Monday, May 23, 2011

[Milis_Iqra] Kemajuan ala Iran Islami

Kemajuan ala Iran Islami
http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=33162:kemajuan-ala-iran-islami&catid=59:perspektif&Itemid=101


Pekerjaan-pekerjaan besar selalu dimulai dengan grandtheory. Teori tidak muncul dari ruang tanpa udara yang tertutup dan jauh dari lapangan. Segenap kekuatan intelektual harus dikerahkan untuk menghasilkan produk pemikiran yang ilmiah dan logis serta memiliki nilai guna. Untuk mewujudkan tujuan itu, Iran menggelar seminar, "Model Kemajuan Iran Islami" yang menghadirkan ratusan akademisi dari hauzah dan universitas Iran serta sejumlah direktur dari 24 pusat riset terkemuka di Tehran.

Kemajuan dan keadilan merupakan masalah yang sangat penting. Saking pentingnya kedua masalah tersebut, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei berulangkali menegaskan dalam berbagai ceramahnya. Pada ceramah tanggal 21 Maret 2011(awal tahun baru 1390 HS) di Mashhad, Rahbar mengatakan,"kemajuan tanpa keadilan, bukanlah kemajuan yang dimaksud dalam Islam. Meski produk domestik bruto (PDB) menembus angka yang tinggi sekalipun, jika disertai diskriminasi dan ketimpangan, maka tidak bisa dikatakan sebagai kemajuan yang dikehendaki Islam. Keadilan harus diwujudkan."

Kemajuan yang dimaksud Ayatullah Udzma Khamenei adalah kemajuan dari berbagai aspek dan seimbang. Rahbar mengemukakan empat pilar utama mewujudkan keadilan antara lain: pemikiran, ilmu pengetahuan, kehidupan dan spiritualitas. Berdasarkan prinsip ini, seminar "Model Kemajuan Iran Islami" mengedepankan kemajuan yang menyeimbangkan aspek dunia dan akhirat.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani dalam pembukaan seminar menyatakan bahwa keadilan merupakan infrastruktur pengetahuan. Larijani mengatakan, "Pembahasan keadilan yang ditinjau dari berbagai dimensi sangat serius dikaji pada ahli fiqih dan filosof. Imam Khomeini menyebut keadilan sebagai sebuah masalah fundamental. Beliau memandang kemajuan negara demi mewujudkan keadilan. Inilah sebuah masalah penting yang perlu mendapat perhatian dewasa ini."

Seraya menyinggung bahwa keadilan merupakan prinsip pemikiran non-agama dan agama, Larijani menegaskan,"Dalam pemikiran Islam, keadilan merupakan keutamaan. Sebagaimana petuah orang-orang besar, 'Sebuah pemerintahan kafir akan tetap bisa berkuasa jika adil, tapi ia akan hancur karena zalim'."

Penyusunan model kemajuan Iran-Islami bukan bermakna tidak menggunakan ilmu dan pengetahuan serta pengalaman yang datang dari Barat, maupun negara lain. Penggunaan pengalaman dari negara lain membutuhkan kearifan, kehormatan dan hikmah. Budaya Barat berangkat dari prinsip-prinsip materialisme yang meletakkan dunia sebagai kehidupan abadi. Hasil dari pemikiran ini adalah ketamakan untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya. Buntutnya terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap alam, merebaknya perang dan konflik di mana-mana, dekadensi moral dan penjajahan terhadap bangsa dan negara lain.

Moussa Haghani, Kepala Riset Institute Studi Sejarah Kontemporer Iran dalam ceramahnya di Seminar Model Kemajuan Iran-Islami mengatakan, "Model pembangunan Barat bukan resep yang baik bagi negara lain seperti Iran. Pertama, pandangan dunia Barat bertentangan dengan pandangan dunia Islam. Kedua, sejarah membuktikan bahwa Barat tidak tulus terhadap Iran. Sejatinya, Barat tidak menghendaki negara-negara lain maju dan menjadi pesaingnya. Pengalaman membuktikan bahwa negara-negara yang menerima dan menerapkan resep Barat secara taken for granted ternyata tidak mampu mencapai kemajuan sejati.

Secara umum, mereka yang mencapai kemajuan adalah yang menyusun model pembangunannya sendiri dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi dalam negeri."

Peneliti sejarah kontemporer Iran menegaskan, "Berdasarkan pandangan dunia religius, kita memiliki definisi khusus mengenai kemajuan, yang berpijak pada pandangan transendental. Pertumbuhan spiritual manusia seirama dengan kemajuan material. Pertumbuhan material harus menjadi tangga menuju perkembangan spiritual yang lebih tinggi dari kehidupan manusia. Revolusi Islam yang dipimpin Imam Khomeini menegaskan urgensi pertumbuhan yang berkelanjutan selain yang ditempuh Barat. Jika tidak, maka kita akan mengalami ketergantungan kepada Barat."

Tampaknya, kini tiba waktunya pemerintahan Iran menawarkan sebuah model baru pembangunan di arena dunia, tentu saja dengan berpegang pada ajaran profetik sebagai sarana mewujudkan keadilan dan kemajuan. Sebab agama Islam menyelaraskan dunia dengan akhirat. Saking pentingnya keadilan, Syahid Muthahhari menegaskan, "Tanpa kehadiran keadilan, akal, ilmu dan moral tidak akan tumbuh berkembang."

Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah (Hikmah, 437) menyatakan,"Keadilan adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya." Dengan demikian, keluarnya segala sesuatu dari tempatnya sebenarnya merupakan tindakan zalim kepada orang lain. Di bagian lain, Imam Sadiq as dalam Ushul Kafi jilid III mengungkapkan, "Jika seluruh manusia berperilaku adil, maka mereka tidak akan merana."

Nikbaksh Habibie, akademisi dari Universitas Tehran mengatakan, "Dalam model kemajuan Iran-islami, keadilan sebagai pondasi dan prinsip utamanya. Keadilan merupakan pondasi filsafat politik dan sistem pemerintahan di Iran sejak dahulu kala hingga kini. Dengan pengalaman ini, revolusi Islam melatakan kebudayaan Islam Iran dalam sejarah kemanusiaan." Tujuan besar dan prinsip rasionalitasnya adalah mewujudkan keadilan untuk mewujudkan kehidupan manusia yang bersih dan baik. Selain itu, untuk menumbuhkembangkan potensi seluruh individu dan sosial serta memberikan kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang. Kemajuan dan keadilan sebagai syarat untuk memenuhi kebutuhan material dan spiritual manusia, bersama pertumbuhan individu dan masyarakat."

Model kemajuan Iran Islami berpegang pada budaya Iran dan Islam. Muslim Iran menyumbangkan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ilmu dan pengetahuan dunia, sekaligus menghadiahkan orang-orang besar bagi dunia akademis.

Deretan nama besar seperti Ibnu Sina di bidang kedokteran dan filsafat, Razi di bidang kedokteran, Khawarizmi di bidang matematika, Abu Raihan Biruni di bidang astronomi, khawja Nasiruddin Tusi di bidang matematika, Hafez dan Saadi di bidang sastra.

Di sisi lain, pengajaran Islam dan bimbingan Rasulullah yang menegaskan urgensi menuntut ilmu memberikan konstribusi besar bagi peradaban Iran. Allah swt mengangkat orang-orang yang berilmu, dan ilmu sendiri adalah pilar keimanan. Dengan seluruh kekayaan khazanah ini, kaum muslim bisa menjadi pusat ilmu pengetahuan dan spiritualitas di dunia.

Budaya Iran islami memiliki kaitan logis antara dunia dan akhirat. Dunia merupakan sarana untuk mempersiapkan kehidupan abadi di akhirat. Dengan demikian, meskipun tujuan akhir adalah akhirat, namun untuk menuju ke sana perlu dunia. Terkait hal ini, al-Quran menegaskan bahwa kehidupan akhirat sebagai tujuan abadi, namun mengingatkan untuk tidak melupakan kehidupan duniawi. Hal ini merupakan prinsip untuk menyusun model Iran Islami yang maju.

Seminar Model Iran Islam Maju diakhiri dengan rekomendasi. Salah satunya menegaskan bahwa seminar ini adalah forum ilmiah yang harus membuahkan hasil signifikan sesuai harapan masyarakat Iran. Iran yang maju, namun tidak terwesternisasi adalah tuntutan bangsa Iran. Poros mewujudkan semua ini adalah berpikir Islami di tingkat pemikiran dan tindakan.(IRIB/PH/NA)

--
Salamun 'ala manittaba al Huda



ARMANSYAH

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment