Friday, January 14, 2011

Re: [Milis_Iqra] Inilah Argumen Ngawur 'Ratu Sepilis' Musdah Mulia Soal Jilbab

Bu musdah-nya sendiri pake jilbab ga?

On 1/12/11, Dani Permana <adanipermana@gmail.com> wrote:
> Ini bukan kali pertama Ratu Sepilis Musdah Mulia melontarkan argumen ngawur.
> Jilbab, menurut pejuang hak-hak asasi kaum homo dan lesbian ini, bukanlah
> merupakan kewajiban, melainkan pilihan.
>
> Pendapat itu terungkap dalam talkshow dan bedah buku berjudul "Psychology of
> Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas Jilbab)" di sebuah kampus di Jakarta,
> beberapa waktu lalu. Buku yang ditulis oleh Juneman, alumnus Fakultas
> Psikologi UPI YAI, dibedah oleh Siti Musdah Mulia, Guru Besar UIN Syarif
> Hidayatullah, Ciputat, Banten dan Bonar Hutapea.
>
> Juneman selaku penulis buku merasa pengamatannya telah memenuhi unsur
> ilmiah. Ia menyoroti perempuan yang melepas kembali jilbabnya (setelah
> sebelumnya mengenakan jilbab) dari perspektif psikososial filosofis dan
> didukung oleh teori-tori psikologi kontemporer.
>
> Faktanya, apanya yang ilmiah? Penelitian itu tak lebih, hanya didasari oleh
> rasa sentimen yang berlebihan alias lebay. Kasus perempuan melepas jilbab
> yang bersumber dari pengakuan Tari, Intan, Wina dan Lanni (dalam buku
> tersebut) adalah pemilihan narasumber yang subjektif, mengikuti selera
> penulis, yang digiring untuk menguatkan propaganda sepilisnya. Tak heran
> bila, pengakuan wanita bermasalah itu kemudian menjadi dalih untuk
> menyalahkan jilbab, bukan mencari akar permasalahan psikologi perempuan
> bersangkutan. Jilbab pun dikambinghitamkan.
>
> Seperti diketahui, jumlah perempuan berjilbab di Indonesia kian meningkat
> dari hari ke hari. Puncaknya terjadi pada pertengahan tahun 1990-an. Namun
> peningkatan itu bukannya malah disyukuri, tapi disikapi dengan sinis. Seolah
> fenomena jilbab tak lebih atas dorongan psikologis, modis, politis dan
> aturan (perda).
>
> ....Geliat perempuan berjilbab menjadi keresahan "Ratu Sepilis" Siti Musdah
> Muliah. Apakah perempuan yang melepas jilbab atau tidak berjilbab, tidak
> lebih religius ketimbang perempuan berjilbab? "Tak sedikit perempuan
> berjilbab menjadi korban perkosaan? ujar Musdah sinis....
>
> Geliat perempuan berjilbab itulah yang menjadi keresahan "Ratu Sepilis" Siti
> Musdah Muliah yang begitu su'udzon dengan fenomena itu dengan memberondong
> sejumlah pertanyaan sinis: apakah perempuan berjilbab kemudian tingkat
> keberagamaannya juga mengalami peningkatan? Apakah perempuan yang melepas
> jilbab atau tidak berjilbab, tidak lebih religius ketimbang perempuan
> berjilbab? "Tak sedikit perempuan berjilbab menjadi korban perkosaan," ujar
> Musdah sinis.
>
> Mencela Jilbab
>
> Menurut Profesor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat,
> realitas sosiologis di masyarakat, jilbab tidak menyimbolkan apa-apa, tidak
> menjadi lambang kesalehan dan ketakwaan. Tidak ada jaminan bahwa pemakai
> jilbab adalah perempuan shalehah, atau sebaliknya perempuan yang tidak
> memakai jilbab bukan perempuan shalehah. Jilbab tidak identik dengan
> kesalehan dan ketakwaan seseorang.
>
> "Tidaklah keliru jika dikatakan bahwa jilbab dan batas aurat perempuan
> merupakan masalah khilafiyah yang tidak harus menimbulkan tuduh menuduh
> apalagi kafir mengkafirkan. Mengenakan, tidak mengenakan, atau menanggalkan
> jilbab sesungguhnya merupakan pilihan, apapun alasannya. Yang paling bijak
> adalah menghargai dan menghormati pilihan setiap orang, tanpa perlu
> menghakimi sebagai benar atau salah terhadap setiap pilihan," kilah
> perempuan pengagum Gus Dur.
>
> Musdah juga mengemukakan kesimpulan dari Forum Pengkajian Islam UIN Sharif
> Hidayatullah tahun 1998: "Hukum Islam tidak menunjukkan batas aurat yang
> wajib ditutup, tetapi menyerahkan hal itu kepada masing-masing orang sesuai
> situasi, kondisi dan kebutuhan."
>
> "Kalau begitu, jelas bahwa menggunakan jilbab tidak menjadi keharusan bagi
> perempuan Islam, tetapi bisa dianggap sebagai cerminan sikap kehati-hatian
> dalam melaksanakan tuntutan Islam. Kita perlu membangun sikap apresiasi
> terhadap perempuan yang atas kerelaannya sendiri memakai jilbab, sebalinya
> juga menghargai mereka yang dengan pilihan bebasnya melenas atau membuka
> kembali jilbabnya. Termasuk mengapresiasi mereka yang sama sekali tidak
> tertarik memakai jilbab.
>
> ....Inilah kampanye kemungkaran yang didengungkan Musdah Mulia di
> kampus-kampus yang harus dilawan....
>
> Inilah kampanye kemungkaran yang didengungkan "Ratu Sepilis" Musdah Mulia
> (Sang Pembela hak-hak asasi kaum homo dan lesbian) di kampus-kampus yang
> harus dilawan. Dalam Islam, jilbab apapun yang menutup aurat perempuan,
> sesuai yang ditentukan syariat adalah kewajiban yang harus dipatuhi. Soal
> perempuan yang belum berjilbab, umat Islam tidak pernah mencela, apalagi
> menuduh sebagai wanita yang tidak baik.
>
> Bagi Muslimah yang melepas jilbabnya, hendaknya didiagnosa problema
> psikologi perempuan yang bersangkutan, bukan mengambinghitamkan jilbab.
> Mereka yang melepas jilbabnya, bisa saja akibat frustasi dengan persoalan
> hidup yang dihadapi, atau takut sulit mendapat pekerjaan. Sebaiknya, Ratu
> Sepilis itu tidak bersu'udzan soal perempuan berjilbab, juga tak perlu
> menilai moralitas mereka.
>
> Plintir Ayat
>
> Menurut Ratu Sepilis (sekularisme, pluralisme dan libealisme) Musdah Mulia,
> ada banyak alasan mengapa perempuan berjilbab.
>
> Sebagian beralasan memakai jilbab karena dipaksakan oleh aturan Perda
> tentang keharusan berjilbab. Sebagian lagi karena alasan psikologis, tidak
> merasa nyaman karena semua orang di lingkungannya memakai jilbab. Ada lagi
> karena alasan modis, agar tampak lebih cantik dan trendi, sebagai respon
> terhadap tantangan dunia model. "Ada juga berjilbab karena alasan politis,
> yaitu memenuhi tuntutan kelompok Islam tertentu yang cenderung mengedepankan
> simbol-simbol agama sebagai dagangan politik," ungkap Musdah, yang anti
> syariat Islam ini enteng.
>
> Jelas, Musdah berhasrat untuk membuat keraguan perempuan yang telah
> berjilbab dengan mengatakan, pandangan para ulama tidak tunggal tentang
> busana perempuan dalam Islam, tetapi sangat beragam. Ijtihad para ulama,
> katanya, bisa salah, bisa juga benar. "Perempuan boleh memilih pakaian yang
> disukainya, sesuai adab kesopanan yang umum berlaku dalam masyarakat. Rambut
> kepala bukanlah aurat, sehingga tidak perlu ditutupi," ujarnya.
>
> ....Musdah dengan lugas menentang ayat-ayat Al Qur'an soal jilbab, terutama
> surah Al-Ahzab (32,33, 55) dan an-Nur (30,31,60)....
>
> Musdah dengan lugas menentang ayat-ayat Al Qur'an soal jilbab, terutama
> surah Al-Ahzab (32,33, 55) dan an-Nur (30,31,60). Hadits riwayat Aisyah dan
> Abu Daud yang banyak dijadikan rujukan, dikatakan sebagai hadits ahad, bukan
> hadits mutawatir. Intinya, hadits ahad dianggap tidak kuat menjadi landasan
> hukum.
>
> "Jika teks-teks tentang jilbab tersebut dibaca dalam konteks sekarang,
> terlihat bahwa perempuan tidak perlu lagi memakai jilbab hanya sekadar agar
> mereka dikenali, atau mereka dibedakan dari perempuan yang berstatus budak,
> atau agar mereka tidak diganggu laki-laki jahat. Di masa sekarang, tidak ada
> lagi perbudakan, dan busana bukan ukuran untuk menetapkan identitas
> seseorang," tandasnya nyeleneh.
>
> Lebih lanjut, Ratu Sepilis itu mengatakan, dewasa ini banyak cara yang dapat
> dilakukan untuk membuat perempuan terhormat dan disegani, misalnya dengan
> meningkatkan kualitas pendidikan, memberdayakan mereka dengan skill dan
> ketrampilan, memenuhi hak-hak asasi mereka, khususnya hak-hak reproduksi
> perempuan. Ajaran Islam menghendaki para perempuan tetap terjaga
> moralitasnya, meskipun tidak menggunakan simbol-simbol seperti jilbab dan
> lainnya," ungkap Musdah ngawur.
>
> Mengaku demokratis, tapi dengan sewotnya Musdah menuduh perempuan berjilbab
> sebagai pamer. "Perempuan beriman tentu secara sadar akan memilih busana
> sederhana dan tidak berlebih-lebihan sehingga menimbulkan perhatian publik,
> dan yang pasti juga tidak untuk pamer (riya)."
>
> ....Mengaku demokratis, tapi dengan sewotnya Musdah menuduh perempuan
> berjilbab sebagai pamer....
>
> Asbab nuzul ayat-ayat tentang perintah jilbab disimpulkan Musdah, bahwa
> jilbab lebih bernuansa ketentuan budaya ketimbang ajaran agama. Sebab, jika
> jilbab memang diterapkan untuk perlindungan atau meningkatkan prestige kaum
> perempuan beriman, maka dengan demikian dapatlah dianggap bahwa jilbab
> merupakan sesuatu yang lebih bernuansa budaya daripada bersifat religi.
>
> "Memakai jilbab bukanlah suatu kewajiban bagi perempuan Islam. Itu hanyalah
> ketentuan Al Qur'an bagi para istri dan anak-anak perempuan Nabi. Jika
> perlindungan itu tidak dibutuhkan lagi karena sistem keamanan yang sudah
> sedemikian maju dan terjamin, tentu perempuan dapat memilih secara cerdas
> dan bebas apakah ia masih mau mengenakan jilbab atau tidak."
>
> Saatnya menolak proyek kaum sepilis di kampus-kampus untuk mengagendakan
> mahasiswi menanggalkan jilbabnya. Berkampanye melepas jilbab di
> kampus-kampus adalah proyek baru pengusung sekularisme. Meningkatnya
> perempuan Muslimah berjilbab, tak membuat "Ratu Sepilis" Siti Musdah Mulia
> berbangga hati. Menurutnya, jilbab bukanlah kewajiban, melainkan pilihan.
> Jilbab pun dikambinghitamkan. [Desastian]
>
> http://www.voa-islam.com/islamia/liberalism/2010/12/14/12281/inilah-argumen-
> ngawur-ratu-sepilis-musdah-mulia-soal-jilbab/
>
>
>
>
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-


--
mumun

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment