Thursday, June 24, 2010

RE: [Milis_Iqra] Gara-gara Tuntut Kesamaan Hak, Pejabat Perempuan Saudi Didepak

Rosyid:

Apakah persatuan keyakinan yang dimaksud mas addin itu adalah kita harus satu keyakinan? semua harus jadi salafi, semua harus sunni, semua harus NU, semua harus Muhammadiyah baru bisa bersatu. Apakah seperti itu yang dimaksud mas addin?

Addin:

Maksud saya begini pak Rosyid, apakah dengan alasan persatuan, kita tidak boleh menjelaskan dan meluruskan kesalahan suatu golongan?? Apakah karena alasan persatuan, kesesatan Ahmadiyah kita  biarkan saja..?? Apakah karena alasan persatuan, bid’ah bid’ah yang berkembang subur didiamkan saja tanpa ada yang boleh mengkoreksinya, padahal sudah jelas bagi kita untuk ber amar ma’ruf nahi munkar ??

 

Kemudian bagaimana kita mengesampingkan ayat-ayat yang mulia dibawah ini tentang persatuan islam (saya copy dari thread yg lain)

Ali Imran 103. dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Dalam ayat ini Allah menyuruh kita untuk bersatu memegang tali Allah sedangkan Tali Allah adalah agamaNya, dan agama Allah adalah yang Allah turunkan kepada RasulNya di dalam AlQuran dan Sunnah, kemudian Allah melarang kita bercerai berai, hal ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mau mengikuti AgamaNya sesuai dengan yang diturunkan kepada rasulNya berarti telah bercerai berai. Benar tidak?

 

Jadi sesungguhnya orang2 yang telah menyelisihi jalan yang telah diterangkan Rasullullah sallallahu alaihi wassalam itulah yang tidak ingin bersatu memegang tali Allah walaupun orang2 itu meneriakkan persatuan...

 

Rosyid:

Kalau menurut saya persatuan itu silahkan yang salafi beribadahlah sesuai keyakinan salafi, yang muhammadiyah sesuai dengan keyakinan muhammadiyah, kita semua adalah Islam, selama yang disembah Allah SWT, mengakui rosul terakhir adalah Nabi Muhammad SAW, kitab sucinya Alquran, harus puasa di bulan ramadhan, bayar zakat, percaya malaikat jibril, mikail, dll, percaya qodo' dan qadar itu adalah saudara saya, saudara seiman.

 

Addin:

 

Kalo Persatuan menurut pak Rosyid seperti itu, lalu apakah maksud dari Hadist dan Firman Allah Ta’ala dibawah ini..??

 

Hadist Ibnu Mas’ud : Rasullullah sallallahu alaihi wassalam membuat garis lurus  dan bersabda:” ini adalah jalan yang lurus” Kemudian beliau membuat garis-garis disamping kiri dan kanannya dan bersabda:” ini adalah jalan-jalan lainnya, disetiap jalan itu ada syaitan yang menyeru kepadanya” Kemudian beliau sallallahu alaihi wassalam membaca ayat 153 Surat Al An’aam:

Al An’aam[153] dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa

 

Ayat ini menurut saya menyatakan bahwa persatuan dalam Islam haruslah diatas satu jalan, yaitu jalan yang lurus. Dan jalan yang lurus itu adalah jalan Rasulullah dan para sahabatnya, sedangkan apabila  keluar dari jalan yang sudah di ajarkan Rasulullah dan sahabatnya itu sama dengan mengikuti jalan-jalan yang lain yang disetiap jalan itu  ada syaitan yang menyeru kepadanya yang juga berarti telah melanggar larangan Allah untuk tidak bercerai berai.

 

Rosyid:

Apabila ternyata ada perbedaan dalam masalah ibadah selama ada dalil yang kuat walaupun dalil itu bermacam versi dan bisa dipertanggung jawabkan secara ilmu maka saya saya hormati keyakinannya, karena yang tahu Islam yang benar itu hanyalah Alloh SWT, dan setiap individu akan bertanggung jawab terhadap dirinya masing-masing dihadapan Allah SWT.

Addin:

Saya setuju dengan pak Rosyid mengenai  menghormati keyakinannya, tapi yang menakjubkan bagi saya adalah apabila ada golongan2 yang beribadah dengan menggunakan dalil yang bukan sekedar lemah saja, tetapi dengan cara memelintir ayat, merubah arti sesungguhnya suatu ayat, memalsukan hadist, dan upaya2 pembenaran lainnya...

 

 

Rosyid:

Yang saya sekarang ini sedih adalah semua golongan tidak bisa berfikir dengan jernih, lebih mengedepankan golongannya daripada berfikir dan bertindak secara ilmu dan hati, sehingga saling mengklaim dialah yang benar, yang lain salah, sesat atau sebagainya, pantaslah kalau kita disebut bagi buih di lautan.
Persatuan menuntut kita untuk arif dalam menyikapi perbedaan, sama halnya ketika kita hidup di masyarakat, kearifan kita dalam bertindak menentukan posisi kita di masyarakat, apakah kita akan dicela, atau akan dihormati.

 

Addin:

Saya lebih sedih lagi dengan banyaknya orang yang menafsirkan ayat sesuai hawa nafsunya, hanya karena ingin dibenarkan segala ritualnya yang ternyata bid’ah.

Ada Pemisalan yang indah dari Rasullullah sallallahu alaihi wassalam yang diriwatkan oleh Bukhori, beliau bersabda:

 

“Permisalan orang yang menjaga batasan-batasan Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti orang yang menumpang di sebuah kapal, sebagian berada diatas dan sebagian lagi berada dibawah, dan yang di bagian bawah apabila ingin mengambil air mereka harus melewati orang-orang diatas dahulu. Lalu mereka pun berkata:”Bagaimana bila kita lubangi saja kapal ini agar mudah mendapatkan air sehingga tidak perlu mengganggu orang-orang yang diatas? Bila mereka membiarkannya melubangi kapal semuanya akan tenggelam, dan bila mereka melarangnya semuanya akan selamat”.

 

Jadi mendiamkan kemungkaran, sama saja dalam furu’ maupun ushul, baik yang dzahir maupun batin adalah sebab turunnya adzab yang menyeluruh”. (lihat ilmu ushul bida’ hal 267-269)

 

Demikian, senangnya bisa berdiskusi seperti ini.. sayang waktu seperti ini jarang-jarang terjadi...

Wallahu ‘alam

 

No comments:

Post a Comment