Sebenernya kalau di katakan Ru'yat itu salah, berarti Rasulullah SAW dan para sahabatnya adalah orang-orang yang salah dalam menentukan Ramadhan karena mereka radhiaAllahu 'anhum menggunakan Ru'yatul hilal. Dan kemungkinan puasa mereka jadi tidak sah karena menggunakan ru'yat hilal. Berarti para ulama dan umatnya Muhammad Rasulullah hingga sekarang yang berpaham Ru'yat al hilal adalah orang-orang yang salah, jumud, taklid karena mengikuti Rasulullah???
Nash-nash tersebut terkadang ada yang di ambil sebagaimana tekstualnya dan akan tetapi ada nash yang bersifat tekstual namun memiliki makna tersembunyi.... karena di zaman Rasulullah pun perbedaan pendangan antara nash perintah baik Al Qur'an dan dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam selalu sering terjadi. Namun sikap Rasulullah jika terjadi demikian mendiamkannya jika perbedaan itu bukanlah masalah pokok aqidah, Rasulullah selalu mendiamkannya, dan hal itu berarti beliau membenarkannya. Namun jika ada dua pandangan yang berbeda namun salah satunya salah beliau selalu menegur salah satunya.
Sebagai contoh... Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. : Rasulullah saw, bersabda pada hari perang ahzab :"Jangan sekali-kali seseorang shalat ashar kecuali di (perkampungan) Bani Qaraizhah". Sebagaian dari mereka (para sahabat) mendapatkan waktu ashar di tengah perjalanan. Lalu mereka berkata, "Kami tidak akan shalat ashar kecuali setelah kami datang di Bani Qaraizhah". Dan sebagain lagi berkata, " Kami akan melakukan shalaty ashar, karena bukan itu yang dimaksudkan Rasulullah saw terhadap kita". Kemudian kejadian itu dilaporkan kepada Rasulullah, maka beliau saw tidak mencela salah satunya. (Riwayat Bukhari Kitab Al Maghazi Bab Marji'in Nabiyyil minal Ahzab wa Makhrajihi ila Bani Qaraizhah dan Imam Muslim dalam bab al Jihad)
Dari perintah Rasulullah tersebut ada sebagain sahabat yang menerima perintah tersebut apa adanya, yakni tidak shalat ashar kecuali di perkambungna Bani Qaraizah, dan sebagain shalat pada waktunya karena sesuai dengan peritah Allah, yakni sholat tepat pada waktunya. Para ulama juga mendefinisikan siapa yang lebih besar pahalanya apakah yang mengikuti perintah Rasulullah apa adanya atau yang mengikuti perintah Allah agar sholat tepat pada waktunya. Semuanya tidaklah tercela disisi Rasulullah.
Menurut pendapat saya pribaadi... kasus sholat ashar tsb diatas hampir sama dengan kasus yang hangat di diskusikan di Milis ini... yang satu berdasarkan perintah Rasulullah dengan dengan ru'yatul hilal dan yang satunya dengan Firman-firman Allah sebagaimana telah dijelaskan di thread masalah ini.
Pihak ru'yatul hilal menuduh bid'ah pelaku yang berpaham Hisab, dan pihak yang berpaham Hisab menuduh taklid dan jumud kepada yang berpaham ru'yatul hilal. Nah yang salah sekarang yang saling tuduh itu... :)....
Kanapa saling tuduh kalau kedua-duanya menggunakan dalil?
Mana yang paling utama dari kedua pendapat adalah hak Allah untuk menentukan, karena ijtihad tidak bisa dikalahkan oleh ijtihad, dan ijtihad jika salah masih tetap mendapat pahala...selama dalil yang di gunakan adalah dalil yang sah dan diakui dalam dunia litertur islam.
Wallahu'alam bishowab....
----- Original Message -----From: ArmansyahSent: Thursday, July 29, 2010 8:15 AMSubject: Re: [Milis_Iqra] Menentukan Awal Ramadhan Dengan Hilal dan HisabSaya justru melihat ini bukan kesalahan dari hisab, namun justru rukyah itulah yang salah.
Sekarang mari kita telaah dulu apa itu rukyah dan apa sih itu hisab serta metode-metode apa saja yang ada didalamnya.
Perkataan Rukyat berasal dari bahasa Arab "ra'a-yara-rukyat" yang memiliki arti "melihat". Kata-kata ini beberapa kali digunakan oleh kitab suci al-Qur'an yang bisa dipahami bila perbuatan melihat yang dimaksudkan adalah secara sadar dengan inderawi jasmani dan bukan didalam mimpi. Misalnya firman Allah kepada Nabi Muhammad Saw :
Dan tidak Kami jadikan penglihatan (Ar-ru'yaa) yang Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (QS AL-Isra [17] :60)
Ayat tersebut berkaitan dengan peristiwa Israk dan Mikraj. Apabila ada anggapan bahwa pengertian Ru'yaa disitu sebagai mimpi maupun khayalan, maka bagaimanakah hal ini bisa menjadi ujian bagi manusia sebagaimana yang firman Allah yang ada pada bagian akhir ayat 60 surah al-Isra diatas ? Sedangkan makna ujian bagi manusia ini ialah adanya sebagian mereka yang membenarkan dan adapula yang mendustakan. Kalau hal itu berupa penglihatan dalam mimpi, maka orang tidak perlu lagi memperbincangkan untuk membenarkan atau mendustakannya. Adakah pembaca pernah menjumpai orang yang membantah terhadap mimpi seseorang karena didalam mimpinya itu ia melihat atau melakukan perbuatan begini dan begitu ? rasanya secara rasional terlalu berlebihan untuk bersikap demikian, tidak mungkin ada orang yang akan membantah mimpi itu yang notabene orang-orang kafir pada saat Rasul menceritakan peristiwa Israk dan Mikrajnya pun harusnya tidak akan membantahnya bila memang peristiwa ini terjadi dalam mimpi Nabi bahkan orang-orang Islam awalpun tidak perlu goncang imannya sebagaimana riwayat dari Imam Baihaqi dari 'Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu 'anha dan riwayat Ibnu Ishaq dari al-Hasan yang mengatakan adanya orang-orang Islam yang kembali menjadi murtad setelah Nabi menceritakan pengalaman Israk dan Mikrajnya itu. Penegasan bila peristiwa Israk dan Mikraj yang bukan dilihat oleh Nabi Muhammad dalam mimpi ataupun khayalnya melainkan dalam wujud sesungguhnya bisa dijumpai pada ayat al-Qur'an berikut :
Hatinya tidak mendustakan apa yang sudah dilihatnya, maka apakah kamu hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya ? (QS AN-Najm (53) :11-12)
Jadi dari adanya penampakan fisik yang terlihat dengan mata kepala Rasulullah beralih pada pembenaran secara hati oleh beliau Saw. Sebagaimana inipun merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi secara simultan sesuai gambaran dari ayat pertama surah An-Najm hingga ayat kedelapan belas.
Dilain ayat diceritakan pula pada saat Nabi Ibrahim a.s. memandang takjub atas bintang-bintang, bulan dan matahari dilangit dalam kisah pencarian jati diri Tuhannya, kitapun mendapati penggunaan kata-kata Ru'ya yang sama. Dimana Nabi Ibrahim a.s. dikisahkan melihat dalam keadaan sadar atau melihat dengan mata kepalanya secara fisik.
Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS AL-An'am [6] : 76-79)
Beranjak dari defenisi rukyat ini maka dalam kaitannya dengan proses penentuan awal bulan baru pada penanggalan Islam (Hijriah) berartikan sebagai melihat dengan mata kepala lahiriah akan status visibilitas hilal atau penampakan bulan sabit dilangit secara langsung . Kelemahan utama dari sistem rukyat ini ada pada keterbatasan mata inderawi kita terhadap halangan-halangan yang bisa timbul dilangit saat pengamatan, seperti cuaca mendung hingga penglihatan tertutup awan hitam, ketinggian tempat pengamatan, waktu, dan lain sebagainya. Permasalahan klasik tersebut sudah disadari juga oleh Rasulullah Saw, sehingga kemudian beliau bersabda:
Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal/bulan sabit) dan berbukalah karena melihatnya. Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya'ban tiga puluh hari." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis diatas dan hadis-hadis lain yang sejenis (seperti dari Ibnu Abbas dan Abi Hatim) menjadi dasar argumentasi orang-orang yang mempertahankan metode rukyat sebagai satu-satunya cara dalam penentuan awal dari masuknya bulan baru.
Defenisi Hisab
Secara bahasa, istilah Hisab berasal dari bahasa Arab "hasaba" yang memiliki arti menghitung, memperkirakan atau juga membilang. Istilah hisab tersebut erat kaitannya dengan teknis kerja secara teoritis dan praktis yang ditunjang oleh adanya pembuktian tertentu sehingga mendapatkan hasil akhir yang tepat. Dalam konteks perbincangan hisab kedalam ilmu Astronomi atau perbintangan modern maka proses kerja hisab dimasa kita sekarang ini sering dan tidak dapat dihindarkan untuk berkorelasi dengan teknologi canggih, seperti keterlibatan satelit ruang angkasa dengan berbagai pencitraannya maupun visualisasi dalam bentuk aplikasi komputer yang sudah diprogram sedemikian rupa berdasar kondisi dan pengamatan langsung oleh satelit tadi.
Nah sekarang hadis Nabi mengenai letak posisi matahari dalam penentuan dan pengukuran panjang atau arah bayangan yang disesuaikan dengan masuknya waktu sholat, jelas diperoleh dari Ru'yah atau penglihatan fisik matahari dan bukan hasil perhisaban. Konteks Sdr. Addins yang ada di Sulawesi atau Maluku justru berkaitan erat dengan perhisaban, dimana jam sekian sudah masuk maghrib.
Metode hisab bil'ilmi yang melibatkan konteks ilmu pengetahuan sangat tidak tergantung oleh cuaca, berbeda dengan rukyat yang apabila terjadi mendung atau gejala alam lainnya yang menghalangi mata atau alat lain untuk melihat bulan maupun matahari secara fisik. Matahari mempunyai garis edar yang konstant, bulan juga demikian dengan keadaan kecepatan yang konstant tersebut maka posisi masing-masing benda angkasa itu dapat dihitung dengan ilmu yang berkaitan dengan masalah tersebut.
Umat Islam modern sudah mengalami krisis kepercayaan diri yang besar sekalipun mereka sudah dihadapkan dengan peradaban serba maju dan ditunjang berbagai teknologi informasi yang membuat dunia menjadi semakin menyempit. Ada berjuta alasan akan diberikan untuk menutupi krisis ketidak percayaan diri mereka tersebut dan untuk tidak memperluas pembahasan maka kita pun tidak akan membahasnya disini. Manusia diwajibkan oleh Allah melalui al-Quran supaya berpikir dan merenungkan kekuasaan serta memperhatikan alam ciptaan-Nya. Karena berpikir adalah merupakan salah satu dari fungsinya akal yang dimiliki oleh manusia. Jika akal tidak berfungsi, maka manusia telah kehilangan milik satu-satunya yang menjadikannya makhluk terbaik dan tidak dapat lagi berperan dalam kehidupan selaku manusia yang berpredikat Khalifatullah fil ardl.
Para cendikiawan telah sepakat bahwa pikiran yang bebas dan akal yang kreatif adalah pangkal kemajuan umat manusia, sedangkan pikiran yang terbelenggu dan akal yang tidak berinisiatif dan hanya pandai meniru serta bertaqlid buta menjadi penghambat kemajuan individu dan umat. Oleh sebab itulah Rasulullah Saw dalam banyak hadis mengisyaratkan kepada umatnya tentang fungsi dan kegunaan akal yang sebenarnya agar manusia tidak salah menempatkan derajat kemanusiaannya meskipun seperti yang sudah kita lihat bersama, beberapa diantara hadis-hadis ini dinafikan keberadaannya ataupun dipertanyakan autentisitasnya oleh sejumlah orang tertentu sementara dilain pihak mereka sendiri anehnya menerima begitu saja sejumlah hadis-hadis yang nilai validasinya secara akal sehat justru harusnya dipertanyakan dan dikonfrontasikan.
Jika kita kembalikan kepada konteks al-Qur'an sebagai otoritas tertinggi dalam hukum Islam, apa yang menjadi perselisihan menyangkut ru'yat dan hisab dalam penentuan bulan barunya, kita akan menemukan banyak perintah buat kita agar mau belajar dan terus berpikir agar tercapai kemaslahatan ditengah manusia dan umat dalam kerangka ibadah kepada Allah. Artinya al-Qur'an tidak menganjurkan umatnya agar bersifat statis dan dogmatis tetapi dinamis dan kreatif, Allah ingin agar kita cerdas dalam segala hal sesuai batas-batas kemampuan yang bisa kita lakukan. Tidak dapat dipungkiri bila dalam proses penghisaban hilal, ada banyak metode yang digunakan. Diantaranya, Hisab Urfi, Hisab Taqribi, Hisab Haqiqi, Hisab Haqiqi Tahqiqi dan Hisab Kontemporer. Perbedaan diantara semua metode hisab ini terletak pada akurasi hasil akhirnya akibat perbedaan penggunaan rumus-rumus perhitungan dalam hal ketinggian hilal dari batas ufuk. Metode hisab kontemporer atau disebut juga hisab modern sudah menggunakan alat bantu komputer melalui bahasa-bahasa pemrograman terkini yang diintegrasikan dengan algoritma terperinci berdasar keadaan yang sebenarnya yang diperoleh melalui hasil pencitraan satelit.
Demikian dari saya.,
2010/7/29 <addinkesmas@gmail.com>
Hanya urun rembug....
Mungkin maksudnya begini mba WN, hisab digunakan untuk membantu kapan sebenarnya untuk melakukan rukyat, bukan sekedar untuk nyunah sy kira karena selain penetapan Ramadhan tetap berdasar pada terlihatnya bulan dan mungkin sebenarnya inilah yg harus kita lakukan "menguji perhitungan/perkiraan"
Menguji perhitungan(hisab) ini sendiri apakah sudah pernah dilakukan ?
Apakah hisab ini adalah hal yg tak mungkin salah?
Sy kira ngga ya, untuk kasus di indonesia sudah di hitung bahwa musim kemarau april-september tapi kok ngga bener ya, lah wong dirumah sy hampir tiap hari hujan...
Kemudian sy pernah ditugaskan keluar kota (saya lupa) di daerah sulawesi atau maluku utara, waktu itu cuaca masih terang benderang tiba2 terdengar azan maghrib(kondisi matahari belum terbenam seperti gambaran dalam hadist yg di tulis oleh mas Arman) , lalu dalam perjalanan menuju masjid berpapasan dengan jamaah mesjid tersebut sy bertanya" loh kok masih terang sudah adzan ya pak? Apakah sudah masuk waktu maghrib?" Bapak itu cuma menjawab " o iya pak kalau disini magrib jam ....."
Dari sini sy berfikir apakah hisab itu selalu benar? Sy kira tidak, karena kalau manusia yg menghitung pasti dimungkinkan untuk salah dan keliru. Kebenaran hanyalah milik Allah ta'alla dan RasulNya,
Nah pertanyaan sy sudah adakah yg memperbaiki hal2 yg keliru dalam metode hisab ini? Tolok ukurnya apa? Menurut sy pribadi, (ini pribadi loh hanya dengan menggunakan akal seorang yg hampir tidak lulus sarjana) ru'yah inilah (yg dalilnya jelas) yang menjadi tolok ukur keberhasilan/kebenaran dari penghitungan kita.
Bagi saya hisab adalah salah satu upaya memperjelas kondisi yg digambarkan dalam hadist2 tentang waktu sholat dan penetapan ramadhan serta syawal dengan memasukkannya dalam perhitungan waktu bukan sebagai penentu. Karena Rasulullah sallallahu alaihi wassallam ternyata sudah mempermudahnya tanpa harus pandai berhitung.
Dan tanpa bermaksud menjadi banci, inkosisten, tidak punya pendirian, bahkan disebut munafik, kesimpulan sy pribadi sebagai seorang awam dengan alasan yg sy kemukakan diatas bahwa hisab tidak selalu benar, kita menggunakan hisab sebagai pembantu sedangkan rukyat sebagai penentu.
Wallahu 'alam bishowabSent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: whe - en <whe.en9999@gmail.com>Sender: milis_iqra@googlegroups.comDate: Wed, 28 Jul 2010 13:53:36 +0700ReplyTo: milis_iqra@googlegroups.comSubject: Re: [Milis_Iqra] Menentukan Awal Ramadhan Dengan Hilal dan Hisabjadi maksudnya ru'yatul hilal disini apa jika sudah dihitung dulu?melengkapi biar nyunah atau gimana?belum melihat koq memastikan kelihatankalau pas titik derajatnya tinggi ga masalah, pasti kelihatan,kalau titik derajatnya tipis trus ketutupan awan apa ya kelihatan?kalau ga kelihatan trus gimana?On 7/28/10, wawan wahyu <wawan.wahyu@gmail.com> wrote:--Ada lagi contohnya:
Surabaya - Jika bulan Ramadhan sebelumnya antara PBNU dengan Muhammadiyah selalu berbeda. Namun pada bulan puasa kali ini, PWNU dan PW Muhammadiyah Jatim kompak awal puasa pada Rabu, 11 Agustus 2010.
Hal itu merupakan hasil dari perhitungan Hisab, pada Selasa, 10 Agustus mendatang yang diperkirakan akan terlihat hilal (bulan) di titik 3,38 derajat (di atas garis pandang terbenamnya matahari) dengan lama posisi di ufuk (di posisi matahari terbenam) sekitar 14,32 menit.
Anggota Badan Hisap dan Rukyat PWNU Jatim Sholeh Hayat, Senin (12/7) mengatakan, penetapan tersebut merupakan hasil pembahasan Hisab (perhitungan matematis) dan Rukyat (melihat hilal atau bulan) yang telah dilakukan PWNU.
"Dengan posisi ini, hilal dipastikan akan terlihat sehingga keesokan harinya, atau pada Rabu 11 Agustus bisa ditetapkan sebagai awal Ramadhan. Kalau menjelang Maghrib hilal terlihat, besoknya berarti kan sudah puasa," ungkap Sholeh yang juga Wakil Ketua PWNU Jatim ini.
Selain itu, menurut dia, berdasarkan rujukan dari 21 kitab kuning tentang astronomi yang biasa dipakai NU, bulan Syaban akan berakhir pada 10 Agustus, sehingga pada 11 Agustus sudah masuk bulan Ramadhan.
Kendati demikian, pada 10 Agustus 2010 nanti, PWNU tetap akan melakukan Rukyatul Hilal di beberapa lokasi, di antaranya di menara Masjid Agung Surabaya, Pantai Tanjung Kodok Lamongan, Pantai Kenjeran Surabaya, Pantai Sraung Pacitan, Pantai Ambet Pamekasan, Pantai Plengkung Banyuwangi dan Pantai Serang Blitar. "Melihat hilal akan tetap kita lakukan," tegas Sholeh.
2010/7/28 wawan wahyu <wawan.wahyu@gmail.com>
Kalau hal itu menurut saya itu juga sesuatu yang sudah dimengerti para ahlinya mbak, jadi gak perlu kecewa :-), ini contohnya:========
Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) telah menyusun jadwal Imsakiyah Ramadhan 1431 H/2010 M dan menetapkan awal Ramadhan untuk Sumut, 11 Agustus 2010. Namun untuk menetapkan awal memulai ibadah puasa Ramadhan 1431 H secara resmi masih menunggu pengumuman Kementerian Agama RI .
"Insya Allah tahun ini peluang untuk perbedaan tidak ada. Mudahan-mudahan semuanya sepakat, sesuai perhitungan seluruh aliran ahli hisab di seluruh Indonesia telah terjadinya ijma' atau kesepakatan, awal Ramadhan 1431 H, jatuh pada Rabu, 11 Agustus 2010," ujar Ketua Tim Ahli Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Sumut, Arso, tadi malam.Dijelaskan Arso, berdasarkan ijma' diperkirakan, 10 Agustus 2010 dan malam 11 Agustus 2010 hilal sudah berada di atas ufuk. Sesuai kreteria rukyah mabin menentukan jika kurang dari dua derajat, maka 1 Ramadhan jatuh pada, 11 Agustus 2010. Sedangkan untuk, 1 Syawal diperkirakan jatuh pada Jumat, 10 September 2010.
"Tapi sebagai bangsa yang punya pemimpin, kita memerlukan pengumuman resmi dari Kementerian Agama dalam menentukan awal Ramadhan dan Sawal," sebut Arso.
Masih kata Arso, nanti menjelang hari H awal Ramadhan daerah-daerah, termasuk BHR Sumut kembali melakukan rukyah hilal (observasi) di lapangan. BHR Sumut rencananya akan melakukan observasi di Lantai 9 Kantor Gubernur, Jln Diponegoro Medan.
"Rencana kita melakukan rukyah hilal di lantai sembilan kantor gubernur, tapi ada juga yang usul di tempat pembangunan menara ovservasi di Sicanang. Tapi itu, masih belum pasti, karena pembangunanya belum selesai," papar Arso.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=- --
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
Salamun 'ala manittaba al Huda
ARMANSYAH
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment