Wednesday, February 3, 2010

Re: [Milis_Iqra] Kamuflase Umat Kristiani di Indonesia

Sdr Abu Khalisah, silahkan baca tulisan dibawah. Ada orang yang lebih pintar dari saya untuk menjawab pertanyaan anda. Sumber dari milis Dialog Persaudaraan Ishak-Ismail, yahoogroups.com

 

 

ALLAH PADA MASA PRA-ISLAM

 

"Pemerintah Malaysia menyita Alkitab yang diimpor dari Indonesia karena memuat nama Allah. … Pengadilan mengizinkan majalah katolik Herald tetap menggunakan nama Allah. … Empat gereja kristen di Malaysia dibakar."

Inilah berita hangat berturut-turut dari Malaysia disekitar pergantian tahun 2009/10. Berita demikian sebenarnya tidak aneh karena ada sebagian orang Malaysia yang berwatak ego-posesif, bayangkan angklung, reog, batik, dan lainnya yang milik Indonesia di klaim sebagai miliknya, dan sekarang nama 'Allah' bahasa milik orang Arab diklaim sebagai milik mereka pula, padahal itu bukan bahasa ibu mereka. Sebenarnya di Malaysia sendiri tidak semua orang mendukung aksi pelarangan demikian apalagi yang anarkis, banyak ulama juga menyalahkan sikap itu, bahkan Marina Mahatir menggalang Petisi-online dengan judul 'Malaysian Muslims Must Condemn Any Act of Violence Towards People of Other Faiths' (http://www.petitiononline.com/Msia0801/petition.html). Pada tahun 2007, otoritas Islam 'Majlis Agama Negeri Perlis' mengeluarkan fatwa bahwa: "Tidak ada yang salah sama-sekali dengan non-muslim menggunakan nama Allah."

Gejala fundamentalisme demikian memang baru karena orang Arab sendiri, baik yang beragama Islam, Yahudi maupun Kristen, dari dahulu sampai sekarang, menggunakan nama 'Allah' itu bersama-sama untuk menunjuk 'Allah Monotheisme Abraham/Ibrahim' yang mereka sembah sekalipun masing-masing memiliki aqidah/pengajaran berbeda mengenai 'Allah' yang sama itu. Sekalipun pengadilan Malaysia dan banyak ulama tidak melarang penggunaan nama itu, namun adanya sentimen kelompok radikal tertentu dalam agama yang memaksakan kehendak mereka terhadap kelompok agama lain menjadikan pencekalan dan anarki itu terjadi. Gejala fundamentalisme demikian juga terjadi dikalangan sekte kristen di Indonesia yang terpengaruh yudaisme  (Gerakan Nama Suci) yang juga memaksakan kehendak mereka dan ada yang menuntut badan-badan kristen ke pengadilan agar menarik semua Alkitab dan buku-buku kristen yang memuat nama Allah, namun dengan motivasi berbeda yaitu karena nama 'Allah' dianggap nama berhala.

Apakah nama 'Allah' itu milik agama Islam? kalau benar mengapa sudah digunakan jauh sebelum agama Islam lahir? Nama Allah sudah ada setua kelahiran bahasa Arab. Jauh sebelumnya di Mesopotamia dimana rumpun semitik bermula, orang-orang sudah mengenal nama El/Il sebagai nama dewa tertinggi dalam pantheon Babilonia. Namun bagi sebagian besar keturunan Sem (dimana nama rumpun Semitik berasal), nama itu dimengerti sebagai 'Tuhan Yang Mahaesa pencipta langit dan bumi.' Nama El berkembang ke wilayah Utara dan Barat menjadi Ela, Elah, dan di Aram-Siria nama itu disebut Elah/Alaha dan dikalangan Ibrani disebut El/Elohim/Eloah. Sedangkan nama Il berkembang di wilayah Timur dan Selatan menjadi Ila, Ilah, dan di Arab disebut Ilah/Allah.

Catatan tertua pada milenium kedua sebelum Kristus menyebutkan keturunan Abraham yang disebut suku-suku Arab, khususnya Ibrahimiyah dan Ismaelliyah, yang dikenal sebagai kaum Hanif (jmk. Hunafa) menyebut nama 'Allah' dalam sejak berkembangnya bahasa Arab. Ensiklopedia Islam menyebut bahwa:

"Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa' (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya dituju­kan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail." (hlm.50-51)  

 Inskripsi suku Lihyan mengungkap catatan abad VI/V SM (semasa Ezra) bahwa nama Allah sudah digunakan. Ada yang memberi stigmatisasi bahwa Allah nama berhala Siria kuno, kenyataannya inskripsi Lihyan sebagai pusat penyembahan 'hlh' tidak tertuju 'dewa Siria.' Perlu disadari bahwa inskripsi di Arab Utara (Sabean, Lihyan, Tamudic, Safaitic) menunjuk Lihyan merupakan pusat penyembahan 'Allah' dan disana berkembang dialek-dialek Arab dimana ada yang menggunakan kata sandang 'al' tapi juga 'ha' untuk menunjukkan 'Tuhan yang Satu' itu. Winnet dalam penelitiannya atas inskripsi Lihyan menyebutkan bahwa pujian kepada Allah dalam inskripsi itu bersifat netral dan bisa diarahkan kepada sesembahan mana saja, tapi teks Lihyan menunjukkan adanya kata kunci 'abtar' yang hanya ada dalam Al-Quran (QS.108) yang mengarah kepada 'Allah yang Esa dan Kekal' (QS.112).

 "Inskripsi Arab Utara. … Nama-nama Allah pertama menjadi umum di teks Lyhian. … Bukti ditemukannya nama Allah menunjukkan bahwa Lyhian adalah pusat penyembahan Allah di Arab. … "Orang Siria, menekankan kata benda umum 'allah' menjadi nama diri dengan menambahkan elemen "a": allaha = "the god" lalu menjadi "God". … Ketika orang Lyhian mengambil alih nama diri Allaha, nama itu diarabkan dengan menghilangkan elemen "a"." (F.V. Winnet, Allah Before Islam, dalam The Muslim World, Vol.38, 1938, hlm.245-248)

Inskripsi Lihyan abad VI/V SM berada di Arab Utara berasal bahasa Nabatea Arami dan letaknya tidak jauh dari Yerusalem dimana dikenal kitab Ezra dan Daniel yang sezaman yang memuat nama Aram 'Alaha' yang ditujukan 'Elah Yisrael' (Ezr.5:1;6:14). Lagipula, pendahulu suku Lihyan adalah suku Dedan yang adalah keturunan Dedan cucu Keturah, isteri Abraham, tentu ada kaitannya dengan kaum Hanif. Studi yang sama dikemukakan Trimingham dalam bukunya 'Christianity Among the Arabs in Pre-Islamic Times', yaitu bahwa nama 'Allah' sudah lama digunakan dikalangan suku-suku Arab termasuk yang kristen dan berasal dari 'Alaha' Aram yang dalam kitab Ezra ditujukan kepada 'Elah Yisrael' (5:1;6:14), bahasa Arab diketahui berkembang dari Nabati-Aram. Jadi adanya dugaan bahwa 'Allah sesembahan Lihyan itu dewa Siria, oleh Winnet dan Trimingham disebutkan  bahwa nama itu ditujukan kepada 'Alaha' Aram yang menunjuk kepada 'Elah Yisrael.'

Berbeda dengan anggapan bahwa orang Yahudi & Kristen Arab semula menyebut 'Al-Ilah' dan baru pada masa Islam mereka dipaksa menggunakan nama 'Allah,' fakta sejarah menunjukkan bahwa sejak awal orang Arab beragama Yahudi dan Kristen sudah menggunakan nama 'Allah' dalam ibadat mereka. Nama 'Allah' digunakan di kalangan Arab beragama Yahudi dapat dilihat bahwa sebelum Islam lahir ada Imam Sinagoge di Medinah yang bernama 'Abdallah bin Saba,' dan di kalangan kristen penggunaan nama 'Allah' juga banyak. Kekristenan Arab sudah dimulai sedini abad pertama dimana orang Arab sudah mendengar kotbah Yesus (Mrk.3:7-8) dan dihari Pentakosta mereka mendengar dalam bahasa Arab (Kis.2:11), dan Paulus mengunjungi jemaat kristen Arab (Gal.1:17). Pada tahun 244 seorang Arab kristen Phillip the Arab menjadi kaisar Roma dan pada Konsili Nicaea (325) hadir 6 uskup Arab dari kawasan imperium Romawi dan tiga uskup lainnya dari kawasan Arab non Romawi. Ini menunjukkan bahwa umat kristen Arab dengan bahasa Arabnya sudah menyebar bahkan menduduki jabatan tinggi Kaisar Romawi dan Uskup jemaat Arab.

 Pater Pacerillo, arkeolog Franciscan menemukan rumah-rumah di Siria, Lebanon dan Palestina dari abad IV dengan inskripsi 'Bism Ellah al Rahmani al Rahimi' (Dalam nama Allah yang pengasih dan penyayang), sedangkan pada Konsili Efesus (431) hadir uskup Arab bernama Abdellas (Abdullah, band. dengan 'Wahab Allah' yang diterjemahkan ke bahasa Yunani sebagai 'ouaballas'). Dalam fragmen pra-Islam yang ditemukan pada tahun 1901 di Damaskus ada teks LXX Mazmur 78 dimana 'ho-theos' (elohim) diterjemahkan dalam bahasa Arab yang ditulis dengan aksara yunani sebagai 'allau'  (ayat 22,31,59), dalam inskripsi itu huruf 'ha' Arab ditulis sebagai 'upsilon' Yunani. Seorang martir kristen Arab dari Najran bernama 'Abdullah ibn Abu Bakr ibn Muhammad' (523).

Bambang Noorsena S.H. yang mengambil pasca-sarjana dalam sastra Arab di Kairo selama 2 tahun, dalam bukunya menyebut bahwa sebelum Islam lahir, pemakaian istilah Allah di lingkungan Kristen bisa dilihat dari sejumlah inskripsi dari masa pra-Islam yang ditemukan disekitar wilayah Siria dimana nama Al-Ilah dan Allah disebut:

"Ada dua inskripsi penting: pertama inskripsi Zabad (tahun 512) yang diawali dengan rumusan 'Bism al-Ilah' (Dengan nama al-Ilah) yang kemudian disusul dengan nama-nama Kristen Syria, dan kedua, Inskripsi 'Umm al-Jimmal' (juga berasal abad ke-6 Masehi) yang diawali dengan ucapan 'Allahu ghafran' (Allah mengampuni)." (History of Allah, hlm.10)

Inskripsi 'Allahu Gafran' (Umm al-Jimmal) digambarkan jelas dalam buku 'Islamic Caligraphy' oleh 'Yasin Hamid Safadi' (London: Thames and Hudson Limited, 1978, hlm.6). Noorsena juga menyebutkan bahwa ada teks Aram Suryani masa itu dimana nama  'Alaha' diterjemahkan menjadi teks 'Allah' Arab:

"Risalah fit at Tadbir al-Khalash li Kalimat Allah al-Mutajjasad (bahasa Suryani-Arab), karya Mar Ya'qub al-Rahawi (James of Eddesa). Buku ini diawali kalimat: Allah..., menerjemahkan teks asli yang diawali: Alaha... (teks asli Suryani ditulis tahun 578 M)". (The History of Allah, hlm.12.)

Jadi, nama Al-Ilah dan Allah digunakan bersama dan saling dipertukarkan terlebih pada zaman pra-Islam. Dalam Ensyclopaedia of Islam disebutkan:

"Bagi umat Kristen dan monotheis, al-ilah terbukti berarti Tuhan; bagi penulis lain artinya "yang disembah", dan al-ilah menunjukkan 'tuhan yang sudah disebutkan' … penggunaannya bertahan sampai sekarang ('Abd al-Ilah). … Allah sering digunakan sebagai kontraksi al-ilah, khususnya dalam tulisan pra-Islam, kemudian menjadi nama diri (ism 'alam)." (Brill, Vol.III, hlm.1093)

"Allah sudah dikenal di Arab; ia adalah satu dari sesembahan yang disembah di Mekah kemungkinan sebagai tuhan yang mahakuasa dan tentu saja tuhan pencipta (band. QS.13:16;29:61,63;31:25;39:38;43:87). Ia sudah dikenal sejak dulu, sebagai 'Allah,' al-Ilah (asal kata yang paling mungkin; saran lainnya adalah Alaha Aram)." (Brill, Vol.I, hlm.406).

"Sebagian besar beranggapan nama diri Allah ada asalnya (mushtakk, mankul), kontraksi al-ilah, dan menganggap ilah adalah tiga huruf akar kata." (Brill, Vol.III, hlm.1093).

"Allah merupakan suatu nama Hakikat, atau kepercayaan yang bersifat mutlak. Agaknya kata 'Allah' merupakan pengkhususan dari kata al-ilah. … Nama "Allah" telah dikenal dan dipakai sebelum Alquran diwahyukan .... Kata itu tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang, oleh ummat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan." (Glasse, Ensiklopedi Islam, hlm.23)

Selain disebutkan dalam ensiklopedia Islam bahwa nama 'Allah adalah kontraksi al-Ilah,' pada umumnya ensiklopedia umum seperti Britannica, Encarta, Wikipedia juga menyebut demikian. Tentunya topik nama Allah ini ditulis oleh para pakar bahasa Arab.

Selain dalam inskripsi dan nama, Sejak awal Injil Arab juga menggunakan nama 'Allah.' Alkitab Peshita dalam bahasa Aram ditulis pada abad II dimana El/Elohim/Eloah Ibrani ditulis 'Alaha.' Seperti diketahui dari inskripsi Lyhian abad-VI/V SM dan sejarah bahasa bahwa 'Alaha' Aram menurunkan 'Allah' Arab Nabatea dan bahasa Arab. Dalam Injil Apokrif Infancy Gospel of Thomas (abad II) ada cerita mengenai 'Allah yang mengizinkan Yesus membuat mujizat burung dari tanah liat' yang dikutip dalam Injil Anak-anak apokrif dalam bahasa Arab 'Injilu' t Tufuliyyah' dan kemudian diceritakan dalam Al-Quran (QS.5:110).

Pada abad III Origen menulis dalam introduksi Hexapla bahwa ia berkonsultasi dengan salinan bahasa lain termasuk Arab, ini berarti pada abad III sudah ada fragmen Alkitab dalam bahasa Arab. Abad berikutnya (IV), Waraqah ibn Nawfal di Mekah menerjemahkan fragmen Alkitab ke dalam bahasa Arab, di tahun 520 umat Kristen di Najran memiliki Injil dengan dialek Arab yang ditulis dengan aksara Musnad. John of Sedra pada tahun 630-an menulis terjemahan keempat Injil dalam bahasa Arab untuk digunakan oleh para cendekiawan Muslim, dan fragmen-fragmen Alkitab lainnya juga ditulis dalam bahasa Arab pada masa itu. Dari fragmen-fragmen itu berangsur-angsur terkumpul lebih lengkap Alkitab bahasa Arab yang disusun oleh Hunayan bin Ishaq dan Saadia Gaon (abad IX).

Data Al-Quran sendiri mendukung adanya penggunaan nama Allah sebelumnya dan menyebut bahwa pada masa Islam, di gereja dan sinagoge sudah banyak disebut nama Allah, itu berarti bahwa pada masa pra-Islam nama 'Allah' sudah digunakan oleh umat yahudi dan kristen. Muhammad sebelum menjadi nabi dan rasul berhubungan dengan biarawan Nestorian Waraqah ibn Nawfal yang adalah sepupu Khadijah. Ia juga menghadiri pengajaran guru kristen dekat Mekah, dan setelah memulai agamanya ia mengaku menulis kitab sebagai penerus kitab-kitab Yahudi dan Kristen yang sudah ada, ini menunjukkan bahwa ia mengaku nama 'Allah' yang sama dalam dua agama pendahulunya, hal itu secara jelas terlihat dalam Al-Quran:

"(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS.22:40)

Dalam Surrah Al-Quran disebut "orang Yahudi menyebut Allah" (5:64), dan "orang Yahudi & Nasrani beriman kepada Allah" (2:62) dan menyebut "kami anak-anak Allah" (5:18). Orang Nasrani menyebut "Isa Almasih putra Allah" (9:30) dan "rasul utusan Allah" (4:157,171;61:6), dan "Isa menjawab: Bertakwalah kepada Allah" (5:112) dan berkata "Aku ini hamba Allah" (19:30), dan "Allah mengangkat Isa kepada-Nya" (3:55;4:158;5:110). Ini menunjukkan bahwa nama 'Allah' sudah dipakai umat Yahudi dan Kristen Arab termasuk dalam kitab-kitab mereka (QS.2:97;5:48) sebelum Islam lahir. Dalam sejarah tercatat bahwa ketika Islam mulai berekspansi, pada tahun 628 ada delegasi dari biara St. Catherine di Sinai yang menghadap Nabi Islam Muhammad dan mendapat perlindungan darinya untuk menjalankan agamanya dengan bebas. (Prophets Muhammad's Promise to Christians, http://rantingsbymm.blogspot.com/)

Dari kenyataan diatas kita mengetahui bahwa pada masa dahulu, apalagi pada masa bahasa lisan pra-tulis, penggunaan nama 'Allah' terjadi sebagai derivasi 'Allaha' Aram, padanan/kontraksi 'Al-Ilah,' maupun sebagai nama yang berdiri sendiri. Tetapi menarik untuk disimak bahwa di Timur Tengah, bahwa sekalipun penggunaan nama 'Allah' oleh mereka yang beragama Yahudi, Kristen, dan Islam yang berbahasa Arab dilakukan bersama tanpa masalah sejak awalnya, ada juga yang memberikan stigmatisasi nama 'Allah' seakan-akan itu nama 'berhala dewa bulan.' (Arab Bible [2004] adalah plagiat 'Arabic Bible' [1865] dengan semua nama 'Allah' diganti menjadi 'Al-Ilaah').

Lambang bulan sabit bukan berasal dari Arab melainkan dari Turki Usmani (abad XV) untuk mengenang kemenangan di Byzantium dalam perang di malam gelap dengan munculnya bulan sabit secara tiba-tiba. Dalam Al-Quran tidak pernah disebutkan bahwa 'Allah' itu nama dewa bulan selain sebagai 'Tuhan Yang Mahaesa, pencipta langit dan bumi, termasuk bulan.'

 "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)." (QS.29:61)

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah." (QS.41:37)

Ini tidak menutup kemungkinan bahwa dikalangan Arab Lihyan dan Arab Jahiliah pra-Islam, disamping kaum Hanif/Hunafa yang menyembah 'Allah' monotheisme Abraham/Ibrahim ada juga penyembah berhala yang menyebut dewa mereka dengan sebutan allah pula. Dalam sejarah Arab, masa jahiliah pra-Islamlah yang disebut sebagai masa sinkretisme yang berat diimpor berhala asing sehingga banyak yang menyembah berhala (termasuk dewa bulan 'hubal'), namun pada masa Islam hadir, keyakinan monotheisme kaum Hanif itu dipulihkan kembali.

"Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa' (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya dituju­kan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail. Menjelang abad ke-7, kesadaran agama Ibrahim di kalangan bangsa Arab ini telah menghilang, dan kedudukan­nya digantikan oleh pemujaan sejumlah berhala ... dalam waktu 20 tahun seluruh tradisi Jahiliyyah tersebut terhapus oleh ajaran Tuhan yang terakhir, yakni Risalah Islam". (Ensiklopedia Islam, hlm.50-51)

"Karena Islam memperbaiki agama yang dibawa Ibrahim, yakni agama fitrah, maka jahiliyah dipandang sebagai sebuah zaman sebelum keda­tangan Islam, ibarat kegelapan sebelum terbit fajar. Pada zaman ini ajaran monotheisme Ibrahim telah musnah berganti dengan sistem pa­ganisme, dan diwarnai dekadensi moral. Sejumlah berhala sesembahan didatang­kan ke Makkah dari berbagai negeri di Timur Tengah. Namun tidak semua warga Arab pada saat itu menganut sistem keyakinan pagan, me­lainkan terdapat beberapa suku Arab memeluk agama Kristen dan Ya­hudi. Bahkan terdapat sejumlah pribadi yang menekuni dunia spiritual, mereka itu dinamakan 'hunafa' (tgl. hanif) yang mana mereka tidak memihak kepada satu di antara kedua agama tersebut, melainkan mereka bertahan pada ajaran monotheisme Ibrahim". (Ensiklopedia Islam, hlm.190)

Kemerosotan penggunaan nama sesembahan 'Allah' tidak hanya terjadi dikalangan Arab, sebab dikalangan Israel pun kemerosotan yang sama juga terjadi. 'Elohim' disamping untuk menyebut 'Pencipta Langit dan Bumi' (Kej.1:1) juga digunakan untuk menyebut dewa a.l. 'berhala anak lembu' (Kel.32:1,4) yang bahkan juga dirayakan sebagai YHWH (Kel.32:5). Jadi disini kita melihat bahwa yang menjadi masalah bukan nama 'Elohim/Allah'nya melainkan apa kandungan aqidah/pengajaran dibalik nama itu yang secara berbeda-beda diajarkan dalam Kitab Suci masing-masing agama.

Kebenaran sejarah tidak bisa diubah dan perlu disadari bahwa 'Ilah/Allah' (Arab) memiliki asal mula yang sama (cognate) dengan El/Elohim/Eloah (Ibrani), Elah/Alaha (Aram), maupun El/Il Semitik (Mesopotamia), yang dipercayai beberapa agama sebagai dewa, tuhan tertinggi, tetapi juga sebagai 'Tuhan yang Mahaesa pencipta langit dan bumi.' (Di Kanaan kuno El juga ditujukan kepala pantheon Kanaan)

Perlu disadari bahwa sekalipun agama Yahudi (Tanakh), Kristen (PL+PB) dan Islam (Al-Quran) dalam bahasa Arab menggunakan nama 'Allah' yang sama dan menyebutnya sebagai 'Tuhan Monotheisme Abraham/Ibrahim,' ketiganya mempercayai pengajaran/aqidah berbeda sesuai kitab suci masing-masing. Kerancuan terjadi karena mencampuradukkan nama 'Allah' sebagai nama sesembahan semitik/abrahamik dalam bahasa Arab dan aqidah/pengajaran mengenai Allah yang sama itu, karena itu kalau mau membandingkan adalah antara 'Allah' Arab Kristen dibanding 'Allah' Arab Islam. Marilah kita mendengarkan wejangan Dr. Olaf Schuman, teolog kristen Jerman yang fasih berbahasa Arab yang selama 3 tahun belajar dan mengajar di Universitas Al-Ashar di Kairo:

"Memang tidak dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun yang men­jadi masalah ialah soal dogmatika atau 'aqida, sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham dogmatis yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakekatnya maupun pula mengenai cara pernyataannya dan tin­dakan-tindakannya." (Keluar dari Benteng-Benteng Pertahanan, hlm.177)

Menarik juga melihat fakta bahwa Al-Quran dalam bahasa Ibrani yang diterbitkan di Israel, nama 'Allah' diterjemahkan 'Elohim' (Al-Quran Tirgem Avrit, Devir Publishing House, Tel-Aviv, 1945), ini menunjukkan bahwa di kalangan berbahasa Arab-Ibrani nama 'Allah' itu padanan nama 'Elohim.'

Sejak awal nama 'Allah' terus digunakan dalam Alkitab bahasa Arab termasuk delapan versi yang sekarang digunakan oleh sekitar 29 juta umat kristen Arab diseluruh dunia. Pada tahun 1671 gereja Katolik Roma menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Arab di Roma, namun yang lebih populer di kalangan Protestan dan Gereja Ortodok adalah 'Arabic Bible' (Van Dijke, 1865) yang diterbitkan di Beirut.  'Catholic Translation of the Bible' diterbitkan tahun 1980 yang kemudian direvisi pada tahun 1988. 'New Translation of the Arabic Bible' (1988) yang disebut 'Book of Life, an interpretative translation' (Kitab Al Hayat, tarjama tafsiriya) kemudian menjadi 'New Arabic Version' (1992), dan pada tahun yang sama terbit juga 'Today's Arabic Version' (Good News).

Dalam hubungan dengan kaum Muslim, pada tahun 1980-an di Mesir ada kalangan kristen yang menerbitkan Perjanjian Baru untuk dibaca oleh kalangan Muslim yang disebut 'The Noble Gospel' (Al-Injil Al-Syarief, 1990) dan seluruh Alkitab pada tahun 1999. Ada usaha menarik dari penulis Siria-Arab Mashaz Mallouhi (2008) yang mengumpulkan para pakar Arab Islam dan Kristen untuk duduk bersama membuat terjemahan kitab 'Injil dan Para Rasul' dengan nama 'The True Meaning of the Gospel of Christ' ke dalam bahasa Arab modern yang ditujukan kepada orang Arab Kristen maupun Arab Islam yang sekaligus dimaksudkan sebagai pelajaran sejarah sastra Arab dengan membahas terminologi bahasa Arab Alkitab yang sekarang sudah tidak umum digunakan dalam bahasa Arab modern. Semua versi Alkitab Arab hanya mengenal satu istilah untuk Tuhan yaitu 'Allah' (disamping Ar-Rabb untuk menyebut 'Adonai' yang tertuju YHWH).

Di Indonesia sejak masuknya agama Islam (abad XIII) dan Kristen (abad XVI), nama 'Allah' sudah terserap dalam bahasa Melayu dan kemudian masuk kosa-kata bahasa Indonesia, dan sudah digunakan sedini ditulisnya terjemahan Alkitab Melayu pada tahun 1629 sampai terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Sekalipun Indonesia memiliki populasi Islam terbesar di dunia selama ini tidak ada yang mempersoalkan penggunaan nama Allah itu karena para pakar dan ulama Islam pada umumnya mengerti bahwa 'Nama Itu' digunakan  bersama dalam agama Yahudi, Kristen, dan Islam, kecuali dipersoalkan oleh sekelompok kecil fundamentalis tertentu akhir-akhir ini.

Di Malaysia, usaha penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Melayu (BM) dimulai pada tahun 1974. Perjanjian Baru diterbitkan pada tahun 1976 dan Perjanjian Lama pada tahun 1981. 'Alkitab Bahasa Melayu' (BM) lengkap diterbitkan pada tahun 1987 oleh The Bible Society of Singapore, Malaysia and Brunei. Pada tahun 1990 dimulai penerjemahan ke bahasa Melayu sehari-hari dan pada tahun 1996 terbit 'Alkitab Berita Baik' yang diterbitkan oleh The Bible Society of Malaysia. Semua Alkitab Melayu menulis nama 'Allah.' ***

 

Salam kasih dari Yabina ministry www.yabina.org


--- On Fri, 1/22/10, Abu Khalisah <ahid.muhamad@gmail.com> wrote:


From: Abu Khalisah <ahid.muhamad@gmail.com>
Subject: Re: [Milis_Iqra] Kamuflase Umat Kristiani di Indonesia
To: milis_iqra@googlegroups.com
Date: Friday, January 22, 2010, 8:48 PM

rizal lingga <nyomet123@yahoo.com> menulis:
Bagi orang-orang Kristen Arab, tidak mengenal nama Tuhan, tapi ALLAH.

Itu pendapat kamu pribadi atau pendapat Para Sarjana Teologi Zal .???

Pendeta C.I. Scofield, D.D. dengan sebuah tim yang terdiri dari 8
editor konsultan, semua bergelar D.D. (Doktor Ilmu Teologi), dalam
Scofield Refence Bible, menyatakan tepat mengeja kata "Elah" dalam
bahasa Ibrani (berarti Tuhan) atau "Alah" dengan " L " tunggal. Umat
Kristen menerima begitu saja --pada akhirnya mereka kelihatannya
menerima bahwa nama Tuhan adalah Allah-- tetapi masih sedikit
keberatan dengan mengeja Allah dengan satu "L"! (Salinan foto halaman
Injil yang menunjukkan kata "Alah" diberikan pada halaman 354). Banyak
referensi dibuat dalam ceramah umum terhadap fakta tersebut oleh
penulis buklet ini. Percayalah pada saya, Scofield Refence Bible
mempertahankan kalimat demi kalimat seluruh komentar Kejadian 1: 1,
tetapi secara bersamaan, dengan sebuah sulap yang cerdik menghilangkan
kata "Alah" . Bahkan tidak ada ruang kosong dimana kata "Alah"
seharusnya ditempatkan. Ini, terdapat di dalam Injil ortodoks! Salah
satu Injil yang permainan sulapnya sangat mendesak untuk diselesaikan.
--find here :http://www.sarapanpagi.org/50-000-kesalahan-di-dalam-injil-/--

Pada tanggal 19/01/10, rizal lingga <nyomet123@yahoo.com> menulis:
> Bagi orang-orang Kristen Arab, tidak mengenal nama Tuhan, tapi ALLAH. Nama
> Allah berasal dari pengucapan bahasa Ibrani: Eloah, yang sudah ada jauh hari
> bahkan sebelum agama Islam ada. Orang-orang Kristen Koptik, Syria, Libanon,
> sudah menggunakan nama Allah sebagai cara mengucapkan Eloah, yang berasal
> dari bahasa Ibrani, disebabkan nama Allah itu adalah bahasa Arab. Maka
> orang2 Kristen Arab tentu saja menggunakan nama Allah, dan bukan Eloah.
> Sedangkan nama Eloah itu sendiri, merupakan bahasa sehari-hari dari Elohim.
> Sama seperti kata gue dalama bahasa Jakarta berasal dari kata saya dalam
> bahasa Indonesia baku.
> Maka, sikap Muslim Malaysia itu adalah seperti katak dibawah tempurung yang
> tak mencari asal kata Allah itu sebenarnya berasal dari mana.
>
>
> --- On Mon, 1/18/10, Djojo <djojosetiko@gmail.com> wrote:
>
> From: Djojo <djojosetiko@gmail.com>
> Subject: [Milis_Iqra] Kamuflase Umat Kristiani di Indonesia
> To: "Milis_Iqra" <milis_iqra@googlegroups.com>
> Date: Monday, January 18, 2010, 1:59 PM
>
> Alwi Alatas, Mahasiswa PhD International Islamic University Malaysia
>
> Kamuflase Umat Kristiani di Indonesia
> Monday, 21/12/2009 08:44 WIB
>  Cetak |  Kirim |  RSS
> Dalam beberapa hari ke depan, umat Kristiani akan merayakan hari raya
> mereka, yaitu hari raya Natal. Di Indonesia, agama yang dibawa ke
> tanah air oleh kaum kolonialis ini merupakan minoritas. Namun, mereka
> merupakan minoritas yang cukup besar pengaruhnya. Selain itu, upaya
> mereka yang sangat gigih dalam melakukan aksi misionaris terhadap umat
> Islam telah meningkatkan jumlah populasi mereka dari tahun ke tahun.
>
> Tulisan ini ingin membahas salah satu aspek dari strategi umat
> Kristiani di Indonesia dalam upaya mereka mempengaruhi umat Islam.
> Tapi biarlah kami memulainya dengan sebuah cerita dari negeri
> tetangga.
>
> Beberapa waktu yang lalu Malaysia sempat diramaikan oleh perdebatan
> tentang penggunaan kata 'Allah' di dalam Alkitab berbahasa Melayu.
> Kaum Muslimin, melalui beberapa tokohnya, mengkritik penggunaan kata
> ini oleh kalangan Kristiani. Penolakan ini disebabkan beberapa hal,
> antara lain karena kata 'Allah' bukan merupakan terjemahan kata 'God'
> yang digunakan oleh Bible berbahasa Inggris. Istilah Melayu untuk kata
> 'God' adalah 'Tuhan.'
>
> Jadi mengapa umat Kristiani begitu ngotot ingin menggunakan kata
> 'Allah,' dan bukannya kata 'Tuhan' di dalam Alkitab yang mereka
> gunakan?
>
> Persoalan ini kembali ditanyakan oleh seorang peserta yang menghadiri
> kajian tentang worldview of Islam yang dibawakan oleh Prof. Naquib al-
> Attas di Kuala Lumpur hari Ahad malam, 13 Desember 2009. Saat ditanya
> pendapatnya tentang penggunaan kata 'Allah' oleh umat Kristiani di
> Malaysia, Prof. Naquib dengan tegas mengatakan bahwa ia sudah
> menyikapi persoalan ini sejak beberapa tahun yang lalu. Ketika
> mendengar keinginan pendeta-pendeta Kristen di Malaysia untuk
> menggunakan kata 'Allah' dalam Alkitab, maka beliau mengundang para
> pemimpin Kristiani dan petinggi negara untuk berdialog di lembaga yang
> beliau pimpin ketika itu, yaitu ISTAC.
>
> Beliau bertanya kepada tokoh-tokoh Kristen tersebut mengapa mereka
> ingin menggunakan kata 'Allah.' "Karena kami ingin berdoa dalam bahasa
> Melayu," jawab mereka. "Tapi kata Melayu yang tepat untuk istilah God
> dalam Alkitab adalah istilah Tuhan," sanggah Prof. Naquib. "Selain
> itu," lanjutnya, "kata 'Allah' bukan merupakan bahasa Melayu. It comes
> from a tradition that not belongs to you."
>
> Setelah menegaskan bahwa mereka seharusnya menggunakan kata 'Tuhan,'
> Prof. Naquib menjelaskan bahwa kata itu pun pada akhirnya akan mengacu
> pada Allah. Karena Allah adalah Rabbul 'Alamin, Tuhan alam semesta.
> Tidak ada yang bisa menghindar dari-Nya. Tapi kata 'Allah' tidak dapat
> dipergunakan oleh umat Kristiani karena mereka tidak menyifati-Nya
> sebagaimana mestinya. Allah tidak memiliki anak dan Dia tidak
> diperanakkan.
>
> Jadi bagaimana mungkin umat Kristiani hendak menggunakan nama Allah
> tapi pada saat yang sama mengatakan bahwa Dia mempunyai anak, atau
> mengatakan bahwa Dia merupakan salah satu dari tiga oknum dalam
> trinitas? Ini sebabnya mengapa nama Allah tidak semestinya digunakan
> di dalam Alkitab.
>
> Prof. Naquib mengkritik sikap pemerintah Malaysia yang sempat
> memutuskan untuk membawa persoalan tersebut untuk diputuskan di dalam
> Mahkamah. Ini bukan urusan mahkamah, ini merupakan urusan umat Islam,
> karena nama Allah berasal dari tradisi mereka. Jadi apa hak mahkamah
> untuk membuat keputusan dalam persoalan ini?
>
> Prof. Naquib tidak menjelaskan lebih jauh bagaimana perkembangan
> persoalan tersebut lebih jauh di Malaysia, apakah orang-orang Kristen
> di sana tetap bersikukuh memaksakan keinginannya atau tidak.
> Bagaimanapun, hal ini membuat kami berpikir jauh tentang keadaan di
> tanah air. Betapa kaum Muslimin di Indonesia telah berkali-kali
> 'kecolongan' dalam persoalan ini.
>
> Bukan hanya dalam penggunaan kata 'Allah' di dalam Alkitab, tetapi
> juga penggunaan berbagai istilah Islam oleh komunitas Kristiani di
> tanah air. Penulis cukup banyak mengetahui persoalan ini karena
> penulis sendiri selama lebih dari sepuluh tahun menjalani pendidikan
> di sekolah-sekolah Kristen dan banyak anggota keluarga penulis yang
> juga mengalami hal yang sama.
>
> Kami menulis ini dengan sedikit rasa penyesalan mengapa tidak menulis
> persoalan ini lebih awal. Penyesalan menjadi bertambah besar karena
> heran melihat nyaris tidak adanya para ulama di Indonesia yang
> memiliki sikap tegas terkait dengan persoalan ini.
>
> Kalangan Kristen di Indonesia sejak lama telah menggunakan kata
> 'Allah' di dalam Alkitab mereka. Kata ini masuk dan menjadi mapan di
> dalam agama Kristen tanpa ada tantangan sama sekali dari kaum
> Muslimin. Mereka biasa menyebut 'Tuhan Allah' di dalam doa-doa mereka.
> Hanya saja cara penyebutan mereka terhadap kata ini berbeda dengan
> kaum Muslimin. Mereka membacanya dengan bunyi 'Alah', bukan
> sebagaimana lafadz yang digunakan dalam bahasa Arab.
>
> Namun umat Kristiani di Indonesia tidak berhenti sampai di situ.
> Mereka juga menggunakan kata 'syafaat' dalam tradisi mereka.. Lima
> belas atau dua puluh tahun yang lalu, penulis sempat kaget saat
> melewati sebuah gereja di Kwitang menjelang perayaan Natal. Di sana
> terbentang sebuah spanduk dengan berisi ajakan merayakan hari Natal
> 'dalam rangka mendapatkan syafaat ...'. Apa yang mereka maksud dengan
> syafaat? Mereka jelas tidak mengambil istilah ini dari bahasa Yunani,
> Latin, ataupun bahasa Aramaic. Ini jelas bersumber dari bahasa Arab
> dan dari tradisi Islam.
>
> Lalu atas tujuan apa mereka tiba-tiba menggunakan kata ini? Apakah
> karena mereka mengetahui bahwa kata ini memiliki posisi yang sangat
> penting di kalangan sebagian besar umat Islam Indonesia? Apakah dengan
> menggunakan kalimat ini mereka bermaksud mengecoh kaum Muslimin yang
> tidak mendalam ilmu agamanya dan hendak mengeksploitasi harapan mereka
> yang tinggi untuk mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad shallallahu
> 'alaihi wasallam dengan mengatakan bahwa Yesus juga memiliki syafaat?
>
> Umat Kristiani di Indonesia juga menggunakan kata syahadat. Di sekolah-
> sekolah Kristen, setidaknya sebagiannya, murid-murid diajarkan doa
> syahadat. Belakangan ini kami juga mendapat informasi bahwa beberapa
> kalangan Kristen meniru kebiasan kaum Muslimin dalam mengucapkan insya
> Allah. Tapi bukannya mengucapkan kalimat yang sama, mereka mengubahnya
> menjadi insya Yesus. Apa sebenarnya yang diinginkan umat Kristiani
> Indonesia dengan semua ini?
>
> Apakah mereka sudah tidak memiliki identitas yang jelas sampai
> kemudian tanpa rasa malu mengambil dari tradisi Islam? Apakah mereka
> sudah mengalami kebangkrutan sehingga terpaksa comot sana comot sini
> dan memakai milik orang lain – tanpa minta izin pula?
>
> Selain hal di atas, ada persoalan lain dari penggunaan bahasa di
> Indonesia yang perlu dikaji ulang. Selama bertahun-tahun, ejaan bahasa
> Indonesia telah mengalami perubahan yang semakin menjauhkannya dari
> bahasa Arab dan Islam. Dulu kita menyebut 'ilmu hayat,' kini kita
> menamainya 'ilmu biologi.' Dulu kita menggunakan istilah 'izin,' kini
> 'ijin'; dulu 'alfabet' kini 'alpabet.'
>
> Semua kata yang berasal dari bahasa Arab atau yang berbunyi ke-arab-
> araban dijauhkan dan diberi bunyi yang berbeda. Seorang kawan kami
> mengistilahkan ini sebagai 'Krsitenisasi bahasa.' Mungkin ini sebuah
> istilah yang berlebihan. Namun sama sekali tidak salah jika ini
> disebut sebagai 'de-Islamisasi bahasa.'
>
> Ustadz Rahmad Abdullah, almarhum, dengan sangat jeli mengamati
> digunakannya kata-kata tertentu yang bersumber dari Islam ke dalam
> bahasa sehari-hari, tapi dengan diberi konotasi negatif. Misalnya saja
> kalimat semisal 'gajinya telah disunat.' Kata 'disunat dalam kalimat
> tersebut maksudnya jelas, yaitu dipotong secara semena-mena, atau
> dengan kata lain dikorupsi. Mengapa sebuah istilah yang mulia dalam
> Islam, yaitu sunat atau khitan, bisa digunakan dengan konotasi begitu
> buruk dalam bahasa Indonesia?
>
> Kita juga sering mendengar istilah 'nafasnya senin-kamis' yang mengacu
> pada kelemahan dan tidak adanya kekuatan. Mengapa menggunakan istilah
> senin-kamis? Semua orang tahu kalau hari Senin dan Kamis adalah hari
> disunahkannya kaum Muslimin berpuasa. Apa tujuan digunakannya kata-
> kata ini di dalam bahasa sehari-hari?
>
> Ada banyak contoh-contoh lain di samping yang telah kami sebutkan di
> atas. Penulis memang tidak memiliki bukti untuk mengatakan bahwa
> contoh-contoh yang terakhir ini dilakukan oleh pihak Kristen. Yang
> jelas, kesalahan ada pada kaum Muslimin Indonesia sendiri karena
> mereka telah lalai dari hal ini. Karena itu, kaum Muslimin, khususnya
> para wartawan, jurnalis, dan penulis Muslim, perlu meneliti ulang dan
> membongkar kembali penggunaan istilah-istilah tertentu yang tidak
> pantas. Kaum Muslimin perlu menyusun ulang strategi bahasa mereka.
>
> Kami ingin kembali pada upaya kalangan Kristiani yang dapat dilihat
> secara langsung wujudnya. Selain yang telah disebutkan pada bagian
> awal tulisan ini, kita masih menemukan berbagai hal yang mereka
> lakukan. Kini mereka bukan hanya mengambil istilah 'Allah' dan
> beberapa istilah kunci lainnya, mereka juga menggunakan istilah
> tilawatil Injil dan membuat kaligrafi bahasa Arab dengan muatan nilai-
> nilai Kristen.
>
> Mereka juga dengan bangga menyiarkan komunitas orang-orang Betawi yang
> telah masuk Kristen lengkap dengan pakaian tradisional mereka: sarung,
> baju koko, dan peci untuk yang pria, dan kebaya serta kerudung untuk
> yang wanita. Sebaiknya umat Islam bersiap-siap. Mungkin tidak lama
> lagi mereka akan mulai membaca 'tahlil' dan merayakan 'maulid.' Naudzu
> billahi min dzalik.
>
> Hal ini membuat kami bertanya, apakah mereka sudah tidak merasa
> sungkan lagi melakukan kamuflase secara terang-terangan? Selain itu
> kami juga ingin bertanya, apakah umat Kristiani di Indonesia sama
> sekali sudah tidak menghargai orisinalitas dalam agama mereka sendiri?
> Apakah mereka sudah tidak memiliki harga diri sehingga menempuh cara-
> cara semacam ini dalam beragama?
>
> Sebetulnya praktek-praktek semacam ini sama sekali bukan hal yang baru
> dalam agama Kristen sejak era Paulus (Saul of Tarsus). Paulus-lah yang
> telah mengalihkan ajaran yang dibawa Yesus kepada orang-orang Romawi,
> walaupun sesungguhnya Yesus (Nabi Isa) mengkhususkan ajarannya kepada
> orang-orang Yahudi saja. Sejak itu agama Kristen mengadopsi berbagai
> kebiasaan dan tradisi masyarakat pagan agar agama yang mereka bawa ini
> bisa diterima oleh mereka, walaupun konsekuensinya adalah hilangnya
> orisinalitas, identitas, dan karakter asal agama mereka.
>
> Sejak itulah penganut Kristiani membolehkan orang tidak bersunat,
> padahal Alkitab sendiri menjelaskan betapa Yesus (Nabi Isa) tidak
> menyukai orang-orang yang tidak bersunat. Mereka menjadikan hari-hari
> suci kaum pagan sebagai hari suci mereka, antara lain tanggal 25
> Desember (hari Natal) dan hari Minggu (Sunday atau harinya Matahari).
> Mereka juga mengalihkan pemujaan kaum pagan terhadap patung-patung
> dewa-dewi menjadi pemujaan terhadap patung-patung salib, Yesus, dan
> Bunda Maria. Jadi tidak heran jika hal itu kini juga dilakukan di
> Indonesia.
>
> Kami tidak mengangkat persoalan ini dengan maksud supaya para pembaca
> dan kaum Muslimin secara umum menjadi marah dan bersikap emosional,
> atau mengamuk dan menimpakan sesuatu yang buruk kepada umat Kristiani.
> Karena bukan seperti itu tuntunan Islam. Tapi kita, khususnya para
> ulama, perlu mengkaji ulang persoalan ini secara mendalam. Kita perlu
> mengangkat persoalan ini ke permukaan, menanyakan langsung kepada
> tokoh-tokoh Kristiani apa yang menjadi tujuan mereka dengan melakukan
> ini semua.
>
> Kita perlu menegaskan kepada mereka bahwa mereka tidak berhak dan
> tidak sepatutnya mengambil apa-apa yang berasal dari tradisi Islam.
>
> Barangkali bagi umat Kristiani orisinalitas dan identitas sama sekali
> tidak penting, tapi kita mesti menjelaskan bahwa bagi kaum Muslimin
> keduanya sangat penting. Kalaupun umat Kristiani telah jatuh miskin
> dan bangkrut sehingga kehilangan perbendaharaan dari tradisi mereka
> sendiri dan karenanya ingin mengambil dari tradisi lain, maka silahkan
> mereka mengambilnya dari tradisi selain Islam. Silahkan mereka
> meminjamnya dari Hindu, dari Budha, dari Yahudi, atau dari tradisi
> agama lainnya (itupun kalau masing-masing agama itu mengijinkan).
>
> Tapi jangan mengambil dari tradisi Islam. Hal ini bukan karena kaum
> Muslimin pelit atau bakhil. Tetapi karena pada setiap perbendaharaan
> tradisi itu ada hak dan posisinya sendiri yang telah diatur di dalam
> Islam. Ketika istilah-istilah tersebut diambil dan dimasukkan dalam
> kerangka ajaran Kristen, maka posisinya telah menjadi jauh berubah dan
> hak yang dimilikinya telah tercerabut dari nilai yang sesungguhnya.
> Dan ini merupakan suatu kezaliman. Dalam Islam, sesuatu yang tidak
> ditempatkan sebagaimana mestinya merupakan suatu kezaliman. Semakin
> besar kesenjangannya, maka semakin besar juga kezalimannya.
>
> Biar kami pertegas lagi persoalannya supaya lebih jelas. Umat
> Kristiani menggunakan kata 'Allah' di dalam Alkitab. Ini merupakan
> kata yang sepenuhnya bersumber dari tradisi Islam dan sama sekali
> tidak ada dalam tradisi Kristen. Dalam ajaran Islam, Allah itu Esa.
> Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tapi kata 'Allah' dimasukkan
> ke dalam Alkitab dan pada saat yang sama dijelaskan bahwa 'Allah'
> mempunyai anak atau 'Allah' merupakan salah satu dari tiga oknum pada
> trinitas. Ini merupakan sebuah penistaan dan kezaliman yang besar.
>
> Dalam Islam syahadat merupakan sebuah kesaksian dengan formulasi utama
> berupa kesaksian bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan
> kesaksian bahwa Nabi Muhammad merupakan utusan Allah. Tetapi umat
> Kristiani tidak mengakui Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam
> sebagai utusan Allah. Jadi bagaimana mereka hendak begitu saja
> meminjam istilah syahadat sambil melucuti maknanya. Ini adalah sebuah
> kezaliman.
>
> Demikian juga dengan istilah syafaat. Dalam Islam, syafaat diberikan
> oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan bukan oleh nabi-
> nabi yang lain, termasuk Nabi Isa 'alaihis salam. Apakah kalangan
> Kristen hendak mengambil kata ini sambil menyuruh manusia mengharapkan
> syafaat dari Yesus? Ini juga merupakan sebuah kezaliman.
>
> Sekiranya mau menggunakan perbendaharaan kaum Muslimin boleh saja
> asalkan siap untuk menerima dengan segala pemaknaan serta keyakinan
> yang ada di dalamnya. Kalau tidak demikian maka janganlah mengambil
> sama sekali. Kalau umat Kristiani mengatakan bahwa mereka sama sekali
> tidak mengetahui persoalan ini, maka kini kita telah
> memberitahukannya, dan karenanya mereka harus mengembalikan kepada
> umat Islam dan segera kembali pada konsep-konsep dan terminologi
> mereka sendiri.
>
> Kalau mereka melakukan dengan sengaja dengan tujuan untuk mengacaukan
> identitas kaum Muslimin dan dengan tujuan menciptakan kebingungan di
> tengah-tengah mereka, maka ini adalah sebuah kejahatan yang mesti
> dihentikan.
>
> Tapi yang terpenting dari itu semua adalah kita mesti mendidik
> generasi kaum Muslimin supaya mereka memiliki pemahaman yang baik
> terhadap Islam dan supaya mereka memiliki ilmu agama yang memadai.
> Sekiranya kaum Muslimin memiliki ilmu yang cukup baik, maka mereka
> tidak akan mudah terkecoh dengan taktik dan kamuflase yang dilakukan
> oleh orang-orang diluar kelompok mereka.
>
> Para da'i dan ulama Islam perlu memberikan pendidikan lebih luas
> kepada kaum Muslimin, khususnya yang berada di pedesaan, serta
> mengangkat perekonomian mereka, supaya mereka tidak mudah terpedaya
> dengan bujuk rayu pihak lain. Ini merupakan sebuah tugas yang amat
> mendesak bagi kita semua. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan
> kepada kaum Muslimin dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang
> belum memahami kebenaran.
>
> Kuala Lumpur, 14 Desember 2009
>
> Alwi Alatas, Mahasiswa PhD International Islamic University Malaysia
> (IIUM) dan penulis buku
>
> http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/alwi-alatas-mahasiswa-phd-international-islamic-university-malaysia-kamuflase-umat-kristiani-di-indonesia.htm
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>   Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>   Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>      Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
>
>

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
  Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
  Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
     Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment