mereka, jika mereka
>> beriman mereka akan masuk surga, jika mereka kafir maka mereka akan masuk
>> neraka.
>>
>> o. Tidak ada kewajiban tertentu bagi Alloh *subhanahu wa'ta'ala* yang
>> ditentukan oleh akal kita kepada-Nya. Karena Alloh *subhanahu
>> wa'ta'ala*mengatakan tentang dirinya.
>>
>> Alloh *subhanahu wa'ta'ala* berfirman:
>>
>> *Artinya:"Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya".* *(QS. 085. Al
>> Buruuj [[85]: 16).*
>>
>> Hukum wajib dan hukum harom yang berlaku atas diri Alloh *subhanahu
>> wa'ta'ala* seperti dalam hadits berikut:
>>
>> "إِنِّيْ حَرَمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ"
>>
>> *"Sesungguhnya telah aku haromkan kedzoliman atas diriku".* *(HR. Muslim)*
>>
>> "حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ
>> شَيْئًا"
>>
>> *"Hak hamba terhadap Alloh ialah bahwa ia tidak akan mengadzab orang yang
>> tidak mempersekutukannya dengan yang lain".* *(HR. Bukhori dan Muslim)*
>>
>> Dan hadits-hadits lainnya adalah hukum yang ditentukan sendiri oleh Alloh
>> *subhanahu wa'ta'ala* atas diri-Nya sebagai suatu tanda keutamaan dan
>> kemuliaan bagi-Nya.
>>
>> p. Akal adalah sumber hukum yang tidak berdiri sendiri. Dan wahyu
>> (Al-Qur'an dan Sunnah) tidak membutuhkannya lagi, sekalipun tidak menolak
>> apa yang benar dari hukum akal.
>>
>> Dari sini dapat dikatakan bahwa pendapat salaf adalah pendapat yang paling
>> benar dalam masalah penggunaan akal sebagai dalil. Jadi, akal dapat
>> dijadikan dalil jika ia sejalan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah atau tidak
>> bertentangan dengan keduannya. Dan jika ia bertentangan dengan keduanya,
>> Maka ia di anggap bertentangan dengan sumber dan dasarnya. Dan keruntuhan
>> dasar adalah juga keruntuhan bangunan yang ada diatasnya. Sehingga akal
>> menjadi dalil yang bathil.
>>
>> *D.** **Sumber-Sumber Penentuan hukum Akal.*
>>
>> Dasar-dasar rasional penentuan hukum akal terdiri dari sejumlah sumber
>> yang
>> merupakan landasan stuktural pengetahuan manusia. Dimana tanpa landasan
>> itu
>> manusia tidak akan memperoleh hasil pengetahuan. Dasar-dasar itu adalah
>> sebagai berikut:
>>
>> 1. informasi dan pengetahuan yang diserap melalui pengalaman inderawi
>> dengan panca indera.
>>
>> 2. pengetahuan-pengetahuan dan aksioma-aksioma dasar yang bersifat
>> absolut.
>>
>> 3. pengetahuan-pengetahuan bawaan fitroh.
>>
>> 4. pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui rangkaian aktivitas
>> perenungan, penelitian, analisa dan semisalnya, baik yang bersifat abstrak
>> maupun konkrit.
>>
>> Jika pengetahuan-pengetahuan tidak didasarkan pada salah satu dari keempat
>> sumber tersebut, maka hukum akal akan menjadi bathil. Dalam membentuk
>> kerangka logika dan analisa, akal juga harus memahami keterkaitan dan
>> keterpaduan antara keempat dimensi tadi dengan sesuatu yang ingin diberi
>> hukum tertentu. Bila keterkaitan dan keterpaduan tersebut tidak ada, maka
>> hukum-hukum akal dengan sendirinya menjadi salah dan batal.
>>
>> *E.** **Al-Qur'an dan Akal Logika.*
>>
>> Seperti yang dijelaskan bahwa Al-Qur'an menggunakan dua bentuk penggunaan
>> dalil:
>>
>> 1) Berita-berita yang benar namun tidak di dasarkan pada kerangka
>> logika akal, tetapi sengaja dibuat demikian untuk menetapkan
>> hakikat-hakikat
>> aqidah sebagai suatu aksioma absolut (hukum pasti)
>>
>> 2) Berita-berita yang benar yang di dasarkan pada kerangka logika
>> akal sehat. Dalam hal ini, Al-Qur'an sepenuhnya menekankan konsistensi
>> antara premis-premis analogikanya.
>>
>> Atas dasar itu di temukan banyak ayat Al-Qur'an yang menggunakan analogi
>> akal absolut. Beberapa di antaranya dapat disebut sebagai berikut:
>>
>> 1. Analogi Kontradiksi Ketuhanan.
>>
>> Yaitu konklusi yang diambil dari premis-premis yang menyatakan bahwa
>> ketiadaan Dzat pertama mengharuskan ketiadaan dzat yang kedua. Contohnya:
>> firman Alloh *subhanahu wa'ta'ala* :
>>
>> *Artinya:"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Alloh,
>> tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Alloh yang
>> mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan".* *(QS. Al Anbiyaa'
>> [21]: 22)*
>>
>> Konklusi ini dapat diambil dari dua premis berikut:
>>
>> Premis pertama: jika ada tuhan selain Alloh *subhanahu wa'ta'ala* baik
>> dilangit maupun dibumi, maka rusaklah keduanya.
>>
>> Premis kedua: tetapi langitr dan bumi belum rusak.
>>
>> Konklusi: kalau begitu, tidak ada tuhan di langit dan di bumi selain Alloh
>> *subhanahu wa'ta'ala*.
>>
>> *2.** **Analogi Kelebihutamaan.*
>>
>> Inilah yang tertera dalam firman Alloh *subhanahu wa'ta'ala*:
>>
>> *Artinya:"Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi;
>> dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".* *(QS. Ar-Ruum [30]:
>> 27).*
>>
>> Maksudnya, setiap kesempurnaan wujud yang mungkin ada, yang tidak
>> mengandung kekurangan atau cacat, yang dimiliki makhluk, maka sang Kholiq
>> (pencipta) lebih utama untuk memilikinya. Dan setiap suatu kekurangan yang
>> dianggap cacat bagi makhluk, maka Alloh *subhanahu wa'ta'ala* terbebas
>> dari kekurangan tersebut. Contoh, mendengar adalah sifat kesempurnaan
>> wujud
>> yang dimiliki oleh makhluk, maka Kholiq lebih utama memilikinya.
>> Sebaliknya,
>> buta adalah sifat kekurangan, dimana makhluk yang memilikinya dianggap
>> cacat. Maka Kholiq lebih utama untuk tidak memilikinya.
>>
>> *3.** **menganalogikan yang ghoib (abstrak) atas yang nampak
>> (konkrit).*
>>
>> Yaitu dengan menganalogikan sesuatu yang tidak tertangkap oleh indera kita
>> dari apa yang diberikan Alloh *subhanahu wa'ta'ala* kepada kita, dengan
>> apa yang kita kenal dan ketahui. Itu akan memudahkan kita mengenali dan
>> memahaminya, sehingga kita akan memperhatikannya bila itu kebaikan, dan
>> menjauhinya bila itu keburukan. Misalnya, menganalogikan apa yang
>> diakhirat
>> dengan apa yang di dunia. Sebab tanpa analogi itu kita akan sulit memahami
>> hakikat akhirat. Tetapi dengan analogi itu, kita menajdi takut atau
>> berharap
>> dan semacamnya.
>>
>> Analogi terdiri dari dua bentuk:
>>
>> 1) Analogi benar, misalnya contoh tadi.
>>
>> 2) Analogi salah, misalnya menganalogikan keadaan orang kafir di
>> akhirat dengan keadaan mereka di dunia, dimana mereka akan mendapatkan
>> kenikmatan di akhirat karena mereka telah mendapatkan kenikmatan dunia
>> berdasarkan firman Alloh *subhanahu wa'ta'ala*:
>>
>> *Artinya:"Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-
>> anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab".* *(QS.* *034
>> **. Saba' [34]: 35).*
>>
>> *4.** **Sabar dan Taqsim.*
>>
>> Sabar (uji coba) adalah aplikasi dan try out atas asumsi. Taqsim
>> (pemilihan) dari pembatasan asumsi dalam masalah syari'at sampai pada
>> tingkat dimana tak ada lagi kemungkinan adanya asumsi lain. Misalnya,
>> dalam
>> firman Alloh *subhanahu wa'ta'ala*:
>>
>> *Artinya:"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang
>> menciptakan (diri mereka sendiri)?".* *(QS. Ath Thuur [52]: 35)*
>>
>> Dalam ayat ini asumsi di batasi dalam tiga hal:
>>
>> a) Asumsi pertama; mereka diadakan dari ketiadaan.
>>
>> b) Asumsi kedua; mereka menciptakan diri mereka sendiri
>>
>> Kedua asumsi ini salah.
>>
>> c) Asumsi ketiga ; bahwa mereka mempunyai pencipta, yaitu Alloh
>> *subhanahu
>> wa'ta'ala*.
>>
>> *F.** **Perbedaan Analogi Al-Qur'an dengan Analogi Logika.*
>>
>> Perbadaan analogi Al-Qur'an dengan analogi logika dapat dijelaskan sebagai
>> berikut:
>>
>> 1) Analogi Al-Qur'an dapat mengantar kita pada suatu konklusi yang
>> jelas (tertentu), sedangkan analogi logika hanya mengantarkan kita pada
>> konklusi yang bersifat umum.
>>
>> 2) Analogi Al-Qur'an mempunyai hasil dan akibat yang lebih selamat
>> karena ia mengantar kita kepada kebenaran absolut, sedangkan analogi
>> logika
>> belum tentu memberi hasil dan akibat yang selamat, karena ia kadang
>> mengantar kita pada kebenaran dan terkadang juga tidak sampai kepada
>> kebenaran.
>>
>> 3) Wilayah analogi Al-Qur'an lebih luas dari pada analogi logika.
>> Karena Al-Qur'an mengacu kepada wilayah umum dan parsial, sementara
>> analogi
>> logika hanya berada pada wilayah umum.
>>
>> 4) Analogi Al-Qur'an adalah wahyu Alloh *subhanahu wa'ta'ala*, maka
>> subtansinya bersifat mutlak, sedang analogi logika tidak selalu memberi
>> kebenaran mutlak. Analogi logika hanya memberi kebenaran mutlak jika
>> secara
>> pasti pembeda antara dasar dan cabang atau antara umum dan parsial dapat
>> dibedakan. Analogi logika akan memberi kebenaran hipotesis jika
>> konklusinya
>> didasarkan pada premis-prermis yang bersifat hipotetis. Ia bahkan bisa
>> salah
>> jika premis-premisnya salah atau struktur premis konklusinya tidak
>> konsisten.
>>
>> 5) Analogi Al-Qur'an tidak selalu menggunakan dua premis, ia boleh
>> terdiri dari dua atau tiga atau bahkan satu premis. Sedang analogi logika
>> harus menggunakan dua premis.
>>
>> --
>>
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>
>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>
>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>>
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>
>>
>>
>> --
>>
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>
>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>
>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>>
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>> ------------------------------
>>
>> No virus found in this message.
>> Checked by AVG - www.avg.com
>> Version: 10.0.1204 / Virus Database: 1435/3431 - Release Date: 02/08/11
>>
>> --
>>
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>
>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>
>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>>
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment