[Koran-Digital] Diani Panjaitan : Tak Perlu Kita Berkabung
Diani Panjaitan
Terkait soal pajak, memang sulit untuk tidak curiga kepada Pemerintah
Indonesia.
Sebagai negara terkorup se-Asia, menurut Political and Economic Risk
Consultancy (PERC) tahun 2010, sudah bukan rahasia lagi bahwa pemerintah
sering mengeluarkan kebijakankebijakan yang kerap menyusahkan masyarakat
untuk memperkaya oknum-oknum tertentu.
Akan tetapi, kenaikan pajak film impor tidak begitu. Memang sudah
waktunya pajak film impor kita dinaikkan. Kalau negara-negara lain sudah
sejak dulu menetapkan pajak film impor yang tinggi demi memproteksi
industri nasional, hal itu baru dilakukan Pemerintah Indonesia minggu
ini. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik juga menjanjikan bahwa
pajak untuk film lokal akan dihapuskan.
Pilih kasih
Selama ini pemerintah kita memang terlihat pilih kasih dalam
memperlakukan film nasional dan film impor dalam masalah pajak. Total
pajak yang harus dibayarkan film nasional untuk sebuah film bisa lima
kali lipat dari jumlah yang harus dibayarkan pengimpor untuk satu judul
film asing.
Banyak pihak yang tidak menyadari ketimpangan ini karena berpikiran
bahwa film-film asing tentunya juga harus membayar pajak macam-macam di
negara asalnya. Di sinilah kesalahannya. Negara-negara lain yang
suportif terhadap industri perfilmannya sudah sejak dulu mengurangi atau
bahkan menghapus pajak untuk industri perfilman.
Di Amerika Serikat saja, yang empunya pembuat film, pemerintah mereka
memberikan tax deductions dan tax returns hingga hampir 100 persen untuk
produksi dan investasi film. Negara tetangga mereka, Kanada, juga sama.
Pemerintah mereka menawarkan berbagai bentuk tax breaks untuk produksi
dan investasi film lokal.
Jadi, kalau melihat perkembangan hukum pajak film di negara lain dan
membandingkannya dengan hukum kita, industri film impor di Indonesia
jelas lebih bahagia daripada film nasional. Pajak film nasional di
negara-negara lain bisa digratiskan dengan menarik pajak yang tinggi
dari film impor.
Kita memang agak tertinggal dalam masalah ini. Lihat saja Thailand.
Kalau mau dihitung- hitung, jumlah pajak yang harus dibayarkan pengimpor
film luar rata-rata 3.000 persen dari jumlah yang harus dibayarkan oleh
para pengimpor film di negara kita. Contoh lain Mesir, yang sudah
menerapkan pajak sekitar 50 persen untuk film impor, belum termasuk
pajak penjualan dan lain-lain. Kalau film tersebut tergolong box office,
film laris, pajaknya bisa jauh lebih tinggi lagi.
Namun, terlepas dari isu subsidi silang, memang sudah sewajarnya film
impor dipajak lebih tinggi dalam rangka memproteksi pasar film nasional.
Semua orang sudah tahu bahwa film-film Hollywood mendominasi di
mana-mana, bahkan di negara-negara lain yang industri filmnya sudah tua
dan mengakar, seperti India, China, dan Eropa. Pajak tinggi bagi film
impor diterapkan untuk membatasi penetrasi dan kuantitas film-film impor
agar tidak mengubur industri film nasional.
Narasi yang janggal
Bagi saya, sangat membingungkan bila para praktisi film nasional,
seperti Mira Lesmana, menyatakan agar industri perfilman dibebaskan
seluruhnya dari pajak. Industri film nasional justru mungkin bisa terkubur.
Masyarakat pun ditakut-takuti dengan kematian industri perfilman
Indonesia karena dinaikkannya pajak film impor. Sejak ngambek-nya MPAA,
Ikapifi, dan 21 Cineplex yang memboikot dan menarik peredaran film-film
Hollywood di Indonesia, banyak praktisi film ikut mengadopsi sudut
pandang pengimpor dan lantas meramalkan bahwa bioskop akan mati. Dan,
darahnya ada di tangan pemerintah.
Narasi ini terdengar begitu janggal. Pertama, justru sekarang yang jadi
masalahnya adalah MPAA. Bukan pemerintah yang membelenggu film impor
berkualitas. Pemerintah tak pernah melarang film impor, hanya menaikkan
pajak, yang merupakan hak setiap negara. Banyak negara lain yang total
pajak untuk film impornya jauh lebih besar daripada Indonesia, tetapi
MPAA tidak pernah pakai acara boikot. Hanya saja, para importir ini
memang sudah terlalu dimanja selama bertahun-tahun dengan pajak
Indonesia yang kecil.
Kedua, bioskop kita tidak perlu mati walaupun memang akan tersendat
tanpa film Hollywood. Yang membuat film bukan hanya mereka.
Negara-negara lain juga memproduksi banyak film yang bahkan jauh lebih
berkualitas. MPAA pun tidak mewakili semua pembuat film di Amerika,
hanya yang besar-besar. Jadi, kita sebenarnya tidak perlu takut untuk
kekurangan film berkualitas.
Ketiga, "penjahat"-nya bukanlah pemerintah. Kalau ada pihak yang harus
dikecam dari permasalahan ini, maka pihak tersebut adalah Ikapifi dan 21
Cineplex. Merekalah yang tidak ingin keuntungannya berkurang dan
memutuskan untuk mengancam pemerintah dan masyarakat Indonesia dengan
memboikot impor film sama sekali.
Ikapifi dan 21 Cineplex sebenarnya bisa saja terus beroperasi walaupun
tentu saja keuntungan mereka tidak seindah biasanya. Namun, daripada
keuntungan berkurang, mereka memilih untuk mengancam dan memvakumkan
industri. Ini memang tabiat buruk kapitalisme di mana-mana. Selalu
berusaha membayar sekecil mungkin demi keuntungan sebesar-besarnya.
Kita berharap ada pengusaha- pengusaha lain yang akan mengisi kekosongan
pasar yang ditinggalkan oleh Ikapifi dan 21 Cineplex, dan mulai
mengimpor kembali film-film asing. Lagi pula, sudah waktunya dominasi 21
dipecah. Bukankah monopoli atau oligopoli di mana-mana hanya membuat
susah pelanggan?
Diani Panjaitan Penerima Beasiswa Fulbright, New York University, Media
Policy Studies
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/23/03065124/tak.perlu.kita.berkabung...
---=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment