Tuesday, February 1, 2011

RE: [Milis_Iqra] 6 PERKARA PENTING DALAM AGAMA

Maaf M WN ada pertanyaan…

 

Bagaimana caranya

 

2. Bersatu dalam Agama dan Tidak Berpecah Belah

Perkara ini diperintahkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta merupakan
jalan hidup para shahabat dan salafus shalih. Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman, artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama)
Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. (QS. Ali Imran: 103)

Nabi (Shallallahu 'Alaihi Wassallam) bersabda, “Seorang muslim adalah
saudara muslim yang lain, maka tidak boleh salah satu menzhalimi yang
lain, tidak pula merendahkan dan menghinanya.” (HR. al-Bukhari). Juga
sabda beliau yang lain, “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain ibarat
sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain.” (HR
Al Bukhari).

 

Terimakasih atas penjelasannya….

 

 

Regards,
Dani Permana

" Always desire to learn something useful."

 

From: milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com] On Behalf Of whe - en
Sent: Wednesday, February 02, 2011 1:05 PM
To: Milis_Iqra@googlegroups.com
Subject: [Milis_Iqra] 6 PERKARA PENTING DALAM AGAMA

 

Artikel Buletin An-Nur :

6 PERKARA PENTING DALAM AGAMA
Jumat, 28 Januari 11


1. Ikhlas Dalam Agama Dan Melawan Kemusyrikan.


Ikhlas menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah yaitu
beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala semata-mata hanya untuk
mendekatkan diri kepadaNya dan untuk memperoleh apa yang ada disisiNya.
Hal ini dilakukan dengan cara memurnikan tujuan, cinta dan pengagungan
hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan juga memurnikan seluruh apa saja
yang bersifat lahir maupun batin dalam beribadah, tidak dikehendaki dan
diharapkan dari itu semua kecuali hanya ridhaNya. Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman, artinya,

“Katakanlah:”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyah
untuk Allah,Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah
yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama
menyerahkan diri(kepada Allah)”. (QS. al-An’am: 162-163).


Tauhid dan ikhlas ini telah diwujudkan oleh Rasulullah (Shallallahu
'Alaihi Wassallam), kemudian beliau bersihkan segala sesuatu yang bisa
mengotorinya, tidak cukup itu saja bahkan setiap yang bisa membuka peluang
untuk masuknya syirik, maka beliau sumbat rapat-rapat.Seperti larangan
beliau kepada orang yang mengucapkan, “Atas kehendak Allah dan kehendak
Anda.” Beliau bersabda, “Apakah kamu hendak menjadikan aku sebagai
tandingan bagi Allah?”tapi (ucapkan), “Atas kehendak Allah saja!”.


Adapun lawan dari tauhid dan ikhlas yaitu syirik, Allah Subhanahu Wata’ala
telah berfirman untuk memperingatkan kita dari perbuatan syirik, artinya,
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun.”(QS. an-Nisaa’: 36).


Oleh karena itu hendaknya kita berhati-hati dan waspada terhadap segala
bentuk kemusyrikan, baik itu yang besar(akbar) dan dapat menyebabkan
pelakunya keluar dari Islam,yang kecil (asghar) maupun yang tersembunyi
(khafiy).


2. Bersatu dalam Agama dan Tidak Berpecah Belah


Perkara ini diperintahkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta merupakan
jalan hidup para shahabat dan salafus shalih. Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman, artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama)
Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. (QS. Ali Imran: 103)


Nabi (Shallallahu 'Alaihi Wassallam) bersabda, “Seorang muslim adalah
saudara muslim yang lain, maka tidak boleh salah satu menzhalimi yang
lain, tidak pula merendahkan dan menghinanya.” (HR. al-Bukhari). Juga
sabda beliau yang lain, “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain ibarat
sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain.” (HR
Al Bukhari).


Demikianlah anjuran Nabi (Shallallahu 'Alaihi Wassallam) kepada umatnya
agar saling mengasihi dan mencintai serta melarang bermusuhan dan bercerai
berai.


Memang para shahabat pernah berbeda pendapat, akan tetapi tidak
menyebabkan perpecahan dan saling benci, karena mereka hakikatnya
sama-sama berjalan diatas hukum yang dituntun oleh Al-Qur’an dan
As-Sunnah. Seperti ketika Nabi (Shallallahu 'Alaihi Wassallam) selesai
dari perang Ahzab, Jibril Alaihissalam memerintahkan agar segera berangkat
ke Bani Quraizhah karena mereka melanggar perjanjian, maka Nabi
(Shallallahu 'Alaihi Wassallam) bersabda, “Kalian semua jangan shalat
Ashar dulu,kecuali kalau sudah sampai di Bani Quraizhah.” (HR.Al-Bukhari).



Akhirnya mereka pun menuju Bani Quraizhah. Bersamaan dengan itu tiba waktu
Ashar, maka sebagian dari para shahabat ada yang shalat Ashar dulu dan
sebagian lagi ada yang tidak. Hal ini tidak dicela oleh Rasulullah
(Shallallahu 'Alaihi Wassallam)dan dengan kasus ini, para shahabat
tidak lantas bermusuhan atau saling benci antara satu dengan yang lain.


Demikian pula para salafus shalih ketika berbeda pendapat, selagi dalam
masalah ijtihadiyah, maka perbedaan itu tidak menyebabkan permusuhan dan
saling benci, bahkan dalam perbedaan yang sangat tajam sekalipun.Inilah
salah satu kaidah pokok Ahlussunnah dalam masalah khilafiyah.


Adapun perselisihan yang tidak bisa dikompromi adalah apa saja yang
menyelisihi shahabat dan tabi’in seperti dalam hal I’tiqad dan keyakinan
yang mana sebelumnya tidak pernah ada dan munculnyapun setelah qurun
mufaddlalah (masa generasi terbaik).


3. Mendengar dan Patuh Kepada Pemegang Urusan Kaum Muslimin (Pemerintah).


Ini sebagaimana diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam
firmanNya, artinya, “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan
ta’atilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu.” (QS. an-Nisaa’: 59).
Sedangkan dari hadits nabi (Shallallahu 'Alaihi Wassallam) diantaranya
adalah, “Hendak-lah kalian semua mendengar dan taat walaupun yang
memerintah kalian adalah seorang hamba habasyi”. (HR. Al-Bukhari).


Akan tetapi ketaatan terhadap amir tidaklah mutlak, yaitu selagi ia tidak
menyuruh bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagaimana sabda
Rasul (Shallallahu 'Alaihi Wassallam), “Wajib seorang muslim untuk
mendengar dan taat baik terhadap perkara yang ia sukai maupun yang ia
benci kecuali jika disuruh untuk bermaksiat, maka tidak boleh mendengar
dan tidak boleh taat.” (HR. Al- Bukhari).


Dan yang dimaksud amir disini adalah bukan sebagaimana yang diklaim oleh
kelompok-kelompok yang ada saat ini. Mereka semua telah salah dalam
menerapkan hadits-hadits Nabi (Shallallahu 'Alaihi Wassallam) yang
berkaitan dengan imamah, sehingga bukannya bersatu tapi malah memperbanyak
jumlah kelompok dan makin menceraiberaikan umat.


4. Penjelasan Tentang Ilmu Dan Ulama; Fiqih Dan Fuqahaa Serta Orang Yang
Seperti Mereka Padahal Bukan.


Ilmu yang dimaksud disini ialah ilmu syar’i yaitu pengetahuan tentang
apa-apa yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala berupa
penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diberikan kepada Rasulullah
(Shallallahu 'Alaihi Wassallam) baik itu al-Kitab maupun as-Sunnah.


Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, artinya, “Katakanlah, ‘Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui”
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS .
az-Zumar: 9)


Adapun selain ilmu syar’i jika itu untuk tujuan kebaikan, maka itu baik
namun jika untuk tujuan yang buruk, maka ia jadi buruk, dan jika tidak ada
tujuan apa-apa, maka termasuk ka-tagori menyia-nyiakan waktu.


Yang sangat ditekankan adalah bahwa kita harus tahu siapa sebe-narnya
ulama dan fuqaha, sebab ada juga orang-orang yang menyerupai ulama namun
pada hakekatnya adalah bukan. Mereka mencampuradukkan antara yang hak dan
yang batil dan pandai menghiasi perbuatan dan ucapannya sehingga kesesatan
dan kebid’ahan yang ia lakukan disangka oleh orang sebagai ilmu padahal
bukan, ibarat fatamorgana yang disangka air namun ternyata kosong dan semu
belaka.


5. Mengenal Wali-wali Allah Yang Sebenarnya.


Wali Allah adalah siapa saja yang beriman kepadaNya, bertakwa dan
beristiqamah diatas agamaNya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, artinya,
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang
yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (QS. Yunus: 62-63)


Jadi jika seseorang itu beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu
Wata’ala, maka dia adalah waliNya. Bukan sebagaimana yang diyakini
sebagian orang bahwa wali adalah orang yang maksum (terjaga dari dosa) dan
ia mempunyai jalan (tharikat) tersendiri yang langsung dari Allah
Subhanahu Wata’ala, bukan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah
(Shallallahu 'Alaihi Wassallam), atau dengan kata lain bahwa wali Allah
itu biasanya orangnya nyeleneh. Maka tidak diragukan lagi bahwa orang
semacam ini tidak layak untuk disebut wali Allah, dan tidak pantas untuk
mengaku bahwa dirinya adalah wali. Allah Subhanahu Wata’ala yang lebih
tahu siapa yang menjadi waliNya. Dan yang pasti mereka adalah orang-orang
yang selalu berpegang teguh dengan kitabNya dan sunnah NabiNya. Allah
Subhanahu Wata’ala telah menjelaskan bahwa tingkatan hambaNya yang diberi
nikmat dimulai dari nabiyyin (para nabi), Shiddiqin (jujur dan benar
imannya), syuhadaa (para syahid) kemudian shalihin (orang shalih), mereka
semua ini adalah wali-wali Allah berdasarkan kesepakatan salafus shalih.


6. Melawan Syubhat yang Ditanamkan Syetan Untuk Menjauhkan Kita Dari
Al-qur’an dan As-sunnah.


Yaitu mereka bisikkan bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya boleh dipelajari
oleh orang yang telah mencapai derajat mujtahid mutlak yang setingkat Abu
Bakar atau Umar Radiyallahu ‘Anhu . Jikalau seseorang mempelajarinya, maka
akan jadi kafir. Al-hamdulillah syubhat ini dengan pertolongan Allah
Subhanahu Wata’ala telah dijawab oleh para ulama dengan meletakkan dasar
dan syarat-syarat dalam ijtihad serta penjelasan dari mereka tentang tidak
bolehnya seseorang untuk taklid buta, namun hendaknya setiap orang
berusaha untuk belajar mengkaji Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman
yang benar.


Adapun taklid dibolehkan jika seseorang memang benar-benar awam tidak tahu
menahu dan tidak bisa memahami suatu hukum atau sebenarnya mampu namun
mengalami kesulitan yang sangat besar, maka ia boleh taklid dalam bab yang
ia tidak mampu memahaminya.


Sumber: Al-Ushul As-Sittah, Karya: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab; Syarah
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. (Yusuf Al-Lomboky )


YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 Jakarta Selatan -
Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326. e-mail: info @alsofwah.or.id |
website: www.alsofwah.or.id | Member Info Al-Sofwa
Artikel yang dimuat di situs ini boleh di copy & diperbanyak dengan syarat
tidak untuk komersil. 

From: <Erwin@asc.co.id>
Date: 2011/2/2



--

~~~~~

Whe~en
http://wheen.blogsome.com/
 
"Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)
"Ya Allah jadikan Aku hamba yang selalu bersyukur dan penyabar"

 

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-


No virus found in this message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 10.0.1204 / Virus Database: 1435/3417 - Release Date: 02/01/11

No comments:

Post a Comment