Wednesday, September 29, 2010

[Milis_Iqra] Inspirasi dari Sang Pencerah

INSPIRASI DARI SANG PENCERAH
Oleh : Cecep Hidayat

Sumber : http://www.facebook.com/notes/cecep-hidayat/inspirasi-dari-sang-pencerah-oleh-cecep-hidayat/438481171820

Ada sesuatu yang menarik dari kisah perjalanan hidup KH. Ahmad Dahlan, yang dikisahkan oleh sutradara Hanung Brahmantyo dalam film gubahannya ; Sang Pencerah. Yakni tentang pelajaran serta bagaimana seorang tokoh besar "dilahirkan".

Ada penggalan film yang penulis pandang perlu untuk diberi "garis bawah", khususnya bagi generasi muda, yaitu tentang bagaimana seorang Darwis (KH. Ahmad Dahlan muda), dalam usianya yang masih belia telah menunjukkan pribadi yang memiliki sikap teguh serta condong pada kebenaran serta perubahan dalam hidupnya.

Yaitu sebuah sikap yang  didasari oleh ketidaksepakatan dirinya terhadap  pola hidup yang berkembang ditengah-tengah masyarakat. Dimana di sana dikisahkan, bahwa pada masa remaja, dalam masyarakat di sekitar tempat tinggal  Ahmad Dahlan hidup ; Yogyakarta, terdapat pola hidup yang dianggap oleh Dahlan muda "tidak benar adanya", tapi praktiknya sudah terpatri  "hidup" berlangsung sejak lama menjadi bagian dari  kehidupan masyarakat.

Salah satu yang paling mendapat perhatian secara intens dari perhatiannya ialah tentang praktik keagamaan yang kurang "tepat", "ketundukkan" terlalu berlebihan terhadap raja, serta aktifitas penyembahan pada pepohonan. Bagian film ini penting untuk mendapat sorotan, bahwa dalam usia masih belasan, Ahmad Dahlan muda, telah memiliki kepekaan yang sangat tajam akan sebuah gejala ketidak benaran serta ketidak adilan yang hidup dalam sistem pola hidup yang ada di tengah-tengah masyarakat sekitar ia tinggal. Dan dari rasa kegelisahan-kegelisahan itu, kemudian lahirlah niat-niat besar ke depan dalam hidupnya untuk kemudian bagaimana ia berkehendak merubah pemahaman keagamaan serta sistem sosial yang salah tadi. Kepekaan yang sangat tajam terhadap  adanya "ketidak beresan" dalam  tata nilai hidup yang beredar di tengah-tengah masyarakat, merupakan pelajaran pertama, bagaimana  Dahlan muda, dalam perjalanan sejarah hidup dikedepannya kemudian mampu mentorehkan tinta emas dari  hidupnya, serta berhasil  mewariskan peradaban baru dalam kehidupan.

Langkah ke dua, setelah menemukan keganjilan-keganjilan nilai yang hidup dalam masyarakat, Dahlan muda kemudian "berinvestasi" membekali dirinya dengan "amunisi" pengetahuan serta pemahaman tentang nilai-nilai keagamaan yang dikedepannya akan dijadikan "modal" sebagai alat perjuangan untuk melakukan perubahan sesuai dengan yang beliau impikan. Dari poin ini, Dahlan muda memberikan pelajaran, bahwa untuk melakukan perubahan diperlukan "amunisi" berupa pengetahuan yang dalam sehingga menjadi landasan ideologis bagi perubahan yang dilakukan. Hal  ini penting untuk diperhatikan, sebagai bahan sebuah pelajaran bahwa dalam melakukan pendakwahan islam serta perubahan sosial  tidak bisa dilandaskan pada kekuatan otot serta  semangat semata. Dahlan muda memberikan contoh bahwa, kepergiannya ke Mekkah, tempat pusat pembelajaran agama islam, dengan penuh semangat, walau harus jauh-jauh meninggalkan keluarga, memberikan pelajaran besar, yakni untuk  merealisasikan niat merubah serta meluruskan praktik dan pemahaman agama yang kurang tepat di masyarakat, perlu "modal" berupa pemahaman agama yang benar dan dalam, serta untuk mendapatkan hal itu, perlu perjuangan serta pengorbanan yang tidak kecil untuk mendapatkannya.

Langkah ke tiga Dahlan dalam mewujudkan cita-cita besarnya yang kemudian adalah, "Turun gunung" memulai aktifitas perjuangan ditengah-tengah masyarakat. Aktifitas perjuangan dimulai dari hal kecil, bahkan surau yang beliau pimpin, jumlah jamaah pengajian yang bersedia menjadi "santri" belaiupun hanya segelintir orang belaka. Akan tetapi hal tersebut tidak sedikitpun menyurutkan niat KH. Ahmad Dahlan untuk terus melakukan perjuangan. Perbenturan dengan kelompok keagamaan lain yang berpegang pada warisan pemahaman turun temurun yang ada di sana, dan memiliki jumlah anggota "jamaah" yang jauh lebih besar, tidak pula menjadi penciut nyali bagi dirinya. Predikat Kyai Kafir yang dinisbatkan kepada beliau oleh kelompok agama islam yang tidak sefaham dengan dirinya, tidak pernah membuat ia gentar. Bahkan ketika surau kecilnya dirobohkan secara paksa, tidak pula mampu mematikan semangat untuk melakukan perubahan demi memberikan pencerahan dalam memahami islam. Sikap anarkis pihak-pihak yang tidak senang dengan tindak-tanduk beliau, beliau hadapi dengan sabar, dan indahnya, tidak beliau balas dengan tindakan anarkis pula. Hal ini penting untuk diteladani, bahwa, ditengah maraknya fenomena radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama, KH. Ahmad Dahlan memberikan contoh tentang pentingnya kesabaran,  bahwa untuk mencapai keberhasilan dalam perjuangan pendakwahan Islam, tidak bisa lepas dari sebuah nilai agung yang bernama kesabaran itu. Yakni sebuah sikap untuk lebih mengedepankan memberi balasan kebaikan, terhadap pihak-pihak yang telah mendzalimi sebelumnya.

 

KH. Ahmad Dahlan juga memberikan pelajaran tentang pentingnya memiliki keterbukaan fikiran serta tidak serta merta "taqlid buta" terhadap pemahaman yang ada dan sudah mapan "hidup" dimasyarakat. "Ajaran" ini diambil dari adegan film, dimana dikisahkan, bahwa sekembali dari Mekkah, KH. Ahmad Dahlan diceritakan membawa "oleh-oleh" berupa majalah Al-Manar. Majalah yang pada waktu itu merupakan salah satu majalah yang dilarang keberadaannya, karena dianggap memuat pemikiran-pemikiran dari Jamaludin Al-Afghani, Mujathid muslim yang pemahaman agamanya berbeda dengan kebanyakan pemahaman yang diyakini di tempat ia tinggal. Perjuangan-perjuangan terus beliau lakukan, sampai akhirnya belaiu memandang perlu untuk mendirikan sebuah perkumpulan guna memperkuat kekuatan perjuangan, yang kemudian beliau dan rekan-rekannya beri nama Muhammadiyah, yang artinya perkumpulan pengikut Nabi Muhammad SAW. Dan akhirnya kita ketahui bersama, bahwa saat ini, puluhan tahun sejak wafat beliau, Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi massa islam terbesar di Indonesia dan Dunia, dengan bukti karya nyata berupa kontribusi terhadap masyarakat serta negara dan bangsa tak terhitung besarnya.

 

Seyogyanya, KH. Ahmad Dahlan telah banyak memberikan pelajaran hidup. Bahwa bagaimana usia hidupnya yang tidak berbeda dengan kebanyakan orang, namun mampu memberikan pengaruh serta perubahan dan manfaat yang begitu besar. Tidak hanya terhadap masyarakat, agama, negara, dan bangsa. Tetapi juga terhadap dunia serta peradaban manusia. Hal inilah kemudian yang membedakan antara orang-orag besar dengan yang lain. Orang besar selalu berfikir untuk bagaimana  memberikan sebesar-besarnya manfaat dari hidupnya, sehingga usia yang dilewatkan tidak berlalu tanpa arti.

 

Pertanyaannya adalah berada dimanakah posisi kita ? apakah berada di garis perjuangan selayaknya yang dilakukan oleh Sang Pencerah di atas, atau jauh sama sekali ?.

Penulis adalah Ketua Divisi Syiar FKDF UNPAD 2005-2006


--
Salamun 'ala manittaba al Huda



ARMANSYAH

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment