Keamanan dan Perdamaian di Mata Iran
Revolusi Islam diakui atau tidak telah mengubah peta konstelasi politik dunia, setidaknya di Timur Tengah.Tidak hanya itu, revolusi Islam ini juga merevisi dan memperkaya teori politik dan hubungan internasional. Revolusi Islam terjadi di saat diktator Muhammad Reza Pahlevi digambarkan sebagai rezim paling kuat di Timur Tengah. Iran juga menjadi perpanjangan tangan AS di kawasan.
Setelah merancang dan menggulingkan pemerintahan Muhammad Mosaddegh melalui kudeta di tahun 1953, Washington memilih Iran menjadi porosnya di Timur Tengah. Keputusan ini diambil Gedung Putih, karena pertimbangan posisi strategis Iran di Teluk Persia dan berdekatan dengan Rusia. Dengan demikian, Reza Shah menjadi sentral kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah.
Demi mewujudkan ambisi itu, Washington menjual berbagai persenjataan modern bagi rezim Reza Pahlevi, bahkan persenjataan itu yang tidak diberikan kepada rekan dekatnya sendiri. Gedung Putih menjual pesawat F-14 yang merupakan pesawat pembom tercanggih saat itu dan jet tempur lainnya dijual ke Tehran. Persenjataan canggih inilah yang membuat rezim Shah bisa menciptakan sindrom di kawasan untuk mewujudkan kepentingan AS. Namun, senjata itu justru menciptakan arogansi bagi Muhammad Reza Pahlevi. Shah Iran ini mengira dengan persenjataan canggih yang disuplai dari AS bisa melanggengkan kekuasaannya.
Ternyata keadaan terjadi sebaliknya, tekanan dan perlawanan rakyat terhadap rezim despotik Shah kian hari semakin membuncah. Shah menangkap dan memenjarakan rakyatnya sendiri untuk memberangus suara rakyat dan kalangan oposisi. Ketika itu penjara penuh sesak di isi para tahanan politik. Ketika pilar-pilar pemerintahan boneka AS di kawasan Timur Tengah goyah dan akhirnya tumbang, revolusi Islam Iran berhasil menggulingkan rezim shah yang didukung Barat. Sejak itu konspirasi musuh gencar dilakukan untuk menjegal revolusi Islam.
Pemerintahan AS senantiasa berupaya menampilkan pemerintahan Republik Islam Iran yang baru berdiri sebagai sumber instabilitas di Timur Tengah. Republik Islam dipandang menjadi ancaman bagi kebijakan interventif Washington di kawasan. Dengan alasan ini, Gedung Putih gencar mengembar-gemborkan Iranphobia di kawasan, terutama di kalangan negara-negara Arab di Teluk Persia. Kebijakan ini menjadi strategi AS di bidang politik, ekonomi dan sosial guna memadamkan sinar revolusi Islam. Padahal revolusi Islam adalah revolusi kebudayaan yang tumbuh dan lahir dari rakyat. Revolusi Islam tidak pernah mengklaim sebagai revolusi imperialis yang mengancam negara-negara kawasan. Selain itu, revolusi menyebarkan pesan spiritualitas dan nilai-nilai yang berpijak pada prinsip-prinsip kemanusiaan, antikezaliman dan mengusung kebebasan bangsa-bangsa dari cengkeraman imperialisme. Republik Islam Iran senantiasa mendukung perdamaian dan keamanan bangsa-bangsa dunia, bukan rezim diktator yang berlindung di balik jubah AS dan sekutu Barat.
Republik Islam sejak awal kemenangan revolusi Islam senantiasa mengulurkan tangan persahabatan keseluruh negara-negara dunia, dan hanya memutuskan hubungannya dengan rezim imperialis dan apartheid Zionis. Bahkan kedutaan besar AS selama beberapa bulan pasca kemenangan Revolusi Islampun masih beroperasi, meski negara ini menjadi mitra setia rezim despotik Shah selama lebih dari 25 tahun.Tapi kemudian Kedutaan Besar AS di Tehran ditutup karena melakukan aksi spionase melawan pemerintahan Islam Iran. Ketika sejumlah mahasiswa menduduki kedutaan besar AS di Tehran, terbukti bahwa perwakilan Gedung Putih di Tehran ini berperan sebagai sarang mata-mata AS di Iran. Sekitar 100 buku yang disita mengungkapkan peran kedutaan AS sebagai pusat spionase dan konspirasi melawan revolusi Islam Iran.
Republik Islam Iran mengibarkan pesan perdamaian dan keadilan tidak hanya bagi negara-negara di kawasan, bahkan lebih dari itu mempersembahkannya untuk dunia. Pemerintahan AS dan sekutu Eropanya, selama 32 tahun sejak kemenangan revolusi Islam Iran senantiasa menampilkan wajak Iran yang garang, destruktif dan mengancam negara-negara kawasan.
Sebelum kemenangan revolusi Islam Iran, pemerintahan AS dan sekutunya tidak pernah sedikitpun menyuarakan perdamaian Timur Tengah. Padahal bangsa-bangsa di Timur Tengah berada dalam cengkeraman rezim diktator yang didukung AS. Contohnya, rezim Zionis hingga kini melanjutkan penindasan terhadap bangsa Palestina dan menyerang negara-negara Arab.
Intervensi AS dan negara adidaya Timur menyebabkan pecahnya perang berbau etnis dan agama di Lebanon. Di mata Washington, perdamaian dan keamanan Timur Tengah tidak penting, meski situasi dan kondisi kawasan amat mengkhawatirkan. Dengan adanya dukungan Gedung Putih yang membabi buta, rezim Zionis berupaya mewujudkan mimpinya menguasai Nil hingga Furat.
Di saat berbagai bangsa berada dalam kubangan kemiskinan dan tekanan rezim diktator, AS terus-menerus menjarah sumber daya negara-negara kawasan. Bagi Washington, keamanan dan perdamaian akan terancam, jika bangsa-bangsa mengambil keputusan untuk mengubah nasibnya dan menumbangkan rezim lalim.
Di mata Gedung Putih, pemerintahan yang tidak mengekor dikte Washington dikategorikan sebagai sumber instabilitas. Dengan definisi ini, Republik Islam Iran dikategorikan sebagai pemicu instabilitas dan ketidakamanan di kawasan. Namun alasan permusuhan dan konspirasi AS terhadap Republik Islam Iran kin hari semakin jelas bagi publik dunia, karena permusuhan Gedung Putih terhadap Tehran semakin kental dan keras dari sebelumnya.
Setelah melewati lebih dari tiga dekade kemenangan Revolusi Islam Iran, pesan revolusi menjangkau wilayah yang paling jauh, bahkan mencapai Amerika Latin yang disebut sebut sebagai halaman belakang AS. Kini, Republik Islam Iran menjalin hubungan erat di bidang ekonomi dan politik dengan negara-negara Amerika Latin.
Transformasi terbaru di sejumlah negara Arab seperti di Tunisia, Mesir dan Yaman menunjukkan bahwa kebijakan manipulatif AS semakin terkuak dan opini publik duniapun mengetahui hipokrasi Gedung Putih dalam pembelaan terhadap kebebasan dan perdamaian. Sebagaimana perjuangan rakyat Iran pada 32 tahun lalu, rakyat Mesir, Tunisia dan Yaman menuntut terwujudnya keamanan dan perdamaian, dan tidak sudi berada dalam bayangan kepentingan AS dan rezim Zionis.
Sejatinya, kebijakan interventif AS menjadi pemicu utama instabilitas di kawasan. Dalam perspektif Republik Islam Iran, perdamaian dan keamanan hanya akan terwujud dengan menjalin kerjasama dan keharmonisan antarnegara kawasan tanpa intervensi asing. Inilah pesan jelas bagi AS dan negara-negara Barat. Dengan alasan ini, AS dan sekutu Eropa berupaya menunggangi gelombang protes rakyat melawan rezim diktator dan mengarahkannya demi kepentingan Gedung Putih. Realitas di Tunisia dan Mesir menunjukkan bahwa kebijakan AS di Timur Tengah membentur dinding dan gagal total.(IRIB/PH/)
--
Salamun 'ala manittaba al Huda
ARMANSYAH
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment