Otoritas Akal dalam Menafsirkan Qur'an
Pertama, akal sehat merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah swt. Hukum-hukum syariat tidak berlaku bagi mereka yang akalnya tidak berfungsi. Rasulullah saw. bersabda, "Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan, di antaranya orang yang gila sampai ia kembali sadar (berakal)." (H.R. Abu Daud dari Ali, Sunan Abu Daud, Kitab al-Hudud, vol.II, hal.339. Daar el-Fikr).
Kedua, Allah swt. hanya menyampaikan firman-Nya kepada orang-orang yang berakal, karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya. Allah swt. berfirman, "… Dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal." (Q.S. Shad 37 : 43).
Ketiga, Al Qur'an menyebut sejumlah proses dan aktivitas pemikiran sebagai amalan yang sangat mulia, seperti tadabbur, tafakkur, ta'aqqul, dan lainnya. Maka kalimat semacam "la'allakum tatafakkarun" (mudah-mudahan kamu berfikir), atau "afalaa ta'qiluun" (apakah kamu tidak berakal), atau "afalaa yatadabbaruun" (apakah mereka tidak merenungi ), banyak mewarnai firman-firman-Nya dalam Qur'an.
Keempat, Islam mencela taqlid (mengikuti pendapat orang lain tanpa pemikiran jernih) yang membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. Allah berfirman: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "Tidak! Tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Q.S. Al Baqarah 2:170)
Kelima, Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan mengikuti kebenaran. Allah berfirman, "…Sebab itu sampaikanlah berita (gembira) itu kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal." (Q.S. Az-Zumar 39: 17-18).
Mencermati poin-poin di atas, tampaklah betapa Islam menghargai kedudukan akal. Pertanyaannya, benarkah kita dilarang menafsirkan Qur'an dengan akal? Padahal, Islam begitu banyak memberikapan penghargaan pada akal.
Kita diharamkan menafsirkan Qur'an dengan akal apabila penafsiran itu dilakukan dengan serampangan alias tidak mengikuti kaidah-kaidah yang baku. Namun, kalau penafsiran dengan akal itu mengikuti metode-metode tafsir Al Qur'an yang baku, tentu saja itu tidak dilarang.
Atas dasar itu, para ulama telah menyusun sejumlah prinsip dan kaidah umum agar terhindar dari berbagai bentuk kesalahan dalam menafsirkan Al Quran, yaitu:
- Pertama, Menafsirkan Al Qur'an dengan Al Qur'an sendiri. Apa yang tidak jelas pada salah satu bagiannya, akan dijelaskan pada bagian lainnya. Yang kita lakukan di sini adalah kembali kepada penjelasan Allah swt ., sebab Dia-lah yang lebih tahu tentang apa yang Ia sampaikan dan apa yang Ia inginkan daripadanya.
- Kedua, Jika penjelasan itu tidak dapat kita temukan dalam Al Qur'an, langkah selanjutnya adalah Menafsirkan Al-Qur'an dengan Sunah Rasulullah saw. Rasulullah saw. adalah utusan yang bertugas menyampaikan wahyu dari Tuhannya, karenanya lebih mengerti maksud dan kehendak-Nya. Allah swt. sendiri telah menjamin bahwa Rasulullah saw. tidak pernah mengucapkan sesuatu dari hawa nafsunya. Karena itu, merujuk pada tafsir beliau tentu lebih utama dan lebih layak daripada yang lain. Firman-Nya, "Agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (Q.S. An-Nahl 16:44). "Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Q.S. Muhammad 47:24). Yang dimaksud dengan mengajarkan kitab kepada mereka artinya menjelaskan makna-makna dan hukum-hukumnya. Sunah Rasulullah adalah penjelasan dan tafsir yang dapat menyingkap rahasia, muatan, dan hukum yang terdapat dalam Al Qur'an. Ia menafsirkan ayat-ayat yang masih bersifat umum dan menjelaskan ayat-ayat yang masih samar. Karena itu, hilangnya satu bagian dari Sunah Rasul sama buruknya dengan hilangnya satu bagian dari Al Qur'an. Sehingga ummat Islam sepanjang sejarah telah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga dan memelihara kelangsungan keabsahan dan validitas sunah Rasulullah.
- Ketiga, Jika kita tidak menemukan penjelasan itu dalam sunah Rasulullah saw.,langkah selanjutnya adalah Menafsirkan Al Qur'an dengan pendapat para shahabat. Sebab para shahabat menyaksikan proses turunnya Al Qur'an kepada Rasulullah saw, mengetahui sebab-sebab, serta berbagai situasi dan peristiwa saat Al Qur'an diturunkan. Di samping itu, merekalah generasi yang lebih memahami pelik-pelik bahasa Al Qur'an, sebab Al Qur'an diturunkan dalam bahasa mereka. Di atas semua itu, mereka telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, percaya pada seluruh kandungan dan makna Al Qur'an, serius dalam memahami dan merenungi makna-maknanya, kemudian konsisten dalam mengamalkannya sepanjang hayat mereka.
- Keempat, Jika kita tidak menemukan penjelasan dari para sahabat Rasulullah saw., langkah selanjutnya adalah mencari penjelasan dari para tabi'in (Menafsirkan Al Quran dengan penjelasan para Tabi'in). Tabi'in adalah murid para sahabat. Rasulullah saw. sendiri telah menyatakan bahwa mereka adalah generasi terbaik setelah generasi sahabat. Sabdanya, "Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian zaman sesudahku, kemudian zaman sesudahnya lagi." (H.R. Muslim dari Abdullah, Shahih Muslim, Fadhoilu al-Shahabat, vol.II, hal.503, Daar el-Fikr). Itulah sebabnya, merujuk pada penjelasan dan tafsir mereka jauh lebih baik dan lebih layak dibandingkan tafsir yang lain.
Apabila keempat tahapan ini sudah dilewati, baru kita menggunakan kekuatan rasio atau akal untuk memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al Qur'an.
sumber : www.sunatullah.com
Semoga bermanfaat, dan mohon maaf bagi yang tidak berkenan.
Mungkin yang harus dipahami adalah : kemampuan akal untuk memahami wahyu berbanding lurus dengan tingkat kemampuan yang diberikan oleh Allah kepada yang bersangkutan, semisal anak TK pemahaman akalnya terhadap Allah ya sebatas kemampuan yang telah diberikan Allah kepadanya melalui pembelajaran dan pengalaman yang telah dilaluinya, jadi Allah menerima pemahaman siapapun sesuai dengan tingkat kemampuan akalnya sepanjang dalam koridor yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya.
Tidak mungkin Allah membebani seseorang melebihi kemampuannya, termasuk dalam hal ini kemampuan akal.
Maaf hanya sharing pendapat, bukan untuk menggurui siapapun.2011/2/7 Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>
[Arman] : Kalau demikian maka argumen bahwa akal tidak bisa menjembatani wahyu adalah yang keblinger mbak, karena jelas wahyu diturunkan untuk menjadi pemikiran, dan untuk berpikir jelas orang memerlukan akal oleh sebab itu ada satu ayat dalam surah Yunus ayat 100 Allah mengatakan bila Dia marah bagi orang yang tidak mau menggunakan akalnya.Diskusi dengan saya tidak perlu pake besar-besaran huruf segala Mbak, Alhamdulillah sampai hari ini kedua mata saya masih sehat-sehat saja dan berfungsi dengan baik. Jadi, easy saja ya ... :-)
--2011/2/7 whe - en <whe.en9999@gmail.com>Armansyahwhe~en
Jadi mereka yang tidak menggunakan akalnya dalam memahami wahyu sama artinya dengan orang gila bahkan lebih sesat dari binatang sekalipun (quote bebas dari al-Qur'an)
jangan salah mas
akal tetap digunakan
tidak ada yang bilang akal tidak digunakan
saya bold merah biar ga salah bacanya. Biar nyambung
orang yang menganggap akalnya bisa memahami semua dari Allah adalah orang keblinger.
Keblinger karena ga ada setitik air dibadning lautan saja merasa pintar sendiri, merasa benar sendiri
regards
whe~en2011/2/7 Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>[Arman] : Fungsinya akal adalah untuk mempelajari kebenaran yang diklaim oleh wahyu sehingga wahyu itu bisa diamalkan dengan kesadaran atas hasil penerimaan logis dari akal. Sebab tidak beragama orang yang tidak berakal artinya kewajiban agama (baca: semua wahyu yang diturunkan) tidak dibebankan kepada mereka yang akalnya tidak berfungsi seperti salah satunya gila. Jadi mereka yang tidak menggunakan akalnya dalam memahami wahyu sama artinya dengan orang gila bahkan lebih sesat dari binatang sekalipun (quote bebas dari al-Qur'an).2011/2/7 whe - en <whe.en9999@gmail.com>saya quote ulang ya mas 1tim17?alhamdulillah, Insya Allah saya ga salah melangkah,
wahyu di atas akal dan
iman di atas ilmu
wahyu di atas akal, iman diatas ilmu.
terimakasih artikelnya mas
regards
whe~en2011/2/7 satutimotius tujuhbelas <satutimotius.tujuhbelas@gmail.com>001. Peranan Wahyu dan Akal dalam Kehidupan
Makhluk ciptaan Allah SWT di alam syahadah ini, seperti apa yang dapat kita amati, dapat digolongkan dalam jenis-jenis: batu-batuan/mineral, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Allah SWT sebagai ArRabb mengatur alam syahadah dengan hukum-hukumNya untuk mengendalikan berjenis-jenis ciptaanNya itu. Allah sebagai ArRabb (Maha Pengatur) mengendalikan alam semesta dengan hukum-hukumNya yang hingga kini baru dikenal oleh manusia sebagai: medan gravitasi, medan elektromagnet, gaya kuat dan gaya lemah.
Medan gravitasi utamanya mengontrol makrokosmos, mengendalikan bintang-bintang. Ketiga jenis yang lain mengontrol mikrokosmos. Medan elektromagnet mengontrol pasangan proton (bermuatan +) dengan elektron (bermuatan -). Proton-proton dalam inti atom yang saling tolak karena bermuatan sama, "direkat" oleh gaya kuat. Sedangkan gaya lemah menyebabkan inti atom seperti misalnya Thorium dan Uranium tidak stabil menjadi "lapuk" terbelah dengan mengeluarkan sinar radioaktif, sehingga Thorium dan Uranium disebut pula zat radioaktif.
Di samping ke-4 jenis itu hukum Allah mengendalikan pula tumbuh-tumbuhan dengan kekuatan bertumbuh dan berkembang biak; kekuatan bertumbuh itu dapat melawan kekuatan gravitasi yaitu bertumbuh ke atas melawan tarikan gravitasi ke bawah. Adapun pada binatang ditambah pula lagi dengan kekuatan naluri dengan perlengkapan pancaindera. Dengan kekuatan naluri dan perlengkapan pancaindera itu binatang dapat bergerak ke mana saja menurut kemauannya atas dorongan nalurinya.
***
Allah meniupkan ruh ke dalam diri manusia, yang tidak diberikanNya kepada makhluq bumi yang lain. Karena manusia mempunyai ruh, ia mempunyai kekuatan ruhaniyah yaitu akal. Dengan akal itu manusia mempunyai kesadaran akan wujud dirinya. Dengan otak sebagai mekanisme, akal manusia dapat berpikir dan dengan qalbu (hati nurani) sebagai mekanisme akal manusia dapat merasa. Allah menciptakan manusia dalam keadaan, "fiy ahsani taqwiym" (95:4), sebaik-baik kejadian.
Kemampuan akal untuk berpikir dan merasa bertumbuh sesuai dengan pertumbuhan diri manusia. Agar manusia dapat mempergunakan akalnya untuk berpikir dan merasa, ia perlu mendapatkan informasi dan pengalaman hidup. Mutu hasil pemikiran dan renungan akal tergantung pada jumlah, mutu dan jenis informasi yang didapatkannya dan dialaminya. Ilmu eksakta, non-eksakta, ilmu filsafat adalah hasil olah akal dengan mekanisme otak. Kesenian dan ilmu tasawuf adalah hasil olah akal dengan qalbu sebagai mekanisme.
Hasil pemikiran dan renungan anak tammatan SMA lebih bermutu ketimbang hasil pemikiran anak tammatan SD, karena anak tammatan SMA lebih besar jumlah, lebih bermutu dan lebih beragam jenis informasi yang diperolehnya dan pengalaman yang dialaminya. Jadi kemampuan akal manusia itu relatif sifatnya, baik dalam hal evolusi pertumbuhan mekanisme otak dan qalbunya, maupun dalam hal jumlah, mutu dan ragam informasi yang diperolehnya dan dialaminya. Dengan demikian akan relatif juga, baik untuk memikirkan pemecahan masalah, maupun untuk merenung baik buruknya sesuatu.
Oleh karena akal manusia itu terbatas, Allah Yang Maha Pengatur (ArRabb) memberikan pula sumber informasi berupa wahyu yang diturunkan kepada para Rasul yang kemudian disebar luaskan kepada manusia. Nabi Muhammad RasuluLlah SAW adalah nabi dan rasul yang terakhir. Setelah beliau, Allah tidak lagi menurunkan wahyu. Dalam shalat kita minta kepada Allah: Ihdina shShira-tha lMustqiym (1:6), tuntunlah kami ke jalan yang lurus. Maka Allah menjawab: Alif, Lam, Mim. Dza-lika lKita-bu la- Rayba fiyhi Hudan lilMuttaqiyn (s. alBaqarah, 1-2), inilah kitab tak ada keraguan dalamnya penuntun bagi Muttaqiyn (s. Sapi betina, 2:1-2). Al Quran yang tak ada keraguan dalamnya memberikan informasi kepada manusia tentang perkara-perkara yang manusia tidak sanggup mendapatkannya sendiri dengan kekuatan akalnya: 'Allama lInsa-na Ma-lam Ya'lam (s. al'Alaq, 5), (Allah) mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.
Kebenaran mutlak (Al Haqq) tidak mungkin dapat dicapai oleh manusia dengan kekuatan akalnya. Kebenaran mutlak tidak mungkin diperoleh dengan upaya pemikiran mekanisme otak yang berwujud filsafat. Juga kebenaran mutlak tidak dapat dicapai manusia dengan upaya renungan mekanisme qalbu dalam wujud tasawuf. Al Haqq tidak dapat dicapai melalui filsafat ataupun tasawuf. Al Haqqu min rabbikum (s. alKahf, 29), artinya Al Haqq itu dari Rabb kamu (s. Gua 18:29). Alam ghaib juga tidak mungkin diketahui manusia dengan kekuatan akalnya. Filsafat dan tasawuf tidak mungkin dapat menyentuh alam ghaib.
Demikianlah tolok ukur produk pemikiran dan renungan yang berupa filsafat dan tasawuf itu adalah: "Dza-lika lKita-bu la- Rayba fiyhi Hudan lilMuttaqiyn". Filsafat dan tasawuf harus dibingkai oleh Al Quran dan Hadits shahih, sebab kalau tidak demikian, maka filsafat dan tasawuf itu menjadi liar. Sungguh-sungguh suatu keniscayaan, para penganut dan pengamal filsafat dan tasawuf tanpa kendali itu menjadi sesat. Terjadilah fenomena yang naif, lucu, tetapi mengibakan, yaitu antara lain filosof itu berimajinasi tentang pantheisme, sufi itu ber"kasyaf" terbuka hijab, merasa bersatu dengan Allah. Adapun indikator penganut dan pengamal filsafat dan tasawuf tanpa kendali itu, adalah upaya yang sia-sia untuk mempersatukan segala agama. Inilah yang selalu kita mohonkan kepada Allah SAW setiap shalat, agar tidak terperosok ke dalam golongan "Dha-lluwn", kaum sesat.
Hudan lilMuttaqiyn", demikianlah wahyu itu menuntun akal para Muttaqiyn untuk berolah akal, yaitu berpikir/berfilsafat dan merasa/bertasawuf. Akal harus ditempatkan di bawah wahyu dan ilmu filsafat serta ilmu tasawuf harus ditempatkan di bawah iman, singkatnya wahyu di atas akal dan iman di atas ilmu. WaLlahu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 20 Oktober 1991 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
2011/2/5 Arif Al bisri <arifbisri@gmail.com>Hal ini ada sangkut pautnya dengan bijaksana, nah bagaimana cara mendapatkannya ?
Salam,
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--~~~~~Whe~en
http://wheen.blogsome.com/
"Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
"Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
Salamun 'ala manittaba al Huda
ARMANSYAH
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--~~~~~Whe~en
http://wheen.blogsome.com/
"Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
"Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
Salamun 'ala manittaba al Huda
ARMANSYAH
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=---
Wassalaamu'alaikum
Thank you
Best regards
Andri Subandrio
--
Wassalaamu'alaikum
Thank you
Best regards
Andri Subandrio
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment