Monday, June 29, 2009

Re: Bls: [Milis_Iqra] Re: Apakah setiap dalil perlu penafsiran ?



Pada 29 Juni 2009 09:19, Whe~en (gmail) <whe.en9999@gmail.com> menulis:
Saya tidak bermaksud mengajari Ahen atau bagaimana........... biar ga salah sangka dulu :-D
1.  Setahu saya yang sesuai syariat, kalimat tahlil bisa diucapkan kapan saja waktunya,umum waktunya,  nach jika Ahen  menjadikannya khusus baik jumlahnya waupun waktunya yaitu sesudah kematian seseorang, inilah yang saya tanyakan, menyalahi aturan syariat tidak?


Ini sudah dirangkai oleh para ulama dari jaman dulu. Jika memang salah, kenapa dari dulu tidak ada yang menghujat, sewaktu pertama kali diciptakan. (Tapi kayaknya ada deh, bahkan sampai kapanpun).

Untuk Pa Andri dan Mbak Wheen, kalau memang orang yg melakukan do'a (tahlilan) salah, saya hanya mau menanyakan tanggapan tentang dalil2 di bawah ini :


2. "Mayat di dalam kuburnya itu tak ubahnya seperti orang yang nyaris tenggelam, yang meminta tolong untuk keselamatan dirinya. Dia menunggu-nunggu kiriman do'a dari orang-orang yang masih hidup : ayahnya,ibunya, anaknya, atau sahabat karib yang setia. Maka, apabila do'a yang ditunggu-tuunggu itu datang kepadanya, dia amat bersuka cita melebihi suka citanya orang hidup yang menerima hadiah dunia dan seisinya.Sesungguhnya, Alloh memasukkan do'a dari para penghuni dunia kepada penghuni kubur berupa pahala yang sebesar gunung. Sesungguhnya, hadiah orang hidup kepada orang-orang mati adalah permohonan ampunan untuknya."
(HR. Imam al-Baihaqi dan Imam ad-Dailami dari sahabat Ibnu Abbas-Syarhus-Shudur, hal. 127; Ta'liq Targhib,IV/379; Haula Khashaish Al-Qur'an, hal. 85,Mukhtashar Tadzakirat al-Qurthubi, hal 16).

3.Imam Ibnu Abid Dunya meriwayatkan :
Dari Amr bin Jarir, ia berkata :"Apabila 
seorang hamba Alloh berdo'a untuk saudara sesama muslim yang telah meninggal, maka seorang malaikat membawa do'a itu ke kubur orang yang dikirimi, lalu ia berkata :"Hai penghuni kubur yang sendirian, terimalah. Ini hadiah dari saudaramu yang belas kasih kepadamu." (Syarhus-Shudur, hal. 128).


Apa yang akan Pak Andri dan Mbak Whe-en lakukan jika ada keluarga atau teman yang meninggal ? Mendo'akan atau tidak ? Maksud saya, selain setelah menguburkan jenazah, apakah dibiarkan saja, tidak pernah mengirim do'a ?
Kalau tidak mendo'akan kenapa ?
Kalau berdo'a, tata caranya seperti apa ? Ada dalilnya tidak ? Bisa ditunjukkan ? Kalau tidak ada dalilnya, tata cara berdo'a tsb menuruti siapa ?

Untuk Pa Andri (cape ya ngejar2 saya terus :) he..he., maaf  ). Masalah penghitungan hari, bukankah sudah di jawab ? Saya sendiri tidak terlalu berpatokan pada hari, berdo'a bisa kapan saja, dimana pun (asal tidak menyalahi aturan mengenai tempat-maksudnya yg saya tahu, bukan tempat najis,misalnya).
Seandainya tidak ada dalil, apakah boleh kita berdo'a tidak sesuai dalil ?
Yang saya ketahui tentang adab2 berdo'a

Waktu yang paling baik :-

  1. Antara azan dan Iqamat.

  2. Menjelang waktu shalat dan sesudahnya.

  3. Waktu sepertiga malam yang terakhir.

  4. Sepanjang hari jum'at

  5. Antara Dzuhur dan Ashar, serta Ashar dan Maghrib

    (Biasanya tahlil diadakan setelah sholat Maghrib)

  6. Ketika Khatam membaca Al-Qur'an

  7. Ketika Turun hujan.

  8. Ketika melakukan Tawaf.

  9. Ketika menghadapi musuh dimedan perang.

  • Tempat-tempat yang baik untuk berdoa :

    1. Didepan dan didalam Kabah.

    2. Dimasjid Rasulullah saw.

    3. Di belakang makam Nabi Ibrahim as.

    4. Diatas bukit Safa dan Marwah.

    5. Di Arafah, di Muzalifah, di Mina dan disisi jamarat yang tiga.


      (Kalau harus merujuk ke tempat2 di atas, kasihan dong yg tidak punya ongkos buat pergi kesana ?? )




4. Tahlil terdiri dari do'a-do'a (yang sudah ada tuntunannya, bukan mengada-adakan hal yang baru).

   1. "Do'a adalah inti ibadah." (HR. Imam at-Turmudzi dari sahabat Anas bin Malik-Kitab al-Jami' ash-Shagir,II/17)

   2. "Berdo'alah kamu sekalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan do'amu.: (QS. al-Mukmin [40]:60)

   3. "Sesungguhnya do'a itu memberi manfaat dari sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Dan tidak ada yang dapat menolak ketentuan Alloh melainkan do'a. (HR. Imam at-Turmudzi dari sahabat Ibnu Umar-Kitab Taisir al-Wushul,II/55)

4. "Mintalah kepada orang-orang agar mereka banyak mendo'akan kebaikan untukmu. Sebab, manusia tidak mengetahui, lewat lisan siapa do'a itu dikabulkan, atau seseorang itu dirahmati Alloh." (HR. Imam al-Khothib dari sahabat Abu Hurairah-Kitab al-Fath al-Kabir,I/181).




KAMI MELIMPAHKAN RAHMAT KAMI KEPADA SIAPA PUN YANG KAMI KEHENDAKI. DAN KAMI TIDAK MENYIA-NYIAKAN PAHALA DARI AMALAN ORANG-ORANG YANG BERBUAT KEBAIKAN. (QS.YUSUF:56)

 

Cukup bagi saya pernyataan rekan - rekan:
a.  Bahwa tahlil tidak ada di jaman nabi, nabi tidak melakukannya, baik dalam hal jumlah maupun harinya.
b.  Bahwa penentuan hari tahlil 7,40, 100 hari setelah kematian adalah kebiasaan, bukan syariat

 
(Kedua dalil tidak perlu saya ulangi menulisnya yach?)

Saya menghormati orang2 yang tidak pernah melakukan tahlil. 
 
ketika Allah memerintahkan untuk mentaati Allah dan Rasulnya, saya yakin koq, sebenarnya 2 buah pernyataan diatas sudah cukup untuk menghentikan perdiskusian.  Tapi saya bingung, apa lagi yang dicari? 
 
Tapi ternyata tidak cukup, karena orang2 yang tidak sefaham dengan orang yg kontra tahlil pun mempunyai hujjah utk menjawabnya. Apakah berdo'a sesuai tuntunan Rasulnya itu tidak dilaksanakan oleh orang2 yg tahlilan ? Tentu saja dilaksanakan. Hanya orang2 yg kontra tahlil, tetap mempermasalahkan masalah makanan dan waktu yg dulu sudah saya jawab.
 
2.  Semoga memang benar bahwa perdebatan ini mencari ilmu, cuma saya jadi bertanya, setelah ilmu ilmu anda keluarkan semua, untuk apa ilmu itu?

Untuk diamalkan.Untuk anda, setelah ilmu dikeluarkan untuk menanyakan dalil2 tahlil, selanjutnya apa ?
 
Allah akan meminta pertanggungjawaban dari kita semua dalam segala hal, juga dalam hal ilmu, sudah diamalkan apa belum, dsb.
Jika dua belah pihak sudah tahu dalil mana yang shahih mana yang tidak, trus apa akhirnya?
apakah dalil yang shahih yang akan diikuti, atau sekedar saling berdiskusi?

Masalah pertanggungjawaban. biar Alloh yg menentukan. Alloh Maha Adil.Tentu saja sebetulnya bisa saling melengkapi. 
 
Jika ada yang bilang bahwa merubah mind set itu susah, memang susah, tapi tergantung dari masing2 pribadi.

Sebetulnya dalam hal ini bukan masalah mindset, tapi masalah prinsip, dan itu ada dasarnya.
 
Dulu, ketika saya masih kecil, keluarga besar saya seperti layaknya keluarga feodal.  Jauh dari nilai2 Islam sesungguhnya,  masih tercampur tradisi.  tahlilan, tahlilan sambil nyadran, dsb.
  
Seiring berjalannya waktu, nilai2 Islam masuk di keluarga besar saya,  Tahlilan, yasinan, dsb
Sampai saya remaja bahkan beberapa tahun belakangan, Tahlilan dan Yasinan masih mewarnai keluarga besar saya.  Saat lebaran kumpulan trah-pun ada tahlilan.
Bahkan pada saat itu, mungkin sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu, saya sempat berfikir, betapa bangganya jika suami saya nanti bisa memimpin tahlilan seperti om saya yang lagi memimpin tahlilan di acara halal bihalal :-D (Alhamdulillah tidak terjadi)
 
Alhamdulillah ketika generasi berganti, yang muda menggantikan yang tua,  Semakin banyaknya yang naik haji, niat untuk dekat dengan Allah lebih besar, tahlilan bahkan menjadi sesuatu yang dihindari akhir akhir ini.
Tidak mudah memang, apalagi memilih meninggalkan tradisi ditengah keluarga besar yang begitu kental adatnya.  Toch terjadi juga.
Dan semua tidak lepas dari open minded saudara2 saya.
Susah sudah pasti, menjadi omongan sana sini, dsb. :-D
lebih mudah saya yang dari remaja hidup jauh dari rumah, bisa memilih mana prinsip saya tanpa menemui hambatan.
 
Yang saya jelaskan tadi adalah betapa mudahnya jika kita membuka diri.  Tidak menganggap bahwa kitalah yang selalu benar sehingga tidak ada kebenaran lain. 

Tidak selamanya yang muda juga bisa menggantikan/menyalahkan orang tua, walaupun orang tua pun tidak selamanya salah.


Itulah yang saya maksud, jika kita membuka diri, dan mau menerima perbedaan (maksudnya saling menghargai, karena masing2 mempunyai sandaran yang pasti). Mengenai kebenarannya, kita kembalikan kepada Alloh dan Rasulnya. Insya Alloh, kalau ada waktu senggang, saya akan mencoba mempostingnya. 

 
Semoga Allah selalu meluruskan niat kita dalam mancari Ilmu Allah.
Amin. 
Demikian dari saya.  maaf jika kurang berkenan  Terimakasih.
Sama-sama. 
 




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
  Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
  Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
     Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

No comments:

Post a Comment