Monday, August 9, 2010

Re: [Milis_Iqra] Kontra-terorisme Raja Abdullah

Islam Liberal bahaya...

On 8/9/10, Armansyah <armansyah.skom@gmail.com> wrote:
> Berikut adalah artikel yang dicuplik dari websitenya JIL ... [entah apapun
> terjemahan dari JIL ini bagi anda semua :-)], ada komentar, bantahan ...
> saya persilahkan.
>
>
> Kontra-terorisme Raja
> Abdullah<http://islamlib.com/id/artikel/kontra-terorisme-raja-abdullah/>Oleh
> Saidiman
> Sumber : http://islamlib.com/id/artikel/kontra-terorisme-raja-abdullah/
>
> Jika semangat revolusioner dan terorisme itu semakin besar, maka yang akan
> dirugikan bukan hanya target-target teroris di luar Arab Saudi, melainkan
> juga adalah Arab Saudi sendiri. Saat ini, Arab Saudi, selain Israel, adalah
> sekutu utama negara-negara Barat di Timur Tengah. Amerika Serikat bahkan
> menempatkan pangkalan militernya di Arab Saudi, ini pulalah yang memicu
> gerakan protes masyarakat Islam Wahhabi Saudi sendiri.
>
> *Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Sinar Harapan, 28 Januari 2008*
>
> Himbauan Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz bin Saud, untuk memerangi
> terorisme dan diskriminasi agama patut diberi apresiasi. Pada pertemuan
> antar-iman Perserikatan Bangsa-bangsa, 13 November 2008, Raja Abdullah
> menyatakan bahwa terorisme adalah musuh semua agama, oleh karena itu semua
> pihak harus mengumandangkan perang terhadapnya dan menyebarkan toleransi.
>
> Pernyataan ini sangat penting karena keluar dari penguasa sebuah negara yang
> hampir identik dengan ideologi garis keras yang sekarang menjadi inspirasi
> hampir semua kelompok garis keras di seluruh dunia. Selama bertahun-tahun,
> secara sistematis Kerajaan Arab Saudi mengekspor idelogi Wahhabi ke seluruh
> dunia melalui pendidikan dan gerakan sosial lainnya. Dukungan dana yang
> seolah tanpa batas menyebabkan ideologi ini berkembang pesat. Di Indonesia,
> mula-mula ia muncul dalam gerakan salafi yang bergerak secara kultural
> dengan menggunakan kata kunci dakwah. Tetapi di akhir tahun 1990-an, gerakan
> dakwah ini mulai muncul dalam bentuk yang lebih politis bahkan secara
> langsung berani menantang otoritas negara dengan gerakan-gerakan destruktif
> berupa penyerbuan dan perang di sejumlah wilayah Republik Indonesia. Pada
> titik yang paling ekstrim, mereka merancang teror bom di sejumlah tempat
> strategis. Meski sebagian pengikut ideologi ini masih mau berkompromi dengan
> sistem demokrasi dengan turut serta dalam proses Pemilihan Umum, namun
> sebagian lainnya, yang tidak bisa dibilang sedikit, memilih jalur yang
> berhadap-hadapan langsung dengan sistem. Mereka menolak demokrasi dan
> melancarkan kampanye anti Negara Kesatuan Republik Indonesia.
>
> Tetapi apakah ini berarti bahwa Arab Saudi sudah berubah? Yang lebih penting
> adalah apa yang membuat perubahan itu terjadi? Secara umum, Arab Saudi
> memang adalah negara yang selalu berada dalam ketegangan. Negara ini
> terbangun atas koalisi rezim Saud dan otoritas agama, Wahhabisme. Dengan
> menjadikan Wahhabisme sebagai ideologi negara, Arab Saudi dituntut untuk
> tetap berada pada garis iman Wahhabi. Tetapi karena ideologi ini muncul
> dengan corak yang keras dan kaku, maka rezim sesungguhnya menghadapi
> tantangan paling keras dari penganut Wahhabi itu sendiri. Dua pemberontakan
> yang paling berdarah sepanjang kekuasaan rezim keluarga ini datang dari
> kekuatan inti Wahhabi itu sendiri.
>
> Tahun 1927, tentara Wahhabi, Ikhwan, melakukan pemberontakan berdarah.
> Kudeta Ikhwan dilatarbelakangi ketidakpuasan mereka terhadap pemerintahan
> Abdul Aziz bin Saud yang tidak lagi mengedepankan semangat penaklukan,
> bahkan mulai mencoba bersikap lunak kepada kelompok Syi'ah. Dan yang lebih
> penting adalah Saudi membangun aliansi dengan Barat yang mereka anggap
> sebagai musuh. Mereka berhasil ditumpas dengan bantuan tentara-tentara
> Inggris.
>
> Tahun 1979, sekelompok Wahhabi pimpinan Juhayman al-Utaybi (pengikut ulama
> terkemuka Wahhabi, Abdul Aziz bin Baz) juga mencoba melakukan kudeta dengan
> menyandera ribuan jemaah haji di Masjid Haram, Mekkah, tempat tersuci ummat
> Islam sedunia. Pemberontakan ini didasarkan pada ketidakpuasan atas perilaku
> para elit Saudi yang dianggap telah melenceng dari iman Wahhabi. Rezim tidak
> saja menjalin kerjasama dengan Amerika tetapi juga mengizinkan ratusan warga
> Amerika tinggal di Arab Saudi. Mereka juga mengutuk produk-produk tehnologi
> berupa televisi dan radio sebagai sebuah bid'ah atau inovasi sesat. Drama
> penyanderaan ini berakhir dua minggu kemudian ketika pasukan Prancis
> membantu Arab Saudi menggempur para pemberontak.
>
> Pasca pemberontakan 1979, setelah mengeksekusi mati semua pelaku yang
> berumur di atas 16 tahun, rezim Saudi kemudian mengawasi secara ketat semua
> gerakan masyarakat Islam Arab Saudi. Represi terhadap gejala oposisi semakin
> ketat. Secara sadar rezim menekan semangat gerakan politis masyarakat Saudi.
> Itulah yang menyebabkan gerakan yang sebelumnya memiliki potensi politis
> kemudian berubah menjadi gerakan dakwah. Harus diingat bahwa sebelum 1979,
> rezim Arab Saudi menampung ribuan anggota Ikhwan al-Muslimun (organisasi
> Islam Mesir yang memperjuangkan gerakan politik). Rezim Saudi berusaha keras
> meredam semangat politis kelompok-kelompok Wahhabi-Ikhwani. Tetapi, ternyata
> rezim tidak sepenuhnya berhasil.
>
> Gerakan Juhayman kemudian menginspirasi ribuan pemuda Arab Saudi untuk
> melakukan gerakan serupa. Karena besarnya tekanan kerajaan di dalam negeri,
> mereka kemudian menumpahkan energi kekerasannya pada Perang Afganistan.
> Pasca perang Afganistan, pemuda-pemuda inilah yang kemudian membentuk
> jaringan teroris internasional yang dikenal dengan nama al-Qaedah.
> Organisasi mematikan itu dipimpin oleh Osama bin Laden, anak pengusaha yang
> menjadi sahabat kerajaan Arab Saudi sendiri, Muhammad bin Laden.
>
> Kondisi sosial Arab Saudi seperti inilah yang tidak memungkinkan rezim
> mendukung gerakan revolusioner apalagi terorisme. Bahkan ketika terjadi
> kerusuhan di Maluku, para ulama senior Arab Saudi bahkan enggan memberi
> restu terhadap sekelompok Muslim yang hendak melakukan "jihad" ke daerah
> konflik tersebut. Baru ketika kalangan Salafi radikal yang dipimpin oleh
> Ja'far Umar Thalib dan Muhammad Umar As-Sewed melakukan pendekatan intensif,
> beberapa ulama itu kemudian mengeluarkan fatwa jihad. Meski begitu, fatwa
> yang dikeluarkan oleh beberapa ulama ini tetap menekankan jihad dalam bentuk
> defensif atau pembelaan diri. Abd al-Razzaq ibn Abd al-Muhsin al-Abbad,
> misalnya, menyatakan: "Pergi ke medan tempur di Maluku untuk membela umat
> Islam adalah perkara yang disyariatkan, dengan syarat kepergian kalian ke
> sana tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar kepada kaum muslimin dan
> kaum muslimin bukan sebagai pihak yang memulai tindakan permusuhan, tetapi
> sebagai pihak yang diserang" (Noorhaedi Hasan, 2008).
>
> Dengan fatwa semacam itulah Laskar Jihad berangkat ke Maluku untuk terlibat
> dalam perang melawan kelompok Kristen. Tetapi tampak jelas bahwa para ulama
> Arab Saudi sendiri sangat menghindari sikap revolusioner, di mana ummat
> Islam sebagai pengambil inisiatif perang. Di Indonesia, Laskar Jihad menjadi
> organisasi marjinal di kalangan Salafi lain yang menyerukan jihad di Maluku.
> Abu Nida, tokoh Salafi lain, mengkritik keras sikap Ja'far Umar Thalib dan
> para pengikutnya. Abu Nida bersikukuh bahwa Salafi adalah gerakan dakwah,
> bukan gerakan politik apalagi mengebarkan perang.
>
> Apa yang diungkap oleh Raja Abdullah sesungguhnya sudah bisa ditebak. Jika
> semangat revolusioner dan terorisme itu semakin besar, maka yang akan
> dirugikan bukan hanya target-target teroris di luar Arab Saudi, melainkan
> juga adalah Arab Saudi sendiri. Saat ini, Arab Saudi, selain Israel, adalah
> sekutu utama negara-negara Barat di Timur Tengah. Amerika Serikat bahkan
> menempatkan pangkalan militernya di Arab Saudi, ini pulalah yang memicu
> gerakan protes masyarakat Islam Wahhabi Saudi sendiri.
>
> Saat ini, Arab Saudi membutuhkan dukungan internasional untuk menanggulangi
> potensi terorisme yang juga sangat mengancam eksistensi rezim Saudi itu
> sendiri. Jika para teroris keturunan Arab Saudi bisa meledakkan menara
> kembar WTC, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk meledakkan sentra-sentra
> ekonomi Dinasti Saud.
>
> --
> Salamun 'ala manittaba al Huda
>
>
>
> ARMANSYAH
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment