Friday, December 25, 2009

[Milis_Iqra] HUKUM UCAPAN SELAMAT NATAL

HUKUM UCAPAN SELAMAT NATAL
Oleh : Armansyah

Hal yang harusnya mendapatkan perhatian dan menjadi pemikiran bersama menurut hemat saya adalah mencoba melakukan rekonstruksi dari makna dan tujuan dari ucapan salam atau selamat natal itu sendiri kepada orang-orang Kristiani.

Pertama-tama, arti ucapan salam adalah selamat atau keselamatan.
Tentu yang dimaksud mula-mula dari kata ini tidak lain dari keselamatan yang datangnya dari Allah.

Saat kita menyebut kata "Assalamu'alaykum" maka ini artinya kurang lebih "semoga keselamatan dari Allah atas dirimu" (walaupun harfiahnya kata-kata "dari Allah" merupakan sisipan utk memperjelas makna dari maksud kalimat aslinya).

Dari arti ucapan salam tersebut maka akan dipahami bahwa kalimat ini adalah do'a yang ditujukan dari kita kepada lawan bicara, lagi-lagi dengan makna agar orang tersebut selamat (tentu selamat dunia dan akhirat), implikasi dari keselamatan tersebut adalah orang ini diampuni kesalahan maupun perbuatannya.

Dalam kaitannya pengucapan salam untuk orang Islam, kalimat-kalimat semacam ini tidak menemui permasalahan apapun sebab akidah ketuhanannya sama yaitu Tauhid.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS AL-Baqarah (2) : 286)

Lalu bagaimana bila kemudian diucapkan kepada orang non Islam atau orang yang menolak mengakui Allah sebagai Tuhannya dan memilih tenggelam didalam kesombongan dan keegoisan dirinya meskipun dia mengetahui bahwa apa yang dia lakukan adalah salah dan tidak rasional ?

Al-Qur'an memberi pelajaran kepada kita melalui kisah Nabi Musa dan Fir'aun manakala beliau menjumpainya diistana :

Maka datanglah kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah: "Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan Kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk -. Salamun 'ala manittaba al Huda - (QS Thaha (20) :47)

Ucapan salam dari Nabi Musa dan Harun tersebut selanjutnya diterapkan juga oleh Nabi Muhammad dalam surat-surat yang beliau kirimkan kepada berbagai penguasa pada jamannya untuk memeluk Islam (salah satunya adalah surat kepada raja Romawi).

Dari sini kita mendapatkan hikmah bahwa bagi orang-orang sejenis Fir'aun yang menolak konsepsi Tauhid maka salam yang diberikan sepantasnya adalah do'a agar yang bersangkutan mendapatkan petunjuk dari Allah. Jelas maksud disini adalah petunjuk kepada kebenaran Islam sehingga keselamatan itu benar-benar terwujud.

Setelah kita mengetahui hal ini, maka selanjutnya hal yang kita rekonstruksi adalah hakekat dari Natal. Tentu kita tidak akan lari dari konteks pemahaman ataupun pemikiran orang yang merayakan natal itu sendiri yaitu umat Kristiani.

Natal bagi mereka adalah hari kelahiran Tuhan yaitu Tuhan yang bernama Yesus.
Dari sisi pemahaman tersebut maka jelas bertentangan dengan konsepsi Tauhid Islam sebab didalam Islam Tuhan tidak pernah dilahirkan atau melahirkan, Yesuspun dalam teologi Islam adalah Nabi Isa al-Masih seorang manusia biasa yang diangkat sebagai Rasul bagi Bani Israel. Isa alias Yesus bukan Tuhan.

Maka bila kemudian kita memberikan do'a dalam bentuk ucapan "Selamat Natal" kepada orang-orang Kristiani maka setidaknya sudah ada 2 hal yang kita langgar dari prinsip fundamental Islam.

1. Mendo'akan agar orang kafir itu selamat dunia dan akhirat, padahal keselamatan hanya bagi orang yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya

2. Secara tidak langsung menyetujui konsepsi bahwa Tuhan pernah dilahirkan dalam wujud makhluk yang bernama Yesus, padahal Allah Maha Suci dari semua itu dan al-Masih putera Maryam hanyalah Rasul-Nya.

Bagaimana mungkin setelah kita tahu hal ini masih berani untuk melakukannya ?
Alasan toleransi adalah alasan klasik yang sudah basi, sebab toleransi tidak harus diwujudkan dalam bentuk ucapan selamat atau do'a.

Toleransi dapat berwujud perhatian dalam bentuk sosial, saling bantu membantu dalam perbuatan yang baik dan mencegah perbuatan yang mungkar, mengajaknya kejalan Tuhan melalui diskusi yang positip dan benar serta hal-hal lainnya.

Salamun 'ala manittaba al Huda


Armansyah
Penulis Buku "Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih"
Jejak Nabi "Palsu"
Ramalan Imam Mahdi dan
Misteri Kecerdasan Syahadat

--

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment