Wednesday, January 26, 2011

RE: [Milis_Iqra] Sahal Mahfudz: Kritik Boleh, Tapi Jangan Bikin Gaduh

From: milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com] On Behalf Of whe - en
 

1.    Al Imam Muslim berkata di muqodimah shahihnya: telah menceritakan kepadaku Makhlad bin Husian dari Hisyam dari Muhammad bin Sirin berkata:

"Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama tersebut."

Dari quote diatas, semoga mas dani tahu kenapa saya mempermasalahkan darimana saya mengambil ilmu, tanpa bermaksud "susah" seperti kata mas Dani.  Bagaimana kita bisa mengambil ilmu dari orang yang mengatakan "bodoh" kepada orang yang mengikuti sunnah Nabi-Nya

 

[Dani Permana]  Saya mengerti dengan keinginan M WN, dan itu adalah cara yang terbaik, dan memang harus begitu caranya mencari ilmu.

 

========== 

[dani permana] Yah memang segala sesuatu bisa dilihat dari sisi yang berbeda-beda, bahasa ilmiahnya comprehensive. Jika kita-kita sering membaca kitab-kitab klasik seperti Nailur Authar, Subulussalah, Tafsir Ath Thbari, Tarikh Athobary, Al Bidayah Wan Nihayah ibnu Katsir, dsb…  di buku-buku mereka tidak pernah ada bahwa pendapat merekalah paling benar, di kitab-kitab mereka slalu menggiring pembacanya untuk menganalisa dari beberapa pendapat dan membuat kesimpulan, itulah ulama sesungguhnya yang mengajarkan ilmu seluruhnya tidak separo-separo.

 Kita bisa lihat dengan kredibilitas ulama-ulama sekarang baik dalam artikel maupun buku2nya hanya berpegang kepada satu pendapat saja. Mungkin bahasa kasarnya "tidak seperti kuda dengan kacamatanya" ketika kusir tarik tali ke kiri si kuda belok ke kiri vice versa.

 On Behalf Of whe - en

Dari ke 3 artikel dari mas Dani yang ternyata cenderung mengingkari hadits menasehati penguasa dengan sembunyi sembunyi, bukankah ini tidak sesuai dengan apa yang ditulis diatas, karena jelas jelas menggiring kepada opini yang sudah 3 kali dibahas?

Kalau sudah begini, kuda yang mana yang mau dicopot kacamanyanya? :-) kuda yang mana yang mau dikasih kacamata? :-P  

 

[Dani Permana]  Saya mengerti jika M WN berpikiran demikian karena 3 artikel yang telah saya kirim berbeda dengan apa yang selama ini M WN pahami.

 

On Behalf Of whe - en

Bahkan sebagai orang yang menyampaikan dalil hadits tersebutpun tidak bisa menjelaskan.  Kalau pendapat mas Dani dhoif kenapa dipakai? Kalau mas dani berpendapat shahih seperi Al Albani, kenapa perbuatan mas Dani tidak menunjukkan itu.

Maaf ini bukan menyerang pribadi, namun saya mempertanyakan tindakan mas Dani sebagai pemosting hadits pertama kali.

 

[Dani Permana]  Setiap manusia memiliki pengetahuan yang bertambah-tambah, semakin bertambahnya ilmu semakin teliti dalam menilai.

 

On Behalf Of whe - en

3.    Mohon dapat disebutkan ulama yang mendhoifkan itu siapa saja?

(Dani) maaf saya tidak mengetahuinya mengapa Syaikh Albani mensahihkannya. Padahal ulama salaf sebelum syaikh Al Bani rahimahullah lahir telah mendho'ifkannya.

 

Sekali lagi, jika mas dani tidak tahu hadits ini kenapa shahih dan sudah tahu hadits ini dhoif, kenapa dipakai oleh mas Dani? Bukankah mas Dani sendiri yang mengemukakan hadits dhoif tidak bisa dijadikan landasan/ dalil?

 

[Dani Permana] Entah bagaimana saya harus menjelaskan ke M WN, dalam standard ilmu hadist, jika kita menemukan hadist yang saling bertentangan antara satu dan yang lainnya, maka boleh diambil salah satunya dan meninggalkan salah satunya atau diambil keduanya dan salah satunya dengan dengan syarat.

 

On Behalf Of whe - en

 

4.    Mohon pertanyaan pertanyaan saya mulai dijawab mas dani jika sudah ada waktu.  Tidak perlu saya quote lagi kan mas?

 

[Dani Permana] Tidak perlu karena sudah saya jawab,….

 

On Behalf Of whe - en

 

5.    Postingan di bawah ini adalah permintaan mas dani, saya sendiri tidak mampu mentakhrij-nya, jadi silahkan jika memang mau menerangkan kepada saya, lebih kuat mana yang mentakhrij dhoif atau shahih, dsb, {terlampir di link http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/05/takhrij-ringkas-hadits-iyaadl-bin-ghanm.html. }

 

[Dani Permana] Saya bukanlah ahli hadist/muhadist jadi jangan mempertanyakan sesuatu yang bukan pada ahlinya.

 

============================ 

6.    [Dani Permana] Nasehat itu bisa dilakukan dua kondisi, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Terang-terangan pun harus ada aturannya, sembunyi-sembunyipun harus ada aturan-aturannya. Namun yang saya pertanyakan golongan yang memilih nasehat dengan sembunyi-sembunyi "Apakah mereka melaksanakan apa yang mereka tulis dalam artikel-artikel mereka?

M WN sudah sering melampiran beberapa dalil yang menyatakan "kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat, kemudian  usus terburai karena mereka menasehati tentang amar ma'ruf namun mereka sendiri tidak melakukannya". Jadi sebagian ulama yang HANYA bisa menulis artikel "begino loh cara menasehati Penguasa. Silahkan Tanya balik "APAKAH mereka sudah melaksanakan NASEHATnya sendiri?  

On Behalf Of whe - en

Memang benar bahwa kedua cara menasehati mempunyai caranya sendiri sendiri.  Yang jadi masalah adalah, cara terang terangan jelas menyelisihi hadits sembunyi sembunyi.  Jadi orang cuma bisa memilih salah satunya apalagi jika hadits yang satu dianggap dhoif.  Dibolehkan terang terangan atau tidak dibolehkan terang terangan.  Mohon jangan bermain kata kata.

[Dani Permana] Menyelisihi hadist itu menurut M WN dan orang yang sepaham dengan M WN, bagi orang lain belum tentu. Contoh diluar masalah ini pun banyak, contoh masalah Penentuan Bulan Ramadhan….  

Mas Dani, apa yang ulama lakukan, bukan berarti menggugurkan suatu hadits kan?  Apa yang beliau beliau berikan masukan kepada penguasa tentunya tidak dishare ke umum, jatuhnya tidak diam diam kalau dishare begitu.

 [Dani Permana] Darimana M WN mengetahui? Dan apa hasilnya

Kalaupun tidak dilaksanakan, bukankah bukan berarti haditsnya yang salah?

 [Dani Permana]  Setuju….

On Behalf Of whe - en

Sebagai tambahan informasi, beliau beliau ternyata memang memberi masukan kepada penguasa secara diam diam, dan penguasa sangat berterimakasih atas masukannya dan ditindaklanjuti, inilah mungkin hikmahnya melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

 [Dani Permana] Siapa tuh?  

On Behalf Of whe – en

Telah berkata Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah :…….

 

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيُّ وَغَيْرُهُ قَالَ ........................dst

Telah menceritakan kepada kami Abul-Mughiirah : Telah menceritakan kepada kami Shafwaan : Telah menceritakan kepadaku Syuraih bin 'Ubaid Al-Hadlramiy dan yang lainnya, ia berkata : 'Iyaadl bin Ghanm pernah mencambuk orang Dariya ketika ditaklukkan. Hisyaam bin Hakiim meninggikan suaranya kepadanya untuk menegur sehingga 'Iyaadl marah. Kemudian 'Iyaadl radliyallaahu 'anhu tinggal beberapa malam, lalu Hisyaam bin Hakiim mendatanginya untuk memberikan alasan (apa yang telah ia perbuat sebelumnya kepada 'Iyadl). Hisyaam berkata kepada 'Iyaadl : "Tidakkah engkau mendengar Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : 'Orang yang paling keras siksaannya adalah orang-orang yang paling keras menyiksa manusia di dunia?'. 'Iyaadl bin Ghanm berkata : "Wahai Hisyaam bin Hakiim, kami pernah mendengar apa yang kau dengar dan kami juga melihat apa yang kau lihat. Namun tidakkah engkau mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda : 'Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dalam suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan. Akan tetapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika diterima, memang itulah yang diharapkan; namun jika tidak, maka orang tersebut telah melaksakan kewajibannya'. Engkau wahai Hisyaam, kamu sungguh orang yang lancang karena engkau berani melawan penguasa Allah. Tidakkah engkau takut jika penguasa itu membunuhmu lalu jadilah engkau orang yang dibunuh penguasa Allah tabaaraka wa ta'ala?" [Musnad Al-Imam Ahmad, 3/403-404].

…..dst sebagaimana artikel

[Dani Permana]  Mungkin M WN sekarang sadar atau tidak, setiap ulama akan memperkuat sanggahannya dan pendapatnya masing-masing, dan hal itu sudah terjadi sebelum M WN lahir kedunia ini, link akhi Abu Jauza saya pun sudah mengetahuinya sejak lama. SALING BANTAH dan saling memperkuat argument masing itu adalah kelebihan dan kemampuan mereka.

Kita-kita disini hanya bisa membaca, menganalisa dan memilih pendapat mana yang lebih rajah dibanding lainnya.

No comments:

Post a Comment