Tuesday, June 15, 2010

[Milis_Iqra] Sunni atau Syiah, Kita Semua Muslim

Sunni atau Syiah, Kita Semua Muslim
http://www.commongroundnews.org/article.php?id=23161&lan=ba&sid=1&sp=0

Oxford, Inggris – BBC World belum lama ini menyiarkan Perdebatan Doha tentang usulan "Konflik Sunni-Syiah merusak reputasi Islam sebagai sebuah agama damai ". Topik tersebut sudah waktunya dibicarakan; sebuah topik yang sangat penting saat ini, karena ia adalah sebuah pertanyaan yang hanya dapat diajukan sekarang. Bukan karena perpecahan Sunni-Syiah merupakan sebuah fenomena baru: ia adalah sebuah perpecahan yang telah berumur dan memiliki sejarah panjang, yang muncul sebagai sebuah perpecahan politis, yang kemudian menjadi bernuansa keagamaan. Tetapi sekarang merupakan saat ketika unsur politisnya telah menyebabkan perpecahan tersebut menjadi begitu dahsyat.

Saya mengakui hal itu, tetapi saya berbicara berlawanan dengan usulan di Doha tersebut, karena perusakan terhadap reputasi Islam lebih disebabkan oleh sensasionalisme media, dan pemusatan perhatian atas kekerasan Muslim secara umum, daripada kekerasan Sunni-Syiah. Tetapi usulan tersebut bagi saya membawa ke pertanyaan lain: di tengah konflik Sunni-Syiah yang ada di beberapa kantung dunia Muslim, apa yang dapat kita gambarkan tentang Islam sesungguhnya atau apa yang sesungguhnya bukan Islam?

Mari kita terbuka: umat Muslim tidak selalu bersepakat tentang segala hal. Kaum Sunni sendiri memiliki empat mazhab yang diakui, dan Syiah memiliki tradisi khusus pembentukan keortodoksan. Dalam kedua pengelompokan tersebut, ada konsep penghormatan terhadap perbedaan pendapat, yang harus dirayakan dan dihargai dalam setiap kelompok. Dalam diskusi-diskusi antara Sunni-Syiah, konsep tersebut mengambil nada yang berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut ditenggang rasa dengan keengganan, tetapi dengan sebuah persyaratan penting: kedua kelompok tersebut sama-sama Muslim.

Para teolog Islam Sunni sejak lama telah menetapkan "posisi yang dapat dipercaya" bagi umat Sunni bahwa umat Syiah sesungguhnya adalah sebuah masyarakat Muslim. Status "yang dapat dipercaya" adalah sejenis kedudukan ortodoks tertentu; sesuatu yang sulit untuk ditentukan, mengingat keragaman dalam Islam Sunni. Tetapi dalam isu ini, hal tersebut telah ditetapkan, dan telah menjadi bagian dari keortodoksan sejarah yang begitu mencirikan Islam Sunni. Di pihak Syiah, hal yang sama umumnya berlaku: umat Sunni mungkin disalahpahami, kata para ulama, dan pandangan-pandangan mereka tentang Islam mungkin salah, tetapi mereka tetap Muslim.

Dengan pertumbuhan gerakan Wahhabi di Najd Arab Saudi, ketegangan-ketegangan tersebut semakin nyata (tidak hanya bagi kaum Syiah, tetapi bagi kaum Muslim bukan-Wahhabi), tetapi tidak pernah sampai menjadi kekerasan ekstrim seperti yang kita saksikan sekarang. Bahkan para penguasa Wahhabi yang paling puritan sekalipun tidak melarang umat Syiah datang ke Mekkah dan Madinah untuk menunaikan haji.

Beberapa tahun lalu, semakin menjadi jelas bagi para pemimpin Kerajaan Hashemit dari Yordania bahwa pemisahan yang telah sama-sama dianut kaum Sunni dan Syiah terancam bahaya penyalahgunaan oleh pihak-pihak luar untuk membenarkan kekerasan, seperti yang telah menimpa umat Kristen. Namun, tidak seperti dunia Kristen tempat perang-perang keagamaan sejati berlangsung – seperti yang terjadi antara umat Kristen dan Protestan – dunia Muslim menempuh jalur yang tak pernah dilalui sebelumnya. Dengan melihat ideologi al Qaeda sebagai sebuah ancaman bagi ko-eksistensi Sunni dan Syiah di Irak dan di mana pun, para cendikiawan Muslim, baik yang beraliran Sunni maupun Syiah, berkumpul bersama untuk menghalangi ideologi tersebut.

Para cendikiawan tersebut menciptakan sebuah kerangka tempat ratusan cendikiawan paling terkemuka dari dunia Muslim, Sunni, dan Syiah, termasuk al-Habib Ali al-Jifri dari Yayasan Tabah Abu Dhabi, memutuskan bahwa "cukup sampai di sini". Mereka menyatakan bahwa kaum Sunni dan Syiah adalah umat Muslim, dan bahwa kekerasan seharusnya tidak pernah terjadi di antara mereka. Itu merupakan sebuah kerangka kesatuan untuk mengalahkan nihilisme bernaluri pembunuh yang dijual al Qaeda. Kerangka itu disebut Pesan Amman (www.ammanmessage.com), dan ditandatangani pada bulan Juli 2005. Sejak saat itu, ratusan lagi telah menandatangani deklarasi tersebut secara online.

Beberapa bulan kemudian, al Qaeda menyatakan perang habis-habisan terhadap umat Syiah Irak, tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Muslim. Dua bulan setelah itu, ia menetapkan Amman sebagai sasaran dalam sebuah pembunuhan massal besar-besaran terhadap orang-orang tak berdosa. Tetapi itu gagal menghentikan momentum. Banyak orang dari seluruh dunia menandatangani Pesan Amman yang asli, dan mengembangkan versi lokal mereka. Para pemimpin Politik di dunia Sunni dan Syiah berbicara dengan jelas, baik dari kalangan Wahhabi Arab Saudi atau umat Syiah Iran yang setia: keduanya mungkin berbeda satu sama lain, tetapi mereka tidak akan membiarkan siapa pun, entah al Qaeda entah siapa pun, Muslim atau non-Muslim, mengadu domba Sunni melawan Syiah, atau sebaliknya.

Secara pribadi, saya tidak begitu tertarik dengan apakah Islam didefinisikan sebagai sebuah agama damai, atau agama perang, atau apa pun juga. Yang lebih penting adalah bahwa kita memperoleh definisi yang memenuhi syarat dan memiliki kewenangan. Banyak yang mencoba untuk merebut kewenangan tersebut: para ahli Amerika, ekstremis radikal, Anda boleh pilih. Tetapi apa yang harus kita lakukan adalah menyadari siapa yang telah memiliki kewenangan itu.

Definisi-definisi tersebut diuraikan oleh para ahli beragama Islam sendiri: para cendikiawan, ulama, ahli fiqih dan spiritualis, yang memperbarui sikap mereka melalui Pesan Amman dan berkata kepada satu sama lain: "Kita mungkin berbeda satu dengan yang lain, tetapi perbedaan-perbedaan itu seharusnya tidak pernah menjadi penyebab kekerasan." Al Qaeda di Irak membalas dengan mencoba memaksakan otoritas keagamaan mereka sendiri.

Bagi kita semua, pilihannya sederhana. Apakah kita mengakui bahwa para radikal penuh kekerasan tersebut dapat menggambarkan Islam dengan amarah berdarah mereka? Atau akankah kita mengirimkan pesan kepada mereka bahwa tak peduli betapa kerasnya usaha mereka – di Amman, di dunia Muslim, di New York, di London, di Madrid, atau di mana pun – para ekstremis kriminal tidak akan pernah memiliki otoritas untuk mendefinisikan apapun?

Saya tahu apa yang akan saya katakan keapda mereka: "Anda akan kalah. Peradaban akan menang."

Perdebatan Doha diarsipkan di http://clients.mediaondemand.net/thedohadebates.

###

* Dr. H. A. Hellyer adalah peneliti pada University of Warwick, anggota Pusat Kajian Islam Oxford, dan direktur pendiri Visionary Consultants Group, (www.visionaryconsultantsgroup.com), sebuah konsultan hubungan dunia Muslim-Barat. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: The National, 1 Mei 2008, www.thenasional.ae
Telah memperoleh hak cipta.


--
Salamun 'ala manittaba al Huda



ARMANSYAH

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment