Friday, December 4, 2009

[Milis_Iqra] Re: Tanggapan untuk Lingga : (Topik: Jesus' Tomb in Talpiot)

TANGGAPAN SINGKAT TERHADAP BUKU "MISQUOTING JESUS" (penulis : BART D. EHRMAN)

oleh : Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.


ISI BUKU SECARA UMUM
Sebenarnya tidak ada yang baru dalam buku ini. Sudah banyak theolog yang menyusun buku sejenis, walaupun sikap mereka cenderung berbeda dengan Ehrman. Tetapi tekad Ehrman untuk membawa isu ini ke level jemaat awam dapat dikategorikan sebagai hal baru.

Secara sederhana, Ehrman ingin menunjukkan Alkitab tidak bisa diandalkan. Alasan yang diangkat ada dua. Pertama, para penulis naskah asli Alkitab (autografa) kemungkinan melakukan beberapa kesalahan. Kedua, para penyalin Alkitab melakukan berbagai kesalahan/pengubahan, baik yang disengaja maupun tidak. Di antara dua alasan tersebut, Ehrman hanya memfokuskan pada alasan yang kedua.

Alur berpikir Ehrman dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Yang disebut firman Allah adalah autografa Alkitab.
2. Autografa sudah tidak ada lagi.
3. Yang tersisa adalah salinan-salinan Alkitab yang saling berbeda.
4. Usaha untuk menentukan autografa berdasarkan perbandingan salinan-salinan tidak bisa diandalkan.

Kesimpulan : Alkitab sekarang bukanlah firman Allah yang tidak bisa salah.


ANALISIS KRITIS
Kita perlu mengakui pandangan Ehrman bahwa yang disebut firman Allah yang tidak mungkin salah memang hanya terbatas pada autografa Alkitab. Salinan, terjemahan ataupun tafsiran kadangkala menunjukkan beberapa kesalahan. Dia juga benar bahwa autografa Alkitab sudah tidak ada lagi (salinan Perjanjian Baru tertua yang kita miliki ditulis tahun 125 M). Dia juga benar soal ribuan salinan yang saling berbeda. Sayangnya, Ehrman tidak mampu mengambil kesimpulan yang benar dari hal-hal tersebut.

Tidak adanya autografa Alkitab seharusnya tidak boleh terlalu meresahkan kita. Pertama, semua buku kuno—baik yang dianggap kitab suci maupun buku sekuler—yang pernah ada di dunia ini sudah tidak memiliki autografa lagi. Kita hanya memiliki salinan-salinannya saja. Seandainya Alkitab diragukan hanya gara-gara tidak menyisakan autografa, maka sikap yang sama seharusnya diterapkan pada semua kitab yang lain.

Kedua, dibandingkan dengan buku-buku kuno lain yang juga tidak memiliki autografa, salinan-salinan Alkitab justru lebih bisa dipercaya. Para cendekiawan biasanya menerapkan uji kualitas yang disebut bibliographical test. Berdasarkan kriteria ini, suatu buku kuno dianggap bisa dipercaya kalau memiliki salinan-salinan :
1. Yang jarak waktu antara penyalinan dengan penulisan aslinya semakin dekat. Semakin dekat dengan waktu penulisan maka salinan tersebut mengalami proses penyalinan yang jumlahnya semakin sedikit, sehingga jumlah kesalahan yang ditimbulkan dari penyalinan tersebut juga relatif lebih sedikit.
2. Yang jumlahnya banyak. Dengan memiliki jumlah salinan yang banyak maka kita memiliki banyak bahan/pertimbangan untuk menentukan mana yang lebih sesuai dengan autografa.

Hasil penerapan bibliographical test terhadap Perjanjian Baru dan buku-buku kuno lainnya menunjukkan bahwa salinan Perjanjian Baru memiliki jarak waktu yang terpendek dengan waktu penulisannya. Salinan Perjanjian Baru juga memiliki jumlah yang paling banyak. Lihat penjelasan di bawah ini :
• Buku Iliad ditulis oleh Homer pada tahun 800 SM (salinan tertua : c. 400 SM ; interval waktu : c. 400 tahun ; jumlah salinan : 643).
• Buku History ditulis oleh Herodotus pada tahun 480-425 SM (salinan tertua : c. 900 M ; interval waktu : 1350 tahun ; jumlah salinan : 8).
• Buku History ditulis oleh Thucydides pada tahun 460-400 SM (salinan tertua : c. 900 M ; interval waktu : c. 1300 tahun ; jumlah salinan : 8).
• Buku yang ditulis oleh Plato pada tahun 400 SM (salinan tertua : c. 900 M ; interval waktu : c. 1300 tahun ; jumlah salinan : 7).
• Buku yang ditulis oleh Demosthenes pada tahun 300 SM (salinan tertua : c. 1100 M ; interval waktu : c. 1400 tahun ; jumlah salinan : 200)
• Buku Gallic Wars ditulis oleh Caesar pada tahun 100-44 SM (salinan tertua : 900 M ; interval waktu : c. 1000 tahun ; jumlah salinan : 10)
• Buku History of Rome ditulis oleh Livy pada tahun 59 SM-17 M (salinan tertua : abad IV (partial), abad X (mostly) ; interval waktu : c. 400 tahun (partial), c. 1000 tahun (mostly) ; jumlah salinan : 1 partial, 19 copies).
• Buku Annals ditulis oleh Tacitus pada tahun 100 M (salinan tertua : c. 1100 M ; interval waktu : c. 1000 tahun ; jumlah salinan : 20)
• Buku Natural History ditulis oleh Pliny Secundus pada tahun 61-113 M (salinan tertua : c. 850 M ; interval waktu : c. 750 M ; jumlah salinan : 7)
• Perjanjian Baru ditulis pada tahun 50-100 M (salinan tertua : c. 114 (fragmen), c. 200 (buku), c. 250 (mostly), c. 325 (lengkap) ; interval waktu : +50 tahun (fragmen), 100 tahun (buku), 150 tahun (mostly), 225 tahun (lengkap) ; jumlah salinan : 5366)


Kita bisa menyimpulkan, seandainya Perjanjian Baru diragukan hanya gara-gara tidak memiliki autografa, maka kita juga harus meragukan semua buku kuno yang lain, karena kualitas dan jumlah salinan mereka mereka sangat jauh di bawah salinan-salinan Perjanjian Baru. Sekali lagi, yang terpenting bukanlah memiliki autografa atau tidak, namun seberapa bagus dan banyak salinan yang kita miliki.

Ketiga, berdasarkan salinan-salinan yang ada, para cendekiawan berusaha merekonstruksi autografa Alkitab (menentukan salinan mana yang lebih sesuai dengan yang asli) melalui kritik teks (textual criticism). Mereka menerapkan kriteria tertentu untuk menentukan salinan mana yang lebih bisa dipercaya. Misalnya usia salinan, kualitas salinan, karakteristik tata bahasa penulis Alkitab, konteks dari ayat yang diselidiki, dsb.

Kritik teks sudah berkembang sedemikian rupa, sehingga mayoritas cendekiawan telah mencapai persetujuan tentang banyak bagian di dalam Alkitab. Beberapa ayat memang masih diperdebatkan, namun di antara ayat-ayat ini tidak ada yang memengaruhi ajaran Kristen yang pokok. Buku Misquoting Jesus terlalu melebih-lebihkan beberapa ayat yang belum bisa dipastikan ada di dalam autografa atau tidak, seolah-olah ayat-ayat itu sangat memengaruhi runtuh atau berdirinya ajaran Kristen.

Beberapa teks yang dipermasalahkan dalam buku Misquoting Jesus juga tidak boleh dilihat secara berlebihan seolah-olah hal tersebut cukup untuk meragukan otoritas Alkitab secara keseluruhan. Sebagai contoh, seandainya 1 Yohanes 5:7b-8 tidak ada dalam autografa (beberapa terjemahan kuno dan salinan Alkitab yang tertua tidak memiliki bagian ini), maka kita masih memiliki ayat-ayat lain yang sangat kuat untuk mendukung doktrin Tritunggal. Begitu pula dengan Yohanes 8:11. Seandainya teks ini tidak ada dalam autografa (salinan kuno tidak memiliki kisah ini ; salinan yang lebih muda yang memiliki bagian ini meletakkannya di tempat yang berbeda-beda), maka hikmat dan kasih Kristus kepada orang berdosa masih bisa dilihat dengan jelas di bagian Perjanjian Baru yang lain.


KONKLUSI
Saya setuju dengan semangat Ehrman untuk menyelidiki Alkitab sampai pada autografanya karena hanya autografa Alkitab yang diilhamkan Allah dan bersifat tidak mungkin salah. Bagaimanapun, hal ini tidak berarti bahwa kita boleh merendahkan Alkitab terjemahan modern. Semua terjemahan tersebut dibuat oleh para ahli Alkitab yang juga telah belajar kritik teks. Sesuai dengan segmen pembaca yang ditargetkan, para penerjemah Alkitab telah berusaha semampu mungkin untuk merekonstruksi autografa sekaligus menerjemahkannya ke dalam bahasa populer yang bisa dimengerti oleh orang awam (khusus untuk terjemahan King James Version kita memang harus mengakui bahwa ketika terjemahan ini dibuat, banyak salinan kuno yang belum ditemukan). Dalam hal ini, para hamba Tuhan memiliki peranan sentral dalam membimbing jemaat untuk memilih terjemahan yang paling baik (saya sendiri merekomendasikan terjemahan Revised Standard Version dan New American Standard Bible bagi mereka yang
bisa bahasa Inggris dan senang menyelidiki Alkitab).

Hal terakhir, soal keyakinan Ehrman bahwa para penulis Alkitab mungkin melakukan beberapa kesalahan sehingga ada kontradiksi dalam Alkitab. Tentang pendapat ini, kita harus dengan tegas menolaknya. Sayangnya, kita tidak memiliki banyak ruang untuk membahas hal ini secara detail. Kita juga harus menolak pandangan Ehrman yang menilai Alkitab hanya sebagai hasil karya manusia yang bisa salah. Allah memang menggerakkan para penulis Alkitab dan Ia menggunakan keunikan mereka masing-masing, namun Allah tetap menjaga mereka sehingga apa yang akhirnya ditulis adalah apa yang dinafaskan Allah (2 Tim. 3:16) dan didorong oleh Roh Kudus (2 Pet. 1:21). Sekali lagi, penolakan ini untuk sementara hanya bisa dinyatakan saja di sini tanpa disertai argumentasi-argumentasi yang mendukungnya. Lain waktu kalau Tuhan berkehendak, kita akan membahas hal ini secara khusus.


Sumber : Majalah Rohani Populer BAHANA Vol. 192, April 2007

Diketik ulang dan sedikit diedit oleh : Denny Teguh Sutandio

Profil Ev. Yakub Tri Handoko :
Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. adalah hamba Tuhan yang melayani di Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya. Beliau juga adalah dosen apologetika di Sekolah Theologia Reformed Injili Surabaya (STRIS) Ngagel, Surabaya. Beliau meraih gelar Sarjana Theologia (S.Th.) dari Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS), gelar Master of Arts (M.A.) dan Master of Theology (Th.M.) dari International Theological Seminary, USA (President : Rev. Prof. Joseph Tong, Ph.D., adik kandung Pdt. Dr. Stephen Tong). Selain itu, beliau juga menjadi dosen di STT Injili Abdi Allah, Pacet.

--- On Thu, 3/12/09, Armansyah <armansyah.skom@gmail.com> wrote:

> From: Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>
> Subject: [Milis_Iqra] Re: Tanggapan untuk Lingga : (Topik: Jesus' Tomb in Talpiot)
> To: milis_iqra@googlegroups.com
> Date: Thursday, 3 December, 2009, 8:39
>
>
> 2009/12/2 abdi yono <boiran2000@yahoo.co.uk>
>
>
>
> Sudah terlalu sering orang kristen mendengar pengritik
> melontar ucapan-
>
> ucapan tidak intelek tanpa bukti :"ALKITAB TELAH
> DIUBAH-UBAH"
>
>
>
>
>
> [Arman] : Entah bukti seperti apa lagi yang diminta sama
> Abdi Yono ... silahkan jawab dengan tuntas bukti yang sudah
> saya ajukan sebelum ini. Semua pihak bisa melihatnya secara
> sangat obyektif sejauh mana kebenaran ucapan anda
> "tidak intelek tanpa bukti bila alkitab telah
> diubah-ubah". Kenyataannya memang demikian adanya ...
> akan semakin nyata bila anda juga membaca buku Misquoting
> Jesus karya Bart D. Ehrman.
>
>
>
>
> --
> Salamun 'ala manittaba al Huda
>
>
>
> ARMANSYAH
>
>
> >
>
>
>


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

[Milis_Iqra] Re: Tanggapan untuk Lingga : (Topik: Jesus' Tomb in Talpiot)

Respon Terhadap Buku Misquoting Jesus

Pendalaman Alkitab GKRI Exodus, 24 April 2007

Yakub Tri Handoko, Th. M.

Dewasa ini sering bermunculan buku-buku yang mendiskreditkan kekristenan (atau paling tidak menyerang kekristenan injili/ortodoks). Yang termasuk buku semacam ini antara lain novel Da Vinci Code (Dan Brown), terjemahan Injil Yudas, Dinasti Yesus (James Tabor) dan Misquoting Jesus (Bart D. Ehrman). Tidak tertutup kemungkinan akan muncul buku-buku lain yang sejenis. Semua buku ini bukan diterbitkan oleh penerbit Kristen. Dari hal ini kita dengan mudah bisa menduga motif di balik penerjemahan dan penerbitan buku-buku tersebut, yaitu sekedar strategi bisnis untuk mengeruk keuntungan besar dari isu kontroversial (dan disukai banyak orang) atau tendensi ideologis lain yang turut berperan di dalamnya.

Sejauh ini respon orang Kristen di Indonesia terhadap fenomena di atas bisa dibilang cukup bijaksana. Mereka tidak mau mengintimidasi maupun menuntut para penerbit tersebut secara hukum. Dalam era kebebasan pers, orang Kristen memang sudah sepatutnya memiliki wawasan yang luas. Yang harus dilakukan adalah memperdalam pemahaman terhadap kebenaran Alkitab, sehingga tidak dibingungkan oleh berbagai ajaran yang menyimpang. Bukankah Yesus sendiri pernah mengatakan bahwa penyesatan memang harus ada (Mat 18:7//Luk 17:1)? Bukankah hal itu justru bermanfaat untuk menguji siapa yang sungguh-sungguh percaya kepada kebenaran dan siapa yang tidak sungguh-sungguh (1Yoh 2:19)?

Dalam makalah kali ini, kita hanya akan menyoroti buku Misquoting Jesus karya teolog liberal yang bernama Bart D. Ehrman yang diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, tahun 2006. Buku yang mulai diterbitkan pada tanggal 1 November 2005 ini bukanlah satu-satunya buku karya Ehrman yang menyerang kekristenan injili. Dia sebelumnya sudah menulis dua buku yang memiliki semangat sama, walaupun topik yang dibahas berbeda, yaitu Lost of Christianities: The Battles for Scripture and the Faith We Never Knew dan Lost Scriptures: Books that Did Not Make It into the New Testament. Dia juga yang memberikan rekomendasi dalam buku Dinasti Yesus karya James Tabor. Buku Ehrman yang lain yang paling berkaitan dengan Misquoting Jesus adalah The Orthodox Corruption of Scripture.

Popularitas Misquoting Jesus

Buku Misquoting Jesus terus menuai popularitas sejak penerbitan pada tanggal 1 November 2005. Ehrman diundang ke berbagai acara talk-show TV ternama. Dalam tempo 3 bulan penjualan buku ini sudah mencapai 100 ribu buku dan terus menanjak menempati posisi sebagai salah satu buku best-seller pada tahun 2006. Popularitas ini sangat istimewa jika dikaitkan dengan topik yang dibahas. Buku Misquoting Jesus membahas tentang kritik teks, yaitu penyelidikan terhadap berbagai salinan kuno Alkitab guna merekonstruksi autografa (naskah asli) Alkitab sampai sedekat mungkin. Topik seperti ini biasanya termasuk dalam salah satu matakuliah yang paling membosankan bagi mahasiswa teologi. Bagaimanapun, gaya penulisan Ehrman yang sederhana dan situasi pasar telah berhasil membuat topik yang membosankan ini menjadi sangat digemari.

Popularitas Misquoting Jesus sangat berhubungan dengan situasi pasar secara umum. Segala sesuatu yang kontroversial seputar kehidupan Yesus dewasa ini merupakan isu yang paling dicari oleh orang-orang postmodernisme. Pemilihan judul "Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why" juga dilakukan atas pertimbangan komersial. Judul asli yang disukai Ehrman adalah Lost In Transmission, tetapi penerbit memutuskan untuk mengubah usulan ini (mungkin karena kuatir dianggap sebagai buku tentang balap mobil!?). Judul yang ada sekarang dianggap tampak lebih menarik perhatian banyak orang, karena secara langsung menampilkan Yesus yang berbeda dengan Yesus menurut kalangan kekristenan ortodoks. Dari sisi kaidah penulisan, judul ini justru tidak sesuai dengan isi buku. Dari beberapa kata Alkitab yang keaslian diperdebatkan oleh Ehrman dalam buku ini, tidak ada satu pun yang berisi perkataan Yesus.

Kehadiran Misquoting Jesus turut memberi dukungan mental bagi mereka yang memang sejak semula meragukan kredibilitas Alkitab. Mereka sebelumnya telah memiliki bekal untuk meneguhkan ketidakpercayaan mereka terhadap Alkitab melalui berbagai buku yang mengajarkan bahwa kisah-kisah dalam Alkitab hanyalah mitos Hellenis tentang Yesus yang diciptakan para penulis Alkitab untuk memenuhi kebutuhan gereja pada jaman mereka. Sekarang mereka mendapat peneguhan baru melalui penyelidikan kritik teks yang tampak sangat meragukan kredibilitas Alkitab. Berbagai salinan yang ada – menurut Ehrman – ternyata telah banyak diubah-ubah oleh kalangan kekristenan ortodoks supaya sesuai dengan doktrin yang mereka anut. Kekristenan sejak awal dipercaya terdiri dari berbagai aliran yang berbeda dan saling berkontradiksi.

Rangkuman isi Misquoting Jesus

Menurut Ehrman, buku Misquoting Jesus terasa lebih spesial dibandingkan yang lain, karena buku ini merupakan kristalisasi dari pergumulan iman dan akademisnya selama 30 tahun (hlm. xi). Dia lalu menceritakan bagaimana pergumulannya dari seorang Kristen injili akhirnya menjadi seperti sekarang. Apakah cerita singkat tentang pergumulan ini hanya berguna sebagai pendahuluan bagi buku tersebut ataukah dia memiliki motif/pesan yang tersembunyi di baliknya, misalnya "seorang Kristen yang serius dengan kebenaran pasti akan berakhir seperti dia"? Kita tidak pernah mengetahui dengan pasti.

Dalam lingkungan akademis, apa yang disampaikan dalam buku Misquoting Jesus sebenarnya tidak ada hal yang baru. Hampir semua yang ditulis sudah menjadi rahasia umum para teolog biblika. Hal yang baru dalam buku ini adalah keberanian Ehrman untuk membawa diskusi tentang kritik teks (naskah) ke dalam wilayah populer (orang Kristen awam), sebagaimana yang dia akui di halaman xxx. Hal baru lain (yang menurut saya cukup mengagetkan) adalah konklusi negatif dari studi kritik teks yang dilakukan Ehrman. Banyak ahli yang mendalami kritik teks – beberapa di antara mereka bahkan lebih kompeten dan diakui daripada Ehrman – tetapi hasil studi tersebut tidak membuat kepercayaan mereka terhadap ketidakbersalahan Alkitab hilang.

Apakah inti yang ingin disampaikan oleh Ehrman dalam bukunya? Bagaimana alur berpikir Ehrman yang telah membawa dia pada konklusi yang negatif terhadap Alkitab? Dua pertanyaan di atas dapat dengan mudah dijawab hanya dengan membaca bagian kata pengantar dari buku Misquoting Jesus (bab-bab selanjutnya hanyalah penjelasan detil dari pokok pikiran yang sudah dituangkan di bagian awal). Ehrman ingin menunjukkan bahwa Alkitab yang sekarang ada bukanlah firman Allah yang tidak bisa salah, karena ribuan manuskrip yang ada telah mengalami modifikasi oleh para penyalin, sehingga sulit diketahui apakah manuskrip yang ada mencerminkan autografa Alkitab yang sampai sekarang tidak ditemukan. Menurut Ehrman, "hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah kembali ke versi seawal mungkin, tidak soal apakah kita telah mencapai naskah "asli" itu atau tidak" (hlm. 57). Dia sendiri secara eksplisit menyamakan signifikansi Alkitab dengan tulisan Kristen lain di abad-abad
berikutnya, bahkan tulisan non-Kristen lain pada jaman itu, misalnya tulisan Josephus, Lusian Samosata dan Plutarkh (hlm. xxix).

Untuk membuktikan hal itu, Ehrman memiliki alur pemikiran yang dapat digambarkan sebagai berikut: (1) tidak ada autografa Alkitab yang ditemukan; (2) manuskrip-manuskrip yang ada saling berlainan dan tidak bisa dipercaya, karena sudah diubah berkali-kali, baik secara tidak sengaja maupun disengaja dengan berbagai motivasi tertentu. Motivasi pengubahan yang tampaknya ditekankan Ehrman adalah motivasi melawan bidat atau penyalahgunaan teks autografa oleh para bidat; (3) tidak ada cara untuk mencapai naskah asli, sehingga Alkitab yang ada sekarang tidak bisa dipercaya, termasuk doktrin-doktrin Kristen yang penting yang didasarkan pada teks-teks yang bermasalah; (4) semua ini menunjukkan Alkitab bukan firman Allah. Mengapa? Kalau Allah memang berfirman, maka Ia akan melakukan mujizat untuk menjaga agar autografa firman-Nya tidak musnah atau menjaga para penyalin Alkitab dari segala bentuk kesalahan. Faktanya, ribuan manuskrip Alkitab mengandung kesalahan,
karena itu autografanya pasti bukan firman Allah (hlm. xxv).

Sehubungan dengan autografa – yang tidak mungkin direkonstruksi dan bukan firman Allah – Ehrman menjelaskan bahwa autografa sendiri sangat mungkin mengandung berbagai kesalahan dan kontradiksi, karena para penulisnya memang tidak diinspirasikan oleh Allah. Dengan asumsi seperti ini dia tidak berusaha mengharmonisasikan beberapa teks Alkitab yang sekilas tampak sulit diterima maupun berkontradiksi. Sebaliknya, dia berpendapat bahwa memang ada kemungkinan (dan sudah terbukti) kalau para penulis Alkitab melakukan kesalahan atau saling kontradiktif.

Ketidakadaan autografa

Sebelum menganalisa kelemahan dalam buku Misquoting Jesus, hal pertama yang perlu dibahas adalah ketidakadaan autografa. Mengapa Allah tidak menjaga keberadaan autografa Alkitab? Apakah hal itu merupakan hal yang sangat serius sekaligus membuktikan bahwa autografa tersebut tidak diilhamkan?

Sehubungan dengan pertanyaan pertama, Allah memang memiliki maksud tertentu dengan tidak melestarikan autografa Alkitab. Dia tidak ingin orang Kristen terjebak pada penyembahan berhala dengan cara mengagungkan bentuk fisik firman Allah itu (tulisan) daripada isinya. Alkitab dan sejarah gereja memberikan banyak contoh dari bahaya seperti ini. Baju efod Gideon disembah oleh bangsa Israel (Hak 8:27). Terjemahan Alkitab Vulgata dan King James Version saja diperlakukan secara berlebihan oleh orang-orang Kristen seolah-olah firman Tuhan hanya terdapat dalam versi tersebut.

Apakah ketidakadaan autografa merupakan permasalahan yang sangat serius? Tidak seserius yang dipikirkan Ehrman, kecuali kalau alur berpikir Ehrman diaplikasikan secara konsisten, maka hal itu baru akan membawa implikasi yang serius. Di dunia ini tidak ada satu buku kuno atau kitab suci apapun yang autografanya ditemukan. Kita hanya memiliki berbagai salinan kuno. Seandainya ketidakadaan autografa meruntuhkan kredibilitas autografa tersebut, maka keberadaan dan kebenaran semua buku kuno dan kitab suci juga harus diragukan. Dalam hal inilah inkonistensi Ehrman terlihat dengan jelas. Dia berkali-kali mengutip kitab-kitab kuno di luar Alkitab dan mengasumsikan bahwa kutipan itu pasti benar, padahal semua kutipan itu juga dia dapatkan dari salinan-salinan (tidak ada autografa dari kitab-kitab tersebut yang ditemukan). Mengapa dia tidak mengaplikasikan prinsip ini kepada Alkitab?

Ketika suatu autografa tidak ditemukan lagi, maka jembatan untuk menuju autografa tersebut hanyalah terletak pada berbagai terjemahan kuno dan salinan. Seberapa jauh terjemahan kuno dan salinan kuno tersebut dapat merekonstruksi autografa dapat diukur berdasarkan tes bibliografi (bibliographical test). Manuskrip yang lebih banyak dan lebih dekat dengan waktu penulisan autografa adalah yang lebih bisa dipercaya. Jika diuji memakai kriteria yang objektif ini, maka manuskrip-manuskrip Alkitab tampak sangat unggul dibandingkan kitab-kitab lain, sebagaimana terlihat dari tabel berikut ini:

Analisa kritis terhadap Misquoting Jesus

Hal positif dalam buku ini adalah pemaparan tentang introduksi umum kritik teks yang dibahas di bab I-IV. Apa yang ditulis Ehrman di bagian itu bisa disebut sebagai sebuah pengantar yang cukup baik, sekalipun ada beberapa detil yang masih bisa diperdebatkan dan perlu dibaca dengan kritis. Pengantar itu juga sangat sederhana dan enak untuk dibaca, sehingga bisa dikonsumsi oleh orang awam. Persoalannya, Ehrman ternyata tidak konsisten dan kurang jeli dalam menerapkan berbagai prinsip kritik teks maupun menarik konklusi dari data yang ada.

Pertama, pernyataan Ehrman bahwa "jumlah perbedaan yang terdapat di antara manuskrip-manuskrip kita lebih banyak daripada jumlah kata-kata dalam Perjanjian Baru" (hlm. xxiv) terlalu bias dan bisa menimbulkan kesan yang salah. Kesan yang timbul adalah "hampir setiap kata dalam Perjanjian Baru diperdebatkan keasliannya". Kesan ini tentu saja merupakan sesuatu yang tidak benar. Para teolog biblika sudah mengetahui bahwa jumlah kata dalam Perjanjian Baru adalah sekitar 138.000 dan perbedaan variasi bacaan yang ada di berbagai manuskrip mencapai sekitar 400.000, namun hal ini bukanlah sesuatu yang signifikan. Mengapa? Karena berbagai variasi itu hanya berhubungan dengan ayat-ayat tertentu yang jumlahnya hanya sekitar 1% dari keseluruhan kata dalam Perjanjian Baru.

Kedua, Ehrman tidak memberikan perbandingan manuskrip secara detil untuk ayat-ayat yang dia bahas. Ia hanya menyebutkan adanya perbedaan bacaan dalam suatu ayat tanpa menjelaskan manuskrip mana yang lebih bisa dipercaya dalam konteks tersebut. Ketidakadaan penjelasan semacam ini menimbulkan kesan kalau salinan yang berbeda tersebut memiliki peluang yang seimbang, padahal aplikasi kritik teks dengan mudah dapat menunjukkan salinan/bacaan mana yang sesuai dengan autografa. Ketidakadaan penjelasan ini mungkin disengaja oleh Ehrman agar dia mampu menyeret pembaca dengan mudah kepada apa yang dia percayai.

Ketiga, secara umum Ehrman telah menyalahi prinsip dasar dari kritik teks, yaitu membandingkan kata per kata, bukan membandingkan manuskrip per manuskrip. Dari awal pembahasan Ehrman terkesan hanya ingin menekankan perbedaan secara umum antar manuskrip yang ada. Hal ini memang benar. Tidak ada dua manuskrip yang sama 100%. Bagaimanapun, hal itu tidak berarti bahwa semua manuskrip itu secara keseluruhan tidak bisa dipercayai. Kita harus membandingkan kata per kata dan menentukan kata mana yang lebih sesuai dengan autografa.

Keempat, tidak ada hubungan logis antara ketidakadaan autografa dan penolakan terhadap doktrin inspirasi Alkitab. Inspirasi berkaitan dengan dorongan dan bimbingan Roh Kudus kepada para penulis Alkitab (2Tim 3:16; 2Pet 1:20-21). Hal ini tidak ada kaitan sama sekali dengan salinan maupun terjemahan kuno Alkitab. Sekalipun semua manuskrip mengandung perubahan – entah sedikit atau banyak – bukankah manuskrip-manuskrip itu dalam taraf tertentu tetap menyiratkan autografa? Dengan kata lain, kita tetap akan menemukan bagian dari autografa dalam berbagai manuskrip tersebut.

Kelima, Ehrman telah melakukan kesalahan fatal ketika dia menganggap kritik teks telah berpengaruh besar terhadap doktrin-doktrin penting dalam kekristenan, seolah-olah hasil kritik teks menuntut diadakannya reformasi doktrin kekristenan ortodoks. Dia menyoroti beberapa ayat yang dipermasalahkan secara kiritk tekstual, yaitu Matius 24:36, Markus 1:41, Ibrani 2:8-9, Markus 16:9-20, Yohanes 1:18 dan Yohanes 7:53-8:11. Mari kita mengambil salah satu contoh dari 1Yohanes 5:7-8. Menurut Ehrman, bagian ini tidak terdapat dalam autografa, dengan demikian hal ini meruntuhkan doktrin Tritunggal, karena "hanya di bagian itulah ajaran Tritunggal disebut bahwa ada tiga pribadi ilahi dan ketiganya membentuk satu Allah" (hlm. 81).

Dari semua ayat yang disorot Ehrman, beberapa bisa dipastikan memang tidak ada dalam autografa (Yoh 7:53-8:11; 1Yoh 5:7-8) atau kemungkinan besar tidak ada dalam autografa (Mar 16:9-20), karena semua ayat itu tidak ditemukan dalam manuskrip-manuskrip kuno; kalaupun ditemukan, ayat-ayat itu hanya ditemukan di bagian margin, diberi tanda khusus yang menunjukkan keraguan penyalinan atau diletakkan di tempat yang berbeda-beda dalam Alkitab. Bagaimanapun, hal ini tidak akan mengubah doktrin Kristen secara mendasar. Kita masih memiliki banyak ayat lain yang mengajarkan nilai teologis yang sama. Seandainya kisah kebangkitan dan perintah Yesus sesudah kebangkitan-Nya di Injil Markus memang tidak asli, kita masih memiliki kisah kebangkitan dan perintah tersebut di kitab-kitab injil lain (Mat 28; Luk 24; Yoh 20). Seandainya kisah perempuan berzinah di Injil Yohanes tidak asli, kita masih bisa mendapatkan figur Yesus yang sama di bagian lain, yaitu figur yang
berhikmat (Mat 22:15-22) dan mengasihi orang berdosa (Luk 15:1-3; 19:10). Seandainya 1Yohanes 5:7-8 tidak asli, kita masih memiliki banyak ayat yang mengajarkan Tritunggal (misalnya Mat 3:16-17; 28:19-20) dan ayat-ayat lain yang meneguhkan keilahian Yesus (misalnya Yoh 20:28) maupun Roh Kudus (misalnya Kis 5:4, 9).

Selain tiga ayat di atas, ayat-ayat lain yang dipermasalahkan Ehrman dapat dipastikan ada dalam autografa (Mat 24:36; Yoh 1:18 dan Ibr 2:8-9) atau masih bisa diperdebatkan (Mar 1:41). Sekalipun – misalnya – dalam Markus 1:41 kata yang benar bukan "tergeraklah hati-Nya dengan belas kasihan", tetapi "sambil marah" (seperti yang diusulkan Ehrman), apakah hal ini mempengaruhi figur Yesus secara keseluruhan dalam Injil Markus maupun Alkitab? Bukankah di tempat lain Yesus juga beberapa kali diceritakan marah kepada orang-orang lain (Mar 3:5; 8:33; 10:14)? Jadi, baik penyembuhan yang Yesus lakukan didasarkan pada "belas kasihan" (mayoritas versi) maupun "kemarahan" (karena orang kusta itu mungkin meragukan kebaikan-Nya), ayat itu tetap tidak mengubah doktrin Kristologi.

Keenam, penolakan Ehrman terhadap Alkitab sebagai firman Allah dan sikap dia yang menyamakan Alkitab dengan berbagai kitab lain merupakan sikap yang tidak bisa dipertahankan. Alkitab dan berbagai kitab kuno itu kadangkala (bahkan seringkali) berkontradiksi satu dengan yang lainnya. Seandainya Ehrman memperlakukan semua kitab itu secara sama – yaitu sebagai tulisan manusia belaka – standar kebenaran apa yang dia pakai untuk mengevaluasi kontradiksi tersebut?


Konklusi

Apa yang dipaparkan dalam Misquoting Jesus sebagian berisi pendapat tekstual Ehrman yang tidak tepat. Pada beberapa kasus ketika dia mengambil keputusan tekstual yang tepat, ia menafsirkan hal tersebut secara berlebihan. Lebih parah lagi, tafsiran ini seringkali lebih didasarkan pada presuposisi teologis daripada bukti yang objektif.

Akhirnya, kita perlu memberikan respek kepada Ehrman atas usahanya untuk membawa isu akademis menjadi wacana publik. Sikap ini akan sangat bermanfaat dalam mendidik jemaat lebih memepelajari Alkitab jika diterapkan oleh teolog injili. #


© 2007 Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Jemaat Exodus | www.gkri-exodus.org
Jl. Nginden Intan Timur 2/5 Surabaya
031-5998458
A Church Where Care, Teaching and Mission Meet Together

Passion 4 Truth !

--- On Thu, 3/12/09, Armansyah <armansyah.skom@gmail.com> wrote:

> From: Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>
> Subject: [Milis_Iqra] Re: Tanggapan untuk Lingga : (Topik: Jesus' Tomb in Talpiot)
> To: milis_iqra@googlegroups.com
> Date: Thursday, 3 December, 2009, 8:39
>
>
> 2009/12/2 abdi yono <boiran2000@yahoo.co.uk>
>
>
>
> Sudah terlalu sering orang kristen mendengar pengritik
> melontar ucapan-
>
> ucapan tidak intelek tanpa bukti :"ALKITAB TELAH
> DIUBAH-UBAH"
>
>
>
>
>
> [Arman] : Entah bukti seperti apa lagi yang diminta sama
> Abdi Yono ... silahkan jawab dengan tuntas bukti yang sudah
> saya ajukan sebelum ini. Semua pihak bisa melihatnya secara
> sangat obyektif sejauh mana kebenaran ucapan anda
> "tidak intelek tanpa bukti bila alkitab telah
> diubah-ubah". Kenyataannya memang demikian adanya ...
> akan semakin nyata bila anda juga membaca buku Misquoting
> Jesus karya Bart D. Ehrman.
>
>
>
>
> --
> Salamun 'ala manittaba al Huda
>
>
>
> ARMANSYAH
>
>
> >
>
>
>


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---