Wednesday, May 18, 2011

[Milis_Iqra] Mengapa Rakyat Bahrain Paling Tertindas?

Mengapa Rakyat Bahrain Paling Tertindas?
Sumber : http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=32639:mengapa-rakyat-bahrain-paling-tertindas&catid=55:opini&Itemid=103


Mencermati transformasi terbaru Timur Tengah dan politik kontradiktif sejumalh negara-negara Barat dan Arab dalam menyikapinya, dapat diukur tingkat ketertindasan dan kemazluman rakyat Bahrain. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei saat bertemu dengan ribuan rakyat provinsi Fars menegaskan, "Dalam transformasi terbaru kawasan Timur Tengah, rakyat Bahrain yang paling terzalimi."

"Protes rakyat Bahrain sah dan tepat. Bila seseorang yang memiliki cara pandang benar mengenai kondisi rakyat Bahrain, bentuk pemerintahan dan cara para penguasa memanfaatkan kekuasaan, pasti ia mengutuk perilaku pemerintah Bahrain menumpas rakyatnya," ungkap Rahbar.

"Langkah yang ditempuh pemerintah Bahrain dalam menyikapi rakyatnya jelas-jelas salah," kata Rahbar "Karena tindakan semacam ini hanya akan menambah kemarahan rakyat. Bila kemarahan menggumpal dan tumpah, pada waktu itu pemerintah sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi."

Masih terkait Bahrain, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Selain pemerintah Bahrain, pihak asing yang mengirimkan pasukannya ke Bahrain juga salah melangkah."

Melihat transformasi terbaru Timur Tengah, pernyataan Rahbar mengenai ketertindasan bangsa Bahrain semakin nampak jelas.

Ketika Tarek el-Tayeb Mohamed Ben Bouazizi, pemuda Tunisia yang membakar dirinya di depan gedung walikota Tunisia-menjadi pemicu revolusi di Timur Tengah-negara-negara Barat mendukung para diktator Arab dan membantu larinya diktator Tunisia dari negaranya.

Selanjutnya, ketika tiba giliran lengsernya diktator Hosni Mubarak, sekalipun pada awalnya Amerika mendukung sekutu lamanya dan secara transparan menuntut agar ia tetap berada pada kekuasaannya. Namun setelah melihat gelombang kemarahan rakyat Mesir tidak kunjung surut, Amerika memilih untuk meninggalkan sekutu lamanya itu seorang diri.

Revolusi akhirnya sampai di pintu gerbang Libya. Kali ini, bukan hanya teman dekat Barat Kolonel Muammar Gaddafi, diktator Libya yang membelakanginya, tapi ternyata malah bangkit mengangkat senjata dan melawan. Mereka baru teringat untuk melindungi rakyat tertindas Libya dari tangan besi Gaddafi. Benar, negara-negara Barat berperang di Libya untuk kebebasan. Tapi bukan untuk membebaskan rakyat Libya, tapi untuk membebaskan minyak milik rakyat. Ketika Berlusconi, Sarkozy, Obama dan Merkel menyaksikan Libya akan terlepas dari kendali mereka, para penguasa Barat itu pun langsung mengambil tindakan agar jangan sampai sumur-sumur minyak Libya dinasionalisasi.

Bahrain; Tragedi Kemanusiaan

Negara kecil Bahrain hari-hari ini menyaksikan kejahatan paling keji dari para penguasa Arab. Puncak kejahatan yang dilakukan bukan hanya membantai umat Islam negara ini, tapi telah terjadi penistaan simbol-simbol kesucian agama oleh pasukan Arab Saudi dan Bahrain.

Pembantaian massal yang terjadi di Bahrain perlahan-lahan menjadi pemandangan biasa. Sementara pada awalnya, kebangkitan rakyat hanya bertujuan terjadinya reformasi di negara ini, namun reaksi pemerintah benar-benar sadis. Menyusul kebangkitan rakyat Bahrain, pasukan asing juga memasuki negara ini. Tapi kehadiran mereka bukan untuk membela rakyat, tapi justru untuk menumpas aksi-aksi rakyat dan melindungi kepentingan penguasa dinasti al Khalifa.

Kejahatan yang terjadi di Bahrain tidak berhenti pada pembantaian massal. Pasukan keamanan Bahrain dan Arab Saudi di pekan-pekan terakhir justru menyerang dan menghancurkan masjid, husainiyah dan membakar al-Quran. Menurut data yang ada, sekitar 50 masjid dan 50 husainiyah dirusak serta 14 al-Quran yang dibakar.

Penangkapan warga revolusioner makin ditingkatkan. Tidak tanggung-tanggung, tentara menembaki para demonstran dengan peluru tajam. Para tentara bayaran Arab Saudi melakukan tindakan tidak manusiawi dengan memperkosa sebagian tahanan politik. Rumah-rumah sakit tidak luput dari kejahatan mereka. Para tentara bayaran ini melarang pihak medis untuk membawa mereka yang terluka ke pusat-pusat pengobatan. Ini semua hanya sebagian dari bukti kejahatan yang dilakukan terhadap rakyat Bahrain.

Lembaga HAM dan Barat Hanya Menjadi Penonton

Kesadisan dinasti al-Saud dan al-Khalifa di Bahrain hanya satu sisi dari tragedi kemanusiaan yang menimpa negara ini. Namun apa yang paling memalukan adalah bungkamnya lembaga-lembaga hak asasi manusia dan negara-negara Barat yang mengklaim sebagai pelindung HAM. Sikap diam ini telah berubah menjadi dukungan bagi para diktator Arab untuk menumpas kebangkitan rakyat Bahrain.

Berbeda dengan apa yang terjadi di Libya. Senator John McCain melawat Libya menuntut diakuinya kelompok revolusioner Libya. Sementara Robert Gates, Menteri Pertahanan AS dan Jeffrey Feltman, Deputi Menteri Luar Negeri AS urusan Timur Dekat saat mengunjungi Bahrain justru mengeluarkan perintah agar pemerintah lebih keras menumpas aksi demonstrasi rakyat.

Berbarengan dengan lawatan itu, Menteri Luar Negeri Amerika, Hillary Clinton secara implisit menyatakan dukungannya terhadap pembantaian rakyat Bahrain sekaligus menegaskan bahwa Amerika komitmen menjamin keamanan negara-negara Arab Teluk Persia.

Lembaga-lembaga HAM lebih memilih diam di hadapan peristiwa pembantaian massal yang terjadi di Bahrain. Bila terpaksa angkat suara, mereka hanya merasa cukup dengan merilis statemen. Sungguh ironis, lembaga-lembaga HAM yang begitu getol bersuara dan menggunakan segala cara untuk menyelamatkan seorang perempuan yang melakukan pembunuhan, ternyata diam menyaksikan pembantaian rakyat Bahrain yang bangkit menuntut hak-haknya sebagai warga negara. Mulai dari PBB, OKI, Liga Arab, Uni Eropa, Komisi HAM PBB dan lembaga-lembaga HAM lainnya lebih memilih bungkam selama bangsa Bahrain ditumpas dengan keji.

Ketertindasan rakyat Bahrain tidak berhenti pada sikap bungkam para pengaku pelindung hak asasi manusia. Media-media regional dan bahkan internasional yang mengklaim dirinya sebagai media independen ternyata juga memilih untuk memboikit fenomena pembantaian massal. Televisi Arab Saudi al-Arabiya misalnya, lebih tertarik membenarkan intervensi militer Arab Saudi di Bahrain, bahkan secara transparan mendukung intervensi itu.

Anehnya, terkait pemberitaan kebangkitan rakyat Bahrain, media-media internasional kebanyakan mengambil sikap yang sama. Bertentangan dengan kode etik jurnalistik, media-media ini berusaha menyelewengkan kebangkitan rakyat Bahrain dan menyebut gerakan revolusioner mereka sebagai konflik Syiah dan Sunni. Televisi BBC malah menyebut para demonstran Bahrain sebagai pelaku kerusuhan dan terang-terangan memihak rezim al-Khalifa. Padahal mayoritas Syiah dan minoritas Sunni di Bahrain bahu-membahu untuk membebaskan negaranya dari cengkeraman rezim al-Saud dan al-Khalilfa.

Cara pandang berbeda sebagian negara dan organisasi-organisasi regional dan internasional terhadap Bahrain dan transformasi yang terjadi di sana membuat ketertindasan yang dialami oleh rakyat Barat semakin besar. Rakyat yang menuntut haknya mendapat tekanan paling biadab, tapi semua diam seribu bahasa menyaksikan pembantaian itu, bahkan sebagian negara malah mendukung tindakan represif rezim al-Khalifa. Tampaknya ketakutan akan meluasnya revolusi rakyat Bahrain ke negara-negara Arab lainnya membuat mereka terpaksa mengambil sikap demikian.

Bagaimana menurut Anda?


(IRIB/SL/MZ)

--
Salamun 'ala manittaba al Huda



ARMANSYAH

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment