Wednesday, February 17, 2010

[Milis_Iqra] Fwd: [assunnah-qatar] Trilogi: Jalan Keselamatan (Berpegang teguh dengan Al-Qur’an) Bag 3, selesai.



---------- Forwarded message ----------
From: êñ.êxhã <nxhawadaa@yahoo.ca>
Date: 2010/2/10
Subject: [assunnah-qatar] Trilogi: Jalan Keselamatan (Berpegang teguh dengan Al-Qur'an) Bag 3, selesai.
To:


 

Trilogi:

Jalan Keselamatan

 

Oleh : Ustadz Abdullah Roy, Lc.


Pertama : Berpegang teguh dengan Al-Qur'an

 

Syarat pertama ini Allah  isyaratkan di dalam beberapa ayat, diantaranya :

 

a. Firman Allah  :

Artinya : Mereka berkata:"Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (QS. 46:30)

 

b. Firman Allah :

Artinya : Dengan kitab itulah Allah  menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengankitab itu pula) Allah  mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. 5:16)

 

c. Firman Allah  :

Artinya : Alif, laam raa.(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. 14:1)

 

Oleh karena itu Rasulullah menanggung setiap orang yang berpegang teguh dengannya dengan ketidaksesatan sebagaimana di dalam hadist :

 

Artinya : Dan aku telah tinggalkan diantara kalian apa-apa yang kalian tidak akan tersesat setelahnya selama kalian berpegang teguh dengannya, (yaitu) Kitabullah.

(HR. Muslim 6 / 245 no : 2137, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu)

Karena ini pulalah sebagian sahabat menafsirkan Ash-Shirathal Mustaqim dengan Al-Qur'an, sebagaimana yang datang dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu :

 

Artinya : Dari Abdullah (bin Mas'ud) radhiyallahu 'anhu beliau berkata tentang makna firman Allah Kitabullah (HR.Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak 8 / 339 no : 3627)

 

Mungkin ini adalah hikmah atau rahasia kenapa setelah Al-Fatihah kita

disunnahkan membaca ayat atau surat, yaitu setelah kita meminta petunjuk kepada jalan yang lurus maka kita hendaklah mencari petunjuk itu di dalam Al-Qur'an. Dan mungkin ini jugalah hikmah dari peletakkan Al-Fatihah sebagai surat yang pertama, yaitu karena surat-surat setelahnya adalah sumber mendapatkan jalan yang lurus. Wallahu ta'ala a'lam.

 

Kedua : Berpegang teguh dengan As-Sunnah

 

Rukun yang kedua ini Allah  sebutkan di dalam beberapa tempat di dalam Al- Qur'an, diantaranya :

 

a. Firman Allah :

 

Artinya : Dan sesungguhnya kamu (wahai Muhammad) benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus. (QS. 23:73)

 

b. Firman Allah :

 

Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. 42:52)

 

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah memberi petunjuk dan

bimbingan menuju jalan Allah . Barangsiapa yang berpegang dengan sunnah beliau maka dia termasuk orang yang berjalan di atas jalan Allah .

Dan berpegang teguh dengan As-Sunnah adalah pengamalan dari berpegang teguh terhadap Al-Qur'an, karena Allah mengatakan :

 

Artinya : Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara mereka. (QS. 4:80)

 

Ketiga : Memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman generasi terbaik umat (para shahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in)

 

Rukun yang ketiga ini tidak kalah penting dengan 2 rukun yang pertama karena yang dimaksud dengan berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah bukan hanya berpegang teguh dengan lafaznya akan tetapi harus berpegang teguh dengan lafadznya disertai pemahamannya secara bersamaan.

 

Oleh karena kita dapatkan di medan dakwah berbagai kelompok berdalil

dengan Al-Qur'an dan Al-Hadist untuk menguatkan pendapat dan pemikirannya, akan tetapi mereka memahami keduanya sesuai dengan pemahamannya tanpa kembali kepada pemahaman yang benar yang telah dipahami oleh para sahabat Rasulullah , generasi terbaik umat ini. Untuk lebih memperjelas apa yang ana sebutkan di atas, perhatikanlah 2 contoh berikut ini :

 

1. Orang-orang yang mengaku sudah mencapai tingkat ma'rifah dan yakin, maka mereka tidak lagi dibebankan berbagai macam ibadah. Mereka berdalil dengan sebuah ayat yang berbunyi :

 

Artinya : dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini. (QS.

15:99)

 

Jadi menurut pemahaman mereka orang yang sudah yakin dan percaya maka tidak perlu dia beribadah. Padahal makna yang benar dari kata yakin di dalam ayat tersebut adalah maut. Sebagaimana datang penafsirannya dari Salim bin Abdillah bin Umar, Al-Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan selainnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4 / 553).

 

Penafsiran inilah yang sesuai dengan dalil yang lain, seperti dalam firman Allah

 

Artinya : Mereka menjawab:"Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang

mengerjakan shalat, (dan kami tidak (pula) memberi makan orang

miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan

orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan

hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian". (QS. 74:43-47)

 

Dan seperti sabda Rasulullah setelah kematian 'Utsman bin Madz'un

radhiyallahu 'anhu :

 

Artinya : Adapun dia (Utsman bin Madz'un) maka telah datang kepadanya Al-Yaqin (yaitu kematian), demi Allah sungguh aku mengharap baginya kebaikan, demi Allah aku tidak tahu  sedangkan aku adalah Rasulullah  apa yang dilakukan

terhadapku. (HR. Al-Bukhary 4/ 464 no : 1166)

 

Rasulullah  adalah orang yang paling mengenal Allah , meski demikian

beliau tetap beribadah kepada Allah . Demikian pula para sahabat, tidak ada yang meninggalkan peribadatan kepada Allah  padahal mereka termasuk orang-orang yang paling mengenal Allah .

 

2. Orang Ahmadiyah mengatakan bahwa Nabi Muhammad  bukan nabi terakhir karena mereka memahami bahwa ayat yang berbunyi :

 

Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 33:40)

 

Maksud dari ________ di dalam ayat di atas menurut mereka adalah cincin. Padahal makna yang benar dari kalimat tersebut adalah penutup, sebagaimana datang penjelasannya di dalam sebuah hadist :

 

Artinya : Dan sesungguhnya akan ada di kalangan umatku 30 pendusta, semuanya menyangka bahwa dirinya nabi, sedangkan aku adalah khatam (penutup) para nabi, tidak ada nabi setelahku. (HR. Abu Dawud 11 / 322 no : 3710, dan At-Tirmidzy 8 /156 no : 2145, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany)

 

Saudaraku,

Apakah setelah ini kita akan mengatakan bahwa orang yang meninggalkan ibadah karena sudah mencapai keyakinan atau orang yang mengatakan Nabi Muhammad bukan nabi terakhir sebagai orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur'an hanya karena berdalil dengan ayat ?

 

Dua contoh penyimpangan di atas adalah bukti pentingnya memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar, dan tidak cukup seseorang berpegang dengan lafadz Al-Qur'an dan Al-Hadist saja tanpa merujuk kepada pemahaman yang benar. Dan ini menjadi penguat bahwa memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang salah adalah penyebab kesesatan dari jalan yang lurus.

Dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang paling memahami Al-Qur'an dan As- Sunnah adalah para sahabat Rasulullah , karena beberapa hal :

 

1. Mereka adalah orang arab yang mengetahui makna dan maksud dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang keduanya turun dengan bahasa arab.

 

2. Mereka melihat langsung sebab turunnya ayat-ayat Al-Qur'an dan melihat

langsung bagaimana Rasulullah  mengamalkannya.

 

3. Pemahaman dan amalan mereka dilihat dan diperiksa langsung oleh Allah

dan Rasulullah , sehingga kalau mereka salah dalam memahami atau salah

dalam mengamalkan maka langsung mendapat teguran. Penulis bawakan disini sebagian dari ucapan salaf yang menunjukkan keutamaan ilmu

dan pemahaman sahabat :

 

1. Berkata Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu :

Artinya : Dan demi Dzat yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, tidaklah ada sebuah surat di dalam Kitabullah kecuali aku tahu kapan turun, dan tidaklah sebuah ayat kecuali aku tahu dalam masalah apa dia turun. Seandainya aku tahu ada orang yang lebih tahu dari pada aku tentang Kitabullah, (dia) berada tempat yang bisa dijangkau, niscaya aku akan mendatanginya. (HR. Al-Bukhary 15/ 405 no : 4618, Dan Muslim 12/ 230 no : 4503)

 

2. Berkata Abdurrahman bin As-Sulamy :

Artinya : Telah mengabarkan kepada kami orang-orang yang mengajarkan kami Al- Qur'an diantara para sahabat Rasulullah  bahwasanya mereka dahulu mengambil dari Rasulullah  sepuluh ayat dan tidak mereka mengambil sepuluh ayat yang lain sampai mengetahui apa yang terkandung di dalamnya yang berupa amalan dan ilmu, maka kami mengetahui amalan dan ilmunya. (HR. Ibnu Abi Syaibah di Al-Mushannaf 6 / 117 no : 29929)

 

3. Doa Rasulullah  untuk Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma :

Artinya : Ya Allah, pahamkanlah dia di dalam agama dan ajarilah dia tafsir (Al-

Qur'an) (HR. Ahmad 1 /266, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany di dalam Shahihah 6 / 90 no : 2589).

 

Demikianlah ketinggian ilmu para sahabat Nabi  dan kedalaman pemahaman

mereka.

 

Kemudian berguru kepada mereka para tabi'in, generasi terbaik setelah para

sahabat, menuntut ilmu dari para sahabat Rasulullah  beserta pengamalannya.

Pemahaman merekapun diambil dari pemahaman para sahabat. Dengarkanlah pengakuan salah seorang murid senior Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, Mujahid bin Jabr ketika berkata :

 

Artinya : Aku membaca mushaf dihadapan Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma dari Al- Fatihah sampai akhir, aku berhenti di setiap ayat kemudian aku bertanya

tentangnya. (HR. Ibnu Abi Syaibah 6 / 154 no : 30287)

 

Inilah sebagian ucapan para sahabat dan tabi'in yang menunjukkan kedalaman ilmu mereka, oleh karena itu tidak heran kalau Allah  dan RasulNya memuji mereka dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan mengancam orang-orang yang menyelisihi mereka. Allah  berfirman :

 

Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. 4:115)

 

Para ulama mengatakan bahwa orang yang menyandang gelar keimanan saat

ayat ini turun adalah para sahabat Rasulullah . Barangsiapa menyelisihi jalan

mereka maka terancam dengan kesesatan dan neraka.

 

Namun sebaliknya barangsiapa mengikuti jalan mereka dengan baik maka akan

mendapatkan surga kekal di dalamnya, sebagaimana firman Allah :

 

Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surge-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selamalamanya. Itulah  kemenangan yang besar. (QS. 9:100)

 

Rasulullah  juga banyak memberikan tazkiyah kepada para sahabatnya dan 2 generasi setelah mereka , dengan sabda beliau :

 

Artinya : Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di abadku, kemudian orang-orang yang datang setelahnya (para tabi'in), kemudian orang-orang yang datang

setelahnya, kemudian datang sebuah kaum yang persaksiannya mendahului

sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya. (HR. Al-Bukhary 11/ 482 no : 3378, dan Muslim 12 / 358 no : 4601)

 

Tentunya al-khairiyyah (keterbaikan) disini adalah keterbaikan dalam ad-din (agama) yang menyangkut ilmu dan amal, dan bukan keterbaikan di dalam hal dunia.

 

Saudaraku,

Dari uraian di atas kita mengetahui bagaimana keutamaan para sahabat dan

pentingnya memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat . Dan inilah jalan keselamatan menuju Allah . Oleh karenanya di dalam sebagian riwayat hadist perpecahan umat, Rasulullah  ditanya tentang siapa kelompok yang selamat ? Maka beliau bersabda :

 

Artinya : Apa-apa yang yang aku dan para sahabatku berada di atasnya. ( HR. At- Tirmidzy 9 / 235 no : 2565, dan dihasankan oleh Syeikh Al-Albany)

 

Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu :

Artinya : Dan sungguh mereka telah ditanggung dengan keselamatan dari kesalahan ketika mereka bersepakat, sebagaimana telah datang beberapa hadist yang menunjukkan hal tersebut, dan ditakutkan terjadinya perpecahan dan perbedaan diantara mereka, dan sungguh telah terjadi hal tersebut di dalam umat ini, maka mereka berpecah menjadi 73 golongan, diantaranya adalah golongan yang selamat menuju surga dan selamat dari adzab neraka, dan merekalah orang-orang yang berada di atas jalannya Rasulullah  dan para sahabatnya. (Tafsir Ibnu Katsir 2 / 90)

 

Oleh karena itu datang anjuran-anjuran untuk berpegang dengan sunnah para sahabat, sebagaimana ucapan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu :

 

Artinya : Barangsiapa diantara kalian yang ingin meniru maka hendaklah dia meniru orang-orang yang sudah meninggal karena yang masih hidup tidak aman dari fitnah, merekalah para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka adalah sebaik-baik umat ini, paling mulia hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit dalam takalluf (membebani diri), sebuah kaum yang telah Allah pilih untuk menemani nabiNya dan menegakkan agamaNya, maka ketahuilah keutamaan mereka,

dan ikutilah jejak mereka, dan berpeganglah dengan akhlaq dan agama mereka semampunya, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus. (HR. Al-Baghawy di dalam Syarhussunnah 1 / 214).

 

Dan ucapan 'Umar bin Abdul 'Aziz tentang para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum :

Artinya : Maka hendaklah engkau ridha dengan apa yang diridhai kaum tersebut

(para sahabat), karena sesungguhnya mereka berhenti di atas ilmu dan menahan

dengan penglihatan yang tajam, padahal mereka lebih kuat dan lebih berhak di

dalam membongkar berbagai masalah. Seandainya petunjuk itu ada pada kalian, maka berarti kalian telah mendahului mereka (para sahabat). Dan kalau kalian berkata : " Ini terjadi setelah masa mereka (para sahabat) ", maka tidaklah mengada-ada hal tersebut kecuali orang yang tidak mengikuti jalan mereka dan membenci mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang mendahului kita.

Sungguh mereka telah berbicara dengan sesuatu yang mencukupi kita, dan telah menyifati dengan sesuatu yang mengobati segala permasalahan. Tidak ada setelah mereka orang yang lebih kuat menahan, dan tidak ada di atas mereka orang yang lebih kuat membuka. Sungguh telah merendah sebuah kaum dari mereka, akhirnya mereka tergelincir, dan sungguh telah meninggi sebuah kaum atas mereka (para sahabat) akhirnya mereka ghuluw (berlebihan), dan mereka (para sahabat) yang berada diantara keduanya sungguh-sungguh berada di atas petunjuk yang lurus. ( HR.

Abu Dawud 12 / 217 no : 3996, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany).

 

Aku HaruAku Harus Penuhi

Tuntutan Untuk Meniti Jalan Itu ...!

 

Sifat dan rukun jalan Allah yang telah penulis sampaikan, menuntut dari kita beberapa perkara, diantaranya :

 

1. Larangan berpecah belah

Jalan Allah  yang satu menuntut kita supaya bersatu di atas jalan ini setelah jelas kebenaran dan melarang kita menempuh jalan-jalan lain karena hal ini bisa menimbulkan perpecahan dan pertikaian.

 

Allah  berfirman mengancam orang yang memecahkan diri dari jalan yang lurus dengan siksa yang berat, sebagaimana dalam firmanNya :

Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan

berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah

orang-orang yang mendapat siksa yang berat (QS. 3:105)

 

Dan Allah  menyuruh kita untuk bersatu di atas jalanNya dengan firmanNya :

 

Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan

janganlah kamu bercerai-berai (QS. 3:103)

 

Tali Allah  adalah Al-Qur'an sebagaimana dijelaskan Rasulullah di dalam hadist Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu :

 

Artinya : Ketahuilah bahwasanya aku telah tinggalkan untuk kalian 2 perkara yang berat, salah satunya adalah Kitabullah 'azza wa jalla, dia adalah tali Allah , barangsiapa yang mengikutinya maka dia di atas petunjuk, dan barangsiapa meninggalkannya maka dia di atas kesesatan. ( HR. Muslim 12 / 134 no : 4425 )

Allah menyuruh kita semua di dalam ayat ini untuk berpegang teguh dengan tali Allah  yaitu agama Islam yang tertuang di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan melarang kita dari perpecahan yang timbul karena perbedaan jalan. Dan tidaklah jalan ini Allah bentangkan kecuali supaya kita bersatu di atas jalan tersebut, Allah  berfirman :

 

Artinya : Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. (QS. 42:13)

 

Allah  juga mengabarkan bahwa Rasulullah bukanlah termasuk orang-orang

melenceng dan memecahkan diri dari jalan Allah, akan tetapi beliau dan orang-orang yang mengikuti sunnah beliau merekalah yang berjalan di atas jalan Allah,

 

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka

(terpecah) menjadi beberapa golongan, bukanlah engkau termasuk mereka

sedikitpun. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah ,

kemudian Allah  akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka

perbuat. (QS. 6:159)

 

Rasulullah  bersabda :

 

Artinya : Sesungguhnya Allah meridhai bagi kalian 3 perkara, dan membenci atas kalian 3 perkara. Allah meridhai bahwasanya kalian menyembahNya dan janganlah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan supaya kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah, dan janganlah berpecah belah. Dan Allah membenci qiila wa qaala ( ucapan dikatakan dan dia berkata ), banyaknya pertanyaan, dan menghamburkan harta. ( HR. Muslim 9 /109 no : 3236 , dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

 

Tidak diragukan lagi bahwa persatuan di atas ketaatan kepada Allah dan

RasulNya membuahkan kekuatan dan kemenangan , sebaliknya perpecahan di atas jalan-jalan berakhir kepada kelemahan dan kekalahan sebagaimana firman Allah  :

 

Artinya : Dan taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 8:46)

 

2. Larangan membuat bid'ah

 

Jalan Allah  yang sempurna dan menyampaikan kepada tujuan dengan selamat dan singkat menuntut kita untuk tidak membuat bid'ah ( sesuatu yang diada-adakan dalam agama ). Barangsiapa mencari atau membuat ajaran sendiri yang keluar dari ajaran islam, berarti kita menganggap agama ini masih kurang dan menyangka bahwa Nabi Muhammad  belum menyampaikan risalah secara sempurna. Berkata Imam Malik :

 

Artinya : Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam islam sebuah bid'ah, ( dan ) menganggapnya hasanah ( baik ), maka sungguh dia telah menyangka bahwasanya Muhammad telah mengkhianati risalah, karena sesungguhnya Allah  telah berfirman :

 

oleh karenanya sesuatu yang yang saat itu bukan termasuk agama maka pada hari inipun bukan termasuk agama. (Al-I'tisham karangan Asy-Syathiby 1 / 62 ).

 

Demikian pula kesempurnaan jalan ini mengharuskan umatnya untuk tidak beribadah kepada Allah  kecuali dengan ibadah yang ada dalilnya. Semua amalan yang tidak ada dasarnya yang shahih di dalam agama Islam, bagaimanapun besar amalan tersebut dan banyak orang yang mengamalkannya maka akan ditolak. Rasulullah  bersabda :

 

Artinya : Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak. ( HR. Muslim 9 / 119 no : 3243 )

 

Tentunya ini adalah kerugian yang besar, bahkan tidak ada yang lebih rugi dari

seseorang yang beramal dengan susah payah kemudian tertolak amalannya,

sebagaimana firman Allah  :

 

Artinya : Katakanlah:"Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya" , yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. 18: 103-104)

 

Kita di dalam kehidupan sehari-hari saja, kalau mau melamar sekolah atau pekerjaan tentunya kita berusaha supaya bisa memenuhi syarat-syarat penerimaan. Kita tanyakan terlebih dahulu : Umur minimal berapa, ijazah yang dibutuhkan apa, apa yang diujikan, dan syarat-syarat yang lain. Kita berusaha memenuhi semua itu supaya diterima. Tentunya sebuah kelalaian kalau seseorang bersemangat mendaftar dan ingin diterima, tapi tidak mau mencari info tentang syarat-syarat penerimaan, atau tahu tentang syarat-syaratnya tapi tidak mau memenuhinya.

 

3. Mengembalikan perkara kepada 3 rukun Ash-Shirathal Mustaqim ketika terjadi Perselisihan Perselisihan dan perpecahan merupakan sunnatullah yang Allah jalankan dalam kehidupan manusia. Dan dengan rahmatNya, Allah menurunkan obat atau jalan keluar ketika terjadi perselisihan. Jalan keluar tersebut adalah dengan mengembalikan permasalahan tersebut kepada 3 rukun Ash-Shirathal Mustaqim, yaitu berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman para salaf.

Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan 3 rukun di atas maka itulah pendapat yang benar dan orang yang berpegang dengannya dialah yang berada di atas jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang pendapatnya tidak sesuai dengan 3 rukun di atas, maka kewajiban dia kembali kepada kebenaran setelah jelas baginya kebenaran tersebut. Dengan demikian akan selesai permasalahan dan berkurang perpecahan.

Diantara dalil perkataan di atas :

 

a. Firman Allah  :

 

Artinya : Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah)

kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Rabbku. Kepada- Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali. (QS. 42:10)

 

b. Sabda Rasulullah  :

 

Artinya : Maka sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku diantara kalian, akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Al-Khulafa Al-Mahdiyyin Ar-Rasyidin, berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah dengan gigi gerahammu. ( HR. Abu Dawud 12 / 211 no : 3991, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany )

 

Ayat dan hadist di atas menunjukkan bahwa jalan keluar terbaik ketika terjadi perselisihan adalah dengan mengembalikan perkara tersebut kepada Allah yaitu Al- Qur'an dan kepada RasulNya yaitu As-Sunnah, dan hal ini merupakan bukti keimanan kita kepada Allah  dan hari akhir, sebagaimana firman Allah :

 

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah

lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)

 

Dan perlu diingat sekali lagi bahwa berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan As- Sunnah adalah berpegang teguh dengan lafadz dan pemahamannya. Oleh karena itu ketika berselisih dan mau mengembalikan kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka juga harus kembali kepada pemahaman para salaf yang shaleh, bagaimana mereka memahaminya, bagaimana mereka mengamalkannya ? Kalau tidak demikian maka perselisihan tidak akan bisa diselesaikan, karena masing-masing memiliki dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah akan tetapi terkadang salah di dalam memahaminya.

 

Oleh karena itu, Ibnu Qudamah di dalam Lum'atul I'tiqad ( hal : 51 ) membawakan sebuah atsar yang menunjukkan pentingnya kita kembali kepada pemahaman sahabat ketika terjadi perselisihan. Beliau berkata :

 

Artinya : Dan berkata Muhammad bin Abdurrahman Al-Adramy kepada seorang lakilaki yang berbicara dengan sebuah bid'ah dan menyeru manusia kepadanya : " ApakahRasulullah , Abu Bakr, Umar, 'Ustman dan 'Aly mengetahui bid'ah ini atau mereka tidak mengetahuinya ? "

 

Laki-laki itu berkata : " Mereka tidak tahu." Beliau berkata : " Apakah sesuatu yang tidak diketahui oleh mereka, kemudian engkau mengetahuinya ? "

 

Laki-laki itu berkata : " Kalau begitu saya katakan : Mereka telah mengetahuinya. "

Beliau bertanya : " ( Kalau mereka mengetahuinya ) apakah mereka berbicara dengan bid'ah tersebut dan menyeru manusia kepadanya atau tidak demikian ? "

Laki-laki itu menjawab : " Tidak, bahkan mereka tidak berbicara dan tidak menyeru manusia kepadanya. "

 

Beliau berkata : " Kalau Rasulullah  dan Khulafa' beliau tahu kemudian mereka

tidak berbicara dengan ( bid'ah tersebut ) dan tidak mengajak manusia kepadanya,

kenapa engkau berbicara dengannya dan mengajak manusia kepadanya ? "

 

Maka terdiamlah laki-laki tersebut, dan berkata sang Khalifah :" Semoga Allah tidak meluaskan atas orang yang tidak meluaskan dirinya apa yang meluaskan mereka ( Rasulullah  dan para sahabat ). " ( Lihat riwayat-riwayat yang serupa dengan kisah ini secara lengkap di Siyar A'lamin Nubala' karangan Adz-Dzahaby 10 / 307-310 )

 

Akhir kata Saudaraku, apa yang penulis sampaikan di atas hanyalah sekedar tadzkirah, yang ana harapkan antum bisa mengambil faidahnya , sebagaimana firman Allah  :

 

(Artinya : Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang

menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Rabbnya.

(QS. 73:19)

 

Barangsiapa merasa menyimpang dari jalan Allah  jauh atau dekat, kemudian jelas baginya jalan Allah  tersebut, maka hendaklah segera dia kembali, dan bergembiralah dengan kabar Allah  bagi orang-orang yang mau bertaubat dan mengikuti jalanNya.

 

Allah  berfirman :

 

Artinya : (Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):

 

"Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala, ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orangorang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka

sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar". (QS. 40:7-9)

 

Inilah pahala dan balasan bagi orang yang mau bertaubat dan kembali kepada

jalan Allah , adapun orang yang sombong maka cukuplah atasnya firman Allah  :

 

Artinya : Katakanlah:"Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah membawa petunjuk". (QS. 20:135)

 

Akhirnya, sebagaimana Allah telah mengumpulkan kita semua di kota

RasulNya dan mengumpulkan kita dalam menuntut ilmu, semoga Allah berkenan mengumpulkan kita semua di atas jalanNya yang lurus, dan mengumpulkan kita ke dalam surgaNya yang kekal. Amin.



Mutiara Ilmu

"Selamat datang wahai sumber-sumber hikmah dan para penerang kegelapan. Walaupun kalian telah usang pakaiannya akan tetapi hati-hati kalian tetap baru. Kalian tinggal di rumah-rumah (untuk mempelajari ilmu), kalian adalah kebanggaan setiap kabilah."

- Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu

 


__._,_.___
.

__,_._,___

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment