Thursday, February 3, 2011

[Milis_Iqra] Kriteria Pemimpin Menurut Al Quran

Kriteria Pemimpin Menurut Al Quran

"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas
di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan
menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)" (QS. Al-Qashash/
28 : 5)

Restrukturisasi dan estafet suatu kepemimpinan dalam suatu
negeri merupakan sunnahtullah sebagaimana ketika restrukturisasi pasca
Rasulullah Saw wafat kemudian digantikan oleh Abu Bakar Sidiq. Hal
tersebut sesungguhnya merupakan implementasi pertama kali proses
demokrasi karena pada masa Yunani sebelum Rasululah Saw lahir istilah
demokrasi (baca: 'demos' dan 'kratos') dikenal hanya sekedar wacana
tanpa implementasi dan realisasi. Namun Islamlah yang melaksanakan
proses demokrasi pertama kali di muka bumi ini setelah wafatnya
Rasulullah Saw, masyarakat Jazirah Arab melaksanakan pemilihan
pemimpin (khalifah) dan menyampaikan suaranya ke kabilahnya kemudian
para pemimpin kabilah tersebut berkumpul melakukan musyawarah (syuro)
kemudian memilih (mem-ba'iat) Abu Bakar Sidiq sebagai Khalifah melalui
proses pemilihan yang sangat demokratis dan tulus. (Jadi demokrasi itu
milik siapa?)

Kepemimpinan (ke-khalifah-an) dalam Islam sangatlah penting melihat
posisi itu lebih dari sekedar tugas dan tanggung jawab, melainkan
sebagai amanah yang harus diemban sebaik-baiknya. Itu sebabnya,
pemimpin (imam) semacam itu harus "dicari" melalui sebuah proses
pemilihan umum yang jujur, adil dan demokratis disertai hati yang
tulus tanpa usur paksaan apalagi politik uang (money politics).
Sehingga kita bisa menemukan pemimpin yang memiliki kualitas
kepemimpinan DKI Jakarta yang terbaik dalam rangka perbakaikan ummat.

Berkenaan dengan kriteria kepemimpinan itu, alangkah baiknya kita
merujuk kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai sumber dari segala
sumber hukum Ummat Islam. Terdapat beberapa istilah dalam Al-Qur,an
yang menunjuk kepada pengertian pemimpin, diantaranya: Khalifah, Imam
dan Ra'in. Tiga konsep tersebut merupakan satu kesatuan yang padu tak
dapat dipisahkan dan seharusnya ada dan tercermin pada seriap diri
pemimpin mendatang.

Ke-Khalifah-an : "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
malaikat. "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi…" (Q.S Al-Baqarah/2:
30). Ayat ini menjelaskan kriteria utama pemimpin adalah kesadarannya
akan peran dan fungsinya sebagai khalifah atau wakil Allah. Ini
berarti, ketika sang pemimpin bekerja menjalankan amanahnya melayani
dan membenahi masyarakat di disertai visi dan misi ke-Illahiyahan
(Ketuhanan) dalam bentuk berbagai macam kegiatan dalam rangka
membentuk masyarakat muslim yang cerdas dan intelektual.

Dengan demikian, ia akan memiliki legitimasi kepemimpinan yang sangat
kuat serta di tambah dengan visi misi yang tajam dan kemampuannya
dalam menjelaskan konsep-konsep Islam dan solusi untuk perbaikan di
masyarakat yang lebih baik sehingga membuat keunggulan itu semakin
mendapatkan pengakuan dari khalayak umum sebagaimana para malaikat
memberikan pengakuan kepada Nabi Adam a.s (QS. Al-Baqarah/2: 30-34)

Ke-imam-an : "… dan jadikanlah kami pemimpin (imam) bagi orang-orang
yang bertaqwa" (Q.S Al-Furqon/25: 74). Di sini tersirat bahwa Allah
SWT membuka kesempatan seluas-luasnya bagi hamba-Nya untuk menjadi
pemimpin dan juga mengisyaratkan predikat taqwa yang disandang dan
dimiliki serta rasa tanggung jawab tinggi. Seorang pemimpin hendaknya
lebih meperhatikan fakir miskin yang termarjinalisasi sehingga dapat
menciptakan masyarakat yang adil dan makmur disertai nilai-nilai
Islam. Kriteria diatas merupakan hal yang mutlak harus dimiliki oleh
seorang pemimpin kelak. Adalah sangat mustahil jika seorang pemimpin
yang tidak mempunyai visi misi yang tajam dapat memberikan solusi
menyelesaikan permasalahan sosial, ekonomi dan budaya hingga dunia
pendidikan di negeri ini.

Oleh karena itu, pemimpin yang berperan sebagai Imam, pertama-tama
haruslah menjadi panutan masyarakat yang dipimpin. Sebagaimana Nabi
Ibrahim a.s telah menjadi tauladan dalam hal keta'atan, kehanifan,
ke-tauhid-an dan kemuliaan akhlaknya, mensyukuri nikmat Allah SWT.

"Sungguh, Ibrahim adalah Imam (Pemimpin) yang dapat dijadikan teladan,
patuh kepada Allah SWT dan hanif . Dan dia bukanlah termasuk orang
musyrik (mempersekutukan Allah).(Q.S An-Nahl/16: 120)

Peran dan fungsi ke-Imam-an dari seorang pemimpin, secara kongkrit
dapat dilihat pada imam sholat. Kriteria Imam sholat ialah lebih
berilmu atau lebih fasih bacaannya. Begitu selektifnya, mengingat
beratnya tanggung jawabnya seorang imam maka harus yang "tafaqquh fid-
din", yaitu orang yang memahami, mamaknai dan mendalami agama.
Sehingga tidak menjadikan posisi Imam sebagai ajang perebutan
kekuasaan. Menunjuk Imam dengan tulus dan ma'mum pun menerima posisi
mereka dengan rela hati serta ikhlas.

Dan satu lagi yang menarik, imam tidak sunyi dari koreksi ma'mum
bilamana ia lupa atau salah maka bersedia diingatkan. Oleh karena itu
jika kita melaksanakan sholat tepat dibelakang posisi imam biasanya
didampingi orang yang mempunyai keilmuan yang tinggi pula
dibelakangnya agar dapat mengingatkan apabila terjadi kesalahan
gerakan dan bacaan. Dan biasanya posisi shaff pertama diisi oleh orang-
orang baik yang mempunyai pemahaman Islam karena mereka bertanggung
jawab pula untuk mengawal dan mengikuti proses sholat agar berjalan
dengan baik. Bahkan ketika imam berada dalam situasi yang menyebabkan
wudhunya batal, imam dengan legowo mundur dan digantikan oleh ma'mum
yang lain. Ini mengidikasikan bahwa pemimpin harus dekat kepada para
ulama dan ustadz disekelilingnya sehingga kelak memiliki integritas,
moralitas dan kejujuran yang tinggi.

Ke-Ra'in-an : Ra'in berasal dari kata Ra'a-yara-Ra'yan, yang bermakna
pengembala. Rasulullah SAW dalam sebuah hadist menggunakan kata ini
untuk menunjukan fungsi pemimpin.

"Setiap kamu adalah pengembala dan setiap kamu akan diminta
pertanggung jawabannya. Seorang pemimpin adalah pengembala bagi
rakyatnya, maka ia akan ditanya tentang apa yang digembalakannya"(HR.
Ahmad)

Pada fungsi ke-Ra'in-annya, dituntut dari seorang pemimpin
kemampuannya untuk membenahi sistem pemerintahan yang lebih baik dan
mengarahkan rakyatnya menuju perbaikan Ummat. Ia seorang leader yang
berpengalaman dalam memimpin anak buahnya dan memahami prinsip-prinsip
leadership karena kelak akan bertanggung jawab terhadap nasib
rakyatnya. Ia juga adalah orang yang mengerti betul kebutuhan-
kebutuhan dasar rakyat yang bersifat kekinian dan berorientasi masa
depan yang lebih baik serta selalu ber-empati (peduli) terhadap
masyarakat tertindas (termarjinal). Untuk itu, ia harus merakyat
berada di tengah-tengah rakyatnya sehingga tahu dan mengerti betul apa
yang diinginkan rakyatnya.

Wallahu a'lam Bish-showwab...

oleh : Rochman (setelah proses editing)

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment