Kebohongan Kita
Ketika Michel Foucault meluncurkan serial bukunya, dari Archeology of
Knowledge hingga History of Sexuality pada paruh kedua 1960-an,
masyarakat keilmuwan di Prancis dan dunia terkejut. Selain pendekatan
dan metode analisisnya yang kontroversial, buku yang merupakan hasil
penelitian Foucault tentang masyarakat Eropa seputar Abad Pertengahan
itu menyingkap pemahaman umum Eropa yang keliru terhadap dirinya
sendiri. Membongkar praktek-praktek keilmuan penuh tipu dan
kebohongan, yang pada akhirnya membentuk kebudayaan Eropa dan dunia
pada umumnya.
Apa yang dilakukan Foucault, dengan epistemologi dan metode analisis
yang khas, itu sebenarnya juga banyak dilakukan para ilmuwan dunia
lainnya. Tidak hanya dalam sosiologi, sejarah, arkeologi, psikologi,
juga ekonomi dan lainnya. Oleh Levi-Strauss, Eisntein, Derrida,
Stiglitz, Krueger, hingga Chomsky. Mereka semua memberi kita
pengetahuan baru: dunia dan peradaban (serta kebudayaan di dalamnya)
ternyata juga disusun oleh kebohongan-kebohongan. Bila tidak seekstrem
Foucault, sekurangnya setengah dari susunan pengetahuan, struktur atas
pikiran atau langue kita, sebenarnya berisi atau disusun oleh
kebohongan.
Bukankah orangtua, guru-guru (formal maupun informal), hingga para
pemuka agama menyampaikan ajaran sebagian (besar mungkin) melalui
kebohongan? Tidakkah mitologi, kisah mistik, legenda, hingga fabel
juga menyimpan kebohongan itu? Bahkan tidak terelakkan bahwa sejarah
sebuah bangsa yang disusun secara subjektif atau penuh prasangka juga
membentuk sejarah berikutnya dengan kebohongan? Bagaimana bila dokter
berbohong, atau pejabat publik berbohong, pemerintah cq seorang
presiden berbohong? Pernahkah itu mereka lakukan? Apa dampaknya? Di
mana posisi kebohongannya dalam perikehidupan dan kebudayaan kita?
Pernahkah Anda berbohong?
Tentu saja pernah. Semua pernah. Sengaja atau tidak. Sadar atau tidak.
Karena kita masih manusia. Bila ada manusia yang merasa hidupnya
jujur, mungkin melakukan itu secara tidak sengaja atau tidak sadar.
Tapi mereka yang melakukannya dengan sadar akan memelihara kebohongan
dengan menciptakan kebohongan-kebohongan berikutnya, untuk menutupi
kebohongan sebelumnya. Atau menduplikasi terus-menerus kebohongan
hingga akhirnya ia diterima oleh orang lain, bahkan dirinya sendiri,
sebagai sebuah: kebenaran. Sayang sungguh sayang, dunia kita ini
ternyata adalah panggung tragi-tragi semacam itu.
Apa yang membedakan sebuah kebohongan adalah intensi atau alasan di
baliknya. Sebagai kelumrahan budaya dan sejarah, kebohongan dapat
berintensi positif, bukan untuk menutupi atau menghapus kebenaran,
melainkan menundanya. Yakni ketika objek kebohongan memang dianggap
belum mampu menerima kebenaran (baca: kenyataan), sehingga hanya
destruksi atau chaos yang menjadi akibat dibukanya kebenaran secara
dini. Lepas dari soal nilai baik dan buruk, inilah salah satu bentuk
kearifan.
Namun kebohongan bisa menjadi destruktif ketika didorong oleh intensi
untuk mengelabui, mendominasi, atau resistensi atas kebenaran/
kekuasaan yang dimilikinya. Data intelijen, misalnya, menjadi dasar
bagi sebuah negara/pemerintahan untuk melakukan hal ini. Lebih buruk
lagi jika data terbuka (bukan rahasia) dimanipulasi untuk mengecoh
persepsi publik dan menciptakan citraan baik, demi bertahannya sebuah
kuasa, misalnya. Kebohongan macam ini terjadi di belahan bangsa mana
pun. Namun inilah sisi gelap kebudayaan, yang tentu siapa pun akan
berusaha membuatnya terang.
Dalam ricuh kebohongan belakangan ini, mesti cermat ditelisik, di mana
kebohongan itu merupakan manipulasi dan pengelabuan, di mana
kebohongan itu berarti "janji yang belum/tidak terpenuhi". Dalam
sebuah hubungan normal, apalagi politik, makna kedua di atas adalah
hal lumrah, bahkan pasti terjadi. Ia tidak menjadi bohong ketika
diakui oleh pemilik janji. Tapi, pada makna pertama, risikonya terlalu
berat. Bukan hanya hal itu tak bermoral, menciptakan dehumanisasi dan
ketamakan kekuasaan, melainkan juga kekeliruan peradaban dan sejarah
pada akhirnya.
Maka, presiden dan kabinetnya boleh saja menyatakan bahwa mereka tidak
berbohong. Namun tentu saja tak perlu terlalu reaktif, emosional,
sehingga terasa patetik. Bagus bila ia mengontemplasi tuduhan
kebohongan itu dengan, misalnya, menyatakan, "Kami jujur, belum
memenuhi janji kami." Lalu secara arif menerima kebohongan sebagai
bagian tak terelakkan dari retorika politik, betapapun statistik
mendukungnya. Dan akhirnya, mentransendensi kebohongan itu awal dari
tabiat yang jauh lebih buruk dan mengerikan: kemunafikan.
Kebohongan mungkin memiliki alasan di baliknya. Namun kemunafikan
tidak, karena ia jelas berasal dari jiwa yang buruk, dari moral yang
terdegradasi. Inilah persoalan kita sesungguhnya. Di pemerintahan,
parlemen, kepolisian, kejaksaan, organisasi politik, massa, dan elemen-
elemen bangsa lainnya.
Radhar Panca Dahana
Pekerja seni dan pemerhati budaya
[Perspektif, Gatra Nomor 11 Beredar Kamis, 20 Januari 2011]
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment