Thursday, June 24, 2010

[Milis_Iqra] Dialog sunni -syiah peshawar---> 4

Nawab: Jadi bagaimanakah awal perselisihan ini muncul, sehingga dua golongan di dalam Islam sanggup menghalalkan darah saudara Islam yang lain, dan memandang sesama sendiri dengan perasaan benci dan dendam serta mengutuk amalan satu sama lain?

Shirazi: Pertama, saudara mengatakan dua golongan mazhab dalam Islam tidak mampu mencontohi satu sama lain. Saya terpaksa mempertahankan diri saya bagi pihak Syi'ah Ahlul Bait AS dan keluarga Rasulullah SAW, yaitu kami Syi'ah tidak memandang rendah atau bermusuhan dengan siapapun orang yang berpendidikan atau mengutuk saudara Islam Sunni kami. Malahan kami memandang mereka seperti saudara Muslim kami.

Kami, sudah pastilah amat berdukacita dengan dakwah pihak Khawarij, Nasibi, Bani Umaiyyah dan gerakan-gerakan syaitan baik dari kalangan jin dan manusia yang telah mengadu-domba saudara kami dalam Islam, yaitu Sunni, sehinggakan mereka menganggapkan saudara Syi'ah yang mengambil Ka'bah, al-Qur'an, kenabian, mengerjakan amalan yang diwajibkan dan sunat, serta menjauhkan diri dari perbuatan dosa, tetapi telah dituduh sebagai golongan Rafidi, penyembah berhala, kaum kufur, lalu mereka menjauhkan diri dari kami, dan memandang kami dengan perasaan benci dan dengki.

Kedua, saudara bertanya bagaimana awal terjadinya perbedaan ini, mungkin saya akan memberitahu saudara di malam-malam akan datang.

Ketiga, tentang menjamakkan solat atau pun solat secara terpisah, Ahli Fiqh Sunni sendiri mencatatkan hadith-hadith ini, yang memberi izin untuk menjamakkan solat Zuhr dengan Asar dan solat Maghrib dengan Isyak bagi tujuan kemudahan, kesenangan dan keselamatan dari bahaya atau dari kemudaratan.

Tetapi saya tidak mengetahui kenapa alasan-alasan pastinya di kemudian hari mereka melarang menjamakkan solat di luar halangan-halangan ini. Malahan, sebagian dari mereka seperti Abu Hanafi dan pengikut-pengikutnya telah mengharamkannya sama sekali, baik ketika ada halangan mahupun tidak ada, atau sama ada sewaktu di rumah ataupun di dalam perjalanan. Tetapi menurut Syafie, Maliki dan Hanbali, walaupun berbeda-beda di dalam alasan, telah mengizinkan untuk menjamakkan solat sewaktu di dalam perjalanan atau sebagaimana seperti pergi Haji, Umrah, dan peperangan dan lain-lain lagi.

Tetapi ulama Syi'ah di dalam mentaati para Imam Maksum dari Ahlul Bait Rasulullah SAW yang mengikut sunnah Rasulullah SAW yang disifatkan sebagai pembeda di antara yang haq dan yang batil dan pengimbang al-Qur'an, tanpa apa-apa syarat telah mengizinkan baik dii rumah ataupun di dalam perjalanan baik ada halangan atau pun tidak, untuk menunaikan solat secara berturut-berturut satu persatu, atau diselangi dengan jarak masa yang panjang.

Dan ini hanya termaktub kepada solat yang tertentu saja, yaitu mereka boleh mengerjakan solat Zuhr dan Asar, atau solat Maghrib dengan Isyak, di dalam satu waktu menurut kesempatan dan keselesaan, atau boleh juga untuk bersolat di awal waktu (ini sangat afdhal) ataupun mendirikan solat Maghrib dan Isyak mengikut keselesaan waktu mereka. Memang solat di awal waktu adalah lebih afdhal, sebagaimana yang telah disebutkan dalam buku-buku tentang masalah ini yang telah ditulis oleh ulama Syi'ah.

Mungkin orang-orang sekarang terlalu sibuk dengan tugas mereka dan mempunyai tanggung-jawab dan mereka sering merasa cemas karena bimbang melewatkan waktu solat. Jadi, bagi kemudahan mereka dan untuk mengelakan kesusahan dan beban (yang menjadi tujuan Pencipta Tuntutan Islam (Allah SWT), Syi'ah membolehkan dua solat di dalam satu waktu, baik di awal atau akhir waktu, pada waktu yang telah ditentukan. Saya harap ini sudah cukup untuk menjelaskan kemusykilan yang difikirkan oleh saudara, dan juga saudara Muslim Sunni yang memandang dengan dengki dan curiga terhadap kami. Sekarang kita kembali kepada perbincangan kita tadi, tentang persoalan pokok yang lebih utama, yaitu masalah hukum-hukum akan terjawab selepasnya dengan sendiri.
Bagaimana keturunan Allamah Berhijrah Dari Hijaz ke Iran

Hafiz memohon kepada Allamah Sultanul Waezeen supaya memberitahu tentang bagaimana keturunannya (Allamah Sahib) berhijrah dari Hijaz ke Iran. Allamah Shirazi telah menjelaskannya seperti sebuah keterangan sejarah keturunannya yang telah dibunuh dengan kejam sekali di Shiraz atas perintah Raja Abbasiyyah. Perkuburan mereka masih menarik pengunjung dari jauh. Yang paling terkemuka di antara mereka ialah Syed Amir Mohammad Abid, Syed Amir Ahmad (Shah Charagh), dan Syed Alauddin Hussain, semuanya adalah anak-anak Imam Musa al-Kazim AS. Kisah lebih terperinci akan dimulai dari sini.

Bagaimana Kubur Amirul Mukminin Ali AS Diketahui?

Penemuan kubur Amirul Mukminin Ali AS juga dibincangkan sebagaimana keterangan berikut.

Hafiz: Di daerah manakah terletaknya kuburan Amirul Mukminin Ali Karramallaha Wajhahu ketika itu, hingga akhirnya ditemukan setelah seratus tahun setengah?

Shirazi: Adapun Amirul Mukminin Ali AS telah syahid di waktu pemerintahan Khalifah Muawiyah, yang mana ketika itu pengkhianatan Umaiyyah berada di tahap yang amat melampaui batas. Amirul Mukminin Ali AS telah berwasiat supaya jasadnya dikebumikan di tempat yang tersembunyi di waktu malam dengan tidak meninggalkan jejak apapun.

Dengan itu hanya beberapa orang saja dari kalangan sahabat karibnya dan juga anak-anaknya yang hadir sewaktu beliau AS dikebumikan. Pada pagi 21 Ramadhan (ketika dia hendak dikebumikan), dua pengusungan telah disediakan. Satu menuju ke Mekah dan satu lagi menuju Madinah. Itulah sebabnya, selama beberapa tahun kuburannya tidak diketahui orang, melainkan beberapa sahabat yang tertentu saja dan termasuk juga anak-anaknya.

Hafiz: Apakah tujuan dibalik penyembunyian kuburannya?

Shirazi: Mungkin karena khawatir orang yang tidak beragama dari kalangan Bani Umaiyyah, sebab mereka ini menentangnya dan sangat memusuhi Ahli Keluarga Rasulullah SAW. Mereka mungkin melakukan perbuatan yang tidak senonoh terhadap kuburan yang suci ini, dan ini akan menjadi salah satu daripada tindakan yang paling kejam yang mungkin mereka lakukan.

Hafiz: Bagaimana mungkin saudara boleh berkata demikian? Amat mustahil bagi seorang Muslim, walaupun bermusuhan, untuk melakukan perkara yang tidak senonoh itu terhadap Muslim yang lain?

Shirazi: Barangkali saudara pernah mengkaji sejarah kegemilangan Bani Umaiyyah dan perlakuan mereka yang tidak berperikemanusiaan dan sangat memalukan. Sebagai pengetahuan, sejak dari awal berkuasa mereka telah membuka pintu kezaliman dan memperkosa hak-hak orang Muslim. Sungguh dahsyat sekali. Bencana apakah yang telah mereka lakukan? Betapa banyak darah telah mereka tumpahkan dan betapa pula kehormatan telah mereka jahanamkan.

Dinasti yang terhina, yang tidak mempunyai tatasusila. Perbuatan terkutuk mereka telah dicatatkan oleh ulama besar saudara dengan perasaan yang penuh keaiban, terutama sekali Allamah Maqrizi Abdul Abbas Ahmad bin Ali Syafie yang telah mencatat perbuatan Bani Umaiyyah yang amat menyayatkan hati di dalam kitabnya, "Anniza Wattakhasum Fi Ma Baina Bani Hashim Wa Bani Umaiyyah" yang menyatakan mereka tidak membedakan di antara orang yang hidup dan yang telah mati di dalam perasaan permusuhan mereka.

Sebagai contoh, saya akan memberikan dua saja peristiwa yang penting yang terjadi di dalam sejarah yang sungguh menyayat hati, yang membuktikan perbuatan kejam dan ganas Dinasti Umaiyyah, supaya saudara tidak akan terkejut dan patut menerima catatan sejarah yang sahih. Kedua-dua peristiwa itu adalah tentang Syahidnya Zaid bin Ali bin Husain AS yang dikenali sebagai Zaid as-Syahid dan anaknya Yahya.

Semua ahli sejarah Syi'ah dan juga Sunni telah mencatatkan bahwa ketika Hisyam bin Abdul Malik menjadi khalifah, dia mulai melakukan berbagai keganasan dan kekejaman atas orang banyak dan terhadap keluarga Bani Hashim, dia dan juga pengikutnya telah berlaku melampaui batasan dalam permusuhan. Akhirnya, Zaid bin Ali, anak kepada Imam Ali Zainal Abidin AS, yang terkenal sebagai seorang ulama besar, yang taat, seorang yang sangat bertaqwa, pergi menemui khalifah untuk mengadu tentang kesengsaraan yang telah menimpa Bani Hasyim dan orang-orang yang lain.

Tetapi setelah dia berjumpa dengan khalifah, belum pun sempat dia membuka mulutnya, dan bukan saja tidak disambut selayaknya seperti orang yang berasal dari darah daging Rasulullah SAW, malahan khalifah melemparkan kata-kata nista, tuduhan dan memaki nya sebagai perampok, dan kata-kata yang tidak sanggup untuk saya mengucapkannya, lalu mengusirnya keluar.
 
Legal Disclaimer: The information contained in this message may be privileged and confidential. It is intended to be read only by the individual or entity to whom it is addressed or by their designee. If the reader of this message is not the intended recipient, you are on notice that any distribution of this message, in any form, is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete or destroy any copy of this message

No comments:

Post a Comment