Monday, February 8, 2010

Re: [Milis_Iqra] Penggunaan Kata 'Allah' Tak Sekedar 'Politik Semata'

Komentar dan tulisannya sangat bagus untuk kita simak, semoga Allah menambah khazanah ilmu dan kebajikan selalu buat anda. Terima kasih

Pada tanggal 05/02/10, Djojo <djojosetiko@gmail.com> menulis:

Penggunaan Kata 'Allah' Tak Sekedar 'Politik Semata'

Thursday, 04 February 2010 13:48
E-mail Print PDF

Masalah penggunaan kata "Allah" seharusnya dikembalikan ke ranah teologis, dan jangan terpancing untuk mengaitkannya dengan wacana politik semata.

Oleh: Asmu'i*


Miris, kontroversi penggunaan "kata Allah" di Malaysia digembar-gemborkan sebagai wacana politik semata. Sejumlah tulisan di beberapa media massa ambil bagian dalam upaya ini. Tak ayal, masalah teologis ini menjadi "seakan-akan" tidak memiliki akar yang jelas dalam ranah agama.

Tentu, upaya ini bukan tanpa alasan. Agaknya, pendukung keputusan Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur pada 31 Desember 2009 yang membenarkan penggunaan kata ''Allah'' oleh surat kabar Katholik Herald-The Catholic Weekly terbitan Gereja Katolik Roma, Malaysia, berusaha menjegal upaya banding pemerintah Malaysia atas keputusan tersebut dengan mengait-ngaitkannya dengan isu politik. Yang mereka inginkan satu, semua orang melihat masalah tersebut hanya dilatarbelakangi oleh kepentingan politik belaka. Jika berhasil, tentu ini akan menjadi tekanan ke pemerintah, sebab wacana yang akan berkembang, bahwa keputusan pemerintah yang tidak mendasar itu telah memicu lahirnya kekerasan.

Kita tahu, masalah penggunaan kata "Allah" menyita perhatian publik internasional, baik umat Islam secara khusus maupun non muslim. Karena itu, mengembalikan masalah tersebut ke akar masalahnya (ranah teologis) adalah satu keniscayaan. Sehingga, semua pihak dapat menilai dan bersikap secara proporsional dan tepat. Untuk itu, tulisan ini akan mengulas 'mengapa mengatur penggunaan kata "Allah" itu penting. Di sini juga akan dijelaskan 'posisi' pemerintah sebagai pihak pengemban amanah.

'Allah' Nama Tuhan Agama Tauhid (Islam)

Dalam al-Qur'an, disebutkan bahwa mulai dari Nabi Yunus (QS. Yunus: 72), Nabi Ibrahim (Ali Imran: 67), dan semua Nabi dari Bani Israil (QS. Yunus: 84, QS An-Naml: 44, dan Ali Imran: 52) adalah muslim. Ini menunjukkan bahwa agama mereka adalah Islam, bukan Yahudi atau Kristen misalnya. Sebab, yang dibawa para Nabi itu adalah ajaran Tauhid, menyembah Allah Yang Esa. Rasulullah juga menegaskan ini, sebagaimana sabda beliau, "Aku (Rasulullah SAW) orang paling dekat dengan Nabi Isa bin Maryam di dunia maupun di akhirat. Nabi-Nabi adalah bersaudara, agama mereka adalah satu meskipun ibu-ibu mereka berlainan." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Imam Ahmad). Semua ini dapat kita pahami dan yakini karena sumber kita (al-Qur'an dan al-Hadits) tidak bermasalah. Bagi kita, al-Qur'an dan al-Hadith itu sifatnya tetap dan final.

Wahyu juga menjadi sumber final konsep Ketuhanan dalam Islam. Karena itu, tidak ada unsur-unsur praduga di dalamnya. Hatta, nama Allah telah termaktub secara jelas di dalamnya. Allah subhanawataala   berfirman: "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Taha: 14).

Allah  juga berfirman, "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri (QS. 35). Secara implisit, kalimat La Ilaha Illallah  dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah itu merupakan nama diri, bukan gelar atau penisbatan tertentu. Yang demikian ini disebut sebagai isim jamid, atau kata benda yang tidak berasal usul dari kata lain sebagaimana isim musytaq (baca: Tafsir al-Qur'an al-'Adzim Juz I). Pendapat ini juga didukung oleh Imam Syafi'i dan Imam al-Ghazali.

Demikian juga dengan cara mengucapkannya, juga berdasarkan sumber yang jelas, yakni ajaran Rasulullah saw. Karena itu, tidak ada perselisihan di kalangan umat Islam tentang hal itu. Selain itu, dalam firman-Nya QS. Al-Isra': 110, Allah telah melarang kita untuk memanggil-Nya dengan panggilan yang tidak Ia sebutkan dalam kitab-Nya. Jadi, kita hanya boleh memanggil-Nya dengan nama-nama yang ada dalam wahyu-Nya, yang kita kenal sebagai al-asma' al-husna. Di sini, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa nama-nama itu menunjukkan kepada satu Zat Yang Esa, Allah (baca: Tafsir Thabari dan Tafsir al-Qur'an al-Adzim).  

Yahudi dan Kristen bukan Agama Tauhid

Hari ini, agama-agama sebelum Islam sulit dipastikan keotentikannya, sebab pemeluknya telah melakukan perubahan pada kitabnya (QS. 2: 59, 75, 79 & 4: 46). Sehingga, Yahudi dan Kristen yang sekarang bukanlah agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Isa. Apalagi, secara tegas al-Qur'an telah menyatakan bahwa Nabi Ibrahim itu bukanlah Yahudi atau Nasrani, tapi Muslim (QS 3:67). Dan Nabi Isa telah mengajak kaumnya (bangsa Yahudi) untuk mengimani Nabi Muhammad saw, namun mereka menolaknya (QS ash-Shaf:6).   

Monoteisme yang ada dalam Yahudi tidak sama dengan Tauhid. Dalam konsep Islam, Tauhid adalah pengakuan Allah sebagai Tuhan Maha Esa. Tauhid memiliki tiga karakteristik, pertama, menafikan Dzat yang banyak; kedua, menafikan 'yang menyamakan' (al-Nadzir) dalam dzat-Nya; dan ketiga, Keesaan-Nya dalam mengatur, menciptakan tanpa perantara dan bantuan dari apapun (baca: Hasyiyah al-Dasuki 'ala Umm al-Barahin). Sementara Yahudi, sampai saat ini masih berselisih tentang 'siapa Tuhan yang satu' yang mereka maksud. Ada yang mengidentifikasinya sebagai 'Yahweh'. Selain itu, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan (baca: Oxford Concise Dictionary of World Religions).

Kontroversi dalam masalah Ketuhanan juga terjadi dalam Kristen. Konsep Yesus baru populer setelah konsili Nicea tahun 325 yang diadakan oleh Kaisar Constantine. Dalam masalah tersebut, peran Paulus sangat kental (baca: Kodiran Salim & M.I Ananias). Konon, sebelumnya Jemaat awal Kristen masih menyembah Allah Yang Esa dan menganggap Yesus sebagai seorang utusan Allah (baca: M.I Ananias). Tidak hanya itu, selanjutnya pembicaraan melebar kepada konsep bahwa Allah itu satu dalam tiga pribadi, yakni Allah Bapa, Allah Anak (Yesus) dan Allah Roh Kudus (baca: Frans Donald). Mengenai ini, seorang agamawan Kristen asal Belanda, C. Groenen Ofm mengatakan bahwa konsep Kristen tentang Ketuhanan Yesus adalah misterius dan tidak dapat dijangkau akal manusia.

Tidak berhenti di situ, di tahun 1930 di Amerika Serikat, berdiri apa yang dikenal sebagai Gerakan Nama Suci untuk mengembalikan ajaran Kristen kepada akar Yudaik (Hebraic Roots Movement). Masalah penyebutan nama Tuhan termasuk yang mendapat perhatian serius gerakan ini. Mereka ini secara terang-terangan menolak penggunaan kata Allah, karena bukan dari tradisi Yudaik. Di Indonesia, dari gerakan tersebut lahir Bible versi khusus, namanya Kitab Suci Torat dan Injil. Di dalamnya, nama Allah diganti kata Elohim, kata TUHAN diganti Yahweh, dan kata Yesus diganti Yesyua Hamasyah (baca: Gerakan Nama Suci, Nama Allah yang Dipermasalahkan). Demikianlah, pelarangan penggunaan kata Allah dari dalam tubuh Kristen sendiri sudah ada. Kiranya, cukuplah ini menjadi bukti bahwa seperti halnya Yahudi, Kristen itu juga bukan agama tauhid.

Kewajiban Pemerintah

Di Malaysia, Islam adalah agama resmi negara (agama Persekutuan). Dimana melindungi 'aqidah Islam' merupakan salah satu tugas pemerintah. Sesuai tugas ini pula, kaum non-Muslim dilarang menyebarkan agama mereka kepada kaum Muslim. Realisasi ini bisa dilihat misalnya, di hampir seluruh Negara bagian di Malaysia, ada peraturan yang melarang kaum non-Muslim menggunakan sejumlah istilah khas dalam Islam, seperti kata 'Allah' ini.

Pelarangan pemerintah itu juga sangat relevan dan penting, sebab disinyalir ada "misi Kristen" di balik penggunaan kata Allah. Ini bisa dilihat misalnya, dalam majalah Katolik Herald edisi bahasa Inggris, tidak ada penggunaan kata Allah. Namun, dalam edisi bahasa melayu, kata Allah mereka gunakan.

Demikianlah, dalam Islam tanggung jawab seorang pemimpin (pemerintah) itu tidak hanya pada masalah-masalah keduniaan saja. Namun juga mencakup masalah-masalah akhirat (baca: al-Siyasah al-Syar'iyyah dan al-Tarbiyyah al-Islamiyyah).

Sementara itu, pandangan yang melihat adanya keterpisahan antara urusan duniawi dan akhirat adalah cara pandang sekuler. Tentu saja cara pandang yang demikian bertolak belakang secara diametris dengan ajaran Islam. Sebab, pemimpin tidak hanya bertanggung jawab kepada manusia (rakyat) semata. Tapi juga bertanggung jawab kepada Allah. Demikianlah seharusnya pandangan hidup Islam (Islamic worldwiew) dipraktekkan. Dimana konsep tauhidillah menjadi karakteristik dan dasar utamanya (baca: al-Tasawwur al-Islami wa Muqawwimatuhu dan Muqawwimat at-Tasawwur al-Islami). Singkatnya, sangat tidak tepat manakala ada yang melihat satu kebijakan pemimpin/pemerintahan Islam-seperti masalah penggunaan kata 'Allah' di Malaysia-dari kaca mata politik belaka. Sebab pada hakikatnya, seluruh aktivitas kepemimpinan itu  adalah implementasi keberimanannya kepada Allah.

Akhirnya, mari kita lihat masalah kontroversi penggunaan kata "Allah" ini secara mendasar. Agar, keputusan yang kelak ada benar-benar mencerminkan keamanahan kita, khususnya pemimpin (pemerintah) dalam mengemban risalah-Nya. Wallahu a'lam bi as-shawab.  

Penulis adalah alumni ke-II Program Kaderisasi Ulama (PKU) Gontor Ponorogo '09. Sekarang sedang menyelesaikan Program Pasca Sarjana di Universitas Darussalam Gontor Ponorogo, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Pemikiran Islam

http://www.hidayatullah.com/opini/pemikiran/10624-penggunaan-kata-allah-tak-sekedar-politik-semata.html

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

Sunday, February 7, 2010

[Milis_Iqra] UMAIR BIN SA'AD (Seorang Gubernur yang Zuhud lagi Wara')

UMAIR BIN SA'AD (Seorang Gubernur yang Zuhud lagi Wara')
Kamis, 04 Februari 10

Khalifah Umar bin Khaththab radhiallahu 'anhu mengutus Umair bin Sa'ad radhiallahu 'anhu untuk menjadi gubernur Himsha. Namun setelah memerintah selama satu tahun Umar tidak pernah mendapat kabar darinya sedikit pun. Lalu Umar meminta kepada sekretarisnya, "Tulislah surat untuk Umair, demi Allah dia telah mengkhianati kita."

Surat itu berbunyi, "Jika engkau telah menerima suratku ini maka segeralah menghadap membawa pajak kaum muslimin, langsung setelah engkau melihat surat ini."

Umair bergegas mengambil kantong kulitnya. Ia memasukkan bekal perjalanannya dan tempat makannya. Kemudian menggantungkan peralatan-peralatan tersebut pada bahunya, juga membawa tongkat besi. Ia berjalan kaki dari Himsha menuju Madinah.

Diriwayatkan bahwa saat tiba di Madinah beliau kelihatan pucat wajahnya, lusuh dengan rambut panjang. Kemudian beliau menghadap Umar seraya mengucapkan salam, "Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh wahai Amirul Mukminin."

Umar bertanya, "Bagaimana kabarmu?"
Umair menjawab, "Sebagaimana yang anda lihat! Bukankah badanku sehat, darahku suci, aku membawa kebaikan isi dunia!"

Umar bertanya, "Apa yang kau bawa?" (Umar radhiallahu 'anhu mengira ia telah membawa harta pajak).
Umair menjawab, "Aku membawa kantong kulit, tas tempat aku menaruh bekal perjalananku; mangkuk besar yang aku gunakan untuk makan atau aku jadikan sebagai tempat air ketika aku mandi dan mencuci pakaian, ember tempat aku membawa air wudhu dan air minumku, tongkat yang aku gunakan untuk bersandar atau melawan musuh jika sewaktu-waktu bertemu. Demi Allah sesungguhnya tiada barang dunia kecuali telah aku bawa bersama bawaanku."

Umar bertanya, "Kamu datang kemari dengan berjalan kaki?" Umair menjawab, "Betul."

Umar bertanya, "Apakah tidak ada orang yang memberi kendaraan kepadamu untuk engkau tunggangi?"
Umair menjawab, "Mereka tidak memberi karena aku tidak meminta mereka untuk itu." Umar berkomentar, "Mereka adalah seburuk-buruknya orang Islam."
Umair berkata kepada Umar, "Bertawakallah kepada Allah wahai Umar, sesungguhya Allah melarangmu berghibah. Padahal aku senantiasa melihat mereka melaksanakan shalat Shubuh."

Umar berkata, "Lalu mana laporanmu? Dan apa yang telah engkau lakukan?"
Umair menjawab, "Apa maksud pertanyaanmu wahai Amirul Mukminin?"

Umar mengucapkan, "Subhanallah!"
Umair berkata, "Kalau bukan karena aku khawatir membuatmu susah hati aku tidak akan melaporkan kepadamu. Engkau mengutusku ke suatu wilayah sehingga setibanya aku di negeri itu aku mengumpulkan orang-orang shalih dari penduduk tersebut, aku memungut pajak dari mereka, sampai jika mereka telah mengumpulkannya, maka aku bagikan kepada yang berhak. Kalau engkau berhak menerima bagiannya pasti aku membawakan bagian itu untukmu."

Umar berkata, "Lalu engkau datang tidak membawa sesuatu?"
Umair menjawab, "Tidak."

Umar berkata, "Perpanjanglah masa tugas Umair."
Umair berkata, "Sesungguhnya tugas ini tidak akan saya tunaikan untukmu juga pemimpin sesudahmu. Demi Allah, dengan jabatan tersebut aku tidak selamat juga tidak pernah akan selamat. Telah aku katakan kepada staffku, 'Allah telah merendahkan martabatmu wahai Umair, dengan jabatan itu,' apakah untuk hal demikian itu engkau tawarkan jabatan kepadaku lagi wahai Umar? Sesungguhnya hari-hariku yang paling tidak menguntungkan adalah saat aku menjadi wakilmu." Kemudian Umair minta pamit untuk pulang ke rumahnya, Umar pun mengizinkan.

Seorang perawi berkata, "Jarak antara Himsha dengan Madinah adalah beberapa mil. Ketika Umair pulang ke Himsha Umar berkata, 'Sepertinya Umair menghianati kami.' Kemudian Umar mengutus seorang ajudan yang sering dipanggil dengan nama al-Harits dan dibekali 100 dinar. Umar berpesan, 'Pergilah ke tempat Umair usahakan engkau menginap di rumahnya sebagai seorang tamu. Apabila engkau melihat bukti-bukti kekayaan, kembalilah! Namun jika kondisinya memprihatinkan berikanlah 100 dinar ini kepadanya.'

Kemudian al-Harits berangkat menuju Himsha. Setibanya di kediaman Umair, ia lihat Umair sedang duduk menenun jubahnya dengan disandarkan ke sisi dinding. Al-Harits mengucapkan salam kepadanya, lalu Umair berkata, 'Mampirlah kemari, semoga Allah mencurahkan kasih sayangNya kepadamu.' Benar lelaki tersebut mampir, Umair menyapa, 'Dari mana anda datang?'
Ia menjawab, 'Dari Madinah.'

Umair berkata, 'Bagaimana kondisi Amirul Mukminin ketika kamu berangkat kemari?'
Ia menjawab, 'Baik-baik saja.'

Umair bertanya, 'Bagaimana pula kondisi umat Islam?'
Ia menjawab, 'Mereka juga baik-baik saja.'

Umair bertanya, 'Bukankah beliau (Khalifah Umar) akan menegakkan hudud (hukuman)?'
Ia menjawab, 'Benar. Beliau memukul anaknya yang melakukan pelanggaran, sehingga meninggal dunia karena kerasnya pukulan itu.'

Umair berkata, 'Ya Allah, tolonglah Umar. Sesungguhnya aku tidak mengenalnya kecuali ia seorang yang tegas (keras) karena kecintaanya kepadaMu.'

Diriwayatkan bahwa al-Harits tinggal di rumah Umair selama tiga hari. Keluarga ini tidak memiliki bahan makanan kecuali gandum sedikit, mereka sengaja menyisihkan untuk disuguhkan pada tamu. Sampai datang suatu hari mereka kelihatan sangat susah, ketika itu Umair berkata, 'Kamu tinggal di sini tapi kami tidak mampu melayani dengan baik, jika ingin berpindah dari sini silahkan.'

Kemudian al-Harits mengeluarkan uang dinar tersebut dan memberikan kepada Umair. Al-Harits berkata, 'Uang dinar ini diberikan Amirul Mukminin kepadamu, gunakanlah untuk memenuhi kebutuhanmu.' Seketika itu Umair berteriak sambil berkata, 'Saya tidak membutuhkan uang ini, kembalikan.'

Isteri Umair berkata, 'Kalau engkau membutuhkan ambillah, jika tidak maka berikan pada yang berhak.'

Umair berkata, 'Demi Allah aku tidak memiliki kepentingan dengan dinar itu.' Kemudian Isteri Umair merobek bagian bawah pakaiannya, lalu ia memberikan sobekan kain itu kepada suaminya. Uang itu dimasukkan Umair ke dalam kain sobek tersebut lalu keluar rumah untuk membagi-bagikannya kepada anak-anak para syuhada dan fakir miskin. Setelah selesai ia pulang ke rumah.

Ajudan Umar mengira dirinya akan mendapat bagian dinar itu sekalipun sedikit (ternyata tidak -pent). Umair berkata, 'Aku berkirim salam kepada Amirul Mukminin.'

Sekarang al-Harits kembali menghadap Umar. Ketika itu Umar bertanya, 'Apa yang kamu saksikan di sana?'
Al-Harits menjawab, 'Wahai Amirul Mukminin, aku lihat kondisinya sangat memprihatinkan.'

Umar bertanya, 'Bagaimana dia menggunakan dinar tersebut?'
Al-Harits menjawab, 'Aku tidak tahu.'

Lalu Umar menulis surat kepada Umair, 'Jika suratku ini datang kepadamu, janganlah engkau letakkan dari tanganmu kecuali engkau segera menghadap kepadaku.'

Umair pun datang menghadap Umar radhiallahu 'anhu, setelah ia masuk ruangan, Umar bertanya, 'Apa yang engkau lakukan dengan uang dinar tersebut?'
Ia menjawab, 'Terserah aku bagaimana memanfaatkannya, mengapa engkau menanyakan kegunaan uang dinar itu?'

Umar berkata, 'Aku mohon padamu, berikan laporan kepadaku tentang penggunaan uang dinar itu!'
Umair menjawab, 'Aku pergunakan untuk diriku.'

Umar berkata, 'Semoga Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepadamu.' Kemudian Umar memerintahkan agar Umair dibekali tepung makanan dan dua helai pakaian. Umair berkata, 'Kalau berupa makanan, aku tidak membutuhkannya, karena aku telah meninggalkan dua sha' gandum untuk kebutuhan keluargaku, makanan itu akan cukup sampai aku pulang lagi dan memakannya karena Allah senantiasa melimpahkan rizkiNya.' Umair tidak mengambil makanan yang ditawarkan tadi. Adapun mengenai dua helai pakaian, Umair berkata, 'Ummu fulan tidak memiliki pakaian,' lalu beliau mengambil keduanya kemudian pulang ke rumah (Himsha).

Tidak berselang lama, Umair meninggal dunia, semoga Allah mencurahkan rahmatNya. Berita wafatnya sampai ke Umar. Beliau merasa terpukul dan iba. Kemudian pada suatu hari beliau keluar dengan berjalan kaki bersama para sahabat menuju Baqi'ul Garqad. Umar berkata kepada para sahabat, 'Hendaknya setiap kalian mempunyai harapan (cita-cita).' Salah seorang di antara mereka berkata, 'Wahai Amirul Mukminin aku ingin sekiranya aku mempunyai harta maka harta itu akan aku gunakan untuk memerdekakan budak karena Allah Ta'ala sekian dan untuk anu sekian.'

Sahabat yang lain berkata, 'Wahai Amirul Mukminin aku ingin sekiranya mempunyai harta maka akan aku infakkan di jalan Allah.' Yang lain berkata, 'Sekiranya aku mempunyai kekuatan tentu aku akan membuka saluran air Zam-zam untuk jamaah haji Baitullah.'

Lalu Umar berkata, 'Kalau aku, ingin memiliki seseorang seperti Umair bin Sa'ad, aku meminta pertolongan kepadanya dalam urusan kaum Muslimin'." (Al-Hilyah, 1/247-250.)

Sumber : 99 Kisah Orang Shalih

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatkisah&id=203

 
 
 
Whe~en
http://wheen.blogsome.com/
 
"Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
"Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"