Wednesday, October 27, 2010

[Milis_Iqra] FW: [ppiindia] Mbah Maridjan : Kafir & Kejawen & Egois ?...

Dari Sebelah,
 
Maaf judulnya Agak seram,..
 

From: ppiindia@yahoogroups.com [mailto:ppiindia@yahoogroups.com] On Behalf Of rifky pradana
Sent: Thursday, October 28, 2010 11:03 AM
To: ekonomi-nasional@yahoogroups.com; eramuslim@yahoogroups.com; Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com; Indonesia-Rising@yahoogroups.com; mediacare@yahoogroups.com; Nongkrong_Bareng2@yahoogroups.com; ppiindia@yahoogroups.com; sabili@yahoogroups.com; syiar-islam@yahoogroups.com; wartawan-indonesia@yahoogroups.com; zamanku@yahoogroups.com; mencintai-islam@yahoogroups.com; mencintai-islam@yahoogroups.com
Subject: [ppiindia] Mbah Maridjan : Kafir & Kejawen & Egois ?...

 

Siapa tak kenal dengan Mbah Maridjan. Pria renta yang merupakan salah satu
korban tewas letusan Gunung Merapi ini ternyata adalah sosok yang ‘taat’
menjalankan ibadah.

Setiap suara adzan berkumandang dari masjid yang terletak tak jauh dari
rumahnya, Mbah Maridjan langsung bergegas ke masjid meskipun sedang ada tamu
misalnya.

Paratamu harus menunggu simbah selesai salat berjamaah, atau sekalian ikut salat
di masjid.

Bahkan, saat para warga Dusun Kinahrejo diungsikan, Selasa (26/10/2010), Mbah
Maridjan malah memilih ‘tirakat’ di dalam masjid, berharap agar tidak terjadi
bencana di kampung halamannya.

Menurut kerabat dekat Mbah Maridjan, Tutur Wiyarto, Mbah Maridjan adalah sosok
yang religius.

“Beliau orangnya tidak klenik loh, justru muslim yang sangat taat”, kata Agus
saat diwawancarai tvOne, Rabu (27/10/2010) kemarin petang.

Hal ini tak cuma terjadi saat merapi bergejolak minggu-minggu ini saja,
melainkan pada saat Merapi beraktivitas pada 2006 lalu, sikap religius Mbah
Maridjan juga memang sudah terlihat.

Jika tiba waktu salat Dzuhur, Mbah Maridjan langsung ke masjid, setelah itu pria
renta ini melakukan aktivitasnya sehari-hari yaitu mencari rumput untuk sapi
ternaknya, dan baru pulang di sore hari.

Mbah Maridjan juga tidak sakti mandraguna seperti yang dibayangkan orang. Pria
bergelar Raden Ngabehi Surakso Hargo ini juga ‘mengaku’ bukanlah orang yang
sakti.

Jika ada orang iseng meminta ilmu atau jodoh, Mbah Maridjan langsung menolaknya,
menolak bukan karena pelit tapi memang karena tidak bisa.

Setiap kali didatangi oleh para tamu, meski dia tidak kenal, dia selalu
mempersilakan dan selalu tersenyum. Tapi satu yang akhir-akhir ini dia tidak mau
lakukan, berfoto bersama.

Seperti yang tampak di tayangan TV beberapa sehari sebelum dia meninggal.

Pria yang rambutnya sudah memutih ini tampaka menutupi wajahnya sambil tersenyum
malu saat mata kamera ditujukan kepadanya.

Kini Mbah Maridjan telah tiada. Jasa-jasanya akan selalu dikenang sebagai
penjaga Gunung Merapi Sampai akhir hayat.

*
Mbah Maridjan, Sosok Religius yang Selalu Tersenyum
http://www.detiknews.com/read/2010/10/28/090103/1477107/10/mbah-maridjan-sosok-religius-yang-selalu-tersenyum

***



Ketika Gunung Merapi dinyatakan dalam ‘status awas’ oleh Balai Penyelidikan dan
Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta pada Senin (25/10) pukul 06.00
WIB, pemerintah menindaklanjutinya dengan memerintahkan warga di sekitar gunung
itu untuk mengungsi.

Pemerintah langsung turun tangan mengungsikan warga yang tinggal di kawasan
rawan bencana (KRB) III Merapi, termasuk di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo,
Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).


Sebagian besar warga, terutama lansia, anak-anak, dan perempuan bersedia untuk
mengungsi di barak pengungsian yang telah disediakan pemerintah, tetapi ada
warga yang belum mau dan tetap bertahan di rumah masing-masing.

Di antara warga yang belum bersedia mengungsi itu adalah juru kunci Gunung
Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan.

Pria berusia 83 tahun bersikukuh tetap tinggal di rumahnya, karena tanggung
jawabnya sebagai juru kunci keraton Yogyakarta.


Meskipun sejumlah pihak telah berusaha membujuknya, Mbah Maridjan tetap
bersikukuh tidak mau mengungsi dan tetap tinggal di kediamannya yang berjarak
sekitar enam kilometer dari puncak gunung teraktif di dunia itu.

“Saya masih betah tinggal di tempat ini. Jika saya pergi mengungsi, lalu siapa
yang mengurus tempat ini”, kata pria yang menyandang juru kunci Gunung Merapi
sejak 1982 di kediamannya, Senin (25/10).


Namun demikian, Mbah Maridjan meminta warga menuruti ‘imbauan’ pemerintah untuk
mengungsi dan memohon keselamatan pada Tuhan agar tidak terjadi yang sesuatu
yang tidak diinginkan jika Merapi benar-benar meletus.

“Saya minta warga untuk menuruti perintah dari pemerintah dan memanjatkan doa
kepada Tuhan agar diberi keselamatan dan Merapi tidak batuk”, kata pria yang
memiliki tiga anak itu.

Menurut dia, hanya Tuhan yang tahu kapan Merapi akan meletus. “Saya tidak punya
kuasa apa-apa”, katanya.


Sikap tidak mau mengungsi itu juga ditunjukkan Mbah Maridjan ketika Merapi
mengalami erupsi pada 2006.

Pada saat itu dirinya menolak untuk mengungsi meskipun dibujuk langsung oleh
Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X dan dijemput
mobil evakuasi.

Pria 'sepuh' itu tetap tinggal di rumah untuk menepati janjinya terhadap
mendiang Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono IX
yang mengangkatnya sebagai juru kunci Gunung Merapi pada 1982.


Kejadian itu membuat Mbah Maridjan semakin terkenal. Popularitas itu
membuat Mbah Maridjan dipercaya menjadi bintang iklan salah satu produk minuman
energi.


Ternyata Tuhan berkehendak, Merapi meletus pada Selasa (26/10) petang. Bencana
tersebut berdasarkan data hingga Rabu (27/10) mengakibatkan puluhan orang
luka-luka dan puluhan orang tewas, termasuk Mbah Maridjan.

Pria yang mengabdikan diri untuk menjaga Merapi itu tewas terkena awan panas
saat gunung tersebut meletus.


Seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Slamet
mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu (27/10) pagi ditemukan sesosok
mayat dalam ‘posisi sujud’ di rumah Mbah Maridjan.

“Kemungkinan mayat yang ditemukan tersebut adalah Mbah Maridjan, namun hal itu
belum pasti karena wajah dan seluruh tubuhnya sudah rusak dan sulit dikenali
lagi”, katanya.

Menurut dia, mayat tersebut ditemukan di dalam kamar mandi rumah dalam posisi
sujud dan tertimpa reruntuhan tembok dan pohon.

Biasanya di dalam rumah tersebut hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri.


Kepala Humas dan Hukum Rumah Sakit Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha
mengatakan, saat ini jenazah Mbah Maridjan masih berada di Bagian Kedokteran
Forensik RS Dr Sardjito, Yogyakarta.

“Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke Rumah Sakit Dr
Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR
yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan
kain sarung”, katanya.


Mbah Maridjan kini telah tiada. Dia telah menepati janjinya untuk tetap setia
menjaga Gunung Merapi hingga akhir hayatnya.

Kepala Desa Umbulharjo Bejo Mulyo mengatakan, Mbah Maridjan adalah orang yang
memegang ‘teguh’ prinsip dan bertanggung jawab.

Meskipun Merapi telah berstatus awas, Mbah Maridjan tetap bertahan di rumahnya
sebagai wujud tanggung jawab terhadap amanat yang diemban sebagai 'abdi dalem'
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Kami sangat kehilangan sosok yang menjadi `panutan`, yang selama ini selalu
dijadikan tempat untuk meminta nasihat. Kami berdoa semoga arwah Mbah Maridjan
diterima di sisi Allah SWT, diterima amal ibadahnya dan diampuni dosa-dosanya”,
katanya.

*
Mbah Maridjan dan Kesetiaan Menjaga Merapi
http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/mbah-maridjan-dan-kesetiaan-menjaga-merapi.html

http://id.omg.yahoo.com/news/mbah-maridjan-dan-kesetiaan-menjaga-merapi-khjx-0000346350.html

***



Sampai saat menit-menit akhir menjelang persis tengah malam, di hari Selasa,
tanggal 26 Oktober 2010 pukul 00:25 WIB, keberadaan dan nasib mbah Maridjan
masih belum diketahui.

Demikian yang diberitakan oleh sebuah situs berita online Detik.Com dalam
rilisnya yang bertajuk ‘Kondisi Mbah Maridjan Simpang Siur, Rumahnya Terbakar
Habis’.


Menurut penuturan beberapa orang termasuk anak lelakinya, posisi terakhir pada
saat bakda Sholat Maghrib berjamaah, mbah Maridjan diketahui masih kukuh untuk
berkeinginan tetap bertahan di desanya, dengan tetap berada di dalam masjid.

Keberadaan mbah Maridjan didalam masjid yang lokasinya berdekatan dengan rumah
mbah Maridjan itu hanya ditemani oleh pengiring setianya.


Selepas itu, tak ada yang tahu keberadaan dan nasib mbah Maridjan. Teka-teki
yang makin menjadi misteri, bahkan Kompas.Com menuliskan bahwa Sultan HB X pun
juga tak tahu keberadaan dan nasibnya mbah Maridjan.


Setelah itu, tim evakuasi mencapai rumahnya mbah Maridjan yang dalam keadaan
hancur terbakar.

Suasana disekitarnya mencekam, hawa terasa panas, masih ada titik api
disana-sini. Banyak pohon bertumbangan dan serta hangus terbakar serta
mayat-mayat yang bergelimpangan.

“Kondisi di Kinahrejo sangat parah, hampir semua rumah dan pohon-pohon roboh
serta ketebalan abu mencapai lebih dari 10 sentimeter“, kata Miskan Nur Ikza,
anggota Tim SAR Kabupaten Sleman, sebagaimana dikutip oleh Kompas.Com.


Tim evakuasi itu menemukan tak kurang dari 14 jenazah. Jenazah-jenazah itu dalam
kondisi gosong, karena terbakar.

“Ada 4 jenazah ditemukan di dalam rumah Mbah Maridjan. Di sekitar rumah Mbah
Maridjan, ada korban tewas sekitar 10 orang”, kata Kolonel (Laut) Pramono,
pimpinan tim evakuasi yang menyisir rumah Mbah Maridjan.

Tim Danlanal yang beranggotakan 37 personil ini merupakan satu-satunya tim
evakuasi yang berhasil mencapai rumah Mbah Maridjan.


Ditengah situasi yang demikian itu, seperti yang dikutip dari berita yang
dirilis oleh Detik.Commaupun Kompas.Com memberitakan bahwa mbah Maridjan
berhasil diketemukan dalam keadaan selamat walau kondisinya lemas.

“Mbah Maridjan selamat, tapi dalam kondisi lemas”, kata Kolonel (Laut) Pramono.

Namun Mbah Maridjan masih belum mau dibawa turun ke bawah. “Sekarang masih di
atas”, tambah Kolonel (Laut) Pramono.


Sungguh sesuatu tekad mbah Maridjan yang tak masuk di akal, selain mencoba
memahaminya dalam perspektif budaya Jawa.

Hangrungkepi momongane, setia sampai akhir kepada sesuatu yang dulu pernah
diamanahkan oleh Sultan HB IX (almarhum) kepada mbah Maridjan.


Ataukah, tekadnya itu menyerupai semangat seorang prajurit dalam mengemban tugas
yang dipercayakan kepadanya dimana ia tak akan meninggalkan pos yang harus
dijaganya, walau nyawa yang harus jadi taruhannya ?.


Wallahualambishshawab.


*
Mbah Maridjan: Setia Sampai Akhir, Hangrungkepi Momongane
http://unik.kompasiana.com/2010/10/27/mbah-maridjan-setia-sampai-akhir-hangrungkepi-momongane/

http://politikana.com/baca/2010/10/27/mbah-maridjan-setia-sampai-akhir-hangrungkepi-momongane.html

***



Raja wanita ?. Itu biasa, ada Ratu Elizabeth II di tahta kerajaan Inggris, dan
beberapa ratu di beberapa negara lainnya yang juga berbentuk monarki.

Presiden wanita ?. Itu juga biasa, ada Megawati Soekarnoputri yang pernah
menjabat sebagai Presiden di Republik Indonesia, dan beberapa beberapa negara
lainnya yang juga pernah mempunyai Presiden wanita.

Hanya dalam soal Presiden Wanita ini, barangkali sebagai catatan pengecualiannya
justru adalah negara yang dianggap sebagai mbahnya demokrasi, yaitu United
States of America atau Amerika Serikat, yang malahan belum pernah mempunyai
Presiden wanita.

Khalifah wanita ?. Ini yang tidak biasa. Dan, tidak hanya soal tidak biasa saja,
namun juga belum pernah ada.


Hal yang tidak biasa ini kemungkinan akan berubah biasa dan jga akan merubah
yang tadinya belum pernah ada menjadi pernah ada.

Jika ini kesampaian terjadi, maka ini akan menjadi catatan sejarah baru yang
sangat mensejarah.

Catatan sejarah baru itu akan ditorehkan oleh Kasultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat.


Jika merujuk dari keinginan permaisuri di Kasultanan tersebut, yaitu GKR Hemas,
yang kemudian keinginannya itu telah mendapatkan pengkukuhan dari suaminya yaitu
Sri Sultan Hamengku Buwono X, maka di masa depan untuk pewaris tahta atas
kerajaan itu akan diberikan kepada putri tertuanya yaitu Gusti Kanjeng Ratu
Pembayun.

Jadilah di masa nantinya, GKR Pembayun itu akan bergelar ‘Sampeyan Dalem ingkang
Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin
Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sewelas’.

Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai Raja di Kasultanan Yogyakarta itu didalam
gelarnya disebutkan sebagai ‘Senapati ing Ngalaga’, dimana gelar itu secara
terjemahan bebasnya berarti sang pemegang gelar tersebut adalah pemimpin
tertinggi dalam peperangan.

Sedangkan gelar ‘Sayidin Panatagama’ itu secara terjemahan bebasnya berarti sang
pemegang gelar tersebut adalah pemimpin dalam menata urusan agama.

Lalu didalam gelar ‘Khalifatullah‘ berarti bermakna pemegang gelar tersebut
adalah Khalifahnya Allah SWT.


Sebagaimana diketahui, semenjak berdirinya kerajaan Islam Demak Bintoro sampai
dengan saat ini, baik di Kasunanan dan Mangkunegaran di Surakarta maupun di
Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta, belum pernah ada pemegang tahta
kerajaan dari kalangan kaum wanita.

Didalam sejarah suksesi tahta kasultanan Yogyakarta sendiri pernah ada pewaris
tahtanya bukanlah anaknya, akan tetapi adalah saudara laki-lakinya. Hal itu
setidaknya dapat dilihat dalam sejarahnya tahta Sri Sultan Hamengku Buwono V dan
Sri Sultan Hamengku Buwono VI.

Sri Sultan Hamengku Buwono VI yang sewaktu mudanya bernama GRM Mustojo adalah
adik laki-laki dari Sri Sultan Hamengku Buwono V yang sewaktu mudanya bernama
GRM Ghatot Menol.

GRM Ghatot Menol dan GRM Mustojo adalah putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono IV
dari salah satu garwanya yaitu GKR Kencono.


Memang di era sebelumnya, yaitu Majapahit yang merupakan kerajaaan Hindu Budha
itu pernah ada pada suatu masa dimana yang duduk di singgasana tahta kerajaannya
adalah seorang perempuan atau seorang ratu.


Sebagaimana diketahui pula, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang tidak mempunyai
anak laki-laki itu sedang berjuang dalam mempertahankan kelangsungan
keistimewaan bagi Sultan di kerajaannya untuk tetap secara otomatis ditetapkan
menjabat sebagai Gubernur di propinsinya.

Belum lama ini berkait denga hal itu, Sri Sultan Hamengku Buwono X melontarkan
‘tantangan’ kepada pemerintah pusat, dalam hal ini adalah pemerintahan yang
dipimpin oleh Presiden SBY, untuk mengadakan ‘referendum’.

Referendum itu terkait dengan keinginan pemerintah pusat yang tak lagi ingin
meneruskan keberlangsungan keistimewaan bagi Sultan di kerajaan itu, sehingga
Sultan tak lagi secara otomatis ditetapkan menjabat sebagai Gubernur di
propinsinya tersebut.


Hal itu tentu terkait dengan nasib tahta kasultanan yang akan diwariskannya
kepada anak perempuannya, yaitu GKR Pembayun.

Dalam arti, jika keberlangsungan keistimewaan itu tak lagi ada, maka GKR
Pembayun meskipun berhasil menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono XI, namun tak
otomatis menjabat sebagai gubernur.


Terkait dengan GKR Pembayun yang digadang-gadang oleh ayahanda dan ibundanya
untuk menjadi pewaris tahtanya itu, akankah gelar ‘Sayidin Panatagama’ dan gelar
‘Khalifatullah ‘ itu kemudian akan ditanggalkannya, sehingga GKR Pembayun hanya
akan bergelar ‘Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana
Senapati ing Ngalaga ingkang Jumeneng Kaping Sewelas’ saja ?.

Ataukah, GKR Pembayun sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono XI akan mencatat
sejarah baru sebagai ‘Sayidin panatagama dan khalifah wanita’ yang pertama kali
dalam sejarah ?.


Wallahualambishshawab.


*
Khalifah Wanita di Indonesia
http://politik.kompasiana.com/2010/10/01/khalifah-wanita-di-indonesia/
http://politikana.com/baca/2010/10/01/khalifah-wanita-di-indonesia.html
*

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@yahoogroups.com
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@yahoogroups.com
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@yahoogroups.com
MARKETPLACE

Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new interests.


Get great advice about dogs and cats. Visit the Dog & Cat Answers Center.


Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

.

__,_._,___
Legal Disclaimer: The information contained in this message may be privileged and confidential. It is intended to be read only by the individual or entity to whom it is addressed or by their designee. If the reader of this message is not the intended recipient, you are on notice that any distribution of this message, in any form, is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete or destroy any copy of this message

No comments:

Post a Comment