Saturday, June 26, 2010

[Milis_Iqra] Pandangan Syiah seputar sahabat Nabi



---------- Forwarded message ----------
From: Armansyah ( GMAIL ) <armansyah.skom@gmail.com>
Date: 2006/6/14
Subject: Artikel Syiah ( seputar Sahabat )
To: myquran@googlegroups.com


Assalamu'alaykum Wr. Wb.,
 
Dari sebuah buku berjudul : Akhirnya kutemukan kebenaran ( Kisah pengembaraan intelektual dan Spiritual )
Sebuah buku Syiah karya Muhammad al-Tijani al-Samawi ... saya nukilkan beberapa bagian diantaranya dari situs http://abatasya.net/content/category/8/39/88/10/0/
 
 
Semoga bermanfaat.,
 
 
Wassalam.,
 
 
 
 
Sekilas Biografi penulisnya :

MASIH tergambar jelas dalam ingatan ketika ayah mengajakku pergi ke masjid jami' di suatu bulan Ramadhan. Sepuluh tahun usiaku saat itu. Dikenalkannya aku pada jemaah masjid yang kala itu cukup mengagumiku. Berhari-hari guru ngajiku telah mempersiapkanku dengan hafalan-hafalan sejumlah ayat suci AlQuran. Pada saat shalat Teraweh, aku dan anak-anak yang lain ikut berjemaah dua atau tiga malam sampai sang imam membaca separuh AlQuran, yakni surah Maryam.

Ayah sangat menginginkan aku belajar AlQuran, baik di sekolah Tahfiz AlQuran atau pada saat senggang di rumah dengan dibimbing imam masjid jami', seorang dari kerabat kami yang hafal AlQuran. Aku telah hafal AlQuran sejak kecil, maka wajarlah jika guruku ingin sekali menunjukkan usaha-nya dan kelebihannya ini melaluiku. Diajarkannya padaku tempat-tempat yang sepatutnya rukuk, dan berulang kali beliau melatihku agar benar-benar aku dapat menghafalnya.

Dengan berhasil aku membaca ayat suci di depan jamaah dengan baik, berarti aku lolos uji. Inilah yang telah lama diharap-harapkan oleh ayah dan guruku itu. Semua yang hadir mencium dan memujiku dengan ucapan-ucapan yang sarat kekaguman yang luar biasa. Mereka mengucapkan rasa terima kasih kepada guru yang mengajarku itu; dan memberi selamat pula pada ayahku. Semua mengucapkan kata Alhamdulillah atas nikmat Islam dan "berkatnya Syaikh ".

Hari-hari yang kulalui selanjutnya serasa tak dapat kulupakan begitu saja. Masa kecilku kuisi dengan prestasi yang mengundang kekaguman orang banyak terhadapku dan kemasyhuran yang bahkan merayap jauh ke kampung-kampung yang lain. Peristiwa-peristiwa itu meninggalkan goresan-goresan yang hingga kini masih berbekas dalam hidupku. Setiap kali aku nyaris khilaf, ada kekuatan yang maha dahsyat yang seakan mengekangku dan membawaku kembali ke jalan yang benar. Dan setiap kali kurasakan lemahnya semangat dan tidak bermaknanya kehidupan, kenangan itulah yang mengangkatku kembali pada semangat yang sangat tinggi, dan menyalakan api keimanan di dalam kalbuku untuk melalui hidup ini.

Betapa tidak, ayah dan guruku telah membebankan tanggung jawab yang begitu besar padaku dalam usia yang sangat dini, sedemikian sehingga aku selalu merasa yang aku adalah orang yang tidak layak untuk menjadi orang setaraf itu atau paling tidak taraf yang mereka inginkan dariku.

Itulah kenapa aku lalui masa kecilku dan masa remajaku di dalam suasana istiqamah yang relatif, walaupun kadang-kadang tak luput juga dari kesalahan dan kesia-siaan yang timbul kebanyakannya dari rasa ingin tahu dan taklid buta. Karunia Allah mencurah padaku sehingga aku berbeda dari saudara-saudaraku yang lain dengan sikap tenang dan saleh, tidak terpeleset dalam dunia maksiat dan dosa-dosa besar.

Tidak mungkin kuniscayakan peran besar almarhumah ibuku dalam hidup ini. Beliau yang membukakan mataku dan mengajarkanku surah-surah pendek dalam AlQuran, juga hukum shalat dan wudhu. Beliau mencurahkan perhatian yang besar kepadaku, mungkin karena aku adalah anak lelakinya yang sulung. Di samping beliau juga mempunyai madu yang lebih tua darinya dan telah mempunyai anak-anak yang hampir seusia dengannya. Sedemikian tekun beliau asuh dan mendidikku seakan-akan beliau sedang berlomba dengan madu dan anak-anak suaminya yang lain.

Nama Tijani yang diberikan oleh ibuku juga mempunyai keistimewaan tersendiri dalam keluarga as-Samawi. Mengingat mereka adalah pengikut Tijaniah yang pertama kali sejak salah seorang anak Syaikh Sayyidi Ahmad Tijani yang datang dari Jazair mengunjungi kota Qafsah dan tinggal di rumah as-Samawi. Itulah awalnya. Hingga kini, sejumlah besar penduduk kota itu khususnya kalangan keluarga yang berpendidikan dan kaya-raya mengikuti Tarekat ini dan menyebarkannya. Kesamaan nama itu membuat aku makin dicintai dalam Dar Samawi yang dihuni oleh lebih dari dua puluh keluarga. Begitu juga di luar yang mempunyai hubungan dengan Tarekat Samawi.

Banyak orang-orang tua yang pada waktu bersembahyang pada malam-malam Ramadhan waktu itu --seingatku-- mencium kedua tanganku dan kepalaku sambil mengucapkan tahniah kepada ayahku dan berkata: "Ini adalah limpahan berkat dari Sayyidina Syaikh Ahmad Tijani."

Perlu diketahui bahwa Tarekat Tijaniah tersebar luas di Maghribi, Jazair, Tunisia, Libya, Sudan dan Mesir. Dan pengikut-pengikut tarekat ini agak taassub atau fanatik. Mereka tidak menziarahi kuburan para wali yang lain. Mereka percaya bahwa semua wali telah belajar dari masing-masing secara silsilah, kecuali Syaikh Ahmad Tijani. Beliau telah belajar langsung dari Nabi SAWW walau jaraknya dengan zaman Nabi dipisahkan oleh tiga belas abad. Mereka mengatakan bahwa Nabi SAWW pernah mendatangi Syaikh Ahmad Tijani secara yaqazhatan, yakni secara nyata, bukan melalui mimpi. Mereka juga berkata bahwa sembahyang sempurna yang dilakukan oleh Syaikh adalah lebih baik dari empat puluh kali mengkhatamkan AlQuran.

Sebaiknya kucukupkan saja pembahasan tentang tarekat Tijaniah ini sebelum menjadi bertele-tele. Karena kita akan menyentuhnya juga Insya Allah pada bab lain dari buku ini.

Aku tumbuh seperti layaknya anak-anak muda yang lain di atas kepercayaan ini. Alhamdulillah, kami semua adalah muslim Ahlu Sunnah Wal Jamaah, yang bermazhab Maliki, dari Imam Malik bin Anas, Imam Dar al-Hijrah. Namun kami terpisah di dalam berbagai tarekat sufi yang tumbuh bagai cendawan di Utara Afrika. Di kota Qafsah sendiri, ada Tijaniah, Qadiriah, Rahmaniah, Salamiah dan ’Isawiah. Setiap tarekat mempunyai pengikut yang hafal qasidah, zikir dan wirid-wirid yang dibaca di majlis-majlis tertentu, sembari mengaji AlQuran, seperti saat khatan, majelis syukuran atau karena nazar. Walaupun tidak luput dari unsur-unsur negatif, namun tarekat-tarekat seperti ini memainkan peranan penting dalam menyebarkan syiar-syiar keagamaan dan menghormati para wali dan orang-orang yang shaleh.

 
Sahabat Dalam Pandangan Sunnah dan Syi'ah
Sumber :
http://abatasya.net/content/view/239/88/

DI ANTARA tema penting yang kuanggap sebagai pokok dari setiap permasalahan yang bisa menghantar pada suatu kebenaran adalah masalah kehidupan para sahabat, sikap mereka dan prinsip-prinsip mereka. Mengingat mereka adalah tiang segala sesuatu. Dari mereka kita mengambil ajaran agama kita. Dan dari mereka juga kita memperoleh sinar untuk mengetahui hukum-hukum Allah SWT. Dahulu para ulama telah meneliti kehidupan mereka secara rinci. Buah karya mereka antara lain Usud al-Ghabah Fi Tamyiz as-Sahabah, Kitab al-Ishobah Fi Ma'rifah as-Sahabah, Kitab Mizan al- I'tidal dan lain sebagainya. Semua berbicara di sekitar biografi para sahabat secara teliti dan kritis. Dan semua juga dari sudut pandang Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

Ada beberapa keberatan lahir di sekitar masalah yang sangat penting ini. Mayoritas ulama yang membukukan fakta-fakta sejarah tidak sedikit yang ikut rentak para penguasa, baik Bani Umaiyah atau Bani Abbasiah. Sementara sikap permusuhan mereka terhadap Ahlul Bait Nabi dan bahkan terhadap orang-orang yang mengikuti mereka adalah rahasia umum yang diketahui oleh semua. Karena itu akan tidak adil apabila kita hanya mengambil pendapat mereka saja dan mengabaikan pendapat para ulama lain yang mengalami kondisi berbeda. Para ulama ini karena dikenal sebagai pengikut Ahlul Bait Nabi dan tidak sejalan dengan kehendak para penguasa, maka mereka sering dikejar-kejar, ditekan dan diburu.

Kemusykilan berikutnya berasal dari kalangan sahabat sendiri. Mereka telah berselisih ketika Nabi SAWW ingin menuliskan kepada mereka sebuah wasiat yang akan menjamin mereka dari kesesatan sampai akhir zaman. Perselisihan mereka telah mengakibatkan ummat Islam tidak memperoleh karunia ilahi. Bahkan telah menghantar mereka pada kesesatan dimana mereka terpecah akibat perselisihan itu dan menjadi suatu ummat yang lemah.

Sebelumnya mereka juga telah berselisih dalam masalah khilafah atau kepemimpinan, hingga mereka terbagi pada pendukung partai yang memerintah dan pendukung partai oposan. Akibatnya ummat ini terkorban dan terciptalah kelompok pengikut Ali yang bernama Syi'ah dan kelompok pengikut Muawiyah.

Mereka juga pernah berselisih dalam menafsirkan Kitab Allah dan hadis-hadis Nabi SAWW. Akibatnya terciptalah berbagai mazhab, golongan, kelompok dan aliran. Dari sana kemudian tumbuh pula berbagai aliran Ilmu Kalam dan aliran-aliran pemikiran yang beragam. Juga muncul berbagai aliran filsafat yang bermotifkan kepentingan politik melulu serta berkaitan rapat dengan cita-cita kekuasaan.

Seandainya bukan karena sahabat maka kaum muslimin tidak akan terpecah dan berselisih seperti ini. Setiap perselisihan yang ada pasti berakar dari mereka. Semua percaya bahwa Tuhannya Satu, AlQurannya satu, Rasulnya satu dan kiblatnya juga satu. Tiada siapa yang menginkarinya. Perselisihan dan pertikaian antara sahabat bermula sejak hari pertama setelah wafatnya Rasul SAWW di Saqifah Bani Sai'dah. Dan akibatnya sampai hari ini dan sampai suatu hari yang dikehendaki Allah akan terus berkelanjutan.

Dari serangkaian diskusiku dengan sejumlah ulama Syi'ah, mereka berpendapat bahwa para sahabat terbagi pada tiga golongan. Pertama, golongan sahabat yang baik yang telah mengenal Allah dan Rasul-Nya dengan pengetahuan yang sempurna. Mereka pernah membaiat Rasul dan bersedia berkorban untuknya; menemaninya dengan jujur dalam ucapan dan bersikap penuh ikhlas dalam tindakan. Mereka tidak berpaling dari jalan Rasul sepeninggalnya, bahkan tetap setia dengan janji-janjinya. Mereka telah memperoleh pujian dari Allah dalam sejumlah ayat-ayatnya. Rasul juga telah memujinya di dalam berbagai tempat. Mereka disebut oleh orang-orang Syi'ah dengan penuh hormat dan takzim. Apabila nama mereka disebut, maka ia disebut dengan mengucapkan kalimat Radhiallah A'nhum.

Kedua, kelompok sahabat yang memeluk Islam dan ikut Rasulullah karena suatu tujuan: menginginkan sesuatu atau takut pada sesuatu. Mereka meminta jasa dari Rasul atas keislaman mereka. Kadang-kadang mereka mengganggunya dan tidak patuh pada perintah atau larangannya. Bahkan mengutamakan pendapat sendiri di hadapan nas-nas yang jelas, sehingga Allah turunkan untuk mereka ayat yang mencela atau kadang-kadang yang mengancam mereka. Dalam berbagai ayat Allah telah mempermalukan mereka; dan Rasul juga telah memperingatkan mereka dalam berbagai sabdanya. Kepada sahabat sejenis ini orang-orang Syi'ah memang tidak menghormati mereka apalagi mengkultuskan.

Ketiga, kelompok munafik yang "menemani" Rasul karena ingin memperdayakannya. Mereka menampakkan diri sebagai Muslim sementara hati mereka menyimpan kekufuran. Mereka mendekat kepada Islam agar dapat memperdayakan kaum muslimin. Allah telah turunkan kepada mereka satu surah penuh. Disebutnya mereka dalam berbagai tempat dan diancamnya mereka dengan siksa api neraka yang sangat pedih. Rasul juga telah menyebut mereka dan mengancam mereka. Sebagian sahabat telah diberitahu nama-nama mereka dan tanda-tandanya. Sunnah dan Syi'ah sepakat untuk melaknat dan menjauhkan diri dari mereka.

Tambah satu lagi. Ada kelompok sahabat yang sangat istimewa, lantaran kekerabatan mereka dengan nabi, ketinggian akhlak dan kemurnian jiwa yang dimiliki dan kekhususan yang telah dikaruniakan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka hingga tiada satu pun orang yang dapat menyainginya. Mereka adalah golongan Ahlul Bait yang telah dibersihkan oleh Allah dari segala dosa dan disucikan mereka sesuci-sucinya (QS. Al Ahzab: 33); diwajibkan kepada kaum muslimin untuk bersalawat pada mereka sebagaimana juga pada Rasul; mereka disertakan sebagai golongan yang wajib diberikan khumus (QS. Al Anfaal: 41); diwajibkan kepada orang-orang Islam untuk mencintai mereka sebagai imbalan dari Risalah Muhammad (QS. Asy Syuura: 23); sebagai ulul amri yang wajib dipatuhi (QS. An Nisa: 59); sebagai orang-orang yang rusukh di dalam ilmu pengetahuan dan arif dalam mentakwil AlQuran serta membedakan antara yang mutasyabih dengan yang muhkam (QS. Ali Imran: 7); sebagai Ahli Zikr yang dijadikan oleh Rasul sebagai pendamping AlQuran dan wajib berpegang teguh kepadanya seperti dalam hadis as-Tsaqalain (lihat Kanzul Ummal[1: 44]); Musnad Ahmad (5: 182); sebagai Bahtera Nabi Nuh sehingga siapa yang mengikutinya akan selamat dan yang tinggal akan tenggelam (lihat Mustadrak al-Hakim 3:151; Sawwaiq al-Muhriqah Oleh Ibnu Hajar hal. 184 dan 234).

Para sahabat mengetahui kedudukan Ahlul Bait, menghormati bahkan mentakzimkan mereka. Dan Syi'ah ikut jejak mereka serta mendahulukan mereka atas semua sahabat. Dalam hal ini kelompok Syi'ah memegang nas-nas yang tak terbantahkan.

Sementara Ahlu Sunnah Wal Jamaah walaupun mereka menghormati, mengutamakan dan mentakzimkan Ahlul Bait, namun mereka tidak menerima adanya klasifikasi sahabat seperti ini. Mereka tidak menganggap orang-orang munafik sebagai bagian dari sahabat. Bagi mereka sahabat adalah manusia yang paling baik setelah Nabi SAWW. Apabila ada pembagian, maka pembagiannya di sisi lain, seperti kelompok sahabat tingkatan as-Sabiqun al-Awwalun, yang mula pertama masuk agama Islam; kelompok sahabat yang menderita karena agama Islam dan seterusnya. Empat Khulafa' Rasyidin adalah pada tingkatan yang pertama, kemudian menyusul enam sahabat lain yang telah dijamin sorga, seperti yang tertulis dalam sejumlah riwayat. Itulah kenapa ketika mereka bershalawat kepada Nabi dan Ahlu Baitnya maka mereka juga akan menyebut nama para sahabat secara keseluruhan, seperti Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Ajmai'n.

Demikianlah yang kuketahui dari ulama-ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah seperti juga yang kudengar dari para ulama Syi'ah perihal sahabat ini. Hal ini telah mendorongku untuk menelaah secara rinci segala sesuatu yang berkaitan dengan sahabat. Aku berjanji kepada Tuhanku untuk menghindari segala jenis fanatisme dan sikap emosional agar dapat benar-benar objektif dalam menilai pendapat kedua mazhab ini. Kemudian mengambil yang terbaik darinya.

Bahan pertimbangan yang kugunakan dalam hal ini adalah:

Pertama, Kaedah mantik (logika) yang benar. Yakni aku tidak akan berpegang kecuali pada apa yang telah disepakati oleh kedua mazhab ini, dalam menafsirkan Kitab Allah dan Sunnah Nabi yang shahih.

Kedua, Akal sehat. Ia adalah nikmat Allah yang paling besar pada ummat manusia. Karenanya maka manusia dimuliakan dan diutamakan di atas segenap makhluk yang lain. Bukankah Allah SWT menyeru manusia untuk berpikir ketika berhujah dengan mereka. FirmanNya "Apakah kalian tidak berfikir?", "Apakah mereka tidak memahami?", "Apakah mereka tidak meneliti?", "Apakah mereka tidak melihat?" dan lain sebagainya.

Prinsip telaahku juga harus Islami. Yakni beriman kepada Allah, para malaikatNya, para RasulNya, kitab-kitabNya dan bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya dan hanya Islam sebagai Din yang sah di sisi Allah SWT. Aku tidak akan merujuk kepada sahabat manapun kendati ia memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi; atau memiliki kedudukan yang tinggi. Aku bukan dari pengikut Bani Umaiyah atau Bani Abbasiah atau Fatimiah atau Sunnah ataupun Syi'ah. Tapi aku juga tidak menyimpan rasa permusuhan dengan Abu Bakar, Umar, Utsman atau Ali bahkan Wahsyi pembunuh Sayyidina Hamzah sekalipun selama dia telah ikut agama Islam. Bukankah Islam mengampuni segala apa yang telah berlalu di alam kekufuran dan Rasul juga telah memaafkannya?

Karena aku telah bertekad untuk mengkaji secara mendalam agar dapat sampai pada suatu kebenaran; dan karena aku telah mengambil keputusan untuk membebaskan pikiranku dari segala ikatan maka aku memulai penelitianku berkenaan dengan sahabat dengan penuh tawakkal dan mengharap berkat dari sisi Allah SWT.

 

Pandangan Rasulullah SAWW Tentang Sahabat
Sumber : http://abatasya.net/content/view/234/88/

Hadis Al-Haudh

Bersabda Rasulullah SAWW: "Ketika aku sedang berdiri tiba-tiba datang sekelompok orang yang kukenal. Lalu keluarlah seorang di antara kami dan berkata, "Mari (ikut aku)." Kutanya, "Kemana?" Jawabnya, "Ke neraka, demi Allah". "Apa kesalahan mereka?" Tanyaku. "Mereka telah murtad setelahmu dan berbalik dari kebenaran, dan kuperhatikan tiada yang tersisa melainkan (sedikit sekali yang) seperti sekelompok unta yang tersisih", jawabnya.1

Rasulullah SAWW bersabda: "Aku akan mendahului kalian di telaga haudh. Siapa yang berlalu dariku dia akan minum dan siapa yang telah minum tidak akan dahaga selama-lamanya. Kelak ada sekelompok orang yang kukenal dan mereka juga mengenalku datang kepadaku; kemudian mereka dipisahkan dariku. Aku akan berkata: 'sahabatku, sahabatku.' Lalu dijawab: 'engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan setelah ketiadaanmu.' Dan aku pun berkata: 'Enyahlah, enyahlah mereka yang telah berubah setelah ketiadaanku'".

Orang yang merenungkan makna hadis-hadis seperti ini yang diriwayatkan sendiri oleh ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah dalam berbagai kitab shahih mereka, tidak akan ragu-ragu lagi untuk mengambil kesimpulan bahwa kebanyakan sahabat telah berubah bahkan telah berbalik setelah wafatnya Nabi SAWW; melainkan segelintir kecil saja yang diibaratkan oleh Nabi seperti sekelompok unta yang tersisih. Hadis ini tidak dapat ditafsirkan bahwa ia ditujukan untuk golongan orang-orang munafik, mengingat nas yang berkata: sahabatku, sahabatku. Dan ia juga adalah tafsir atau realisasi dari ayat-ayat AlQuran yang menyebutkan tentang sikap mereka yang berbalik sehingga diancam oleh Allah dengan api neraka, seperti yang telah disentuh di atas.

Hadis: Bersaing Untuk Dunia

Bersabda Nabi SAWW: "Aku akan mendahului kalian dan akan menjadi saksi kalian. Demi Allah aku kini melihat haudhku (telagaku di syurga) dan aku juga telah diberikan kunci kekayaan bumi (atau kunci bumi). Demi Allah aku tidak khawatir kalian akan mensyirikkan Allah setelahku, tetapi aku khawatir kalian akan bersaing untuknya (dunia)".2

Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasululah SAWW. Mereka telah bersaing dan berlomba-lomba untuk dunia ini sehingga pedang-pedang mereka dihunuskan, berperang dan saling mengkafirkan. Sebagian sahabat yang besar bahkan telah menimbun emas dan perak. Para ahli sejarah seperti al-Masu'di di dalam kitabnya Muruj az-Dzahab, Thabari dan lain sebagainya telah mencantumkan bahwa kekayaan Zubair saja â€"misalnyaâ€" mencapai lima puluh ribu Dinar, seribu ekor kuda, seribu orang hamba sahaya dan sejumlah tanah di Bashrah, Kufah, Mesir dan lain sebagainya.3 Thalhah mempunyai kekayaan pertanian di Irak yang setiap harinya menghasilkan seribu Dinar, bahkan konon lebih dari itu. Abdurrahman bin A'uf mempunyai seratus kuda, seribu onta dan sepuluh ribu kambing. Seperempat dari seperdelapan hartanya yang dibagi-bagikan kepada para isterinya setelah wafatnya mencapai delapan puluh empat ribu.4

Ketika Usman bin Affan meninggal, beliau telah meninggalkan sejumlah seratus lima puluh ribu Dinar, tidak terhitung binatang ternak dan tanah-tanah subur yang tak terkira. Emas dan perak yang ditinggalkan oleh Zaid bin Tsabit sedemikian banyaknya sehingga harus dipecahkan dengan kapak, selain dari harta dan tanah yang bernilai seratus ribu Dinar.5

Demikian sebagian contoh yang dapat kita lihat dalam sejarah. Kita tidak bermaksud membahasnya secara rinci dan cukup sekadar bukti betapa mereka tergoda oleh kemewahan dunia dan kenikmatannya.


[1] Shahih Bukhori jil. 4 hal. 94-96,156; jil. 3 hal. 32; Shahih Muslim jil. 7 hal. 66.

[2] Shahih Bukhori jil. 4 hal. 100-101.

[3] Muruj az-Zahab oleh al-Masu'di jil. 2 hal. 341.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

 

Kesaksian Mereka Atas Perubahan Sunnah Nabi SAWW
Sumber : http://abatasya.net/content/view/233/88/

Abi Sa'id al-Khudri berkata: "Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah SAWW keluar rumah untuk menunaikan shalat Id. Usai shalat beliau berdiri menghadap para hadirin yang masih duduk di shaf, kemudian berkhotbah yang penuh dengan nasehat dan perintah." Abu Sa'id melanjutkan: "Cara seperti ini dilanjutkan oleh para sahabatnya sampailah suatu hari ketika aku keluar untuk shalat Id (Idul Fitri atau Idul Adha) bersama Marwan, gubernur kota Madinah. Sesampainya di sana Marwan langsung naik ke atas mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalt. Aku tarik bajunya. Tapi dia menolakku. Marwan kemudian memulai khotbah Idnya sebelum shalat. Kukatakan padanya: "Demi Allah kalian telah robah." "Wahai Aba Sa'id" Tukas Marwan, "Telah sirna apa yang kau ketahui" Kukatakan padanya: "Demi Allah, apa yang kutahu adalah lebih baik dari apa yang tidak kuketahui!" Kemudian Marwan berkata lagi: "Orang-orang ini tidak akan mau duduk mendengar khotbah kami seusai shalat. Karena itu kulakukan khotbah sebelumnya."1

Aku coba teliti gerangan apa yang menyebabkan sahabat seperti ini berani merobah Sunnah Nabi. Akhirnya kutemukan bahwa Bani Umaiyah â€"yang mayoritasnya adalah sahabat Nabiâ€" terutama Muawiyah bin Abu Sufyan yang konon sebagai Penulis Wahyu, senantiasa memaksa kaum muslimin untuk mencaci dan melaknat Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar-mimbar masjid. Muawiyah memerintahkan orang-orangnya di setiap negeri untuk menjadikan cacian dan laknat pada Ali sebagai suatu tradisi yang mesti dinyatakan oleh para khatib. Ketika sejumlah sahabat protes atas ketetapan ini, Mua wiyah tidak segan-segan memerintahkan mereka dibunuh atau dibakar. Mu'awiyah telah membunuh sejumlah sahabat yang sangat terkenal seperti Hujur bin U'dai beserta para pengikutnya, dan sebagian lain dikuburkan hidup-hidup. "Kesalahan" mereka (dalam persepsi Mu'awiyah) semata-mata karena enggan mengutuk Ali dan bersikap protes atas dekrit Mu'awiyah.

Abul A'la al-Maududi dalam kitabnya al-Khilafah Wal Muluk (Khilafah Dan Kerajaan) menukil dari Hasan al-Bashri yang berkata: "Ada empat hal dalam diri Mu'awiyah, yang apabila satu saja ada pada dirinya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencelakakannya:

Pertama, dia berkuasa tanpa melakukan musyawarah sementara sahabat-sahabat lain yang merupakan cahaya kemuliaan masih hidup.

Kedua, dia melantik puteranya (Yazid) sebagai pemimpin setelahnya, padahal sang putera adalah seorang pemabuk dan pecandu minuman keras dan musikus.

Ketiga, dia menyatakan Ziyad (seorang anak zina) sebagai puteranya, padahal Nabi SAWW bersabda: "Anak adalah milik sang ayah, sementara yang melacur dikenakan sanksi rajam."

Keempat, dia telah membunuh Hujur dan para pengikutnya.

Karena itu maka celakalah dia lantaran (membunuh) Hujur; dan celakalah dia karena Hujur dan para pengikutnya.2

Sebagian sahabat yang mukmin lari dari masjid seusai shalat karena tidak mau mendengar khotbah yang berakhir pada kutukan terhadap Ali dan keluarganya. Itulah kenapa Bani Umaiyah merobah Sunnah Nabi ini dengan mendahulukan khotbah sebelum shalat agar yang hadir terpaksa mendengarnya.

Nah, sahabat jenis apa yang berani merobah Sunnah Nabinya, bahkan hukum-hukum Allah sekalipun semata-mata demi meraih cita-citanya yang rendah dan ekspresi dari rasa dengki yang sudah terukir. Bagaimana mereka bisa melaknat seseorang yang telah Allah sucikan dari segala dosa dan nista dan diwajibkan oleh Allah untuk bershalawat kepadanya sebagaimana kepada Rasul-Nya. Allah juga telah mewajibkan kepada semua manusia untuk mencintainya hingga Nabi SAWW bersabda: "Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak."3

Namun sahabat-sahabat seperti ini telah merobahnya. Mereka berkata, kami telah dengar sabda-sabda Nabi tentang Ali, tetapi kami tidak mematuhinya. Seharusnya mereka bershalawat kepadanya, mencintainya dan taat patuh kepadanya; namun sebaliknya mereka telah mencaci dan melaknatnya sepanjang enam puluh tahun, seperti yang dicatat oleh sejarah. Apabila sahabat-sahabat Musa pernah sepakat mengancam nyawa Harun dan hampir-hampir membunuhnya, maka sebagian sahabat Muhammad SAWW telah membunuh "Harun-nya" (yakni Ali) dan mengejar-ngejar anak keturunannya serta para Syi'ahnya di setiap tempat dan ruang. Mereka telah hapuskan nama-nama dan bahkan melarang kaum muslimin menggunakan nama mereka. Tidak sekadar itu, hatta para sahabat besar dan agung pun mereka paksa untuk melakukan hal yang serupa.

Demi Allah, aku berdiri heran dan terpaku ketika membaca buku-buku referensi kita yang memuat berbagai hadis yang mewajibkan cinta pada Nabi dan saudaranya serta anak pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah hadis-hadis lain yang mengutamakan Ali atas para sahabat yang lain. Sehingga Nabi SAWW bersabda: "Engkau (hai Ali) di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku."4

Atau sabdanya: "Engkau dariku dan aku darimu".5

Sabdanya: "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya".6

Dan sabdanya: "Ali adalah wali (pemimpin) setiap mukmin setelahku."7

Dan sabdanya: "Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, bantulah mereka yang mewila'nya dan musuhilah mereka yang memusuhinya."8

Apabila kita ingin mencatat semua keutamaan Ali yang disabdakan oleh Nabi SAWW dan yang diriwayatkan oleh para ulama kita dengan sanadnya yang shahih, maka ia pasti akan memerlukan suatu buku tersendiri. Bagaimana mungkin sejumlah sahabat seperti itu pura-pura tidak tahu akan hadis ini, lalu mencacinya, memusuhinya, melaknatnya dari atas mimbar dan membunuh atau memerangi mereka?

Aku tidak temukan sebarang alasan dari sikap dan perlakuan seperti ini melainkan semata-mata karena cinta pada dunia dan berlomba-lomba mengejarnya; atau karena sifat nifak dan berpaling dari kebenaran. Aku juga coba melemparkan tanggung jawab ini kepada sebagian sahabat yang terkenal buruk, atau sebagian dari orang-orang munafik. Namun sayang sekali, yang kutemukan dari penelitianku itu adalah sejumlah sahabat yang agung dan masyhur. Orang pertama yang pernah mengancam akan membakar rumahnya (Ali) beserta para penghuni yang ada di dalamnya adalah Umar bin Khattab; orang pertama yang memeranginya adalah Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Muawiy ah bin Abu Sufyan dan A'mr bin A'sh dan sebagainya.

Rasa terkejut dan kagetku bertambah dalam dan seakan tidak akan berakhir. Setiap orang yang berpikir rasional akan segera mendukung pendapatku ini. Bagaimana ulama-ulama Ahlu Sunnah sepakat mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil sambil mengucapkan "Radhiallahu Anhum", bahkan mengucapkan shalawat untuk mereka tanpa kecuali. Sehingga ada yang berkata, "Laknatlah Yazid tapi jangan berlebihan". Apa yang dapat kita bayangkan tentang Yazid yang telah melakukan tragedi yang sangat tragis ini, yang tidak dapat diterima bahkan oleh akal dan agama. Aku nyatakan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah, jika mereka benar-benar mengikut Sunnah Nabi, agar meninjau hukum AlQuran dan Sunnah Nabi secara cermat dan seadil-adilnya tentang kefasikan Yazid dan kekufurannya. Rasululah SAWW telah bersabda: "Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Aku akan menjatuhkannya ke dalam api neraka."9

Demikian itu adalah sanksi bagi orang yang mencaci Ali. Maka bagaimana pula apabila ada orang yang melaknatnya dan memeranginya. Mana alim-ulama kita dari hakikat kebenaran ini? Apakah hati mereka telah tertutup rapat? Katakanlah, ya Allah, aku mohon lindunganMu dari bisikan syaitan dan dari kehadirannya.


[1] Shahih Bukhori jil. 1 hal. 122.

[2] Al-Khilafah Wal Muluk Oleh al-Maududi hal. 106.

[3] Shahih Muslim jil. 1 hal. 61; Sunan an-Nasai jil. 6 hal. 177; Shahih Turmudzi jil. 8 hal. 306.

[4] Shahih Bukhori jil. 2 hal. 305; Shahih Muslim jil. 2 hal. 366 Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109.

[5] Shahih Bukhori jil. 1 hal. 76; Shahih Turmidzi jil. 5 hal. 300; Shahih Ibnu Majah jil. 1 hal. 44

[6] Shahih Thurmudzi jil. 5 hal. 201; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 126.

[7] Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 5 hal. 25; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 134.

[8] Shahih Muslim jil.2 hal.362; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal, 281.

[9] Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi hal. 81; ar-Riyadh an Nadhirah oleh Thabari jil. 2 hal. 219; Tarikh as-Suyuti hal. 73.




--
Salamun 'ala manittaba al Huda



ARMANSYAH

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment

Post a Comment