Saturday, February 5, 2011

[Milis_Iqra] Orang Musyrik Quraisy juga beriman kpd Allah sbg Rabb,melakukan shalat,membayar infaq,melaksanakan haji

Q.S. 10/31.
Jika kaum musyrik ditanya siapa Rabbnya,pasti akan dijawab Allah. Dalam keseharian kaum musyrik terbiasa juga bersumpah dngan menyebut demi Allah.

Q.S. 8/34.
Kaum Quraisy menguasai Masjidil Haram,melakukan tawaf dan sai peninggalan syiar Nabi Ibrahim dan mencegah kaum muslimin melakukan ibadah haji

Q.S. 8/35 (wamaa kaana shalaa tuhum dst)
Dan shalat mereka (kaum musyrik Quraisy) di sekitar baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan belaka (tidak diterima disisi Allah)

Q.S. 8/36
Orang2 kafir (quraisy) scara sadar/tidak berinfaq untuk menghalangi orang dari jalan Allah

Lalu apa alasan Rasulullah menghancurkan rezim Quraisy di Semenanjung Arab? Ya, krn mereka berbuat syirik.

Beruswah pada Nabi Muhammad: tdk cukup menilai boleh/tidaknya bertentangan dgn penguasa hanya dari sholat, tp perlu dilihat lagi dia berbuat/mndukung kesyirikan tidak?justru kesyirikan seseorang yg akan mendorong dia berbuat fasik dan zalim.orang yg bertaqwa tdk akan mungkin berbuat fasik dan zalim. Begitu pun ibadah seseorang yg melakukan kesyirikan,sebagus apapun ibadahnya, tidak akan ditrima oleh Allah.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: whe.en9999@gmail.com
Sender: milis_iqra@googlegroups.com
Date: Sat, 5 Feb 2011 02:00:46
To: <milis_iqra@googlegroups.com>
Reply-To: milis_iqra@googlegroups.com
Subject: Re: [Milis_Iqra] Jangan Diberi Hak Hidup Rezim Yang Korup

Alhamdulillah,
Memang demikian yang saya tahu mas 1tim17, namun seperti biasa, orang yang melaksanakan perintah Allah dan RasulNya ibarat memegang bara api, tidak dilepas begitu berat menanggungnya karena dilecehkan, ditertawakan, dibuat bahan ledekan,

Padahal jelas2 Allah memperingatkan dan mengancam orang yang tidak mengikuti Rasul, bukannya takut, bukannya bergetar hatinya mendengar ancaman Allah, tetap saja berlaku jahil meledek orang yang memegang perintah Allah.

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. [An Nur : 63].
 
Semoga, seberat apapun cobaan dari orang2 yang tidak menginginkan perintah Allah dan Rasul ditegakkan, kita bisa berada di jalan yang Allah ridha i.

Regards
Whe-en

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: satutimotius tujuhbelas <satutimotius.tujuhbelas@gmail.com>
Sender: milis_iqra@googlegroups.com
Date: Sat, 5 Feb 2011 08:22:45
To: <milis_iqra@googlegroups.com>
Reply-To: milis_iqra@googlegroups.com
Subject: Re: [Milis_Iqra] Jangan Diberi Hak Hidup Rezim Yang Korup

Pendapat? saya pikir itu adalah hadist shahih, bukan pendapat pribadi.

"Jangan menentang mereka, selama mereka masih tetap
mendirikan solat di kalanganmu semua." (Riwayat Muslim)
Nomor: 658 Sumber: riyadhus-shalihin

On 2/5/11, subandrio.andri@gmail.com <subandrio.andri@gmail.com> wrote:
> Tetap saja ada yg berpendapat tidak boleh dinasehati secara terang-terangan
> apalagi dilengserkan selama pemimpin yg koruptor itu masih shalat?
>
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
> Teruuusss...!
>
> -----Original Message-----
> From: Dani Permana <adanipermana@gmail.com>
> Sender: milis_iqra@googlegroups.com
> Date: Fri, 4 Feb 2011 21:53:30
> To: <milis_iqra@googlegroups.com>
> Reply-To: milis_iqra@googlegroups.com
> Subject: RE: [Milis_Iqra] Jangan Diberi Hak Hidup Rezim Yang Korup
>
> Sebagai tambahan informasi
> http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi
>
> Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna
> busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi
> adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai
> negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau
> memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan
> publik yang dipercayakan kepada mereka.[1]
> Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup
> unsur-unsur sebagai berikut:
> perbuatan melawan hukum;
> penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana;
> memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi;
> merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;
> Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, di
> antaranya:
> memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan);
> penggelapan dalam jabatan;
> pemerasan dalam jabatan;
> ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara);
> menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).
> Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan
> jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan
> rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang
> paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi
> dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan
> sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya
> pemerintahan oleh para pencuri, dimana pura-pura bertindak jujur pun tidak
> ada sama sekali.
> Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele
> atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan
> kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan
> prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk
> mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk
> membedakan antara korupsi dan kriminalitas|kejahatan.
> Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara yang
> dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada
> yang legal di satu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain.
>
> -----Original Message-----
> From: aendangzr@yahoo.co.id
> Sent: Friday, February 04, 2011 8:26 PM
> To: milis_iqra@googlegroups.com
> Subject: Re: [Milis_Iqra] Jangan Diberi Hak Hidup Rezim Yang Korup
>
> Mas dani, saya tidak menemukan tentang korupsi dalam istilah keagamaan baik
> dalam nash alquran maupun riwayat hadits.
> Korupsi sendiri berasal dari bahasa latin yg secara singkat adalah penyalah
> gunaan wewenang dan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri.bila sebuah
> rezim berkuasa melakukankorupsi hasil nya bisa menyengsarakan sendi sendi
> kehidupan rakyat.karena sumber sumber kekayaan yg seharusnya untuk
> kepentingan kesejahteraan disalah gunakan.
> Bagaimana menurut hukum syar'i bila hal ini terjadi?
>
> Terima kasih
> Sent from BlackBerry® on 3
> From: "Dani Permana" <adanipermana@gmail.com>
> Sender: milis_iqra@googlegroups.com
> Date: Fri, 4 Feb 2011 16:13:52 +0700
> To: <milis_iqra@googlegroups.com>
> ReplyTo: milis_iqra@googlegroups.com
> Subject: RE: [Milis_Iqra] Jangan Diberi Hak Hidup Rezim Yang Korup
>
>
> From: milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com] On
> Behalf Of satutimotius tujuhbelas
>
>
> Jadi kedudkan hadist yang menerangkan pemerintahan tdk boleh dikudeta selama
> masih mengerjakan sholat ditaruh mana mas?
> [Dani Permana] di hadist tidak disebutkan kudeta, akan tetapi di perangi.
> Maka saya tidak mengetahui akan di taruh dimana. Karena pokok
> permasalahannya adalah beda.
> 2011/2/4 Dani Permana <adanipermana@gmail.com>
>
> From: milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com] On
> Behalf Of Nandang Sudrajat
> Apa yang dimaksud dengan kekufuran yang nyata?
>
> [Dani Permana] Rezim Yang Korup termasuk kekufuran yang nyata bukan yah?
>
>
> --- Pada Jum, 4/2/11, Dani Permana <adanipermana@gmail.com> menulis:
>
> Dari: Dani Permana <adanipermana@gmail.com>
> Judul: RE: [Milis_Iqra] Jangan Diberi Hak Hidup Rezim Yang Korup
> Kepada: milis_iqra@googlegroups.com
> Tanggal: Jumat, 4 Februari, 2011, 3:37 PM
> Sekarang bagaimana mungkin sebuah bangsa yang mengaku mempunyai agama,agama
> yang disebut sebagai agama rahmatan lil alamin,dimana keadilan adalah
> sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari agama itu sendiri. Melakukan
> pembiaran terhadap penguasa bila penguasanya melakukan hal hal yang dianggap
> dzalim dengan tidak boleh diturunkan? rasanya tidak masuk akal !!!!
>
> [Dani Permana] Mungkin dengan hadist ini jadi masuk akal…..
>
> ""Nabi SAW mengundang kami, lalu kami mengucapkan baiat kepada beliau dalam
> segala sesuatu yang diwajibkan kepada kami bahwa kami berbaiat kepada beliau
> untu selalu mendengarkan dan taat [kepada Allah dan Rasul-Nya], baik dalam
> kesenangan dan kebencian kami, kesulitan dan kemudahan kami dan beliau juga
> menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya
> kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata [dan] memiliki
> bukti yang kuat dari Allah."[HR. Bukhari]"
>
>
> From: milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com] On
> Behalf Of Nandang Sudrajat
> Sent: Friday, February 04, 2011 2:41 PM
> To: milis_iqra@googlegroups.com
> Subject: Bls: [Milis_Iqra] Jangan Diberi Hak Hidup Rezim Yang Korup
>
> Tanpa berpedoman pada sebuah agama apapun, rezim yang korup layak untuk
> tidak diberi hak hidup.Tanpa pedoman agama apapun kita diberi akal untuk
> tidak memberi tempat kepada penguasa yg korup.Dimanapun , di negara manapun
> , menurut kaidah yang rasional,dan universal  tidak ada satu orang pun yang
> setuju dengan rezim yang korup. Karena korupsi adalah bentuk
> kedzaliman.Negara sekuler saja mengatur bagaimana bila rezim yang berkuasa
> berbuat dzalim. Demi keadilan di sebuah negara sekuler saja rezim seperti
> ini bisa diturunkan dari kekuasaanya di tengah jalan atau yang biasa disebut
> impeachman.Di negara sekuler saja peraturan impeachment itu sangat jelas.
> Impeachment dapat dilakukan apabila sebuah rezim melaksanakan pelanggaran
> hukum yang berat, pengkhianatan terhadap negara, korupsi, menerima suap dan
> pelanggaran - pelanggaran hukum yang berat lainnya, melakukan perbuatan
> tercela dan tidak lagi mampu mengemban tugas sebagai penguasa rezim.ini
> adalah hal yang legal .Dan Ini adalah nilai nilai yang berlaku secara
> universal.
>
> Sekarang bagaimana mungkin sebuah bangsa yang mengaku mempunyai agama,agama
> yang disebut sebagai agama rahmatan lil alamin,dimana keadilan adalah
> sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari agama itu sendiri. Melakukan
> pembiaran terhadap penguasa bila penguasanya melakukan hal hal yang dianggap
> dzalim dengan tidak boleh diturunkan? rasanya tidak masuk akal !!!!
>
> --- Pada Jum, 4/2/11, Dani Permana <adanipermana@gmail.com> menulis:
>
> Dari: Dani Permana <adanipermana@gmail.com>
> Judul: [Milis_Iqra] Jangan Diberi Hak Hidup Rezim Yang Korup
> Kepada: milis_iqra@googlegroups.com
> Tanggal: Jumat, 4 Februari, 2011, 2:01 PM
> Jangan Diberi Hak Hidup Rezim Yang Korup
> Rakyat harus bangkit melawan setiap rezim yang korup. Jangan dibiarkan
> mereka terus berkuasa. Bertengger di puncak kekuasaan. Jangan diberikan hak
> hidup mereka yang korup. Membiarkan mereka berkuasa, hanyalah sama dengan
> kematian bagi rakyatnya. Tidak ada kebaikan sedikitpun bagi rezim yang
> korup. Mereka secara sadar hanya ingin menghancurkan rakyatnya. Mereka tanpa
> ada belas kasihan terhadap rakyat.
> Rezim yang korup di manapun mereka menjadi begitu sangat tamak dan rakus.
> Mereka tidak akan pernah puas dan cukup dengan kekayaan dan kekuasaan yang
> mereka miliki. Kekuasaan yang mereka miliki hanyalah untuk pribadi mereka,
> keluarga mereka, dan kroni-kroni mereka. Bukan untuk rakyat. Rakyat hanyalah
> mereka jadikan sebagai budak, yang mereka ekploitasi demi kekuasaan,
> keluarga dan kroni-kroni mereka.
> Mereka mengelola pemerintahan dan negara seperti organisasi mafia.
> Segelintir orang yang dekat dengan kekuasaan, sangat berkuasa, dan
> menjalankan kekuasaan. Mereka menguasai seluruh asset negara, sumber daya
> alam, dan pemerintahan, serta aparat militer, polisi dan intelijen.
> Pemerintahan yang korup itu, di kelilingi oleh isteri, anak, saudara, sanak
> famili, dan kroni-kroni. Mereka inilah sejatinya yang berkuasa.
> Mereka rezim yang korup itu menjadi perpanjangan tangan penjajah asing, yang
> ingin menguasai sebuah negara. Mereka hanya mengabdi kepada asing, bukan
> kepada rakyatnya. Karena asing lah yang bisa melindungi mereka. Dengan
> senjata. Dengan senjata itu rezim-rezim yang korup itu, melakukan kekerasan
> yang sangat kejam untuk menindas rakyatnya. Dengan berbagai dalih. Termasuk
> menuduh mereka sebagai teroris dan anggota kelompok al-Qaidah. Sejatinya
> para rezim yang korup lebih jahat dibandingkan semuanya yang disebut teroris
> itu.
> Para rezim yang korup itu sangat erat dengan para penjajah. Mereka tidak
> merasakan negerinya sudah dijajah dan dikuasai. Mereka menjual negaranya
> kepada asing dengan sadar. Melalui berbagai kebijakan yang mereka lakukan.
> Lihatlah semua negeri-negeri Muslim sekarang, para pemimpinnya hanyalah
> perpanjangan para penjajah Barat. Mereka menjadi budak Barat. Mereka
> hanyalah menjalankan kebijakan dan kepentingan Barat. Inilah yang akan
> menghancurkan negeri-negeri Muslim, disebabkan para pemimpin mereka,
> sejatinya hanyalah merupakan kelanjutan  penajajahan.
> Salah satu contoh yang sekarang terjadi di Tunisia. Bagaimana El Abidin dan
> Leila berkuasa 23 tahun. Menguasai negara bersama anaknya, saudaranya, dan
> kroni-kroninya yang sangat biadab. News Week menyebutkan pemerintahan El
> Abidin mirip sebuah organisasi mafia. Bukan sebuah pemeritahan yang menganut
> tata cara yang semestinya. Mereka mengelola negara dengan sangat terbatas.
> Membiarkan rakyatnya miskin, menganggur, dan hanya makan sekerat roti.
> Anak-anak muda menjadi penganggur tidak mendapatkan pekerjaan. Semuanya
> perusahaan dan kantor-kantor, diberikan kepada asing, yang menjadi kroni
> keluarganya.
> Sementara itu, El Abidin hidup di Istana yang sangat mewah di tepian laut
> Mediterania, di kamar-kamar yang mewah, dan membangun balkon, yang dilapisi
> permadani dan emas, yang sangat luar biasa.
> Isterinya pergi ke Paris, Roma, dan London, hanya sekadar untuk belanja
> pakaian. Kedua anak perempuannya tinggal di Paris, di sebuah rumah mewah,
> dan hidup di kamar hotel suit dengan harga kamar semalam Rp 7 juta. Salah
> seorang suami anak perempuannya, memelihara harimau, yang diberi makan
> daging pilihan. Anak-anak El Abidin mendapatkan pengawalan dan pembantu yang
> akan terus melayaninya.
> Ketika meninggalkan Tunisia, Leila memerintahkan suaminya El Abidin agar
> Gubernur Bank Sentral Tunisia, melepaskan emas bantangan senilai 1,5 ton. El
> Abidin meninggalkan Tunisia dengan membawa lari uang Rp 50 triliun. Di
> simpan di berbagai bank di Eropa.
> Sebuah kejahatan yang tak bisa lagi dicerna oleh nalar manusia. Seorang
> penguasa yang begitu tamak dan rakus, membiarkan rakyatnya miskin, dan tanpa
> masa depan. Sementara itu, dia terus membangun kehidupan yang luar biasa
> kememawahannya.
> Inilaha ironi seluruh penguasa yang ada sekarang ini. Mereka hanyalah
> kumpulan orang-orang yang korup, sembari menghancurkan rakyatnya sendiri,
> dan mengabdi kepada Barat. Wallahu'alam.
> http://www.eramuslim.com/editorial/jangan-diberi-hak-hidup-rezim-yang-korup.htm
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> No virus found in this message.
> Checked by AVG - www.avg.com
> Version: 10.0.1204 / Virus Database: 1435/3421 - Release Date: 02/03/11
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> No virus found in this message.
> Checked by AVG - www.avg.com
> Version: 10.0.1204 / Virus Database: 1435/3421 - Release Date: 02/03/11
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> No virus found in this message.
> Checked by AVG - www.avg.com
> Version: 10.0.1204 / Virus Database: 1435/3421 - Release Date: 02/03/11
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

Re: [Milis_Iqra] Garis Tipis Antara Benar dan Salah

ya sungguh tipis,..karena yang melakukan semuanya itu adalah "manusia"

On 2/5/11, Armansyah <armansyah.skom@gmail.com> wrote:
> Garis Tipis Antara Benar dan Salah
>
> http://esq-news.com/karya-alumni/2011/01/31/garis-tipis-antara-benar-dan-salah.html
>
> Beberapa minggu kemarin masyarakat di beberapa negara dunia melakukan
> berbagai aksi sosial dengan turun ke jalan guna memprotes berbagai kebijakan
> dan menyatakan mosi tidak percaya pada pemimpin pemerintah yang sedang
> berkuasa, bahkan aksi tersebut telah memakan korban jiwa yang tidak sedikit,
> seperti yang terjadi di Tunisia dan Mesir.
>
> Di Indonesia sendiri telah mulai bermunculan beberapa indikasi dari
> ketidak-percayaan masyarakat akan pemerintahan SBY, salah satunya adalah
> seperti yang dilakukan oleh para Tokoh Lintas Agama pada tanggal 17 Januari
> yang lalu. Tokoh Lintas Agama tersebut bisa dikatakan sebagai "*
> representative*" dari masyarakat Indonesia karena mewakili seluruh agama
> yang diakui oleh pemerintah, mereka sepakat menyatakan bahwa pemerintah SBY
> telah melakukan kebohongan publik karena apa yang disampaikan dalam Laporan
> Pertanggungjawaban 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu II serta publikasi
> pencitraan yang selama ini digembar-gemborkan tidak sesuai dengan kenyataan
> yang terjadi di lapangan. Bukankah segala yang baik itu akan tetap menjadi
> baik, dan kebusukan itu akan tetap tercium baunya walau ditutup-tutupi?
> Bahkan Abraham Lincoln pun pernah berkata bahwa "*No man has a good enough
> memory to make a successful liar*".
>
> Saya jadi teringat akan kasus yang dahulu pernah dialami oleh ESQ. Tidak
> terasa hampir setahun sudah sejak dikeluarkannya fatwa sesat kepada ESQ oleh
> salah satu mufti Malaysia yaitu Datuk Hj. Wan Zahidi bin Wan Teh (Mufti
> Wilayah Persekutuan) pada tanggal 10 Juni 2010. Dalam fatwa tersebut
> dikatakan ada 10 landasan yang menyatakan bahwa ESQ itu adalah ajaran sesat
> dan menyesatkan. Bagi saya pribadi itu adalah sebuah fitnah yang tidak
> berdasar sama sekali karena setahu saya mufti tersebut tidak pernah
> mengikuti training ESQ dan tidak pernah mau menemui Bapak Ary Ginanjar untuk
> mendengarkan penjelasan mengenai ESQ (lantas 10 landasan tersebut beliau
> temukan dari mana?).
>
> Setelah melalui perjuangan dan perjalanan panjang, pada akhirnya dari 14
> mufti hanya 1 mufti saja yang menyatakan bahwa ESQ sesat. Di tanah air
> sendiri, ESQ harus berhadapan dengan sekelompok kecil ormas yang dengan
> kerasnya menyatakan bahwa ESQ sesat hingga akhirnya kasus ini dibawa ke
> Majelis Ulama Indonesia untuk dikaji dan dipelajari lebih lanjut di bagian
> Pengkajian yang dipimpin oleh Prof. Dr. Utang Ranuwijaya.
>
> Di tengah-tengah MUI melakukan proses pengkajian atas materi ESQ, berbagai
> dukungan mengalir dari beberapa organisasi kemasyarakatan seperti
> Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, ICMI, dan ormas lainnya yang telah mengetahui
> dan mengikuti training ESQ sebelumnya.* Sebuah kabar gembira kemudian muncul
> pasca pengkajian MUI dimana pada akhirnya dinyatakan bahwa ESQ sama sekali
> tidak bermasalah dari segi syariah, bahkan MUI telah mengeluarkan Sertifikat
> Kesesuaian Syariah kepada ESQ pada tanggal 25 Januari 2011.*
>
> Dengan dikeluarkannya sertifikat tersebut maka berakhirlah polemik di tengah
> masyarakat akan posisi ESQ, bahkan MUI sendiri akan memberikan penjelasan
> langsung atas putusannya tersebut kepada masyarakat Indonesia maupun kepada
> berbagai pihak di negara lain.
>
> Pada akhirnya segala sesuatu yang berasal dari hati akan kembali ke hati,
> dan segala yang baik akan tetap menjadi baik. Telah ada batasan yang jelas
> antara yang baik dan yang buruk, namun nasehat-menasehati dalam kebaikan
> harus tetap dilakukan dengan cara yang baik karena manusia adalah tempatnya
> salah dan dosa.
>
> *by Windmill – Time goes wherever you are*
>
> *
> *
> --
> Salamun 'ala manittaba al Huda
>
>
>
> ARMANSYAH
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

Re: [Milis_Iqra] Kembalilah Kepada Al Quran Dan As Sunnah!

Islam dari Awal sudah sempurna


On 2/5/11, whe.en9999@gmail.com <whe.en9999@gmail.com> wrote:
> Hehheh, tanpa bermaksud sombong mas Arman, takut ada yang salah sangka,
> mendingan saya belajar daripada berminggu minggu ga nyambung dan ga fokus,
> masa seorang muslim koq jatuh ke lubang yang sama dua kali (ini pinjam
> kalimat loch)
>
> Biar ga hilang topiknya ya mas Arman saja yang diskusi, tak belajar saja :-D
>
> Regards
> Whe-en
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>
> Sender: milis_iqra@googlegroups.com
> Date: Sat, 5 Feb 2011 23:05:56
> To: <milis_iqra@googlegroups.com>
> Reply-To: milis_iqra@googlegroups.com
> Subject: Re: [Milis_Iqra] Kembalilah Kepada Al Quran Dan As Sunnah!
>
> Membaca sekilas posting ini saya jadi ingat beberapa waktu yang lalu, mas
> Dani Permana pernah melempar sebuah topik diskusi, dimana sebenarnya buat
> saya pribadi sangat menarik karena ternyata derajat hadis tentang berpegang
> pada al-Qur'an dan sunnah dibawah derajat hadis berpegang pada al-Qur'an dan
> ahli bait. Tapi topik ini langsung saja menjadi hilang tanpa ada lagi yang
> mau memberikan komentar atau tanggapannya.
>
> Berikut saya forwardkan ulang :
>
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>
> Date: 2010/8/30
> Subject: Re: [Milis_Iqra] Kitabullah dan Sunnahku atau Kitabullah dan
> Keturunanku (Ahlu Bayiit)
> To: milis_iqra@googlegroups.com
>
>
> *ANALISIS HADIS "KITAB ALLAH DAN SUNAHKU"*
>
> *Sumber : *
> http://syiahali.wordpress.com/2010/06/13/analisis-hadis-%E2%80%9Ckitab-allah-dan-sunahku%E2%80%9D-memang-hadis-tentang-%E2%80%9Ckitabullah-dan-itrahku-%E2%80%9D-lebih-shahih-dari-pada-%E2%80%9Ckitabullah-dan-sunnahku-%E2%80%9D/
>
>
> Al Quranul Karim dan Sunnah Rasulullah SAW adalah landasan dan sumber
> syariat Islam. Hal ini merupakan kebenaran yang sifatnya pasti dan diyakini
> oleh umat Islam. Banyak ayat Al Quran yang memerintahkan umat Islam untuk
> berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah SAW, diantaranya
>
> *Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang
> dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah
> .Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (QS ; Al Hasyr 7).*
>
> *Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik
> bagimu (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
> kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS ; Al Ahzab 21).*
>
> *Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah
> .Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak
> mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS ; An Nisa 80).*
>
> *Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah
> dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan
> "kami mendengar dan kami patuh". Dan mereka Itulah orang-orang yang
> beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut
> kepada Allah dan bertakwa kepadaNya maka mereka adalah orang-orang yang
> mendapat kemenangan. (QS ; An Nur 51-52).*
>
> *Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi
> perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu
> Ketetapan , akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.
> Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah
> sesat, sesat yang nyata. (QS ; Al Ahzab 36).*
>
> * *Jadi Sunnah Rasulullah SAW merupakan salah satu pedoman bagi umat islam
> di seluruh dunia. Berdasarkan ayat-ayat Al Quran di atas sudah cukup rasanya
> untuk membuktikan kebenaran hal ini. Tulisan ini akan membahas hadis
> "Kitabullah wa Sunnaty" yang sering dijadikan dasar bahwa kita harus
> berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW yaitu
>
> *Bahwa Rasulullah bersabda "Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu
> sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak
> akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu. Keduanya tidak akan
> berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh.".*
>
> Hadis *"Kitabullah Wa Sunnaty" *ini adalah hadis masyhur yang sering sekali
> didengar oleh umat Islam sehingga tidak jarang banyak yang beranggapan bahwa
> hadis ini adalah benar dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Pada dasarnya
> kita umat Islam harus berpegang teguh kepada Al Quran dan As Sunnah yang
> merupakan dua landasan utama dalam agama Islam. Banyak dalil dalil shahih
> yang menganjurkan kita agar berpegang kepada As Sunnah baik dari Al Quran
> (seperti yang sudah disebutkan) ataupun dari hadis-hadis yang shahih.
> Sayangnya hadis"Kitabullah Wa Sunnaty" yang seringkali dijadikan dasar dalam
> masalah ini adalah hadis yang tidak shahih atau dhaif. Berikut adalah
> analisis terhadap sanad hadis ini.
>
> .
>
> .
>
> *Analisis Sumber Hadis "Kitab Allah dan SunahKu"*
>
> Hadis *"Kitab Allah dan SunahKu"* ini tidak terdapat dalam kitab hadis Kutub
> As Sittah*(Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa'i,
> Sunan Abu Dawud,* dan *Sunan Tirmidzi).* Sumber dari Hadis ini adalah *Al
> Muwatta* Imam Malik,*Mustadrak Ash Shahihain* Al Hakim, *At Tamhid* *Syarh
> Al Muwatta* Ibnu Abdil Barr,*Sunan Baihaqi, Sunan Daruquthni*, dan *Jami' As
> Saghir *As Suyuthi. Selain itu hadis ini juga ditemukan dalam kitab-kitab
> karya Ulama seperti , Al Khatib dalam *Al Faqih Al Mutafaqqih*, *Shawaiq Al
> Muhriqah Ibnu Hajar*, *Sirah Ibnu Hisyam, Al Ilma 'ila Ma'rifah Usul Ar
> Riwayah wa Taqyid As Sima'* karya Qadhi Iyadh, *Al Ihkam* Ibnu Hazm
> dan*Tarikh
> At Thabari.* Dari semua sumber itu ternyata hadis ini diriwayatkan dengan 4
> jalur sanad yaitu dari Ibnu Abbas ra, Abu Hurairah ra, Amr bin Awf ra, dan
> Abu Said Al Khudri ra. Terdapat juga beberapa hadis yang diriwayatkan secara
> mursal (terputus sanadnya), mengenai hadis mursal ini sudah jelas
> kedhaifannya.
>
> Hadis ini terbagi menjadi dua yaitu
>
> 1. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang mursal
> 2. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang muttasil atau bersambung
>
> .
>
> .
>
> *Hadis "Kitab Allah dan SunahKu" Yang Diriwayatkan Secara Mursal*
>
> Hadis "Kitab Allah dan SunahKu" yang diriwayatkan secara mursal ini terdapat
> dalam kitab *Al Muwatta, Sirah Ibnu Hisyam, Sunan Baihaqi, Shawaiq Al
> Muhriqah, *dan*Tarikh At Thabari.* Berikut adalah contoh hadisnya
>
> Dalam *Al Muwatta* jilid I hal 899 no 3* *
>
> *Bahwa Rasulullah SAW bersabda" Wahai Sekalian manusia sesungguhnya Aku
> telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu berpegang teguh pasti kamu
> sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunah RasulNya".*
>
> * *Dalam *Al Muwatta* hadis ini diriwayatkan Imam Malik tanpa sanad. Malik
> bin Anas adalah generasi tabiit tabiin yang lahir antara tahun 91H-97H. Jadi
> paling tidak ada dua perawi yang tidak disebutkan di antara Malik bin Anas
> dan Rasulullah SAW. Berdasarkan hal ini maka dapat dinyatakan bahwa hadis
> ini dhaif karena terputus sanadnya.
>
> Dalam *Sunan Baihaqi* terdapat beberapa hadis mursal mengenai hal ini,
> diantaranya* *
>
> *Al Baihaqi dengan sanad dari Urwah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda pada
> haji wada " Sesungguhnya Aku telah meninggalkan sesuatu bagimu yang apabila
> berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selamanya yaitu dua
> perkara Kitab Allah dan Sunnah NabiMu, Wahai umat manusia dengarkanlah
> olehmu apa yang aku sampaikan kepadamu, maka hiduplah kamu dengan berpegang
> kepadanya".*
>
> Selain pada *Sunan Baihaqi*, hadis Urwah ini juga terdapat dalam *Miftah Al
> Jannah* hal 29 karya As Suyuthi. Urwah bin Zubair adalah dari generasi
> tabiin yang lahir tahun 22H, jadi Urwah belum lahir saat Nabi SAW melakukan
> haji wada oleh karena itu hadis di atas terputus, dan ada satu orang perawi
> yang tidak disebutkan, bisa dari golongan sahabat dan bisa juga dari
> golongan tabiin. Singkatnya hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.**
>
> *Al Baihaqi dengan sanad dari Ibnu Wahb yang berkata "Aku telah mendengar
> Malik bin Anas mengatakan berpegang teguhlah pada sabda Rasulullah SAW pada
> waktu haji wada yang berbunyi 'Dua hal Aku tinggalkan bagimu dimana kamu
> tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya yaitu Kitab Allah dan
> Sunah NabiNya".*
>
> Hadis ini tidak berbeda dengan hadis *Al Muwatta*, karena Malik bin Anas
> tidak bertemu Rasulullah SAW jadi hadis ini juga dhaif.
>
> Dalam *Sirah Ibnu Hisyam* jilid 4 hal 185 hadis ini diriwayatkan dari Ibnu
> Ishaq yang berkata *bahwa Rasulullah SAW bersabda pada haji wada*…..,Disini
> Ibnu Ishaq tidak menyebutkan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW
> oleh karena itu hadis ini tidak dapat dijadikan hujjah. Dalam *Tarikh At
> Thabari *jilid 2 hal 205 hadis ini juga diriwayatkan secara mursal melalui
> Ibnu Ishaq dari Abdullah bin Abi Najih. Jadi kedua hadis ini dhaif. Mungkin
> ada yang beranggapan karena *Sirah Ibnu Hisyam *dari Ibnu Ishaq sudah
> menjadi kitab Sirah yang jadi pegangan oleh jumhur ulama maka adanya hadis
> itu dalam *Sirah Ibnu Hisyam* sudah cukup menjadi bukti kebenarannya.
> Jawaban kami adalah benar bahwa *Sirah Ibnu Hisyam* menjadi pegangan oleh
> jumhur ulama, tetapi dalam kitab ini hadis tersebut terputus sanadnya jadi
> tentu saja dalam hal ini hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.
>
> .
>
> .
>
> *Sebuah Pembelaan dan Kritik*
>
> Hafiz Firdaus dalam bukunya *Kaidah Memahami Hadis-hadis yang Bercanggah*
> telah
> membahas hadis dalam *Al Muwatta* dan menanggapi pernyataan Syaikh Hasan As
> Saqqaf dalam karyanya *Shahih Sifat shalat An Nabiy* (dalam kitab ini As
> Saqqaf telah menyatakan hadis Kitab Allah dan SunahKu ini sebagai hadis yang
> dhaif ). Sebelumnya berikut akan dituliskan pendapat Hafiz Firdaus tersebut.
>
> *Bahwa Rasulullah bersabda "wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah
> meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian
> tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya"*
>
> Hadis ini sahih: Dikeluarkan oleh Malik bin Anas dalam al-Muwattha' – no:
> 1619 (Kitab al-Jami', Bab Larangan memastikan Takdir). Berkata Malik apabila
> mengemukakan riwayat ini: Balghni………bererti "disampaikan kepada aku" (atau
> dari sudut catatan anak murid beliau sendiri: Dari Malik, disampaikan
> kepadanya………). Perkataan seperti ini memang khas di zaman awal Islam
> (sebelum 200H) menandakan bahawa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis
> daripada sejumlah tabi'in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang
> banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Lebih lanjut lihat Qadi
> 'Iyadh Tartib al-Madarik, jld 1, ms 136; Ibn 'Abd al-Barr al Tamhid, jld 1,
> ms 34; al-Zarqani Syarh al Muwattha', jld 4, ms 307 dan Hassath binti 'Abd
> al-'Aziz Sagheir Hadis Mursal baina Maqbul wa Mardud, jld 2, ms 456-470.
> Hasan 'Ali al-Saqqaf dalam bukunya Shalat Bersama Nabi SAW (edisi terj. dari
> Sahih Sifat Solat Nabi), ms 269-275 berkata bahwa hadis ini sebenarnya
> adalah maudhu'. Isnadnya memiliki perawi yang dituduh pendusta manakala
> maksudnya tidak disokongi oleh mana-mana dalil lain. Beliau menulis:
> Sebenarnya hadis yang tsabit dan sahih adalah hadis yang berakhir dengan "wa
> ahli baiti" (sepertimana Khutbah C – penulis). Sedangkan yang berakhir
> dengan kata-kata "wa sunnati" (sepertimana Khutbah B) adalah batil dari sisi
> matan dan sanadnya.
> Nampaknya al-Saqqaf telah terburu-buru dalam penilaian ini kerana beliau
> hanya menyimak beberapa jalan periwayatan dan meninggalkan yang selainnya,
> terutamanya apa yang terkandung dalam kitab-kitab Musannaf, Mu'jam dan
> Tarikh (Sejarah). Yang lebih berat adalah beliau telah menepikan begitu
> sahaja riwayat yang dibawa oleh Malik di dalam kitab al-Muwattha'nya atas
> alasan ianya adalah tanpa sanad padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali
> kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan
> tokoh-tokoh hadis di zamannya.
>
> Kritik kami adalah sebagai berikut, tentang kata-kata *hadis riwayat Al
> Muwatta adalah shahih karena pernyataan Balghni atau "disampaikan kepada
> aku" dalam hadis riwayat Imam Malik ini adalah khas di zaman awal Islam
> (sebelum 200H) menandakan bahwa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis
> daripada sejumlah tabi'in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang
> banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya.* Maka Kami katakan, Kaidah
> periwayatan hadis dengan pernyataan Balghni atau "disampaikan kepadaku"
> memang terdapat di zaman Imam Malik. Hal ini juga dapat dilihat dalam *Kutub
> As Sunnah Dirasah Watsiqiyyah* oleh Rif'at Fauzi Abdul Muthallib hal 20,
> terdapat kata kata Hasan Al Bashri
>
> *"Jika empat shahabat berkumpul untuk periwayatan sebuah hadis maka saya
> tidak menyebut lagi nama shahabat".Ia juga pernah berkata"Jika aku berkata
> hadatsana maka hadis itu saya terima dari fulan seorang tetapi bila aku
> berkata qala Rasulullah SAW maka hadis itu saya dengar dari 70 orang
> shahabat atau lebih".*
>
> Tetapi adalah tidak benar mendakwa suatu hadis sebagai shahih hanya dengan
> pernyataan *"balghni".* Hal ini jelas bertentangan dengan kaidah jumhur
> ulama tentang persyaratan hadis shahih seperti yang tercantum dalam
> *Muqaddimah
> Ibnu Shalah fi Ulumul Hadis* yaitu
>
> *Hadis shahih adalah Hadis yang muttashil (bersambung sanadnya) disampaikan
> oleh setiap perawi yang adil(terpercaya) lagi dhabit sampai akhir sanadnya
> dan hadis itu harus bebas dari syadz dan Illat.*
>
> Dengan kaidah Inilah as Saqqaf telah menepikan hadis* al Muwatta* tersebut
> karena memang hadis tersebut tidak ada sanadnya. Yang aneh justru pernyataan
> Hafiz yang menyalahkan As Saqqaf dengan kata-kata *padahal yang benar
> al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi
> Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.*
>
> .
>
> Pernyataan Hafiz di atas menunjukan bahwa Malik bin Anas dan tokoh hadis
> zamannya (sekitar 93H-179H) jika meriwayatkan hadis dengan pernyataan telah
> disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah SAW atau Qala Rasulullah SAW tanpa
> menyebutkan sanadnya maka hadis tersebut adalah shahih. Pernyataan ini jelas
> aneh dan bertentangan dengan kaidah jumhur ulama hadis. Sekali lagi hadis
> itu mursal atau terputus dan hadis mursal tidak bisa dijadikan hujjah karena
> kemungkinan dhaifnya. Karena bisa jadi perawi yang terputus itu adalah
> seorang tabiin yang bisa jadi dhaif atau tsiqat, jika tabiin itu tsiqatpun
> dia kemungkinan mendengar dari tabiin lain yang bisa jadi dhaif atau tsiqat
> dan seterusnya kemungkinan seperti itu tidak akan habis-habis. Sungguh
> sangat tidak mungkin mendakwa hadis mursal sebagai shahih *"Hanya karena
> terdapat dalam Al Muwatta Imam Malik".*
>
> *.*
> Hal yang kami jelaskan itu juga terdapat dalam *Ilmu Mushthalah Hadis* oleh
> A Qadir Hassan hal 109 yang mengutip pernyataan Ibnu Hajar yang menunjukkan
> tidak boleh menjadikan hadis mursal sebagai hujjah, Ibnu Hajar berkata
>
> *"Boleh jadi yang gugur itu shahabat tetapi boleh jadi juga seorang tabiin
> .Kalau kita berpegang bahwa yang gugur itu seorang tabiin boleh jadi tabiin
> itu seorang yang lemah tetapi boleh jadi seorang kepercayaan. Kalau kita
> andaikan dia seorang kepercayaan maka boleh jadi pula ia menerima riwayat
> itu dari seorang shahabat, tetapi boleh juga dari seorang tabiin lain".*
>
> Lihat baik-baik walaupun yang meriwayatkan hadis mursal itu adalah tabiin
> tetap saja dinyatakan dhaif apalagi Malik bin Anas yang seorang tabiit
> tabiin maka akan jauh lebih banyak kemungkinan dhaifnya. Pernyataan yang
> benar tentang hadis mursal Al Muwatta adalah hadis tersebut shahih jika
> terdapat hadis lain yang bersambung dan shahih sanadnya yang menguatkan
> hadis mursal tersebut di kitab-kitab lain. Jadi adalah kekeliruan menjadikan
> hadis mursal shahih hanya karena terdapat dalam *Al Muwatta.*
>
> .
>
> .
>
> .
>
> *Hadis "Kitab Allah dan SunahKu" Yang Diriwayatkan Dengan Sanad Yang
> Bersambung.*
>
> Telah dinyatakan sebelumnya bahwa dari sumber-sumber yang ada ternyata ada 4
> jalan sanad hadis "Kitab Allah dan SunahKu". 4 jalan sanad itu adalah
> 1. Jalur Ibnu Abbas ra
> 2. Jalur Abu Hurairah ra
> 3. Jalur Amr bin Awf ra
> 4. Jalur Abu Said Al Khudri ra
>
> .
>
> .
>
> *Jalan Sanad Ibnu Abbas*
>
> Hadis *"Kitab Allah dan SunahKu"* dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas dapat
> ditemukan dalam Kitab *Al Mustadrak* Al Hakim jilid I hal 93 dan *Sunan
> Baihaqi* juz 10 hal 4 yang pada dasarnya juga mengutip dari *Al Mustadrak*.
> Dalam kitab-kitab ini sanad hadis itu dari jalan Ibnu Abi Uwais dari Ayahnya
> dari Tsaur bin Zaid Al Daily dari Ikrimah dari Ibnu Abbas
>
> bahwa Rasulullah SAW bersabda* "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Aku
> telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu
> sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah RasulNya".*
>
> Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena terdapat kelemahan pada dua orang
> perawinya yaitu Ibnu Abi Uwais dan Ayahnya.
>
> 1. Ibnu Abi Uwais
>
> - Dalam kitab *Tahdzib Al Kamal* karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid
> III hal 127 mengenai biografi Ibnu Abi Uwais terdapat perkataan orang
> yang
> mencelanya, diantaranya* Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu'in
> "Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)".* Dari Yahya bin
> Mu'in *bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya suka mencuri hadis, suka
> mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong.* Menurut
> Abu Hatim *Ibnu Abi Uwais itu mahalluhu ash shidq atau tempat kejujuran
> tetapi dia terbukti lengah*. An Nasa'i menilai *Ibnu Abi Uwais dhaif dan
> tidak tsiqah.* Menurut Abu Al Qasim Al Alkaiy *"An Nasa'i sangat jelek
> menilainya (Ibnu Abi Uwais) sampai ke derajat matruk(ditinggalkan
> hadisnya)"
> *. Ahmad bin Ady berkata *"Ibnu Abi Uwais itu meriwayatkan dari pamannya
> Malik beberapa hadis gharib yang tidak diikuti oleh seorangpun."*
> - Dalam *Muqaddimah Al Fath Al Bary* halaman 391 terbitan Dar Al
> Ma'rifah, Al Hafiz Ibnu Hajar mengenai Ibnu Abi Uwais berkata *"Atas
> dasar itu hadis dia (Ibnu Abi Uwais) tidak dapat dijadikan hujjah selain
> yang terdapat dalam As Shahih karena celaan yang dilakukan Imam Nasa'i
> dan
> lain-lain".*
> - Dalam *Fath Al Mulk Al Aly* halaman 15, Al Hafiz Sayyid Ahmad bin
> Shiddiq mengatakan* "berkata Salamah bin Syabib Aku pernah mendengar
> Ismail bin Abi Uwais mengatakan "mungkin aku membuat hadis untuk penduduk
> madinah jika mereka berselisih pendapat mengenai sesuatu di antara
> mereka".
> *
>
> Jadi Ibnu Abi Uwais adalah *perawi yang tertuduh dhaif, tidak tsiqat,
> pembohong, matruk dan dituduh suka membuat hadis.* Ada sebagian orang yang
> membela Ibnu Abi Uwais dengan mengatakan bahwa dia adalah salah satu Rijal
> atau perawi*Shahih Bukhari* oleh karena itu hadisnya bisa dijadikan hujjah.
> Pernyataan ini jelas tertolak karena Bukhari memang berhujjah dengan hadis
> Ismail bin Abi Uwais tetapi telah dipastikan bahwa Ibnu Abi Uwais adalah
> perawi Bukhari yang diperselisihkan oleh para ulama hadis. Seperti
> penjelasan di atas terdapat jarh atau celaan yang jelas oleh ulama hadis
> seperti Yahya bin Mu'in, An Nasa'i dan lain-lain. Dalam prinsip Ilmu Jarh
> wat Ta'dil celaan yang jelas didahulukan dari pujian(ta'dil). Oleh karenanya
> hadis Ibnu Abi Uwais tidak bisa dijadikan hujjah. Mengenai hadis Bukhari
> dari Ibnu Abi Uwais, hadis-hadis tersebut memiliki mutaba'ah atau pendukung
> dari riwayat-riwayat lain sehingga hadis tersebut tetap dinyatakan shahih.
> Lihat penjelasan Al Hafiz Ibnu Hajar dalam *Al Fath Al Bary Syarh Shahih
> Bukhari*, Beliau mengatakan bahwa hadis Ibnu Abi Uwais selain dalam *As
> Shahih(Bukhari dan Muslim)* tidak bisa dijadikan hujjah. Dan hadis yang
> dibicarakan ini tidak terdapat dalam kedua kitab Shahih tersebut, hadis ini
> terdapat dalam *Mustadrak* dan *Sunan Baihaqi*.
>
> 2. Abu Uwais
>
> - Dalam kitab *Al Jarh Wa At Ta'dil* karya Ibnu Abi Hatim jilid V hal 92,
> Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya Abu Hatim Ar Razy yang berkata
> mengenai
> Abu Uwais *"Ditulis hadisnya tetapi tidak dapat dijadikan hujjah dan dia
> tidak kuat".*Ibnu Abi Hatim menukil dari Yahya bin Mu'in yang berkata
> *"Abu
> Uwais tidak tsiqah".*
> - Dalam kitab *Tahdzib Al Kamal *karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid
> III hal 127 Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu'in *"Abu Uwais
> dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)". Dari Yahya bin Mu'in bahwa Ibnu
> Abi
> Uwais dan ayahnya(Abu Uwais) suka mencuri hadis, suka
> mengacaukan(hafalan)
> hadis atau mukhallith dan suka berbohong.*
>
> Dalam *Al Mustadrak* jilid I hal 93, Al Hakim tidak menshahihkan hadis ini.
> Beliau mendiamkannya dan mencari syahid atau penguat bagi hadis tersebut,
> Beliau berkata *"Saya telah menemukan syahid atau saksi penguat bagi hadis
> tersebut dari hadis Abu Hurairah ra".* Mengenai hadis Abu Hurairah ra ini
> akan dibahas nanti, yang penting dari pernyataan itu secara tidak langsung
> Al Hakim mengakui kedhaifan hadis Ibnu Abbas tersebut oleh karena itu beliau
> mencari syahid penguat untuk hadis tersebut .Setelah melihat kedudukan kedua
> perawi hadis Ibnu Abbas tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hadis *"Kitab
> Allah dan SunahKu*" dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas adalah dhaif.
>
> .
>
> .
>
> *Jalan Sanad Abu Hurairah ra*
>
> Hadis *"Kitab Allah dan SunahKu"* dengan jalan sanad Abu Hurairah ra
> terdapat dalam *Al Mustadrak* Al Hakim jilid I hal 93, *Sunan Al Kubra
> Baihaqi* juz 10, *Sunan Daruquthni* IV hal 245, *Jami' As Saghir* As
> Suyuthi(no 3923), Al Khatib dalam *Al Faqih Al Mutafaqqih* jilid I hal 94,
> *At
> Tamhid *XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr, dan *Al Ihkam* VI hal 243 Ibnu Hazm.
>
> Jalan sanad hadis Abu Hurairah ra adalah sebagi berikut, diriwayatkan
> melalui Al Dhaby yang berkata telah menghadiskan kepada kami Shalih bin Musa
> At Thalhy dari Abdul Aziz bin Rafi'dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra
>
> bahwa Rasulullah SAW bersabda* "Bahwa Rasulullah bersabda "Sesungguhnya Aku
> telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang
> teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan
> SunahKu.Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh".*
>
> Hadis di atas adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat perawi
> yang tidak bisa dijadikan hujjah yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.
>
> - Dalam Kitab *Tahdzib Al Kamal* ( XIII hal 96) berkata Yahya bin
> Muin *bahwa
> riwayat hadis Shalih bin Musa bukan apa-apa*. Abu Hatim Ar Razy
> berkata*hadis
> Shalih bin Musa dhaif.* Imam Nasa'i berkata *hadis Shalih bin Musa tidak
> perlu ditulis dan dia itu matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya).*
> - Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalany dalam kitabnya *Tahdzib At Tahdzib* IV
> hal 355 menyebutkan Ibnu Hibban berkata *bahwa Shalih bin Musa
> meriwayatkan dari tsiqat apa yang tidak menyerupai hadis itsbat(yang
> kuat)
> sehingga yang mendengarkannya bersaksi bahwa riwayat tersebut ma'mulah
> (diamalkan) atau maqbulah (diterima) tetapi tidak dapat dipakai untuk
> berhujjah*. Abu Nu'aim berkata *Shalih bin Musa itu matruk Al Hadis
> sering meriwayatkan hadis mungkar.*
> - Dalam *At Taqrib* (Tarjamah :2891) Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqallany
> menyatakan bahwa *Shalih bin Musa adalah perawi yang matruk(harus
> ditinggalkan).*
> - Al Dzahaby dalam *Al Kasyif* (2412) menyebutkan bahwa *Shalih bin Musa
> itu wahin (lemah).*
> - Dalam *Al Qaulul Fashl *jilid 2 hal 306 Sayyid Alwi bin Thahir ketika
> mengomentari Shalih bin Musa, beliau menyatakan bahwa Imam Bukhari
> berkata
> *"Shalih bin Musa adalah perawi yang membawa hadis-hadis mungkar".*
>
> **
>
> Kalau melihat jarh atau celaan para ulama terhadap Shalih bin Musa tersebut
> maka dapat dinyatakan bahwa hadis *"Kitab Allah dan SunahKu"* dengan sanad
> dari Abu Hurairah ra di atas adalah hadis yang dhaif. Adalah hal yang aneh
> ternyata As Suyuthi dalam *Jami' As Saghir* menyatakan hadis tersebut hasan,
> Al Hafiz Al Manawi menshahihkannya dalam *Faidhul Qhadir Syarah Al Jami'Ash
> Shaghir* dan Al Albani juga telah memasukkan hadis ini dalam* Shahih Jami'
> As Saghir*. Begitu pula yang dinyatakan oleh Al Khatib dan Ibnu Hazm.
> Menurut kami penshahihan hadis tersebut tidak benar karena dalam sanad hadis
> tersebut terdapat cacat yang jelas pada perawinya, Bagaimana mungkin hadis
> tersebut shahih jika dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, mungkar al
> hadis dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nyata sekali bahwa ulama-ulama yang
> menshahihkan hadis ini telah bertindak longgar(tasahul) dalam masalah ini.
>
> Mengapa para ulama itu bersikap tasahul dalam penetapan kedudukan hadis
> ini?. Hal ini mungkin karena matan hadis tersebut adalah hal yang tidak
> perlu dipermasalahkan lagi. Tetapi menurut kami matan hadis tersebut yang
> benar dan shahih adalah dengan matan hadis yang sama redaksinya hanya
> perbedaan pada*"Kitab Allah dan SunahKu"* menjadi *"Kitab Allah dan Itrah
> Ahlul BaitKu"*. Hadis dengan matan seperti ini salah satunya terdapat dalam
> *Shahih Sunan Tirmidzi* no 3786 & 3788 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Al
> Albani dalam *Shahih Sunan Tirmidzi. *Kalau dibandingkan antara hadis ini
> dengan hadis Abu Hurairah ra di atas dapat dipastikan bahwa hadis *Shahih
> Sunan Tirmidzi* ini jauh lebih shahih kedudukannya karena semua perawinya
> tsiqat. Sedangkan hadis Abu Hurairah ra di atas terdapat cacat pada salah
> satu perawinya yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.
>
> Adz Dzahabi dalam *Al Mizan Al I'tidal* jilid II hal 302 berkata *bahwa
> hadis Shalih bin Musa tersebut termasuk dari kemunkaran yang
> dilakukannya.* Selain
> itu hadis riwayat Abu Hurairah ini dinyatakan dhaif oleh Hasan As Saqqaf
> dalam *Shahih Sifat Shalat An Nabiy* setelah beliau mengkritik Shalih bin
> Musa salah satu perawi hadis tersebut. Jadi pendapat yang benar dalam
> masalah ini adalah hadis riwayat Abu Hurairah tersebut adalah dhaif
> sedangkan pernyataan As Suyuthi, Al Manawi, Al Albani dan yang lain bahwa
> hadis tersebut shahih adalah keliru karena dalam rangkaian sanadnya terdapat
> perawi yang sangat jelas cacatnya sehingga tidak mungkin bisa dikatakan
> shahih.
>
> .
>
> .
>
> *Jalan Sanad Amr bin Awf ra*
>
> Hadis *"Kitab Allah dan SunahKu"* dengan jalan sanad dari Amr bin Awf
> terdapat dalam kitab *At Tamhid *XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr. Telah
> menghadiskan kepada kami Abdurrahman bin Yahya, dia berkata telah
> menghadiskan kepada kami Ahmad bin Sa'id, dia berkata telahmenghadiskan
> kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Daibaly, dia berkata telah menghadiskan
> kepada kami Ali bin Zaid Al Faridhy, dia berkata telah menghadiskan kepada
> kami Al Haniny dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Awf dari ayahnya dari
> kakeknya**
>
> *Bahwa Rasulullah bersabda "wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah
> meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian
> tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.*
>
> **
> Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat cacat pada
> perawinya yaitu Katsir bin Abdullah .
>
> - Dalam* Mizan Al Itidal* *(biografi Katsir bin Abdullah no 6943*) karya
> Adz Dzahabi terdapat celaan pada Katsir bin Abdullah. Menurut Daruquthni
> *Katsir bin Abdullah adalah matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya).* Abu
> Hatim menilai*Katsir bin Abdullah tidak kuat.* An Nasa'i menilai *Katsir
> bin Abdullah tidak tsiqah.*
> - Dalam *At Taqrib at Tahdzib*, Ibnu Hajar menyatakan *Katsir bin
> Abdullah dhaif.*
> - Dalam *Al Kasyf* Adz Dzahaby menilai *Katsir bin Abdullah wahin(lemah).
> *
> - Dalam* Al Majruhin *Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Ibnu Hibban berkata
> tentang Katsir bin Abdullah *"Hadisnya sangat mungkar"* dan *"Dia
> meriwayatkan hadis-hadis palsu dari ayahnya dari kakeknya yang tidak
> pantas
> disebutkan dalam kitab-kitab maupun periwayatan"
> *
> - Dalam* Al Majruhin *Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Yahya bin Main
> berkata *"Katsir
> lemah hadisnya"*
> - Dalam* *Kitab* Al Jarh Wat Ta'dil *biografi no 858*,* Abu Zur'ah
> berkata *"Hadisnya tidak ada apa-apanya, dia tidak kuat hafalannya".*
> - Dalam *Adh Dhu'afa Al Kabir Al Uqaili (no 1555), *Mutharrif bin
> Abdillah berkata tentang Katsir *"Dia orang yang banyak permusuhannya dan
> tidak seorangpun sahabat kami yang mengambil hadis darinya".*
> - Dalam *Al Kamil Fi Dhu'afa Ar Rijal *karya Ibnu Adi juz 6 hal 63*,
> *Ibnu
> Adi berkata perihal Katsir *"Dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya
> tidak bisa dijadikan pegangan".*
> - Dalam* Al Kamil Fi Dhu'afa Ar Rijal *karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Abu
> Khaitsamah berkata *"Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku : jangan
> sedikitpun engkau meriwayatkan hadis dari Katsir bin Abdullah".*
> - Dalam *Ad Dhu'afa Wal Matrukin* Ibnu Jauzi juz III hal 24 terdapat
> perkataan Imam Syafii perihal Katsir bin Abdullah *"Katsir bin Abdullah
> Al Muzanni adalah satu pilar dari berbagai pilar kedustaan"
> *
>
> Jadi hadis Amr bin Awf ini sangat jelas kedhaifannya karena dalam sanadnya
> terdapat *perawi yang matruk, dhaif atau tidak tsiqah dan pendusta.
> *
>
> .
>
> .
>
> *Jalur Abu Said Al Khudri ra*
>
> Hadis *"Kitab Allah dan SunahKu"* dengan jalan sanad dari Abu Said Al Khudri
> ra terdapat dalam *Al Faqih Al Mutafaqqih* jilid I hal 94 karya Al Khatib
> Baghdadi dan *Al Ilma 'ila Ma'rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima'
> *karya
> Qadhi Iyadh dengan sanad dari Saif bin Umar dari Ibnu Ishaq Al Asadi dari
> Shabbat bin Muhammad dari Abu Hazm dari Abu Said Al Khudri ra.
>
> Dalam rangkaian perawi ini terdapat perawi yang benar-benar dhaif yaitu Saif
> bin Umar At Tamimi.
>
> - Dalam *Mizan Al I'tidal no 3637* Yahya bin Mu'in berkata *"Saif daif
> dan riwayatnya tidak kuat".*
> - Dalam *Ad Dhu'afa Al Matrukin* no 256, An Nasa'i mengatakan *kalau Saif
> bin Umar adalah dhaif.*
> - Dalam *Al Majruhin* no 443 Ibnu Hibban mengatakan *Saif merujukkan
> hadis-hadis palsu pada perawi yang tsabit, ia seorang yang tertuduh
> zindiq
> dan seorang pemalsu hadis.*
> - Dalam *Ad Dhu'afa Abu Nu'aim no 95, *Abu Nu'aim mengatakan* kalau Saif
> bin Umar adalah orang yang tertuduh zindiq, riwayatnya jatuh dan bukan
> apa-apanya.
> *
> - Dalam *Tahzib At Tahzib juz 4 no 517* Abu Dawud berkata kalau *Saif
> bukan apa-apa*, Abu Hatim berkata *"ia matruk",* Ad Daruquthni
> menyatakannya *dhaif dan matruk*. Al Hakim mengatakan *kalau Saif
> tertuduh zindiq dan riwayatnya jatuh*. Ibnu Adi mengatakan *kalau
> hadisnya dikenal munkar dan tidak diikuti seorangpun.
> *
>
> **
> Jadi jelas sekali kalau hadis Abu Said Al Khudri ra ini adalah hadis yang
> dhaif karena kedudukan Saif bin Umar yang dhaif di mata para ulama.
>
> .
>
> .
>
> *Hadis Tersebut Dhaif*
>
> Dari semua pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis *"Kitab Allah
> dan SunahKu"* ini adalah hadis yang dhaif. Sebelum mengakhiri tulisan ini
> akan dibahas terlebih dahulu pernyataan Ali As Salus dalam *Al Imamah wal
> Khilafah* yang menyatakan shahihnya hadis *"Kitab Allah Dan SunahKu".*
> Ali As Salus menyatakan bahwa hadis riwayat Imam Malik adalah shahih
> Walaupun dalam *Al Muwatta* hadis ini mursal. Beliau menyatakan bahwa hadis
> ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah yang telah dishahihkan oleh As
> Suyuthi,Al Manawi dan Al Albani. Selain itu hadis mursal dalam Al Muwatta
> adalah shahih menurutnya dengan mengutip *pernyataan Ibnu Abdil Barr yang
> menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan pernyataan
> As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang
> bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.*
>
> .
>
> .
>
> .
>
> *Tanggapan Terhadap Ali As Salus*
>
> Pernyataan pertama bahwa hadis Malik bin Anas dalam *Al Muwatta* adalah
> shahih walaupun mursal adalah tidak benar. Hal ini telah dijelaskan dalam
> tanggapan kami terhadap Hafiz Firdaus bahwa hadis mursal tidak bisa langsung
> dinyatakan shahih kecuali terdapat hadis shahih(bersambung sanadnya) lain
> yang menguatkannya. Dan kenyataannya hadis yang jadi penguat hadis mursal Al
> Muwatta ini adalah tidak shahih. Pernyataan Selanjutnya Ali As Salus bahwa
> hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah ra adalah tidak tepat karena
> seperti yang sudah dijelaskan, dalam sanad hadis Abu Hurairah ra ada Shalih
> bin Musa yang tidak dapat dijadikan hujjah.
>
> Ali As Salus menyatakan bahwa hadis mursal Al Muwatta shahih berdasarkan
>
> - Pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal
> Imam Malik adalah shahih dan
> - Pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta
> memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.
>
> Mengenai pernyataan Ibnu Abdil Barr tersebut, jelas itu adalah pendapatnya
> sendiri dan mengenai hadis *"Kitab Allah dan SunahKu"* yang mursal dalam Al
> Muwatta Ibnu Abdil Barr telah mencari sanad hadis ini dan memuatnya dalam
> kitabnya *At Tamhid*dan Beliau menshahihkannya. Setelah dilihat ternyata
> hadis dalam *At Tamhid*tersebut tidaklah shahih karena cacat yang jelas pada
> perawinya.
>
> .
>
> Begitu pula pernyataan As Suyuthi yang dikutip Ali As Salus di atas itu
> adalah pendapat Beliau sendiri dan As Suyuthi telah menjadikan hadis Abu
> Hurairah ra sebagai syahid atau pendukung hadis mursal Al Muwatta seperti
> yang Beliau nyatakan dalam *Jami' As Saghir* dan Beliau menyatakan hadis
> tersebut hasan. Setelah ditelaah ternyata hadis Abu Hurairah ra itu adalah
> dhaif. Jadi Kesimpulannya tetap saja hadis *"Kitab Allah dan SunahKu"*
> adalah
> hadis yang dhaif.
>
> .
> Salah satu bukti bahwa tidak semua hadis mursal *Al Muwatta* shahih adalah
> apa yang dikemukakan oleh Syaikh Al Albani dalam *Silisilatul Al Hadits Adh
> Dhaifah Wal Maudhuah* hadis no 908
>
> *Nabi Isa pernah bersabda"Janganlah kalian banyak bicara tanpa menyebut
> Allah karena hati kalian akan mengeras.Hati yang keras jauh dari Allah namun
> kalian tidak mengetahuinya.Dan janganlah kalian mengamati dosa-dosa orang
> lain seolah-olah kalian Tuhan,akan tetapi amatilah dosa-dosa kalian seolah
> kalian itu hamba.Sesungguhnya Setiap manusia itu diuji dan selamat maka
> kasihanilah orang-orang yang tengah tertimpa malapetaka dan bertahmidlah
> kepada Allah atas keselamatan kalian".*
>
> Riwayat ini dikemukakan Imam Malik dalam *Al Muwatta *jilid II hal 986 tanpa
> sanad yang pasti tetapi Imam Malik menempatkannya dalam deretan
> riwayat–riwayat yang muttashil(bersambung) atau marfu' sanadnya sampai ke
> Rasulullah SAW.
>
> Syaikh Al Albani berkata tentang hadis ini**
>
> *"sekali lagi saya tegaskan memarfu'kan riwayat ini sampai kepada Nabi
> adalah kesalahan yang menyesatkan dan tidak ayal lagi merupakan kedustaan
> yang nyata-nyata dinisbatkan kepada Beliau padahal Beliau terbebas darinya".
> *
>
> Pernyataan ini menunjukkan bahwa Syaikh Al Albani tidaklah langsung
> menyatakan bahwa hadis ini shahih hanya karena Imam Malik menempatkannya
> dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil atau marfu' sanadnya sampai ke
> Rasulullah SAW. Justru Syaikh Al Albani menyatakan bahwa memarfu'kan hadis
> ini adalah kedustaan atau kesalahan yang menyesatkan karena berdasarkan
> penelitian beliau tidak ada sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW
> mengenai hadis ini.
>
> .
>
> Yang Aneh adalah pernyataan Ali As Salus dalam *Imamah Wal Khilafah* yang
> menyatakan bahwa hadis dengan matan *"Kitab Allah dan Itrah Ahlul
> BaitKu"* adalah
> dhaif dan yang shahih adalah hadis dengan matan* "Kitab Allah dan
> SunahKu".* Hal
> ini jelas sangat tidak benar karena hadis dengan matan *"Kitab Allah dan
> SunahKu"*sanad-sanadnya tidak shahih seperti yang sudah dijelaskan dalam
> pembahasan di atas. Sedangkan hadis dengan matan *"Kitab Allah dan Itrah
> Ahlul BaitKu"* adalah hadis yang diriwayatkan banyak shahabat dan sanadnya
> jauh lebih kuat dari hadis dengan matan *"Kitab Allah dan SunahKu"*.
>
> .
>
> Jadi kalau hadis dengan matan *"Kitab Allah dan SunahKu"* dinyatakan shahih
> maka hadis dengan matan *"Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu" *akan jadi
> jauh lebih shahih. Ali As Salus dalam Imamah wal Khilafah telah
> membandingkan kedua hadis tersebut dengan metode yang tidak berimbang. Untuk
> hadis dengan matan *"Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu"* beliau mengkritik
> habis-habisan bahkan dengan kritik yang tidak benar sedangkan untuk hadis
> dengan matan *"Kitab Allah dan SunahKu"* beliau bertindak longgar(tasahul)
> dan berhujjah dengan pernyataan ulama lain yang juga telah memudahkan dalam
> penshahihan hadis tersebut. *Wallahu'alam.*
>
> *
> *
>
> *
> *
> *2010/8/30 Dani Permana <adanipermana@gmail.com>
>
> Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
>>
>>
>>
>> Mungkin sudah sering kita dengar hadist yang paling masyur di kalangan
>> kaum
>> muslim di Indonesia adalah hadist "Kitabullah dan Sunnahku" dibandingkan
>> dengan "Kitabullah dan Keturunanku (Ahlu Bayiit)"
>>
>> Padahal hadist yang kedua lebih banyak termaktub di kitab-kitab hadist di
>> bandingkan dengan hadist pertama.
>>
>>
>>
>> Contoh yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya:
>>
>>
>>
>> Sayyidina Zaid bin Arqam r.a. Dia berkata, "Suatu hari Rasulullah saw.
>> Pernah berdiri dihadapan kami seraya berkhutbah disuatu tempat (kebun)
>> kosong diantara Makkah dan Madinah. Beliau saw memuji Allah SWT dan
>> menyanjung-Nya. Lalu menasehati dan mengingatkan (ummatnya). Kemudian
>> bersabda, "Amma ba'du (adapun sesudah itu), ingatlah wahai sekalian
>> manusia,
>> sesunguhnya aku ini hanya manusia biasa, hampir-hampir (sebentar lagi)
>> akan
>> datang utusan Tuhanku (yang akan memanggilku ke Hadhrat-Nya), maka akupun
>> (pasti) mengabulkannya. Dan aku akan meninggalkan pada kalian dua pusaka.
>> Pertama, Kitabullah itu dan peganglah teguh-teguh." Beliau saw.
>> Memerintahkan untuk berpegang teguh pada Al-Qur'an sebagai Kitabullah dan
>> mendorong untuk mengamalkannya. Kemudian beliau saw bersabda, "Dan Ahli
>> Baitku (keluargaku)"
>>
>>
>> Itulah Lafadh atau redaksi Imam Muslim. Dan diantara perawi lain yang
>> meriwayatkan dengan redaksi seperti itu ialah Al-Darimy dalam Sunan-nya
>> (II
>> : 431 - 432) dengan isnad shahih seperti (terangnya) matahari. Ada juga
>> perawi lain yang meriwayatkan hadits tsb seperti redaksi Imam Muslim itu.
>>
>>
>> Sedang riwayat Imam Turmudzi terdapat kata-kata, wa 'itraty ahli baity
>> (dan
>> keturunanku [yaitu] ahli baitku [keluarga rumahku])." Dalam Sunan Turmidzi
>> (V: 663 no. 3788), Rasulullah saw. Bersabda,
>> "Sesungguhnya aku meninggalkan pada kalian apa yang jika kalian pegang
>> (erat-erat) pasti kalian tidak akan sesat sudah aku (tiada). Salah satunya
>> lebih agung dari pada yang lainnya, (yaitu) Kitabullah. Dia merupakan tali
>> yang memanjang dari langit ke bumi. Dan keturunanku (yaitu) ahli baitku.
>> Kedua pusaka itu tidak akan berpisah sehingga keduanya dapat mendatangkan
>> haudh-telaga-kepadaku. Perhatikanlah (berhati-hatilah dan pikirkanlah)
>> bagaimana kalian memperlakukan mereka sepeninggalku."
>>
>>
>>
>> Sedangkan hadist "Kitabullah dan Sunnahku" diriwayatkan dengan jalan
>> sanad
>> Abu Hurairah ra terdapat dalam Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93, Sunan
>> Al Kubra Baihaqi juz 10, Sunan Daruquthni IV hal 245, Jami' As Saghir As
>> Suyuthi(no 3923), Al Khatib dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94,
>> At
>> Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr, dan Al Ihkam VI hal 243 Ibnu Hazm.
>>
>>
>> Jalan sanad hadis Abu Hurairah ra adalah sebagi berikut, diriwayatkan
>> melalui Al Dhaby yang berkata telah menghadiskan kepada kami Shalih bin
>> Musa
>> At Thalhy dari Abdul Aziz bin Rafi'dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra :
>> "Rasulullah SAW bersabda "Bahwa Rasulullah bersabda "Sesungguhnya Aku
>> telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang
>> teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan
>> SunahKu.Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh"."
>>
>>
>>
>> Disisi sanad hanya hadist ini yang dipandang sahih.. dibanding yang
>> lainnya… karena ada beberapa perawi yang lemah…
>>
>>
>>
>> Jadi pertanyaannya "Mengapa hadist "Kitabullah dan Sunnahku" lebih
>> popular
>> dibanding "Kitabullah dan Keturunanku (Ahlu Bayiit)"?
>>
>>
>>
>> Mohon penjelasannya?
>>
>>
>>
>>
>>
>> Jazakallahu ahsanu jaza.
>>
>>
>>
>> Dani Permana
>>
> *
>
>
>>
>
> 2011/2/5 <whe.en9999@gmail.com>
>
> Kembalilah Kepada Al Quran Dan As Sunnah!
>
>
>
>
>>
>> "Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al-Qur'an) dan
>> sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku,
>> berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian
>> sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), kerana setiap
>> perbuatan baru itu adalah bid'ah, dan setiap bid'ah itu sesat"(H.R. Abu
>> Daud
>> dan Tirmizi)
>
>
>> "Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik
>> petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan
>> perkara yang paling buruk adalah perkara yang baru dan setiap bid'ah
>> adalah
>> tersesat"(H.R. Muslim)
>
>
>> "Berpeganglah kamu sekelian dengan Kitab Allah, halalkanlah apa yang telah
>> dihalalkan dan haramkanlah apa yang telah diharamkan."(H.R. Abu Daud,
>> sahih)
>
>
>> "Maka sesiapa yang fitrahnya diarahkan kepada sunnahku, maka dia telah
>> mendapat petunjuk dan sesiapa yang fitrahnya terarah kepada selainnya maka
>> ia telah binasa." (H.R. Ahmad dan Ibn Hibban)
>
>
>>
>> Sent from my BlackBerry®
>
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
>
>> --
>
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
>
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
>
>> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
>> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
>
>> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
>
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
>
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
>
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
>
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
>
>
>
> --
> Salamun 'ala manittaba al Huda
>
>
>
> ARMANSYAH
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
>
> --
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
> Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
> dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
>
> Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
> berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
>
> Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
> Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
> Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
> Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

[Milis_Iqra] Tempatkan Dalil itu pada Tempatnya

Assalalmu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

 

Sebagaimana kita bisa lihat diskusi tentang "Penguasa/pemerintah" tidak akan pernah habis-habisnya, namun disisi lain hal itu sangatlah penting bagaimana kita harus bersikap kepada penguasa. Namun sayangnya dari beberapa artikel yang di copy paste di milis ini tidak selamanya menggunakan dalil yang sesuai pada tempatnya.

 

Contoh di artikel yang telah di forward di milis ini yang ditulis oleh : Ibnu 'Ali Sutopo Yuwono di www.muslim.or.id  dengan judul "Akankah Kita Memberontak ?" pada aliniea

 

Pemberontakan Dalam Islam "Para pembaca yang budiman, perlu untuk kita ketahui bersama bahwa pemberontakan di dalam Islam hukumnya adalah harom berdasarkan ijma' (kesepakatan) kaum muslimin. Tentang hal ini, Imam Nawawi berkata, "Memberontak dan memerangi pemerintah, hukumnya adalah harom berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, meskipun pemerintah tersebut fasiq dan dzalim." (Syarh Shohih Muslim). Inilah yang telah diajarkan oleh Islam, yaitu selalu mendengar dan mentaati pemerintah walaupun mereka adalah orang yang fasiq dan dholim.

Banyak hadits yang menjelaskan tentang hal ini, diantaranya adalah hadits dari Abu Hunaidah Wail bin Hujr, ia berkata: Salamah bin Yazid Al-Ju'fi bertanya kepada Rosululloh, "Wahai Nabi Alloh, bagaimana pendapatmu jika kami dipimpin oleh orang yang selalu menuntut haknya kepada kami dan tidak mau untuk memenuhi hak kami, apakah yang engkau perintahkan kepada kami?" Mendengar pertanyaan ini beliau berpaling. Kemudian Salamah mengulangi pertanyaannya lagi. Maka Rosululloh bersabda, "Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka! Sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kewajiban mereka dan kamu pun akan dimintai pertanggungan jawab atas kewajibanmu." (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda, "Sepeninggalku nanti akan muncul pemimpin yang mementingkan diri sendiri dan (kamu melihat padanya) hal-hal yang kamu anggap mungkar." Para sahabat bertanya, "Wahai Rosululloh, apakah yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab, "Tunaikanlah haknya dan mohonlah kepada Alloh yang menjadi hakmu." (HR. Bukhori dan Muslim). Para pembaca yang budiman, perlu diulangi sekali lagi bahwa inilah sikap yang diajarkan oleh Islam berkaitan dengan hubungan antara rakyat dengan pemimpinnya, yaitu tetap mentaatinya walaupun ia seorang yang dholim dan gemar melakukan perbuatan kemaksiatan. Rosululloh Shollallohu 'alaihi wassalam bersabda, "Barangsiapa dipimpin oleh seorang penguasa, kemudian ia melihat penguasa tersebut terjatuh ke dalam perbuatan maksiat, hendaklah ia membenci perbuatan kemaksiatan tersebut, namun janganlah hal itu menyebabkan tidak taat." (HR. Muslim)
"

 

Tanggapan : Tidak ada yang salah dari hadist-hadist diatas namun meletakan hadist-hadist tersebut bukan pada TEMPATNYA, mengapa penulis tidak menempatkan hadist sebagai berikut pada artikelnya

 

"

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ وَهْبِ بْنِ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا عَمِّي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنِي بُكَيْرٌ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَدَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ فَقُلْنَا حَدِّثْنَا أَصْلَحَكَ اللَّهُ بِحَدِيثٍ يَنْفَعُ اللَّهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ دَعَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

 

Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb bin Muslim] telah menceritakan kepada kami pamanku [Abdullah bin Wahb] telah menceritakan kepada kami [Amru bin Al Harits] telah menceritakan kepadaku [Bukair] dari [Busr bin Sa'id] dari [Junadah bin Abu Umayyah] dia berkata, "Kami pernah menjenguk ['Ubadah bin Shamit] yang sedang sakit, kami lalu berkata, "Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang kamu dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Dia menjawab, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memanggil kami, lantas kami membai'at beliau. Dan di antara yang kami ambil janji adalah, berbai'at untuk selalu taat dan mendengar baik dalam keadaan lapang atau terpaksa, mementingkan kepentingannya dari pada kepentingan diri sendiri, dan tidak memberontak pemerintahan yang berwenang." Beliau bersabda: "Kecuali jika kalian melihat ia telah melakukan kekufuran yang jelas, dan kalian memiliki hujjah di sisi Allah." [Sahih Muslim No. 3427]"


"Telah menceritakan kepada kami [Waki'] telah bercerita kepada kami [Usamah bin Zaid] dari ['Ubadah bin Al Walid bin 'Ubadah bin Ash Shamit] dari kakeknya, ['Ubadah bin Ash Shamit], iaberkata: kami berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam mendengar dan taat baik saat susah atau pun senang, saat giat atau pun malas, tidak memberontak urusan yang menjadi wewenang seseorang, mengatakan kebenaran dimana saja kami berada, dan tidak takut celaan orang karena menjalankan perintah Allah.  [Musnad Ahmad No.  21666]

 

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَادَةُ بْنُ الْوَلِيدِ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَبَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ وَأَنْ نَقُومَ أَوْ نَقُولَ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا لَا نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ

 

Telah menceritakan kepada kami [Ismail] telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Yahya bin Sa'id] mengatakan, telah mengabarkan kepadaku ['Ubadah bin Al Walid] telah mengabarkan kepadaku [Ayahku] dari [Ubadah bin Ash Shamit] mengatakan; 'kami berbai'at kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam untuk mendengar dan taat, baik ketika giat (semangat) maupun malas, dan untuk tidak menggulingkan kekuasaan dari orang yang berwenang terhadapnya, dan mendirikan serta mengucapkan kebenaran dimana saja kami berada, kami tidak khawatir dijalan Allah terhadap celaan orang yag mencela.' [Sahih Bukhori No. 6660, An Nasai No 4080]

 

Telah menceritakan kepada kami [Al Qasim bin Zakaria bin Dinar] telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Mush'ab]. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Ubadah Al Wasithi] telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Israil] telah memberitakan kepada kami [Muhammad bin Juhadah] dari ['Athiyah Al 'Aufi] dari [Abu Sa'id Al Khudri] dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jihad yang paling utama adalah (menyampaikan) kalimat (haq) di depan penguasa yang zhalim." [Sunan Ibnu Majah No. 4001, Sunan Abu Dawud  No.3781,  Sunan At Tirmidzi No. 2001, Musnad Imam Ahmad No. 18074"

 

Dan satu lagi yang terpeting dari hadist Iyadh bin Ghanim tidak secara keseluruhan di tuliskan artinya meskipun hadist ini dari sisi SANAD di perselisihkan kesahihannya

 

 

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيُّ وَغَيْرُهُ قَالَجَلَدَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ صَاحِبَ دَارِيَا حِينَ فُتِحَتْ فَأَغْلَظَ لَهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ الْقَوْلَ حَتَّى غَضِبَ عِيَاضٌ ثُمَّ مَكَثَ لَيَالِيَ فَأَتَاهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ فَاعْتَذَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ هِشَامٌ لِعِيَاضٍ أَلَمْ تَسْمَعْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا أَشَدَّهُمْ عَذَابًا فِي الدُّنْيَا لِلنَّاسِ فَقَالَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ يَا هِشَامُ بْنَ حَكِيمٍ قَدْ سَمِعْنَا مَا سَمِعْتَ وَرَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ أَوَلَمْ تَسْمَعْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُوَإِنَّكَ يَا هِشَامُ لَأَنْتَ الْجَرِيءُ إِذْ تَجْتَرِئُ عَلَى سُلْطَانِ اللَّهِ فَهَلَّا خَشِيتَ أَنْ يَقْتُلَكَ السُّلْطَانُ فَتَكُونَ قَتِيلَ سُلْطَانِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

 

………………. [Syuraih bin 'Ubaid Al Hadlromi] dan yang lainnya berkata; ['Iyadl bin Ghonim] mencambuk orang Dariya ketika ditaklukkan. [Hisyam bin Hakim] meninggikan suaranya kepadanya untuk menegur sehingga 'Iyadl marah. ('Iyadl Radliyallahu'anhu) tinggal beberapa hari, lalu Hisyam bin Hakim mendatanginya, memberikan alasan. Hisyam berkata kepada 'Iyadl, tidakkah kau mendengar Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: " Orang yang paling keras siksaannya adalah orang-orang yang paling keras menyiksa manusia di dunia?." 'Iyadl bin ghanim berkata; Wahai Hisyam bin Hakim, kami pernah mendengar apa yang kau dengar dan kami juga melihat apa yang kau lihat, namun tidakkah kau mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan, tapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika diterima memang begitu, jika tidak maka dia telah melaksakan kewajibannya", kamu Wahai Hisyam, kamu sungguh orang yang berani, jika kamu berani kepada penguasa Allah, kenapa kamu tidak takut dibunuh penguasa dan kau menjadi korban penguasa Allah subhanahu wata'ala?. [Musnad Ahmad No. 14792]

 

Kata "Wahai hisyam, kamu sungguh orang yang berani….dst jarang sekali di tulis semuanya dalam artikel-artikel yang di kopy paste di Milis ini, contoh juga artikel yang ditulis oleh : Ibnu 'Ali Sutopo Yuwono di www.muslim.or.id  dengan judul "Akankah Kita Memberontak ?" pada aliniea "Nasehat Kepada Pemerintah" dan juga pada Artikel Bolehkah Mengkudeta Pemimpin yang ditulis di buku Kenalilah Akidahmu 2 karya "AlHabib Munzir bin Fuad AlMusawwa". PADAHAL kalau mau jujur dengan literature seharusnya jangan diambil setengah-setengah dan sesuai hawa nafsunya dirinya dan golongannya. Padahal jika di tulis semua arti dari hadist Iyadh bin Ghanim itu maka akan terlihat "jika kamu berani kepada penguasa Allah, kenapa kamu tidak takut dibunuh penguasa dan kau menjadi korban penguasa Allah subhanahu wata'ala?"

 

Kita sudah melihat banyak contoh Ulama yang jadi korban, hingga wafat atau setidaknya disiksa dalam penjara karena keberaniannya kepada penguasa yang zhalim, contoh Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, Sayyid Qutb, Yusuf Al Qordhawi, Buya Hamka, dan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Mengapa hal tersebut mereka lakukan karena Jihad yang paling utama adalah (menyampaikan) kalimat (haq) di depan penguasa yang zhalim, mengatakan kebenaran dimana saja mereka berada, dan tidak takut celaan orang karena menjalankan perintah Allah"

 

Coba kita lihat ulama-ulama sekarang yang mereka hanya bisa menasehati dengan artikel bahwa begini loh menasehati penguasa, "Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan, tapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua" Namun mereka sendiri tidak memiliki keberanian seperti ulama salaf yang sesungguhnya salaf, bukan hanya "Ana Salafi" namun tidak ada keberanian sama sekali menasehati secara menyendiri.

 

Namun juga bagi para tokoh agama/ulama membawa-bahwa golongannya untuk berdemo kemudian mencaci maki penguasa di media-media atau menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya mereka lalukan karena kapasitas ilmu mereka, maka mereka juga bukanlah dikatakan orang yang memiliki keberanian, karena beraninya ramean (kate orang betawi).

 

Sebenarnya jika tujuan mereka satu karena Allah maka segala sesuatunya bisa dilaksanakan dengan kapasitas keilmuan mereka…

 

Kemudian mengenai hadist yang di copy paste di milis ini dari artikel "Bolehkah mengkudeda Pemimpin?" karya Habib Munzir bin Fuad Al Musawwa, hadisnya adalah

 

"Sabda Rasulullah saw :

 "Barangsiapa yang melihat hal pada penguasanya sesuatu yang tidak disukainya maka hendaknya ia bersabar, sungguh barangsiapa yang keluar dari jamaah sejengkal saja, lalu ia wafat maka ia wafat dengan kematian jahiliyah" (Shahih Bukhari Bab Fitnah)"

Saya tidak mengerti maksudnya apa memasukan hadist diatas ke masalah "Bolehkah Mengkudeta Pemimpin?"

Tanggapan : Hadist tersebut di riwayatkan oleh Bukhori pada bab Fitnah No. 6530 dan 6610 Bab Hukum-hukum, selain itu juga di riwayatkan oleh Imam Muslim No. 3438, Musnad Ahmad No. 2357, Sunan Darimi No. 2407, namun yang patut di ketahui adalah beberapa hadist yang menjadi alasan mengapa Rasulullah bersabda demikian

Dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: "Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan Jama'ah kemudian ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah (dalam kebodohan). Dan barangsiapa mati di bawah bendera kefanatikan, dia marah karena fanatik kesukuan atau karena ingin menolong kebangsaan kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah (dalam kebodohan). Dan barangsiapa keluar dari ummatku, kemudian menyerang orang-orang yang baik maupun yang fajir tanpa memperdulikan orang mukmin, dan tidak pernah mengindahkan janji yang telah di buatnya, maka dia tidak termasuk dari golonganku dan saya tidak termasuk dari golongannya." Dan telah menceritakan kepadaku ['Ubaidullah bin Umar Al Qawariri] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] telah menceritakan kepada kami [Ayyub] dari [Ghailan bin Jarir] dari [Ziyad bin Riyah Al Qaisi] dari [Abu Hurairah] dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda seperti hadits Jarir, dia berkata, "Dan tidak memperdulikan orang mukminnya." [Sahih Muslim No. 3436, 3437, Sunan Nasai 4045, Musnad Ahmad No. 7605]

"Dari [Abu Hurairah], dia berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Barangsiapa memisahkan diri dari jama'ah dan keluar dari ketaatan lalu mati maka matinya adalah seperti orang jahilliyah. Dan barangsiapa memberantak umatku, membunuh yang baik dan yang fajir, tidak peduli dengan yang mukmin serta tidak melindungi orang yang berada di bawah perjanjian maka dia bukan dari umatku. Dan barangsiapa berperang di bawah bendera yang tidak jelas (selain bendera Islam), marah karena golongan, berperang karena fanatik golongan dan menyeru kepada golongan, maka kematiannya seperti mati dalam jahiliyah.""

Jama'ah yang dimaksud adalah jama'ah yang memang memegang Teguh kepada prinsip-prinsip Islam bukan jama'ah atas golongan yang hanya mementingkan golongannya saja. Karena dalam hadist yang saya bold diatas sudah jelas dibatasi bahwa mati dalam kebodohan (jahiliyah) adalah mati karena "bendera kefanatikan, fanatik kesukuan, menolong kebangsaan, berperang di bawah bendera yang tidak jelas (selain bendera Islam)" intinya mati bukan karena fii sabilillah.

Jadi kita bisa menilai  orang-orang yang demonstrasi kemudian dia mati,padahal kita tidak mengetahui secara JELAS  apa yang mereka bela, apakah Karena Allah atau bukan maka mereka mati dalam kebodohan. (baca : Jahiliyah - kalau pake bahasa arab)    

 

Semoga bermanfaat……….

 

Regards,
Dani Permana

" Always desire to learn something useful."

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-