diciptakan dari tulang rusuk wanita??
Mungkin saya perlu telaah lebih agresif thdp ayat ayat Allah..
On 1/15/11, Dani Permana <adanipermana@gmail.com> wrote:
> Alhamdulillah kita sepakat Mas Nandang, mengenai hal ini "Namun sama sama
> menekankan pada sisi =psikologis=." memang tidak dipungkiri bahwa
> Barangkali, berdasarkan realita umum, yang dimaksud ungkapan "bengkok"
> adalah sikap emosional, reaktif, sensitif, dan inkonsistensi perilaku yang
> dominan.
> Pengertian dasar bengkok kontradiksi dengan konsistensi. Jika kematangan
> sikap atau kemampuan mengendalikan emosi adalah sebuah konsistensi, dominasi
> emosi adalah suatu kebengkokan. Jika kemampuan manusia menguasai perasaannya
> adalah
> konsistensi, dominasi perasaan jelas merupakan suatu kebengkokan. Secara
> khusus, perempuan kerap dikuasai perasaan yang membuatnya hilang
> keseimbangan dalam mengambil keputusan. Atau, karena faktor emosi, lahir
> sikap ketergesaan, yang melahirkan sikap inkonsistensi serta sikap kurang
> simpatik lainnya lewat tindakan dan ucapan.
>
>
>
> Dani Permana
> Sent from my Windows Mobile® phone.
>
> -----Original Message-----
> From: aendangzr@yahoo.co.id
> Sent: Saturday, January 15, 2011 12:11 AM
> To: milis_iqra@googlegroups.com
> Subject: Re: [Milis_Iqra] Serangan Riffat terhadap Hadits tentang
> Perempuan(Bagian Pertama)
>
> "bengkok" dalam hadits ini tak disertai penjelasan tentang konteksnya. Rasul
> hanya mengisyaratkan pengaruh bengkok tulang rusuk pada sebagian perilaku
> perempuan yang membuat pria merasa terganggu. Barangkali, berdasarkan
> realita umum, yang dimaksud ungkapan "bengkok" adalah sikap emosional,
> reaktif, sensitif, dan inkonsistensi perilaku yang dominan.
> Pengertian dasar bengkok kontradiksi dengan konsistensi. Jika kematangan
> sikap atau kemampuan mengendalikan emosi adalah sebuah konsistensi, dominasi
> emosi adalah suatu kebengkokan. Jika kemampuan manusia menguasai perasaannya
> adalah konsistensi, dominasi perasaan jelas merupakan suatu kebengkokan.
> Secara khusus, perempuan kerap dikuasai perasaan yang membuatnya hilang
> keseimbangan dalam mengambil keputusan. Atau, karena faktor emosi, lahir
> sikap ketergesaan, yang melahirkan sikap inkonsistensi serta sikap kurang
> simpatik lainnya lewat tindakan dan ucapan.
>
> (Nandang)
> Kutipan artikel diatas ada kesamaan dgn postingan saya dalam tread "apa
> makna wanita diciptakan dari tulang rusuk. Walaupun secara bahasa tidak
> persis sama. Namun sama sama menekankan pada sisi psikologis.
>
> Ini copasnya :
>
> " yaitu Kembali ke hadist wanita diciptakan dari tulang rusuk yg paling
> bengkok menurut saya mengandung makna bahwa dasarnya wanita itu memang
> sering salah. Salah dalam arti karena mereka lebih banyak menggunakan
> perasaanya daripda logikanya(menurut beberapa artikel,mungkin kitta bisa
> temukan bersama artikelnya) sedangkan perasaan itu adalah bukan dasar yg
> bisa dipakai untuk mencari kebenaran.
> Sent from BlackBerry® on 3
> From: "Dani Permana" <adanipermana@gmail.com>
> Sender: milis_iqra@googlegroups.com
> Date: Fri, 14 Jan 2011 22:32:04 +0700
> To: <milis_iqra@googlegroups.com>
> ReplyTo: milis_iqra@googlegroups.com
> Subject: [Milis_Iqra] Serangan Riffat terhadap Hadits tentang Perempuan
> (Bagian Pertama)
>
> Penyebaran virus-virus pemikiran yang menyimpang yang dilakukan oleh
> agen-agen orientalis di Indonesia juga dilakukan melalui media-media,
> seperti, majalah, text book, dan bahkan buku pegangan untuk mahasiswa IAIN
> (sekarang Universitas Islam Negeri, UIN). Selain itu, juga melalui seminar,
> kuliah, artikel-artikel di koran, majalah, dan jurnal, bahkan mereka
> mendirikan lembaga khusus sebagai ajang berkumpul dan merancang gagasan
> dengan program pendidikan dalam studi Islam untuk kalangan elit dan
> eksekutif. Cara penyajiannya pun cukup menarik bagi mereka yang masih awam
> terhadap Islam. Mereka menggunakan istilah-istilah asing sehingga
> mengesankan sebagai pemikiran yang ilmiah dan berbobot. Mereka bermain di
> kancah logika, yang bagi orang-orang awam sepertinya sulit untuk dibantah.
> Pemikiran yang berbahaya ini disebarkan dengan dalil kebebasan berbicara,
> berpikir, dan berpendapat. Padahal, dalam fase ini, para mahasiswa sangat
> membutuhkan bimbingan dan arahan dalam studi ilmu-ilmu Islam. Mereka atau
> kelompok yang memiliki spesialisasi sekuler dan tidak memiliki dasar dan
> latar belakang ilmu-ilmu Islam ini memaksakan diri berbicara tentang dan
> atas nama Islam dalam kuliah dan tulisannya. Mereka bertindak seolah-olah
> punya kapasitas dan otoritas ilmiah sehingga seenaknya melontarkan kritik
> dan menyerang ajaran dan syariat Islam. Ini adalah musibah besar yang
> menimpa umat dan karenanya harus dihadapi.
> Jika sempat hadir dalam salah satu seminar mereka, Anda akan mendengarkan
> pemikiran yang nyeleneh (aneh). Mereka berbicara dengan pandangan dan hawa
> nafsunya, tidak bersandar pada dalil apa pun. Seorang dari mereka berkata,
> misalnya, "Iblis sangat kokoh memegang akidah tauhid karena menolak sujud
> kepada Adam. Adam seorang manusia dan Iblis hanya sujud kepada Allah."
> Lihatlah kesesatan ini, sekilas menurut logika sepertinya benar, padahal
> tidaklah demikian halnya, tetapi mereka menjadikan agama sebagai mainan dan
> gurauan. Allah SWT telah mencela perilaku seperti ini dan menyebutnya
> sebagai perilaku orang kafir. Allah SWT berfirman, yang artinya, "Dan
> penghuni neraka menyeru penghuni surga: 'Limpahkanlah kepada kami sedikit
> air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni
> surga) menjawab: 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas
> orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai
> main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka'."
> (Al-A'raf: 50-51).
> Sebagai seorang mukmin, Allah telah menetapkan sikap yang harus kita ambil
> jika menjumpai orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah. Yaitu, Allah
> SWT berfirman, "Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan
> ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan
> pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan
> itu), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah
> teringat (akan larangan itu)." (Al-An'am: 68).
> Dalam ayat lain, Allah berfirman, "Dan tinggalkanlah orang-orang yang
> menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah
> ditipu oleh kehidupan dunia." (Al-An'am: 70).
> Kemudian, seorang dari mereka mengatakan bahwa agama adalah sebab utama
> perselisihan, konflik, dan perang berdarah di dunia belakangan ini, di Timur
> maupun Barat. Ia juga menuduh bahwa kebangkitan Islam yang terjadi di
> Indonesia akhir-akhir ini merupakan gejala fundamentalise Islam yang harus
> diwaspadai. Ini harus dilakukan sebelum menjadi seperti di Timur Tengah.
> Orang-orang seperti itu juga menuduh bahwa jilbab, potong tangan, rajam, dan
> qishah sebagai warisan budaya Arab yang harus dibuang. Mereka juga
> menyerukan agar perempuan Muslimah dibolehkan untuk dinikahi oleh pria
> non-Muslim. Bahkan, ada yang mengklaim bahwa tidak ada yang namanya "Hukum
> Tuhan". Ia mengajak umat bersikap kritis terhadap Nabi Muhammad. Alasannya,
> kata mereka, beliau adalah manusia biasa.
> Tampak bahwa pemikiran-pemikiran merusak ini berkembang turun-temurun dan
> diwariskan lintas generasi. Inti gagasan mereka sejatinya tidak berbeda
> dengan apa yang pernah dilontarkan pendahulunya. Hal yang berubah hanyalah
> personal atau retorikanya.
> Isu Perempuan
> Hadits-hadits tentang perempuan merupakan objek paling banyak dicecar kaum
> sekuler dan orientalis. Mereka menuduhnya berisi penghinaan terhadap
> perempuan atau menganggap hukum-hukumnya tidak lagi relevan dalam konteks
> modern.
> Artikel pertama ditulis oleh peneliti wanita berkebangsaan Pakistan, hasil
> seminar di sebuah sekolah tinggi teologi Kristen Amerika. Artikel kedua
> ditulis peneliti wanita asal Indonesia. Mari kita simak artikel-artikel itu.
> Artikel pertama, dari Riffat Hasan. Peneliti asal Pakistan ini menulis
> artikel berjudul "Teologi Perempuan dalam Tradisi Islam, Sejajar di Hadapan
> Allah?" Dalam artikel ini ia mencela hadits "nasihat dan penciptaan
> perempuan". (Makalah tersebut dimuat dalam Harvard Divinity Bulletin, edisi
> Jan-May 1987. Kemudian diterjemahkan oleh Wardah Hafizh ke dalam bahasa
> Indonesia dan dimuat dalam jurnal Ulumul Qur'an, no. 4, tahun 1990, hlm.
> 48-55).
> Hadits yang dimaksud adalah riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw.
> bersabda, "Nasihatilah perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang
> rusuk. Dan tulang rusuk paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika kau
> luruskan dengan paksa, ia akan patah. Dan jika kau biarkan, ia akan tetap
> bengkok. Karenanya, nasihatilah perempuan." Dalam riwayat lain disebutkan,
> "Nasihatilah perempuan dengan baik." (Shahih Bukhari, Kitab Al-Hadits
> al-Anbiya', Bab Khalq Adam wa Zurriyatih, juz 2, hlm. 451, no. hadits 3331;
> Kitab An-Nikah, Bab Al-Washah bin Nisa', juz 3, hlm. 383, no. hadits 5186;
> Shahih Muslim, Kitab Ar-Ridha', Bab Al-Washiyyah bin Nisa', juz 2, hlm.
> 1091, no. hadits 61; Sunan Tirmizi, Kitab Ar-Ridha', Bab Ma Ja'a fi Haq
> al-Mar'ah 'ala Zaujiha, juz 3, hlm. 458, no. hadits 1163; Sunan Ibnu Majah,
> Kitab An-Nikah, Bab Haq al-Mar'ah 'ala az-Zauj, juz 1, hlm. 594, no. hadits
> 1851). Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari, muslim, Tirmidzi, dan Ibnu
> Majah.
> Dalam satu kesempatan, Riffat berpendapat bahwa hadits ini diambil dari
> Injil dan pada kesempatan lain, ia mengatakan bahwa hadits ini bertentangan
> dengan penciptaan manusia dalam Al-Qur'an dan sangat sesuai dengan Injil.
> Riffat menulis, "Hadits ini sangat bertentangan dengan keterangan dalam
> Al-Qur'an tentang penciptaan manusia. Tetapi, sangat jelas kemiripannya
> dengan Kitab Kejadian 2/18-33, dan 3/20." (Ulumul Qur'an, no. 4, tahun 1990,
> hlm. 53).
> Ia mengkritik dari dua segi: matan dan sanad. Nampak bahwa kritik ini
> berangkat dari kebencian yang mendalam serta emosi yang meluap-luap, lalu
> melakukan kritik hadits sembarangan dan mengatakan pernyataan sesuka hatinya
> tanpa dasar kebenaran dan tanpa dalil. Riffat menyerang matan hadits
> berdasarkan kesimpulan yang ia pahami sebagai berikut. 1. Dongeng tulang
> rusuk berasal dari Kitab Kejadian 2 dan semua hadits soal ini tidak pernah
> menyebut nama Adam. 2. Unsur-unsur misogini (kebencian terhadap perempuan)
> dalam hadits, yang tidak ada dalam Kitab Kejadian, bertentangan dengan
> ajaran dalam Al-Qur'an yang menyatakan bahwa semua umat manusia telah
> diciptakan fi ahsani taqwim (dalam bentuk kreasi terbaik). 3. Riffat tidak
> bisa memahami relevansi pernyataan bahwa bagian paling bengkok dari tulang
> rusuk adalah bagian atasnya. 4. Anjuran mengasihi akan masuk akal jika
> perempuan dilahirkan cacat dan karenanya membutuhkan belas kasihan. Apakah
> "kebengkokan yang tidak bisa diperbaiki" merupakan cacat semacam itu? 5.
> Anjuran bersikap belas kasih terasa merendahkan perempuan, bernada
> hedonistik, oportunis, dan tidak bisa dihargai bahkan jika pun perempuan
> memang "bengkok tak tersembuhkan. (Ulumul Qur'an, no. 4, tahun 1990, hlm.
> 53).
> Selanjutnya, Riffat menyerang sanad dengan menulis sebagai berikut, "Dalam
> kaitannya dengan isnad, beberapa hal berikut perlu dikemukakan. 1. Semua
> hadits tersebut diriwayatkan dari Abu Hurairah, shabat Nabi yang dianggap
> kontroversial oleh banyak ilmuwan Islam pada masanya, termasuk Imam Abu
> Hanifah, pendiri aliran Sunni. (Di sini perlu kiranya dinyatakan bahwa pada
> masa awal Islam, sikap yang kritis terhadap hadits dan perawi hadits
> merupakan hal yang umum, namun pada masa-masa selanjutnya sikap kritis
> terhadap sahabat dianggap sebagai "kejahatan besar"). 2. Semua hadits
> tersebut gharib (terlemah dalam klasifikasi hadits) karena terdapat beberapa
> perawi yang merupakan perawi tunggal. Para ahli hadits terkemuka menganggap
> satu hadits dipandang shahih, pertama jika diceritakan oleh seorang sahabat;
> kedua, jika diceritakan oleh dua orang pengikut Nabi; dan ketiga, jika
> diceritakan oleh banyak orang. 3. Semua hadits tersebut dha'if (lemah)
> karena semuanya mempunyai sejumlah perawi yang tidak terpercaya."
> Artikel ini merupakan serangan paling keras terhadap hadits soal perempuan,
> khusunya terhadap hadits ini. Kritik ini bahkan lebih keras dibanding
> serangan yang dilontarkan kaum orientalis. Riffat sangat membenci hadits ini
> dan mengungkapkan kalimat yang tidak pantas keluar dari seorang muslimah.
> Dilatari kritik keras terhadap hadits ini, sebuah lembaga sekuler Indonesia
> mengundangnya sebagai pembicara sebuah seminar dengan dukungan publikasi
> media yang gencar. Demikianlah, terdapat sebuah konspirasi dalam menyebarkan
> racun pemikiran.
> Tendensi kebencian ini tampak ketika Riffat menutup makalahnya dengan
> menuliskan hal berikut. "Melihat betapa pentingnya masalah ini, maka sangat
> perlu bagi setiap aktivis hak asasi perempuan Islam untuk mengetahui
> keterangan dalam Al-Qur'an bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan sama
> telah diubah oleh hadits. Dengan demikian, satu-satunya cara agar anak cucu
> perempuan (Hawa) dapat mengakhiri sejarah penindasan yang dilakukan oleh
> anak cucu Adam ini adalah dengan cara kembali ke titik mula dan
> mempertanyakan keshahihan hadits yang menjadikan perempuan hanya makhluk
> kedua dalam ciptaan, tetapi pertama dalam kesalahan, dosa, cacat moral, dan
> mental. Mereka harus mempertanyakan sumber-sumber yang menganggap mereka
> bukan sebagai dirinya sebagaimana seharusnya mereka ada, tetapi hanya alat
> untuk kepentingan dan kesenangan laki-laki." (Ulumul Qur'an, no. 4, tahun
> 1990, hlm. 55).
> Tampaknya, dalam menghina hadits penciptaan perempuan, Riffat mengikuti
> langkah dua peneliti wanita dari Amerika, yaitu Jane I Smith dan Yvonne Y.
> Haddad. Keduanya menulis dalam majalah Women's Studies International Forum
> (Lembaga Internasional untuk Studi-Studi Wanita) dengan judul Eve: Islamic
> Image of Women (Hawa: Pandangan Islam tentang Wanita). (Ket: Jane I Smith
> adalah pembantu dekan dan pengajar dalam mata kuliah sejarah agama (Islamic
> Studies) di Harvard Divinity School; Yvonne Y. Haddad adalah Associate
> Professor di Duncan Black MacDonald Center, Seminari Hartford dan Associate
> Editor The Muslim World. Makalah tersebut dimuat dalam Women's Studies
> International Forum, vol. 5, no. 2, hlm. 135-144, 1982, kemudian
> diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dimuat dalam jurnal Ulumul
> Qur'an, no. 1, tahun 1990, hlm. 28-36).
> Dalam tulisannya, ia mengkritik sebagian hadits yang berkaitan dengan
> penciptaan Hawa. Menurut penulis, serangan peneliti Pakistan ini lebih keras
> dibanding apa yang dilakukan kaum orientalis.
> Sebelum mengulas kritik dan tuduhan seputar hadits ini, penulis memandang
> perlu menguraikan sekilas kedudukan perempuan pra dan pasca-Islam. Dengan
> demikian, kita bisa mengerti bagaimana Islam memuliakan, mengangkat
> keudukan, dan membebaskan perempuan dari kehinaan dan perbudakan yang tak
> terbayangkan, pada masa-masa umat sebelumnya.
> Posisi Wanita Pra-Islam
> Perempuan dalam masyarakat Yunani berada pada titik terendah. Mereka
> dikucilkan masyarakat dan tinggal di rumah sebagai hiasan. Tugas mereka
> adalah melahirkan anak dengan posisi tidak lebih dari seorang pembantu dan
> tak memiliki hak waris.
> Dalam masyarakat Romawi, laki-laki adalah segalanya dan perempuan sama
> sekali tak dianggap. Jika dinikahi seorang pria, perempuan masuk ke dalam
> perintahnya dan memiliki status hukum seperti anaknya. Wanita tak lagi
> memiliki hubungan dengan keluarganya. Suami berhak mengadili dan
> menghukumnya jika dituduh berbuat kriminal. Bahkan, suami punya hak untuk
> membunuhnya.
> Agama Yahudi memosisikan wanita seperti pembantu. Sang ayah berhak
> menjualnya dan ia tidak mendapat warisan. Bagi mereka, warisan khusus bagi
> naak-anak. Sedikit pengecualian, sang ayah dibolehkan menyumbang sedikit
> hartanya. Yahudi menganggap anak perempuan sebagai laknat. Menurut mereka
> karena perempuanlah yang menggoda Adam. Mereka menganggap bahwa wanita lebih
> pahit dari kematian dan hanya orang baiklah yang dapat selamat.
> Adapun perempuan menurut Kristen, hasil kesimpulan dari pertemuan di Paris
> pada tahun 586 M, wanita adalah makhluk yang diciptakan untuk melayani pria.
> Perempuan menurut masyarakat Arab pra-Islam tak kalah hina dari masyarakat
> sebelumnya. Sebagian besar hak-hak perempuan dihapuskan. Orang Arab
> pra-Islam bersedih dengan kelahiran anak perempuan, karena merupakan bencana
> dan aib bagi ayah dan keluarganya, sehingga mereka membunuhnya, tanpa
> undang-undang dan tradisi yang melindunginya. (Lihat Dr. Abu Sarie Muhammad
> Abdul Hadi, Wa 'Asyiruhunna bil Ma'ruf, Maktabah at-Turats al-Islami, Kairo,
> cet. pertama, tahun 1988, hlm. 4-8).
> Al-Qur'an mencatat sikap jahiliah mereka terhadap perempuan sebagai berikut.
> "Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak
> perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia
> menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang
> disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menaggung
> kahinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?
> Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu." (An-Nahl:
> 58-59). Demikianlah posisi perempuan dalam masyarakat sebelum Islam.
> Posisi Wanita Menurut Islam
> Ketika datang, Islam memuliakan, menjaga, dan memberi perempuan hak-hak yang
> tidak dinikmati sebelumnya. Islam menetapkan bahwa dalam soal kemanusiaan,
> laki-laki dan perempuan adalah sama. Allah SWT berfirman, "Hai sekalian
> manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri
> yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya." (An-Nisa': 1).
> Allah menetapkan bahwa perempuan adalah saudara pria karena berasal dari
> satu ayah dan satu ibu. Allah berfirman, "Hai manusia, sesungguhnya Kami
> menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
> kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal."
> (Al-Hujarat: 13).
> Oleh karena itu, Islam memberi perempuan sejumlah hak, menugasinya dengan
> sejumlah kewajiban, memberinya kesempatan untuk beribadah, dan tugas-tugas
> syariat lainnya. Perempuan dan laki-laki diberi kesetaraan dalam pahala.
> Allah berfirman, "Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan
> berfirman): 'Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang
> beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian
> kamu adalah turunan dari sebagian yang lain'." (Ali Imran: 195).
> Allah juga memerintahkan mereka untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah
> dari yang mungkar seperti halnya laki-laki. Allah berfirman, "Dan
> orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah)
> penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf,
> mencegah dari yang mungkar." (At-Taubah: 71).
> Hal yang tak dapat dipungkiri oleh siapa pun adalah bahwa Allah menciptakan
> perempuan dengan karakter dan tabiat yang berbeda dengan laki-laki. Oleh
> karena itu, syariat datang dengan hukum-hukum yang sesuai dengan kondisinya.
> Islam menetapkan hak dan kewajiban perempuan sesuai fitrahnya dan oleh
> karena itu batas-batas itu tidak boleh dilanggar.
> Selain itu, Islam menetapkan hukum tertentu yang tidak boleh dilanggar
> perempuan karena hal itu akan menimbulkan masalah dan merusak keseimbangan.
> Hal serupa berlaku bagi laki-laki. Allah SWT Mahatahu tentang kondisi
> hamba-hamba-Nya.
> Rasulullah datang membawa hadits yang menjelaskan dan merinci keterangan
> umum dalam Al-Qur'an. Jika hadits itu benar, mustahil ia akan kontradiktif
> dengan Al-Qur'an. Tak satu pun hadits--jika benar bersumber dari
> Rasul--bertentangan dengan Al-Qur'an. Jika seseorang melihatnya bertentangan
> dengan Al-Qur'an, berarti ada yang salah dalam pikirannya sehingga keliru
> memahami.
> Koreksi Seputar Matan Hadits
> Pertama, harus kita pahami bahwa sikap Islam terhadap perempuan tidak bisa
> disimpulkan dari satu atau dua hadits. Kesimpulan harus diambil dari
> nash-nash Al-Qur'an dan hadits secara umum, termasuk praktik Rasulullah saw.
> Dalam kasus hadits di atas, kesimpulan tidak bisa diambil begitu saja tanpa
> membandingkannya dengan banyak hadits lain soal perempuan. Metode yang
> keliru akan mengantarkan seseorang pada kesimpulan yang tidak sesuai dengan
> sikap Islam yang sebenarnya.
> Pastinya, Islam memuliakan perempuan, seperti dijelaskan sebelumnya, dengan
> memberinya seluruh tanggung jawab kewanitaan yang prinsipil. Salah satunya
> adalah tanggung jawab mengasuh anak. Secara logika, tugas ini mustahil
> diamanahkan Allah pada manusia yang tidak lurus. Adalah tidak aman bagi kaum
> pria menyerahkan putra-putrinya ke dalam asuhan manusia yang tidak berdaya
> dan "bengkok" secara psikologis. Atas dasar ini, mustahil jika pemahaman
> hadits ini bernada miring dan meremehkan perempuan.
> Di antara peran perempuan yang persis sama dengan kaum lelaki adalah sebagai
> berikut. 1. Tanggung jawab sebagai manusia, yaitu bertanggung jawab atas
> perbuatannya untuk dievaluasi di akhirat. Hal ini ditegaskan Al-Qur'an. 2.
> Tanggung jawab pidana. Ia menanggung hukuman pidana di dunia atas
> perbuatannya yang melanggar. Ini juga ditetapkan dalam Al-Qur'an. 3. Hak
> aktivitas sipil. Hak mengatur harta, melakukan akad dan perwalian terhadap
> anak yang masih di bawah umur. Ini ditetapkan oleh mayoritas para ahli fikih
> dengan dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. 4. Hak dalam pengadilan yang
> berhubungan dengan harta. Ini adalah pendapat Abu Hanifah. 5. Hak
> meriwayatkan sunnah yang berfungsi menjelaskan Al-Qur'an. Ini disepakati
> oleh seluruh ulama.
> Dari sini, tuduhan bahwa Islam merendahkan martabat atau melecehkan
> perempuan amat sulit dipahami. Oleh karena itu, hadits tersebut harus
> dipahami secara benar, berdasarkan nash-nash lain dari Al-Qur'an dan
> As-Sunnah.
> Kedua, dalam hadits ini tak ada keterangan yang mengisyaratkan kebencian
> terhadap perempuan. Tampaknya, yang membuat Riffat risih adalah kisah
> penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam. Ia menganggap ini adalah penghinaan
> dan bertentangan dengan nash Al-Qur'an bahwa manusia diciptakan dalam bentuk
> terbaik. Dalam hal ini, Riffat keliru.
> Sebenarnya tidak ada pertentangan antara penciptaan manusia sebagai
> sebaik-baik penciptaan dengan penciptaan perempuan dari tulang rusuk.
> Pasalnya, yang dimaksud dengan sebaik-baik penciptaan adalah bentuk fisik
> manusia dengan organ dan anatomi yang sempurna. Allah telah menciptakan
> manusia dalam bentuk, susunan, dan rangkaian yang terbaik. Hal ini terkait
> dengan bentuk fisik dan bukan pada asal penciptaan manusia. Tak dapat
> dipungkiri bahwa secara fisik, perempuan diciptakan cantik dan menarik
> sehingga dapat membuat pria tergoda. Ini berlaku untuk seluruh wanita, baik
> berkulit putih maupun hitam, karena mereka mempunyai struktur fisik yang
> sama.
> Jika peneliti Pakistan ini melihat penciptaan perempuan dari tulang rusuk
> laki-laki adalah penghinaan, kenyataannya laki-laki diciptakan dari tanah.
> Dari dua sumber ini, unsur manakah yang lebih baik dan mulia? Penulis yakin,
> Riffat sepakat bahwa penciptaan perempuan dari tulang rusuk lebih mulia dan
> lebih tinggi dari penciptaan pria yang berasal dari tanah. Selanjutnya,
> kenyataan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam mengandung bakna
> keserasian dengan peran saling melengkapi. Satu jenis tak dapat lepas dari
> jenis lainnya. Wanita membutuhkan pria dan begitu juga sebaliknya.
> Ketiga, "bengkok" dalam hadits ini tak disertai penjelasan tentang
> konteksnya. Rasul hanya mengisyaratkan pengaruh bengkok tulang rusuk pada
> sebagian perilaku perempuan yang membuat pria merasa terganggu. Barangkali,
> berdasarkan realita umum, yang dimaksud ungkapan "bengkok" adalah sikap
> emosional, reaktif, sensitif, dan inkonsistensi perilaku yang dominan.
> Pengertian dasar bengkok kontradiksi dengan konsistensi. Jika kematangan
> sikap atau kemampuan mengendalikan emosi adalah sebuah konsistensi, dominasi
> emosi adalah suatu kebengkokan. Jika kemampuan manusia menguasai perasaannya
> adalah konsistensi, dominasi perasaan jelas merupakan suatu kebengkokan.
> Secara khusus, perempuan kerap dikuasai perasaan yang membuatnya hilang
> keseimbangan dalam mengambil keputusan. Atau, karena faktor emosi, lahir
> sikap ketergesaan, yang melahirkan sikap inkonsistensi serta sikap kurang
> simpatik lainnya lewat tindakan dan ucapan.
> Benarlah Rasulullah saw. ketika bersabda, "Ia (wanita) tak akan tetap padamu
> dalam satu sikap." Inkonsistensi inilah yang mengganggu pikiran pria dan
> memancing kemarahannya. Interpretasi ini dikuatkan dengan apa yang disbdakan
> Rasul dalam salah satu nasihatnya pada kaum wanita: "Kalian memperbanyak
> laknat (celaan) dan mengingkari (kebaikan) suami." Sikap ini biasanya
> terjadi pada saat marah, atau merupakan buah dari perasaan cepat terusik dan
> tersinggung.
> Jika bengkok dimaknai bahwa wanita memiliki tabiat penipu dan curang,
> penulis yakin ini sangat berlebihan. Ini merupakan penghinaan terhadap
> perempuan secara umum dan kontras dengan berbagai informasi tentang
> kehidupan para sahabat perempuan yang tidak memiliki sifat ini. Tuduhan ini
> juga tak sesuai dengan realitas yang kita saksikan dari ibu, sudari, dan
> istri kita. Masuk akalkah menyerahkan pendidikan kepada penipu? (Abd
> al-Halim Abu Syuqqah, Tahrir al-Mar'ah fi Ashr ar-Risalah, Dar al-Qalam,
> Kuwait, cet. pertama, tahun 1410 H, juz 1, hlm. 288-289).
> Keempat, hadits ini membimbing agar kaum lelaki bersikap sabar terhadap
> tabiat perempuan akibat faktor ini. Maksudnya, di sini adalah sabda
> Rasulullah saw., "Jika engkau luruskan ia, engkau mematahkannya, dan
> mematahkannya adalah dengan menceraikannya." (Shahih Muslim, juz 2, hlm.
> 1091, no. hadits. 59). Kaum pria hendaknya tidak menjadikan hal ini alasan
> rasa kesal dan kecewanya karena merupakan karakter yang khusus Allah
> ciptakan untuk perempuan. Pria dituntut sabar, pemaaf, dan sadar bahwa
> karakter ini sangat dibutuhkan dalam peran-peran khusus, seperti hamil,
> menyusui, dan mengasuh karena butuh persaan yang dalam dan sensitivitas yang
> tinggi. (Abd al-Halim Abu Syuqqah, Tahrir al-Mar'ah fi Ashr ar-Risalah, Dar
> al-Qalam, Kuwait, cet. pertama, tahun 1410 H, juz 1, hlm. 289).
> Kaum pria hendaknya sadar bahwa istrinya memiliki kelebihan dan keistimewaan
> yang dapat menggantikan kekurangan ini. Benarlah sabda Rasul tentang
> bagaimana menyikapi perilaku wanita, "Janganlah seorang mukmin cepat
> menceraikan seorang mukminah; jika benci pada satu perangai, ia akan
> menyukai perangai yang lainnya." (Shahih Muslim, Kitab Ar-Ridha Bab
> Al-Washiyyat bin Nisa', juz 2, hlm. 1091).
> Kelima, tidak ada kontradiksi antara nash-nash Al-Qur'an dan hadits jika
> benar shahih dari Rasulullah. Hadits merinci dan menjelaskan apa yang secara
> umum dijelaskan Al-Qur'an. Jika hadits shahih merinci penciptaan Hawa, ini
> tidak bertentangan dan merupakan penjelasan terhadap Al-Qur'an. Alasannya,
> Al-Qur'an hanya membicarakan garis besar masalah ini dan hadits bertugas
> merincinya. Inilah yang berlaku dengan kisah Adam dan Hawa.
> Apa yang menghalangi Allah untuk menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam
> seperti tertuang dalam hadits Abu Hurairah ini?
> Keenam, kemiripan Injil dan nash-nash hadits tentang penciptaan Hawa bukan
> merupakan aib. Kemiripan ini bukan menunjukkan bahwa hadits terpengaruh oleh
> Injil dan kitab samawi lainnya. Informasi dari Injil merupakan sisa
> teks-teks yang selamat dari penyimpangan. Seperti diketahui, banyak nash
> yang terdapat dalam Taurat dan Injil diselewengkan oleh kaum Yahudi dan
> Nasrani. Mungkin saja ini termasuk yang selamat dari penyimpangan.
> Sumber informasi ini, jika benar adalah dari Allah. Apa yang menghalangi
> kemiripan antara keduanya? Bagaimanapun, sumbernya adalah satu. Dia yang
> menurunkan Taurat dan Injil, juga yang memberitahukan kepada Nabi Muhammad
> saw. tentang masalah gaib. Al-Qur'an telah menegaskan bahwa Allah mengutus
> Rasulullah saw. untuk membenarkan risalah para nabi sebelumnya. Allah
> berfirman, "Dia menurunkan al-kitab (Al-Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya;
> membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan
> Injil." (Ali Imran: 3).
> Ketujuh, tidak benar bahwa kisah penciptaan perempuan dari tulang rusuk
> adalah dongeng. Dongeng adalah cerita yang disebarkan oleh manusia tanpa
> bukti. Informasi penciptaan perempuan ini didasarkan pada hadits shahih yang
> tidak mungkin diragukan lagi. Tuduhan Raffat bahwa hadits ini adalah
> dongeng, bukan saja tidak benar, melainkan juga menodai kesucian hadits dan
> mengingkari keshahihannya.
> Kedelapan, dugaan bahwa nama Adam tidak disebut dalam hadits ini dapat
> dijawab bahwa ini adalah pendapat para ahli fikih. Imam Nawawi berkata, "Di
> dalamnya terdapat dalil terhadap apa yang ditegaskan para ahli fikih atau
> sebagian mereka bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Allah Ta'ala
> berfirman, 'Ia menciptakan kalian dari satu diri.' Nabi menegaskan bahwa
> Hawa diciptakan dari tulang rusuk." (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz
> 10, hlm. 311).
> Sebagai tambahan, terdapat hadits lain yang dikemukakan As-Suyuthi dalam
> tafsirnya, di antaranya: "Abusy Syaikh meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang
> firman Allah, 'Ia mencpitakan kalian dari satu diri.' Ia berkata, 'Dari
> Adam. Dan menciptakan darinya pasangannya.' Ia berkata, 'Hawa diciptakan
> dari tulang rusuknya yang pendek.' Seperti halnya dikeluarkan oleh Abd bin
> Humaid dan Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim
> dari Mujahid yang serupa dengan ini." (As-Suyuthi, Al-Dur al-Nabtsur, Tafsir
> surah An-Nisa', juz 2, hlm. 116).
> Berbagai riwayat ini telah dikemukakan As-Suyuthi dalam kitab tafsirnya,
> meskipun riwayatnya mauquf pada Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbad, Mujahid, dan
> lainnya, semoga Allah meridhai mereka. Akan tetapi, riwayat ini dikuatkan
> oleh hadits Abu Hurairah yang terdahulu.
> Sumber: Diadaptasi dari Sunnah di Bawah Ancaman: Dari Snouck Hurgronje
> hingga Harun Nasution, Dr. Daud Rasyid, M.A. (Bandung: Syaamil, 2006), hlm.
> 115-136).
> Oleh: Abu Annisa
> http://www.alislamu.com/artikel/724-serangan-riffat-terhadap-hadits-tentang-perempuan-bagian-pertama.html
>
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment