Mengetahui bahwa info mas Priyo itu benar bagaimana caranya??
On 1/25/11, awung <awungs@gmail.com> wrote:
> Terimakasih atas penjelasannya.
>
> Tentang alQuran sendiri, sejarah mengungkapkan kronologis kodifikasi alQuran
> dimulai dari al Jam'u fis Sudur dan al Jam'u fis Suthur hingga standarisasi
> mushaf Utsmani yang akhirnya sampai ke kita dengan berupa cetakan
> (hardcopy), dan belakangan sudah banyak juga berupa softcopy. Ada catatan
> penting disana proses al jam'u fis sudur dan al jam'u fis suthur adalah
> dibawah kontrol ketat nabi sendiri, saat itu nabi pun melarang penulisan
> apapun selain alQuran: Rasul SAW bersabda "*Janganlah kalian
> menulis sesuatu dariku kecuali Al Quran, barangsiapa yang menulis
> sesuatu dariku selain Al Quran maka hendaklah ia menghapusnya " (Hadis
> dikeluarkan oleh Muslim (pada Bab Zuhud hal 8) dan Ahmad (hal 1).*
>
> Salam,
>
>
> 2011/1/24 priyo djatmiko <priyodjatmiko@gmail.com>
>
>> Mas Awung,
>>
>> > Silakan fikirkan contoh yang saya berikan ... Kakek saya tentu
>> mendapatkan
>> > informasi itu dari ayahnya, atau kakeknya juga, begitu juga kakeknya,
>> > dan
>> > seterusnya meskipun yang ini saya tidak tahu ujungnya ke siapa.
>> >
>> > Sebagai bahan pemikiran, ada suatu game management ttg komunikasi. Game
>> > tersebut dimainkan oleh sejumlah orang yang mana orang pertama akan
>> > diberikan suatu informasi lisan yang harus diteruskan ke orang keduan
>> > kemudian orang kedua harus menyampaikannya ke orang ketiga. Orang ketiga
>> ke
>> > orang keempat dan seterusnya sampai ke orang terakhir. Di akhir akan di
>> cek
>> > lagi apakah informasi yang diterima sama dengan informasi yang
>> disampaikan
>> > ke orang pertama?
>> >
>>
>>
>> Mas Awung, memang kalau ada kabar dari saya, saya mendapatnya dari
>> ayah saya, ayah saya mendapat dari kakek saya, kakek saya
>> menceritakan, "Buyut saya berkata... bla bla" kita tidak serta merta
>> harus mempercayainya.
>>
>> Bagaimana anda mempercayai cerita saya itu? Pertama cek kredibilitas
>> para rawi (rantai informasi), yaitu: apakah saya orang yang jujur dan
>> terkenal tdk pernah berbohong? dan selanjutnya untuk orang-orang
>> lainnya. Kedua, hafalan, Apakah saya jujur tapi ingatannya lemah,
>> sering salah atau tidak meyakinkan ketika menyebutkan cerita? dan
>> selanjutnya untuk orang yang lain. Ketiga, ketersambungan, apakah
>> dalam sejarahnya saya pernah bertemu dengan ayah saya (jangan-jangan
>> ayah saya meninggal ketika saya masih kecil). Dan selanjutnya.
>>
>> Dengan begitu dapat dinilai secara ilmiah, apakah suatu hadits
>> sanadnya baik atau tidak. Ini secara umumnya saja, persyaratan lainnya
>> masih banyak. Yang mempelajarinya adalah ulama hadits dan ilmunya pun
>> terbuka, bisa dicari, dipelajari dan didiskusikan.
>>
>> Bisa dilihat kan bedanya dengan dongeng ala yunani, legenda para
>> leluhur atau bahkan kitab Bible?
>>
>> Jika kita tidak mempercayai metode ini, maka kita tidak berhak
>> mempercayai mayoritas bahan-bahan sejarah, kesaksian manusia di
>> pengadilan, buku-buku dan lainnya.
>>
>> Jika kita menggunakan logika semata, maka kita bisa mempercayai suatu
>> pernyataan sebagai logis atau tidak, namun hanya jatuh pada
>> kemungkinan benar terjadi. Pernyataan si A logis oleh karena itu
>> mungkin terjadi. Tapi anda kan tidak mungkin mengatakan, si A berkata
>> logis, dan itu pasti terjadi.
>>
>> Kaidah ilmu mengatakan, "Al Khabar yahtamil al shidqa wal kadzib,
>> idzan al ra`yu yahtamil al shawab wal khata" Suatu kabar itu
>> mengandung kejujuran atau kedustaan (oleh karena itu yang dicek adalah
>> kejujuran atau kedustaannya) sedangkan buah pikiran itu mengandung
>> kebenaran dan kesalahan (oleh karena itu yang dicek adalah benar atau
>> kelirunya). Al Quran dan Hadits adalah khabar, sehingga mula-mula
>> dicek rantai transmisi pembawa berita tsb.
>>
>> Jika kita konsisten dengan penolakan terhadap kaidah ini, maka kita
>> juga tidak akan mempercayai satupun ayat al Quran, karena al Quran
>> juga datang kepada generasi setelah Nabi dengan jalan periwayatan,
>> kemudian ke generasi berikutnya dan berikutnya sampai ke kita.
>> Darimana anda yakin kalau kitab AL Quran yang anda pegang benar-benar
>> wahyu dari Allah? Jawabnya dari riwayat yang shahih.
>>
>> Hanya saja, Al Quran, selain sanadnya shahih, jumlah riwayatnya juga
>> sampai ke tingkat mutawatir sehingga sangat kuat tingkat keyakinannya,
>> dan mustahil kebohongannya. Sanadnya sudah pasti benar sehingga tidak
>> perlu dicari benar salahnya. Tinggal dicari bagaimana memahaminya.
>>
>> Ujung-ujungnya al Quran datangnya dari lisan Nabi seorang, di masa itu
>> orang beriman bahwa Al Quran benar wahyu dari Allah swt karena mereka
>> melihat sosok Muhammad si penyampai berita adalah sosok yang sangat
>> bersih dan jujur. Bayangkan kalau kita tidak menggunakan metode
>> mengecek kredibilitas penyampai berita, kita tidak akan mengimani AL
>> Quran datangnya dari Allah. Paling banter kita akan mengatakan, "oo
>> yang dikatakan Muhammad adalah logis, oleh karena itu benar, tapi
>> beliau belum tentu Nabi, bisa saja beliau seorang ilmuan yang pintar."
>> Paling banter logika hanya sampai ke kesimpulan berita yang dibawa
>> Nabi logis, sehingga mungkin, bukan karena logis sehingga pasti.
>>
>> Mudah-mudahan menjelaskan dari sisi perspektif ilmu hadis Mas.
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> On 1/24/11, awungb@gmail.com <awungb@gmail.com> wrote:
>> > Om Priyo,
>> >
>> > "Pasti akan ditanya balik, bertentangan dengan ketetapan Allah yang
>> > mana?
>> > Atau ketetapan logika anda sendiri? Siapa sih anda?"
>> >
>> > Kalau anda bertanya siapa saya, saya bukan siapa2, saya orang yang
>> > sedang
>> > belajar untuk memaknai Islam sebagai DIIN. Sebagai seorang yang sedang
>> > belajar saya berusaha untuk terbuka terhadap segala informasi, namun ada
>> > filter yang mesti digunakan yaitu 25/73, yang mana ayat ini menyuruh
>> untuk
>> > kritis bahkan terhadap ayat2 Allah sekalipun kita harus kritis. Dan juga
>> > 2/185 alQuran berfungsi sebagai barometer kebenaran, jadi informasi
>> apapun
>> > ya harus di cross check dengan alQuran, karena alQuran adalah petunjuk
>> yang
>> > terperinci 6/114 dan 11/1.
>> >
>> > Tentang logika yang saya pakai tentu saya menggunakan logika saya
>> sendiri,
>> > karena saya tidak bisa mengendalikan logika orang lain. Bukankah banyak
>> ayat
>> > alQuran dengan redaksi "afala ya'qilun" yg menurut terjemahan berarti
>> apakah
>> > kamu tidak menggunakan akalmu, tentu disini yg dimaksud akal/logika
>> masing2,
>> > yang nanti kebenarannya dibandingkan dengan sang furqon.
>> >
>> > " ... terserahlan kalau memang sudah mengambil sikap "mengkritisi
>> > hadits"
>> > atau "mencukupkan diri dengan lafal-lafal Al Quran" atau mau disebut
>> dengan
>> > bagaimana pun..."
>> > seperti saya jelaskan di atas saya tidak hanya mengkritisi hadis kan
>> > perintahNya semua hal harus dikritisi bahkan ayat alQuran sekalipun.
>> >
>> > "Tapi ijinkan untuk meluruskan pemahaman mas Awung tentang hadits
>> sahih,..."
>> >
>> > Terimakasih atas penjelasannya, akan saya fikirkan.
>> >
>> > "Dalam kasus hadis sahih, bukan hanya Imam Bukharinya saja yang jujur
>> tapi
>> > guru beliau, gurunya guru beliau dan seterusnya sampai ke sahabat perawi
>> > utama sampai ke Rasulullah, dan keteesambungannya bisa dibuktikan, jadi
>> itu
>> > adalah ucapan Rasulullah..."
>> > Silakan fikirkan contoh yang saya berikan ... Kakek saya tentu
>> mendapatkan
>> > informasi itu dari ayahnya, atau kakeknya juga, begitu juga kakeknya,
>> > dan
>> > seterusnya meskipun yang ini saya tidak tahu ujungnya ke siapa.
>> >
>> > Sebagai bahan pemikiran, ada suatu game management ttg komunikasi. Game
>> > tersebut dimainkan oleh sejumlah orang yang mana orang pertama akan
>> > diberikan suatu informasi lisan yang harus diteruskan ke orang keduan
>> > kemudian orang kedua harus menyampaikannya ke orang ketiga. Orang ketiga
>> ke
>> > orang keempat dan seterusnya sampai ke orang terakhir. Di akhir akan di
>> cek
>> > lagi apakah informasi yang diterima sama dengan informasi yang
>> disampaikan
>> > ke orang pertama?
>> >
>> > Saya juga teringat suatu ujaran orang bijak atau hadits (saya lupa):
>> "kalau
>> > anda mengirim barang/uang jangan berharap akan bertambah, kalau anda
>> > mengirim pesan jangan berharap akan berkurang"
>> >
>> > Om Priyo,
>> > Ini semua saya sampaikan sebagai bahan pemikiran, sama sekali tidak
>> > bermaksud untuk mendeskreditkan siapapun. Kalau anda menangkap maksud
>> saya,
>> > saya sama sekali tidak anti hadits karena sebagai seorang yang sedang
>> > belajar sudah selayaknya membuka fikiran seluas2nya.
>> >
>> > Mmhon maaf, kepada siapapun, kalau tidak berkenan.
>> >
>> > Salam,
>> > Sent from my BlackBerry®
>> > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>> >
>> > -----Original Message-----
>> > From: priyo djatmiko <priyodjatmiko@gmail.com>
>> > Sender: milis_iqra@googlegroups.com
>> > Date: Mon, 24 Jan 2011 06:18:26
>> > To: <milis_iqra@googlegroups.com>
>> > Reply-To: milis_iqra@googlegroups.com
>> > Subject: Re: [Milis_Iqra] Berani Bermain Air Harus Berani Basah
>> >
>> > Mas Awung dan yang sepaham dengan beliau,
>> >
>> > Saya pikir sudah jelas maksud anda, terserahlan kalau memang sudah
>> mengambil
>> > sikap "mengkritisi hadits" atau "mencukupkan diri dengan lafal-lafal Al
>> > Quran" atau mau disebut dengan bagaimana pun. Itu akan menjadi
>> > pertanggungjawaban kita masing-masing.
>> >
>> > Tapi ijinkan untuk meluruskan pemahaman mas Awung tentang hadits sahih,
>> yang
>> > kata mas Awung *"Anda boleh saja membela bahwa maksudnya tidak seperti
>> itu
>> > karena hadits tersebut shoheh, sanadnya baik, dan sebagainya, tetapi
>> > saya
>> > juga punya hak untuk berpendapat. Sesuatu yang salah tidak akan berubah
>> > menjadi benar walaupun yang mengucapkannya orang yang jujur atau orang
>> baik.
>> > Sebagai contoh .... (dst)"*
>> >
>> > Kalau anda tidak memahami hakikat sesuatu, bagaimana mau
>> > menilai/mengkritisinya? Pantaslah apa yang dikritisi tidak nyambung
>> dengan
>> > argumennya, maunya mengkritisi hadis yang dianggap bertentangan dengan
>> > logika al Quran ternyata hanya bertentangan dengan logika manusia,
>> > itupun
>> > logika seorang fulan belaka.
>> >
>> > Kriteria hadis sahih sanadnya itu selain orangnya jujur, harus ada
>> > ketersambungan sanad sampai ke Rasulullah dan hafalannya baik.
>> >
>> > Quote Mas Awung *"Sesuatu yang salah tidak akan berubah menjadi benar
>> > walaupun yang mengucapkannya orang yang jujur atau orang baik"*
>> >
>> > Dalam kasus hadis sahih, bukan hanya Imam Bukharinya saja yang jujur
>> > tapi
>> > guru beliau, gurunya guru beliau dan seterusnya sampai ke sahabat perawi
>> > utama sampai ke Rasulullah, dan keteesambungannya bisa dibuktikan, jadi
>> itu
>> > adalah ucapan Rasulullah. Tidak terbayang ada seorang yang beriman
>> > kepada
>> > Allah dan Hari Akhir, ketika Rasulullah bersabda, dipotong dengan ucapan
>> > "Maaf, *tidak logis karena tidak sesuai dengan ketetapan Allah sendiri
>> yaitu
>> > hukum sebab akibat"*
>> >
>> > Pasti akan ditanya balik, bertentangan dengan ketetapan Allah yang mana?
>> > Atau ketetapan logika anda sendiri? Siapa sih anda?
>> >
>> >
>> >
>> >
>> > 2011/1/23 awung awungs@gmail.com
>> >
>> >>
>> >> Om Dani dan yang lainnya yang sefaham, ada perbedaan cara pandang kita
>> >> dalam menilai persoalan ini. Awalnya saya mengajak mbak WN untuk
>> >> mengkritisi
>> >> karena kelihatannya ada pertentangan antara hadits yang dikutip dengan
>> >> alQuran 66/8. Cara pandang saya langsung ke substansinya. Subtansi
>> hadits
>> >> yang dikutip: kalau seseorang sakit/menderita maka Allah akan menghapus
>> >> sebagian kesalahannya. Ini kan secara logika tidak logis karena tidak
>> >> sesuai
>> >> dengan ketetapan Allah sendiri yaitu hukum sebab akibat. Anda boleh
>> >> saja
>> >> membela bahwa maksudnya tidak seperti itu karena hadits tersebut
>> >> shoheh,
>> >> sanadnya baik, dan sebagainya, tetapi saya juga punya hak untuk
>> >> berpendapat.
>> >> Sesuatu yang salah tidak akan berubah menjadi benar walaupun yang
>> >> mengucapkannya orang yang jujur atau orang baik. Sebagai contoh: dulu
>> >> waktu
>> >> saya kecil saat terjadi gerhana bulan saya diksih penjelasan oleh kakek
>> >> saya
>> >> itu karena dimakan oleh raksasa hijau. Ya saya percaya karena yang
>> >> mengucapkan kakek saya, tetapi dengan berkembangnya pengetahuan yang
>> saya
>> >> miliki ya pendapat itu harus gugur.
>> >>
>> >>
>> >> Saya fikir kita cukupkan sampai disini saja diskusi tentang hal ini
>> karena
>> >> sudah jelas pandangan kita masing2, kita kembalikan saja kepada Allah
>> >> sesuai
>> >> dengan 40/10: "*Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih maka putusannya
>> >> (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah
>> >> Allah
>> >> Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya lah aku
>> >> kembali."*
>> >>
>> >> *
>> >> *
>> >>
>> >> Salam,
>> >>
>> >>
>> >>
>> >
>> > --
>> >
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>> > Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>> > dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>> >
>> > Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>> > berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>> >
>> > Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>> > Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>> > Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>> > Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>> >
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>> >
>> > --
>> >
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>> > Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>> > dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>> >
>> > Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>> > berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>> >
>> > Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>> > Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>> > Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>> > Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>> >
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>
>> --
>>
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>
>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>
>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>>
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>>
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment