menyambung postingan dari mas Dani,
ini ada beberapa ritual yg dilakukan masyarakat kita
walau negara kita mayoritas muslim tapi tidak sedikit pula yg kembali ke jaman jahiliyah
Kuncen Gunung Kerinci Gelar Ritual "Tawo Sedingin"
Kerinci, Jambi (ANTARA) - Juru Kunci atau "Kuncen" Gunung Kerinci, Mbah Kasirin mengatakan pada 10 November mendatang dirinya akan melakukan ritual penyerahan "tawo sedingin" semacam sesajen ke puncak Gunung Kerinci.
"Memang benar ada rencana Mbah Kasirin, juru kunci atau Kuncen Gunung Kerinci akan melakukan ritual menyerahkan `tawo sedingin` ke puncak Gunung Kerinci, tapi itu bukan ritual massal," terang Camat Kayu Aro Yal Kasni di Kerinci, Minggu.
Dikatakan Yalkasni, ritual yang akan digelar Mbah Kasirin tersebut hanyalah ritual pribadi sang Kuncen guna menunaikan wangsit mimpi yang diperolehnya tentang Gunung Kerinci yang terus menerus diterimanya semenjak sebulan lalu.
Menurut Mbah Kasirin sendiri mimpinya tersebut mengisyaratkan agar dia selaku penjaga Gunung kerinci seperti halnya tugas almarhum Mbah Marijan di Merapi, segera melakukan ritual "tawo sedingin".
"Dia juga akan memanjatkan doa ke hadirat Tuhan yang maha esa untuk ketenangan Gunung Kerinci. Ritual dan doa tersebut akan dilakukannya di puncak gunung tertinggi di Sumatera tersebut," katanya.
Menurut Yalkasni, berdasarkan koordinasi dengan Kades Sungai Rumpun Herman, karena bukan ritual yang merupakan agenda pemerintah dan bukan pula ritual kenduri 1 Syuro yang menjadi kebiasaan masyarakat setempat yang memang pada umumnya adalah warga keturunan suku Jawa, maka rencana Mbah Kasirin tersebut dirasa tidak harus dipublikasikan besar-besaran.
"Memang isunya apa yang akan dilakukan Mbah Kasirin tersebut disebut-sebut akan dijadikan salah satu agenda massal dalam peringatan HUT Kabupaten Kerinci ke-52 yang juga jatuh pada 10 November mendatang, padahal tidak begitu adanya," jelas Yalkasni.
Masyarakat keturunan Jawa yang umumnya mendiami kaki Gunung Kerinci dan bekerja sebagai pemetik teh PTPN VI serta petani sayur mayur, diakui Camat, memiliki tradisi ritual menghormati Gunung Kerinci yang digelar setiaap tahun tepat pada tiap tanggal 1 Syuro pada penanggalan Jawa.
Ia menjelaskan, upacara adat yang disebut Kenduri 1 Syuro itu antara lain memotong seekor kerbau yang kepalanya ditanam atau dikuburkan di Gunung Kerinci. Upacara itu diikuti segenap masyarakat Kayu Aro secara massal, khususnya oleh warga keturunan Jawa.
"Tapi ritual tawo sedingin ini hanya ritual kecil dan pribadi Mbah Kasirin. Tidak ramai-ramai, bahkan cenderung rahasia. Hanya saja beberapa keluaga dan warga bersimpati dan mendukung ritual tersebut," tegas Yalkasni.
Disingung soal ancaman bahaya mendaki sendiri ke puncak gunung mengingat status gunung Kerinci masih ditetapkan waspada dan tertutup bagi pendakian, Yalkasni mengatakan Mbah Kasirin bersikeras harus naik, karena itu menurut dia adalah tugas dan tanggung jawabnya selaku kuncen
Sebuah Fenomena kesyirikan, Gunung Sinabung Malah Meletus Lebih Besar Lagi Sehabis Ritual Sesajen
http://www.hasmi.org/sebuah-fenomena...l-sesajen.html
http://www.hasmi.org/sebuah-fenomena...l-sesajen.html
Kabanjahe (voa-islam.com) -Astagfirullah, bukannya bertaubat, tawakal kepada Allah serta mendekatkan diri kepada-Nya, sejumlah masyarakat yang berada di sekitar kaki Gunung Sinabung, Kamis (2/9/) kemarin, justru melakukan ritual menolak bencana.
Mereka memberikan sesajen dan doa kepada arwah leluhur yang mereka yakini sebagai penjaga Gunung Sinabung di Desa Sukanalu. Entah Allah murka justru gunung sinabung meletus semakin besar pasca ritual tersebut digelar.
Menurut pengakuan mereka, ritual ini biasa dilakukan masyarakat Karo sebagai adat untuk doa bagi leluhur yang menjaga Gunung Sinabung.
…Alam rupanya berkata lain. Gunung Sinabung meletus kembali dengan kekuatan lebih besar, Jumat (3/9/2010) pagi…
Namun kali ini, alam rupanya berkata lain. Gunung Sinabung meletus kembali dengan kekuatan lebih besar, Jumat (3/9/2010) pagi. Letusan pagi tadi merupakan yang terbesar dibandingkan letusan sebelumnya.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono mengatakan, letusan lebih besar itu terjadi karena ada penumpukan energi yang terjadi setelah letusan terakhir, Senin (31/8/2010) lalu.
Catatan PVMBG, kegiatan vulkanik di tubuh gunung yang masuk wilayah Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara itu mulai meningkat drastis sejak Kamis (2/9/2010) pukul 19.30.
Sejak Jumat dini hari, seluruh penduduk yang tersisa di daerah rawan I bencana, seperti Desa Suka Nebi dan Desa Suka Nalu serta Desa Guru Kinayan telah dievakuasi.
Hal yang sama juga terjadi pada para petugas keamanan, baik dari Brigade Mobil serta TNI. Beberapa truk hilir mudik mengangkut para petugas keamanan. Tidak jarang warga menumpang kendaraan tersebut karena tidak ada sarana transportasi untuk mengangkut mereka keluar dari daerah tersebut.
Letusan terjadi sekitar pukul 04.45 WIB. Dua hingga tiga menit sebelum letusan, terdengar bunyi gemuruh yang kuat. Getaran mencapai hingga radius enam kilometer lebih, sedangkan lemparan abu dari mulut Gunung Sinabung mencapai ribuan meter.
Para penduduk yang masih berada di sekitar kaki Gunung Sinabung segera meninggalkan tempat tersebut menggunakan kendaraan yang dimiliki. Hingga saat ini para penduduk masih berkumpul di sekitar kawasan Simpang Empat
Mereka memberikan sesajen dan doa kepada arwah leluhur yang mereka yakini sebagai penjaga Gunung Sinabung di Desa Sukanalu. Entah Allah murka justru gunung sinabung meletus semakin besar pasca ritual tersebut digelar.
Menurut pengakuan mereka, ritual ini biasa dilakukan masyarakat Karo sebagai adat untuk doa bagi leluhur yang menjaga Gunung Sinabung.
…Alam rupanya berkata lain. Gunung Sinabung meletus kembali dengan kekuatan lebih besar, Jumat (3/9/2010) pagi…
Namun kali ini, alam rupanya berkata lain. Gunung Sinabung meletus kembali dengan kekuatan lebih besar, Jumat (3/9/2010) pagi. Letusan pagi tadi merupakan yang terbesar dibandingkan letusan sebelumnya.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono mengatakan, letusan lebih besar itu terjadi karena ada penumpukan energi yang terjadi setelah letusan terakhir, Senin (31/8/2010) lalu.
Catatan PVMBG, kegiatan vulkanik di tubuh gunung yang masuk wilayah Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara itu mulai meningkat drastis sejak Kamis (2/9/2010) pukul 19.30.
Sejak Jumat dini hari, seluruh penduduk yang tersisa di daerah rawan I bencana, seperti Desa Suka Nebi dan Desa Suka Nalu serta Desa Guru Kinayan telah dievakuasi.
Hal yang sama juga terjadi pada para petugas keamanan, baik dari Brigade Mobil serta TNI. Beberapa truk hilir mudik mengangkut para petugas keamanan. Tidak jarang warga menumpang kendaraan tersebut karena tidak ada sarana transportasi untuk mengangkut mereka keluar dari daerah tersebut.
Letusan terjadi sekitar pukul 04.45 WIB. Dua hingga tiga menit sebelum letusan, terdengar bunyi gemuruh yang kuat. Getaran mencapai hingga radius enam kilometer lebih, sedangkan lemparan abu dari mulut Gunung Sinabung mencapai ribuan meter.
Para penduduk yang masih berada di sekitar kaki Gunung Sinabung segera meninggalkan tempat tersebut menggunakan kendaraan yang dimiliki. Hingga saat ini para penduduk masih berkumpul di sekitar kawasan Simpang Empat
Warga Mintomulyo Gelar Ritual Kesyirikan Sedekah Bumi di tengah maraknya bencana di Indonesia
Pati - Warga Desa Mintomulyo, Pati, Jawa Tengah, Jumat (5/11), menggelar ritual kesyirikan yakni tolak bala atau resik desa. Mereka mendoakan keselamatan seluruh warga desa, mereka juga memanjatkan doa untuk korban bencana tsunami di Kepulauan Mentawai dan letusan Gunung Merapi.
Acara ini diawali dengan kirab nasi tumpeng dari makam leluhur Mbah Tareko atau punden Desa Mintomulyo. Kirab berjalan mengelilingi sepanjang jalan desa. Di barisan depan, Kepala Desa Mintomulyo, Supoyo memimpin jalannya kirab diikuti para perangkat serta sejumlah pengurus warga setempat.
Di sepanjang jalan, terlihat ratusan warga yang telah menanti sejak pagi untuk menyaksikan kirab. Warga meyakini kirab tumpeng yang melintasi depan rumah mereka akan memberi berkah bagi keselamatan dan kesehatan. Selanjutnya, warga menyerahkan nasi hajatan ke aula punden untuk pesta bersama. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan seluruh warga desa.
Klimaks dari ritual tersebut adalah pembagian nasi tumpeng. Ratusan warga yang telah memadati sekitar lokasi punden berebutan untuk mendapat sebungkus nasi tumpeng. Mereka meyakini nasi tumpeng yang telah mendapat doa tersebut dapat memberi berkah padahal jelas sekali bahwa hal itu adalah kesyirikan akbar. (Liputan6)
Acara ini diawali dengan kirab nasi tumpeng dari makam leluhur Mbah Tareko atau punden Desa Mintomulyo. Kirab berjalan mengelilingi sepanjang jalan desa. Di barisan depan, Kepala Desa Mintomulyo, Supoyo memimpin jalannya kirab diikuti para perangkat serta sejumlah pengurus warga setempat.
Di sepanjang jalan, terlihat ratusan warga yang telah menanti sejak pagi untuk menyaksikan kirab. Warga meyakini kirab tumpeng yang melintasi depan rumah mereka akan memberi berkah bagi keselamatan dan kesehatan. Selanjutnya, warga menyerahkan nasi hajatan ke aula punden untuk pesta bersama. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan seluruh warga desa.
Klimaks dari ritual tersebut adalah pembagian nasi tumpeng. Ratusan warga yang telah memadati sekitar lokasi punden berebutan untuk mendapat sebungkus nasi tumpeng. Mereka meyakini nasi tumpeng yang telah mendapat doa tersebut dapat memberi berkah padahal jelas sekali bahwa hal itu adalah kesyirikan akbar. (Liputan6)
Nelayan Bantul Gelar Ritual Sedekah Laut
YOGYAKARTA – Nelayan Pantai Pandansimo Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar ritual sedekah laut.
Sebanyak 24 macam sesaji yang meliputi hasil bumi, kosmetik, dan pakaian seperti jarik, dilarung ke samudera.
Ritual Kesyirikan ini merupakan tradisi tahunan sejak tahun 1997 yang yang
diselenggarakan pada minggu pertama setelah lebaran.
Prosesi sedekah laut dipersiapkan sejak malam hari, sebelum hari pelarungan. Uba rampe sesaji pelarungan disiapkan di rumah juru kunci, dan dibawa ke tempat pelelangan ikan (TPI).
Pada pagi harinya, sesaji yang akan dilarung diarak oleh iring-iringan perempuan menuju pantai. Sebelum sesaji dilabuh ke samudera, para pemangku adat Suparman serta juru kunci Pantai Pandansimo Baru yang memimpin prosesi diiringi dengan pembakaran dupa.
Upacara di daratan berlangsung selama satu jam. Setelah itu sesaji dilarung ke samudera dengan tiga kapal nelayan di kejauhan 200 meter dari bibir pantai. Sekitar 12 nelayan yang ikut melarung sesaji ke samudera itu berlangsung 20 menit.
Inti dari ritual ini adalah kita berdoa kepada Tuhan agar diberikan keselamatan dan hasil yang melimpah saat kita melaut.
Acara sedekah laut itu mendapat perhatian dari kalangan masyarakat setempat dan wisatawan yang datang. Ratusan orang datang ke pantai tersebut untuk mengikuti acara prosesi sedekah laut.
Sungguh acara tersebut termasuk ke dalam kesyirikan akbar dimana para masyarakat berdoa bersama dengan menggunakan sesajen yang tidak disyariatkan sama sekali dalam Islam.
(mediaindonesia)
Sebanyak 24 macam sesaji yang meliputi hasil bumi, kosmetik, dan pakaian seperti jarik, dilarung ke samudera.
Ritual Kesyirikan ini merupakan tradisi tahunan sejak tahun 1997 yang yang
diselenggarakan pada minggu pertama setelah lebaran.
Prosesi sedekah laut dipersiapkan sejak malam hari, sebelum hari pelarungan. Uba rampe sesaji pelarungan disiapkan di rumah juru kunci, dan dibawa ke tempat pelelangan ikan (TPI).
Pada pagi harinya, sesaji yang akan dilarung diarak oleh iring-iringan perempuan menuju pantai. Sebelum sesaji dilabuh ke samudera, para pemangku adat Suparman serta juru kunci Pantai Pandansimo Baru yang memimpin prosesi diiringi dengan pembakaran dupa.
Upacara di daratan berlangsung selama satu jam. Setelah itu sesaji dilarung ke samudera dengan tiga kapal nelayan di kejauhan 200 meter dari bibir pantai. Sekitar 12 nelayan yang ikut melarung sesaji ke samudera itu berlangsung 20 menit.
Inti dari ritual ini adalah kita berdoa kepada Tuhan agar diberikan keselamatan dan hasil yang melimpah saat kita melaut.
Acara sedekah laut itu mendapat perhatian dari kalangan masyarakat setempat dan wisatawan yang datang. Ratusan orang datang ke pantai tersebut untuk mengikuti acara prosesi sedekah laut.
Sungguh acara tersebut termasuk ke dalam kesyirikan akbar dimana para masyarakat berdoa bersama dengan menggunakan sesajen yang tidak disyariatkan sama sekali dalam Islam.
(mediaindonesia)
Larung Buto, Ritual Kesyirikan Tolak Bala Merapi
MUNGKID - Seniman yang tinggal di wilayah Gunung Merapi melakukan ritual keyirikanyang diyakini dapat meredambahaya letusan. Buto (raksasa jahat) penghuni merapi yang diyakini sebagai pembawa bencana dihanyutkan di Sungai Blongkeng yang berhulu di Gunung Merapi dan berhilir di laut selatan dalam sebuah ritual.
Ritual Sesaji Merapi yang mengarah kepada kesyirikan tersebut dilakukan oleh Agus Merapi dari Kecamatan Srumbung. Sebelum dihanyutkan, Buto Merapi yang disimbulkan melalui sebuah lukisan di atas kanvas bergambar makhluk halus dan mengerikan itu, diadakan ritual terlebih dahulu.
Dalam prosesi ritual, seluruh perangkat sesaji berupa makanan hasil bumi dan dupa disusun menghadap ke arah Gunung Merapi. Tujuh lukisan dipasang memutar di sekitaran sesaji itu. Diantaranya lukisan Mbah Marijan, Dewi Gadung Melati (dewi kesuburan), Buto Merapi, dan empat diantarnya lukisan berupa gunung merapi saat mengeluarkan lahar panas. Semua lukisan merupakan hasil karya Agus Merapi.
Setelah semua perangkat tertata, Agus mulai menjalankan aksinya. Gerakan berupa tari-tarian dan penghormatan kepada Gunung Merapi satu persatu dikerjakan secara berurutan. Ritual tadi sebagai bentuk pemberian persembahan kepada para penghuni merapi Ritual ini dianggap dapat memberikan keselamatan. Sehingga terhindar dari mara bahaya yang oleh warga setempat disimbulkan oleh seorang buto. Padahal jelas sekali bahwa hal ini merupakan kesyirikan yang nyata yang dapat membuat pelakunya terjerumus kepada kekafiran.
Ritual akhirnya ditutup dengan proses larung lukisan Buto Merapi ke sungai Blongkeng. Pemilihan sungai blongkeng sediri lantaran sungai itu yang dianggap yang paling alami dan jauh dari kerusakan alat berat.
Setelah buto dilarung, mereka berharap kedamaian dan kesejahteraan warga usai merapi meletus akan meningkat. Kyai petruk yang menggembala wedus gembhel sudah mengirimkan abu yang baik untuk tanah, dan Dewi Gadung Melati memberikan banyak material berupa batu dan pasir untuk dimanfaatkan masyarakatnya.(Redaksi HASMI/jawa pos)
Ritual Sesaji Merapi yang mengarah kepada kesyirikan tersebut dilakukan oleh Agus Merapi dari Kecamatan Srumbung. Sebelum dihanyutkan, Buto Merapi yang disimbulkan melalui sebuah lukisan di atas kanvas bergambar makhluk halus dan mengerikan itu, diadakan ritual terlebih dahulu.
Dalam prosesi ritual, seluruh perangkat sesaji berupa makanan hasil bumi dan dupa disusun menghadap ke arah Gunung Merapi. Tujuh lukisan dipasang memutar di sekitaran sesaji itu. Diantaranya lukisan Mbah Marijan, Dewi Gadung Melati (dewi kesuburan), Buto Merapi, dan empat diantarnya lukisan berupa gunung merapi saat mengeluarkan lahar panas. Semua lukisan merupakan hasil karya Agus Merapi.
Setelah semua perangkat tertata, Agus mulai menjalankan aksinya. Gerakan berupa tari-tarian dan penghormatan kepada Gunung Merapi satu persatu dikerjakan secara berurutan. Ritual tadi sebagai bentuk pemberian persembahan kepada para penghuni merapi Ritual ini dianggap dapat memberikan keselamatan. Sehingga terhindar dari mara bahaya yang oleh warga setempat disimbulkan oleh seorang buto. Padahal jelas sekali bahwa hal ini merupakan kesyirikan yang nyata yang dapat membuat pelakunya terjerumus kepada kekafiran.
Ritual akhirnya ditutup dengan proses larung lukisan Buto Merapi ke sungai Blongkeng. Pemilihan sungai blongkeng sediri lantaran sungai itu yang dianggap yang paling alami dan jauh dari kerusakan alat berat.
Setelah buto dilarung, mereka berharap kedamaian dan kesejahteraan warga usai merapi meletus akan meningkat. Kyai petruk yang menggembala wedus gembhel sudah mengirimkan abu yang baik untuk tanah, dan Dewi Gadung Melati memberikan banyak material berupa batu dan pasir untuk dimanfaatkan masyarakatnya.(Redaksi HASMI/jawa pos)
Ponimin: Yang Mitos Itu Mak Lampir, Petruk Itu Pertanda Bahaya
Yogyakarta - Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo jelas menyatakan, awan berbentuk kepala Petruk di puncak Merapi hanya mitos belaka. Namun hal berbeda disampaikan Ponimin, yang disebut-sebut sebagai orang 'sakti' setelah Mbah Maridjan di lereng Merapi.
Pawang hujan ini menjelaskan, adanya awan berbentuk kepala tokoh punakawan Petruk memberikan sebuah tanda akan adanya bahaya dari aktivitas Merapi.
"Yang mitos itu cerita Mak Lampir, Grandong, Sembara, dan lainnya. Kalau Mbah Petruk sudah keluar di Merapi, itu perlambang (pertanda) akan ada bahaya dari Merapi," ujar ponimin kepada wartawan di kediaman Dr Anna Ratih Wardani di dusun Ngentak, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, Selasa (2/11/2010).
Awan berbentuk kepala Petruk merupakan perwujudan dari Mbah petruk salah satu penguasa di puncak Merapi. Kemana hidung panjang Petruk mengarah, di sana merapi akan mengeluarkan semburan awan panas atau bahkan mungkin lahar panas.
"Berarti Yogya yang bakal kena sampah (awan panas) gunung Merapi. Malah bisa saja lebih dari itu, misalnya lahar panas," terangnya.
Hal senada juga diungkapkan istri Ponimin, Yati. Dia mengaku semalam dirinya didatangi kembali sosok ghaib yang diyakininya sebagai Syekh Jumadil Kubro. Makhluk gaib selalu mengenakan gamis putih, bersorban, membawa tasbih dan tongkat itu memperingatkan bila Yogyakarta akan dilanda musibah.
"Niku kiro-kiro jam 3 kirang 5 menit mbengi. Sanjange Yogya bade diamuk Merapi," aku wanita yang mengenakan cicin di jarinya ini.
Untuk menangkal amukan Merapi tersebut, makhluk gaib juga berpesan agar dibacakan ayat suci Al Quran harus khatam 41 kali, doa Nurbuat 77.000 kali, doa Mubarrak 77.000 kali dan Dzikir sebanyak 77.000 kali.
"Saya cuma nyampekan amanat, mau dilaksanakan monggo, nggak juga silahkan,"imbuhnya.
Anda percaya?

Regards
F a i z a l
F a i z a l
--
This message has been scanned for viruses and
dangerous content by MailScanner, and is
believed to be clean.
No comments:
Post a Comment