Monday, July 26, 2010

Re: MUI : Syiah tidak sesat [Re: [Milis_Iqra] Din Syamsuddin: "Haqul Yaqin ESQ tidak Menyimpang"]

Kalau boleh saya koreksi mas Arman,
Mas arman salah sangka soal curhatan saya kepada pak Andri,
itulah kenapa saya curhat kepada pak andri bukan kepada yang lain,
karena saya khawatir ada salah sangka soal maksud saya jika saya sampaikan kepada orang lain.
Dan benar ada salah sangka.
 
Soal kenapa saya tidak mau berdiskusi dengan mas Arman, mungkin tidak cuma kepada mas Arman tetapi kepada yang lainnya juga
banyak alasan :
Intinya, ketika saya berdiskusi soal dien ini, saya ingin ilmiah, ilmiah dalam arti berdasarkan ilmu, dari Al Qur'an dan Assunnah, tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya.
Bukan berdasarkan logika dan ilmu yang sophisticated.
Jika lawan diskusi saya misalnya (misalnya ini hanya salah satu contoh, jadi jangan dipermasalahkan, karena masalah lainnya masih banyak), misalnya tidak percaya pada sanad hadist apalagi tidak mempermasalahkan suatu hadits shahih apa tidak, dengan sangat menyesal, saya mohon maaf, saya tidak bisa berdiskusi lebih jauh karena hasilnya tidak akan ada.
 
karena berdasarkan ilmu dalam agama buat saya adalah Al Qur'an dan assunnah.
Haditsnya ada dan berulangkali saya sampaikan.
Dasarnya adalah Al Qur'an yang ditafsirkan sesuai ajaran Rasulullah kepada para shahabatnya, hadits yang sanadnya jelas, bukan berdasarkan pikiran saya.
 
Saya juga mohon maaf jika saya adalah orang yang menganggap Islam adalah agama yang sempurna, semua yang mendekatkan diri ke Surga dan menjauhkan diri ke neraka sudah disampaikan semua oleh Rasulullah sesuai hadits beliau, yang saya kemukakan juga berulangkali.
Jika karena pandangan saya ini, saya dianggap kuno, stagnan, tidak maju maju, saya mohon maaf, tetapi itulah garis pembatas yang saya pasang kenapa saya tidak bisa berdiskusi soal dien ini dengan akal saya yang sangat terbatas, apalagi saya juga cuma lulus S2.
 
Itulah alasan saya tidak bisa berdiskusi dengan beberapa orang di milis ini, karena pijakan awal yang sudah berbeda.
Saya tidak mempercayai akal saya yang cuma lulusan S2 untuk membuat perdiskusian dien berdasarkan akal saya.  Karena agama ini berdasarkan wahyu dari Allah kepada Rasulullah, bukan berdasarkan akal saya.
 
Demikian yang dapat saya sampaikan sebagai wujud tanggungjawab sikap saya.
Mohon kiranya rekan rekan milis ini yang bijaksana dapat menghargai perbedaan pendangan yang saya anut tersebut.  Agar saya tidak selalu dicap tidak bertanggungjawab, dan lain sebagainya.
 
Terimakasih


 
On 7/27/10, Armansyah <armansyah.skom@gmail.com> wrote:
Dear members.,
Kebetulan tadi malam, saya sedang hunting software Astronomi lamas saya yang bisa dikoneksikan langsung dengan citra satelit NASA dan Google Earth sekaitan dengan ceramah ilmiah saya yang InsyaAllah akan saya sampaikan menyambut Ramadhan tahun ini beberapa hari yang akan datang. Nah, ceritanya pas sedang bongkar-bongkar arsip lamas itu, saya ketemu satu bundle CD berisi macam-macam fatwa, termasuk satu diantaranya fatwa dari MUI. Saya tertarik untuk mencoba melihat ulang fatwa MUI yang --konon kata beberapa pihak tertentu-- Syiah itu diharamkan atau aliran sesat dan berbeda dengan Islam ... [meski orang-orang ini setiap kali diajak dialog terbuka tidak pernah mau dengan beragam alasan, heran, selalu lempar batu sembunyi tangan dengan seribu satu macam alibinya, tapi ya sudahlah].

Oke, bukan itu point utamanya, saya akan membiarkan saja semuanya mengalir seperti air, karena audiens atau milister akan bisa melihat dan menilai apa dan bagaimananya dengan semua kematangan berpikir masing-masing diri. Saya cuma ingin kembali menyentil ulang saja bahwa kalau setiap ucapan dan tulisan atau apapunlah tindakan kita itu mesti didasari oleh ilmu dan ilmu itu sendiri harus berpijak pada sesuatu yang real dan murni kita ketahui bukan berdasar omongan orang-orang saja sementara kita belum pernah melakukan cek dan ricek secara langsung sebagai seorang insan yang mandiri. Itulah penekanan-penekanan yang disampaikan oleh banyak ayat dalam al-Qur'an sekaitan ikut-ikutan tradisi suatu kaum (mulai dari nenek moyang, para ulamanya dan sebagainya dan seterusnya). Ini adalah bagian dari dakwah untuk saling mengingatkan dalam kebenaran agar sipelakunya bisa sadar dan mengoreksi dirinya sendiri. Tetapi jika ditanggapi secara emosional dan tidak berhenti mencari pembenaran sepihak maka sesungguhnya peringatan akan hal ini sudah disampaikan beberapa kali dan tidak ada lagi tanggung jawab sebagai pribadi terhadap tindakan atau cara berpikir ybs.

Poin yang mau saya koreksi adalah tulisan dari Mbak Wn yang satu ini ...


2010/7/23 whe - en <whe.en9999@gmail.com>

Jika MUI memfatwakan tidak sesat, pendapat itu akan diikuti dan dishare kemana mana karena sesuai yang dimaui oleh yang bersangkutan,
tapi bagaimana dengan fatwa MUI soal aliran sesat atau tidak yang lain?
MUI pasti sudah meneliti juga secara mendalam,
tetapi yang saya lihat, jika fatwa MUI tidak sesuai dengan pendapat seseorang, fatwa tersebut tidak dipakai.
Contohnya fatwa MUI soal Syiah imamah
Yang percaya keputusan MUI tersebut seperti saya justru diserang habis habisan, padahal dibanding orang per orang, MUI sudah pasti lebih punya sumber daya yang meneliti lebih lengkap dan mendalam.



Apakah benar MUI memfatwakan bahwa madzhab Syiah itu sesat ?
Setelah saya baca ulang arsip fatwa MUI mengenai hal ini dan coba saya ricek kembali ke situsnya MUI, ternyata MUI sendiri tidak secara jelas dan terang mengatakan bahwa mazhab Syiah itu sesat. Lebih jauh lagi MUI tidak mengelompokkan syiah berdasarkan mazhab internalnya lebih detil dan hanya menggeneralisir pemahaman ini.

Berikut saya copy-pastekan fatwa tersebut.,

* Faham Syiah
Sumber : http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=8

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 merekomendasikan tentang faham Syi' ah sebagai berikut :

Faham Syi'ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm'ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu diantaranya :

# Syi'ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan ahlu Sunnah wal Jama'ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.


# Syi'ah memandang "Imam" itu ma 'sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama'ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).

# Syi'ah tidak mengakui Ijma' tanpa adanya "Imam", sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama' ah mengakui Ijma' tanpa mensyaratkan ikut sertanya "Imam".

# Syi'ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/Pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama'ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da'wah dan kepentingan ummat.

# Syi'ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengakui keempat Khulafa' Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

# Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi'ah dan Ahlus Sunnah wal Jama'ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang "Imamah" (Pemerintahan)", Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada ummat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama'ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi'ah
 

Saya tidak bosan untuk mengulangi pernyataan saya sebelum ini yang  mungkin entah untuk keberapa puluh dan ratus kalinya disampaikan, bila saya sebagai pribadi tidak menganut bentuk pemahaman berdasar sekte dan mazhab apapun didalam Islam sehingga tidak ada ikatan pada diri saya terhadap mazhab Ahlussunnah, Syiah, Muktazilah dan lain sebagainya termasuk bagian-bagian terkecilnya lagi dari itu seperti Salafi, Wahabi, Imamiyah dan seterusnya. Saya hanya seorang muslim yang mencukupkan diri dengan label kemusliman tersebut sebagaimana perintah Allah :

(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atau segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. 22:78)

Tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah.Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:"Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang Muslim". (QS.  3:64)

Katakanlah: "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: "Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. maka hendaklah kamu Muslim". (Qs. 21:108)

Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang Muslim". (QS. 10:72)

Dst ... masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur'an lainnya.
 

Saya tidak pernah menggolongkan diri kepada berbagai macam mazhab dan sekte, meski demikian saya selalu membuka diri terhadap semua dialog dan argumentasi yang ada dari kesemua sekte tersebut diatas. Buat saya, Islam ya Islam tidak ada istilah paham yang berlabelkan Islam kanan, Islam kiri, Muslim Sunni, Muslim Syiah, Muslim salaf dan lain-lainnya. Sebab saya takut dengan ancaman Allah berikut ini :

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. 42:13)

Jadi bila masih ada milister disini yang mengatakan dan menisbatkan diri pada salah satu sekte apalagi sampai mengkafirkan dan menyesatkan begitu saja tanpa proses ilmu yang ia ketahui atau selidiki sendiri maka saya berlepas tangan darinya meski saya tetap sekali lagi tidak pernah menutup silaturahim dengan siapapun. Bila saat ini saya terkesan sedang  membela Syiah dan ESQ dengan kerasnya dari berbagai hujatan, cacian dan pengkafiran atau penyesatan yang membabi buta maka silahkan buka arsip milis ini sekitar 3 sampai 4 tahun lalu bacalah ulang dengan kepala dingin dan lihat bagaimana gigihnya saya membela kelompok Ahlussunnah dari kaum Ingkarsunnah seperti Debu Semesta dan juga Sahmuddin dari al-Qiyadah al-Islamiyah. Lihat kembali bagaimana misalnya saya beradu argumentasi dengan pihak kristen yang dimilis ini diwakili oleh gerakan Rizal Lingga, Abdi Yono, Gabriella dan beberapa lagi lainnya yang sekarang sudah tidak eksis lagi dalam mempertahankan Islam secara keseluruhan tanpa ada sekatan mazhab. Jadi tolong untuk melihat saya secara utuh, melihat bahwa apa yang saya sampaikan dan saya perdebatkan bukan sebagai bentuk permusuhan pada siapapun tetapi sebagai bagian dari saling ingat mengingatkan.

Sianu sesat karena kata ulama anu, anu-anu-anu, paham itu kafir karena menurut syaikh anu dari buku anu, anu-anu-anu ... nah anu-anu-anu ini khan yang harus kita sikapi hati-hati. Bukan tidak percaya pada ulama anu dan syaikh anu tetapi alangkah bijak dan cerdasnya kita bila kita juga mencari tahu sendiri dan membuktikan dengan semua kefitrahan diri kita sebab kita sebagai individu akan diminta pertanggung jawaban dari Tuhan juga meski kita bersandar pada pendapat si anu dan si anu. Itu bila mau di-ingatkan ...



--
Salamun 'ala manittaba al Huda



ARMANSYAH

--
================
 
 

Whe~en
http://wheen.blogsome.com/

"Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
"Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment