Juga Khatib al-Khawarizmi di dalam "Manaqib"nya, Mir Syed Ali Hamdani Syafie di dalam "Mawaddatul Qurba"nya, Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ulama besar di dalam mazhab saudara, di dalam "Musnad"nya, dan Sulaiman Balkhi Hanafi di dalam "Yanabi al-Mawaddah" mencatatkan (di dalam bentuk yang lebih kurang sama) Rasulullah SAW bersabda,"Kedua anakku ini adalah seperti dua kuntum bunga di dalam dunia ini, dan kedua-duanya adalah Imam baik secara terang-terangan maupun secara tersembunyi, di dalam rumah.
Dan Syeikh Sulaiman Hanafi di dalam bukunya "Yanabiul Mawaddah" telah mengkhususkan di dalam Bab 57, di atas tajuk yang sama mencatatkan begitu banyak sekali hadith-hadith daripada kalangan mazhab saudara seperti Tabari, Hafiz Abdul Aziz Ibn Abi Syaibah, Khatib al-Baghdadi, Hakim, Baihaqi, Baghavi, dan lain-lainnya di dalam riwayat yang berbeda-beda yang menyatakan bahwa Hasan dan Husain AS adalah anak (cucu juga diartikan sbg anak) Rasulullah SAW.
shirazi : Di akhir kisah yang sama juga terdapat penjelasan Abu Saleh Hafiz Abdul Aziz bin al-Akhzar, Abu Nuaim, Tabari, Ibn Hajar Makki pada halaman 112 tulisannya "Sawaiq al-Muhriqah", Mohammad bin Yusuf Kanji Syafie pada akhir bagian I setelah halaman 100, Bab "Kifayatul Talib", serta Tabari ketika meriwayatkan kehidupan Imam Hasan AS menyatakan bahwa khalifah yang kedua, Umar bin Khattab berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa pada Hari Pembalasan, tiap-tiap keturunan akan terputus sesama sendiri, melainkan keturunanku, dan tiap-tiap keturunan dari sisi perempuan pihak bapa melainkan keturunan Fatimah, yang berhubungan darah denganku sebagaimana aku adalah mereka dan keturunan mereka."
Syeikh Abdullah bin Mohammad Amir Shabravi Syafie di dalam bukunya, "Kitabul Ittehaf bin Hubbil Ashraf" meriwayatkan hadith ini dari Baihaqi dan Darqutni, dari Abdullah bin Umar dari bapanya sewaktu peristiwa perkahwinan Ummi Kalsum. Jamaluddin Sayuti di dalam bukunya "Ihyaul Mait" di bawah perbicaraan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait AS, mengambil khalifah Umar dan Syed Abu Bakr bin Shahabuddin Alvi pada halaman 39-42, Bab III, "Reshfatussad min Bahre Fazaele bani Nabiul Hadi" (cetakan di Maktabi Eilmia, Mesir pada tahun 1303H) telah membuktikan bahwa keturunan Fatimah AS adalah keturunan Rasulullah SAW.
Adapun petikan keterangan yang saudara bacakan itu, tidak mempunyai kekuatan dengan alasan yang kukuh. hal Ini sebagaimana yan dinyatakan oleh Mohammad bin Yusuf Kanji Syafie di dalam bukunya "Kifayatul Talib" selepas Bab 100, tajuk kecil yang telah saya terangkan tadi, dari halaman 1 sebagai jawaban kepada hujjah tersebut, yang membuktikan bahwa anak dari anak perempuan Rasulullah SAW (maksudnya anak fatimah) adalah keturunan Rasulullah SAW.
Adapun hujjah anda itui telah diciptakan pada zaman jahiliyyah dahulu, seperti yang telah dicatatkan oleh pengarang "Jameusshawahid." Begitu juga terdapat banyak hadith-hadith yang membuktikan bahwa anak-anak Fatimah AS adalah keturunan Rasulullah SAW. Jadi kami adalah sebagaimana yang telah dibuktikan dengan hadith yang sahih, merupakan keturunan Rasulullah SAW. Dan kami merasa beruntung karena orang lain tidak sama dengan kami.
Sebenarnya tidak ada seorang pun di dalam dunia ini, yang lebih patut untuk merasa bangga dengan keturunan mereka, sebagaimana kebanggaan yang dimiliki oleh keturunan Fatimah AS, yang berasal dari Imam Ali AS dan Rasulullah SAW.
Hafiz: Alasan saudara kelihatan munasabah, dan meyakinkan, dan dengan itu tidak dapat dipertikaikan.
Majlis dialog kemudiannya berhenti untuk solat Isya. Ketika rehat, Nawab Qayum Khan, seorang yang terkenal sebagai hartawan dari kalangan Sunni, yang sungguh berminat untuk mempelajarii agama dengan terperinci, meminta izin untuk mengemukakan beberapa pertanyaan.
Syeikh Abdullah bin Mohammad Amir Shabravi Syafie di dalam bukunya, "Kitabul Ittehaf bin Hubbil Ashraf" meriwayatkan hadith ini dari Baihaqi dan Darqutni, dari Abdullah bin Umar dari bapanya sewaktu peristiwa perkahwinan Ummi Kalsum. Jamaluddin Sayuti di dalam bukunya "Ihyaul Mait" di bawah perbicaraan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait AS, mengambil khalifah Umar dan Syed Abu Bakr bin Shahabuddin Alvi pada halaman 39-42, Bab III, "Reshfatussad min Bahre Fazaele bani Nabiul Hadi" (cetakan di Maktabi Eilmia, Mesir pada tahun 1303H) telah membuktikan bahwa keturunan Fatimah AS adalah keturunan Rasulullah SAW.
Adapun petikan keterangan yang saudara bacakan itu, tidak mempunyai kekuatan dengan alasan yang kukuh. hal Ini sebagaimana yan dinyatakan oleh Mohammad bin Yusuf Kanji Syafie di dalam bukunya "Kifayatul Talib" selepas Bab 100, tajuk kecil yang telah saya terangkan tadi, dari halaman 1 sebagai jawaban kepada hujjah tersebut, yang membuktikan bahwa anak dari anak perempuan Rasulullah SAW (maksudnya anak fatimah) adalah keturunan Rasulullah SAW.
Adapun hujjah anda itui telah diciptakan pada zaman jahiliyyah dahulu, seperti yang telah dicatatkan oleh pengarang "Jameusshawahid." Begitu juga terdapat banyak hadith-hadith yang membuktikan bahwa anak-anak Fatimah AS adalah keturunan Rasulullah SAW. Jadi kami adalah sebagaimana yang telah dibuktikan dengan hadith yang sahih, merupakan keturunan Rasulullah SAW. Dan kami merasa beruntung karena orang lain tidak sama dengan kami.
Sebenarnya tidak ada seorang pun di dalam dunia ini, yang lebih patut untuk merasa bangga dengan keturunan mereka, sebagaimana kebanggaan yang dimiliki oleh keturunan Fatimah AS, yang berasal dari Imam Ali AS dan Rasulullah SAW.
Hafiz: Alasan saudara kelihatan munasabah, dan meyakinkan, dan dengan itu tidak dapat dipertikaikan.
Majlis dialog kemudiannya berhenti untuk solat Isya. Ketika rehat, Nawab Qayum Khan, seorang yang terkenal sebagai hartawan dari kalangan Sunni, yang sungguh berminat untuk mempelajarii agama dengan terperinci, meminta izin untuk mengemukakan beberapa pertanyaan.
Mengapa Syi'ah Menghimpunkan Solat (Solat Zuhur Dengan Asar dan Maghrib Dengan Isya')
Nawab: kenapa orang-orang Syi'ah menjamakkan solat Zuhur dengan Asar dan Maghrib dengan Isya', sedangkan ini bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW?
Shirazi: Pertama, ulama saudara sendiri berbeda pandangan sesama mereka, di dalam masalah yang mereka ikuti kemudian. Kedua, saudara mengatakan kami melakukan amalan yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW. Saudara keliru di sini karena Rasulullah SAW sendiri pernah mendirikan solat dengan kedua-dua cara, kadangkala dengan menjamaknya dan kadangkala secara terpisah.
(Nawab Menoleh kepada rekannya yaitu Hafiz dan bertanya benar atau tidak Rasulullah SAW pernah melaksanakannya dengan kedua-dua cara tadi.)
Hafiz: Baginda melakukannya hanya ketika di dalam perjalanan atau sewaktu terdapat halangan seperti hujah dan lain-lain lagi, Ketika itu barulah Rasulullah SAW mendirikan solat secara jamak, sedangkan baginda shalat terpisah saat di rumah saja.
Shirazi: Di dalam kitab-kitab saudara sendiri, tercatat banyak keterangan hadith, Rasulullah SAW pernah mendirikan solat secara terpisah, dan begitu juga dengan menjamakkannya baik di rumah atau tanpa halangan apapun. Terdapat begitu banyak sekali hadith-hadith sahih di dalam buku-buku saudara sendiri.
Hafiz: Jika benar begitu, tolong rujukkan kepadanya (kpd nawab).
Shirazi: Di dalam "Sahih" Muslim bin Hajjaj, Bab "Jama' Baina-Salatain fil-Hadhar" tercatat sanad-sanad yang tidak terputus yang meriwayatkan Ibn Abbas berkata, "Rasulullah SAW pernah mendirikan solat Zuhr dan Asar, dan Maghrib dan Isya' secara jamak, tidak dalam ketakutan atau apabila baginda berada di luar rumah. Dan sekali lagi, Ibn Abbas berkata,"[I]Kami menyempurnakan delapan raka'at pada solat Zuhr dan Asar, dan tujuh raka'at pada solat Maghrib dan Isya' bersama-sama Rasulullah SAW.[/I]" Hadith yang serupa juga telah dikutip oleh Imam Ahmad bin Hanbal di dalam "Musnad"nya, Bagian I, di halaman 221.
Begitu juga, Imam Muslim mencatatkan beberapa buah hadith yang serupa. Dia meriwayatkan dari Abdullah bin Shaqiq yang menyatakan, bahwa pada satu hari Abdullah bin Abbas sedang membaca khutbah bersama-sama dengan sahabat yang lain selepas shalat Asar, sehingga matahari terbenam dan bintang-bintang mulai terbit. jamaah mulai berteriak, "Solat! Solat!", tetapi Ibn Abbas tidak menghiraukannya.
Ketika itu, seorang dari Bani Tamimi berteriak lagi, "Solat! Solat!". Ibn Abbas kemudian berkata,"Engkau mengingatkan aku tentang satu "sunnah," adapun aku sendiri telah menyaksikan Rasulullah SAW menjamakkan solat Zuhr dengan Asar dan solat Maghrib dengan Isya'. Abdullah bin Shaqiq berkata, dia ragu-ragu dengan kata-kata ini lalu terus menemui Abu Hurairah untuk meminta penjelasannya. Abu hurairah mengakui apa yang telah dikatakan oleh Ibn Abbas itu.
Melalui sanad yang lain pula, Abdullah bin Shaqiq telah meriwayatkan dari Aqil, bahwa Abdullah bin Abbas sedang berbicara dengan beberapa orang dari atas mimbar sehingga hari telah menjadi gelap. Kemudian seorang di antara mereka berteriak tiga kali, "Solat! Solat! Solat!," dan ini menganggu Abdullah bin Abbas, lalu beliau berkata, "Awas, berani kamu mengingatkan aku tentang solat, walhal pada hari-hari bersama Rasulullah SAW, kami pernah menjamakkan solat Zuhr dan Asar dan solat Maghrib dan Isya.'
Legal Disclaimer: The information contained in this message may be privileged and confidential. It is intended to be read only by the individual or entity to whom it is addressed or by their designee. If the reader of this message is not the intended recipient, you are on notice that any distribution of this message, in any form, is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete or destroy any copy of this message
Nawab: kenapa orang-orang Syi'ah menjamakkan solat Zuhur dengan Asar dan Maghrib dengan Isya', sedangkan ini bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW?
Shirazi: Pertama, ulama saudara sendiri berbeda pandangan sesama mereka, di dalam masalah yang mereka ikuti kemudian. Kedua, saudara mengatakan kami melakukan amalan yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW. Saudara keliru di sini karena Rasulullah SAW sendiri pernah mendirikan solat dengan kedua-dua cara, kadangkala dengan menjamaknya dan kadangkala secara terpisah.
(Nawab Menoleh kepada rekannya yaitu Hafiz dan bertanya benar atau tidak Rasulullah SAW pernah melaksanakannya dengan kedua-dua cara tadi.)
Hafiz: Baginda melakukannya hanya ketika di dalam perjalanan atau sewaktu terdapat halangan seperti hujah dan lain-lain lagi, Ketika itu barulah Rasulullah SAW mendirikan solat secara jamak, sedangkan baginda shalat terpisah saat di rumah saja.
Shirazi: Di dalam kitab-kitab saudara sendiri, tercatat banyak keterangan hadith, Rasulullah SAW pernah mendirikan solat secara terpisah, dan begitu juga dengan menjamakkannya baik di rumah atau tanpa halangan apapun. Terdapat begitu banyak sekali hadith-hadith sahih di dalam buku-buku saudara sendiri.
Hafiz: Jika benar begitu, tolong rujukkan kepadanya (kpd nawab).
Shirazi: Di dalam "Sahih" Muslim bin Hajjaj, Bab "Jama' Baina-Salatain fil-Hadhar" tercatat sanad-sanad yang tidak terputus yang meriwayatkan Ibn Abbas berkata, "Rasulullah SAW pernah mendirikan solat Zuhr dan Asar, dan Maghrib dan Isya' secara jamak, tidak dalam ketakutan atau apabila baginda berada di luar rumah. Dan sekali lagi, Ibn Abbas berkata,"[I]Kami menyempurnakan delapan raka'at pada solat Zuhr dan Asar, dan tujuh raka'at pada solat Maghrib dan Isya' bersama-sama Rasulullah SAW.[/I]" Hadith yang serupa juga telah dikutip oleh Imam Ahmad bin Hanbal di dalam "Musnad"nya, Bagian I, di halaman 221.
Begitu juga, Imam Muslim mencatatkan beberapa buah hadith yang serupa. Dia meriwayatkan dari Abdullah bin Shaqiq yang menyatakan, bahwa pada satu hari Abdullah bin Abbas sedang membaca khutbah bersama-sama dengan sahabat yang lain selepas shalat Asar, sehingga matahari terbenam dan bintang-bintang mulai terbit. jamaah mulai berteriak, "Solat! Solat!", tetapi Ibn Abbas tidak menghiraukannya.
Ketika itu, seorang dari Bani Tamimi berteriak lagi, "Solat! Solat!". Ibn Abbas kemudian berkata,"Engkau mengingatkan aku tentang satu "sunnah," adapun aku sendiri telah menyaksikan Rasulullah SAW menjamakkan solat Zuhr dengan Asar dan solat Maghrib dengan Isya'. Abdullah bin Shaqiq berkata, dia ragu-ragu dengan kata-kata ini lalu terus menemui Abu Hurairah untuk meminta penjelasannya. Abu hurairah mengakui apa yang telah dikatakan oleh Ibn Abbas itu.
Melalui sanad yang lain pula, Abdullah bin Shaqiq telah meriwayatkan dari Aqil, bahwa Abdullah bin Abbas sedang berbicara dengan beberapa orang dari atas mimbar sehingga hari telah menjadi gelap. Kemudian seorang di antara mereka berteriak tiga kali, "Solat! Solat! Solat!," dan ini menganggu Abdullah bin Abbas, lalu beliau berkata, "Awas, berani kamu mengingatkan aku tentang solat, walhal pada hari-hari bersama Rasulullah SAW, kami pernah menjamakkan solat Zuhr dan Asar dan solat Maghrib dan Isya.'
No comments:
Post a Comment