Sunday, November 7, 2010

RE: [Milis_Iqra] Gaji Mbah Maridjan

Mas Nandang, mungkin silahkan merefer artikel ini dahulu… nanti kita bahas bersama2….

 

 


وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)


"
Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran." (Al 'Ashr: 1-3)


Kedudukan Surat Al 'Ashr

Al Qur'an adalah kalamullah ? (firman Allah) sebagai pedoman dan petunjuk ke jalan yang lurus bagi umat manusia. Allah ? berfirman (artinya):
"Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus." (Al Israa': 9)
Sehingga semua ayat-ayat Al Qur'an memiliki kedudukan dan fungsi yang agung. Demikian pula pada surat Al 'Ashr, terkandung di dalamnya makna-makna yang amat berharga bagi siapa saja yang mentadabburinya (memahaminya dengan seksama).


Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi'i menegaskan tentang kedudukan surat Al 'Ashr, beliau berkata:


لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسِعَتْهُمْ

"Sekiranya manusia mau memperhatikan (kandungan) surat ini, niscaya surat ini akan mencukupkan baginya." (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada Surat Al 'Ashr)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa perkataan Al Imam Asy Syafi'i itu adalah tepat karena Allah ? telah mengkhabarkan bahwa seluruh manusia dalam keadaan merugi (celaka) kecuali barang siapa yang mu'min (beriman) lagi shalih (beramal shalih) dan ketika bersama dengan yang lainnya saling berwasiat kepada jalan yang haq dan saling berwasiat di atas kesabaran. (Lihat Majmu' Fatawa, 28/152)


Keutamaan Surat Al 'Ashr

Al Imam Ath Thabrani menyebutkan dari Ubaidillah bin Hafsh ?, ia berkata: "Jika dua shahabat Rasulullah ? bertemu maka keduanya tidak akan berpisah kecuali setelah salah satu darinya membacakan kepada yang lainnya surat Al 'Ashr hingga selesai, kemudian memberikan salam." (Al Mu'jamu Al Ausath no: 5097, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 2648)

Kandungan Surat Al 'Ashr

Pada ayat pertama: ((وَالْعَصْرِ

Allah ? bersumpah dengan al 'ashr yang bermakna waktu, zaman atau masa. Pada zaman/masa itulah terjadinya amal perbuatan manusia yang baik atau pun yang buruk. Jika waktu atau zaman itu digunakan untuk amal kebajikan maka itulah jalan terbaik yang akan menghasilkan kebaikan pula. Sebaliknya jika digunakan untuk kejelekan maka tidak ada yang dihasilkan kecuali kerugian dan kecelakaan.


Rasulullah ? bersabda:


نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌمِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ


"
Dua kenikmatan yang kebanyakan orang lalai di dalamnya; kesehatan, dan waktu senggang" (HR. At Tirmidzi no. 2304, dari shahabat Abdullah bin Abbas ?)
Kemudian di hari kiamat kelak Allah ? akan menanyakan tentang umur seseorang, untuk apa dia pergunakan? Sebagaimana hadits Rasulullah ? yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Mas'ud ?, beliau ? bersabda:


لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

"Tidaklah bergeser telapak kaki bani Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa ia gunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan apa yang ia perbuat dengan ilmu-ilmu yang telah ia ketahui. (HR. At Tirmidzi no. 2416 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 947)


Kemudian Allah ? menyebutkan ayat berikutnya:


إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ


"
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi."
Lafazh al insan pada ayat di atas secara kaidah tata bahasa Arab mencakup keumuman manusia tanpa terkecuali. Allah ? tidak memandang agama, jenis kelamin, status, martabat, dan jabatan, melainkan Allah ? mengkhabarkan bahwa semua manusia itu dalam keadaan celaka kecuali yang memilki empat sifat yang terdapat pada kelanjutan ayat tersebut.
Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bermacam-macam, bisa kerugian yang bersifat mutlak, seperti keadaan orang yang merugi di dunia dan di akhirat, yang dia kehilangan kenikmatan dan diancam dengan balasan di dalam neraka jahim. Dan bisa juga kerugian tersebut menimpa seseorang akan tetapi tidak mutlak hanya sebagian saja. (Taisir Karimirrahman, karya Asy Syaikh Abdurrahman As Sa'di)


Pertama: Keimanan


Sifat yang pertama adalah beriman, diambil dari penggalan ayat:


إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا


"
Kecuali orang-orang yang beriman"
Iman adalah keimanan terhadap seluruh apa yang Allah ? perintahkan untuk mengimaninya, dari beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir, serta segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah ? dari keyakinan-keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat.
Penggalan ayat di atas memiliki kandungan makna yang amat berharga yaitu tentang kewajiban menuntut ilmu agama yang telah diwariskan oleh Nabi ?.
Mengapa demikian? Tentu, karena tidaklah mungkin seseorang mencapai keimanan yang benar dan sempurna tanpa adanya ilmu pengetahuan terlebih dahulu dari apa yang ia imani dari Al Qur'an dan As Sunnah.


Allah ? berfirman (artinya):


"Allah bersaksi (bersyahadat untuk diri-Nya sendiri) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia (Allah), para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga bersyahadat yang demikian itu), …" (Ali Imran: 19)


Dalam ayat yang mulia ini Allah ? menggandengkan syahadat orang-orang yang berilmu dengan syahadat untuk diri-Nya sendiri dan para Malaikat-Nya. Padahal syahadat laa ilaaha illallaah merupakan keimanan yang tertinggi. Hal ini menunjukkan tingginya keutamaan ilmu dan ahli ilmu. Bahkan para ulama menerangkan bahwa salah satu syarat sahnya syahadat adalah berilmu, yaitu mengetahui apa ia persaksikan. Sebagaimana firman Allah ?:


إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ


"
Kecuali barangsiapa yang bersyahadat dengan haq (tauhid), dalam keadaan mereka mengetahuinya (berilmu)." (Az Zukhruf: 86)
Sehingga tersirat dari penggalan ayat:


إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا


kewajiban menimba ilmu agama. Terlebih lagi Rasulullah ? menegaskan dalam haditsnya:


طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ


"
Menuntut ilmu (agama) adalah fardhu (kewajiban) atas setiap muslim." (HR. Ibnu Majah no. 224)


Kedua: Beramal shalih


Sifat yang kedua adalah beramal shalih, diambil dari penggalan ayat (artinya):


وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ


"
Dan beramal shalih."
Amalan shalih itu mencakup amalan zhahir yang dikerjakan oleh anggota badan maupun amalan batin, baik amalan tersebut bersifat fardhu (wajib) atau pun bersifat mustahab (anjuran).
Keterkaitan antara iman dan amal shalih itu sangatlah erat dan tidak bisa dipisahkan. Karena amal shalih itu merupakan buah dan konsekuensi dari kebenaran iman seseorang. Atas dasar ini para ulama' menyebutkan salah satu prinsip dasar dari Ahlus Sunnah wal jama'ah bahwa amal shalih itu bagian dari iman. Iman itu bisa bertambah dengan amalan shalih dan akan berkurang dengan amalan yang jelek (kemaksiatan)


Oleh karena itu, dalam Al Qur'an Allah ? banyak menggabungkan antara iman dan amal shalih dalam satu konteks, seperti dalam ayat ini atau ayat-ayat yang lainnya. Diantaranya firman Allah ? (artinya): "Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (An Nahl: 97)
Berkata Asy Syaikh Abdurrahman As Sa'di: "Jika dua sifat (iman dan amal shalih) di atas terkumpul pada diri seseorang maka dia telah menyempurnakan dirinya sendiri." (Taisir Karimirrahman)
Ketiga: Saling menasehati dalam kebenaran


Merupakan salah satu dari sifat-sifat yang menghindarkan seseorang dari kerugian adalah saling menasehati diantara mereka dalam kebenaran, dan di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah ? serta meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan-Nya.


Nasehat merupakan perkara yang agung, dan merupakan jalan rasul di dalam memperingatkan umatnya, sebagaimana Nabi Nuh ? ketika memperingatkan kaumnya dari kesesatan: "Dan aku memberi nasehat kepada kalian." (Al A'raaf: 62).


Kemudian Nabi Hud ? yang berkata kepada kaumnya: "Aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu." (Al A'raaf: 68)


Dengan nasehat itu maka akan tegak agama ini, sebagaimana sabda Rasulullah ? di dalam haditsnya:


الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ


"
Agama ini adalah nasehat" (H.R Muslim no. 90 dari shahabat Tamim Ad Daari ?)


Bila nasehat itu mulai kendor dan runtuh maka akan runtuhlah agama ini, karena kemungkaran akan semakin menyebar dan meluas. Sehingga Allah ? melaknat kaum kafir dari kalangan Bani Israil dikarenakan tidak adanya sifat ini sebagaimana firman-Nya (artinya): "Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka perbuat." (Al Maidah: 79)


Demikian pula orang-orang munafik yang diantara mereka saling menyuruh kepada perbuatan mungkar dan melarang dari perbuatan yang ma'ruf, Allah ? telah memberitakan keadaan mereka di dalam Al Quran, sebagaimana firman-Nya (artinya): "Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh kepada perbuatan yang mungkar dan melarang dari perbuatan yang ma'ruf." (At Taubah: 67)


Keempat: Saling menasehati dalam kesabaran


Saling menasehati dalam berbagai macam kesabaran, sabar di atas ketaatan terhadap Allah ? dan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, sabar terhadap musibah yang menimpa serta sabar terhadap takdir dan ketetapan-Nya.


Orang-orang yang bersabar di atas kebenaran dan saling menasehati satu dengan yang lainnya, maka sesungguhnya Allah ? telah menjanjikan bagi mereka pahala yang tidak terhitung, Allah ? berfirman (artinya): "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Az Zumar:10)
Jika telah terkumpul pada diri seseorang keempat sifat ini, maka dia telah mencapai puncak kesempurnaan. Karena dengan dua sifat pertama (iman dan amal shalih) ia telah menyempurnakan dirinya sendiri, dan dengan dua sifat terakhir (saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran) ia telah menyempurnakan orang lain. Oleh karena itu, selamatlah ia dari kerugian, bahkan ia telah beruntung dengan keberuntungan yang agung. Wallahu A'lam.

 


Penutup
Demikianlah para pembaca sedikit dari apa yang kami sampaikan mengenai tafsir Surat Al 'Ashr semoga dapat memberikan bimbingan kepada kita semua di dalam menempuh agama yang telah diridhai oleh Allah ? ini. Dan tentunya kita berharap agar dapat memiliki 4 sifat yang akan menyelamatkan kita dari kerugian baik di dunia maupun di akhirat. Amin, Ya Rabbal 'alamin.

 

http://www.assalafy.org/mahad/?p=28

 

From: milis_iqra@googlegroups.com [mailto:milis_iqra@googlegroups.com] On Behalf Of Nandang Sudrajat
Sent: Friday, November 05, 2010 4:56 PM
To: milis_iqra@googlegroups.com
Subject: RE: [Milis_Iqra] Gaji Mbah Maridjan

 

 

(dani)

Terkadang logika bisa dilemahkan oleh dalil, disitulah pentinganya dalil sebelum akal dalam hal Agama. Jadi mana yang mau di-ikuti ? Dalil atau logika dalam hal ini…

 

(nandang)

mas dani maaf saya mengejar, karena saya belum dijawab dan butuh klarifikasi tentang pernyataan mas dani yang mengangap statmen mas temi yg berdasarkan logika bertentangan dengan dalil dari mas dani sementara bagi saya dan mas temi sendiri anggap tidak bertentangan. seperti pernyataan mas dani diatas .

 

walaupun kata mas dani adalah Dalam kasus ini ada orang yang meminta nasehat, "dan sebagian ada yang menyepelekan permintaan nasehat itu,

tapi yang mas dani bahas adalah logikanya mas temi bukan kepada orang yang dianggap menyepelakan nasehat seperti yang  mas dani tulis sendiri yaitu "

 

Kalau Logikanya seperti Mas temi : mau dikemanakan Firman Allah ini  "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al 'Ashar 1 – 3)

kata "kalau logikanya mas temi" berarti mengacu kepada pernyataan mas temi sbb :

(temi)

"Sepemahaman saya, nasehat akan masuk ketika seseorang memang butuh nasehat.. Namun, kalo lagi nda butuh, mo di omong kayak apa juga nda bisa masuk tuwh nasehat..Makanya terkadang menasehati orang ada waktu yang pas, tidak bisa langsung frontal gituu..."

bukan kepada orang yg mas dani anggap menyepelakan nasehat tsb.

 

bagi saya tetep itu adalah pernyataan mas temi tidak bertentangan dengan dalil yang mas dani sampaikan yaitu :

(dani)

(3)bila ada yang meminta, nasehat berilah nasehat

dan Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al 'Ashar 1 – 3)

 

jadi dari yg saya baca mas dani sudah terhitung 2 kali mengangap logika mas temi bertentangan dengan dalil padahal mas temi sudah menerangkan maksudnya.tapi mas dani tetep menganggap mas temi bertolak belakang dengan dalil seperti di bawah ini ,

 

(temi)

Mas pahamkan maksud saya dengan yang di bold itu?

Sepakat gak niy? :D

[Dani] Ga Sepakat tuh… karena bertentangan dengan Dalil…  

 

(kuekeuhkan?)

 

bagaimana mas dani fairness dikit dong,dijawab dulu.

terima kasih.



--- Pada Jum, 5/11/10, Dani Permana <adanipermana@gmail.com> menulis:


Dari: Dani Permana <adanipermana@gmail.com>
Judul: RE: [Milis_Iqra] Gaji Mbah Maridjan
Kepada: milis_iqra@googlegroups.com
Tanggal: Jumat, 5 November, 2010, 3:08 PM

Diskusi inilah yang saling menguntungkan…..

Hehehe... Kalo lagi gak butuh, yaaa bisa di buat biar butuh dunk mas... biar efektif... Sekarang tinggal metode kitanya aja bagaimana buat dia merasa butuh nasehat dan mau mendengarkan kita...

[Dani] Caranya? Biar lebih afdol….
Caranya yang paling efektif, satu frekuensi dulu sama orang yang kita ajak bicara itu.. kalau belum agak sulit... makanya ketika ego berbicara, sulit masuk itu nasehat... seperti Ayah Andri bilang, satukan visi dulu... Atau malah bisa minta tolong yang pendapatnya di dengar..

[Dani] Visi sulit di satukan mas, apalagi jika yang satu "ngeyel" satunya lagi juga "Ngeyel plus" J… visi itu bisa berjalan jika yang dituju adanya keterangna Dalil, namun dalil terkadang bisa saja tidak sepaham dalam menafsirkannya. Seperti Mas Temi bilang "ketika ego berbicara" …. Maka tidak akan satu visi…. 

[Dani] kalimat "karena percuma saya ngomong juga yang ada malah saya yang dimarahi dan saya pun bisa ikut kesel juga yang nantinya malah timbul rasa malas..." itulah makna ayat "nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran."  Tidak akan percuma suatu kebaikan itu, namun jika yang "ada malah saya yang dimarahi dan saya pun bisa ikut kesel" itu berarti antum ga sabar dan tidak ikhlash… kalau sabar dan ikhlas,  Even orang mau marah, mau nimpuk, mau mencela maka tidak akan kesel… antum bisa merefer ke Al Qur'an.. disana ada ayat yang menyatakan Rasulullah merasa bersedih hati karena pamannya tidak mau beriman : Namun Allah menurunkan Firmannya : Bahwa yang memberikan hidayah itu bukan kamu, tapi Allah… Silahkan di check… dan di share disini dan kita bahas…


Iya mas, saya paham... Nah karena saya tahu saya belum cukup sabar dan ikhlas makanya saya diam (maklumlah mas, manusia yang dhoif yang masih belajar dan belajar untuk bisa lebih sabar), namun ketika suasana sudah reda barulah saya coba bicara...

[Dani] Dari Abu Hurairoh rodhiallohu 'anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. (Mutafaquan 'alaih). Sudah sejalan mas dengan dalil tersebut…….

 

[Temi]

bertentangan dengan Dalil yaa mas? yang mas maksud tadi di surat Al-Ashr? Yaa terserah mas Dani aja menafsirkannya bagaimana... :)
Kalo saya siy merasa tidak bertentangan... Ketika saya tidak sanggup menasehati orang lebih baik saya diam... Jadi bukan maksud untuk berhenti menasehati mas.. tp liat sikon dan kemampuan saya :) btw tujuan kita samakan ya mas, agar orang lain dapat minimal mendengarkan nasehat kita? Syukur2 ngikutin... namun kita berbeda cara, mas dani berpendapat harus hari itu.. kalau saya yaa lihat situasi dan kondisi serta kemampuan saya dalam berkomunikasi (takutnya saya salah ucap atau malah dapat membuat saya kesal dan malah menimbulkan penyakit hati karena masih lemahnya iman saya)...

Nah kalo kondisi di milis ini, saya rasa hanya salah mengerti, dan kekurangan menangkap apa yang di maksud karena berbedanya lingkungan antara kita...
Nah inilah tantangannya bagaimana mengkemas komunikasi agar dapat dipahami dan di mengerti semua teman2 disini karena berbedanya cara pandangan.. :) Ketika sudah di mengerti dan tidak sepaham ya sudah... tak perlu di bahas lagi :) yang penting visinya sama...

[Dani] Setuju, ketika saya berbicara "karena dalam diskusi seseorang bisa salah persepsi mengenai tulisan orang" dan ketika mas Temi berkata "salah mengerti, dan kekurangan menangkap apa yang di maksud karena berbedanya lingkungan antara kita" jadi itulah, orang yang ga mau tau alias ngeyel…. Lalu keluarlah tuduhan A bahkan sampe AZ lagi….. J

 

.

 

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

 

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

 

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125
 
Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63
 
Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment