Friday, January 21, 2011

[Milis_Iqra] Fwd: [assunnah] >>Sifat Khutbah Jum'at<<

---------- Forwarded message ----------
From: Abu Abdillah <abdullah_abu@hotmail.com>
Date: Fri, 21 Jan 2011 11:14:18 +0700
Subject: [assunnah] >>Sifat Khutbah Jum'at<<
To: assunnah assunnah <assunnah@yahoogroups.com>


SIFAT KHUTBAH JUM'AT

Oleh
Ustadz Abu Isma'il Muslim Al Atsari
http://almanhaj.or.id/content/2618/slash/0

Sesungguhnya khutbah Jum'at merupakan kesempatan yang sangat besar
untuk berdakwah dan membimbing manusia menuju keridhaan Allah. Hal
itu, jika khutbah dimanfaatkan sebaik-baiknya, dengan menyampaikan
materi yang dibutuhkan oleh hadirin menyangkut masalah agama mereka,
dengan ringkas, tidak panjang lebar, dan dengan cara yang menarik
serta tidak membosankan, sebagaimana dicontohkan telah Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

KEDUDUKAN KHUTBAH JUM'AT
Diantara bukti yang menunjukkan pentingnya khutbah Jum'at adalah
sebagai berikut.

Pertama : Perintah Allah untuk segera mendatangi shalat Jum'at dan
khutbahnya, dan larangan berjual-beli serta mu'amalah lainnya pada
saat itu.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ
الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ
خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Hai, orang-orang yang beriman. Apabila diseru untuk menunaikan shalat
pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Alloh dan
tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui" [Al-Haaqqah/62 : 9]

Kedua : Perintah untuk mendengarkan khutbah, dan gugurnya pahala
shalat Jum'at bagi orang yang berbicara saat khutbah berlangsung.
Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasul Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ
يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

"Jika engkau berkata kepada kawanmu "diamlah!", pada hari Jum'at dan
imam sedang berkhutbah, maka engkau telah mengatakan perkataan
sia-sia" [HR Bukhari, no. 934; Muslim, no. 851]

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,"Hadits ini dijadikan dalil
larangan terhadap seluruh macam perkataan pada saat khutbah, dan
demikian itu pendapat mayoritas ulama' terhadap orang yang mendengar
khutbah." [Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari]

Ketiga : Makmum dilarang melakukan segala perkara yang melalaikan dari
mendengar khutbah. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ
فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ
وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

"Barangsiapa berwudhu, lalu dia melakukan wudhu itu sebaik-baiknya,
lalu dia mendatangi (khutbah) Jum'at, lalu mendengarkan dan diam, maka
diampuni (dosanya) yang ada antara Jum'at itu dengan Jum'at lainnya,
ditambah tiga hari. Dan barangsiapa menyentuh kerikil (yakni
mempermainkannya, Pen.), maka dia telah berbuat sia-sia" [HR Muslim,
no. 857; Abu Dawud, no. 105; Tirmidzi, no. 498; Ibnu Majah, no. 1090]

Imam An Nawawi berkata,"Pada hadits di atas terdapat larangan
menyentuh kerikil dan permainan lainnya pada saat khutbah. Di dalamnya
terdapat isyarat, agar hati dan anggota badan (hadirin) tertuju kepada
khutbah. Dan yang dimaksudkan dengan "berbuat sia-sia" di sini, yaitu
perbuatan batil, tercela, dan tertolak." [Syarh Muslim, karya An
Nawawi]

Keempat : Malaikat mendengarkan khutbah Jum'at. Disebutkan dalam
hadits Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ
الْمَسْجِدِ مَلَائِكَةٌ يَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ فَإِذَا
جَلَسَ الْإِمَامُ طَوَوُا الصُّحُفَ وَجَاءُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

"Jika hari Jum'at, pada setiap pintu dari pintu-pintu masjid terdapat
malaikat-malaikat yang menulis orang pertama (yang hadir), kemudian
yang pertama (setelah itu). Jika imam telah duduk (di mimbar untuk
berkhutbah), mereka melipat lembaran-lembaran (catatan keutamaan amal)
dan datang mendengarkan dzikir (khutbah)". [HR Muslim, no: 24, 850]

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Yang dimaksudkan dengan
melipat lembaran-lembaran, adalah melipat (menutup) lembar catatan
keutamaan-keutamaan yang berkait dengan bersegera menuju masjid, bukan
lainnya, seperti: (lembaran yang mencatat pahala) mendengarkan
khutbah, mendapati shalat, dzikir, do'a, khusyu', dan semacamnya;
karena sesungguhnya hal itu pasti ditulis oleh dua malaikat penjaga".
[Fathul Bari, 2/448, Darul Hadits, Kairo, penjelasan hadits no. 881]

Dari keterangan-keterangan di atas jelaslah, bahwa khutbah Jum'at
memiliki kedudukan yang agung dalam syari'at Islam, sehingga
sepantasnya seorang khatib melaksanakan tugasnya dengan
sebaik-baiknya. Seorang khathib harus memahami aqidah yang shahihah
(benar), sehingga dia tidak sesat dan menyesatkan orang lain. (Seorang
khatib seharusnya) memahami fiqih, sehingga mampu membimbing manusia
dengan cahaya syari'at menuju jalan yang lurus. (Seorang khatib harus)
memperhatikan keadaan masyarakat, kemudian mengingatkan mereka dari
penyimpangan-penyimpangan dan mendorong kepada ketaatan.

Seorang khathib sepantasnya juga seorang yang shalih, mengamalkan
ilmunya, tidak melanggar larangan, sehingga akan memberikan pengaruh
kebaikan kepada para pendengar. Wallahu a'lam.

TATA-CARA KHUTBAH JUM'AT
Kita meyakini, bahwa Nabi Muhammad n adalah suri teladan terbaik dalam
beragama dan beribadah kepada Allah. Oleh karenanya, hendaknya kita
mencontoh Beliau dalam berkhutbah. Dan pasti, cara khutbah Nabi adalah
yang paling baik dan utama. Berikut adalah petunjuk Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam secara ringkas dalam menyampaikan khutbah Jum'at:

Pertama : Khathib naik mimbar, lalu mengucapkan salam kepada hadirin.
Kedua : Kemudian duduk, menanti adzan selesai, sambil menirukan adzan.
Ketiga : Kemudian berdiri untuk berkhutbah dan membukanya dengan:

• Hamdalah (bacaan alhamdulillah).
• Sanjungan kepada Allah,
• Syahadatain,
• Bacaan shalawat Nabi,
• Bacaan ayat-ayat taqwa,
• Dan perkataan amma ba'd.

Semua ini dapat dilihat pada contoh khutbah yang akan kami sampaikan
insya Allah.

Keempat : Khathib berkhutbah dengan berdiri, menghadapkan wajah kepada jama'ah.
Kelima : Duduk diantara dua khutbah, dengan tidak berbicara pada saat duduknya.
Keenam : Khutbah hendaklah sebentar, shalat lebih panjang, namun
keduanya itu sedang.
Ketujuh : Khathib hendaklah menjiwai khutbahnya.
Kedelapan: Berkhutbah dengan perkataan yang jelas dan tidak berbicara cepat.
Kesembilan : Jika ada keperluan, boleh menghentikan khutbahnya
sementara. Seperti mengingatkan shalat tahiyatul masjid bagi orang
yang baru datang, menegur hadirin yang ramai, dan semacamnya.
Kesepuluh : Jika berdo'a, mengisyaratkan dengan jari telunjuk.
Kesebelas : Setelah selesai berkhutbah, mengimami shalat.

Adapun Dalil-Dalil Hal Di Atas Adalah Sebagai Berikut:
Pertama : Khathib naik mimbar, lalu mengucapkan salam kepada hadirin,
sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdullah,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَعِدَ
الْمِنْبَرَ سَلَّمَ

"Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam jika telah naik
mimbar biasa mengucapkan salam". [HR Ibnu Majah, dishahihkan oleh
Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah].

Bagaimana bentuk mimbar Rasulullah? Hal ini disebutkan dalam banyak
hadits shahih, antara lain:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ وَكَانَ مِنْبَرُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَصِيرًا إِنَّمَا هُوَ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ

"Dari Ibnu Abbas, dia berkata: "Dan mimbar Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam pendek. Mimbar Beliau hanyalah tiga tingkat". [HR Ahmad,
1/268-269. Dihasankan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Washabi
dalam kitab Al Jauhar Fi 'Adadi Darajatil Mimbar, hlm. 61-64]

Dalam hadits lain disebutkan, bahwa mimbar Nabi itu dua tingkat,
kemudian yang ke tiga tempat duduknya. [HR Ibnu Khuzaimah, no. 1777,
dan lainnya. Lihat kitab Al Jauhar Fi 'Adadi Darajatil Mimbar, hlm.
55-56].

Sesungguhnya tidak ada perselisihan antara kedua hadits itu, karena
mimbar tersebut ada tiga tingkat, tingkat ke dua untuk berdiri, dan
tingkat ke tiga untuk duduk, wallahu a'lam.

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ
رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ
وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ قَالَ
أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ

"Dari Saib bin Yazid, dia berkata: "Dahulu adzan yang pertama pada
hari Jum'at ketika imam telah duduk di atas mimbar. Itu pada zaman
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiyallahu
'anhuma. Ketika Utsman Radhiyallahu 'anhu (menjadi Khalifah), dan
orang-orang telah banyak, ia menambah adzan yang ketiga di Zaura". Abu
Abdullah (yaitu Imam Bukhari) berkata,"Zaura adalah satu tempat di
pasar di kota Madinah." [HR Bukhari, no. 912]

Adapun khathib menirukan adzan, disebutkan dalam hadits di bawah ini:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ قَالَ سَمِعْتُ
مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى الْمِنْبَرِ
أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ
مُعَاوِيَةُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ وَأَنَا فَقَالَ أَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ وَأَنَا فَلَمَّا
أَنْ قَضَى التَّأْذِينَ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى هَذَا
الْمَجْلِسِ حِينَ أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ يَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ مِنِّي
مِنْ مَقَالَتِي

"Dari Abu Umamah Sahl bin Hunaif, dia berkata: Aku mendengar Mu'awiyah
bin Abi Sufyan yang sedang duduk di atas mimbar, ketika muadzin
berkata "Allahu Akbar, Allahu Akbar", Mu'awiyah berkata "Allahu Akbar,
Allahu Akbar". Muadzin berkata "Asyhadu alla ilaha illallah",
Mu'awiyah berkata: "Dan saya". Muadzin berkata "Asyhadu anna
Muhammadar Rasulullah", Mu'awiyah berkata: "Dan saya". Setelah muadzin
menyelesaikan adzannya, Mu'awiyah berkata: "Wahai, manusia.
Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah n di atas tempat duduk ini
-ketika muadzin beradzan-, Beliau mengatakan apa yang kamu dengar
dariku, yaitu perkataanku". [HR Bukhari, no. 914].

Kedua : Kemudian berdiri untuk berkhutbah dan membukanya dengan:
hamdalah, sanjungan kepada Allah, syahadatain, shalawat, bacaan
ayat-ayat taqwa, dan perkataan amma ba'd. Hal ini antara lain
ditunjukkan oleh banyak hadits, diantaranya hadits Abdullah. Dia
mengatakan, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kami
khutbah hajat (yaitu):

الْحَمْدُ لِلَّهِ (نَحْمَدُهُ وَ) نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا (وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا)
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ) وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ( يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ
وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ) (يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ) ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ) (أَمَّا بَعْدُ)

"Dari Abdullah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
telah mengajari kami khutbah untuk keperluan: "Alhamdulillah…,"
artinya Segala puji bagi Allah (kami memujiNya), mohon pertolongan
kepadaNya, dan memohon ampunan kepadaNya. Serta kami memohon
perlindungan kepadaNya dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan
amalan kami.

Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, tidak ada seorangpun
yang menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada
yang memberinya petunjuk.

Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi, kecuali Allah
(semata, tidak ada sekutu bagiNya), dan saya bersaksi bahwa Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusanNya.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar
taqwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam
keadaan beragama Islam. [Ali Imran:102]

Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah
menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan
isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki
dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan
(peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga
dan mengawasi kamu. [An Nisa':1]

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan
katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu
amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa
menta'ati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat
kemenangan yang besar. [Al Ahzab: 70, 71]. (Amma ba'du).[HR Ahmad dan
lainnya. Syaikh Al-Albani mengumpulkan sanad-sanad hadits ini di dalam
sebuah kitab kecil dengan judul Khutbah Hajah]

Setelah memaparkan sanad-sanad hadits khutbah hajah, Syaikh Al Albani
berkata dalam penutup kitab kecil beliau "Khutbah Hajah": "Dari
hadits-hadits yang telah lalu, menjadi jelas bagi kita bahwa khutbah
ini (yaitu, perkataan innal hamda lillah…) digunakan untuk membuka
seluruh khutbah-khutbah, baik khutbah nikah, khutbah Jum'at, atau
lainnya".[Khutbah Hajah, hlm. 31, karya Syaikh Al-Albani]

Walaupun membuka khutbah Jum'at dengan khutbah hajah sebagaimana di
atas hukumnya bukan wajib, namun pastilah merupakan keutamaan, karena
diajarkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan dari khutbah
hajah itu kita mengetahui bahwa khutbah Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam dibuka dengan: hamdalah, pujian kepada Allah, syahadatain,
bacaan ayat-ayat taqwa, dan perkataan amma ba'd.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Tidaklah Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam berkhutbah, kecuali Beliau membuka dengan hamdalah,
membaca syahadat dengan dua kalimat syahadat, dan menyebut dirinya
sendiri dengan nama diri beliau". [Zadul Ma'ad, 1/189]

Tentang membaca syahadat di dalam khutbah, ditegaskan juga dalam
hadits lain, sebagaimana hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ

"Tiap-tiap khutbah yang tidak ada tasyahhud (syahadat) padanya, maka
khutbah itu seperti tangan yang terpotong" [HR Abu Dawud, kitab
Al-Adab, Bab : Di dalam Khutbah. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih
Abu Dawud]

Membaca shalawat di dalam khutbah merupakan sunnah dan keutamaan,
sebagaimana dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu dalam
khutbahnya. Disebutkan dalam riwayat di bawah ini:

عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ كَانَ أَبِي مِنْ شُرَطِ
عَلِيٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ وَكَانَ تَحْتَ الْمِنْبَرِ فَحَدَّثَنِي
أَبِي أَنَّهُ صَعِدَ الْمِنْبَرَ يَعْنِي عَلِيًّا رَضِي اللَّهُ عَنْهُ
فَحَمِدَ اللَّهَ تَعَالَى وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ خَيْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ
بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُو بَكْرٍ وَالثَّانِي عُمَرُ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ
وَقَالَ يَجْعَلُ اللَّهُ تَعَالَى الْخَيْرَ حَيْثُ أَحَبَّ

Dari 'Aun bin Abi Juhaifah, dia berkata: Dahulu bapakku termasuk
pengawal Ali Radhiyallahu 'anhu, dan berada di bawah mimbar. Bapakku
bercerita kepadaku bahwa Ali Radhiyallahu 'anhu naik mimbar, lalu
memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menyanjungNya, dan bershalawat
atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan berkata: "Sebaik-baik
umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, yang kedua adalah Umar
Radhiyallahu a'nhuma". Ali Radhiyallahu juga berkata: "Alloh
menjadikan kebaikan di mana Dia cintai" [Riwayat Ahmad di dalam
Musnad-nya, 1/107, dan dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Ketiga : Khathib berkhutbah dengan berdiri dan menghadapkan wajah
kepada jama'ah, dan jama'ah menghadap wajah kepada khathib. Dari Ibnu
Umar Radhiyallahu 'anhuma, dia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَائِمًا ثُمَّ يَجْلِسُ ثُمَّ يَقُومُ

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berkhutbah dengan
berdiri pada hari Jum'at, kemudian Beliau duduk, kemudian Beliau
berdiri" [HR Muslim, no. 861]

Imam Bukhari berkata: "Bab: Imam menghadap kepada kaum (jama'ah), dan
orang-orang menghadap kapada imam ketika dia berkhutbah. Ibnu Umar dan
Anas menghadap kepada imam".

Ibnul Mundzir mengatakan: "Aku tidak mengetahui perselisihan diantara
ulama tentang hal itu". [Fathul Bari, 2/489. Penerbit: Darul Hadits,
Kairo].

Ibnu Hajar mengatakan: "Diantara hikmah makmum menghadap kepada imam,
yaitu bersiap-siap untuk mendengarkan perkataannya, dan melaksanakan
adab terhadap imam dalam mendengarkan perkataannya. Jika makmum
menghadapkan wajah kepada imam, dan menghadapkan kepada imam dengan
tubuhnya, hatinya, dan konsentrasinya, hal itu lebih mendorong untuk
memahami nasihatnya dan mencocoki imam terhadap apa yang telah
disyari'atkan baginya untuk dilaksanakan". [Fathul Bari, 2/489.
Penerbit: Darul Hadits, Kairo].

Keempat : Duduk diantara dua khutbah, tidak berbicara ketika duduknya.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir, dia berkata,

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ
قَائِمًا ثُمَّ يَقْعُدُ قَعْدَةً لَا يَتَكَلَّمُ

"Aku melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah berdiri,
lalu duduk sebentar, Beliau tidak berbicara". [HR Abu Dawud,
dihasankan oleh Al Albani].

Kelima : Khutbah hendaklah sebentar, shalat lebih panjang, namun
keduanya itu sedang.

قَالَ أَبُو وَائِلٍ خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَوْجَزَ وَأَبْلَغَ فَلَمَّا
نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ
فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ طُولَ صَلَاةِ
الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا
الصَّلَاةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا

"Abu Wa'il berkata: 'Ammar berkhutbah kepada kami dengan ringkas dan
jelas. Ketika dia turun, kami berkata,"Hai, Abul Yaqzhan (panggilan
Ammar). Engkau telah berkhutbah dengan ringkas dan jelas, seandainya
engkau panjangkan sedikit!" Dia menjawab,"Aku telah mendengar
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,'Sesungguhnya
panjang shalat seseorang, dan pendek khutbahnya merupakan tanda
kefahamannya. Maka panjangkanlah shalat dan pendekanlah khutbah! Dan
sesungguhnya diantaranya penjelasan merupakan sihir'." [HR Muslim, no.
869].

Dalam hadits lain disebutkan, dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu
'anhu, dia berkata,

كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَكَانَتْ صَلَاتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا

"Aku biasa shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
maka shalat Beliau sedang, dan khutbah Beliau sedang". [HR Muslim, no.
866].

Adapun ukuran panjang shalat Jum'at dapat dilihat dari kebiasaan Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau biasa membaca surat Al A'la dan
Al Ghasyiyah, atau Al Jumu'ah dan Al Munafiqun. Sehingga khutbah
Jum'at hendaklah tidak lebih lama dari itu. Dari An Nu'man, dia
berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي
الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membaca di dalam
shalat dua hari raya dan shalat Jum'at dengan: Sabbihisma Rabbikal
a'la dan Hal ataaka haditsul ghasyiyah". [HR Muslim, no. 878].

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ

"Abu Hurairah berkata,"Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam membaca keduanya (surat Al A'la dan Al Ghasyiyah)
pada hari Jum'at". [HR Muslim, no. 862].

Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad Al 'Ablaani berkata,"Memanjangkan
khutbah merupakan cacat yang seharusnya ditinggalkan oleh para
khathib. Mereka lebih mengerti daripada yang lain, bahwa pengunjung
masjid pada shalat Jum'at ada pemuda, ada orang tua pikun yang tidak
mampu menahan wudhu' dan kesucian sampai waktu yang lama, ada orang
yang memiliki kebutuhan lain, ada orang yang lemah, orang sakit, dan
ada orang-orang yang memiliki halangan. Sehingga memanjangkan khutbah
akan sangat menyusahkan mereka. Selain itu, memanjangkan khutbah akan
membangkitkan kebosanan, bahkan kejengkelan terhadap khathib dan
khutbahnya. Sebagaimana dikatakan (dalam pepatah): Sebaik-baik
perkataan adalah yang ringkas dan jelas, dan tidak panjang lebar yang
membosankan." [Imamatul Masjid, hlm. 95-96].

Ketika membicarakan tentang sunnah memendekkan khutbah Jum'at, Syaikh
Ahmad bin Muhammad Alu Abdul Lathif Al Kuwaiti berkata: "Wahai,
khathib yang membuat orang menjauhi dzikrullah (khutbah), karena
engkau memanjangkan perkataan! Tahukah engkau, bahwa diantara sunnah
khutbah Jum'at adalah meringkaskannya dan tidak memanjangkannya. Dan
sesungguhnya memanjangkan khutbah Jum'at menyebabkan para hadirin lari
(tidak suka), menyibukkan fikiran, dan tidak puas dengan tuntunan Nabi
Pilihan (Muhammad) n serta para pendahulu umat ini yang baik-baik".
[Al 'Ujalah Fi Sunniyyati Taqshiril Khutbah, hlm. 6].

Kalau kita memperkirakan lama khutbah Jum'ah yang baik, mungkin
sekitar 15 menit. Wallahu a'lam.

Keenam : Khathib hendaklah menjiwai khutbahnya.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا
صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ
صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ

"Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata,"Kebiasaan Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam jika berkhutbah, kedua matanya memerah,
suaranya tinggi, dan kemarahannya sungguh-sungguh. Seolah-olah Beliau
memperingatkan tentara dengan mengatakan:' Musuh akan menyerang kamu
pada waktu pagi', 'Musuh akan menyerang kamu pada waktu sore'." [HR
Muslim, no. 867].

Imam Nawawi berkata,"Hadits ini dijadikan dalil, bahwa khathib disukai
yang membesarkan perkara khutbah (yakni serius dan sungguh-sungguh
dalam masalah khutbah, Pen.), meninggikan suaranya, membesarkan
perkataannya. Dan hal itu (hendaklah) sesuai dengan tema yang dia
bicarakan, yang berupa targhib (dorongan kepada kebaikan) dan tarhib
(ancaman terhadap keburukan). Dan kemungkinan kemarahan Beliau yang
sungguh-sungguh yaitu ketika Beliau memperingatkan perkara yang besar
dan urusan yang penting." [Al Minhaj, 6/155-156. Dinukil dari kitab
Hadyun Nabi Fi Khutbatil Jum'ah, hlm. 16, Syaikh Dr. Anis bin Ahmad
bin Thahir].

Ketujuh : Berkhutbah dengan perkataan yang jelas, pelan-pelan, dan
tidak berbicara dengan cepat, sebagaimana hadits A'isyah Radhiyallahu
'anha,

...لَمْ يَكُنْ يَسْرُدُ الْحَدِيثَ كَسَرْدِكُمْ

"... Beliau tidak berbicara cepat sebagaimana engkau berbicara cepat."[HR
Bukhari, Muslim].

Dalam riwayat lain, disebutkan:

وَلَكِنَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ بِكَلاَمٍ بَيِّنٍ فَصْلٍ, يَحْفَظُهُ
مَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ

"Tetapi Beliau berbicara dengan pembicaraan yang terang, jelas, orang
yang duduk bersama Beliau dapat menghafalnya". [HR Tirmidzi di dalam
Asy Syamail, no. 191].

Dalam riwayat lain, disebutkan:

…يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ

"Setiap orang yang mendengarnya akan memahaminya" [HR Abu Dawud]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memperbanyak perkataan
dalam khutbahnya, juga tidak mengiringkan perkataan mengikuti lainnya,
sehingga perkataan itu masuk ke perkataan lainnya. Beliau tidak
tergesa-gesa dalam menyampaikan khutbah. Bahkan Beliau melambatkan
perkataan dan tidak terburu-buru dalam mengeluarkannya. Metode ini,
jelas memberikan kemampuan para pendengar untuk memahami khutbah dan
mencapai tujuannya. [Hadyun Nabi Fi Khutbatil Jum'ah, hlm. 36, Syaikh
Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir]

Kedelapan : Jika ada keperluan, khatib boleh menghentikan khutbahnya
sementara. Seperti mengingatkan orang yang hadir tentang shalat
tahiyatul masjid, menegur hadirin yang ramai, dan semacamnya.
Sebagaimana dalam hadits Jabir, bahwa Sulaik masuk masjid pada hari
Jum'at sementara Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berkhutbah,
lalu ia duduk. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
kepadanya,

يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا ثُمَّ
قَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ
فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا

"Hai, Sulaik! Berdirilah, lalu shalatlah dua raka'at, dan
ringkaskanlah dua raka'at itu." Kemudian Beliau bersabda,"Jika salah
seorang diantara kamu datang, pada hari Jum'at, ketika imam sedang
berkhutbah, hendaklah dia shalat dua raka'at, dan hendaklah dia
meringkaskan dua raka'at itu." [HR Muslim, no. 875/59].

Begitu juga Khalifah Umar Radhiyallahu 'anhu pernah menegur seorang
sahabat yang datang terlambat, sebagaimana disebutkan dalam sebuah
riwayat, yang artinya: Dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, bahwa
ketika Umar bin Al Khaththab sedang berdiri dalam khutbah pada hari
Jum'at, tiba-tiba ada seorang laki-laki -dari Muhajirin yang awal
diantara sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam - masuk (masjid).
Maka Umar menegurnya,"Jam berapa sekarang?" Laki-laki itu
menjawab,"Aku disibukkan, sehingga aku tidak pulang kepada keluargaku
sampai aku mendengar adzan, lalu aku tidak menambah kecuali sekedar
berwudhu." Maka Umar mengatakan,"Dan berwudhu' saja? Padahal engkau
telah mengetahui, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dahulu memerintahkan mandi." [HR Bukhari, no. 878].

Kesembilan : Jika berdo'a, mengisyaratkan dengan jari telunjuk.

عَنْ عُمَارَةَ ابْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ
عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ
الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ
بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ

"Dari 'Umarah bin Ruaibah, dia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar
sedang mengangkat kedua tangannya. Maka 'Umarah berkata: "Semoga Allah
memburukkan dua tangan itu! Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah lebih dari mengisyaratkan
dengan tangannya begini". Dia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya".
[HR Muslim, no. 874]

Di dalam riwayat Ahmad disebutkan, bahwa perbuatan itu dilakukan
ketika berdo'a dalam khutbah.

Tentang khathib berdo'a di atas mimbar ini, Syaikh Dr. Anis bin Ahmad
bin Thahir berkata: (Termasuk penyimpangan para khathib, yaitu)
mendo'akan kebaikan untuk orang-orang tertentu setiap Jum'at, dan
selalu menetapi hal itu seperti (menetapi) Sunnah. Adapun mendo'akan
kebaikan untuk kaum muslimin semuanya, dan untuk penguasa secara
khusus terus-menerus, maka ini perkara yang disyari'atkan, tidak
terlarang. Telah diriwayatkan dari Abu Musa, bahwa jika ia berkhutbah,
ia memuji Allah, menyanjungNya, memohonkan shalawat kepada Allah untuk
Nabi, dan mendo'akan kebaikan untuk Abu Bakar dan Umar. Ibnu Qadamah
berkata: "Khathib disukai mendo'akan kebaikan untuk mukminin dan
mukminat serta untuk dirinya dan hadirin. Jika dia mendo'akan kebaikan
untuk penguasa kaum muslimin, maka itu merupakan kebaikan … Karena
jika penguasa kaum muslimin baik, padanya juga terdapat kabaikan kaum
muslimin. Maka do'a kebaikan untuk penguasa kaum muslimin, merupakan
do'a kebaikan untuk kaum muslimin, dan itu disukai, bukan makruh". [Al
Mughni, 3/181. Dinukil dari Hadyun Nabi Fi Khutbatil Jum'ah, hlm. 16].

Kesepuluh : Setelah selesai berkhutbah, kemudian mengimami shalat.
Dalam hadits Abu Hurairah , Nabi bersabda:

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ
يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

"Jika engkau berkata kepada kawanmu "diamlah!", pada hari Jum'at,
sementara imam sedang berkhutbah, maka engkau telah mengatakan
perkataan sia-sia". [HR Bukhari, no. 934; Muslim, no. 851].

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam "sementara imam sedang
berkhutbah" ini menunjukkan, bahwa imam shalat adalah khathib Jum'at.
Dan ini merupakan kebiasaan kaum muslimin sejak dahulu, sehingga kita
tidak sepantasnya menyelisihinya.
Wallahu a'lam bish shawab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun VIII/1425H/2004M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

--
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63

Gabung : Milis_Iqra-subscribe@googlegroups.com
Keluar : Milis_Iqra-unsubscribe@googlegroups.com
Situs 1 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
Mod : moderator.milis.iqra@gmail.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-

No comments:

Post a Comment