Thursday, February 3, 2011

[Milis_Iqra] Etika Timbal-balik Antara Pemimpin & Bawahan Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah yang Shahih

Etika Timbal-balik Antara Pemimpin & Bawahan Menurut Al-Qur'an & As-
Sunnah yang Shahih
Tsaqafah Islamiyah
14/3/2007 | 26 Safar 1428 H | 9,060 views
Oleh: Aba AbduLLAAH
Kirim Print

Assalamu 'alaykum,

Segala puji adalah hanya layak bagi ALLAH, kami memuji-NYA, meminta
pertolongan kepada-NYA & meminta ampunan, dan kami berlindung dari
keburukan hawa nafsu kami dan dari kejelekan amal-amal kami,
barangsiapa diberi hidayah oleh ALLAH maka tiada yang dapat
menyesatkannya & barangsiapa yang disesatkan ALLAH maka tiada yang
dapat memberinya hidayah…

Dan kami bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali ALLAH, Yang Maha Esa &
tiada sekutu bagi-NYA, dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah Nabi &
rasul-NYA. Kamipun bersaksi sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah
kitabuLLAAH & sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi SAW, dan
seburuk-buruk urusan adalah yang dibuat-buat, dan semua yang dibuat-
buat itu adalah bid'ah & semua bid'ah adalah sesat & semua kesesatan
adalah di neraka…

Ikhwah wa akhwat fiLLAAH a'anakumuLLAAHa jami'an,

Menyambut mulai masuknya sebagian du'at ke marhalah daulah & makin
banyaknya ikhwah wa akhwat yang menduduki posisi-posisi penting dalam
pemerintahan (baik eksekutif maupun legislatif), dan semakin hari
semakin banyak amanah kekuasaan yang diujikan oleh ALLAH SWT untuk
dipegang oleh para du'at dari harakah ini, maka ada beberapa dhawabith
kepemimpinan Islam yang merupakan ashalah da'wah kita, yang hendaknya
selalu dijaga & diperhatikan..

Agar dijadikan sebagai Ma'alim Fi Thariq (Rambu-rambu dalam
Perjalanan), demikian kata Sayyid Quthb -ja'alahuLLAAHu syahidan- atau
sebagai Nurun 'ala Darb (Cahaya dalam Perjalanan), demikian kata
Syaikh Ibni Baaz -rahimahuLLAAH-; sehingga kita tidak menjadi ghurur
(lupa diri), ataupun terjadi tamyi' (pengenceran) terhadap nilai-nilai
dakwah ini saat mengemban amanah memimpin ummat ini insya ALLAH,
aamiin ya RABB…

Oleh sebab itu ana berusaha membuat tulisan ini untuk mencoba
menjelaskan secara singkat Etika Kepemimpinan dalam Islam, serta Etika
yang Saling Timbal-Balik, apa yang harus dilakukan & dipenuhi oleh
seorang qiyadah (baik qiyadah dakwah maupun qiyadatul ummah), dan apa
saja yang wajib dipenuhi oleh seorang jundiyyah (baik junudu dakwah
maupun junudu daulah), sehingga mudah-mudahan kita selalu berada di
dalam jalur yang benar & berhak mengharapkan ridha ALLAH & Jannah
kelak, sebagai pemimpin ummat yang adil yang paling pertama akan
diberi naungan oleh ALLAH SWT di yaumil Mahsyar kelak, aamiin ya RABB…

Wa ufawwidhu amrii ilALLAAH innaLLAAHa bashiirun bil 'Ibaad,

Abi AbduLLAAH

AL-ADAAB AL-MUTABAADILAH BAYNA AL-QIYAADAH WAL JUNDIYYAH FII DHAU'IL
KITAABI WAS SUNNAH

(Etika Timbal-balik Antara Pemimpin & Bawahan Menurut Al-Qur'an & As-
Sunnah yang Shahih)

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta
pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya di Hari Kiamat
kelak.[1]"

1. KEPEMIMPINAN DALAM LUGHAH:

a. Imam: Asal katanya 'Amama' karena ia: Berada di depan (amam),
mengasuh (ummah), menyempurnakan (atammah), menenangkan (yanamma).
Berkata Imam Al-Jauhary : Imam adalah orang yang memberi petunjuk
(yuqtada)[2].

b. Amir: Yang memberi perintah (seperti dalam ayat : Amarna
mutrafiha), juga sesuatu yang mengagumkan (seperti dalam ayat : laqad
ji'ta syai'an imra)[3].

c. Waliyy: Dekat, akrab (Jalasa mimma yali=duduk dengan orang
didekatnya); tempat memberikan loyalitas (ALLAHumma man waliya min
amri ummati)[4].

d. Qadah/qiyadah: Penggiring ternak, orang yang memberi petunjuk,
pemandu atau penunjuk jalan[5].

e. Khalifah: Para fuqaha' mendefinisikannya sbg suatu kepemimpinan
umum yg mencakup urusan keduniaan & keagamaan, sbgm yg dilakukan oleh
Nabi SAW yg wajib dipatuhi oleh seluruh ummat Islam. Menurut Imam Al-
Mawardi sama dengan al-Imamah, karena inilah asal dari kepemimpinan di
masa Nabi SAW, yaitu untuk memimpin agama & keduniaan[6]. Menurut Ibnu
Khaldun yaitu penanggungjawab umum dimana seluruh urusan kemaslahatan
syari'at baik ukhrawiyyah maupun dunyawiyyah kembali kepadanya[7].

2. KEPEMIMPINAN DALAM AL-QUR'AN:

a. Memiliki Loyalitas yang Mutlak: "Sesungguhnya pemimpin kamu
hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang
mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada
Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang
yang beriman menjadi Pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut (agama)
Allah itulah yang pasti menang.[8]"

b. Kuat & Amanah: "Berkata salah seorang diantara anaknya (Syu'aib) :
Wahai ayahanda, jadikanlah ia sebagai pegawai, karena sebaik-baik
pegawai adalah yang kuat lagi bisa dipercaya.[9]"

c. Sehat & Berilmu: "…Sesungguhnya ALLAH SWT telah memilihnya (Thalut)
sebagai rajamu, karena ia memiliki kekuatan fisik dan berilmu.
Sesungguhnya ALLAH memberikan kekuasaan-NYA kepada siapa yang
dikehendaki-NYA, sesungguhnya IA Maha Luas (ilmu-NYA) lagi Maha
Mengetahui.[10]"

d. Merupakan Ujian ALLAH SWT: "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji
Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim
menunaikannya. Allah berfirman: Sesungguhnya AKU akan menjadikanmu
imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: (Dan saya mohon juga) dari
keturunanku. Allah berfirman: Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-
orang yang zhalim.[11]"

e. Merupakan Tanda Ketaqwaan: "Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan
kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami
sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-
orang yang bertakwa.[12]"

3. KEPEMIMPINAN DALAM AS-SUNNAH:

a. Jujur dan Tidak Menipu: Nabi SAW melaknat pemimpin yang dipercaya
untuk mengurus urusan ummat lalu ia malah menipu atau menyengsarakan
mereka, sebagaimana dalam sabdanya SAW : "Ya ALLAH, siapa saja yang
diberikan kekuasaan untuk mengurusi ummatku lalu ia menyengsarakan
mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang diberi kekuasaan lalu
ia mempermudah mereka, maka mudahkanlah ia.[13]" Dan Islam menyatakan
bahwa pemimpin yang tidak memperhatikan kebutuhan, kedukaan dan
kemiskinan ummat maka ALLAH SWT tidak akan memperhatikan kebutuhan,
kedukaan dan kemiskinannya pada Hari Kiamat kelak[14].

b. Adil & Amanah: Islam menempatkan pemimpin yang adil dan amanah
dalam derajat manusia yang tertinggi, yang memperoleh berbagai
penghargaan dan kehormatan. Diantaranya ia termasuk kelompok pertama
yang dinaungi oleh ALLAH SWT diantara 7 kelompok utama yang dinaungi-
NYA pada Hari Kiamat kelak[15]; Iapun akan berada di atas mimbar dari
cahaya nanti di Hari Kiamat[16]; Dan pemimpin yang demikianlah yang
akan senantiasa dicintai dan didoakan oleh rakyatnya karena
kebijaksanaannya memimpin rakyatnya[17]; Sehingga dalam salah satu
haditsnya, nabi SAW sampai menyatakan bahwa pemimpin yang demikian
termasuk 3- golongan manusia yang paling utama dan paling berhak masuk
Jannah, disamping orang yang lembut dan penyayang pada keluarganya dan
orang miskin yang menjaga dirinya dari meminta-minta[18].

c. Tidak Wajib Taat pada Pemimpin yang Memerintahkan Maksiat: Oleh
karena itu di dalam Islam pemimpin yang memiliki sifat-sifat
sebagaimana disebutkan diataslah yang berhak dan wajib untuk ditaati
(Tafsir QS An-Nisaa', 4:59), syarat taat pada pemimpin dalam ayat
tersebut adalah mu'allaq/tergantung pada apakah ia taat pada ALLAH SWT
dan Rasul SAW atau tidak, dimana cirinya adalah ia senantiasa kembali
kepada ALLAH SWT dan rasul-NYA SAW jika terjadi perbedaan pendapat
ataupun perselisihan) dan bukan pemimpin yang memiliki sifat
sebaliknya, jika ia memiliki sifat sebaliknya maka tidak wajib sama
sekali untuk didengar dan ditaati[19].

d. Tidak ada Batasan Ras/Kebangsaan: Tentang siapa pemimpin itu Islam
tidak membatasi ia dari ras dan kelompok apapun, asal mengikuti dan
menegakkan syariat maka wajib ditaati, sekalipun ia adalah seorang
yang berkulit sangat hitam yang kepalanya bagaikan kismis (saking
hitamnya)[20]. Kendatipun demikian, afdhal memilih pemimpin
disesuaikan dengan suku/kebangsaan rakyat yg dipimpinnya[21].

e. Pemimpin Wajib Memilih Bawahan yang Jujur: Seorang pemimpin yang
adil tentunya akan memilih pembantu-pembantu, wakil-wakil dan menteri-
menteri yang adil pula. Tidak mungkin seorang yang baik (tanpa
keterpaksaan) akan mengangkat atau memilih wakil dan menteri yang
merupakan para musuh ALLAH SWT, seperti para koruptor, kaum oportunis
apalagi para kolaborator asing[22]. Benarlah pernyataan pemimpin abadi
kita nabi Muhammad SAW : "Jika ALLAH SWT menghendaki kebaikan kepada
seorang penguasa, maka IA akan memberikan untuknya menteri-menteri
yang jujur, (yaitu) yang jika ia khilaf maka selalu mengingatkan dan
jika ia ingat maka selalu dibantu/didorong. Dan jika ALLAH SWT
menghendaki keburukan kepada seorang penguasa, maka IA akan memberikan
untuknya para menteri yang jahat. Jika penguasa itu lupa, maka tidak
diingatkan dan jika ia ingat maka tidak didorong/dibantu.[23]"

4. KEWAJIBAN TAAT PADA PEMIMPIN YANG ISLAMI:

a. Wajib Taat pada Pemimpin yang Islami: Bersabda Nabi SAW :
"Barangsiapa yg taat kepadaku maka ia telah taat kepada ALLAH, dan
barangsiapa yg tidak taat kepadaku maka berarti tidak taat kepada
ALLAH. Barangsiapa yg taat kepada Pimpinan (yg nyunnah) maka berarti
ia telah taat kepadaku, dan barangsiapa yg tidak taat kepada pimpinan
(yg nyunnah) maka berarti ia telah tidak taat kepadaku.[24]"

b. Ketaatan tersebut tetap Berlaku Walaupun Di Satu Sisi Seolah
Mengorbankan Kepentingan sebagian Rakyatnya: Dari Abu Hunaidah, Wa'il
bin Hajar ra berkata : Bertanya Salmah bin Yazid al-Ju'fiy pd
Rasulullah SAW : Wahai Nabi Allah … bgm pendptmu jk ada seorg pemimpin
yg selalu meminta ketaatan dari kami tapi tidak memberikan hak kami,
apa yg anda perintahkan pd kami ? Maka Rasulullah SAW memalingkan
wajahnya, mk Salmah bertanya lagi yg kedua kali, maka jawab Rasulullah
SAW : Dengarlah oleh kalian semua dan taatilah ia, karena bagi kalian
pahala ketaatan kalian dan baginya dosa ketidakadilannya.[25]"

c. Dosanya Memisahkan Diri dari Ketaatan pada Pimpinan yang Islami:
Bersabda Nabi SAW : "Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari
ketaatan, maka ia kelak akan bertemu dengan ALLAH SWT tanpa dapat
mengemukakan argumentasi apapun.[26]" Dalam hadits lainnya:
"Barangsiapa meninggalkan ketaatan lalu memisahkan dirinya dari
Jama'ah lalu ia meninggal maka ia mati Jahiliyyah.[27]" Perhatikan
baik-baik dalam hadits tersebut disebutkan Al-Jama'ah, yg maksudnya
Jama'ah Islam, bukan sembarang pemerintahan, (lihat pula judul bab
pada takhrij hadits tersebut di dalam Shahih Muslim).

5. BENTUK-BENTUK KETAATAN:

a. Mendengarkan dan memahami perintah dengan sebaik-baiknya, memohon
penjelasan sampai jelas kemudian melaksanakannya dengan tidak menunda-
nunda dan dengan sebaik-sebaiknya. Lihat kisah Ali bin Abi Thalib ra
dalam perang Khaibar dalam Shahih Bukhari[28].

b. Melipatgandakan kesabaran saat melaksanakan perintah tersebut,
ikhlas dan tidak menguranginya atau menambahinya sedikitpun. Lihat
kisah Jundub bin Makits al-Juhni saat dalam Sariyah[29].

c. Melaksanakan dengan segera perintah tersebut, walaupun tidak sesuai
dengan pendapatnya atau berbeda dengan keinginannya, lihat kisah
Hudzaifah bin Yaman saat perang Ahzab[30].

d. Saling memberi dan menerima nasihat. Lihat kisah Umar bin Khattab
ra saat perjanjian Hudhaibiyyah dengan Nabi SAW & Abubakar ra[31].

e. Meminta izin dalam setiap urusan pentingnya atau sebelum mengambil
keputusannya[32].

WaLLAAHu a'lamu bish Shawaab…

Catatan Kaki:

[1] HR Bukhari, XXII/43 no. 6605; Muslim, IX/352 no. 3408

[2] Lisanul Arab, Ibnu Manzhur, XII/22

[3] Lisanul Arab, III/370

[4] Ash-Shihah fil Lughah, Al-Jauhary, I/22

[5] Al-Qamus Al-Fiqhi, I/388

[6] Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Al-Mawardi, hal.3

[7] Al-Muqaddimmah, Ibnu Khaldun, hal.180

[8] QS Al-Maidah, 5/55-56

[9] QS Al-Qashshash, 28/26

[10] QS Al-Baqarah, 2/247

[11] QS Al-Baqarah, 2/124

[12] QS Al-Furqan, 25/74

[13] HR Muslim no. 1828

[14] HR Abu Daud no. 2948; Tirmidzi no. 1332; al-Hakim IV/93-94;
menurut Imam al-Mundziri sanad-nya shahih karena ada syahid dari
hadits Muadz ra yang diriwayatkan oleh Ahmad V/238-239.

[15] HR Bukhari II/119 dan 124; Muslim no. 1031

[16] HR Muslim no. 1827; Nasa'i VIII/221; Ahmad II/160

[17] HR Muslim no. 1855

[18] HR Muslim no. 2865

[19] Bukhari XIII/109; Muslim no. 1839; Abu Daud no. 2626; Tirmidzi
no. 1707; Nasa'i VII/160

[20] HR Bukhari XIII/108

[21] HR Bukhari, XXII/44, bab Al-Umara'u min Quraisy; Muslim, IX/
333-338

[22] QS Al-Mumtahanah, 60:1

[23] HR Abu Daud no. 2932, dengan sanad yang baik menurut syarat
Muslim; juga Nasa'i VII/159 dengan sanad yang shahih

[24] HR Bukhari, kitab al-Jihad, bab Yuqatilu min Wara'il Imam, juz-
IV, hal.61

[25] HR Muslim, bab Fi Tha'atil Umara' wa in Mana'u, IX/384

[26] HR Muslim, IX/393

[27] HR Muslim, kitab al-Imarah, bab Wujub Mulazamatin Jama'atil
Muslimin 'Inda Zhuhuril Fitan, juz-III hal.1476

[28] Fathul Bari' , Ibnu Hajar, IV/57,58; V/22,23,171

[29] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, IV/222,223

[30] Shahih Muslim, III/1414, 1415; Musnad Ahmad, V/392,393

[31] Sirah Nabawiyyah, Ibnu Katsir , III/218, 319

[32] QS An-Nur, 24/62

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment