Kesimpulan sementara
Mas dani, saya lihat keadaan justru berbalik 180 derajat, saya yang bertanya awalnya, namun saya sekarang disibukkan dengan pertanyaan pertanyaan mas dani, sehingga kesannya malah saya yang bertanggungjawab terhadap suatu pernyataan, padahal sayalah yang mempertanyakan ke mas dani.
Namun, jangan pernah bilang saya curang lagi, karena mas danilah yang curang dalam berdiskusi sekarang.
Bukannya menjawab pertanyaan saya malah sibuk bertanya.
Biar tidak melebar kemana mana dulu, dan agar terkesan profesional, saya akan menyimpulkan satu point yaitu soal darimana mencari ilmu agama dari jawaban mas dani terhadap pernyataan saya di bawah:
[Dani Permana] Saya mengerti dengan keinginan M WN, dan itu adalah cara yang terbaik, dan memang harus begitu caranya mencari ilmu.
Jika pandangan saya soal "Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama tersebut." dianggap cara terbaik dari mas Dani dalam mengambil ilmu, maka saya simpulkan bahwa:
Kita harus berhati hati dalam mengambil ilmu agama, ambillah dari orang yang benar benar tahu agama untuk ilmu agama, jangan mengambil ilmu agama dari orang yang tidak tahu agama.
Dari kesimpulan diatas, saya mohon kepada mas Dani, jangan menjudge orang sombong atau susah atau kalimat lain yang tidak baik karena tidak perlu nasehat tentang agama dari seseorang karena yang memberi nasehat agama haruslah orang yang berilmu agama.
Bagaimana mungkin ilmu agama didapat dari orang yang tidak tahu agama. Bagaimana mungkin nasehat agama diterima dari orang yang tidak menguasai ilmu agama
Silahkan dikritisi dulu kesimpulan sementara itu.
Dibawh adalah quote pernyataan saya dan mas Dani
=====
1. Al Imam Muslim berkata di muqodimah shahihnya: telah menceritakan kepadaku Makhlad bin Husian dari Hisyam dari Muhammad bin Sirin berkata:
"Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama tersebut."
Dan beliau berkata pula: telah menceritakan kepadaku Abu Ja'far Muhammad bin Shobbah, telah menceritakan kepadaku Ismail bin Zakaria, dari Ashim Al Ahwal dari Ibnu Sirin berkata:
Mereka dahulunya tidak menanyakan tentang isnad maka ketika terjadi fitnah mereka berkata,"Sebutkan kepada kami rawi-rawi kalian." Dilihat kepada Ahlis sunnah diambil hadits mereka, dan dilihat kepada ahlul bid'ah tidak diambil hadits mereka."
Sebagaimana Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kamian mengikuti jalan-jalan yang lain yang dengannya kalian akan tercerai-berai dari jalan-Nya. Yang demikian itu telah Kami wasiatkan kepada kalian agar kalian bertaqwa."
Dari quote diatas, semoga mas dani tahu kenapa saya mempermasalahkan darimana saya mengambil ilmu, tanpa bermaksud "susah" seperti kata mas Dani. Bagaimana kita bisa mengambil ilmu dari orang yang mengatakan "bodoh" kepada orang yang mengikuti sunnah Nabi-Nya
Saya harus berhati hati dalam mengambil ilmu agar paham yang saya dapatpun adalah paham yang lurus
Kalau soal saya meninggalkan diskusi dengan orang lain, mohon mas Dani tidak perlu menagihkannya buat orang lain tersebut karena saya pasti punya alasan tersendiri ketika pergi dari diskusi. Terutama jika dalil dari Allah dan RasulNya dibantah dengan logika saja.
[Dani Permana] Saya mengerti dengan keinginan M WN, dan itu adalah cara yang terbaik, dan memang harus begitu caranya mencari ilmu.
whe~en
31 Januari 2011
Coba M WN baca, yang mendatail dari apa yang M WN sudah copy paste kembali… terutama dari yang saya high light hijau…
========
(Dani Permana)
Sebagaimana di artikel yang M WN forward "Sanad hadits ini (Iyad bin Ghaninm) adalah lemah, karena keterputusan antara Syuraih dengan 'Iyaadl dan Hisyaam. Jadi BUKAN saya yang mendho'ifkan dan bukan saya juga yang mengatakan sanadnya terputus.
Cobalah M N juga menjawab pertanyaan2 dari saya, biar adil gitu?
(whe~en)Sanad hadits ini lemah karena inqithaa' (keterputusan) antara Syuraih dengan 'Iyaadl dan Hisyaam.
Akan tetapi inqithaa' ini disambung oleh Ibnu Abi 'Aashim (no. no. 1097) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Auf : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismaa'iil : Telah menceritakan ayahku, dari Dlamdlam bin Zur'ah, dari Syuraih bin 'Ubaid, ia berkata : Telah berkata Jubair bin Nufair, ia berkata : Telah berkata 'Iyaadl bin Ghanm kepada Hisyaam bin Hakiim : "Tidakkah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : '….(al-hadits)….".
Sanad riwayat ini juga lemah karena kelemahan Muhammad bin Ismaa'iil bin 'Ayyaasy. Selain itu, penyimakannya dari ayahnya dikritik oleh Abu Haatim [Tahdziibul-Kamaal, 24/483-484 no. 5067].
[Dani Permana] Bisa disambungkan hadistnya ….. "Tidakkah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : '….(al-hadits)…."."
Syuraih mempunyai mutaba'ah dari 'Abdurrahmaan bin 'Aaidz Al-Azdiy sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi 'Aashim (no. 1098) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Auf : Telah menceritakan kepada kami 'Abdul-Hamiid bin Ibraahiim, dari 'Abdullah bin Saalim, dari Az-Zubaidiy, dari Al-Fudlail bin Fadlaalah, ia mengembalikannya kepada Ibnu 'Aaidz, dan Ibnu 'Aaidz mengembalikannya kepada Jubair bin Nufair, dari 'Iyaadl bin Ghanm, ia berkata kepada Hisyaam bin Al-Hakiim : "…..(al-hadits)….".
Sanad riwayat ini lemah karena 'Abdul-Hamiid bin Ibraahiim. Hapalannya tercampur setelah kitab-kitabnya hilang [At-Taqriib, hal. 563 no. 3775].
'Abdul-Hamiid bin Ibraahiim mempunyai mutaba'ah dari 'Amru bin Al-Haarits Al-Himshiy. Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 17/367 no. 1007, Al-Haakim 3/290, dan Al-Bukhaariy dalam At-Taariikh Al-Kabiir 7/18-19 dari jalan Ishaaq bin Ibraahiim bin Zibriiq, dari 'Amru bin Al-Haarits Al-Himshiy, dari 'Abdullah bin Saalim, selanjutnya seperti sanad di atas.
Sanad hadits ini lemah karena Ishaaq bin Ibraahiim bin Zibriiq. Ia seorang yang shaduuq, namun periwayatannya dari 'Amru bin Al-Haarits adalah lemah dan ditinggalkan.
Dapat kita lihat bahwa dalam setiap thabaqah sanad saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Kelemahan masing-masing sanad bukanlah jenis kelemahan yang tidak menerima penguat berupa mutaba'aat. Oleh karena itu, hadits ini tidak jatuh lebih rendah dari derajat hasan. Bahkan, beberapa ulama telah men-jazm-kan dengan keshahihan seperti Al-Albaaniy, Al-Arna'uth, Ibnu Barjaas, Baasim Al-Jawaabirah, dan Hamzah Az-Zain.
[Dani Permana] Pertanyaan dari saya
· Jika hadist ini sahih, mengapa hanya "Al-Albaaniy, Al-Arna'uth, Ibnu Barjaas, Baasim Al-Jawaabirah, dan Hamzah Az-Zain." Yang men-jazm-kan Sahih, bagaimana yang lainnya?
· Apa maksud dari Thabaqah Sanad saling menguatkan satu dengan yang lainnya?
· Apa yang dimaksud dengan mutaba'at?
http://wheen.blogsome.com/
"Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
"Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment