On 1/15/11, muntashir arifin <muntashir.rifin@gmail.com> wrote:
> Bu musdah-nya sendiri pake jilbab ga?
>
> On 1/12/11, Dani Permana <adanipermana@gmail.com> wrote:
>> Ini bukan kali pertama Ratu Sepilis Musdah Mulia melontarkan argumen
>> ngawur.
>> Jilbab, menurut pejuang hak-hak asasi kaum homo dan lesbian ini, bukanlah
>> merupakan kewajiban, melainkan pilihan.
>>
>> Pendapat itu terungkap dalam talkshow dan bedah buku berjudul "Psychology
>> of
>> Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas Jilbab)" di sebuah kampus di Jakarta,
>> beberapa waktu lalu. Buku yang ditulis oleh Juneman, alumnus Fakultas
>> Psikologi UPI YAI, dibedah oleh Siti Musdah Mulia, Guru Besar UIN Syarif
>> Hidayatullah, Ciputat, Banten dan Bonar Hutapea.
>>
>> Juneman selaku penulis buku merasa pengamatannya telah memenuhi unsur
>> ilmiah. Ia menyoroti perempuan yang melepas kembali jilbabnya (setelah
>> sebelumnya mengenakan jilbab) dari perspektif psikososial filosofis dan
>> didukung oleh teori-tori psikologi kontemporer.
>>
>> Faktanya, apanya yang ilmiah? Penelitian itu tak lebih, hanya didasari
>> oleh
>> rasa sentimen yang berlebihan alias lebay. Kasus perempuan melepas jilbab
>> yang bersumber dari pengakuan Tari, Intan, Wina dan Lanni (dalam buku
>> tersebut) adalah pemilihan narasumber yang subjektif, mengikuti selera
>> penulis, yang digiring untuk menguatkan propaganda sepilisnya. Tak heran
>> bila, pengakuan wanita bermasalah itu kemudian menjadi dalih untuk
>> menyalahkan jilbab, bukan mencari akar permasalahan psikologi perempuan
>> bersangkutan. Jilbab pun dikambinghitamkan.
>>
>> Seperti diketahui, jumlah perempuan berjilbab di Indonesia kian meningkat
>> dari hari ke hari. Puncaknya terjadi pada pertengahan tahun 1990-an. Namun
>> peningkatan itu bukannya malah disyukuri, tapi disikapi dengan sinis.
>> Seolah
>> fenomena jilbab tak lebih atas dorongan psikologis, modis, politis dan
>> aturan (perda).
>>
>> ....Geliat perempuan berjilbab menjadi keresahan "Ratu Sepilis" Siti
>> Musdah
>> Muliah. Apakah perempuan yang melepas jilbab atau tidak berjilbab, tidak
>> lebih religius ketimbang perempuan berjilbab? "Tak sedikit perempuan
>> berjilbab menjadi korban perkosaan? ujar Musdah sinis....
>>
>> Geliat perempuan berjilbab itulah yang menjadi keresahan "Ratu Sepilis"
>> Siti
>> Musdah Muliah yang begitu su'udzon dengan fenomena itu dengan memberondong
>> sejumlah pertanyaan sinis: apakah perempuan berjilbab kemudian tingkat
>> keberagamaannya juga mengalami peningkatan? Apakah perempuan yang melepas
>> jilbab atau tidak berjilbab, tidak lebih religius ketimbang perempuan
>> berjilbab? "Tak sedikit perempuan berjilbab menjadi korban perkosaan,"
>> ujar
>> Musdah sinis.
>>
>> Mencela Jilbab
>>
>> Menurut Profesor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
>> Ciputat,
>> realitas sosiologis di masyarakat, jilbab tidak menyimbolkan apa-apa,
>> tidak
>> menjadi lambang kesalehan dan ketakwaan. Tidak ada jaminan bahwa pemakai
>> jilbab adalah perempuan shalehah, atau sebaliknya perempuan yang tidak
>> memakai jilbab bukan perempuan shalehah. Jilbab tidak identik dengan
>> kesalehan dan ketakwaan seseorang.
>>
>> "Tidaklah keliru jika dikatakan bahwa jilbab dan batas aurat perempuan
>> merupakan masalah khilafiyah yang tidak harus menimbulkan tuduh menuduh
>> apalagi kafir mengkafirkan. Mengenakan, tidak mengenakan, atau
>> menanggalkan
>> jilbab sesungguhnya merupakan pilihan, apapun alasannya. Yang paling bijak
>> adalah menghargai dan menghormati pilihan setiap orang, tanpa perlu
>> menghakimi sebagai benar atau salah terhadap setiap pilihan," kilah
>> perempuan pengagum Gus Dur.
>>
>> Musdah juga mengemukakan kesimpulan dari Forum Pengkajian Islam UIN Sharif
>> Hidayatullah tahun 1998: "Hukum Islam tidak menunjukkan batas aurat yang
>> wajib ditutup, tetapi menyerahkan hal itu kepada masing-masing orang
>> sesuai
>> situasi, kondisi dan kebutuhan."
>>
>> "Kalau begitu, jelas bahwa menggunakan jilbab tidak menjadi keharusan bagi
>> perempuan Islam, tetapi bisa dianggap sebagai cerminan sikap kehati-hatian
>> dalam melaksanakan tuntutan Islam. Kita perlu membangun sikap apresiasi
>> terhadap perempuan yang atas kerelaannya sendiri memakai jilbab, sebalinya
>> juga menghargai mereka yang dengan pilihan bebasnya melenas atau membuka
>> kembali jilbabnya. Termasuk mengapresiasi mereka yang sama sekali tidak
>> tertarik memakai jilbab.
>>
>> ....Inilah kampanye kemungkaran yang didengungkan Musdah Mulia di
>> kampus-kampus yang harus dilawan....
>>
>> Inilah kampanye kemungkaran yang didengungkan "Ratu Sepilis" Musdah Mulia
>> (Sang Pembela hak-hak asasi kaum homo dan lesbian) di kampus-kampus yang
>> harus dilawan. Dalam Islam, jilbab apapun yang menutup aurat perempuan,
>> sesuai yang ditentukan syariat adalah kewajiban yang harus dipatuhi. Soal
>> perempuan yang belum berjilbab, umat Islam tidak pernah mencela, apalagi
>> menuduh sebagai wanita yang tidak baik.
>>
>> Bagi Muslimah yang melepas jilbabnya, hendaknya didiagnosa problema
>> psikologi perempuan yang bersangkutan, bukan mengambinghitamkan jilbab.
>> Mereka yang melepas jilbabnya, bisa saja akibat frustasi dengan persoalan
>> hidup yang dihadapi, atau takut sulit mendapat pekerjaan. Sebaiknya, Ratu
>> Sepilis itu tidak bersu'udzan soal perempuan berjilbab, juga tak perlu
>> menilai moralitas mereka.
>>
>> Plintir Ayat
>>
>> Menurut Ratu Sepilis (sekularisme, pluralisme dan libealisme) Musdah
>> Mulia,
>> ada banyak alasan mengapa perempuan berjilbab.
>>
>> Sebagian beralasan memakai jilbab karena dipaksakan oleh aturan Perda
>> tentang keharusan berjilbab. Sebagian lagi karena alasan psikologis, tidak
>> merasa nyaman karena semua orang di lingkungannya memakai jilbab. Ada lagi
>> karena alasan modis, agar tampak lebih cantik dan trendi, sebagai respon
>> terhadap tantangan dunia model. "Ada juga berjilbab karena alasan politis,
>> yaitu memenuhi tuntutan kelompok Islam tertentu yang cenderung
>> mengedepankan
>> simbol-simbol agama sebagai dagangan politik," ungkap Musdah, yang anti
>> syariat Islam ini enteng.
>>
>> Jelas, Musdah berhasrat untuk membuat keraguan perempuan yang telah
>> berjilbab dengan mengatakan, pandangan para ulama tidak tunggal tentang
>> busana perempuan dalam Islam, tetapi sangat beragam. Ijtihad para ulama,
>> katanya, bisa salah, bisa juga benar. "Perempuan boleh memilih pakaian
>> yang
>> disukainya, sesuai adab kesopanan yang umum berlaku dalam masyarakat.
>> Rambut
>> kepala bukanlah aurat, sehingga tidak perlu ditutupi," ujarnya.
>>
>> ....Musdah dengan lugas menentang ayat-ayat Al Qur'an soal jilbab,
>> terutama
>> surah Al-Ahzab (32,33, 55) dan an-Nur (30,31,60)....
>>
>> Musdah dengan lugas menentang ayat-ayat Al Qur'an soal jilbab, terutama
>> surah Al-Ahzab (32,33, 55) dan an-Nur (30,31,60). Hadits riwayat Aisyah
>> dan
>> Abu Daud yang banyak dijadikan rujukan, dikatakan sebagai hadits ahad,
>> bukan
>> hadits mutawatir. Intinya, hadits ahad dianggap tidak kuat menjadi
>> landasan
>> hukum.
>>
>> "Jika teks-teks tentang jilbab tersebut dibaca dalam konteks sekarang,
>> terlihat bahwa perempuan tidak perlu lagi memakai jilbab hanya sekadar
>> agar
>> mereka dikenali, atau mereka dibedakan dari perempuan yang berstatus
>> budak,
>> atau agar mereka tidak diganggu laki-laki jahat. Di masa sekarang, tidak
>> ada
>> lagi perbudakan, dan busana bukan ukuran untuk menetapkan identitas
>> seseorang," tandasnya nyeleneh.
>>
>> Lebih lanjut, Ratu Sepilis itu mengatakan, dewasa ini banyak cara yang
>> dapat
>> dilakukan untuk membuat perempuan terhormat dan disegani, misalnya dengan
>> meningkatkan kualitas pendidikan, memberdayakan mereka dengan skill dan
>> ketrampilan, memenuhi hak-hak asasi mereka, khususnya hak-hak reproduksi
>> perempuan. Ajaran Islam menghendaki para perempuan tetap terjaga
>> moralitasnya, meskipun tidak menggunakan simbol-simbol seperti jilbab dan
>> lainnya," ungkap Musdah ngawur.
>>
>> Mengaku demokratis, tapi dengan sewotnya Musdah menuduh perempuan
>> berjilbab
>> sebagai pamer. "Perempuan beriman tentu secara sadar akan memilih busana
>> sederhana dan tidak berlebih-lebihan sehingga menimbulkan perhatian
>> publik,
>> dan yang pasti juga tidak untuk pamer (riya)."
>>
>> ....Mengaku demokratis, tapi dengan sewotnya Musdah menuduh perempuan
>> berjilbab sebagai pamer....
>>
>> Asbab nuzul ayat-ayat tentang perintah jilbab disimpulkan Musdah, bahwa
>> jilbab lebih bernuansa ketentuan budaya ketimbang ajaran agama. Sebab,
>> jika
>> jilbab memang diterapkan untuk perlindungan atau meningkatkan prestige
>> kaum
>> perempuan beriman, maka dengan demikian dapatlah dianggap bahwa jilbab
>> merupakan sesuatu yang lebih bernuansa budaya daripada bersifat religi.
>>
>> "Memakai jilbab bukanlah suatu kewajiban bagi perempuan Islam. Itu
>> hanyalah
>> ketentuan Al Qur'an bagi para istri dan anak-anak perempuan Nabi. Jika
>> perlindungan itu tidak dibutuhkan lagi karena sistem keamanan yang sudah
>> sedemikian maju dan terjamin, tentu perempuan dapat memilih secara cerdas
>> dan bebas apakah ia masih mau mengenakan jilbab atau tidak."
>>
>> Saatnya menolak proyek kaum sepilis di kampus-kampus untuk mengagendakan
>> mahasiswi menanggalkan jilbabnya. Berkampanye melepas jilbab di
>> kampus-kampus adalah proyek baru pengusung sekularisme. Meningkatnya
>> perempuan Muslimah berjilbab, tak membuat "Ratu Sepilis" Siti Musdah Mulia
>> berbangga hati. Menurutnya, jilbab bukanlah kewajiban, melainkan pilihan.
>> Jilbab pun dikambinghitamkan. [Desastian]
>>
>> http://www.voa-islam.com/islamia/liberalism/2010/12/14/12281/inilah-argumen-
>> ngawur-ratu-sepilis-musdah-mulia-soal-jilbab/
>>
>>
>>
>>
>>
>> --
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>>
>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>>
>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
>
> --
> mumun
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
No comments:
Post a Comment