Wednesday, November 18, 2009

[Milis_Iqra] Cinta Pengikut Yesus kepada Muhammad

(Testimoni untuk Fahd Djibran, Tasaro GK, dan Sang Penggenggam Hujan:
Sebuah Novel tentang Muhammad)

Setiap manusia bertanggung jawab pada segala hal yang dipahaminya
dalam level teori; cinta dan hal beriman kepada Tuhan. Setiap hari
pikiran manusia menumpuk berbagai konsep tentang cinta dan Tuhan. Kita
tak pernah lelah menganalisa kejadian demi kejadian yang kita alami,
menjadi hakim atasnya yang dengan sesuka hati memutuskan mana yang
salah dan mana yang benar, mana yang seharusnya terjadi dan mana yang
tidak perlu terjadi. Cinta dan Tuhan pun kemudian menjadi sesuatu yang
berbeda dalam setiap kepala. Keduanya memang tak perlu sama. Saya
punya konsep dan teori sendiri yang mungkin berbeda dengan yang anda
miliki, demikian sebaliknya.

Ribuan bahkan mungkin jutaan buku sudah dan sepertinya tetap akan
ditulis sebagai dedikasi untuk cinta dan Tuhan. Hingga saat ini,
bahkan kelak jika ramalan Nostradamus tentang kiamat 2012 terbukti
benar, kedua hal itu sepertinya tetap akan menjadi sesuatu yang tidak
bisa digeneralisasi. Sesuatu yang tidak bisa dikalimatkan dalam satu
konfigurasi kata-kata absolut yang disepakati bersama oleh semua
kepala yang pernah merumuskannya.

Saya seorang Kristen; pengikut Yesus yang mengimani Dia sebagai
manusia dengan citra Tuhan seutuhnya. Butuh semua keberanian dan
ketulusan hati yang saya punya untuk menuliskan kalimat itu. Beberapa
tahun belakangan bahkan hingga detik ini, saya masih hidup dalam
pergumulan dengan itu. Mengimani Yesus sebagai inkarnasi Tuhan. Tak
jarang saya bahkan mengingkari dan menafikanNya sementara tanpa tak
kenal malu saya selalu mengatakan 'Kristen' ketika ada yang menanyakan
agama yang saya anut.

Ketika mendengar Islam, tahukah anda apa yang muncul di kepala saya?
Dengan segenap kejujuran saya mengatakan bahwa 'poligami',
'terorisme', 'puasa yang dipamer-pamerkan', 'jihad', dan 'azan yang
mengganggu tidur siang' adalah imej yang selalu saya kaitkan dengan
Islam. Sebuah agama yang menganggap kami, orang Kristen, sebagai kaum
kafir calon penghuni neraka. Ini membuat saya agak takut bergaul
dengan kaum Muslimin. Namun, saya yakin ada yang salah dalam pemikiran
saya. Saya mengamini bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, namun
saya harus jujur mengatakan bahwa Islam yang saya tahu tidak seperti
itu.

Beberapa bulan yang lalu, saya mendatangi seorang Muslim di
Yogyakarta. Saya mengenal pemikiran-pemikirannya lewat sebuah blog.
Dengan sedikit nekat, saya menawarkan untuk janjian bertemu. Di sebuah
café, kami mengobrol santai selama dua jam lebih. Dan tahukah anda apa
yang saya rasakan saat itu? Saya kesulitan menjelaskannya secara
rinci. Ketika menceritakannya kepada beberapa kawan Kristen saya,
mereka malah menganggap saya sedang berencana menjadi mualaf. Kami
membincangkan banyak hal tentang Tuhan; Kristen dan Islam. Saya
mengajukan protes tentang beberapa ajaran Islam yang membuat saya
tidak nyaman. Bukan bantah-bantahan bukan pula debat kusir yang
kemudian terjadi, saya malah (alhamdulillah) mendapatkan begitu banyak
konfirmasi yang menyamakan persepsi yang semula keliru. Trinitas
menjadi kongruen dengan Nur Muhammad. Saya melihat iman Kristen
melalui penjelasan Islami. Menurut beliau, Islam adalah berserah. Bagi
saya, itu tidak ada bedanya secara esensi dengan Kristen yang saya
pahami; saya adalah manusia berdosa dan membutuhkan seorang
Juruselamat untuk mendapatkan keselamatan. Dan itu sudah diberikan
Tuhan lewat pengorbanan Kristus di kayu salib. Anda boleh tidak
percaya, tapi ketika berbincang tentang Tuhan dengan beliau, saya
melihat pendaran cahaya halus membungkus tubuhnya.

Beberapa bulan kemudian, lewat sebuah cara yang sangat tidak lazim dan
hingga kini kadang masih tidak saya sangka, saya berkenalan dengan
seorang Muslim yang lain. Sekalipun saya sudah mendapat 'pencerahan'
lewat diskusi dengan Fahd Djibran di Yogyakarta tentang Islam, tetap
saja saya masih punya keberatan-keberatan tentang Islam. Muslim dari
dunia maya ini kemudian menjadi seseorang di mana saya bercermin;
guru, sahabat, motivator, sekaligus saudara kembar non-biologis.
Dengannya, saya menggila. Deretan caci maki dan umpatan kasar saya
berikan padanya, bahkan ketika membincangkan agama kami masing-masing.
Anda tahu reaksinya seperti apa? Beliau memeluk saya hingga remuk.
Suatu malam di Bandung – mungkin salah satu durasi singkat di mana
saya berada dalam kondisi paling sadar sepanjang hidup saya – saya
hanya sanggup berbahasa dalam isak tangis dan derai tawa yang silih
berganti. Kemanusiaan saya terasa sungguh tak ada artinya. Saya merasa
ada sesuatu – entah Apa entah Siapa – yang hadir. Beliau memegang
pundak saya dan berkata, "Kamu melihat Yesus, bukan?" Saat itu,
sekujur tubuh saya merinding dalam kebahagiaan yang tak terkira, hanya
sanggup terespon berupa isak tangis yang makin menjadi-jadi. Lirik
lagu Amazing Grace saya lantunkan dalam melodi yang tidak karuan,
tumpang tindih dengan isak tangis yang sangat tidak harmonis. Seorang
muslim menunjukkan kepada saya bahwa Yesus itu benar-benar ada.

Saat ini, 'cermin' itu, Tasaro GK, sedang menulis sebuah buku. Saya
sungguh terhormat mendapat kesempatan membaca draft awalnya dan
sedikit-sedikit menjadi editor dadakan meski hanya sekadar mengedit
kata-kata yang salah ketik. Muhammad, seorang Nabi yang kehadiranNya
dinubuatkan oleh kitab suci agama-agama lain termasuk Kristen.
Membacanya membuat saya lebih mengenal Muhammad, seorang suami bagi
beberapa istri. Konsep poligami yang saya pahami sebelumnya berubah
total. Ajaran tentang 'kasihilah musuhmu' yang dulu setahu saya hanya
ada dalam Kristen, ternyata juga ada dalam Islam. Saya mengetahuinya
lewat novel itu. Sebagi sebuah novel, buku ini tidak lepas dari
keindahan alur cerita dan kejutan-kejutan yang menurut saya pribadi
sebaiknya ada di setiap novel. Namun, yang lebih bermakna dari itu
adalah saya lebih nyaman memelajari Islam yang dikemas dalam bentuk
novel dibandingkan dengan membaca buku-buku tentang Islam lainnya
dalam format yang berbeda.

Mengenal kedua orang di atas adalah anugerah yang luar biasa bagi
saya. Saya bisa memelajari Islam tanpa perlu merasa sedang di-
Islamkan. Membaca 'Sang Penggenggam Hujan' adalah kebahagiaan tak
terhingga bagi saya. Saya dikenalkan dengan Muhammad tanpa harus
menafikan ke-Tuhanan Yesus. Saya mengamini kalimat Syahadat tanpa
perlu meragukan kebenaran Pengakuan Iman Rasuli.

Mungkin ada yang akan bertanya, kenapa tidak masuk Islam? Jika ada,
saya akan balik bertanya, kenapa harus masuk Islam? Masalah beragama
bagi saya adalah soal kenyamanan. Hingga saat ini, saya masih sangat
nyaman dengan Kristen. Dan, berbicara tentang kenyamanan, adakah
standar umum yang bisa dipakai? Saya kira tidak ada. Kenyamanan sangat
subjektif. Mungkin terlalu naïf jika alasan saya belum berpikiran
untuk pindah agama adalah karena saya masih merindukan Natal yang
syahdu, masih sering merinding mendengar dan menembangkan sendiri
kidung puji-pujian bagi Yesus. Semoga itu cukup.

Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Begitu pula dengan teori tanpa
praktik. Saat ini, sebagian besar keimanan saya masih ada dalam fase
teori, masih jauh dari ranah praktis. Butuh keberanian bagi saya untuk
menuliskan testimoni ini. Sebuah 'tantangan' bagi saya untuk berhenti
mengonsep dan lebih banyak berbuat. Kadang terbersit dalam pikiran
saya untuk berhenti menumpuk teori. Lebih baik tidak tahu daripada
tahu tapi tidak sanggup mempraktikkannya. Namun, sepertinya kita tidak
bisa memilih untuk itu. Masalahnya bukan bagaimana menolak semua teori
masuk ke dalam kepala, melainkan bagaimana teori yang ada dalam kepala
kita mewujud dalam kehidupan nyata lewat kata-kata, pikiran, dan
perbuatan.

Testimoni ini pun adalah teori, sebuah konsep yang ada dalam kepala
saya. Menuliskannya tidak bermaksud untuk menunjukkan bahwa saya tahu
sesuatu, entah apa itu. Kekristenan saya masih jauh dari citra Kristen
yang sesungguhnya. Entah darimana saya mendapatkan keberanian untuk
memelajari agama lain sementara agama saya sendiri belum saya amalkan
dengan baik. Membandingkan Islam dengan Kristen tidak saya lakukan
untuk mencari mana yang lebih benar. Saya hanya ingin lebih bisa
toleran terhadap Islam, juga agama dan kepercayaan yang lain. Semoga
tidak ada yang salah dengan setiap pencarian yang saya lakukan. Lewat
testimoni ini, saya ingin mengekspresikan ungkapan syukur saya kepada
hidup yang secara tidak kebetulan sudah mengenalkan saya dengan Fahd
Djibran, Tasaro GK dan 'Sang Penggenggam Hujan'.


-Rampa Maega-

Sebuah tempat di rimba Kalimantan

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

No comments:

Post a Comment