> QS Muhammad 33
>
> Hai orang-orang yang beriman, *taatilah Allah dan taatilah Rasul* dan
> janganlah kamu merusakkan amal-amalmu.
[ Jawaban ]
Rukun Iman :
1. Iman kepada Allah. --------> 1
2. Iman kepada Rasul-Rasul. ---> 2
(taatilah Allah dan taatilah Rasul)
Maksudnya, taatilah Alloh, baru Rasul. Taatilah Al-Qur'an baru hadis.
Dalil yg saya tunjukkan adalah ayat dari Al-Qur'an, bukan perkataan
para ulama.
3. Iman kepada Kitab-Kitab Allah.
4. Iman kepada Malaikat.
5. Iman kepada Hari Kebangkitan.
6. Iman kepada Qadha dan Qadar.
>
> Rasulullah sudah bersabda bahwa "Amma ba'du, *maka sebaik-baiknya perkataan
> adalah Kitabullah (Al-Qur'an) dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk
> Muhammad**.* *Dan sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang di ada-adakan
> dan setiap bid'ah itu sesat.* "(HR. Muslim).
>
[Jawaban]
Kutipan dari jawaban Ahmad Sarwat, Lc :
Tidak ada satu pun gerakan yang berhak mengklaim bahwa dirinya adalah
satu-satunya yang paling benar dan bahwa selain dirinya adalah salah
lantas harus masuk ke neraka. Sabda Rasulullah SAW itu tidak dalam
kapasitas membicarakan kelompok mana dari umat Islam yang masuk surga
dan mana yang masuk neraka. Sabda Rasululllah SAW juga bukan diniatkan
untuk dijadikan senjata untuk saling menuduh sesat sesama pemeluk
Islam. Sebab pekerjaan seperti itu sesungguhnya mencerminkan tingkat
kedangkalan berpikir serta kekurang-mengertian dari pelakunya atas
agama ini.
Memang ada segolongan dari umat Islam yang melenceng secara aqidah
hingga melanggar batas keIslaman. Namun kalau pun indikasi itu bisa
dibuktikan, haruslah melalui sebuah pengadilan resmi dan formal, di
mana vonis sesat itu tidak dijatuhkan kecuali kepada tersangka harus
diberi kesempatan untuk menjelaskan duduk perkaranya.
Maka tindakan menuduh suatu jamaah atau kelompok sebagai jamaah yang
sesat bahkan sampai dituduhkan masuk neraka, bukanlah sikap yang
tepat. Sebab vonis sesat itu bukan hak orang per orang, melainkan
otoritas sebuah lembaga formal semacam mahkamah syar''iyah.
Kalau setiap orang berhak untuk menuduh temannya sebagai kelompok
sesat, ahli bid''ah atau calon penghuni neraka, maka apa jadinya
dengan wajah dunia Islam. Pastilah suasananya akan sangat gaduh dan
ramai. Sebab siapa pun tidak akan mau dituduh sebagai jamaah sesat.
Pastilah mereka akan membalas dan mencari cara untuk menuduh balik.
Kelompok mana saja dari umat ini haram untuk menuduh sesat, apalagi
sampai menjelekkan saudaranya sendiri, atau menghina para ulama dengan
tuduhan-tuduhan yang mengada-ada. Bahkan meski seorang tokoh agama
sekalipun, bukan pada tempatnya untuk saling menjatuhkan ulama
lainnya. Sebab sangat boleh jadi terdapat kesalahan dalam memahami
atau menginterpretasikan apa yang dibacanya dari buku karya orang lain
yang dianggapnya sesat itu.
Seharusnya setiap orang ketika membaca hal-hal yang tidak
disepakatinya dari karya seseorang, tidak langsung menjatuhkan tuduhan
sesat atau ahli maksiat. Paling tidak dia harus melakukan pengecekan
kepada penulisnya dan berhusnuzhzhon kepadanya.
Tidak ada kehinaan dari berhuznudzdzoh kepada orang yang jelas-jelas
muslim. Dan tidak ada kesalahan dari melakukan pengecekan dan komentar
langsung kepada penulisnya. Sebelum bertindak terlalu jauh dengan cara
mengutuk, menghina bahkan menuduhnya sesat. Atau sampai mengeluarkan
dalil dengan hadits 73 golongan yang sangat dahsyat itu.
Kelompok manapun dari umat Islam tidak boleh menerapkan hadits itu
dengan mengambil kesimpulan bahwa hanya kelompoknya saja yang masuk
surga. Sementara seluruh umat Islam yang tidak ikut selera
kelompoknya, dianggap sesat dan masuk neraka. Sungguh sebuah sikap
yang tidak pada tempatnya.
Sesungguhnya hadits itu lebih tepat diterapkan kepada kalangan
sekuleris, orientalis atau liberalis. Di mana secara terang-terangan
mereka murtad atau meragukan kebenaran agama Islam. Bahkan mengatakan
bahwa agama yang benar bukan hanya Islam saja, tetapi agama lainnya
pun benar juga. Sebab kebenaran itu menurut mereka sangat relatif.
Seharusnya hadits ini diarahkan kepada kelompok pengingkar kebenaran
Islam, yang selalu memasukkan keraguan dan anti aqidah yang benar.
Bukan kepada sesama umat Islam yang sudah baik-baik menjalankan
agamanya. Jelas ini adalah sikap salah tembak yang dilakukan orang
yang kurang paham agama.
Bagaimana mungkin kita tega menuduh semua jamaah, ormas, pengajian,
kelompok dan elemen umatyang jumlahnya ribuan di tengah umat Islam ini
sebagai calon-calon penghuni neraka? Padahal mereka tidak melakukan
kesalahan apapun kepada kita, kecuali mereka memang tidak ikut
bergabung mengaji kepada ustadz-ustadz kita. Apakah karena mereka
tidak ikut meneriakkan slogan-slogan buatan kelompok kita, lantas kita
vonis sebagai ahli neraka?
Padahal perbedaan yang terjadi antara satu jamaah dengan jamaah
lainnya cenderung pada perbedaan furu''iyah (cabang), bukan pada
masalah yang menjadi esensinya. Dan perbedaan seperti ini sudah ada
semenjak masa salaf dahulu. Ke-empat Imam mazhab yang besar itu pun
tidak pernah luput dari perbedaan. Namun demikian, mereka tidak pernah
saling hujat, saling menuduh sesat atau bermusuhan. Tidak ada caci
maki, sumpah serapah, apalagi sampai menuding saudaranya ahli bid''ah.
Kalau di masa sekarang ini ada satu dua elemen umat Islam melakukan
perbuatan tidak senonoh itu dengan membawa-bawa hadits Nabi yang
mulia, ketahuilah bahwa perbuatan itu justru bertentangan dengan apa
yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, para shahabat dan para salaf yang
shalih. Mereka tidak pernah mencaci maki orang lain hanya lantaran
perbedaan di bidang furu''iyah, sebagaimana yang seringkali kita
saksikan di hari ini. Apalagi sampai mencaci maki para ulama, yang
jelas-jelas membela agama serta berjuang hingga syahid untuk
menegakkan syariat.
Adapun yang jelas-jelas memusuhi agama Islam serta menindas para
ulama, justru didiamkan saja tanpa sepotong komentar pun. Pantas bila
kelompok seperti ini seringkali dicurigai oleh segelintir orang
sebagai gerakan penyusupan musuh-musuh lewat ''orang dalam''. Sebab
sikap mereka yang merasa diri paling benar dan menyalahkan semua umat
Islam dengan kata-kata yang pongah, baru terasa akhir-akhir ini saja.
Namun tudingan dan cacian yang mereka keluarkan terasa sangat kental
dan tendensius bahkan sangat terarah kepada kelompok-kelompok yang
justru jelas-jelas memperjuangkan Islam.
Apalagi semua itu kemudian mereka publish di berbagai media seperti
buku, majalah bahkan situs internet. Tidak ada satu pun elemen umat
yang tidak mereka caci maki. Semua orang dikatakan sebagai ahli
bid''ah yang harus diperangi, bahkan mereka sampai mengharamkan diri
dari bertegur sapa, tidak menjawab salam, bahkan tidak mau duduk
bersama dengan sesama muslim. Yang lebih dahsyat lagi, orang yang
mereka tuduh sebagai ahli bid''ah itu disamakan kedudukannya dengan
yahudi. Bahkan mereka sudah sampai kepada kesimpulan akhir
bahwasiapapun yang tidak bergabung dengan mereka, pasti akan terkena
ancaman sebagai calon penghuni neraka. Na''uzu billahi min zalik
Apakah keberadaan mereka itu ''pesanan'' dari kekuatan musuh ataukah
semata-mata sebuah keluguan? Tentu sebuah misteri yang memerlukan
bukti.
Namun lepas dari semua itu, marilah kita berdoa semoga Allah SWT
memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Agar kita dapat
menjalankan agama ini dengan baik sebagaimana dahulu Rasulullah SAW
mengajarkannya kepada kita.
Q.S. AN-NUR AYAT 36 :
> *"Dan tidak patut* bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi wanita
> mukminah, *apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan
> ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa
> yang mendurhakai Allah da RasulNya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang
> nyata."* (Q.S. Al Ahzab: 36).
[jawaban]
sda
Seharusnya setiap orang ketika membaca hal-hal yang tidak
disepakatinya dari karya seseorang, tidak langsung menjatuhkan tuduhan
sesat atau ahli maksiat. Paling tidak dia harus melakukan pengecekan
kepada penulisnya dan berhusnuzhzhon kepadanya.
Tidak ada kehinaan dari berhuznudzdzoh kepada orang yang jelas-jelas
muslim. Dan tidak ada kesalahan dari melakukan pengecekan dan komentar
langsung kepada penulisnya. Sebelum bertindak terlalu jauh dengan cara
mengutuk, menghina bahkan menuduhnya sesat. Atau sampai mengeluarkan
dalil dengan hadits 73 golongan yang sangat dahsyat itu.
Kelompok manapun dari umat Islam tidak boleh menerapkan hadits itu
dengan mengambil kesimpulan bahwa hanya kelompoknya saja yang masuk
surga. Sementara seluruh umat Islam yang tidak ikut selera
kelompoknya, dianggap sesat dan masuk neraka. Sungguh sebuah sikap
yang tidak pada tempatnya.
>
> ketetapan Allah QS Al A'raaf (7) : 205
>
> *Dan sebutlah Tuhannmu dalam hatimu* dengan merendahkan diri dan rasa takut,
> *dan dengan tidak mengeraskan suara*, di waktu pagi dan petang, dan
> janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
[jawaban]
Q.S. AL-'AROF AYAT 204 :
"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan
perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapatkan rahmat ."
Sebenarnya Ayat 205 ini tidaklah bertentangan dengan ayat 204 yang
menunjukan akan diperintahkannya dzikir jahar. Dan ayat 205 ini tidak
bisa dijadikan alasan untuk melarang dzikir keras karena akan
bertentangan dengan dzikir yang telah umum yang biasa dibaca dengan
suara keras, seperti takbiran, adzan, membaca talbiyah ketika
pelaksanakan haji, membaca al-qur'an dengan dikeraskan atau dilagukan,
membaca sholawat dangan suara keras dan lain-lain. Hanya saja, Q.S
Al'Arof ayat 205 ini hanya menjelaskan tentang dzikir yang tidak
memakai gerak lidah yaitu dzikir dalam hati atau khofi. Jadi
penjelasan Ayat 205 ini menunjukan, bagaimanapun bentuknya dzikir jika
dibaca dalam hati pasti tidak akan mengeluarkan suara karena dzikirnya
sudah menggunakan hati, bahkan sudah tidak menggunakan gerak lidah.
Kesimpulan dari dua ayat itu, Allah menunjukan adanya perintah
dibolehkannya berdzikir dengan jahar (keras) maupun dzikir dalam hati
(khofi) yang tidak memakai gerak lidah.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
No comments:
Post a Comment